Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Dekolonialisasi dalam Geguritan Kebo TarunAntaka: Representasi Kebo Taruna dalam Rekonstruksi Egalitarianisme Ida Bagus Gede Paramita Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia ibgparamita@gmail. Abstract Kebo Taruna, within the discursive construction of centrality in shaping various aspects of Balinese society, possesses an inherent connection to the concept of The ideational conception of this character is specifically conveyed in the Geguritan Kebo TarunAntaka. The manuscript contains discourse mechanisms, metaphorical language, and distinctive constructions of meaning. Textually, the geguritan illustrates Kebo TarunaAos role in de-hegemonizing the dominance of the Majapahit Kingdom over the Balinese Kingdom. This study aims to identify the emancipatory dimensions of the Kebo Taruna character in selected stanzas of the Geguritan Kebo TarunAntaka, to analyze his representation as a symbol of resistance against MajapahitAos hegemonic power, and to reinterpret the geguritan as a medium of decolonial discourse. The approach employed combines Norman FaircloughAos model of Critical Discourse Analysis (CDA) with speech act theory. The findings indicate that Kebo Taruna is represented as a symbolic agent who articulates resistance to the coloniality of power and constructs a sovereign and autonomous Balinese identity. The gegugitan reveals emancipatory dimensions through its rejection of hegemonic narratives, glorification of sovereignty, and transformation of language into a decolonial The conclusion affirms that Geguritan Kebo TarunAntaka is not merely a literary heritage, but a discursive medium that embodies symbolic resistance, articulates a liberated cultural identity, and enacts decolonial strategies through language making it highly relevant for critical readings of power discourse within the Balinese local Keywords: Kebo Taruna. Geguritan Kebo TarunAntaka. Dehegemonization. Transformation Abstrak Kebo Taruna dalam konstruksi wacana mengenai sentralitas peran dalam membangun berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali memiliki keterkaitan inheren dengan konsep representasi. Gagasan ideasional mengenai karakter tokoh tersebut secara spesifik termuat dalam Geguritan Kebo TarunAntaka. Naskah ini memuat mekanisme wacana, penggunaan bahasa metaforis, dan konstruksi makna yang khas. Secara tekstual, geguritan tersebut menggambarkan peran Kebo Taruna dalam melakukan dehegemonisasi terhadap dominasi Kerajaan Majapahit atas Kerajaan Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dimensi emansipatoris tokoh Kebo Taruna dalam teks terpilih yang ada pada Geguritan Kebo TarunAntaka, menganalisis representasinya sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni kekuasaan Majapahit, serta menafsirkan ulang geguritan sebagai medium dekolonialisasi wacana. Pendekatan yang digunakan adalah Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough dan teori tindak tutur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Kebo Taruna direpresentasikan sebagai agen simbolik yang mengartikulasikan perlawanan terhadap kolonialitas kekuasaan dan membentuk identitas Bali yang mandiri dan berdaulat. Geguritan ini menampilkan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dimensi emansipatoris melalui penolakan terhadap narasi hegemonik, glorifikasi terhadap prinsip kedaulatan, serta transformasi bahasa menjadi instrumen dekolonial. Kesimpulannya menegaskan bahwa Geguritan Kebo TarunAntaka bukan sekadar warisan sastra, tetapi merupakan medium diskursif yang memuat resistensi simbolik, artikulasi identitas kultural yang merdeka, dan strategi dekolonisasi melalui bahasa, yang relevan untuk pembacaan kritis atas wacana kekuasaan dalam konteks lokal Bali. Kata Kunci: Kebo Taruna. Geguritan Kebo TarunAntaka. Dehegemonsasi. Transpormasi Pendahuluan Dalam narasi historis Bali, figur Kebo Taruna muncul sebagai teka-teki wacana yang terus menggelitik, sebuah entitas polisemis yang bisa dibaca sebagai cermin kekinian maupun jendela masa lalu. Proses menelisik ketokohannya bukan sekadar upaya rekonstruktif (Sherinian, 2017. Srivastava, 2. , melainkan petualangan intelektual yang menantang kita untuk membongkar lapisan makna tersembunyi (Carter & Bruene. Feely, 2020. Lamb, 2. Lantas, bagaimana sosok mito-historis ini bisa berbicara begitu lantang di era modern? Apa yang membuat pembacaan kontemplatif terhadap karakter Kebo Taruna justru menjadi kompas berharga untuk navigasi problem sosial hari Perlu dicatat bahwa nama Kebo Taruna adalah sebutan lain dari Kebo Iwa. Kebo Taruna merujuk secara khusus pada tokoh dalam naskah klasik, yang ditulis oleh I Made Suarsa . dalam Bahasa Jawa Kuno. Sementara nama Kebo Iwa lebih banyak muncul dalam tradisi lisan dan teks lain, istilah Kebo Taruna dipilih untuk menjaga konsistensi analisis terhadap teks utama. Geguritan ini memuat narasi perjalanan tokoh tersebut dalam berbagai pupuh, seperti Pangkur. Sinom. Durma, dan lainnya. Peran sentral Kebo Taruna dalam kehidupan masyarakat Bali merupakan hasil konstruksi wacana yang berakar pada proses representasi. Dalam perspektif teori kritis, representasi dipahami sebagai upaya Aomenghadirkan kembaliAo sosok tertentu melalui penafsiran yang beragam ((Lamb, 2013. Schroder et al. , 2016. Srivastava, 2. Representasi ini bersifat polisemis dan ditransmisikan melalui bahasa sebagai medium Bahasa tidak hanya merekam realitas sosial masa lalu, tetapi juga membentuknya secara interpretatif (Brookes & Enery, 2019. Deflory et al. , 2023. Poole, 2. , karena adanya keterkaitan erat antara wacana historis dan realitas sosial yang ikonis. Geguritan Kebo TarunAntaka ditulis dengan mekanisme wacana, bahasa metaforis, dan konstruksi makna yang kompleks. Secara tekstual, geguritan ini menggambarkan peran Kebo Taruna sebagai figur yang menentang hegemoni Majapahit atas Kerajaan Bali, termasuk narasi tentang kematiannya. Naskah ini tidak hanya berfungsi sebagai catatan historis atau sastra, melainkan juga perlu didekonstruksi untuk mengungkap makna yang tersembunyi. Dekonstruksi atau Aopembongkaran wacanaAo merupakan metode analisis teks yang tidak berhenti pada artikulasi penulis, tetapi membuka ruang tafsir bagi pembaca untuk mengeksplorasi sisi lain cerita (Ghosh & Chakraborty, 2020. Pilgrim, 2016. Stets et al. , 2. Melalui pendekatan ini, makna emansipatif Kebo Taruna sebagai agen dekolonialisasi dan penolakan terhadap okupasi Majapahit dapat diidentifikasi. Geguritan Kebo TarunAntaka memiliki substansi kritissosiologis karena menampilkan Kebo Taruna bukan hanya sebagai tokoh mitos, melainkan sebagai Aoaktor sosialAo yang aktif melawan penetrasi sosio-spasial kekuasaan Geguritan Kebo TarunAntaka merupakan teks yang tepat untuk dianalisis menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Norman Fairclough dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH teori tindak tutur, karena keduanya menawarkan kerangka teoritis yang mampu mengungkap dimensi ideologis dan performatif dari representasi tokoh Kebo Taruna. Dalam perspektif AWK Fairclough, bahasa yang terakumulasi dalam teks seperti geguritan, lontar, atau naskah lainnya, dipahami bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga medium ideologis yang memproduksi dan mereproduksi makna tertentu. Bahasa berfungsi sebagai perangkat metaforis yang memungkinkan pengungkapan resistensi terhadap patologi sosial, termasuk bentuk kolonialisasi simbolik dalam struktur wacana Representasi Kebo Taruna dalam teks ini tidak hanya menggambarkan pengalaman historis, tetapi juga membawa fungsi ideasional, yakni membentuk realitas melalui konstruksi naratif yang mengandung makna sosial dan politik. Di sisi lain, teori tindak tutur digunakan untuk menganalisis bagaimana tindakan Kebo Taruna dalam teks tidak hanya bersifat naratif, tetapi juga performatif. Melalui performativitas wacana. Kebo Taruna tampil bukan sekadar sebagai objek mitologis yang dikisahkan, tetapi sebagai subjek aktif yang menegosiasikan dan menegasikan dominasi Majapahit. Tindakan ini menunjukkan upaya transformatif untuk memosisikan Kerajaan Bali sebagai entitas sosio-spasial yang berdaulat dan bebas dari subordinasi kekuasaan luar. Dengan demikian, kombinasi dua pendekatan ini memungkinkan pembacaan yang lebih kritis dan reflektif terhadap Geguritan Kebo TarunAntaka, tidak hanya sebagai teks sastra tradisional, tetapi juga sebagai wacana dekolonial yang sarat makna politik dan kultural. Berbagai penelitian sebelumnya telah mengangkat tokoh Kebo Taruna sebagai figur sentral dalam medium berbasis teknologi dan sastra. (Arisandi et al. , 2. memperkenalkan Kebo Taruna melalui Augmented Reality Story Book untuk menyampaikan nilai-nilai historis Kerajaan Bali dengan pendekatan digital interaktif. Sementara itu, (Mujiningsih, 2. menekankan aspek metaforis tokoh ini dalam legenda penciptaan Danau Batur melalui narasi pujasastra, yang berfungsi untuk menginternalisasi peran heroik Kebo Taruna dalam sistem irigasi Bali. (Aryananda et al. menghadirkan Kebo Iwa dalam bentuk permainan digital edukatif dengan metode Development Life Cycle (DLC), yang dirancang tidak hanya untuk rekreasi tetapi juga pembelajaran sejarah lokal. Ketiga studi tersebut memiliki fokus yang berbeda namun bertujuan serupa, yaitu membangkitkan kembali penokohan Kebo Taruna dalam format Meskipun menawarkan pendekatan kreatif, ketiga penelitian di atas belum mendasarkan analisisnya pada teks sumber asli tentang Kebo Taruna, sehingga berpotensi menimbulkan distorsi terhadap pemaknaan tokoh tersebut. Keberadaan teks autentik seperti Geguritan Kebo TarunAntaka menjadi penting untuk ditelaah agar asas keaslian narasi dapat terjaga. Penelitian ini menawarkan aspek kebaruan dengan menganalisis isi naskah asli secara kritis untuk mengungkap tindakan fundamental Kebo Taruna, khususnya dalam konteks perlawanan terhadap hegemoni dan kolonialisasi oleh Kerajaan Majapahit. Dengan demikian, pendekatan tekstual ini memungkinkan rekonstruksi makna tokoh secara lebih akurat dan reflektif dalam kerangka sejarah dan budaya Bali. Metode Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan pendekatan interpretatif dan menggunakan model Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough yang diaplikasikan sebagai metode analisis sekaligus kerangka teoretis. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah Geguritan Kebo TarunAntaka, yang terlebih dahulu diterjemahkan dari bahasa Jawa Kuno ke dalam bahasa Indonesia untuk memudahkan proses interpretasi makna secara lebih akurat. Sedangkan sumber data sekunder adalah literatur yang relevan membantu penelitian. Penelitian ini tidak melibatkan informan karena seluruh analisis dilakukan terhadap teks sebagai objek kajian utama. Instrumen https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH penelitian bersifat kualitatif dengan fokus pada analisis teks sebagai data utama. Instrumen disusun berdasarkan model Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough, yang mencakup tiga level analisis untuk mengungkap makna ideologis, representasi tokoh, serta dinamika reproduksi dan resistensi wacana dalam konteks budaya dominan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi terhadap naskah geguritan dan literatur pendukung yang relevan. Analisis data mengikuti empat tahapan dalam skema AWK Fairclough, yaitu, mengidentifikasi social wrong dalam aspek semiotik teks. mengungkap faktor-faktor struktural yang menyebabkan distorsi makna. menelaah dinamika sosial budaya yang direfleksikan dalam teks, dan merumuskan dekonstruksi wacana untuk membangun pembacaan alternatif yang bersifat dekolonial dan egaliter. Hasil dan Pembahasan Dimensi Emansipatoris Tokoh Kebo Taruna dalam Teks Geguritan Kebo TarunAntaka. Hasil penelitian ini diperoleh melalui pembacaan dan interpretasi mendalam terhadap bait-bait terpilih dari Geguritan Kebo TarunAntaka . ihat tabel . sebagai basis Tokoh sentral dalam teks ini. Kebo Taruna, ditampilkan dengan karakter multidimensional dari kesaktian fisik hingga kualitas spiritual dan etika yang luhur. bukan hanya abdi setia Kerajaan Bedahulu, tetapi juga pemimpin arif yang menjunjung keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan. Posisi Mahapatih yang diembannya adalah bentuk pengakuan atas kualitas kepemimpinan yang integratif, menjadikannya representasi ideal dari tata pemerintahan lokal yang kuat sebelum penetrasi kekuasaan Konteks historis yang dibangun dalam geguritan ini menempatkan Bali dalam posisi geopolitik yang signifikan. Di bawah kepemimpinan Kebo Taruna, kerajaan Bali tampil sebagai kekuatan mandiri yang cukup kuat untuk menjadi rival Majapahit. Namun, kekuatan ini menjadi sasaran ekspansionisme Gajah Mada yang mendambakan penyatuan Nusantara. Dalam narasi ini. Kebo Taruna menjadi korban dari politik penyatuan yang tidak memberi ruang bagi kedaulatan lokal. Namun kematiannya yang tragis dan penuh keikhlasan mengandung makna transendental: ia menjadi tumbal kesatuan, bukan karena kelemahan, melainkan karena prinsip dan martabat yang dijunjung tinggi. Maka, dari sinilah narasi perlawanan terhadap kolonialisasi dimulai dari tubuh seorang pemimpin yang memilih mati dengan cara luhur. Pembukaan geguritan yang menggunakan pupuh pangkur berisi doa terhadap Dewa-Dewi dalam kepercayaan agama Hindu, menunjukkan transisi naratif dari wilayah kosmologis ke historis. Perpindahan ini tidak sekadar menjadi bingkai spiritual, tetapi juga bentuk sakralisasi historiografi lokal. Dalam kerangka dekolonialisasi, hal ini merupakan penegasan bahwa sejarah Bali tidak dapat ditulis dalam vakum sekularistik sebagaimana narasi kolonial melakukannya, tetapi justru berpijak pada fondasi spiritual sebagai sumber legitimasi dan epistemologi. Transisi ini sangat penting karena memberi landasan religius terhadap narasi sejarah, memosisikan tokoh dan peristiwa sebagai bagian dari kosmos, bukan sekadar kronik duniawi. Transisi berikutnya, melalui pupuh sinom, membawa pembaca pada pengenalan Sri Tapolung raja agung yang bijaksana, bergelar Gajah Waktra atau Asta Sura Ratna Bhumi Banten. Ini merupakan bentuk legitimasi politik dan moral, yang memperkuat keberadaan tokoh-tokoh lokal dalam struktur kekuasaan Nusantara. Penyebutan gelargelar ini tidak netral. ia merupakan strategi naratif untuk menyaingi hegemoni simbolik Majapahit. Dengan demikian, bait ini melanjutkan agenda dekolonialisasi dengan memproduksi Aupusat sejarah alternatifAy yang tidak bertumpu pada Jawa saja, tetapi juga https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pada Bali sebagai kekuatan otonom yang berperan besar dalam membentuk peradaban Peralihan narasi ke peristiwa perlawanan, ketika Sri Tapolung menolak tunduk pada Majapahit dan justru memilih beraliansi dengan Kediri menguatkan pembacaan dekolonial atas teks ini. Di sini terjadi transisi dari afirmasi kekuasaan ke ekspresi resistensi, menantang narasi resmi sejarah Indonesia yang menjadikan Majapahit sebagai lambang kesatuan. Teks ini mengajukan argument, kesatuan yang adil hanya bisa dibangun di atas asas kesetaraan dan kedaulatan, bukan lewat dominasi. Ini merupakan kritik implisit terhadap narasi nasionalistik pascakolonial yang mewarisi struktur sentralistik dari kolonialisme itu sendiri. Masuk ke pupuh durma menandai puncak dramatik dalam geguritan, di mana Kebo Taruna muncul sebagai simbol kepahlawanan lokal. Perbandingan dengan Bhimasena dan kedekatannya dengan Dewa Wisnu memperluas makna tokoh ini: ia bukan hanya pejuang sejarah, tetapi juga pahlawan mitologis. Strategi mitologisasi sejarah ini adalah bentuk epistemic disobedience menantang sejarah hegemonik yang sekadar mengandalkan dokumen dan narasi resmi, dan menggantinya dengan narasi yang menggabungkan nalar spiritual dan imajinasi kultural sebagai sumber validitas sejarah. Ketika konflik internal muncul . ransisi ke pupuh maskumamban. antara