Jurnal Tarbawi JURNAL TARBAWI Volume 17. Issue 2 (February 2. , 38-62 P-ISSN 2252-5882. E-ISSN 2597-6672 DOI: https://doi. org/10. 36781/tarbawi. Model Pembelajaran PACE (Project. Activity. Cooperative Learning. Exercis. : Hasil Belajar Fiqih Rika Liani Harahap1. Imam SyafeAoI2. Listiyani Siti Romlah3 rikaliani482@gmail. com, imamsyafei@radenintan. siti@radenintan. Abstrak: Permasalahan rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fiqih, khususnya pada kemampuan berpikir tingkat tinggi (C5 dan C. , masih menjadi tantangan dalam proses pembelajaran di MA Al Hikmah Bandar Lampung. Berdasarkan hasil observasi, siswa menunjukkan hasil belajar yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran PACE (Project. Activity. Cooperative Learning. Exercis. terhadap hasil belajar Fiqih siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment berbentuk posttest-only control group design. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas, yaitu kelas X-C sebagai kelas eksperimen yang menerapkan model PACE dan kelas X-B sebagai kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional. Instrumen penelitian berupa tes objektif pilihan ganda pada level kognitif C5 dan C6 yang telah diuji validitas dan reliabilitas beserta tingkat kesukaran dan daya pembedanya. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas, homogenitas dan uji ttest independent. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh signifikan model PACE terhadap hasil belajar siswa dengan nilai signifikansi 0,003 . < 0,. Model PACE terbukti efektif meningkatkan hasil belajar dan kemampuan kognitif tingkat tinggi siswa pada mata pelajaran Fiqih. Kata kunci: PACE, hasil belajar, fiqih, pembelajaran inovatif, berpikir tingkat tinggi Copyright: A 2024. The authors. Jurnal Tarbawi is licensed under a Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License Model Pembelajaran PACE ( Project. Activity. Cooperative Learning. Exercise ): Hasil Belajar Fiqih Abstract: The problem of low student achievement in Fiqh, particularly in higher-order thinking skills (C5 and C. , remains a challenge in the learning process at MA Al Hikmah Bandar Lampung. Based on observations, students demonstrate low learning outcomes. This study aims to examine the effect of the PACE (Project. Activity. Cooperative Learning. Exercis. learning model on studentsAo Fiqh achievement. The research employed a quantitative approach using a quasi-experimental design in the form of a posttest-only control group design. The sample consisted of two classes: Class X-C as the experimental group implementing the PACE model and Class X-B as the control group receiving conventional instruction. The research instrument was an objective multiple-choice test at cognitive levels C5 and C6, which had been tested for validity, reliability, item difficulty, and discrimination index. Data were analyzed using tests of normality, homogeneity, and an independent samples t-test. The results indicated a significant effect of the PACE model on studentsAo learning outcomes, with a significance value of 0. < 0. The PACE model was proven effective in improving studentsAo learning outcomes and higher-order cognitive skills in Fiqh. Keywords: PACE, learning outcomes, fiqh, innovative learning, higher order Pendahuluan Menurut Anderson dan Krathwohl, hasil belajar adalah kemampuan menguasai hingga mencipta pengetahuan melalui pembelajaran, sedangkan Bloom membaginya ke dalam tiga ranah: kognitif, afektif, dan psikomotorik1. Ranah pertama yaitu ranah kognitif yang menunjukkan kemampuan intelektual siswa sebagai dasar penilaian guru, dipengaruhi faktor internal dan eksternal, serta mencakup enam tahap: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta2. Ranah afektif berkaitan dengan sikap, minat, emosi, dan nilai, yang menurut Popham sangat 1 Sunandar. Khonsaullabibah Rifdah Nur Maisun, and Kiki Maharani. AuPeningkatan Hasil Belajar Siswa Materi Berwudhu Model Cooperative Learning Type Make A MatchAy 1, no. : 85Ae99. 