JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 12-22 Konsep Diri Ceu Epik Sebagai Food Influencer dengan Kearifan Lokal di Tiktok Zalfa Dzihni Aulia. Lusy Mukhlisiana* Universitas Telkom. Bandung. Indonesia lusymukhlisiana@gmail. Abstract This study examines the self-concept of Ceu Epik as a food influencer who carries local wisdom on TikTok, a phenomenon reflecting how ordinary individuals construct digital identities rooted in cultural authenticity. The research problem centers on how self-concept is formed and expressed through content creation in a local culinary context. This study uses a qualitative descriptive research method. data were obtained through in-depth interviews with Ceu Epik and two of her TikTok followers, along with observations of the @ceuepik TikTok account, and documentation. The findings show that Ceu EpikAos self-concept as a food influencer was shaped by her evolution from a housewife with a culinary hobby into a local content creator who consistently upholds Sundanese cultural identity. This identity is expressed through the stage name AuCeu EpikAy, the use of the Sundanese language in her voice-overs, and the signature slogan AuBismillah HuapkeunAy. Her content management on TikTok follows three approaches: conceptual, spontaneous, and collaborative content. Through these strategies. Ceu Epik not only promotes local culinary heritage but also contributes to its preservation. Keywords: Food Influencer. Local wisdom. Self-Concept. TikTok Abstrak Penelitian ini mengkaji konsep diri Ceu Epik sebagai food influencer yang mengusung kearifan lokal di TikTok, sebuah fenomena yang mencerminkan bagaimana individu biasa membangun identitas digital berbasis keaslian Permasalahan yang diteliti adalah bagaimana konsep diri terbentuk dan diekspresikan melalui pengelolaan konten dalam konteks kuliner lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Ceu Epik dan dua pengikutnya di TikTok, observasi pada akun TikTok @ceuepik, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep diri Ceu Epik sebagai food influencer terbentuk dari perjalanannya sebagai ibu rumah tangga berhobi kuliner yang berkembang menjadi kreator konten lokal dengan identitas budaya Sunda yang konsisten. Identitas tersebut diwujudkan melalui pemilihan nama panggung AuCeu EpikAy, penggunaan bahasa Sunda dalam pengisian suara, dan slogan khas AuBismillah HuapkeunAy. Pengelolaan konten di TikTok dilakukan melalui tiga pendekatan: konten terkonsep, konten spontanitas, dan konten kolaborasi. Melalui strategi tersebut. Ceu Epik tidak hanya mempromosikan kuliner lokal, tetapi juga berkontribusi pada pelestariannya. Kata Kunci: Influencer Makanan. Kearifan Lokal. Konsep Diri. TikTok PENDAHULUAN Influencer adalah sebutan bagi seseorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain melalui platform media sosial yang dimilikinya. Pengaruh yang diberikan oleh seorang influencer dapat berupa perubahan opini, sikap, dan perilaku (Mustaqimmah & Firdaus, 2. Seorang influencer tidak selalu seorang selebriti, tetapi siapapun dapat dikatakan sebagai influencer jika individu tersebut memiliki keunikan serta kemampuan dalam mempengaruhi khalayak, seperti Ceu Epik. Ceu Epik merupakan seseorang asal Kuningan Jawa Barat yang memanfaatkan platform media sosial untuk membangun personal branding sebagai food influencer lokal dengan konsep dirinya yang Aktif dalam media sosial TikTok, membuat pengguna dengan akun @ceuepik memiliki 127,9 ribu pengikut di TikTok. Melalui slogan khasnya yang ikonik AuBismillah HUAPKEUNAy dan konten ulasan kuliner Kuningan yang dikemas menjadi video yang menarik. Konsep diri Ceu Epik yang mencerminkan Submitted: May 2025. Accepted: February 2026. Published: March 2026 ISSN: 2614-8498 . DOI: https://doi. org/10. 32509/pustakom. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 12-22 identitas lokal dan ciri khas yang melekat di masyarakat mampu menarik perhatian banyak pengguna media sosial, terutama masyarakat Kabupaten Kuningan. Gambar 1. Instagram dan TikTok @ceuepik Sumber: Dokumentasi olahan Pribadi, 21 Oktober, 2024 Popularitas Ceu Epik tidak hanya terlihat dari jumlah pengikut pada media sosialnya terutama pada TikTok, tetapi juga melalui interaksi aktif dengan pengikutnya yang dibangun pada setiap Respon yang diberikan oleh pengikutnya selalu menampilkan respon yang positif. Terbukti dari banyaknya views, likes, dan comment yang menunjukkan ketertarikan mereka terhadap konten Ceu Epik dan kuliner