Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 PELATIHAN BATIK KREATIF: LILIN DINGIN UNTUK MEMBATIK MELALUI MGMP SENI BUDAYA-KCD WILAYAH XI KABUPATEN GARUT Ariesa Pandanwangi1. Belinda Sukapura Dewi2. Ismet Zainal Effendi3 . Wawan Suryana4. Dieni Nuraini5 1,2,3,4,5 Universitas Kristen Maranatha pandanwangi@maranatha. edu, 2 belinda. sd@art. edu, 3 ismet. ze@art. suryana@art. edu, 5 dieninuraini@gmail. ABSTRAK Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) SMA yang berada di wilayah 11 Kabupaten Garut, menaungi 20 SMA. Mata pelajaran seni budaya, merupakan mata pelajaran yang masuk ke dalam kurikulum di tingkat SMA. Mata pelajaran ini mengajarkan menggambar, melukis di luar ruangan, hingga mengelola pameran dalam skala lokal. Materi yang belum diberikan adalah pengelolaan material ramah lingkungan sebagai bahan untuk membuat karya seni rupa. Materi tersebut setelah ditelusuri adalah membatik dengan material yang ramah lingkungan. Tujuan pengabdian ini untuk meningkatkan kompetensi guru seni budaya dalam proses pembelajaran seni rupa di sekolah-sekolah Kabupaten Garut. Permasalahan yang dihadapi mitra untuk dicarikan solusinya adalah bagaimana cara meningkatkan kompetensi guru seni budaya di daerah Kabupaten Garut dalam proses pembelajaran seni rupa dengan menggunakan material eco green. Metoda yang dipergunakan adalah asset-based community development (ABCD). Peserta pelatihan ini berjumlah 33 orang guru seni Hasil kegiatan para peserta dapat membuat batik kreatif dengan menggunakan material dari olahan bubuk asam jawa yang dibuat menjadi lilin dingin, sedangkan objek didominasi oleh motif flora fauna, dan warna-warna yang pergunakan adalah warna kontras seperti merah, kuning, hijau, teknik pewarnaannya menggunakan teknik colet. Kata kunci: Asam jawa. Batik Kreatif. Lilin dingin. Metode ABCD. Teknik colet. ABSTRACT Twenty high schools in 11 regions of Garut Regency participate in Subject-based Teachers Forum or known as Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Art and culture subject, included in the curriculum at the high school level, teaches drawing, outdoor painting, and managing exhibitions on a local scale. What has not been taught is the management of environmentally friendly materials for making art works. After being evaluated, batik-making with eco-friendly materials is one of them. The purpose of this community service is to increase the competence of arts and culture teachers in the process of learning fine arts in schools in Garut Regency. The challenge faced by partners is how to increase the competence of arts and culture teachers in the Garut Regency in the process of learning fine arts using eco-green materials. The method used is asset-based community development (ABCD). Participants who take part in this training are 33 arts and culture teachers. The results show that participants were able to make creative batik using materials from processed tamarind powder which were made into cold wax, while the objects were dominated by flora and fauna motifs, and the colors used were contrasting colors such as red, yellow, and green, the coloring technique used colet technique. Keywords: ABCD method, cold wax, colet technique, creative batik, tamarind. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Ariesa Pandanwangi, dkk: Pelatihan Batik Kreatif: Lilin Dingin Untuk Membatik Melalui MGMP Seni Budaya. PENDAHULUAN Musyawarah Guru Mata Pelajaran Seni Budaya (MGMP) memiliki sekretariat di SMA Negeri 11 Garut. Jalan Siliwangi 2 Garut. MGMP adalah sebuah wadah yang memfasilitasi para profesional guru dari mata pelajaran yang sama dan memiliki kepentingan yang selaras khususnya dalam mengembangkan kompetensi dalam proses pembelajaran. Dalam kaitan dengan kompetensi guru. MGMP perkumpulan para guru yang merupakan ujung tombak dalam meningkatkan hasil belajar di kelas maka salah satu penguatannya adalah dalam bentuk diskusi dan pelatihan (Adi & Tri, 2. Hal ini memiliki peran yang penting dalam memfasilitasi