CORRELATION OF INCISOR INCLINATION ANGLE TO FACIAL SOFT TISSUE BALINES FEMALES BY HOLDAWAY METHOD Norman Hidajah. Dwis Syahrul. Ni Made Widyatari Putri Pribadi Orthodontic Department Faculty of Dentistry Mahasaraswati Denpasar University Student of Faculty of Dentistry Mahasaraswati Denpasar University ABSTRACT Background: Facial aesthetics can be defined as harmony and balance between facial proportions that formed by skeletal, dental and soft tissue structures. The position of the incisor is an important factor. The facial soft tissue profile also affects the pantientAos facial aesthetics because in seeing someoneAos face, the first thing to note is the soft tissue on the face that wraps the head bone. Purpose: The purpose of this study was to determine whether there was a correlation of incisor inclination angle to facial soft tissue convection in Bali women by the Holdaway method. Methods: This type of research is observational analytic with cross sectional approach. The researcher used sample of 31cephalometric photos of Bali women tracing. Samples were taken by purposive sampling, that is samples were chosen based on the specified criteria. Results: Pearson correlation analysis showed that the correlation of upper incisor inclination, lower incisor inclination angel and interinsisal angle to facial soft tissue convention (H angl. was significant. The relationship of the interinsisal angle to H angle is significant in the positive direction. This shows that the greater the interincisal angle, the greater the distance between the upper and lower lips to the aesthetic line. Conclusion: Based on this study, it can be concluded that there is a correlation of upper incisor inclination, lower incisor inclination and interinsisal angle to facial soft tissue convection in Bali women by the Holdaway method. Keywords : Incisor inclination angle, facial soft tissue. Bali. Holdaway method Corresponding: Ni Made Widyatari Putri Pribadi. Orthodontic Department Faculty of Dentistry Mahasaraswati Denpasar University. Jln Kamboja no 11A. Denpasar-Bali. email: widyatariputri@gmail. PENDAHULUAN Estetika wajah dapat didefinisikan sebagai keharmonisan dan keseimbangan antara proposisi wajah yang dibentuk oleh struktur kerangka, gigi dan jaringan lunak (Sari Tujuan perawatan ortodonti adalah untuk memperbaiki susunan gigi-geligi dan hubungan rahang yang tidak normal sehingga dapat tercapai oklusi, fungsi yang normal, estetis wajah yang baik, memperoleh keharmonisan bentuk muka, relasi dan fungsi pengunyahan yang baik, serta stabilitas hasil akhir. (Kurniawati & Bunga 2. Penentuan estetis wajah seseorang sangat dipengaruhi oleh besarnya sudut interinsisal karena posisi dan iklinasi gigi insisivus akan berpengaruh pada jaringan lunak wajah terutama sepertiga bagian wajah (Harahap & Melisa, 2. Dalam analisis sefalometri, posisi gigi insisivus rahang atas dan bawah banyak digunakan sebagai petunjuk menegakkan diagnosis, menentukan rencana perawatan dan panduan mendapatkan stabilitas hasil perawatan (Arigato 2. Profil wajah pasien biasanya dilihat dari inklinasi gigi anterior dan ortodontis harus mengembalikan posisi insisivus untuk mendapatkan keseimbangan wajah ideal (Harahap & Melisa 2. Ada beberapa analisis profil jaringan lunak wajah secara sefalometri yang digunakan di bidang ortodonti, salah satunya adalah Holdaway. Analisis ini mencoba menggambarkan secara kuantitatif hubungan jaringan lunak wajah dengan gambaran wajah, baik yang menyenangkan dan harmonis maupun yang tidak (Susilowati 2. Metode Holdaway melakukan pengukuran cukup diukur pada sudut fasial dan sudut harmoni karena dapat digunakan sebagai penentu konveksitas jaringan lunak apakah cembung, cekung atau lurus (Harahap & Melisa 2. Berdasarkan latar belakang tersebut penulis ingin meneliti apakah ada korelasi antara sudut inklinasi insisivus terhadap konveksitas jaringan lunak wajah pada perempuan Suku Bali dengan metode Holdaway. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi sudut inklinasi insisivus terhadap konveksitas jaringan lunak wajah pada perempuan Suku Bali dengan metode Holdaway METODE Metode penelitian ini menggunakan penelitian Observasional Analitik dengan desain cross sectional yang merupakan studi untuk mengukur variabel secara bersamaan pada waktu tertentu. Populasi penelitian ini adalah foto sefalometri lateral perempuan Suku Bali di laboratorium rumah sakit gigi dan mulut Saraswati Denpasar. Penelitiam ini menggunakan foto sefalometri lateral perempuan Suku Bali di laboratorium rumah sakit gigi dan mulut Saraswati Denpasar diambil berdasarkan rumus ycA ycA. ycc 2 1 1,45 = 31 sampel Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu Purposive sampling, pengambilan sampel dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria tertentu yang telah dibuat oleh peneliti sendiri terhadap obyek yang sesuai dengan tujuan penelitian. Teknik sampling dengan menentukan kriteria sampel terlebih dahulu, lalu sampel dipilih sesuai dengan kriteria. Kriteria sampel pada penelitian ini adalah sebagai berikut: seluruh gigi insisivus telah erupsi sempurna keturunan 2 turunan suku Bali pasien berusia 15-25 tahun kualitas foto sefalometri lateral baik Keadaan umum pasien baik, tidak memiliki kelainan pada jaringan lunak seperti pembengkakan . dan tidak ada trauma di kepala yang bisa mengganggu hasil sefalogram. belum pernah dirawat ortodonti Instrumen penelitian: Alat rongent sefalometri aplikasi Cliniview ortho trace Pelaksanaan dan alur penelitian: melakukan pemilihan foto sefalometri lateral yang memenuhu kriteria sebanyak sampel yang telah ditentukan menentukan titik sesuai dengan metode Holdaway menggunakan aplikasi cliniview ortho trace hasil yang didapat kemudia dicatat untuk di analisis HASIL Hasil penepakan . pada 31 sampel berupa foto sefalometri Inklinasi Inklinasi Sudut Konveksitas Insisivus RA Insisivius RB Interinsisal Jaringan Lunak Wajah Rerata Varians Tabel Hasil uji normalitas data Shapiro Wilk Sig. Inklinasi Insisivus RA 0,796 Inklinasi Insisivus RB 0,640 Sudut Interinsisal 0,588 Konveksitas Jaringan Lunak 0,251 Wajah Berdasarkan uji normalitas yang telah dilakukan, diketahui nilai Sig. untuk sudut inklinasi insisivus rahang atas mempunyai nilai probabilitas 0,796, sudut inklinasi insisivus sentralis rahang bawah mempunyai probabilitas 0,640, sudut interinsisal mempunyai nilai probabilitas 0,588 dan sudut H mempunyai nilai probabilitas 0,251. Nilai tersebut menunjukan bahwa keempat variabel terdistribusi normal karena nilai probabilitas yang lebih besar dari 0,05 . >0,. Setelah uji normalitas data terpenuhi, untuk uji hipotesis akan dilakukan menggunakan korelasi pearson. Dasar pengambilan keputusan, dapat dilakukan melalui pendekatan probabilitas, signifikansi yang digunakan pO0,05. TABEL Hasil Uji Korelasi Pearson Pada tabel terlihat bahwa hubungan korelasi inklinasi insisivus sentralis atas dan bawah terhadap sudut H dalam arah positif. Hal ini menunjukan bahwa semakin besar sudut inklinasi insisivus sentralis atas dan bawah, maka semakin besar pula derajat kecembungan jaringan lunak . udut H). Sedangkan hubungan korelasi sudut interinsisal terhadap sudut H dalam arah positif. Hal ini menunjukan bahwa semakin besar sudut interinsisal, maka semakin besar derajat kecembungan jaringan lunak . udut H). DISKUSI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi sudut inklinasi insisivus terhadap konveksitas jaringan lunak wajah pada perempuan Suku Bali dengan metode Holdaway. Pemilihan sampel dilakukan di laboratorium radiologi FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar. Setelah didapatkan sampel berupa foto sefalometri yang memenuhi syarat inklusi, selanjutnya di tracing. Setelah didapatkan data hasil tracing pada keseluruhan sampel . , kemudian dilakukan uji normalitas dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk dari uji normalitas didapatkan hasil bahwa data berdistribusi normal sehingga peneliti menguji korelasi dengan menggunakan uji korelasi Berdasarkan uji korelasi pearson didapatkan kesimpulan bahwa inklinasi insisivus sentralis rahang atas dan iklinasi insisivus sentralis rahang bawah berkorelasi dengan sudut H dalam arah positif karena nilai p<0,05. Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat Riedel yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang erat antara profil jaringan lunak wajah dengan susunan gigi dan tulang yang membentuk profil skeletal wajah (Sari 2. Secara anatomis penampilan wajah ditentukan oleh daerah sepertiga bagian bawah wajah terutama posisi bibir dan relasinya yang dipengaruhi oleh keadaan inklinasi gigi anterior (Darwis 2. Hasil penelitian yang menunjukan adanya korelasi antara inklinasi insisivus atas dengan kecembungan jaringan lunak sejalan dengan pendapat Burstone . yang menyatakan bahwa profil bibir atas banyak dipengaruhi oleh inklinasi gigi anterior atas dan morfologi jaringan lunak daerah subnasal (Sari 2. Hasil penelitian yang menunjukan adanya korelasi antara inklinasi insisivus bawah dengan kecembungan jaringan lunak sejalan dengan hasil penelitian Oktaviona . yang menunjukan bahwa proklinasi insisivus bawah memberikan dampak pada bibir bawah akan terletak pada atau di depan garis estetik sehingga membentuk profil wajah yang cembung. Berdasarkan uji korelasi pearson didapatkan hasil bahwa terdapat korelasi sudut interinsisal terhadap konveksitas jaringan lunak wajah pada perempuan Bali dengan metode Holdaway dimana arah korelasi hasil penelitian tersebut menuju kearah positif. Penelitian ini didukung oleh Arigato . yang menyatakan adanya hubungan sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah mahasiswa Suku Batak FKG dan FT USU, tetapi lemah dan tidak signifikan. Hasil uji korelasi yang didapat dalam arah positif, yang artinya semakin besar sudut interinsisal, maka semakin besar pula jarak bibir atas (L. dan bibir bawah (L. terhadap garis estetis. Hasil uji korelasi didukung oleh Nurbayati . Hasil ini juga didukung oleh Riedel yang menyatakan bahwa ada hubungan erat antara profil jaringan lunak wajah dengan susunan gigi dan tulang yang membentuk profil skeletal wajah. SIMPULAN Berdasarkan hasil dari penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat korelasi sudut inklinasi insisivus terhadap konveksitas jaringan lunak wajah pada perempuan Suku Bali dengan metode Holdaway. DAFTAR PUSTAKA