2 Esti Nur Qorimah and Sutama Sutama. AuStudi Literatur: Media Augmented Reality (AR) Terhadap Hasil Belajar Kognitif,Ay Jurnal Basicedu 6, no. Volume 17. Nomor 02. FEB 2026. Jurnal Tarbawi Rika Liani Harahap. Imam SyafeAoI. Listiyani Siti R memengaruhi keberhasilan belajar, karena minat belajar menentukan capaian prestasi siswa3. Hasil penelitian yang melibatkan observasi yang dilaksanakan pada tanggal 12 Januari 2026, mengungkap beberapa permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan pembelajaran fiqih beberapa masalah yang teridentifikasi meliputi . Peserta didik menunjukkan minat belajar yang rendah yang bisa dilihat dari keterlibatan mereka ketika proses pembelajaran mereka kurang aktif dan kurang memperhatikan pembelajaran . Siswa kurang mampu menguasai materi yang akan mereka diskusikan sehingga murid yang lain kurang tertarik untuk mendengarkan dan itu membuat suasana kelas tidak kondusif sehingga membuat hasil belajar . Siswa memahami materi tapi ketika diadakan evaluasi soal hasil nya rendah terutama bagian C5 dan C6 nya. Gambar 1 Tes Hasil Belajar Murid Pada Mata Pelajaran Fiqih Dalam Bentuk Diagram Batang JAWBAN YANG BENAR JAWABAN YANG SALAH Penurunan jumlah jawaban yang benar pada C5 dan C6, di mana jawaban salah bahkan lebih banyak dibandingkan jawaban benar. Hal ini menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, terutama dalam hal menganalisis, mengevaluasi, dan menyintesis informasi. Permasalahan utama yang dapat diidentifikasi dari hasil ini adalah bahwa metode pembelajaran yang digunakan kemungkinan besar masih berorientasi pada hafalan dan pemahaman dasar tanpa memberikan cukup latihan dalam berpikir kritis dan pemecahan masalah. Hal ini dapat berdampak pada rendahnya kemampuan siswa dalam 3 Ulfah and Opan Arifudin. AuPengaruh Aspek Kognitif. Afektif. Dan Psikomotor Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik,Ay Jurnal Al-Amar (JAA) 2, no. : 1Ae9. Jurnal Tarbawi. Volume 17. Nomor 02. FEB 2026 Model Pembelajaran PACE ( Project. Activity. Cooperative Learning. Exercise ): Hasil Belajar Fiqih menghubungkan teori dengan praktik serta dalam menyelesaikan permasalahan secara mandiri. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan strategi pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis proyek untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik serta memudahkan mereka dalam memahami materi dan mendorong kerja sama. diperlukan model pembelajaran seperti model PACE (Project Activity Cooperative Learning Exercis. , yang dapat meningkatkan pemahaman konseptual sekaligus mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi secara lebih optimal. Model ini menggabungkan empat pendekatan utama, yaitu proyek, aktivitas, kerja sama, dan latihan, yang dapat membantu siswa memahami konsep secara lebih mendalam dan aplikatif. Melalui pendekatan proyek, siswa diberikan tugas yang mendorong mereka untuk menggali informasi secara mandiri dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Model pembelajaran PACE merupakan pendekatan konstruktivisme yang didasarkan pada beberapa prinsip utama: . Siswa belajar lebih efektif ketika mereka membangun pemahaman sendiri melalui bimbingan, . Latihan serta umpan balik memainkan peran penting dalam membantu siswa memahami konsep baru, dan . Kegiatan pemecahan masalah secara aktif dalam kelompok mendorong siswa menjadi pembelajar yang lebih aktif 4. Model ini menyediakan kerangka kerja yang mengintegrasikan proyek dan lembar kerja dalam lingkungan belajar yang bersifat kooperatif. Menurut Lee, dibandingkan dengan kelas konvensional, pembelajaran menggunakan model PACE memberikan lebih banyak peluang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan penalaran statistis, mengeksplorasi konsep, mencari solusi, mengkomunikasikan ide, menyesuaikan prosedur penyelesaian, serta memahami proses statistik dengan lebih mendalam 5. 4 (Misbahudin. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Segiempat melalui Metode Guided Discovery Learning Ainul , 2. 5 Robbi Fadlurrejas. AuPACE Learning Model Based on Ispring Media in Enhancing Mathematical Reasoning Skills . Ay 1, no. : 80Ae87. Volume 17. Nomor 02. FEB 2026. Jurnal Tarbawi Rika Liani Harahap. Imam SyafeAoI. Listiyani Siti R Perbedaan antara model PACE (Project. Activity. Cooperative Learning. Exercis. dan model pembelajaran konvensional dalam pembelajaran Fiqih terletak pada pendekatan, proses, dan peran siswa dalam kegiatan belajar. Metode konvensional yang digunakan dalam penelitian ini berupa ceramah, di mana guru berperan sebagai pusat pembelajaran . eacher-centere. Guru menyampaikan materi Fiqih secara lisan, kemudian siswa mencatat dan mengerjakan soal yang diberikan secara individu. Pola ini cenderung bersifat satu arah dan lebih menekankan pada pemahaman konsep secara teoritis, sehingga pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti analisis dan evaluasi belum optimal. Sebaliknya, model PACE berorientasi pada pembelajaran yang berpusat pada siswa . tudent-centere. dan menuntut keterlibatan aktif peserta didik. Pada tahap project, siswa diberikan permasalahan atau studi kasus Fiqih yang harus diselesaikan. Tahap activity mendorong siswa melakukan analisis terhadap permasalahan tersebut. Selanjutnya, melalui cooperative learning, siswa berdiskusi dalam kelompok untuk membandingkan pendapat, dan solusi yang relevan. Tahap exercise berfungsi untuk memperkuat pemahaman melalui latihan soal yang menekankan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dengan demikian, model PACE tidak hanya meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga mengembangkan kemampuan evaluasi, mencipta dan pemecahan masalah dalam pembelajaran Fiqih. Tahapan Project. Activity. Cooperative Learning. Exercise berjalan secara optimal untuk mendukung pengembangan berpikir kreatif siswa. Pada tahap Project, siswa secara aktif terlibat dalam proyek yang menantang, yang mendorong mereka menemukan hubungan baru dalam konsep yang dipelajari. Tahap Activity memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi konsep melalui tugas yang mendorong pemahaman lebih mendalam, sehingga mereka tidak hanya menghafal tetapi juga mampu berpikir kritis 6. Selanjutnya, dalam Nur Aida. AuPenerapan Model Pembelajaran Pace Dalam Meningkatkan Kemampuan Menggambar Mahasiswa Pada Konsep Vektor,Ay JPMI (Jurnal Pembelajaran Matematika Inovati. https://doi. org/10. 22460/jpmi. Jurnal Tarbawi. Volume 17. Nomor 02. FEB 2026 Model Pembelajaran PACE ( Project. Activity. Cooperative Learning. Exercise ): Hasil Belajar Fiqih Cooperative Learning, siswa bekerja dalam kelompok, berdiskusi, bertukar informasi, dan membangun konsep bersama, yang memperkuat pemahaman mereka melalui interaksi sosial. Pada tahap Exercise, latihan diberikan sebagai bentuk penguatan terhadap konsep yang telah dipelajari, sehingga siswa dapat menerapkan pemikiran kreatif mereka dalam pemecahan masalah Model pembelajaran PACE memiliki keunggulan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Melalui model ini, siswa tidak hanya menghafal atau meniru penyelesaian soal, tetapi juga didorong untuk menemukan keterkaitan konsep dan memahami materi dari berbagai sudut pandang. 7 PACE juga berbasis konstruktivisme, di mana pembelajaran lebih berpusat pada siswa dengan memberikan mereka kesempatan untuk membangun sendiri pemahaman melalui aktivitas, kerja kelompok, dan diskusi 8. Dalam Model PACE, pembelajaran kooperatif diterapkan dengan cara membagi murid ke dalam kelompok untuk berdiskusi di Mereka diberikan tugas diskusi berupa permasalahan yang terkait dengan materi yang dipelajari. Murid diberikan kebebasan untuk mengungkapkan hasil pikiran mereka selama kegiatan diskusi, proses ini membangun pola pikir yang lebih mendalam terhadap materi. Setelah sesi diskusi. Model PACE dilanjutkan dengan tahap latihan yang bertujuan untuk memperkuat konsep yang telah dipahami 7 Arief Aulia Rahman and Astria Yunita. AuPenerapan Model Pembelajaran PACE Untuk Meningkatkan Kemampuan Pembuktian Matematika Siswa Di Kelas VII SMP Pada Materi Geometri,Ay Maju 5, no. : 27Ae38. 8 Indah Setyo Wardhani. AuMenumbuhkan Tindak Pikir Kreatif Melalui Model Pembelajaran Pace,Ay JP2M (Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Matematik. 1, no. 9 Ernawati Ernawati and Baharullah Baharullah. AuEfektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Model Project. Activity. Cooperative Learning. Exercise (Pac. ,Ay HISTOGRAM: Jurnal Pendidikan Matematika 4, no. : 103, https://doi. org/10. 31100/histogram. dan Rini Warti Fitriyah. Ali Murtadlo. AuPENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MAN MODEL KOTA JAMBI,Ay Bhinneka: Jurnal Bintang Volume 17. Nomor 02. FEB 2026. Jurnal Tarbawi Rika Liani Harahap. Imam SyafeAoI. Listiyani Siti R Hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa pakar peneliti termasuk Nur Aida11. Syeppina Dwiyani12. Rikhel Saputri13. Miftah Fathur Rahmi Pratama14. Ernawati15 Penelitian ini memiliki beberapa kesenjangan atau Gap Research dibandingkan dengan penelitian terdahulu yang telah dilakukan mengenai model pembelajaran PACE. Pertama, penelitian sebelumnya lebih banyak diterapkan dalam mata pelajaran Matematika dan Statistika, sementara penelitian ini berfokus pada mata pelajaran Fiqih di MA Al Hikmah Bandar Lampung, yang merupakan jenjang Madrasah Aliyah. Kedua, penelitian terdahulu dilakukan di berbagai jenjang pendidikan, seperti SMP. SMA, dan mahasiswa, sedangkan penelitian ini lebih spesifik pada siswa MA, yang memiliki karakteristik berbeda dalam hal pendekatan pembelajaran, terutama dalam konteks pendidikan agama Islam. Selain itu, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pilihan ganda, berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya yang hanya menggunakan tes secara umum tanpa spesifikasi bentuk soal. Meskipun model PACE sebelum nya banyak diterapkan dalam pembelajaran Matematika dan Statistika, secara konseptual model ini tidak terbatas pada karakteristik mata pelajaran tertentu, melainkan pada pendekatan pembelajaran yang menekankan aktivitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Secara teoretis. PACE berakar pada teori konstruktivisme yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam membangun pengetahuan melalui pengalaman belajar yang bermakna. Pendidikan Dan Bahasa . 91Ae102, https://doi. org/10. 59024/bhinneka. Listiani. AuPenggunaan Model PACE Dalam Pembelajaran Geometri Topik Bangun Ruang. Ay 11 (Aida. AuPenerapan Model Pembelajaran Pace Dalam Meningkatkan Kemampuan Menggambar Mahasiswa Pada Konsep Vektor. Ay, 2. 12 ( Syeppina Dwiyani . Pengaruh Model Pembelajaran PACE (Project. Activity. Cooperative Learning. Exercis. Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Ditinjau Dari Gaya Belajar Peserta Didik , 2021. 13 ( Rikhel Saputri . Pengaruh Model Pembelajaran PACE Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis 2. 14 (Miftah Fathur Rahmi Pratama . Keefektifan Model Pembelajaran PACE Berbantuan Google Classroom terhadap Kemampuan Penalaran Matematis Siswa pada Materi Phytagoras , 2. 15 ( Ernawati . Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Model Project. Activity. Cooperative Learning. Exercise (Pac. , 2. Jurnal Tarbawi. Volume 17. Nomor 02. FEB 2026 Model Pembelajaran PACE ( Project. Activity. Cooperative Learning. Exercise ): Hasil Belajar Fiqih Prinsip ini relevan dengan pembelajaran fiqih, karena fiqih tidak hanya menuntut hafalan dalil dan hukum, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, serta mengevaluasi permasalahan hukum Islam dalam konteks kehidupan sehari-hari. Melalui tahapan project dan activity, siswa dapat diberikan studi kasus terkait persoalan ibadah atau muamalah untuk dianalisis berdasarkan dalil dan kaidah fiqih. Tahap cooperative learning memungkinkan siswa berdiskusi dan membandingkan pendapat ulama, sementara tahap exercise memperkuat kemampuan mereka dalam menyimpulkan dan menerapkan hukum. Dengan demikian, meskipun sebelumnya banyak digunakan pada bidang eksakta, model PACE tetap relevan dan adaptif untuk pembelajaran fiqih karena sama-sama menuntut pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi, khususnya analisis dan evaluasi (C5 dan C. Dari segi Novelty Design, penelitian ini menawarkan kebaruan dalam beberapa aspek. Pertama, belum ada penelitian sebelumnya yang meneliti pengaruh model pembelajaran PACE terhadap hasil belajar dalam mata pelajaran fiqih, sehingga penelitian ini menjadi yang pertama dalam konteks ini. Kedua, penelitian ini memberikan perspektif baru dalam penerapan model PACE pada pendidikan agama Islam, khususnya dalam pembelajaran fiqih. Ketiga, penelitian ini menggunakan tes pilihan ganda sebagai alat ukur hasil belajar, yang memungkinkan evaluasi yang lebih objektif dibandingkan metode pengukuran lain yang lebih subjektif. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan metode pembelajaran PACE dalam konteks pendidikan Islam, khususnya dalam meningkatkan hasil belajar siswa di Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pendidik dalam memilih metode pembelajaran yang lebih efektif dan inovatif untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah siswa. Secara teoretis, hasil penelitian ini memperkaya kajian tentang efektivitas model PACE dalam pendidikan agama Islam dan berpotensi menjadi dasar pengembangan pembelajaran di madrasah agar lebih sesuai dengan kebutuhan siswa di era modern. Volume 17. Nomor 02. FEB 2026. Jurnal Tarbawi Rika Liani Harahap. Imam SyafeAoI. Listiyani Siti R Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di MA Al Hikmah Bandar Lampung pada semester genap Tahun Pelajaran 2026/2027, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif jenis quasi-experimental design. Peneliti mengadopsi rancangan posttest-only control group design yang melibatkan dua kelas: kelas eksperimen (X-C) yang diberikan perlakuan berupa penerapan model pembelajaran PACE, dan kelas kontrol (X-B) yang menggunakan pembelajaran konvensional. Proses penelitian diawali dengan pemilihan sampel secara acak menggunakan teknik simple random sampling, dari populasi peserta didik kelas X yang berjumlah 110 siswa. Setelah penentuan kelompok, perlakuan PACE diberikan melalui empat tahapan utama: Project. Activity. Cooperative Learning, dan Exercise, yang masing-masing didesain untuk menstimulasi keterampilan berpikir tingkat tinggi (C5 dan C. dalam pembelajaran Penelitian ini dilakukan selama tiga kali pertemuan selama tiga Tahapan penelitian dimulai dengan pemberian perlakuan kepada kelas eksperimen melalui penerapan model PACE. Pada fase Project siswa dibagi ke dalam kelompok kecil untuk mengerjakan proyek berbasis permasalahan nyata dalam pelajaran fiqih pada materi riba, perwakilan kelompok memilih kertas berwarna warni yang isinya berupa bahan diskusi kelompok mereka, kemudian masing-masing kelompok diarahkan pada kegiatan aktif berupa diskusi tentang materi yang telah mereka pilih, pada fase Activity merupakan tahap pembelajaran di mana siswa secara aktif melakukan kegiatan yang berkaitan dengan materi yang dipelajari. Pada tahap ini, siswa terlibat dalam menganalisis permasalahan, mengidentifikasi konsep atau dalil yang relevan, serta mengeksplorasi informasi untuk menemukan pemahaman yang lebih mendalam, pada fase Cooperative Learning tahap pembelajaran di mana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil untuk mendiskusikan, menganalisis, dan menyelesaikan permasalahan yang Dalam pembelajaran Fiqih, tahap ini memungkinkan siswa saling bertukar pendapat, membandingkan dalil atau pandangan ulama. Jurnal Tarbawi. Volume 17. Nomor 02. FEB 2026 Model Pembelajaran PACE ( Project. Activity. Cooperative Learning. Exercise ): Hasil Belajar Fiqih serta menyusun kesimpulan bersama berdasarkan hasil diskusi. Melalui interaksi tersebut, siswa tidak hanya memperdalam pemahaman materi, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan tanggung jawab kelompok. , sedangkan pada fase Exercise, mereka diberikan latihan soal berbasis C5 dan C6 untuk menguatkan Sementara itu, kelas kontrol tetap mengikuti pembelajaran seperti biasa tanpa perlakuan khusus. Setelah semua tahapan pembelajaran selesai, kedua kelas diberikan post-test dalam bentuk soal pilihan ganda untuk mengukur hasil belajar mereka. Instrumen penelitian berupa tes objektif berbentuk pilihan ganda telah diuji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda nya sebelum Tes yang digunakan pada tingkat C5 dan C. , yang mencerminkan pemahaman mendalam siswa terhadap materi fiqih. Data hasil post-test dianalisis melalui uji prasyarat, seperti uji normalitas dan homogenitas, serta pengujian hipotesis menggunakan ttest independent sample untuk melihat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Seluruh langkah dilakukan secara sistematis guna memastikan bahwa pengaruh model PACE terhadap hasil belajar dapat diuji secara objektif. Pembahasan dan Hasil Validitas Tabel 1. Deskripsi Hasil Uji Validitas Kelas Uji Coba No. Soal Rtabel Rhitung Keterangan 0,388 0,388 0,388 0,388 0,388 0,388 0,388 0,388 0,479 0,459 0,444 0,523 0,543 0,420 0,577 0,582 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid 0,388 0,388 0,520 0,442 Valid Valid Volume 17. Nomor 02. FEB 2026. Jurnal Tarbawi Rika Liani Harahap. Imam SyafeAoI. Listiyani Siti R 0,388 0,388 0,388 0,388 0,388 0,388 0,388 0,388 0,388 0,388 0,478 0,242 0,113 0,122 0,070 0,478 0,497 0,393 0,429 Valid Valid Invalid Invalid Invalid Invalid Valid Valid Valid Valid Reliabilitas Tabel 2. Deskripsi Hasil Uji Reliabilitas Kelas Uji Coba Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items Berdasarkan uji validitas pada kelas uji coba, dari 20 butir soal yang diuji terdapat 16 soal valid dan 4 soal tidak valid karena nilai r hitung lebih kecil dari r tabel . Soal yang valid dinyatakan layak digunakan sebagai instrumen penelitian. Selanjutnya, uji reliabilitas menunjukkan nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,747, yang berada di atas batas minimum 0,70, sehingga instrumen memiliki reliabilitas yang baik dan konsisten. Dengan demikian, instrumen tes layak digunakan untuk pengumpulan data pada kelas eksperimen (X. C) dan kelas kontrol (X. B). Soal tersebut mampu mengukur kemampuan kemampuan tingkat tinggi karna pada level C5 . , soal meminta siswa menilai suatu permasalahan Fiqih dengan mempertimbangkan dalil, kaidah, atau perbedaan pendapat ulama, kemudian menentukan keputusan yang paling tepat disertai pertimbangan logis. Proses ini menuntut kemampuan membandingkan, mengkritisi, dan memberikan penilaian. Pada level C6 . , soal mengarahkan siswa untuk menyusun solusi atau menetapkan hukum terhadap kasus baru yang belum dibahas secara langsung. Siswa harus mengintegrasikan konsep, menganalisis situasi, dan merumuskan kesimpulan secara mandiri. Jurnal Tarbawi. Volume 17. Nomor 02. FEB 2026 Model Pembelajaran PACE ( Project. Activity. Cooperative Learning. Exercise ): Hasil Belajar Fiqih Berdasarkan hasil analisis data hasil belajar Fiqih pada kedua kelas tersebut, interpretasi hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: Tingkat Kesukaran Tingkat kesukaran menunjukkan kemampuan penyusunan soal agar sesuai dengan kemampuan peserta tes, sehingga soal tidak terlalu mudah maupun terlalu sulit. Tabel 3. Distribusi Soal Berdasarkan Tingkat Kesukaran TINGKAT KESUKARAN Sangat Sukar Sukar Sedang Mudah NO BUTIR JUMLAH PERSENTASE 2,11,19 1,3,8,9,14,15,16,17,18,20 2,5,6,7,10,12,13 Berdasarkan Tabel 3 Distribusi Soal Berdasarkan Tingkat Kesukaran, diketahui bahwa dari 20 butir soal yang dianalisis tidak terdapat soal dengan kategori sangat sukar yaitu 0%. Selanjutnya, soal dengan tingkat kesukaran sukar dengan persentase 15% dan berjumlah 3 soal yaitu 2,11,19. Lalu soal dengan kategori sedang berjumlah 10 butir, yaitu nomor 1,3,8,9,14,15,16,17,18,20, dengan persentase sebesar Sementara itu, soal pada kategori mudah, yaitu sebanyak 7 butir soal dengan persentase 35%, meliputi nomor 2,5,6,7,10,12,13. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa distribusi tingkat kesukaran soal didominasi oleh soal kategori sedang sehingga instrumen tes dinilai sesuai dengan kemampuan peserta didik dan layak digunakan dalam Daya Pembeda Daya pembeda adalah kemampuan suatu butir soal untuk membedakan siswa berkemampuan tinggi . elompok ata. dan rendah . elompok bawa. Besarnya daya pembeda dinyatakan dalam indeks diskriminasi yang berkisar antara 0,00 hingga 1,00. Tingkat kesukaran soal ditunjukkan oleh indeks kesukaran . ifficulty inde. Menurut Arifin, semakin tinggi koefisien daya pembeda suatu butir soal, semakin baik kemampuan soal tersebut dalam membedakan kemampuan siswa. Interpretasi daya beda: A 0,701,00 Baik Sekali (Digunaka. Volume 17. Nomor 02. FEB 2026. Jurnal Tarbawi Rika Liani Harahap. Imam SyafeAoI. Listiyani Siti R A 0,40-0,69 Baik (Digunaka. A 0,20-0,39 Cukup (Boleh digunakan dengan perbaika. Tabel 4. Distribusi Soal Berdasarkan Daya Pembeda DAYA PEMBEDA Baik Sekali Baik Cukup NO BUTIR JUMLAH PERSENTASE 4,6,11,12,20 2,5,7,8,9,10,13,14,15,16,18 1,3,17,19 Berdasarkan Tabel 4, dari 20 butir soal yang dianalisis, terdapat soal dengan daya pembeda sangat baik sebanyak 5 butir soal . %) yaitu nomor 4,6,11,12,20. Lalu soal yang termasuk kategori daya pembeda baik sebanyak 11 butir soal dengan persentase . %), sedangkan 4 butir soal . %) berada pada kategori daya pembeda cukup yaitu nomor 1,3,17,19 Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar butir soal memiliki daya pembeda yang memadai dan dapat Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk melihat apakah data yang dikumpulkan dinyatakan berdistribusi normal atau tidak. Data dinyatakan normal apabila nilai signifikansi > 0,05. Berikut ini data hasil uji Normalitas pada penelitian: Tabel 5. Deskripsi Hasil Uji Normality Test Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic Shapiro-Wilk Sig. Statistic Sig. Berdasarkan Tabel 5, uji normalitas variabel X1 dan X2 menggunakan uji KolmogorovAeSmirnov dan ShapiroAeWilk menunjukkan nilai signifikansi X1 sebesar 0,147 dan X2 sebesar 0,624. Jurnal Tarbawi. Volume 17. Nomor 02. FEB 2026 Model Pembelajaran PACE ( Project. Activity. Cooperative Learning. Exercise ): Hasil Belajar Fiqih Karena kedua nilai lebih besar dari 0,05, data X1 dan X2 dinyatakan berdistribusi normal dan memenuhi asumsi untuk analisis statistik Uji Homogenitas Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui kesamaan