Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 KETAHANAN KELUARGA BERDASARKAN PENDEKATAN IFR (F-A-S-E-D): STUDI KASUS PADA LIMA KELUARGA DENGAN ANGGOTA PENDERITA DIABETES TIPE 2 DI KOTA TASIKMALAYA EXPLORING FAMILY RESILIENCE THROUGH THE IFR (F-A-S-E-D) FRAMWORK: A MULTIPLE CASE STUDY OF FIVE LIVING WITH TYPE 2 DIABETES IN TASIKMALAYA CITY Anih Kurnia* Prodi D i Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Bakti Tunas Husada tasikmalaya Jalan Cilolohan No 36 /Jalan Mashudi 20 Kota Tasikmalaya *e-mail korespondensi: anihkurnia@universitas-bth. ABSTRAK Latar Belakang: Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT. merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang dan keterlibatan aktif keluarga. Ketahanan keluarga berperan penting dalam mendukung keberhasilan manajemen DMT2, khususnya dalam konteks keterbatasan sumber Pendekatan Insufficiencies in Family Resilience (IFR), yang mencakup lima dimensiAiFamily Functioning. Access to Support. Shared Beliefs. Emotional Regulation, dan Decision-MakingAi menyediakan kerangka konseptual untuk menilai dinamika ketahanan keluarga. Tujuan: Menjelaskan variasi ketahanan keluarga pada lima rumah tangga dengan anggota penderita DMT2 di Kota Tasikmalaya berdasarkan lima dimensi IFR. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Lima keluarga (R1AeR. dipilih secara purposif dan diwawancarai menggunakan panduan berbasis IFR. Analisis data dilakukan secara tematik-induktif, dengan triangulasi dan member checking untuk menjaga validitas. Hasil: Keluarga 3 (R. menunjukkan ketahanan paling tinggi, dengan skor AubaikAy di seluruh dimensi IFR, termasuk komunikasi terbuka, peran yang jelas, dukungan sosial memadai, emosi terkelola, dan keputusan Keluarga 5 (R. mengalami kelemahan menyeluruh, terutama dalam dukungan sosial, regulasi emosi, dan dominasi keputusan. Keluarga 1 (R. dan 4 (R. menunjukkan kekuatan dalam nilai bersama dan dukungan eksternal, tetapi lemah dalam partisipasi keputusan dan regulasi emosi. Keluarga 2 (R. mengalami hambatan dalam komunikasi dan akses dukungan, namun memiliki keyakinan keluarga yang kuat. Kesimpulan: Pendekatan IFR efektif untuk memahami ketahanan keluarga secara menyeluruh. Intervensi keperawatan keluarga yang kontekstual dan sensitif budaya dibutuhkan untuk mendukung pengelolaan DMT2 di komunitas. Kata kunci: Ketahanan keluarga. Diabetes Mellitus Tipe 2. IFR, keperawatan keluarga ABSTRACT Background: Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a chronic condition requiring long-term management and active family involvement. Family resilience plays a critical role in supporting the success of T2DM management, particularly in resource-limited communities. The Insufficiencies in Family Resilience (IFR) frameworkAicomprising five dimensions: Family Functioning. Access to Support. Shared Beliefs. Emotional Regulation, and Decision-MakingAioffers a comprehensive conceptual model to assess and strengthen family resilience. Objective: To explore the variation of Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 family resilience among five households with T2DM patients in Tasikmalaya City using the IFR Methods: This study employed a case study design with a descriptive qualitative approach. Five families (R1AeR. were selected purposively and interviewed using IFR-based guidelines. Data were analyzed thematically and inductively, with triangulation and member checking applied to ensure data validity. Results: Family 3 (R. demonstrated the highest level of resilience, with AugoodAy scores across all IFR dimensions, reflecting open communication, clear role distribution, adequate social support, emotional stability, and collective decision-making. In contrast. Family 5 (R. exhibited overall weaknesses, particularly in accessing social support, emotional regulation, and dominance in decision-making. Families 1 (R. and 4 (R. showed strengths in shared beliefs and external support but had challenges in participatory decision-making and emotional regulation. Family 2 (R. faced barriers in communication and support access, though shared values remained strong. Conclusion: The IFR approach is effective in capturing the multidimensional nature of family resilience. Contextspecific and culturally sensitive family nursing interventions are essential to improve T2DM management at the community level. Keywords: Family resilience. Type 2 Diabetes Mellitus. IFR, decision-making, community nursing Diterima: 04 Mei 2025 Direview: 21 Juni 2025 Diterbitkan: 