Kebo Taruna dan Patih Mada, narasi bergeser ke wilayah etika dan moralitas politik. Dialog antara keduanya mencerminkan perdebatan antara dharma dan adharma, antara kekuasaan yang bertumpu pada kebenaran versus yang digerakkan oleh ambisi dan tipu Ini menjadi transisi naratif yang penting karena menggugat dasar moral dari kekuasaan kolonial, yang sering membenarkan penaklukan atas nama persatuan. Dengan menyebut tindakan Patih Mada sebagai Autidak berbudiAy dan Ausia-sia,Ay teks ini menegaskan bahwa kemenangan politik tanpa etika bukanlah kemenangan yang sejati. Akhir geguritan dengan pupuh durma ditandai dengan pencatatan kronologis dan astronomis yang presisi Sabtu Kliwon Krulut, tahun Saka 1265, menandai transisi dari refleksi moral ke dokumentasi historis. Ini adalah teknik naratif yang memperkuat klaim historiografi lokal dan menegaskan bahwa geguritan ini bukan sekadar mitos atau alegori, tetapi bagian dari memori kolektif yang memiliki nilai historis. Dalam konteks dekolonialisasi, bagian ini merupakan bentuk counter-memory, yaitu usaha merebut kembali hak atas sejarah lokal yang sering dipinggirkan oleh narasi nasional yang seragam, sentralistik, dan seringkali ahistoris terhadap lokalitas. Bukti tekstual sebagai hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan Kebo Taruna dapat ditelusuri melalui Geguritan Kebo TarunAntaka. Naskah ini dapat dijadikan landasan argumentasi dan interpretasi dalam menganalisis dimensi emansipatoris yang diperjuangkan oleh tokoh tersebut. Secara ringkas, isi teks tersebut adalah sebagai Tabel. 1 Teks Terpilih yang Relevan untuk Analisis Bahasa Asli Indonesia Om Pukulun Hyang Adwityam/ Om. Yang Mulia Dewa Surya/engkau Niranjyani. Saraswati Mahadywi/ memiliki ilmu yang tinggi. Yang Mulia Dewi Bhatara-bhatari sywu/ Suci kirana- Saraswati/ dewa-dewi/yang kirani/ Sang utpati/ stiti pralina iking memancarkan cahaya kemurnian/yang bhuh/ Dywa ta nawa sanga/ Sang menciptakan. Hyang Triya Dasa Saksi// Dewata (I. Pangkur Bait . Nawasanga/ Dewa Trayodasasaksi// Moghi tuminghala/ semoga segera diperhatikan/ oleh sumber Dharmottami, apan kita cakrawartti/ kebenaran yang utama, karena Engkau yang Ganal alit hala hayu/ Parama jagat menguasai, yang luas sempit yang baik dan palaka/ Umasihi, sahaning punang buruk/ penguasa tertinggi alam semesta/ https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH manu/ Sarwa jyana inucapa/ sangkan paraning dumadi// (I. Pangkur Bait . Duh Ratu Paramyswara/ Tulung mami, arep angripta angurit/ Bali pulina ing dangu/ Indik Ki Kebo Taruna/ Mahasakti, tulya giri teguh kukuh. Ki Karang Buncing Tanaya/ Umatihi Sri Bhupati// (I. Pangkur bait . Hana pwa Sang Maharaja/ Sri Tapolung kunang nami/ Dibya guna wicaksana/ jananuraga siniwi/ Sadakala sadhubudhi/ Ring usana Jawi mungguh/ Saha gelar Gajah Waktra/ Asta Sura Ratna Bhumi/ Banten wibuh/ sampun kareng kyating rat// (II. Sinom bait . Apan wani ngelung tapa/ langghana ring Majapahit/ Bhakti nrepati satunggal/ Amekul natyng Kediri/ Lintih Warih kunang bibi/ Waktrany asti asemu/ Gajah Waktra kinanranan/ Asta Asura inami/ Olih satru/ Ngasor tan harep karana//. (II. Sinom bait . yang mengasihi, seluruh umat manusia/ yang disebut sumber ilmu pengetahuan/ dan asalusul dari segala yang ada// Yang Mulia Dewa Siwa/ Bantulah hamba, yang hendak membuat puisi/ tentang pulau Bali pada masa lampau/ tentang riwayat Ki Kebo Taruna/ yang sangat sakti, teguh dan kokoh bagaikan gunung/ putra dari Ki Karang Buncing/ menjadi patih Sang Raja// Bhatamantrin sira katah/ Kapwa wira sadhu sakti/ Manggeh synapatyng rana/ Maler hanyng dysa bhumi/ Satya bhakti ring nrepati/ Kinucap wisysa guru/ Wytnyan langgeng sira natha/ Hamengku kunang nagari/ Kudu kukuh/ Kulina Bali Pulina//. (II. Sinom bait . perwiranya amat banyak/ semuanya pemberani, berbudi luhur, dan sakti/ tak pernah gentar menjadi pemimpin di medan pertempuran/ demikian juga di manapun berada/ setia dan taat kepada sang raja/ yang disebut sebagai pemerintah/ karena itu pemerintahan sang raja menjadi langgeng/ memangku seluruh wilayah Bali/ sehingga pertahanannya kokoh/ Pulau Bali tersebut// Kebo Taruna sangat pemberani di medan pertempuran/ ia tidak takut dikeroyok oleh musuh/ bagaikan Sang Bhimasena/ yang menjaga Yudistira/ pada waktu berperang dengan Duryodhana/ ia bersahabat dengan Dewa Wisnu/ yang menjadi saksi di Kuruksetra// perawakannya tegap dan kokoh tidak ada yang menyamai/ bagaikan gunung/ tingginya menyentuh langit/ ibarat merusak angkasa/ samudra dan awan bagai terdesak/ karena perawakannya trengginas/ musuh-musuhnya menjadi kocar-kacir// Kebo Yowa teguh jayyng rananggana/ Karebut ripu tan wedi/ Kadi Wrekodara/ Ngemit Yudistira Dharma/ Malaganing Kurupati/ Hari Kantinnya/ Kuruksytra upasaksi//. Durma bait . Angganira bakuh kukuh tan papada/ Upami Malejeg ngambara/ Ngrejek mangrusak akasa/ Jalada myga kalilih/ Ganggas trengginas/ Satru ripu wara-wiri//. Durma bait . Alkisah adalah seorang raja/ beliau bernama Sri Tapolung/ memiliki sifat-sifat yang utama dan bijaksana/ terkenal dan dihormati/ setiap saat, berbudi pekerti luhur/ di dalam Usana Jawa disebutkan/ beliau bergelar Gajah Waktra/ Sri Asta Sura Ratna Bhumi Banten/ merupakan seorang raja yang besar/ sudah tersohor di seluruh penjuru negeri// Membangkang terhadap Majapahit/ Hanya hormat kepada seorang raja/ Merangkul raja Kediri/ Karena ibunya berasal dari satu keturunan/ Wajahnya nampak seperti Gajah Waktra/ Disebut juga Asta Sura/ Oleh musuh/ Karena berhasil menundukkan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Naranatha angucap angabar-abar/ Paman patih bhatamantri/ Tuluksakna sih ta/ Kebo Taruna prakosa/ Saha kita Pasung Grigis/ Sayoga sighra/ Amangpangi Majapahit//. Durma bait . Uduh kaka/ Dadya mangkana ri kami/ Sahasa prakosa/ Wiwyka mrajaya pati/ Nista bhawanta karana/ (Xi. Maskumabang bait . Agung dosa/ Katungka amti-mati/ kaliputi moha/ Niskarya hala nisbudhi/ Panca dasyndrya kawawa//. (Xi. Maskumabang bait . Nglurug dharma/ Dadi yyka ginawyni/ Nirdon laksananta/ Phala niskaya tan siddhi/ Yyka tan yogya tiruna//. (Xi. Maskumabang bait . Larapana/ Saddhu tuhu karya singgih/ Agama igama/ Sapta timira patyni/ Tan surud anginkin hita// (Xi. Maskumabang bait . Kakang Mada/ Ningwang wuwus Natha Dywi/ Manut upatanta/ Nunggil ngyka Yawa Bali/ lascarya Yowana pejah//. (Xi. Maskumabang bait . Ningwang kakang/ Yawa Bali yka jati/ Tatan bhyda-bhyda/ Wilwatikta angayomi/ Nunggali sanusantara// (Xi. Maskumabang bait . Yan mangkana/ Kaka raksakaning bhumi/ Haywa sumandyha/ Lila lascarya ku mati/ Siddha nghulun gaway yasa// (Xi. Maskumabang bait . Hatta kala Krulut Kliwon Saniscara/ Titi temu tanggal kalih/ Isakaniwarsa/ Nem bangsit nem dasa lima/ Sayaga sagunung jurit/ Sangkaning bubat/ Asurak awanti-wanti// (XVI. Durma bait . Sumber: Geguritan Kebo TarunAntaka Baginda raja berkata dengan berapi-api/ AuPaman patih dan para perwira/ tuluskanlah pengabdianmu/ Kebo Taruna yang perkasa/ bersama dengan engkau Pasung Grigis/ segeralah kalian/ melawan kehendak dari MajapahitAy// AuOh kanda patih/ mengapa berbuat seperti itu pada ku/ dengan kekerasan/ dan upaya licik menyebabkan wibawamu merosotAy// Dosamu besar/ terdorong keinginan untuk membunuh/ diliputi oleh kebingungan/ usahamu sia-sia dan kau tidak berbudi/ dikuasai oleh sepuluh indraAy// AuMenentang ajaran dharma/ jadi seperti ini yang kau lakukan/ tidak berguna perbuatanmu/ perbuatanmu tidak berhasil/ hal ini supaya tidak ditiruAy// AuSebagai jalan/ berbudi luhur dan berbuat yang benar/ sesuai dengan ajaran agama/ lenyapkanlah sifat Sapta Timira/ janganlah berhenti menciptakan kedamaianAy// AuKanda Patih Mada/ mendengarkan titah dari Ratu/ sesuai dengan yang kau ucapkan/ untuk menyatukan Jawa dan Bali/ aku Kebo Taruna rela matiAy// AuDengarlah kanda/ Jawa Bali sesungguhnya satu/ tidak ada yang berbeda/ Majapahit yang Nusantara// AuJika demikian/ maka kanda yang menjadi penjaga negara ini/ janganlah khawatir/ aku rela dan bahagia mati/ aku berhasil berbuat Maka pada hari Sabtu Kliwon Krulut/ tepat pada hari kedua paro terang/ tahun Saka/ Seribu Dua Ratus Enam Puluh Lima . / bersiaplah armada pasukan/ dari Bubat/ bersorak-sorak tidak putus-putusnya// Representasi Tokoh Kebo Taruna dalam Teks Geguritan Kebo TarunAntaka. Representasi dalam perspektif ilmu sosial kritis didefinisikan sebagai upaya pengkondisian dan penghadiran kembali entitas sosial tertentu. Proses penghadiran kembali entitas sosial ke dalam arena sosial memanfaatkan berbagai simbol atau atribut tertentu (Carter & Bruene, 2019. Evans, 2023. Peterson & Stewart, 2. Dalam konteks ini, aspek yang digunakan untuk merekonstruksi tokoh atau individu tertentu https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dilatarbelakangi oleh glorifikasi atau internalisasi nilai-nilai historis, dan biasanya bersifat metaforis. Konsepsi representasi mengenai ketokohan, peristiwa, atau setting sosial tertentu dapat dihadirkan kembali melalui berbagai medium seperti dongeng, legenda, atau karya lontar. Penyajian kembali jejak melalui naskah tertentu menjadi penting untuk menginternalisasikan berbagai ide, baik ide kepahlawanan, gagasan resistensi sosial, maupun paradigma untuk menantang dominasi kelompok sosial tertentu. Kebo Taruna sebagai salah satu tokoh sentral dalam perkembangan sejarah serta aspek sosial peradaban Bali memiliki unsur-unsur tertentu yang membuat keberadaannya perlu diekskavasi. Hal ini substantif karena representasi tokoh tertentu menjadi elemen konstruktif, khususnya dalam emansipasi social (Poole, 2020. Schroder et al. , 2. Misalnya, kehadiran tokoh ini dijelaskan dalam Geguritan Kebo TarunAntaka, yang menjadi jejak tekstual untuk mengeksplorasi ide kepahlawanan sekaligus ide sosiologis Kebo Taruna. Representasi Kebo Taruna dalam Geguritan Kebo TarunAntaka dijelaskan melalui berbagai bait. Bait-bait dalam penulisan kembali tokoh tersebut dapat ditafsirkan ke dalam beragam makna, khususnya makna reflektif tentang penciptaan transformasi sosial masyarakat Bali. Bait yang berbunyi Tabel 2. Bab II Pupuh Sinom Bahasa Asli Bahasa Indonesia Bhatamantrin sira katah/ Kapwa wira perwiranya amat banyak/ semuanya sadhu sakti/ Manggeh synapatyng rana/ pemberani, berbudi luhur, dan sakti/ tak Maler hanyng dysa bhumi/ Satya bhakti pernah gentar menjadi pemimpin di ring nrepati/ Kinucap wisysa guru/ medan pertempuran/ demikian juga di Wytnyan langgeng sira natha/ Hamengku manapun berada/ setia dan taat kepada kunang nagari/ Kudu kukuh/ Kulina Bali sang raja/ yang disebut sebagai guru Pulina//. wisesa/ karena itu pemerintahan sang (II. Sinom bait . raja menjadi langgeng/ memangku