varians antar populasi penelitian. Data dinyatakan homogen apabila nilai Sig. > 0,05. Berikut disajikan hasil uji homogenitas pada penelitian ini:. Tabel 6. Deskripsi Hasil Uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variances Levene Statistic Sig. Berdasarkan uji homogenitas varians menggunakan LeveneAos Test diperoleh nilai Levene Statistic sebesar 1,112 dengan df1 = 5 dan df2 = 18 serta nilai signifikansi 0,389. Karena nilai signifikansi lebih besar dari = 0,05, varians antar kelompok dinyatakan homogen, sehingga data memenuhi asumsi untuk dianalisis menggunakan uji statistik parametrik, seperti independent samples t-test. Uji T Tabel 7. Hasil Uji Hipotesis Independent Samples Test Levene's Test for Equality Variances t-test for Equality of Means Sig. Mean tailed Differenc Sig. Std. Error Confidence Differenc Interval of the Difference Volume 17. Nomor 02. FEB 2026. Jurnal Tarbawi Rika Liani Harahap. Imam SyafeAoI. Listiyani Siti R Lowe Equal Upper Equal s not Berdasarkan hasil uji kesamaan varians menggunakan LeveneAos Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,675 (> 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa varians kedua kelompok adalah homogen. Oleh karena itu, analisis perbedaan rata-rata menggunakan hasil pada baris Equal variances assumed. Hasil uji t menunjukkan nilai t hitung sebesar 3,150 dengan derajat kebebasan . sebesar 55 dan nilai signifikansi (Sig. 2-taile. sebesar 0,003. Nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05, yang mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan antara kedua kelompok yang dibandingkan. Selisih rata-rata . ean differenc. sebesar 1,57778 dengan interval kepercayaan 95% berada pada rentang 0,57386 hingga 2,58169. Selisih rata-rata . ean differenc. sebesar 1,57778 dengan interval kepercayaan 95% berada pada rentang 0,57386 hingga 2,58169. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara kelompok penelitian yang diuji. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran yang diterapkan memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel yang diuji, sehingga mendukung hipotesis penelitian bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen yang menggunakan model pembelajaran tertentu dengan kelompok kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Hasil ini Jurnal Tarbawi. Volume 17. Nomor 02. FEB 2026 Model Pembelajaran PACE ( Project. Activity. Cooperative Learning. Exercise ): Hasil Belajar Fiqih menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inovatif memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan metode konvensional. Salah satu keberhasilan model PACE dalam mendongkrak hasil belajar siswa terletak pada tahap Project, di mana siswa dilibatkan secara langsung dalam kegiatan proyek yang menuntut eksplorasi, pemecahan masalah, dan pengembangan gagasan secara mandiri. Pendekatan ini sangat efektif karena menjawab masalah utama di lapangan, yaitu rendahnya minat belajar dan keterlibatan siswa. Dengan adanya proyek, siswa terdorong untuk berpikir kreatif dan mampu mengaitkan materi fiqih dengan konteks kehidupan nyata, sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna16. Tahap selanjutnya, yaitu Activity, memungkinkan siswa untuk aktif melakukan berbagai kegiatan belajar baik secara fisik maupun psikis. Aktivitas ini tidak hanya menumbuhkan rasa ingin tahu, tetapi juga membantu siswa mengalami pembelajaran secara langsung. Observasi menunjukkan bahwa siswa yang sebelumnya pasif mulai terlibat aktif dalam menyelesaikan tugas dan berdiskusi. Dengan demikian, kegiatan ini secara signifikan membantu mengubah perilaku belajar siswa dari pasif menjadi aktif dan responsif terhadap materi yang Cooperative Learning menjadi kekuatan lain dalam model PACE yang secara langsung berkontribusi terhadap peningkatan hasil belajar. Melalui pembelajaran kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil yang saling mendukung. Diskusi kelompok memungkinkan pertukaran ide, penguatan pemahaman, serta peningkatan rasa percaya diri siswa. Permasalahan seperti kurangnya minat dan suasana kelas yang tidak kondusif teratasi karena model ini mengutamakan kolaborasi, kerja sama, dan keterlibatan sosial18. Tahap Exercise menjadi tahapan akhir Afrilianto et al. AuProject-Activity-Cooperative Learning-Exercise Model in Improving StudentsAo Creative Thinking Ability in Mathematics,Ay Infinity Journal 11, no. : 285Ae96, https://doi. org/10. 