06 Agustus 2025 PENDAHULUAN Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT. merupakan penyakit metabolik kronis yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang serta keterlibatan aktif dari keluarga. Dukungan keluarga memainkan peran penting dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan, pengaturan pola makan, serta penyesuaian psikososial pasien. Berbagai studi menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga secara signifikan mempengaruhi perilaku perawatan diri dan pengendalian glikemik. Sebuah review oleh Busebaia et . menegaskan bahwa dukungan keluarga, baik emosional maupun instrumental, dapat memperkuat praktik perawatan diri pasien, khususnya apabila intervensi disesuaikan dengan sensitivitas budaya (Busebaia et al. , 2. Namun demikian, tidak semua keluarga memiliki tingkat ketahanan yang setara dalam menghadapi beban pengelolaan penyakit kronis, terutama di tengah keterbatasan sumber daya dan tekanan emosional. Oleh karena itu, integrasi pendekatan berbasis keluarga dalam layanan kesehatan primer menjadi strategi penting untuk meningkatkan keberhasilan pengelolaan DMT2 secara berkelanjutan. Mengintegrasikan pendekatan berbasis keluarga ke dalam layanan kesehatan primer sangat penting untuk meningkatkan hasil pengelolaan diabetes yang Ketahanan keluarga merupakan pondasi utama dalam mendukung keberhasilan manajemen penyakit kronis, termasuk DMT2, di tingkat pelayanan primer. Dukungan emosional dan instrumental, serta kemampuan keluarga dalam beradaptasi terhadap tekanan, menjadi faktor kunci dalam mendorong kepatuhan pasien terhadap terapi (Fan et al. , 2. Oleh sebab itu, intervensi berbasis ketahanan keluarga perlu diintegrasikan ke dalam praktik keperawatan komunitas guna memperkuat peran keluarga sebagai unit utama dalam mendukung perawatan mandiri pasien (Ren et al. , 2. Salah satu pendekatan komprehensif yang digunakan dalam mengkaji ketahanan keluarga adalah pendekatan IFR (Insufficiencies in Family Resilienc. yang dikembangkan oleh Hohashi dan Kijima . Pendekatan ini berakar pada teori Concentric Sphere Family Environment Theory (CSFET) dan menyoroti lima dimensi utama yang dirangkum dalam akronim F-A-S-E-D: Family Functioning. Access to Support. Shared Beliefs. Emotional Regulation, dan Decision-Making. IFR dinilai sangat relevan dalam praktik keperawatan keluarga karena memungkinkan penilaian holistik terhadap kondisi keluarga, mencakup sistem internal, eksternal, dan kronologis yang mempengaruhi kemampuan adaptasi mereka dalam menghadapi krisis (Hohashi & Kijima, 2. Di Indonesia, keluarga memegang peran sentral dalam pengambilan keputusan kesehatan dan pengelolaan penyakit kronis seperti DMT2. Namun, ketahanan keluarga dalam konteks ini masih jarang dieksplorasi secara mendalam. Pendekatan IFR, dengan kelima dimensinya, menyediakan kerangka konseptual yang komprehensif untuk memahami dinamika adaptasi keluarga serta menyusun intervensi keperawatan yang berorientasi budaya (Hohashi & Kijima, 2. Studi sistematik oleh Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Makmuriana et al. mendukung pentingnya pendekatan ini, menunjukkan bahwa perawatan keperawatan berpusat pada keluarga dapat meningkatkan kontrol glikemik, kepatuhan terapi, dan kesejahteraan psikologis pasien DMT2 (Makmuriana et al. , 2. Sejalan dengan itu. Sirait et al. menekankan bahwa keterbatasan dukungan keluarga, rendahnya literasi kesehatan, serta hambatan sosial-budaya dapat menghambat efektivitas intervensi seperti senam kaki diabetik (Sirait et al. , 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ketahanan keluarga pada lima rumah tangga dengan anggota penderita DMT2 di Kota Tasikmalaya, menggunakan pendekatan IFR. Melalui desain studi kasus ganda, penelitian ini mengkaji kekuatan dan kekurangan ketahanan keluarga berdasarkan lima dimensi F-A-S-E-D. Hasil penelitian diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan strategi asuhan keperawatan keluarga yang aplikatif dan kontekstual, serta menekankan pentingnya penilaian ketahanan keluarga sebagai bagian integral dari perawatan diabetes di komunitas dengan sumber daya terbatas. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain studi kasus ganda . ultiple case stud. dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Desain ini dipilih untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai ketahanan keluarga dalam konteks nyata, berdasarkan lima dimensi pendekatan IFR (Family Functioning. Access to Support. Shared Beliefs. Emotional Regulation, dan Decision-Makin. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari lima keluarga yang memiliki minimal satu anggota dengan diagnosis Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT. dan berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Kahuripan. Kota Tasikmalaya. Pemilihan partisipan dilakukan secara purposive sampling dengan kriteria inklusi sebagai berikut: . tinggal serumah dengan anggota keluarga yang menderita DMT2, . bersedia memberikan persetujuan untuk berpartisipasi, dan . mampu berkomunikasi secara verbal dengan baik. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan anggota keluarga utama, observasi terhadap dinamika interaksi keluarga, serta pencatatan lapangan. Panduan wawancara dikembangkan berdasarkan lima dimensi dalam kerangka IFR (F-A-S-E-D). Seluruh wawancara direkam . engan persetujuan responde. dan ditranskripsi secara verbatim untuk keperluan ANALISA DATA Data dianalisis secara tematik dengan pendekatan induktif, dimulai dari pengkodean terbuka untuk mengidentifikasi tema dan pola dalam masing-masing kasus, kemudian dilakukan perbandingan antar kasus untuk menelaah kesamaan dan perbedaan dalam aspek ketahanan keluarga. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, konfirmasi anggota . ember checkin. , dan pencatatan reflektif selama proses penelitian ETIKA PENELITIAN Seluruh partisipan memberikan persetujuan tertulis . nformed consen. sebelum wawancara Kerahasiaan identitas partisipan dijaga dengan ketat dalam seluruh tahapan penelitian, termasuk dalam publikasi hasil. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Temuan Kualitatif Berdasarkan Pendekatan IFR Penelitian ini menghasilkan lima studi kasus keluarga dengan anggota yang menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT. Setiap keluarga menunjukkan variasi tingkat ketahanan dalam lima dimensi IFR: Family Functioning. Access to Support. Shared Beliefs. Emotional Regulation, dan DecisionMaking. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Fungsi Keluarga (Family Functioning ) Sebagian besar keluarga mampu menjalankan fungsi dasar seperti memberikan dukungan emosional, melakukan perawatan rutin pasien, serta menjaga komunikasi terbuka antar anggota keluarga. Pembagian peran yang jelas antara pasangan atau antara orang tua dan anak turut mendukung stabilitas perawatan jangka panjang. Salah satu partisipan menyatakan: AuKami sudah bagi tugas, saya urus makanan dan obat, anak-anak yang bantu mengantar ke Ay (R5, perempuan, 52 tahun, istri pasie. Dukungan emosional juga tercermin dalam pernyataan berikut: "Istri saya sempat putus asa waktu gula darahnya tinggi terus, saya cuma bilang pelan-pelan, kita jalani bareng-bareng. "(R4, laki-laki, 60 tahun, suami pasie. Dalam keterbatasan finansial, beberapa keluarga tetap berupaya mempertahankan fungsi protektif: AuKalau obatnya habis dan belum sempat beli, kami putuskan gantian jaga biar ibu nggak kecapean, saya yang urus rumah. Ay (R2, perempuan, 45 tahun, anak pasie. Literatur menunjukkan bahwa kejelasan peran serta komunikasi yang fungsional merupakan faktor protektif utama dalam menghadapi beban penyakit kronis. Studi oleh NepoviN . menegaskan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan fungsi yang baik memiliki keterampilan emosional yang lebih berkembang, termasuk kemampuan mengenali, mengekspresikan, dan mengendalikan emosi, dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga disfungsional (NepoviN. Akses terhadap Dukungan (Access to Suppor. Tiga keluarga memiliki akses baik terhadap dukungan sosial, termasuk dari kader kesehatan, tetangga, dan tenaga kesehatan. Namun, dua keluarga mengalami kesulitan mengakses layanan kesehatan karena kendala ekonomi dan transportasi. Salah satu partisipan mengungkapkan: "Kalau saya sakit, tetangga langsung bantu antar ke puskesmas, kadang ada juga yang bantu "(R3, perempuan, 55 tahun, pasien DMT. Sebaliknya, tantangan dalam akses layanan kesehatan diungkapkan oleh partisipan lain: "Kami tinggal jauh, ongkos ojek mahal. Kadang kami tunda ke puskesmas karena nggak ada "(R2, perempuan, 49 tahun, anak pasie. Temuan ini sejalan dengan studi oleh Stenberg dan Hjelm . , yang menunjukkan bahwa dukungan sosial yang memadaiAibaik secara emosional, informasi, maupun instrumentalAiberperan penting dalam membantu anggota keluarga mengelola diabetes tipe 2, khususnya dalam kondisi sosialekonomi yang terbatas dan kompleksitas akses layanan kesehatan (Stenberg & Hjelm, 2. Nilai Keyakinan Bersama (Shared Beliefs ) Sebagian besar keluarga menunjukkan keyakinan kolektif bahwa diabetes dapat dikendalikan melalui kedisiplinan dan doa. Keyakinan ini memperkuat mekanisme koping dan mendukung kepatuhan terhadap terapi medis. Partisipan menyatakan: AuKami yakin kalau disiplin minum obat dan jaga makan, ditambah doa, pasti bisa terkontrol. Semua keluarga juga ikut mengingatkan satu sama lain. Ay (R3, perempuan, 47 tahun, anak Namun, satu keluarga tetap menganggap penyakit sebagai takdir mutlak, tanpa menunjukkan upaya perubahan gaya hidup: AuKalau menurut saya ini sudah takdir. Saya pasrah aja, tidak banyak yang bisa diubah. Ay (R4, laki-laki, 61 tahun, pasie. Studi oleh Molla et al. menyoroti bahwa spiritualitas dan religiusitas berperan penting dalam memotivasi perilaku perawatan diri pasien diabetes. Namun, beberapa aspek agama dan budaya. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 seperti keyakinan tentang pengobatan, juga dapat menjadi tantangan atau hambatan dalam manajemen diabetes (Molla et al. , 2. Regulasi Emosi (Emotional Regulation ) Variasi kemampuan keluarga dalam mengelola emosi sangat dipengaruhi oleh dinamika stres, terutama stres finansial. Dua keluarga menunjukkan regulasi emosi yang baik melalui komunikasi terbuka dan saling menguatkan, meskipun dihadapkan pada komplikasi atau ketidakpastian kondisi pasien. Sebaliknya, tiga keluarga lainnya mengaku sering mengalami kelelahan emosional akibat tekanan ekonomi dan kondisi penyakit yang tidak Pernyataan partisipan mencerminkan hal ini: AuKalau sudah capek, saya kadang suka ngomel ke anak-anak. Apalagi kalau uang buat beli obat belum cukup. Tapi saya sadar, itu cuma karena saya lelah. Ay (R1, perempuan, 54 tahun, istri pasie. AuSaya selalu bilang ke istri, jangan dipikir sendiri. Kita lewati sama-sama. Kadang saya juga sedih, tapi nggak boleh ditunjukin terus ke anak-anak. Ay (R4, laki-laki, 58 tahun, suami pasie. AuJujur, kami sempat frustasi waktu gula darah ibu nggak turun-turun. Rasanya usaha kami sia-sia. Ay (R2, perempuan, 30 tahun, anak pasie. Temuan ini sejalan dengan kajian oleh Dodamani dan Altaf . , yang menunjukkan bahwa stres keuangan berdampak langsung pada hubungan sosial dan kesejahteraan psikologis, serta dapat memperburuk ketegangan dalam keluarga. Oleh karena itu, regulasi emosi menjadi indikator penting dari ketahanan keluarga yang sehat, khususnya dalam konteks manajemen penyakit kronis (Altaf & Dodamani, 2. Oleh karena itu, seperti yang dijelaskan oleh Hohashi dan Kijima . , regulasi emosi menjadi indikator penting dari ketahanan keluarga yang sehat, khususnya dalam konteks manajemen penyakit kronis (Hohashi & Kijima, 2. Decision-Making (Pengambilan Keputusa. Pengambilan keputusan dalam perawatan pasien dengan penyakit kronis idealnya dilakukan secara kolektif untuk menciptakan komitmen bersama dan mengurangi beban psikologis antar anggota Dalam studi ini, empat dari lima keluarga menunjukkan praktik pengambilan keputusan yang melibatkan semua anggota keluarga, sehingga menciptakan keselarasan dan dukungan timbal balik dalam manajemen penyakit. Namun, satu keluarga menunjukkan dominasi keputusan oleh salah satu pihak, yang memicu ketidakseimbangan relasi dan konflik kecil dalam proses perawatan. Partisipan menggambarkan keterlibatan kolektif dalam pengambilan keputusan perawatan: AuBiasanya kami diskusi dulu, saya, anak-anak, dan suami. Soal obat, makanan, sampai jadwal kontrol, semuanya dibicarakan bareng. Ay (R2, perempuan, 53 tahun, istri pasie. Namun, dalam satu keluarga, pengambilan keputusan masih bersifat dominan oleh satu orang: AuKalau bapak yang bilang ya harus ikut, kadang kami enggak diajak ngobrol soal obat atau Ay (R5, perempuan, 28 tahun, anak pasie. Temuan ini sejalan dengan studi Yusuf et al. , yang menekankan bahwa pengambilan keputusan secara kolaboratif antara lansia, keluarga, dan penyedia layanan kesehatan mendukung penerapan family-centered care (FCC) yang lebih efektif. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat kepercayaan dalam keluarga, tetapi juga memastikan bahwa keputusan perawatan mencerminkan kebutuhan, harapan, dan kapasitas seluruh anggota keluarga (Yusuf et al. , 2. Ringkasan Ketahanan Keluarga Berdasarkan Lima Aspek IFR Untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai variasi ketahanan keluarga, kelima studi kasus dianalisis berdasarkan lima dimensi dalam pendekatan IFR. Tabel berikut merangkum temuan utama dari masing-masing keluarga dalam setiap aspek tersebut. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Tabel 1. Ringkasan Ketahanan Keluarga Berdasarkan Lima Aspek IFR (F-A-S-E-D). Aspek IFR Family Functioning Access to Support Shared Beliefs Emotional Regulation Decision-Making Keluarga 1 Baik Cukup Baik Baik Baik Keluarga 2 Kurang Kurang Cukup Kurang Cukup Keluarga 3 Baik Baik Baik Baik Baik Keluarga 4 Cukup Baik Baik Cukup Cukup Keluarga 5 Cukup Kurang Kurang Kurang Kurang Kategori dalam Tabel 1 ditentukan berdasarkan kekuatan dan konsistensi respons keluarga terhadap lima dimensi ketahanan keluarga IFR (Family Functioning. Access to Support. Shared Beliefs. Emotional Regulation, dan Decision-Makin. a Baik menunjukkan indikator yang kuat dan konsisten, seperti komunikasi terbuka, peran yang jelas, akses dukungan sosial yang memadai, kesamaan nilai keluarga, kemampuan mengelola emosi secara stabil, serta pengambilan keputusan secara kolektif. a Cukup mencerminkan adanya beberapa indikator positif, namun belum berlangsung secara konsisten atau belum merata pada seluruh anggota keluarga. Misalnya, komunikasi yang terjalin tetapi belum intensif, atau pengambilan keputusan yang masih didominasi oleh satu a Kurang menunjukkan adanya kelemahan mendasar dalam dimensi tersebut, seperti komunikasi yang tertutup, dukungan sosial yang rendah, nilai keluarga yang tidak sejalan, kesulitan dalam mengelola emosi, atau dominasi keputusan tanpa partisipasi keluarga. Tabel tersebut menyajikan ringkasan variasi ketahanan keluarga berdasarkan lima aspek IFR dari lima partisipan. Keluarga 3 menonjol sebagai yang paling tangguh, dengan skor AubaikAy di seluruh aspek, yang mencerminkan koordinasi peran, keyakinan kolektif, regulasi emosi yang stabil, serta pengambilan keputusan yang solid. Sebaliknya. Keluarga 5 menunjukkan kelemahan menyeluruh, terutama dalam aspek dukungan sosial, regulasi emosi, dan pengambilan keputusan, yang mengindikasikan risiko tinggi terhadap ketidakefektifan dalam manajemen DMT2. Keluarga lainnya memperlihatkan kombinasi antara kekuatan dan kelemahan, yang menunjukkan perlunya intervensi berbasis keluarga yang disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan pada masing-masing dimensi ketahanan keluarga. Visualisasi Perbandingan Ketahanan Keluarga Berdasarkan Lima Aspek IFR Untuk memperkuat hasil analisis kualitatif, grafik berikut menggambarkan skor perbandingan ketahanan keluarga berdasarkan lima aspek IFR dari lima keluarga partisipan. Skor dikonversikan ke dalam skala ordinal: 1 = Kurang, 2 = Cukup, dan 3 = Baik. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Gambar 1. Perbandingan skor ketahanan lima keluarga berdasarkan lima aspek IFR. Grafik menunjukkan bahwa Keluarga 3 secara konsisten memperoleh skor tertinggi . di semua aspek, mengindikasikan ketahanan keluarga yang sangat kuat dalam menghadapi DMT2. Keluarga 1 juga menunjukkan profil ketahanan yang baik, kecuali pada aspek "Access to Support" yang hanya cukup. Sebaliknya. Keluarga 5 memperoleh skor terendah di hampir semua aspek, menandakan ketahanan keluarga yang paling rentan. Keluarga 2 dan 4 menempati posisi menengah dengan variasi skor, mencerminkan adanya kekuatan di beberapa aspek, namun juga menunjukkan kebutuhan perbaikan pada aspek tertentu seperti regulasi emosi dan dukungan sosial. Visualisasi ini memperjelas pentingnya pendekatan intervensi keperawatan keluarga yang disesuaikan berdasarkan kekuatan dan kelemahan spesifik dalam dimensi ketahanan. PEMBAHASAN Penelitian ini mengungkap bahwa keluarga dengan anggota penderita DMT2 menunjukkan variasi tingkat ketahanan berdasarkan lima aspek IFR: Family Functioning. Access to Support. Shared Beliefs. Emotional Regulation, dan Decision-Making. Variasi ini mencerminkan kompleksitas dinamika keluarga dalam menghadapi penyakit kronis. Temuan ini sejalan dengan studi Bang . , yang melalui pendekatan etnografis terhadap pengungsi Burma di Texas, menunjukkan bahwa manajemen diri DMT2 sangat dipengaruhi oleh keterlibatan keluarga, akses terhadap dukungan sosial, nilai budaya bersama, serta kemampuan dalam mengelola emosi dan mengambil keputusan (Bang, 2. Meskipun fokusnya pada individu, temuan tersebut memperkuat relevansi kelima aspek IFR dalam memahami ketahanan keluarga dalam konteks yang lebih luas. Keterkaitan ini juga didukung oleh penelitian Elomba . , yang menemukan bahwa keterbukaan terhadap dukungan sosial memiliki peran penting dalam keberhasilan manajemen pengobatan DMT2 (Elomba, 2. Dukungan dari keluarga dan lingkungan terdekat tidak hanya memberikan bantuan praktis dan emosional, tetapi juga