para guru dari bidang studi yang sama dalam melaksanakan alih pengetahuan dan sekaligus pengalaman dalam proses pembelajaran (Hidayati et al. , 2. Mata pelajaran seni budaya termasuk salah satu mata pelajaran yang diikutkan dalam ujian nasional dalam bentuk praktik di lapangan. Selama ini materi uji terbatas ke dalam bentuk menggambar. Berdasarkan musyawarah bersama guru, penting bagi siswa untuk meningkatkan ketrampilannya melalui praktik dengan menggunakan material ramah lingkungan. Pilihan ini jatuh kepada materi untuk membatik dengan cara yang mudah dan menyenangkan (Pandanwangi et al. , 2. Membatik dengan material eco green dianggap aman, mudah dipelajari, tidak perlu khawatir tersiram lilin panas. Tim pengabdi sudah mempraktikan hal ini dengan banyak memenuhi permintaan dari berbagai lapisan masyarakat. Kali ini dengan adanya surat permohonan dari pihak MGMP Kabupaten Garut, tim akan bergerak menuju lokasi yang telah disepakati Permasalahan Mitra Mitra pengabdi adalah MGMP Kabupaten Garut memiliki permasalahan . sebaran guru bidang studi seni budaya yang tidak berlatar belakang akademik seni rupa, sehingga ada beberapa guru dari mata pelajaran bidang studi lain yang diperbantukan. Hal ini mengakibatkan diperlukan persepsi yang sama dalam meningkatkan kompetensi seni budaya, . Guru membutuhkan pelatihan dalam peningkatan kompetensi untuk kelancaran proses pembelajaran di kelas, . Capaian hasil belajar siswa dalam bentuk praktika masih harus ditingkatkan sehingga upaya pendampingan dalam pengabdian ini dianggap sangat perlu. Program yang akan diberikan adalah . Sosialisasi ke 20 SMA, . pelatihan dalam menggunakan material lilin dingin, . penciptaan motif batik sederhana di atas kain. Hal ini diperlukan karena berkaitan dengan peningkatan ketrampilan Guru, yang akan diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran seni budaya di masing-masing sekolahnya masing masing. dengan standar pelaksanaan dan penyelenggaraan MGMP, seperti yang digambarkan di bawah ini adalah Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 1. Peran Tim pengabdi dalam lingkaran merah yang masuk ke dalam standar Pelaksanaan dan Penyelenggaraan MGMP. (Sumber: Kemdikbud. Standar pelaksanaan dan penyelenggaraan MGMP) TINJAUAN PUSTAKA Adapun tim pengabdi sudah melakukan pengabdian yang pernah dilakukan sebelumnya yaitu pendampingan tim pengabdi yang dilakukan dengan cara bekerjasama dengan pihak kementrian dalam memajukan lima destinasi wisata premium di indonesia. Permasalahan yang diusung dalam pengabdian ini adalah menciptakan new entrepreunership untuk memajukan wisata. Solusinya diberikan pelatihan batik lilin dingin dengan menciptakan motif yang digagas dari kearifan lokal setempat. Pengabdian dilakukan di Yogyakarta. Likupang. Labuan Bajo, diinisiasi oleh kementrian perhubungan, kepariwisataan, dan Deskrasnada. Peserta yang terlibat dalam kegiatan ini adalah new entrepreuner yang telah disiapkan oleh panitia berdasarkan pendaftaran dengan indikator produk-produk awal yang pernah mereka produksi. Hasil dari pengabdian ini peserta dapat menciptakan produk dengan cepat dan menyenangkan (Apin, 2016. Rianingrum & Pandanwangi, 2. Pengabdian lainnya yang sudah pernah dilakukan oleh tim pengabdi adalah pelatihan di sentra pembatikan dengan cara bekerja sama dengan koperasi batik senopati di Yogyakarta. Permasalahan yang dimunculkan adalah mahalnya bahan baku untuk membatik dan SDM yang semakin langka, maka dibutuhkan solusi alternatif material yang ramah lingkungan. Peserta yang mengikuti kegiatan adalah anggota koperasi batik yang tadinya berprofesi sebagai pembatik. Hasil dari pengabdian ini peserta dapat mengetahui dan mempergunakan material lilin dingin dan beberapa diantaranya kini membuka usaha lukis batik dengan menggunakan material lilin dingin (Pandanwangi, 2. Batik dengan menggunakan material lilin dingin ini juga sudah melalui proses penelitian yang dilakukan oleh ketua tim pengabdi dan timnya. Penelitian mengenai material ini difokuskan pada