yang telah di ulas oleh Ceu Epik. Konten yang diunggah oleh Ceu Epik berupa video ulasan berbagai kuliner ataupun jajanan yang ada di Kabupaten Kuningan. Ceu Epik konsisten untuk selalu membawa unsur kearifan lokal dalam setiap unggahan videonya, yaitu penggunaan bahasa sunda yang sering kali dilontarkan dalam penyampaiannya, melakukan kebiasaan masyarakat Kuningan, memperkenalkan jajanan ataupun kuliner yang hanya ada di Kuningan, dan memperkenalkan tempat lainnya seperti obyek wisata yang ada di Kuningan. Influencer lokal memiliki kredibilitas yang tinggi melalui kepercayaan, keahlian, daya tarik, dan kesamaan dengan pengikut seingga menjadi pengaruh yang positif terhadap presepsi publik (Isalman et al. , 2. Melalui konsep diri dan keunikan dirinya itulah yang menjadikan Ceu Epik memiliki daya tarik yang membedakan dengan food influencer lainnya. Tidak hanya berfokus pada ulasan kuliner. Ceu Epik juga sering kali memperluas jangkauannya untuk mengulas berbagai usaha dalam bidang lainnya, seperti produk fashion, jasa, kerajinan hingga obyek wisata yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Kuningan. Food Influencer memiliki peran yang penting dalam mempromosikan kuliner lokal atau makanan khas daerah agar dikenal oleh pengikutnya (Effendy et al. , 2. Maka dari itu, fenomena hadirnya Influencer lokal seperti Ceu Epik telah menunjukkan bagaimana perkembangan media sosial menciptakan peluang baru bagi pelaku usaha dalam mempromosikan produknya, terutama pada daerah-daerah kecil yang sebelumnya mungkin kurang memahami pemasaran secara digital. Untuk membangun citra positif, seorang influencer harus mempunyai personal branding positif yang akan membuat mereka dipandang sebagai seseorang yang profesional pada bidang tertentu (Nurhayati. Dalam membangun personal branding, seorangang influencer perlu memahami konsep diri mereka, seperti kelebihan, kekurangan, serta bagaimana mereka ingin dipersepsikan oleh khalayak (Mubbdiun & Putra, 2. Dalam praktik produksi konten digital, personal branding berperan penting bagi seorang content creator untuk membangun identitas yang jelas sehingga lebih mudah dikenali oleh khalayak umum (Agustin & Poernamasari, 2. Konsep diri merupakan sebuah upaya seseorang mengenai cara untuk memandang dirinya seutuhnya, menyangkut fisik, emosi, intelektual, sosial, dan Konsep Diri Ceu Epik Sebagai Food Influencer dengan Kearifan Lokal di Tiktok (Zalfa Dzihni Aulia. Lusy Mukhlisian. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 12-22 spiritual (Prihantono, 2. Konsep diri dari seorang influencer erat kaitannya dengan Public Relations (PR), baik PR maupun influencer memiliki tujuan yang sama, yaitu membentuk citra dan persepsi yang baik di mata publik. Sama hal nya dengan seorang public relations dalam sebuah perusahaan yang memiliki tujuan untuk membentuk dan mengelola persepsi publik terhadap organisasi maupun individu yang terkait dengan organisasi (Cutlip et al. , 2. Melihat Ceu Epik yang aktif dalam platform media sosial Instagram dan TikTok, peneliti tertarik melakukan observasi terhadap akun TikTok @ceuepik, karena dilihat dari jumlah pengikut antara kedua platform tersebut tercatat Ceu Epik memiliki pengikut yang lebih banyak dibandingkan dengan pengikutnya di Instagram. Selain itu, peneliti memilih TikTok sebagai objek media yang diobservasi karena didukung dengan laporan menurut We Are Social Januari 2024 bahwa TikTok menjadi media sosial yang memiliki waktu penggunaan tertinggi di Indonesia. Data tersebut menunjukkan bahwa waktu penggunaan TikTok di Indonesia mencapai rata-rata 38 jam 26 menit per bulan. Angka ini tentunya lebih tinggi dibandingkan dengan platform Instagram yang memiliki rata-rata 16 jam 10 menit per bulan (Kemp, 2. Hal ini menunjukkan bahwa TikTok memiliki daya tarik yang kuat bagi pengguna media sosial di Indonesia. TikTok memiliki mekanisme yang mendorong audiens terlibat lebih dalam melalui algoritma yang mendistribusikan konten secara luas, sehingga mampu menjangkau audiens yang lebih luas. Penelitian terdahulu yang relevan telah dilakukan oleh (Mubbdiun & Putra, 2. mengenai Konsep diri mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Buton dalam membangun personal branding di TikTok. Penelitian tersebut menemukan bahwa konsistensi, komunikasi dan keaslian merupakan factor utama yang membentuk personal branding yang kuat. Namun penelitian tersbut berfokus pada konteks mahasiswa dengan latar kategori konten yang beragam, sehingga belum secara spesifik mengkaji bagaiamana kearifan local menjai basis pembentukn konsep diri seorang influencer daerah tertentu. Disinilah letak celah penelitian yang ingin diisi oleh penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep diri Ceu Epik sebagai food influencer yang mengusung kearifan local di TikTok, serta mendeskripsikan bagaimana Ceu Epik mengelola kontennta pada akun @ceuepik. Secara lebih spesifik, penelitian ini berupaya menjawab dua pertama, bagaimana konsep diri Ceu Epik terbentuk dan diartikulasikan melalui konten TikToknya. kedua, bagaimana strategi pengelolaan konten yang diterapkan Ceu Epik dalam mempertahankan identitas budaya lokalnya. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian Digital Public Relations, khususnya dalam memahami peran kearifan local sebagai fondasi pembentukan identitas infleuencer di media sosial. Untuk menganalisis fenomena tersebut, penelitian ini menggunakan tiga landasan teoretis yang saling melengkapi dan diterapkan secara operasional sesuai fokus kajian. Pertama. Teori Interaksi Simbolik digunakan untuk membaca bagaimana Ceu Epik membangun dan mengomunikasikan identitasnya melalui simbol-simbol budaya dalam konten TikToknya. Penggunaan bahasa Sunda, slogan AuBismillah HuapkeunAy, dan nama panggung AuCeu EpikAy dianalisis sebagai significant symbol (West & Turner, 2. , simbol verbal yang dipahami bersama oleh komunitas Sunda dan secara aktif membentuk identitas kolektif antara Ceu Epik dan audiensnya. Kedua. Teori Media Baru (New Medi. digunakan untuk memahami TikTok bukan sekadar sebagai saluran komunikasi, melainkan sebagai ruang ekspresi diri dan pembentukan konsep diri. Dalam kategori Media Partisipasi Kolektif yang dikemukakan (McQuail, 2. TikTok memungkinkan Ceu Epik membangun komunitas audiens yang aktif melalui kolom komentar, direct message, dan fitur live. Ketiga. The Circular Model of SoMe (Lutrell, 2. digunakan untuk memetakan strategi pengelolaan konten Ceu Epik melalui empat aspek yakni share, optimize, manage, dan engage yang dalam penelitian ini dioperasionalkan sebagai kerangka analisis distribusi konten, penyesuaian berdasarkan umpan balik audiens, perencanaan jadwal unggahan, dan pembangunan interaksi berkelanjutan. Adapun konsep diri dalam penelitian ini dioperasionalkan menggunakan tiga komponen yang dikemukakan Carl Rogers, yaitu Self-Image. Self-Esteem, dan Ideal Self (Rogers, 1. Ketiga komponen ini menjadi pisau analisis utama: Self-image untuk menganalisis citra diri Ceu Epik yang terbentuk Konsep Diri Ceu Epik Sebagai Food Influencer dengan Kearifan Lokal di Tiktok (Zalfa Dzihni Aulia. Lusy Mukhlisian. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 12-22 melalui pilihan nama, bahasa, dan slogan. self-esteem untuk menelaah bagaimana umpan balik audiens secara bertahap memperkuat kepercayaan dirinya. serta ideal self untuk memahami aspirasi sosialnya dalam memberdayakan UMKM dan pedagang kaki lima di Kuningan. Konsep food influencer dalam penelitian ini juga dipahami melampaui peran promosi semata, mengacu pada tiga indikator kredibilitas yaitu kepercayaan . , daya tarik . , dan keahlian . (Haerunnisa et al. , 2. yang dioperasionalkan untuk menganalisis bagaimana Ceu Epik membangun otoritasnya sebagai representasi kearifan lokal Kuningan di platform digital. Kuliner khas Kuningan yang diulas Ceu Epik dalam penelitian ini dipahami sebagai medium pelestarian nilai budaya lokal, merujuk pada elemen kreativitas, estetika, tradisi, dan kearifan lokal dalam wisata kuliner (Setiawati & Sungkawa, 2. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan menganalisis konsep diri Ceu Epik sebagaimana adanya, sesuai kondisi dan situasi yang dialami subjek selama proses penelitian berlangsung (Ibrahim, 2. Merujuk pada David William . dalam (Moleong, 2. , penelitian kualitatif merupakan proses pengumpulan data terhadap kejadian yang bersifat alamiah dengan menggunakan metode alamiah. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menangkap makna, pengalaman, dan perspektif subjek secara mendalam, yang tidak dapat diperoleh melalui pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis, yang dipilih karena realitas tentang konsep diri seorang influencer bersifat subjektif dan terbentuk melalui interpretasi individu dalam interaksi sosialnya (Morissan, 2. Melalui paradigma ini, peneliti berupaya memahami bagaimana Ceu Epik secara aktif mengonstruksi identitas dan konsep dirinya sebagai food influencer lokal di TikTok, bukan sekadar mendeskripsikan fakta yang ada. Subjek penelitian adalah Ceu Epik, seorang food influencer lokal asal Kuningan. Jawa Barat, yang aktif mengelola akun TikTok @ceuepik. Objek penelitian adalah konsep diri Ceu Epik sebagai food influencer yang mengusung kearifan lokal. Penelitian ini melibatkan tiga orang informan yang dipilih secara purposif sesuai dengan relevansi dan keterkaitannya dengan fokus penelitian. Informan kunci adalah Ceu Epik sendiri, sebagai subjek utama yang memiliki pengetahuan langsung dan menyeluruh mengenai proses pembentukan konsep dirinya. Informan kunci dipilih berdasarkan kriteria: pemilik akun TikTok @ceuepik, pelaku kegiatan personal branding secara aktif, telah mengelola akun minimal satu tahun, dan mampu menjelaskan strategi yang diterapkan. Dua informan pendukung merupakan pengikut akun @ceuepik yang berasal dari Kuningan. Jawa Barat, aktif berinteraksi dengan konten Ceu Epik minimal lima kali . ike, comment, dan shar. , serta bersedia diwawancarai. Informan kunci adalah Shofa Rahmatillah Fajrin atau dikenal sebagai Ceu Epik . sia 30 tahu. , seorang food influencer asal Kuningan yang aktif mengelola akun TikTok @ceuepik. Dua informan pendukung adalah Daffa Azzahra . sia 22 tahu. dan Faliqa Khairunnisa . sia 20 tahu. , keduanya merupakan pengikut aktif akun @ceuepik sejak tahun 2023 dan berasal dari Kuningan. Jawa Barat. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam . n-depth intervie. , observasi, dan dokumentasi. Wawancara mendalam dilakukan secara langsung dengan ketiga informan untuk menggali perspektif dan pengalaman mereka secara rinci. Wawancara dengan Ceu Epik sebagai informan kunci dilaksanakan pada 23 Februari 2025, sedangkan wawancara dengan informan pendukung dilaksanakan pada 10 Februari 2025. Observasi dilakukan terhadap akun TikTok @ceuepik dengan meninjau seluruh konten yang diunggah sejak awal hingga konten terbaru, guna mengamati perkembangan gaya konten, konsistensi penggunaan simbol budaya, dan pola pengelolaan unggahan. Dokumentasi digunakan sebagai data pendukung untuk melengkapi temuan dari wawancara dan observasi, meliputi tangkapan layar konten, data statistik akun, dan catatan lapangan peneliti. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis data kualitatif Miles dan Huberman, yang mencakup tiga tahapan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data Konsep Diri Ceu Epik Sebagai Food Influencer dengan Kearifan Lokal di Tiktok (Zalfa Dzihni Aulia. Lusy Mukhlisian. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 12-22 dilakukan dengan memilah dan memfokuskan informasi yang relevan dengan pertanyaan penelitian. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi deskriptif yang didukung kutipan wawancara dan hasil Penarikan kesimpulan dilakukan secara induktif berdasarkan pola dan makna yang muncul dari data. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber, yaitu dengan membandingkan data yang diperoleh dari wawancara informan kunci, wawancara informan pendukung, dan hasil observasi terhadap akun TikTok @ceuepik. Kesesuaian antar sumber data tersebut menjadi dasar validitas temuan yang disajikan dalam penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara mendalam, observasi sistematis terhadap akun TikTok @ceuepik, dan dokumentasi, penelitian ini menghasilkan dua temuan utama yang menjawab rumusan masalah penelitian: . bagaimana konsep diri Ceu Epik terbentuk sebagai food influencer yang mengusung kearifan lokal, dan . bagaimana pola pengelolaan kontennya di TikTok. Pembentukan Konsep Diri Ceu Epik sebagai Food Influencer Analisis terhadap data wawancara dan observasi konten menunjukkan bahwa konsep diri Ceu Epik sebagai food influencer terbentuk melalui tiga komponen yang berkembang secara bertahap dan saling memengaruhi, sebagaimana dirangkum pada Tabel 1 berikut. Tabel 1. Komponen Konsep Diri Ceu Epik sebagai Food Influencer Komponen Manifestasi dalam Konten @ceuepik Bukti Data Self-Image (Citra Dir. Identitas Sunda dikonstruksi melalui AuCeu EpikAy, penggunaan bahasa Sunda dalam voice over, dan slogan AuBismillah HuapkeunAy sebagai penanda kultural Slogan pertama muncul pada unggahan ke-16 . Feb 2. digunakan di hampir seluruh 127 video (Observasi akun, 2. Self-Esteem Dir. (Harga Kepercayaan diri meningkat seiring respons positif audiens. tampilan diri dokumentator pasif menjadi presenter 27 konten awal (JanAeMar 2. berfokus pada visualisasi makanan. berikutnya menampilkan Ceu Epik secara dominan (Observasi