meningkatkan motivasi serta rasa percaya diri pasien dalam menjalani perawatan. Dengan demikian, pendekatan IFR tidak hanya relevan dalam konteks keluarga Indonesia, tetapi juga mencerminkan dinamika lintas budaya dalam praktik perawatan penyakit kronis berbasis keluarga. Selain itu, pendekatan IFR juga diperkuat oleh temuan Berry-Price . yang mengeksplorasi pengalaman perawatan diri pada dewasa muda dengan DMT2. Studi ini menunjukkan bahwa persepsi waktu, strategi koping, dukungan sosial, dan literasi kesehatan menjadi faktor penting dalam pengelolaan penyakit. Aspek-aspek tersebut mencerminkan tiga dimensi utama dalam kerangka IFR, yaitu Access to Support. Emotional Regulation, dan Decision-Making. Meskipun fokus penelitian tersebut pada individu muda, keterkaitannya dengan dukungan sosial dan regulasi emosi menunjukkan bahwa keberhasilan manajemen DMT2 tidak lepas dari peran keluarga dan sistem dukungan yang lebih Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 luas (Berry-Price, 2. Dengan demikian, pendekatan IFR tetap relevan dan aplikatif dalam konteks yang beragam, termasuk pada kelompok usia muda dan dalam penguatan ketahanan keluarga dalam perawatan penyakit kronis. Aspek Family Functioning dalam penelitian ini menunjukkan bahwa keluarga dengan pembagian peran yang jelas dan komunikasi yang efektif lebih mampu mendukung anggota yang sakit. Temuan ini sejalan dengan studi Falana et al. , yang menegaskan bahwa fungsi keluarga yang optimalAimelalui kemampuan pemecahan masalah, keterlibatan emosional, dan komunikasi terbukaAi berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup, khususnya dalam menghadapi tantangan kesehatan kronis. Struktur dan dinamika internal keluarga yang sehat menjadi fondasi utama dalam membangun ketahanan keluarga (Falana et al. , 2. Dukungan terhadap temuan ini juga diberikan oleh La Rosa et al. , yang menekankan bahwa kohesi keluarga, fleksibilitas, dan komunikasi terbuka merupakan faktor penting dalam menjaga kualitas hidup keluarga selama masa krisis. Keluarga yang mampu mempertahankan struktur peran dan komunikasi yang terbuka secara konsisten lebih siap dalam menghadapi tekanan psikososial dan beban perawatan, serta turut membangun ketahanan yang berkelanjutan dalam mendampingi anggota keluarga yang sakit (Lucia La Rosa et al. , 2. Selanjutnya, penelitian Pamungkas et al. dalam konteks komunitas Indonesia menunjukkan bahwa dukungan emosional, komunikasi terbuka, dan keterlibatan keluarga dalam pengambilan keputusan berperan penting dalam keberhasilan manajemen diabetes. Temuan ini memperkuat relevansi aspek Family Functioning dalam pendekatan IFR sebagai dasar penguatan ketahanan keluarga dalam menghadapi penyakit kronis seperti DMT2 (Pamungkas et al. , 2. Selain itu. Farmakopoulou et al. menambahkan bahwa kohesi keluarga yang rendah berkorelasi negatif dengan tingkat kecemasan dan harga diri remaja. Dalam konteks DMT2, fungsi keluarga yang baikAikhususnya dalam hal dukungan emosional dan komunikasi yang sehatAidapat membantu menurunkan beban psikologis pasien, serta menciptakan lingkungan yang adaptif dan Hal ini semakin menegaskan pentingnya peran keluarga dalam meningkatkan ketahanan dan kualitas hidup penderita DMT2 (Farmakopoulou et al. , 2. Aspek Access to Support dalam penelitian ini menekankan bahwa dukungan sosial dari lingkungan sekitar dan akses terhadap layanan kesehatan merupakan faktor penting dalam membangun ketahanan keluarga dalam menghadapi Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT. Temuan ini sejalan dengan studi Madroumi et al. , yang melalui tinjauan sistematik menunjukkan bahwa dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas berkontribusi signifikan terhadap keberhasilan pengelolaan diabetes, termasuk kontrol glikemik dan kepatuhan pengobatan (Madroumi et al. , 2. Intervensi yang menggabungkan dukungan emosional, informasional, dan praktis dari lingkungan sosial terbukti meningkatkan kapasitas individu dan keluarga dalam menghadapi penyakit kronis secara lebih efektif. Hal serupa dikemukakan oleh Hazime dan Burner . , yang menyoroti peran penting dukungan sosialAiterutama yang diperkuat melalui teknologi komunikasiAidalam meningkatkan manajemen diabetes, kesejahteraan psikososial, dan hasil klinis pasien (Hazime & Burner, 2. Selain itu, studi oleh Adu et al. menunjukkan bahwa dukungan sosial dari keluarga secara langsung berdampak pada peningkatan praktik manajemen diri dan pengendalian kadar gula darah pasien, menegaskan bahwa akses terhadap dukungan sosial merupakan elemen krusial dalam pengelolaan DMT2 berbasis keluarga dan komunitas (Adu et al. , 2. Aspek Shared Beliefs dalam pendekatan IFR mencerminkan nilai, makna, dan keyakinan yang dianut bersama oleh anggota keluarga, yang menjadi landasan dalam merespons situasi krisis, termasuk penyakit kronis seperti Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT. Keluarga yang memiliki keyakinan positif terhadap kemampuan mereka dalam menghadapi penyakit, serta menyatukan makna dan tujuan bersama, cenderung menunjukkan tingkat ketahanan yang lebih tinggi. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa keluarga yang menanamkan keyakinan kolektif seperti Aupenyakit ini bisa dikelola bersamaAy atau Aukami saling menopang dalam proses iniAy memiliki kemampuan adaptif yang lebih baik dalam mendampingi anggota keluarga yang sakit. Temuan ini selaras dengan studi Taladay-Carter dan Koenig Kellas . , yang melalui pendekatan Communicated Narrative Sense-Making (CNSM) menunjukkan bahwa makna, nilai, dan keyakinan yang dibangun melalui narasi bersama membantu keluarga membentuk identitas kolektif, memperkuat hubungan emosional, serta menciptakan pemahaman bersama dalam menghadapi tekanan Meskipun fokus studi tersebut adalah pengalaman berduka, prinsip narasi kolektif tetap Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 relevan dalam membangun ketahanan keluarga saat menghadapi penyakit kronis seperti DMT2 (Taladay-Carter & Kellas, 2. Selanjutnya. Hasan . dalam disertasinya mengenai ketahanan keluarga pada pasien kanker pankreas menekankan pentingnya spiritualitas bersama, pencarian makna kolektif, dan keyakinan terhadap kekuatan keluarga sebagai fondasi keberfungsian keluarga selama masa krisis. menyimpulkan bahwa shared meaning-making tidak hanya membantu mengurangi kecemasan dan konflik, tetapi juga memperkuat komitmen antar anggota keluarga dalam proses pengobatan dan perawatan (Hasan, 2. Temuan ini juga diperkuat oleh tinjauan sistematik Yildirim dan yNelikkol . , yang menunjukkan bahwa nilai-nilai bersama, identitas budaya, praktik ritual, serta hubungan dengan keluarga besar berperan penting dalam memperkuat ketahanan keluarga saat menghadapi kehilangan. Meskipun konteksnya adalah duka, prinsip-prinsip yang diangkatAiseperti dukungan emosional, narasi kolektif, dan makna bersamaAitetap relevan dalam manajemen penyakit kronis seperti DMT2. Nilainilai keluarga dan keyakinan yang dimiliki secara kolektif menjadi pondasi penting dalam membentuk adaptasi jangka panjang dan komunikasi yang efektif dalam keluarga (YILDIRIM & yNELKKOL. Kemampuan emotional regulation atau regulasi emosi dalam keluarga berperan penting dalam menentukan bagaimana anggota keluarga menghadapi stres psikologis akibat penyakit kronis seperti Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT. Dukungan emosional dari keluarga dan ketahanan mental merupakan faktor protektif yang dapat menurunkan tingkat diabetes distress. Parviniannasab et al. menunjukkan bahwa diabetes distress berkorelasi negatif dengan efikasi diri, dukungan sosial, dan Mereka juga menemukan bahwa efikasi diri sepenuhnya memediasi hubungan antara distress dan resiliensi, serta bahwa dukungan sosial memperkuat hubungan positif tersebut (Parviniannasab et , 2. Penelitian Wojujutari et al. juga menunjukkan bahwa resiliensi psikologis secara signifikan memediasi hubungan antara diabetes distress dan depresi, khususnya pada pasien DMT2. Analisis multi kelompok mereka mengungkap bahwa tingkat resiliensi yang lebih tinggi mampu meredam dampak negatif stres diabetes terhadap kesehatan mental, sehingga menegaskan pentingnya regulasi emosi dan dinamika keluarga yang suportif dalam pengelolaan penyakit kronis (Wojujutari et , 2. Sementara itu. Embaye et al. menemukan bahwa pasien yang menerapkan strategi koping berfokus pada pemecahan masalahAiseperti pengaturan pola makan dan kontrol glukosaAi mengalami tingkat distress yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang lebih mengandalkan strategi koping emosional, seperti pelampiasan (Embaye et al. , 2. Secara keseluruhan, temuantemuan tersebut menegaskan bahwa dukungan keluarga yang terstruktur dan strategi koping adaptif yang memperkuat regulasi emosi sangat penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis serta keberhasilan manajemen diri pada pasien DMT2. Pengambilan keputusan bersama dalam keluarga memainkan peran sentral dalam pengelolaan penyakit kronis, karena dapat menciptakan koordinasi yang lebih baik serta memperkuat