22460/infinity. 17 Rahman and Yunita. AuPenerapan Model Pembelajaran PACE Untuk Meningkatkan Kemampuan Pembuktian Matematika Siswa Di Kelas VII SMP Pada Materi GeometriAy. Maisyarah. Afriyanti, and Manurung. AuPenerapan Model Pace Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Smp Nurul Hasanah. Ay 18 Nur Alim Noor, and Adi Permadi. AuPeningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar Melalui Model Project . Activity . Cooperative Volume 17. Nomor 02. FEB 2026. Jurnal Tarbawi Rika Liani Harahap. Imam SyafeAoI. Listiyani Siti R yang tidak kalah penting dalam memperkuat pemahaman siswa. Dalam tahapan ini, siswa diberikan latihan soal yang dirancang untuk menguji kemampuan mereka pada tingkat berpikir tinggi. Soal-soal berorientasi pada C5 dan C6 memberikan tantangan tersendiri bagi siswa untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan solusi. Dengan latihan yang sistematis dan terarah, siswa tidak hanya menguasai konsep tetapi juga mampu menerapkannya dalam bentuk pemecahan masalah19. Secara keseluruhan, model PACE berhasil menjawab tantangan pembelajaran Fiqih di kelas X MA Al Hikmah Bandar Lampung, khususnya pada masalah hasil belajar, rendahnya kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar yang sebelumnya cenderung rendah. Model ini memberikan kerangka pembelajaran yang seimbang antara teori dan praktik, kerja individu dan kolaboratif, serta penguatan konsep dan evaluasi hasil belajar. Penerapan keempat sintaks PACE secara terpadu terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa secara komprehensif20. Interaksi dalam diskusi kelompok juga berperan penting dalam membangun pemikiran kritis. Siswa belajar mengemukakan pendapat, menanggapi argumen teman, serta merevisi pemahamannya berdasarkan hasil musyawarah. Situasi ini membantu mereka melihat bahwa hukum Fiqih tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga kontekstual. Learning . Exercise,Ay Prosiding Seminar Nasional Pendidikan STKIP Kusuma Negara II, 2020, 227Ae33. 19 Siti Mar Atus Solikah. Mustangin, and Abdul Halim Fathani. AuKEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS MELALUI MODEL PACE PADA MATERI KUBUS DAN BALOK DI SMPN 4 KEPANJEN Siti Mar Atus Solikah 1 . Mustangin 2 . Abdul Halim Fathani 3,Ay Jurnal Penelitian. Pendidikan Dan Pembelajaran 14, no. : 1Ae7. Muhammad Assaibin and Riska Husain. AuDan Komunikasi Matematis Melalui Model Pace (Project Activity Cooperative Exercis. Siswa Kelas Vi Smp Negeri 1 Polewali,Ay Genta Mulia XI, no. : 56Ae69, http://ejournal. id/index. php/gm/article/download/262/231. 20 Aida. AuPenerapan Model Pembelajaran Pace Dalam Meningkatkan Kemampuan Menggambar Mahasiswa Pada Konsep VektorAy. Sapriani Lubis. Nova Christina Dewi, and Adek Nilasari Harahap. AuPENGARUH PENERAPAN MODEL PACE TERHADAP KEMAMPUAN THEOREMA PYTHAGORASDI MTs YPKS PADANGSIDIMPUANAy 3, no. April . : 19Ae29. Jurnal Tarbawi. Volume 17. Nomor 02. FEB 2026 Model Pembelajaran PACE ( Project. Activity. Cooperative Learning. Exercise ): Hasil Belajar Fiqih Kesimpulan: Penelitian ini membuktikan bahwa model pembelajaran PACE (Project. Activity. Cooperative Learning. Exercis. memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Fiqih di MA Al Hikmah Bandar Lampung. Model ini terbukti mampu meningkatkan keterlibatan siswa, mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (C5 dan C. , serta memperbaiki suasana kelas menjadi lebih aktif dan kolaboratif. Setiap tahapan dalam model PACE, mulai dari proyek yang mendorong kreativitas, aktivitas yang menumbuhkan rasa ingin tahu, kerja kelompok yang memfasilitasi diskusi, hingga latihan soal yang menguji kemampuan analisis dan evaluasi, secara keseluruhan membentuk sistem pembelajaran yang efektif, menyenangkan, dan bermakna. Saran: Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar model PACE tidak hanya diterapkan pada mata pelajaran Fiqih, tetapi juga dikembangkan pada bidang studi lain, baik dalam rumpun agama maupun umum. Peneliti berikutnya juga dianjurkan untuk mengeksplorasi dampak model ini terhadap aspek afektif dan psikomotorik siswa, serta mencoba pendekatan serupa dalam setting digital atau pembelajaran Penggunaan instrumen evaluasi yang lebih variatif, seperti penilaian proyek atau portofolio, juga dapat dipertimbangkan agar hasil penelitian lebih komprehensif dan sesuai dengan karakteristik pembelajaran masa kini. REFERENCES