P-ISSN 3026-2097 E- ISSN 3026-1546 Jurnal Pendekar nusantara Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3. No 1. Oktober 2025. Hal 46-50 DOI : PENYULUHAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K. BAGI NELAYAN DALAM UPAYA PENCEGAHAN RISIKO KECELAKAAN KERJA DI LAUT DI DESA PENGUNDANG KECAMATAN TELUK SEBONG Elvita Nora Susanna1. Sukma Sahreny2. Isramilda3. Eko Febri Syahputra Siregar4. Dios Sarkity5. Pemberdy Intasir6. Ananda Geiskha Isral7 Fakultas Kedokteran. Program Studi Profesi Dokter. Universitas Batam, elvitans@univbatam. Fakultas Kedokteran. Program Studi Pendidikan Dokter. Universitas Batam, sukmasahreni@univbatam. Fakultas Kedokteran. Program Studi Pendidikan Dokter. Universitas Batam, isramilda@univbatam. Keywords : Occupational Health and Safety. Fishermen. Education. Coastal Communities. Community Service Kata Kunci : Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Nelayan. Penyuluhan. Pesisir. Pengabdian Masyarakat Abstract. Fishermen are part of the informal labor sector and are highly vulnerable to occupational accidents and diseases due to their high-risk work environment at sea. Extreme weather conditions, prolonged sun exposure, biological and ergonomic hazards, and limited awareness of Occupational Health and Safety (OHS) make fishermen a priority group for educational interventions. This community service activity aimed to enhance fishermen's knowledge and awareness of occupational hazards and preventive measures through a structured education program. The demonstrations on the proper use of personal protective equipment (PPE), accompanied by the distribution of educational leaflets. The activity was conducted in a coastal fishing community with active participation from local residents. Evaluation results showed a significant improvement in fishermenAos understanding of work-related risks and their prevention, including the use of PPE, health maintenance, and increased vigilance regarding weather conditions. In conclusion, community-based OHS education is an effective strategy to empower fishermen and promote a safer and healthier working Abstrak. Nelayan merupakan kelompok pekerja sektor informal yang memiliki risiko tinggi terhadap kecelakaan kerja dan penyakit akibat lingkungan kerja di laut. Cuaca ekstrem, paparan sinar matahari, risiko biologis dan ergonomis, serta keterbatasan pemahaman tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K. menjadikan nelayan kelompok rentan yang memerlukan intervensi edukatif. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran nelayan terhadap bahaya kerja di laut serta langkahlangkah pencegahannya melalui program penyuluhan. Metode yang digunakan adalah ceramah interaktif dan demonstrasi penggunaan alat pelindung diri (APD). This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. disertai Kegiatan dilaksanakan di komunitas nelayan pesisir dengan partisipasi aktif masyarakat. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman nelayan terhadap faktor risiko kerja serta upaya pencegahannya, termasuk penggunaan APD, pemeliharaan kesehatan. Kesimpulannya, penyuluhan K3 berbasis komunitas efektif sebagai bentuk pemberdayaan nelayan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, menjadikan wilayah pesisir sebagai tempat tinggal bagi jutaan penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya laut. Salah satu profesi utama masyarakat pesisir adalah nelayan, yang memegang peranan strategis dalam penyediaan sumber protein hewani dan menopang ketahanan pangan nasional (FAO, 2. Meskipun demikian, profesi nelayan termasuk dalam kategori pekerjaan berisiko tinggi akibat berbagai faktor lingkungan kerja yang berbahaya, kondisi sosial ekonomi yang rentan, serta minimnya perlindungan dan regulasi formal (ILO, 2. Sebagian besar aktivitas nelayan berada di sektor informal, yang belum sepenuhnya terjangkau oleh sistem jaminan sosial ketenagakerjaan maupun program kesehatan kerja. Studi-studi terdahulu menunjukkan bahwa nelayan sangat rentan terhadap bahaya cuaca ekstrem, ombak tinggi, paparan sinar ultraviolet dalam jangka waktu panjang, kelelahan fisik akibat jam kerja yang melebihi batas normal, serta kondisi peralatan dan kapal yang tidak memadai (Hymylyinen et al. , 2. Risiko kesehatan juga muncul dari praktik penyelaman yang dilakukan tanpa pelatihan atau peralatan yang sesuai, yang dapat menyebabkan penyakit dekompresi dan barotrauma. Selain itu, faktor ergonomis seperti posisi kerja yang tidak tepat dan pengangkatan beban berat secara berulang turut berkontribusi terhadap tingginya angka gangguan muskuloskeletal di kalangan nelayan (Widodo, 2. Permasalahan utama yang melatarbelakangi tingginya risiko tersebut adalah rendahnya pengetahuan dan kesadaran nelayan mengenai prinsip dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K. Sebagian besar belum terbiasa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), tidak memahami cara mengenali potensi bahaya kerja, serta belum pernah mendapatkan edukasi sistematis mengenai pencegahan penyakit akibat kerja. Situasi ini diperparah oleh belum tersedianya sistem pemantauan maupun regulasi yang secara khusus menjangkau kelompok nelayan, terutama di wilayah pesisir terpencil. Padahal, penerapan prinsip-prinsip K3 merupakan bagian integral dari agenda pembangunan berkelanjutan, terutama dalam kaitannya dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) poin ke8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (Kementerian Kesehatan RI, 2. Meningkatkan pemahaman dan kesadaran nelayan terhadap K3 diyakini dapat menurunkan angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja, meningkatkan produktivitas, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan aman. Berdasarkan permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk memberikan edukasi langsung kepada komunitas nelayan melalui penyuluhan K3 yang aplikatif dan komunikatif. Kegiatan ini diharapkan menjadi kontribusi nyata dari kalangan akademisi dalam mendukung perlindungan kerja di sektor informal, khususnya bagi kelompok nelayan, serta memperkuat upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat pesisir secara berkelanjutan. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui edukasi secara langsung dengan mengumpulkan responden. Kegiatan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut. Kegiatan Pre-test, dilakukan ujian untuk mengetahui gambaran pengetahuan mengenai upaya pencegahan resiko terjadinya kecelakaan kerja di laut. Kegiatan ini dilakukan menggunakan This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. kuesioner sehingga memudahkan responden untuk mengisi beberapa pertanyaan pre-test. Kuesioner yang sudah dirancang sebelumnya, kemudian dibagikan oleh tim pengabdi ke responden. Penyampaian materi tentang mengenai upaya pencegahan resiko terjadinya kecelakaan kerja di laut dilakukan oleh Anggota Pengabdian sebagai pemateri dengan membagikan alat promosi kesehatan berupa leaflet. Leaflet yang dibagikan berjudul " Kerja di Laut. Tetap Selamat!Ay. Setelah materi disampaikan oleh pemateri, selanjutnya responden diberi kesempatan untuk bertanya mengenai materi yang telah disampaikan . anya jawa. Kegiatan Post-test, diuji seberapa besar peningkatan pengetahuan dan sikap responden terhadap materi yang telah disampaikan. Kegiatan ini dilakukan dengan membagikan post-test yang telah dibuat menggunakan kuesioner. Kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan setelah kegiatan penyuluhan dilaksanakan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui perubahan perilaku responden dalam upaya pencegahan terjadinya kecelakaan kerja di laut. Kegiatan ini dilakukan oleh kader Posyandu Batu Besar. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini pada 27 Mei 20235 dan dilaksanakan di Desa Pengudang Kecamatan Teluk Sebong. Tujuan kegiatan ini sosialisasi dan edukasi stunting ini berupa meningkatnya partisipasi masyarakat mencegah terjadinya kecelakaan kerja di laut. Kegiatan ini dihadiri oleh 21 responden. Kegiatan pemberian materi dan diskusi selama 30 menit. Secara statistik, uji paired t-test menghasilkan nilai t = 19,51 dengan p-value = 0,00029 . < 0,. , yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pre-test dan post-test. Hal ini mengindikasikan bahwa penyuluhan yang dilakukan tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga berdampak pada perubahan sikap dan perilaku peserta terhadap penerapan K3. Peningkatan pemahaman mengenai awan cumulonimbus sebagai indikator cuaca ekstrem menjadi salah satu bukti bahwa peserta mulai memahami pentingnya antisipasi risiko kerja berdasarkan kondisi lingkungan. Secara umum, keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari metode partisipatif yang digunakan, di mana peserta tidak hanya menerima informasi secara satu arah tetapi juga terlibat dalam diskusi, demonstrasi, dan evaluasi. Hal ini sejalan dengan prinsip pemberdayaan masyarakat dalam konteks pengabdian, yang menekankan pada keterlibatan aktif sebagai kunci perubahan perilaku. Namun demikian, terdapat beberapa keterbatasan yang perlu dicermati. Pertama, durasi kegiatan yang singkat tidak Dengan demikian, penyuluhan K3 yang dilakukan dalam kegiatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran nelayan terhadap pentingnya keselamatan kerja, serta menjadi langkah awal menuju perubahan perilaku yang lebih aman dan sehat dalam aktivitas melaut sehari-hari. memungkinkan dilakukannya evaluasi jangka panjang. Kedua, ketersediaan APD yang memadai masih menjadi tantangan tersendiri di lapangan. Oleh karena itu, ke depan disarankan agar kegiatan serupa dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan pemangku kepentingan lokal, seperti dinas perikanan dan kesehatan, serta menyediakan bantuan APD sebagai insentif perubahan This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. 1 Tabel Tabel 1. Hasil Pre-Test dan Post-Test Penyuluhan K3 Nelayan Indikator Pemahaman penggunaan APD Pengetahuan gejala penyakit akibat Pemahaman risiko kerja dan cuaca Kesediaan . opi/maske. Pre-Test (%) Post-Test (%) p-value 2 Grafik Grafik 1. Hasil Pre-Test dan Post-Test Penyuluhan K3 Nelayan This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. 3 Gambar dan Foto Gambar 1. Leaflet Edukasi KESIMPULAN Kegiatan penyuluhan K3 bagi nelayan berhasil meningkatkan pengetahuan, sikap, dan potensi perilaku aman dalam bekerja di laut. Model penyuluhan partisipatif terbukti efektif dalam menjangkau komunitas informal seperti nelayan. Disarankan agar kegiatan serupa dilakukan secara berkala dan melibatkan dinas kesehatan, perikanan, serta akademisi. Penyediaan APD yang terjangkau dan pelatihan rutin akan memperkuat penerapan prinsip K3 secara berkelanjutan di wilayah pesisir. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada petugas puskesmas pembantu di desa pengudang, ibu kepada desa pengudang dan pihak kader-kader yang telah memberikan kesempatan dan merealisasikan kegiatan. KONFLIK KEPENTINGAN Penulis menyatakan bahwa mereka tidak memiliki konflik kepentingan dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA