Journal Abdimas Mutiara 07 Agustus 2023. Vol. 4 No. 2, p. http://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JAM abdimasmutiara@gmail. Sosialisasi Pengolahan Limbah Kulit Buah Pisang Kepok Sebagai Antibakteri Di BPOM Medan Christica Ilsana Surbakti1. Cut Maysithah2 . Monica Suryani3 1,2,3Universitas Sari Mutiara Indonesia . Medan *penulis korespondensi : christicaslsanasurbakti@gmail. Abstrak. Kulit pisang kepok merupakan bagian dari buah pisang yang memiliki bahan aktif bersifat antibakteri, yaitu tanin, saponin, dan flavonoid. Bahan aktif tersebut mampu menghambat pertumbuhan bakteri Stapylococcus Aureus. Penelitian ini dilakukan unuk menentukan potensi ekstrak limbah kulit pisang kepok sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Penelitian aktivitas antibakteri dari limbah beberapa kulit pisang kepok yang banyak digunakan sebagai olahan makanan. industri makanan sejauh ini belum banyak Oleh karena itu penelitian mengenai aktivitas antibakteri dari beberapa limbah kulit pisang kepok terhadap bakteri penyebab infeksi (Escherichia coli dan Staphylococcus aureu. perlu dilakukan. Historis Artikel: Diterima : 26 Juli 2023 Direvisi : 02 Agustus 2023 Disetujui : 07 Agustus 2023 Abstract. Kepok banana peel is a part of the banana that has antibacterial active ingredients, namely tannins, saponins and flavonoids. This active ingredient is able to inhibit the growth of Stapylococcus Aureus bacteria. This research was conducted to determine the potential of Kepok banana peel waste extract as an antibacterial against Escherichia coli and Staphylococcus aureus. Research on the antibacterial activity of the waste of several local banana peels which are widely used as ingredients processed foods. The food industry has not been reported much so far. Therefore, research on the antibacterial activity of several kepok banana peel waste against infection-causing Kata Kunci: bacteria (Escherichia coli and Staphylococcus aureu. needs to be carried out. Kulit Pisang Kepok. Antibakteri PENDAHULUAN 1 Analisis Situasi Infeksi merupakan gangguan kesehatan pada manusia yang umumnya disebabkan oleh bakteri maupun jamur . Bakteri yang paling banyak menimbulkan kasus infeksi pada masyarakat adalah bakteri pathogen dari spesies Escherichia coli (E. dan Staphylococcus aureus (S. Dalam mengobati penyakit infeksi, masyarakat umumnya menggunakan antibiotik, namun penggunaan antibiotik yang tidak terarah menyebabkan bakteri menjadi resisten. Peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotik memberikan peluang untuk memanfaatkan senyawa bioaktif dari kekayaan hayati, salah satunya adalah tanaman pisang (Musa paradisiac. Penelitian mengenai aktivitas beberapa jenis tanaman pisang terbukti memiliki kandungan senyawa aktif sebagai antimikroba. Ekstrak bonggol pisang ambon kuning memiliki kandungan metabolit sekunder seperti senyawa fenol dan saponin. Organ pelepah pisang memiliki kandungan metabolit sekunder saponin dalam jumlah yang besar dan flavonoid . Buah pisang pada umumnya mengandung alkaloid, terpenoid, sterol, dan flavonoid . Mokbel and Hashinaga melaporkan bahwa ekstrak etil asetat kulit pisang clavendis (Musa, a cv. Cavendis. berfungsi sebagai antibakteri terhadap Bacillus cereus. Salmonella enteritidis. Escherichia coli. Bacillus subtilis. Staphylococcus aureus dengan diameter hambat antara 9 sampai 12 mm. Ehiowemwenguan et al juga melaporkan bahwa ekstrak etanol kulit pisang Musa sapientum dapat menghambat bakteri Bacillus subtilis. Staphylococcus aureus. Micrococcus luteus. Klebsiella pneumonia. Pseudomonas aeruginosa, danSalmonella typhi dengan MIC (Minimum Inhibitory Concentratio. sebesar 16- Journal Abdimas Mutiara Journal Abdimas Mutiara 07 Agustus 2023. Vol. 4 No. 2, p. http://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JAM abdimasmutiara@gmail. 