Bali/ pertahanannya kokoh/ Pulau Bali (Sumber: Geguritan Kebo TarunAntak. Bait di atas menjadi salah satu Aomembaca kembaliAo esensi dan karakteristik Kebo Taruna. Penjabaran mengenai representasi Kebo Taruna tersebut, jika ditafsirkan dan dielaborasi, mengandung makna tentang individu yang konsisten dan berkomitmen dalam menjaga tanggung jawab sekaligus reputasi diri. Kapabilitas dalam menunjukkan kompetensi dan menjaga nama baik merupakan bagian penting dari keberadaan individu dalam konstelasi sosial. Melalui figur Kebo Taruna, tergambar suatu ide reformatif yang bertujuan mengubah cara pandang destruktif menjadi konstruktif. Konstruktif dalam konteks ini dimaknai sebagai sikap pantang takut dalam menghadapi berbagai tantangan (Harris, 2019. Stets et al. , 2. , sekaligus menegaskan bahwa keberanian tidak akan pernah bisa dikalahkan selama dilandaskan pada prinsip kebenaran. Geguritan Kebo TarunAntaka, khususnya dalam bait di atas . ihat Tabel . , juga memberikan penjelasan mengenai upaya penting dalam menjaga teritori kekuasaan yang secara legal dimiliki oleh pemimpin tertentu. Tugas seorang yang mengabdi pada wilayah, termasuk pemimpinnya, menunjukkan loyalitas sosial individu. Loyalitas atau kesetiaan dalam sudut pandang teori kritis menunjukkan inhernitas atau melekatnya sistem kognisi serta laku sosial, di mana cara berpikir dan kemampuan bertindak dari seseorang dioptimalisasikan untuk menjaga daerahnya. Ini menunjukkan karakteristik entitas sosial untuk menjaga independensinya dan tidak menginginkan terjadinya Hal ini dikarenakan dependensi menunjukkan proses degradasi, karena https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kelompok dominan menciptakan simpul untuk melakukan represi, penguasaan sumber daya tertentu, dan kemampuan optimalisasi dari kelompok yang dikuasai akan menghilang, karena terdistorsi oleh kehendak kuasa yang tidak terdistribusi secara setara (Kenzie, 2015. OAoMahony, 2023. Singh, 2. Jabaran ini . ihat tabel . menjelaskan interpretasi dan representasi ketokohan Kebo Taruna yang menjaga loyalitasnya kepada guru wisesa . Jika dijelaskan lebih lanjut, kutipan bait dalam Geguritan Kebo TarunAntaka di atas juga menjelaskan elemen emansipasi, atau asas untuk melepaskan diri dari 'dimensi kekuasaan' yang berpotensi membawa kelompok sosial tertentu ke dalam 'arena regime of power' (Chang & Jetten. Civitarese, 2. Kontekstualisasinya dapat dilihat dari upaya Kebo Taruna agar wilayah Bali tetap menjadi miliknya sendiri, dipimpin oleh raja yang dipilih secara genealogis serta tidak mengalami distorsi secara eksterior dalam hal ini, pengaruh Kerajaan Majapahit. Teks dan penegasan dalam Geguritan Kebo TarunAntaka, dalam analisis wacana kritis, dipandang sebagai representasi praktik sosial. Konteks ini memberikan penanda bahwa naskah dapat digunakan sebagai cara untuk menalar dan melihat hubungan antara teks dengan realitas sosial. Dengan kata lain. Geguritan Kebo TarunAntaka tidak terbatas sebagai sebuah tulisan belaka, melainkan memiliki implikasi dalam operasionalisasinya di dunia empiris. Praktik sosial yang dikemukakan oleh Fairclough mengandung aspek esensial, yakni memberikan ide tentang proses regenerasi paradigmatik, khususnya ide pembebasan atau gagasan independensi. Jika Kebo Taruna dalam teks memiliki tujuan menjaga wilayah Bali dan memberikan rekognisi pada raja, maka dalam konteks era ini, hal tersebut mengandung makna sebagai upaya reflektif untuk menolak penundukan baik penundukan dalam lingkup pemikiran maupun teritori. Fairclough juga menjelaskan bahwa teks menjadi 'rekaman atas memori kolektif'. Memori kolektif dapat diartikan sebagai akumulasi gagasan dari pembuat teks, yang bertujuan untuk disemai dalam konstelasi sosial (Boettcher, 2019. Souza, 2. Sebab, dengan menggunakan teks dan ide di dalamnya, individu dalam lintasan sejarah memiliki acuan dalam berpikir, mengambil keputusan, dan menciptakan solusi atas permasalahan sosial yang sedang terjadi. Geguritan Kebo TarunAntaka sebagai Medium Untuk Melihat Upaya Rekonstruktif Kebo Taruna dalam Melakukan Dekolonialisasi Keberadaan Geguritan Kebo TarunAntaka mendapatkan reposisi dan redefinisi mengenai ide independensi pada bait berikutnya. Pelacakan ide independensi dalam dalam tulisan ini diberikan term dekolonialisasi, menjadi kelanjutan paradigma atau corak berpikir dari Kebo Taruna dalam naskah tersebut. Ide mengenai dekolonialisasi dalam naskah yang menjelaskan salah satu tokoh sentral pemerintahan Kerajaan Bali tersebut, tertulis dalam bait berikut : Tabel 3. Bab i Pupuh Durma Bahasa Asli Bahasa Indonesia Angganira bakuh kukuh tan papada/ perawakannya tegap dan kokoh tidak ada Upami Malejeg yang menyamai/ bagaikan gunung/ ngambara/ Ngrejek mangrusak akasa/ tingginya menyentuh langit/ ibarat Jalada myga Ganggas merusak angkasa/ samudra dan awan trengginas/ Satru ripu wara-wiri// bagai terdesak/ karena perawakannya . Durma bait . trengginas/ musuh-musuhnya menjadi kocar-kacir//. (Sumber: Geguritan Kebo TarunAntak. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Tafsir atas teks ini menekankan proses reproduksi karakter - kegagahan, keperkasaan, dan sifat-sifat sejenisnya. Namun demikian, interpretasi terhadap naskah tersebut tidak berhenti pada penokohan Kebo Taruna semata, melainkan mengandung makna simbolik yang lebih mendalam. Pemaknaan simbolik ini dapat dijelaskan melalui penggambaran tokoh secara metaforis seperti yang terlihat dalam bait di atas, yang berfungsi sebagai penanda untuk mengekspresikan eksistensi diri. Metafora tersebut bertujuan untuk mengangkat harga diri . elf-dignit. dan memposisikannya setara dengan the others (Canivez, 2019. Giladi, 2018, 2. Hal ini bermakna bahwa keberadaan Bali diasosiasikan berada dalam kondisi optimal karena dilindungi oleh Kebo Taruna, tokoh yang direpresentasikan melalui kegagahan dan keberaniannya. Makna mendasar dari penulisan ini adalah gambaran tentang suatu wilayah yang dengan kekuatan dan sumber dayanya mampu berfungsi secara mandiri tanpa bergantung pada kelompok lain - dalam hal ini Kerajaan Majapahit. Dengan kata lain. Kerajaan Bali yang dilindungi Kebo Taruna akan menjadi wilayah yang independen karena semua aspek kebutuhannya telah terpenuhi. Kondisi ini meminimalisasi kemungkinan terjadinya okupasi atau pendudukan oleh entitas sosial Dalam kerangka berpikir yang lebih luas, pemaknaan atau tafsir atas teks tersebut menyampaikan pesan tentang semangat emansipatoris dan spirit egalitarianisme. Penokohan dan karakter yang disampaikan melalui metafora menjadi simbol bahwa suatu entitas memiliki karakteristik khusus dan kehendak untuk mengatur kehidupannya sendiri (Kallio, 2017. Markus, 2015. Nakamura, 2. Dengan demikian, potensi kolonialisasi oleh kelompok lain menjadi sangat kecil karena wilayah tersebut telah memiliki pelindung yang memiliki loyalitas tinggi - yaitu Kebo Taruna. Tabel 4. Bab i Pupuh Durma Bahasa Asli Bahasa Indonesia Naranatha angucap angabar-abar/ Baginda raja berkata dengan berapi-api/ Paman patih bhatamantri/ Tuluksakna Paman patih dan para perwira/ sih ta/ Kebo Taruna prakosa/ Saha kita Kebo Pasung Grigis/ Sayoga Taruna yang perkasa/ bersama dengan Amangpangi Majapahit//. engkau Pasung Grigis/ segeralah kalian/ . Durma bait . melawan kehendak dari Majapahit//. (Sumber: Geguritan Kebo TarunAntak. Kutipan di atas yang menegaskan semangat emansipatoris yang ditunjukkan oleh Kebo Taruna tercantum dalam bait naskah di atas. Jika ditafsirkan, kehadiran Kebo Taruna tidak hanya dipersepsikan sebagai pengawal raja yang tangguh secara fisik, tetapi juga memiliki cara pandang yang bersifat membebaskan. Teks di atas terpilih menjadi karakteristik yang mengombinasikan antara paparan tekstual dengan glorifikasi Kombinasi antara teks dengan ide pembebasan ini secara tegas dituliskan dalam frasa Amangpangi Majapahit atau keberanian untuk melawan dominasi kekuatan Teori tutur tindak menyatakan bahwa apa yang ditunjukkan oleh Kebo Taruna dalam teks tersebut menunjukkan spirit dekolonialisasi, atau timbulnya percikan perlawanan terhadap kelompok arus utama akibat distribusi kekuasaan yang tidak Walaupun frasa Kebo Taruna sebagai aktor penentang dominasi Kerajaan Majapahit sebagian besar dituliskan dalam bentuk naskah, sistem kognisi mengenai persepsi dan asumsi terhadap kekuatan dominan menjadi bahan refleksi penting bagi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Tabel 5. Bab Xi Pupuh Maskumambang Bahasa Asli Bahasa Indonesia Kakang Mada/ Ningwang wuwus AuKanda Patih Mada/ mendengarkan titah Natha Dywi/ Manut upatanta/ Nunggil dari Ratu/ sesuai dengan yang kau ucapkan/ ngyka Yawa Bali/ lascarya Yowana untuk menyatukan Jawa dan Bali/ aku Kebo pejah//. Taruna rela matiAy// (Xi. Maskumabang bait . (Sumber: Geguritan Kebo TarunAntak. Frasa lascarya Yowana pejah pada kutipan memancarkan kekuatan linguistik yang melampaui fungsi informatif semata. ia beroperasi sebagai instrumen performatif yang membentuk realitas sosial dan politik. Dalam kerangka teori tindak tutur, frasa ini mengaktualisasikan commissive act yakni pernyataan janji eksplisit untuk menyerahkan diri demi mempertahankan nilai-nilai luhur Bali, yang sekaligus memahat identitas sebagai patriot, bukan sekadar prajurit yang tunduk pada perintah. Dengan demikian, keberanian yang diartikulasikan melalui ujaran tersebut tidak hanya berwujud tindakan fisik, tetapi menjelma menjadi bahasa simbolik yang secara langsung menantang kekuasaan hegemonik Majapahit. Lebih jauh, makna ujaran ini dibaca melalui sistem kognisi pembaca, yang memproses naskah sebagai ruang refleksi kritis terhadap ketimpangan relasi kekuasaan, sehingga membuka peluang bagi pembentukan paradigma alternatif yang bercorak Dalam kerangka ini, bahasa tidak lagi bersifat netral atau sekadar instrumen ia tampil sebagai alat produksi makna moral, sosial, dan politik, yang mampu mereposisi subjek-subjek subordinat ke dalam status kepahlawanan sekaligus membangun klaim moral yang sah. Dengan demikian, kekuatan simbolik yang dihasilkan teks ini menginterupsi dominasi arus utama, memperlihatkan bagaimana karya-karya sastra kuno dapat berfungsi sebagai medan kontestasi kekuasaan simbolik sekaligus sebagai arsip politik yang menghidupkan memori resistensi kultural. Tabel 6. Bab Xi Pupuh Maskumambang Bahasa Asli Bahasa Indonesia Yan mangkana/ Kaka raksakaning bhumi/ AuJika demikian/ maka kanda yang Haywa sumandyha/ Lila lascarya ku mati/ menjadi penjaga negara ini/ janganlah Siddha nghulun gaway yasa// khawatir/ aku rela dan bahagia mati/ aku (Xi. Maskumabang bait . berhasil berbuat jasa// (Sumber: Geguritan Kebo