konten. Wawancara Ceu Epik, 23 Feb Ideal Self (Diri Idea. Aspirasi melampaui popularitas: ingin memberdayakan UMKM dan PKL Kuningan, serta melestarikan kuliner tradisional sebagai warisan budaya Dikonfirmasi mendalam (Ceu Epik, 23 Feb 2. dan pola kolaborasi dengan pelaku UMKM lokal dalam konten Sumber: Olahan Data Penelitian, 2025 Tabel 1 menunjukkan bahwa ketiga komponen konsep diri tidak berkembang secara linier, melainkan saling memperkuat. Self-image yang terbentuk sejak awal melalui pilihan simbol budaya menjadi fondasi yang menopang perkembangan self-esteem, yang pada gilirannya mendorong terbentuknya ideal self yang berorientasi sosial. Ceu Epik sendiri mengungkapkan proses awal terbentuknya identitasnya: AuAwalnya iseng, aku seorang ibu rumah tangga, menikah tahun 2021, dan pindah ke Kuningan ikut suami. Karena memori penuh, aku coba edit, kasih voice over, lalu bikin akun di TikTok untuk mengunggah video tersebut. Ay (Ceu Epik, 23 Februari 2. Terkait konstruksi self-image, pemilihan nama panggung AuCeu EpikAy bukan keputusan acak, melainkan penegasan identitas kultural yang disengaja. Hal ini terungkap dalam kesempatan Konsep Diri Ceu Epik Sebagai Food Influencer dengan Kearifan Lokal di Tiktok (Zalfa Dzihni Aulia. Lusy Mukhlisian. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 12-22 wawancara dimana Ceu Epik menjelaskan bahwa . AuCeu itu artinya teteh atau kakak perempuan dalam bahasa Sunda, sedangkan Epik berasal dari kata AoEpicAo. Perkembangan self-esteem juga dikonfirmasi oleh informan pendukung yang merasakan efek kedekatan kultural dari konten Ceu Epik: AuPenyampaiannya dengan bahasa Sunda yang enakeun, logatnya bener-bener nyunda banget, jadi bikin aku yang orang Kuningan asli tuh suka sama kontennya karena kaya dekat dengan keseharian aku. Ay (Daffa Azzahra, 10 Februari 2. Pola Pengelolaan Konten Ceu Epik di TikTok Analisis terhadap data wawancara dan observasi sistematis konten @ceuepik mengidentifikasi tiga pendekatan utama dalam pengelolaan konten yang dipetakan ke dalam aspek-aspek The Circular Model of SoMe, sebagaimana disajikan pada Tabel 2 berikut. Tabel 2. Pola Pengelolaan Konten Ceu Epik di TikTok Pendekatan Konten Aspek Circular Model of SoMe Deskripsi Praktik Unsur Kearifan Lokal Konten Terkonsep Manage & Share Perencanaan tematik script dan hook disiapkan terlebih dahulu sebelum pengambilan Fokus pada kuliner tradisional dan jajanan khas Kuningan yang dipilih secara tematik Konten Spontanitas Optimize & Engage Konten diproduksi langsung berdasarkan rekomendasi audiens di kolom komentar atau situasi yang ditemui saat itu juga Menampilkan kuliner dan tempat yang komunitas lokal Kuningan secara autentik Konten Kolaborasi Share & Engage Kerja sama terencana dengan pelaku usaha UMKM dan PKL Kuningan dalam format endorse atau kolaborasi konten Memperkuat ekosistem ekonomi lokal Kuningan sambil memperkenalkan produk khas daerah kepada audiens yang lebih luas Sumber: Olahan Data Penelitian, 2025 Tabel 2 menunjukkan bahwa ketiga pendekatan konten tidak hanya berfungsi sebagai strategi komunikasi, tetapi secara konsisten mengintegrasikan unsur kearifan lokal Kuningan. Ceu Epik mendeskripsikan ketiga pendekatan tersebut sebagai berikut: AuAda beberapa ide yang sudah ditulis sendiri dan dikonsep. Kedua, spontanitasAidi konten suka ada yang nyuruh AoCeu cobain iniAo dan kebetulan aku lagi lewat jadi langsung dikontenin. Ketiga, ada konten yang memang kerja sama, collabs, endorse, kalau itu memang sudah diatur jadwalnya. Ay (Ceu Epik, 23 Februari 2. Dalam menghadapi tantangan konsistensi unggahan. Ceu Epik mengembangkan strategi maintenance audiens melalui fitur story dan unggahan spontan sebagai jembatan di antara kontenkonten yang sudah terkonsep: Temuan penelitian diinterpretasikan melalui kerangka teoritis yang telah ditetapkan untuk menjawab dua rumusan masalah sekaligus mengidentifikasi kontribusi pengetahuan baru. Konsep Diri Ceu Epik Sebagai Food Influencer dengan Kearifan Lokal di Tiktok (Zalfa Dzihni Aulia. Lusy Mukhlisian. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 12-22 Konsep Diri sebagai Konstruksi Identitas Kultural di Ruang Digital Temuan pertama menegaskan bahwa konsep diri Ceu Epik bukan atribut yang statis, melainkan sebuah proses konstruksi yang terus bergerak melalui interaksi antara dirinya dan audiensnya di platform TikTok. Proses ini selaras dengan proposisi inti Teori Interaksi Simbolik bahwa identitas seseorang dibentuk melalui pertukaran simbol yang bermakna dalam kehidupan sosial (Carter & Fuller. Dalam konteks digital, pertukaran simbol tersebut termanifestasi melalui respons kuantitatif seperti likes, views, shares, maupun kualitatif berupa komentar dan pemanggilan slogan yang secara kolektif berfungsi sebagai cermin sosial bagi Ceu Epik dalam membangun keyakinan terhadap identitasnya sebagai food influencer lokal. Carter dan Fuller . menegaskan bahwa di era digital, ruang-ruang daring menjadi arena utama di mana individu menegosiasikan makna simbolik dan membentuk identitas sosial mereka secara dinamis, persis seperti yang terjadi dalam perjalanan Ceu Epik dari ibu rumah tangga biasa menuju figur kultural yang dikenal luas di Kuningan. Dimensi self-image yang terbentuk melalui pilihan nama panggung, bahasa, dan slogan mencerminkan apa yang diidentifikasi sebagai pergeseran orientasi self-branding dari self-focus menuju audience-focus, strategi yang mengedepankan respons terhadap kebutuhan komunitas audiens tanpa melepaskan inti identitas creator (Miguel et al. , 2. Dalam studi yang dilakukan oleh Miguel terhadap foodie influencer di Instagram, ditemukan bahwa kreator kuliner yang paling berhasil membangun personal branding jangka panjang adalah mereka yang secara konsisten mengintegrasikan nilai-nilai kultural personal ke dalam setiap aspek penyajian konten. Ceu Epik merepresentasikan pola yang sama: nama, bahasa daerah, dan slogan khasnya bukan keputusan estetis semata, melainkan ekspresi strategis dari self-image yang otentik dan berakar pada identitas Keotentikan yang dibangun Ceu Epik melalui simbol-simbol Sunda merupakan komponen kritis dalam pembentukan konsep diri yang berkelanjutan. Influencer yang mempertahankan keotentikan diri, yang mereka definisikan sebagai konsistensi antara nilai-nilai personal dan konten yang dipublikasikan, lebih mampu membangun kepercayaan audiens yang bertahan dalam jangka panjang (Audrezet et al. , 2. Dalam kasus Ceu Epik, keotentikan tersebut berwujud pada konsistensi penggunaan bahasa Sunda meskipun tidak semua audiens memahaminya sepenuhnya, keputusan yang justru memperkuat persepsi audiens terhadap dirinya sebagai representasi terpercaya dari kearifan lokal Kuningan. Hal ini sejalan pula dengan argumen bahwa influencer yang mempertahankan identitas autentik, termasuk bersikap selektif dalam menerima kerjasama komersial,membangun personal brand yang lebih kuat dibandingkan mereka yang mengadaptasi identitas secara oportunistik (Lou & Zhou, 2. Evolusi gaya konten dari 27 unggahan awal yang didominasi visualisasi makanan tanpa kehadiran dominan diri kreator menuju konten-konten berikutnya di mana Ceu Epik tampil sebagai presenter utama, mencerminkan mekanisme yang disebut sebagai proses influencer menjadi human brand: identitas yang melekat pada individu dan diakui audiens melalui interaksi berulang yang memenuhi kebutuhan emosional dan informasional mereka (Ki et al. , 2. Studi yang dilakukan oleh Ki menunjukkan bahwa influencer yang berhasil bertransisi menjadi human brand adalah mereka yang secara konsisten membangun kelekatan emosional dengan pengikutnya melalui konsistensi nilai dan Respons positif audiens yang memicu peningkatan self-esteem Ceu Epik bukan sekadar validasi popularitas, tetapi konfirmasi bahwa identitas kulturalnya diterima dan dihargai oleh Pada tataran ideal self, aspirasi Ceu Epik memberdayakan UMKM dan PKL Kuningan mencerminkan pencapaian self-actualization dalam hierarki Maslow (Ewen, 2. , tahap tertinggi di mana individu berupaya memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Temuan ini memberikan kontribusi pengetahuan baru yang spesifik: dalam konteks food influencer lokal di Indonesia, kearifan lokal tidak sekadar berfungsi sebagai konten tematik, melainkan sebagai fondasi self-image yang membedakan mekanisme pembentukan konsep diri dari pola yang ditemukan pada influencer urban (Mubbdiun et al. , 2024. Prihantono, 2. Jika pada influencer urban otentisitas dibangun melalui gaya hidup dan estetika visual, maka pada Ceu Epik otentisitas dibangun Konsep Diri Ceu Epik Sebagai Food Influencer dengan Kearifan Lokal di Tiktok (Zalfa Dzihni Aulia. Lusy Mukhlisian. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 12-22 melalui kesetiaan pada identitas kultural komunitas tempatnya berakar sebuah model self-concept formation yang lebih kuat secara sosial karena tertanam dalam sistem makna yang sudah dimiliki bersama oleh komunitas audiensnya. Pengelolaan Konten sebagai Ekspresi Identitas dan Mekanisme Pelestarian Kearifan Lokal Temuan kedua menunjukkan bahwa tiga pendekatan konten yang dijalankan Ceu Epik bukan sekadar strategi komunikasi digital, melainkan sistem yang secara bersamaan memenuhi fungsi ekspresi identitas dan pelestarian budaya. Pendekatan komunikasi ini mengombinasikan pesan informatif dan persuasif melalui perencanaan strategis di media sosial dengan mengacu pada The Circular Model of Social Media (SoM. , di mana pesan disampaikan secara eksplisit melalui teks yang muncul dalam video maupun melalui caption pada konten yang diunggah (Satria & Abdullah, 2. Hal ini sejalan dengan sebuah studi tentang micro-influencer yang menegaskan bahwa storytelling autentik yang mencakup sudut pandang personal, narasi pertumbuhan diri, dan ekspresi suara yang khas, adalah mekanisme utama yang membedakan micro-influencer dalam membangun kelekatan jangka panjang dengan audiensnya (Richter et al. , 2. Temuan mereka menunjukkan bahwa audiens tidak hanya mencari informasi dari konten influencer, tetapi juga koneksi emosional yang diperkuat oleh ketulusan dan konsistensi suara kreator. Penggunaan bahasa Sunda dan slogan AuBismillah HuapkeunAy oleh Ceu Epik dalam voice over-nya bukan sekadar pembeda identitas, tetapi instrumen storytelling yang membangun koneksi emosional spesifik dengan audiens komunitas Sunda, yang tidak dapat direplikasi oleh kreator dari luar komunitas tersebut. Temuan ini sejalan dengan sebuah studi yang secara spesifik mengkaji penggunaan TikTok oleh pelaku usaha makanan dan minuman di Indonesia. Alim et al. menemukan bahwa storytelling autentik yang menampilkan narasi personal, nilai-nilai lokal, dan kedekatan komunitas terbukti lebih efektif dalam membangun personal brand yang bertahan dibandingkan konten promosional semata. Lebih dari itu, kreator yang menempatkan nilai-nilai kultural lokal sebagai inti narasi berhasil membangun loyalitas audiens yang melampaui transaksi komersial (Alim et al. , 2. Pola yang sama tergambar jelas pada konten Ceu Epik: setiap ulasan kuliner tidak hanya menyampaikan informasi tentang makanan, tetapi memperkuat narasi tentang identitas dan kebanggaan budaya Kuningan. Hal ini secara operasional mencerminkan aspek engage dalam The Circular Model of SoMe (Lutrell, 2. di mana keterlibatan audiens yang bermakna dibangun bukan melalui frekuensi unggahan semata, melainkan melalui kedalaman resonansi konten terhadap identitas dan kebutuhan komunitas. Aspek self-identity construction dalam pengelolaan konten Ceu Epik juga memperoleh dukungan dari sebuah studi yang menemukan bahwa konstruksi identitas diri yang konsisten dalam konten, yakni seberapa kuat kreator mengaitkan dirinya dengan nilai-nilai dan komunitas tertentuAiberkorelasi positif dengan digital engagement audiens (Chen et al. , 2. Secara lebih spesifik. Chen et al. menegaskan bahwa self-identity construction yang terjaga konsistensinya antara konten terkonsep, spontan, dan kolaboratif menghasilkan persepsi otentisitas yang lebih kuat di mata audiens dibandingkan konten yang semata menampilkan keunggulan produk (Chen et al. , 2. Ketiga pendekatan konten Ceu Epik yang seluruhnya secara konsisten menempatkan identitas Sunda dan kearifan lokal Kuningan sebagai benang merah, merupakan implementasi empiris dari prinsip ini. Dalam kerangka The Circular Model of SoMe, konsistensi ini merepresentasikan tahap manage yang efektif: bukan sekadar manajemen jadwal unggahan, tetapi manajemen koherensi identitas lintas format dan lintas pendekatan konten. Dari perspektif pelestarian budaya, peran yang dijalankan Ceu Epik memiliki signifikansi yang melampaui ranah komunikasi pemasaran digital. Dalam sebuah studi tentang perempuan influencer di bidang gastronomi ditemukan bahwa kreator perempuan yang aktif menghasilkan konten kuliner di media sosial tidak hanya berfungsi sebagai promotor produk, tetapi juga sebagai agen pelestarian warisan gastronomis yang memperkenalkan tradisi kuliner lokal kepada audiens yang lebih luas (Bayhan & Yaman, 2. Mereka secara khusus menegaskan bahwa konten kuliner yang menampilkan narasi personal yang melekat pada makanan berkontribusi nyata dalam mendokumentasikan dan Konsep Diri Ceu Epik Sebagai Food Influencer dengan Kearifan Lokal di Tiktok (Zalfa Dzihni Aulia. Lusy Mukhlisian. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 12-22 menyebarluaskan praktik budaya kuliner yang rentan terlupakan di tengah arus globalisasi. Ceu Epik merepresentasikan fenomena serupa dalam konteks lokal Indonesia: melalui ulasan-ulasannya terhadap kuliner khas Kuningan, termasuk jajanan tradisional yang jarang mendapat perhatian media arus utama, ia secara tidak langsung menjalankan fungsi digital cultural archiving yang berkontribusi pada pelestarian identitas kuliner daerah. Secara keseluruhan, pembahasan di atas menunjukkan bahwa konsep diri dan pengelolaan konten Ceu Epik merupakan dua dimensi dari satu proses yang terintegrasi: identitas kultural Sunda yang autentik tidak hanya membentuk personal branding yang efektif secara komunikatif, tetapi sekaligus menjadi mekanisme pelestarian kearifan lokal yang berkelanjutan melalui platform digital. Hal ini menghadirkan model empiris baru tentang bagaimana seorang influencer lokal dapat berperan sebagai agen budaya, peran yang selama ini lebih dikaitkan dengan institusi formal. Dalam kerangka kajian Digital Public Relation, temuan ini menegaskan bahwa kearifan lokal adalah aset strategis yang jika dioperasionalkan secara konsisten dan autentik, mampu menghasilkan kelekatan audiens yang lebih kuat dan bermakna dibandingkan personal branding berbasis tren global. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa konsep diri Ceu Epik sebagai food influencer terbentuk secara bertahap melalui perjalanan hidupnya, bermula dari seorang ibu rumah tangga yang mendokumentasikan kuliner untuk konsumsi pribadi, hingga berkembang menjadi influencer lokal yang dikenal luas di TikTok. Proses pembentukan identitas tersebut tidak lepas dari komitmen Ceu Epik untuk mempertahankan keaslian dirinya sebagai perempuan Sunda, yang tercermin dari tiga elemen utama: pemilihan nama panggung AuCeu EpikAy yang identik dengan sapaan khas Sunda, penggunaan bahasa Sunda dalam penyampaian konten, dan slogan AuBismillah HuapkeunAy sebagai penanda identitas yang melekat di benak audiens. Ketiga elemen ini secara bersama-sama membentuk significant symbol yang tidak hanya membangun personal branding Ceu Epik, tetapi juga menciptakan kedekatan kultural dengan audiensnya yang berlatar belakang Sunda. Perkembangan self-esteem Ceu Epik yang semakin menguat seiring meningkatnya respons positif audiens, serta aspirasinya untuk memberikan manfaat nyata bagi pelaku UMKM dan pedagang kaki lima di Kuningan, mencerminkan tercapainya tahap self-actualization dalam pembentukan konsep dirinya. Pengelolaan konten Ceu Epik di TikTok dilakukan melalui tiga pendekatan yang saling melengkapi: konten terkonsep, konten spontanitas, dan konten kolaborasi. Gaya penyampaian yang natural dengan logat Sunda yang khas, dipadukan dengan teknik voice over yang informatif, menjadi daya tarik utama kontennya bagi audiens. Ceu Epik secara aktif memanfaatkan umpan balik audiens melalui kolom komentar, direct message, dan fitur live streaming untuk menyesuaikan konten agar tetap relevan. Pola pengelolaan ini mencerminkan keempat aspek The Circular Model of SoMe. share, optimize, manage, dan engage yang dijalankan secara konsisten dan adaptif. Dengan demikian. Ceu Epik tidak hanya berhasil membangun personal branding yang kuat di TikTok, tetapi secara tidak langsung juga berkontribusi pada pelestarian kearifan lokal Kuningan melalui platform digital. Secara akademis, penelitian ini membuka peluang bagi kajian lanjutan yang lebih luas dan Penelitian berikutnya dapat memperluas objek kajian dengan melibatkan lebih banyak food influencer dari berbagai daerah yang juga mengusung kearifan lokal, guna membandingkan pola pembentukan konsep diri dan strategi komunikasi yang diterapkan. Selain itu, pendekatan kuantitatif dapat digunakan untuk mengukur sejauh mana konsep diri seorang food influencer memengaruhi persepsi audiens terhadap kuliner dan identitas budaya lokal, sehingga melengkapi temuan kualitatif yang dihasilkan penelitian ini. Secara praktis. Ceu Epik disarankan untuk memperdalam pendekatan storytelling dalam kontennya dengan menggali nilai-nilai filosofis dan sejarah di balik setiap kuliner tradisional Kuningan, sehingga konten tidak hanya berfungsi sebagai ulasan, tetapi juga sebagai media pelestarian budaya yang lebih bermakna. Pemanfaatan fitur AuShowcaseAy di TikTok untuk Konsep Diri Ceu Epik Sebagai Food Influencer dengan Kearifan Lokal di Tiktok (Zalfa Dzihni Aulia. Lusy Mukhlisian. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 12-22 memperkenalkan produk UMKM lokal juga dapat menjadi langkah strategis dalam memperluas dampak sosial kontennya bagi masyarakat Kuningan. DAFTAR PUSTAKA