dukungan emosional dalam menjalankan rencana perawatan. Ajayi et al. menekankan bahwa dinamika keluarga yang sehatAiterutama melalui keterlibatan aktif seluruh anggota dalam proses pengambilan keputusanAiberkontribusi terhadap peningkatan kepatuhan pengobatan, pengurangan beban caregiving, dan pembentukan ketahanan keluarga yang lebih kokoh dalam menghadapi tantangan penyakit kronis (Ajayi et al. , 2. Temuan dari Yang et al. menguatkan hal ini dengan menunjukkan bahwa pasangan yang hidup dengan kolostomi permanen mengalami tekanan emosional dan krisis adaptasi yang signifikan, namun mampu menunjukkan ketahanan melalui penyesuaian peran dan pengambilan keputusan secara Keterlibatan aktif dalam perawatan harian dan pengambilan keputusan mengenai pengobatan serta dukungan emosional terbukti memperkuat kapasitas adaptif keluarga. Hal ini menegaskan bahwa partisipasi seluruh anggota keluarga dalam pengambilan keputusan merupakan elemen kunci dalam membangun resiliensi saat menghadapi penyakit kronis seperti DMT2 (Yang et al. , 2. Lebih lanjut. Chen et al. menggarisbawahi pentingnya keselarasan persepsi antaranggota keluarga terhadap ketahanan keluarga dalam menentukan penyesuaian psikologis (Chen et al. , 2. Studi tersebut menemukan bahwa ketidaksesuaian persepsi, khususnya saat orang tua melebihkan persepsi ketahanan dibanding anak, berkaitan dengan peningkatan risiko maladaptasi psikologis. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Sebaliknya, persepsi yang seimbang antaranggota keluarga mendukung keseimbangan emosi dan adaptasi positif. Dengan demikian, pengambilan keputusan bersama yang harmonis, persepsi kolektif yang selaras, dan dukungan emosional timbal balik menjadi fondasi esensial dalam memperkuat ketahanan keluarga dalam menghadapi beban jangka panjang penyakit kronis seperti DMT2. Pendekatan IFR (Insufficiencies in Family Resilienc. memungkinkan identifikasi area-area spesifik dalam keluarga yang perlu diperkuat untuk meningkatkan ketahanan mereka dalam menghadapi penyakit kronis seperti DMT2. Dengan memahami dimensi-dimensi yang lemah dalam aspek Family Functioning. Access to Support. Shared Beliefs. Emotional Regulation, dan DecisionMaking, intervensi keperawatan dapat diarahkan secara lebih tepat sasaran dan efektif. Penerapan pendekatan IFR dalam konteks lokal, seperti di Kota Tasikmalaya, juga menunjukkan bahwa kerangka ini dapat disesuaikan secara budaya dan relevan dalam berbagai latar Hal ini mendukung temuan Hohashi dan Kijima . bahwa intervensi berbasis keluarga yang mempertimbangkan konteks budaya cenderung lebih efektif dan berkelanjutan (Hohashi & Kijima, 2. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Penelitian ini mengungkap bahwa keluarga dengan anggota penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT. menunjukkan variasi dalam tingkat ketahanan berdasarkan lima aspek IFR: Family Functioning. Access to Support. Shared Beliefs. Emotional Regulation, dan Decision-Making. Setiap keluarga menghadapi tantangan yang berbeda dalam menjalani perawatan kronis, tergantung pada dinamika internal, dukungan eksternal, serta nilai-nilai dan strategi adaptif yang dianut. Pendekatan IFR terbukti menjadi kerangka yang komprehensif dalam mengidentifikasi area yang perlu diperkuat guna meningkatkan ketahanan keluarga secara menyeluruh. Penerapannya di konteks lokal, seperti di Tasikmalaya, menunjukkan bahwa pendekatan ini relevan dan sensitif terhadap perbedaan budaya, serta mampu menggambarkan kondisi riil keluarga dalam menghadapi penyakit kronis. SARAN/IMPLIKASI PRAKTIK KEPERAWATAN Temuan ini memiliki implikasi penting dalam praktik keperawatan keluarga dan komunitas. Perawat dapat menggunakan pendekatan IFR sebagai alat bantu pengkajian untuk mengidentifikasi dimensi ketahanan keluarga yang belum optimal. Intervensi keperawatan dapat difokuskan pada penguatan komunikasi keluarga, peningkatan akses terhadap sumber daya sosial dan layanan kesehatan, serta pengembangan strategi pengambilan keputusan bersama dalam keluarga. Selain itu, pelibatan keluarga dalam seluruh proses perawatan pasien DMT2 harus dipandang sebagai komponen integral, bukan sekadar dukungan tambahan. Pendekatan holistik berbasis IFR memungkinkan perawat merancang intervensi yang berpusat pada keluarga, lebih kontekstual, dan disesuaikan dengan kebutuhan nyata di komunitas. Hal ini sejalan dengan arah pelayanan keperawatan komunitas yang menekankan pemberdayaan keluarga sebagai agen utama dalam manajemen penyakit DAFTAR PUSTAKA / REFERENCE