TarunAntak. Pernyataan Kebo Taruna pada kutipan di atas memperlihatkan kombinasi expressive act . engungkapkan perasaan bangga, rela, bahagi. dan declarative act . enetapkan dirinya sebagai tokoh berjas. (Searle, 1. Penting untuk dicatat, deklarasi ini menciptakan realitas moral tanpa menunggu pengakuan dari otoritas luar, sehingga menjadi bentuk self-authorization yang menegaskan bahwa bahasa adalah alat untuk membangun posisi dalam struktur kekuasaan simbolik. Dari perspektif politik identitas, ujaran-ujaran Kebo Taruna memuat lapisan perlawanan simbolik (Hall, 1. Dalam relasi hegemonik antara Jawa dan Bali, bahasa yang digunakan berperan sebagai interupsi atas narasi dominan. Kesetiaan Kebo Taruna pada proyek persatuan Nusantara tidak berarti tunduk mutlak, tetapi menegosiasikan posisi otonom Bali sebagai subjek yang setara dalam jaringan kekuasaan (Chakrabarty. Ini sesuai dengan pemikiran Judith Butler tentang performatifitas politik, di mana ujaran tidak hanya mengekspresikan identitas, tetapi juga menciptakan dan merundingkan identitas itu secara aktif dalam ruang social (Butler, 1. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dari sudut pandang perlokusi, ujaran Kebo Taruna diarahkan untuk menghasilkan efek emosional dan kognitif: memancing kekaguman, memperkuat solidaritas, bahkan menimbulkan rasa hormat atau bersalah pada lawan (Leech, 1. Bahasa di sini bukan sekadar instrumen netral, tetapi alat produksi makna dan kekuasaan yang efektif. Dengan demikian, analisis tindak tutur performatif Kebo Taruna mempertemukan dimensi linguistik dengan dimensi sosial-politik, menunjukkan bahwa bahasa adalah arena tindakan di mana identitas dinegosiasikan, kekuasaan dirundingkan, dan makna sosial diciptakan (Austin, 1. Teori tutur tindak berupaya mengevakuasi makna teks dengan tujuan agar ide yang terkandung dapat memengaruhi sistem berpikir pembaca dan mengubahnya menjadi sistem bertindak (Bernardo et al. , 2021. Kobayashi, 2023. Renger et al. , 2. Eksplisitas teks . ihat tabel 4,5 dan . dalam Geguritan Kebo TarunAntaka memberikan pemaknaan simbolik bahwa resistensi bermula dari arena tekstual, kemudian menyebar ke dalam laku sosial setiap entitas. Relevansi geguritan ini dapat dilihat dari upaya untuk menegasikan segala bentuk kekuasaan, yang dimulai dari naskah kuno masa lampau dan dikonjungsikan dengan konteks kekinian. Kesimpulan Geguritan Kebo TarunAntaka merupakan salah satu medium tekstual yang signifikan dalam menelusuri kembali jejak historis dan simbolik figur Kebo Taruna dalam lanskap peradaban Kerajaan Bali. Dengan cara ini, geguritan tidak hanya berfungsi sebagai artefak masa lalu, tetapi juga sebagai alat transformasi budaya masa kini dan masa depan, sesuai dengan prinsip dekolonisasi yang tidak hanya retrospektif, tetapi juga prospektif struktur naratif yang kaya dengan pupuh-pupuh tematik, geguritan ini mengangkat sejarah ke dalam ranah makna yang luhur dan sakral, teks ini secara implisit menolak segala bentuk dominasi pengetahuan yang berbasis kolonialitas kekuasaan. Dengan demikian. Geguritan Kebo TarunAntaka dapat dibaca sebagai bentuk decolonial aesthetic dalam sastra Bali, di mana representasi lokal tidak hanya berperan sebagai objek kajian, tetapi juga sebagai subjek aktif yang memproduksi dan mengartikulasikan wacana tandingan terhadap narasiial dan politik lokal yang mandiri. Melalui teknik mitologisasi dan sakralisasi sejarah, teks ini secara implisit menolak segala bentuk dominasi pengetahuan yang berbasis kolonialitas kekuasaan. Dengan demikian. Geguritan Kebo TarunAntaka dapat dibaca sebagai bentuk decolonial aesthetic dalam sastra Bali, di mana representasi lokal tidak hanya berperan sebagai objek kajian, tetapi juga sebagai subjek aktif yang memproduksi dan mengartikulasikan wacana tandingan terhadap narasi Secara teoretik, temuan dari pembacaan ini memperkuat posisi sastra Bali, khususnya dalam bentuk geguritan, sebagai ruang epistemik dekolonial. Ia bukan hanya warisan budaya yang bersifat estetis, melainkan juga medium artikulasi politik-kultural yang mampu memproduksi dan mengedarkan wacana resistensi. Pembacaan dekolonial atas teks ini berkontribusi pada perluasan kajian poskolonial dan dekolonial dalam konteks lokal Nusantara, memperlihatkan bahwa dinamika perlawanan terhadap kolonialisme bukan semata hadir dalam bentuk fisik dan politik, tetapi juga dalam wacana dan imajinasi sastra. Hal ini membuka peluang untuk mengintegrasikan karya-karya sastra tradisional Bali ke dalam kajian literatur dunia yang lebih luas, dalam kerangka pluriversal epistemologies. Secara praktis. Geguritan Kebo TarunAntaka memiliki potensi besar untuk diintegrasikan dalam pendidikan kritis, khususnya dalam kurikulum lokal berbasis kearifan budaya. Sebagai teks yang mengandung nilai-nilai keberanian, integritas, keadilan sosial, dan kedaulatan identitas, geguritan ini relevan untuk dijadikan sumber belajar dalam pembentukan karakter dan kesadaran sejarah di kalangan generasi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH muda Bali. Pendekatan ini dapat diwujudkan melalui pengembangan modul pembelajaran berbasis teks tradisional, penguatan muatan lokal dalam pelajaran sejarah dan sastra, serta pemanfaatan geguritan sebagai media dialog intergenerasional dalam pelestarian memori Daftar Pustaka