5mg/mL. Menurut Ahmad dan Beg ,ekstrak etanol kulit buah pisang memiliki aktivitas anti Staphylococcus aureus pada konsentrasi yang rendah. Kulit pisang sering dijadikan makanan ternak dan dibuang sehingga sering menimbulkan pencemaran Pisang kepok adalah tanaman yang dibudidayakan secara luas dan kulitnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat antiseptik serta baik digunakan sebagai obat herbal karena memiliki daya antibakteri yang dapat mengobati penyakit. Pisang paling banyak dikenal adalah kepok kuning sangat baik dijadikan makanan dan obat herbal. Bonggol, jantung pisang, dan buah pisang juga dapat dijadikan ekstrak yang memiliki sifat antibakteri. Pada penelitian sebelumnya, kulit pisang memiliki kandungan yang lebih tinggi dibanding bagian tanaman pisang lainnya. Jenis tanaman pisang kepok di Indonesia banyak dibudidayakan oleh masyarakat karena dapat digunakan sebagai tanaman herbal aktif. Kulit pisang kapok dapat digunakan untuk mengobati pembengkakan, inflamasi, antiseptik, dan penyembuhan luka. Penelitian Dinastuti et al . mengatakan bahwa kadar hambat minimal pada Candida albicans. Bacillus cereus. Staphylococcus aureus. Eschericia coli, danLisceria monocytogenes dapat dihambat ekstrak kulit pisang kepok dengan konsentrasi 22,5%, 10%, 20%, 30%, 40%. 6 Pada penelitian Wahyuni et al . mengatakan bahwa bakteri Stapylococcus aureus dan Eschericia coli mampu dihambat kulit pisang kepok kuning (Musa paradisiaca lin. dengan diameter hambat tertinggi 14,75 mm dan 14 mm. Penelitian Wulandari et al . menunjukkan bahwa pada uji fitokimia kandungan senyawa steroid dan tripenoid memiliki sifat antibakteri pada ekstrak kulit pisang kepok kuning terhadap patogen Aeromonas salmonicida. Pada penelitian Pratama et al . menunjukkan bahwa bakteri Staphylococcus aureus konsentrasi 100% mampu dihambat kulit pisang kepok mentah. Pada penelitian Ariani et al . ekstrak kulit pisang kepok dapat menghambat Candida albicans. Penelitian Ayu et al . mengatakan bahwa bagian tanaman pisang memiliki antibakteri dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus yang memiliki kandungan bahan aktif seperti tanin dan flavonoid. Kandungan bahan aktif tanaman pisang kepok tersebut berfungsi sebagai antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan dapat mempercepat pertumbuhan sel-sel baru untuk meregenerasi pertumbuhan sel fibrolas. Penelitian Aboul-Enein et al . menunjukkan bahwa senyawa flavonoid, dan tannin adalah kandungan tertinggi yang didapatkan dari ekstrak kulit pisang kepok yaitu 21,04 dan 24,21 mg/g DW. 2 Tujuan Pengabdian Masyarakat Tujuan Umum Setelah dilakukan penyuluhan ini, diharapkan masyarakat dapat memahami tentang limbah pisang kepok memiliki senyawa antibiotik Tujuan Khusus Setelah mengikuti penyuluhan ini mahasiswa dapat : Menjelaskan manfaat kulit pisang kepok Menjelaskan kandungan senyawa yang terdapat pada pisang kepok SOLUSI PERMASALAHAN MITRA Dilakukan sosialisasi pengolahan limbah kulit buah pisang kepok sebagai antibakteri untuk memanfaatkan kulit pisang kepok yang biasanya menjadi limbah. Journal Abdimas Mutiara Journal Abdimas Mutiara 07 Agustus 2023. Vol. 4 No. 2, p. http://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JAM abdimasmutiara@gmail. METODE Metode Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Metode pelaksanaan kegiatan ini adalah dengan pemberian sosialisasi tentang sosialisasi pengolahan limbah kulit buah pisang kepok sebagai antibakteri di bpom medan Langkah-Langkah Kegiatan Sosialisasi kepada Masyarakat Adapun Langkah-langkah dalam kegiatan ini adalah : Mengadakan rapat tim PKM dan penetuan panitia dengan melibatkan mahasiwa Kampus khususnya mahasiswa ilmu kesehatan dan farmasi Mengadakan pertemuan antara pihak tim PKM dengan Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia. Membahas rencana agenda kegiatan sebagai berikut : C Pembukaan dan perkenalan para narasumber: moderator membuka acara dan memperkenalkan para C Pemaparan dari para narasumber: narasumber berbagi informasi secara detail tentang pengolahan dan pemanfaatan limbah kulit pisang kapok sebagai antibakteri C Penutupan HASIL DAN PEMBAHASAN Pertama, ekstrak kulit buah pisang kepok (Musa paradisiaca x balbisian. mentah mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Adanya kemampuan ekstrak kulit buah pisang kepok(Musa paradisiaca x balbisian. mentah dalam menghambat pertumbuhan bakteriStaphylococcus aureus dikarenakan adanya senyawa antibakteri pada kulit buah pisangkepok (Musa paradisiaca x balbisian. yang mampu menghambat serta membunuh bakteri. Menurut Wardini dkk, . bahwa kulit buah pisang memiliki kandungan fenolik dan bahan aktif seperti tanin dan flavanoid, tanaman yang mengandung tanin dan flavonoid bersifat antiseptik dan dapat digunakan sebagai antibakteri (Sari dkk, 2. , kemudian menurut Paju dkk, . Antibakteri merupakan zat yang dapat menghambat atau membunuh bakteri dengan penyebab Diantara bakteri yang dapat menyebabkan infeksi adalah Staphylococcus aureus. Kedua. Pemberian pemahaman mengapa kandungan kulit pisang kepok memiliki senyawa antibakteri. Menurut Masduki, . dalam Ajizah, . bahwa tanin mempunyai daya antibakteri dengan cara mempresipitasi, karena diduga tannin mempunyai efek yang sama dengan senyawa fenolik. Efek antibakteri tanin antara lain melalui reaksi dengan membran sel, inaktivasi enzim, dan destruksi atau inaktivasi fungsi materi genetik. Menurut Azhari, . tanin merupakan senyawa fenol berfungsi untuk menghambat pertumbuhan bakteri denganmemunculkan denaturasi protein dan menurunkan tegangan permukaan, sehingga permeabilitas bakteri meningkat serta menurunkan konsentrasi ion kalsium, menghambat produksi enzim, dan mengganggu proses reaksi enzimatis pada bakteri Staphylococcus aureus sehingga menghambat terjadinya koagulasi plasma yang diperlukan oleh Staphylococcus aureus. Menurut Wistreich dan Lechtman dalam Azhari, . kerusakan dan peningkatan permeabilitas sel bakteri menyebabkan pertumbuhan sel terhambat dan akhirnya dapat menyebabkan kematian sel. Zat antibakteri lain yang ada pada kulit buah pisang kepok adalah flavanoid, flavonoid merupakan senyawa fenol yang bersifat koagulator protein pada bakteri. Protein yang terkoagulasi ini adalah protein yang mengalami denaturasi dan tidak dapat berfungsi dalam sintesis protein yang akhirnya menyebabkan bakteri mati (Mubarak, 2. Flavonoid juga mampu berinteraksi dengan DNA bakteri. Hasil interaksi ini menyebabkan terjadinya kerusakan permeabilitas dinding sel bakteri, mikrosom, dan lisosom (Sabir, 2. Flavonoid mempunyai kemampuan berinteraksi dengan DNA bakteri serta menghambat fungsi membran sitoplasma bakteri dimana pada akhirnya akan mengalami kerusakan pada permeabilitas dinding sel bakteri membran. Flavonoid juga dapat menjadi inhibitor enzim sehingga bakteri tidak dapat memproduksi enzim dengan baik (Azhari, 2. Journal Abdimas Mutiara Journal Abdimas Mutiara 07 Agustus 2023. Vol. 4 No. 2, p. http://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JAM abdimasmutiara@gmail. Ketiga. Pemberian edukasi mengenai pengolahan limbah kulit pisang kepok menjadi antibiotik. Badan Pengawas Obat dan Makanan atau disingkat Badan POM adalah sebuah lembaga di Indonesia yang bertugas mengawasi peredaran obat-obatan dan makanan di Indonesia. KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan sosialisasi pengolahan limbah kulit buah pisang kepok sebagai antibakteri di bpom medan sangat penting dilaksanakan karena antibakteri ekstrak kulit buah mentah pisang kepok (Musa paradisiaca x balbisian. mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Konsentrasi ekstrak kulit buah mentah pisang kepok (Musa paradisiaca x balbisian. yang paling baik dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus adalah pada konsentrasi 100%. Disarankan kepada konsumen untuk lebih memanfaatkan limbah kulit pisang kepok untuk menjadi antibiotik daripada kulit pisang kepok hanya menjadi limbah. KESIMPULAN DAN SARAN Kami dari tim pengabdian masyarakat mengucap terimakasih kepada Kepala BPOM serta staff BPOM yang telah membantu dan memberi izin sehingga kegiatan ini berjalan dengan baik dan seluruh masyarakat yang ikut berpartisipasi, waktu dan kesempatan kepada kami untuk melakukan pengabdian masyarakat ini. DAFTAR PUSTAKA