olah material dan implementasinya, diantaranya adalah penelitian mengenai pengembangan seni lukis dengan menggunakan Volume 14 No. 2 Desember 2023 Ariesa Pandanwangi, dkk: Pelatihan Batik Kreatif: Lilin Dingin Untuk Membatik Melalui MGMP Seni Budaya. material gutta tamarind, yaitu material yang diolah dari bahan dasar biji asam jawa yang dihaluskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan biji asam jawa sebagai media alternatif dalam berkarya seni rupa. Proses penggunaannya, dikenal sebutan cold wax tidak memerlukan kompor pemanas seperti pada lilin panas membatik pada umumnya. Penelitian ini membahas tentang proses pembuatan lilin dingin dari bubuk biji asam jawa serta melihat implementasi atau penerapan hasil karya lukis batik gutta tamarind pada beberapa produk sehari-hari. Metode yang dipergunakannya adalah deskriptif kualitatif. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dengan mempelajari pembuatan lilin dingin gutta tamarind secara bertahap. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik gutta tamarind dalam proses pembuatan lukisan di atas kain, menghasilkan sapuan yang khas dan meninggalkan jejak outline pada setiap objek yang dibuat (Budiman et al. , 2022. Dewi et al. , 2021. Mochtar Apin et al. , 2021. Pandanwangi et al. , 2. METODE Pengabdian ini merupakan diseminasi dari hasil penelitian yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2018 oleh ketua pengusul dan tim. Selanjutnya diseminasi tersebut direalisasikan ke dalam bentuk pengabdian ini berupa pelatihan batik dengan menggunakan media lilin dingin untuk guru seni budaya di Kabupaten Garut. Pengabdian ini didukung bidang keilmuan seni rupa dan desain untuk arahan desain batik yang digali dari kearifan lokal. Untuk menggali data pengabdian dari faktor internal dan eksternal akan menggunakan data dari studi literatur, data wawancara dan perekaman dokumen dilapangan dengan menggunakan video dan Metode pengabdian dari tahapan pertemuan awal hingga akhir, akan dilakukan sesuai tahapan yaitu metode ABCD dikenal dengan istilah Asset Based Community Development (Fitrianto et al. , 2. Metode ini dianggap penting karena dianggap dapat membantu memecahkan masalah, mencapai target keberhasilan dan sesuai dengan tujuan pengabdian. Metode ini melibatkan seluruh tim pengabdi yang berjumlah 10 orang yaitu 5 orang dari dosen dan 5 orang mahasiswa. Dilapangan para guru akan dibagi menjadi lima kelompok. Setiap kelompok berjumlah 10 orang dan didampingi oleh 1 orang dosen dan 1 orang mahasiswa. Pendekatan yang digunakan dalam pengabdian ini memprioritaskan keberadaan sumber daya manusia yang dianggap sebagai aset dan memiliki potensi sesuai dengan kemampuannya. (Mahmudah & Supiah. Kegiatan diawali koordinasi antara tim pengabdi yang berkoordinasi dengan pihak kepala sekolah dan ketua MGMP. Para peserta hadir berdasarkan undangan dan surat tugas dari pihak sekolahnya masingmasing yang selanjutnya mereka mengisi google form untuk kehadirannya. Untuk mempersiapkan kegiatan ini membutuhkan waktu 1 bulan sebelum pelaksanaan, diawali dengan penawaran banyak program pelatihan dari program studi seni rupa murni kepada berbagai sekolah di beberapa daerah. Selanjutnya beberapa sekolah langsung merespon dan berkoordinasi dengan pihak program studi yang diwakili oleh ketua pengusul Realisasi tahapan dengan metode ABCD ini adalah: Tahap 1 Membuat perencanaan kegiatan berdasarkan koordinasi antara tim pengabdi dengan pihak MGMP, merancang pengelolaan program yang terkoordinasi dengan baik, dan program difokuskan pada: . ketersediaan sarana prasarana yang memadai. menyusun tahapan pelatihan dengan agenda yang terjadwal dengan baik. menelusuri aset berupa sumber daya manusia terkait dengan Hal ini dianggap perlu karena ada beberapa guru yang belum sebidang ilmu. (Fitrianto et al. , 2. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Tahap 2 Melaksanakan observasi, agar program dapat berjalan dengan lancar. Pada tahapan ini tim pengabdi berupaya menggali potensi peserta melalui pertemuan zoom meeting dengan pihak sekolah dan MGMP, dan juga memanfaatkan grup WA (Hidayati et al. , 2. Tahap 3 Menetapkan capaian target yang hendak dicapai. Tahap ini para guru didorong untuk memiliki target yang hendak dicapai. Mereka diberikan motivasi pada awal pertemuan, tujuannya agar para guru dapat merasakan dorongan dari dalam dirinya, agar meningkat kompetensinya. Diharapkan para guru dapat mengimplementasikannya kemampuan yang diperolehnya ke dalam proses pembelajaran (Mustadi et , 2. Tahap 4 Memetakan asset. Peserta memiliki kemampuan dasar yang tinggal dikembangkan, para guru ini adalah potensi yang dianggap sebagai aset yang berharga bagi pihak sekolah, sehingga perlu untuk terus ditingkatkan kemampuannya. Diharapkan melalui merekalah terjadi alih pengetahuan kepada siswa didiknya di kelas melalui proses pembelajaran (Pandanwangi et al. , 2. Tahap 5 Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan agenda yang telah dijadwalkan, sesuai dengan koordinasi awal yang telah ditetapkan, sekaligus untuk mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan. Pelaksanaan kegiatan ini membutuhkan waktu beberapa kali kordinasi baik melalui grup WA ataupun video call, pelaksanaan pelatihan berlangsung selama 1 hari penuh, dan dilakukan evaluasi hasil karya para guru melalui kritik sesion (Adi et al. , 2022. Aryani et al. , 2021. Fitrianto et al. , 2. Tahap 6 Tahapan paling akhir adalah dilaksanakannya monitoring dan pemantauan yang berbasis aset. Data awal adalah target . , memantau perkembangan dan hasil akhirnya adalah outcome yaitu mereka akan mengimplementasikannya dalam kelas yang diampunya (Aryani et al. , 2. Fokus dari komunitas diwakili oleh para guru yang tergabung dari 20 SMA dari Kabupaten Garut. Partisipasi Mitra Peran mitra dalam kegiatan pengabdian ini sangatlah penting, yaitu . Berkoordinasi dengan tim . Mengkoordinir 20 Sekolah Menengah Atas dibawah Musyawarah Guru mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya-Kabupaten Garut. Mensosialiasikan pelatihan SDGs kepada publik melalui spanduk yang dibuat bahwa ada kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Menyediakan fasilitas ruangan, sound system, untuk pengarahan guru-guru. Menyediakan fasilitas ruangan workshop untuk para guru dan siswa mengerjakan batik kreatif dengan menggunakan lilin dingin. Menyiapkan konsumsi makan siang. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Ariesa Pandanwangi, dkk: Pelatihan Batik Kreatif: Lilin Dingin Untuk Membatik Melalui MGMP Seni Budaya. Evaluasi Kegiatan Evaluasi kegiatan, peserta yang hadir pada awalnya belum mencapai 40 orang hal ini terkendala para guru yang tinggal di berbagai dusun di kabupaten Garut, sebagai penggantinya beberapa siswa sekolah yang sudah mengikuti ekstrakurikuler diajak turut serta dalam pelatihan ini. Kemudahan penggunaan material ini juga menarik minat para guru dari mata pelajaran lain yang hadir dalam kegiatan ini, sehingga mereka juga bergabung bersama membuat batik kreatif. PEMBAHASAN Proses pelaksanaan aksi yang akan dibahas dalam pembahasan ini adalah pelaksanaan kegiatan dan hasil karya yang dihasilkan oleh para peserta. Kegiatan dilaksanakan tepat pada pukul 09. 00 WIB di ruang seni sekolah berupa studio atau bengkel kerja bagi peserta didik. Ruangan berukuran 10 m x 6 m pada bagian samping kanan dipenuhi dengan lemari kaca hasil karya seni siswa sekolah, sedangkan pada bagian belakang ruangan dipenuhi dengan karya 3 dimensi berupa patung terbuat dari tanah liat atau gips dan juga karya seni nirmana 3 dimensi. Para peserta menempati posisi di tengah ruangan, dan duduk berkelompok. Sebagai trainer. Ariesa Pandanwangi memberikan materi terlebih dahulu mengenai perbandingan olahan lilin dingin yang selanjutnya dilanjutkan dengan demo cara penggunaannya di atas kain. Hasil karya dari pelatihan ini yang dibahas sebagai sampel sejumlah 6 sampel karya seni batik kreatif yang dibuat oleh peserta dengan menggunakan teknik colet. Teknik colet yang dimaksud adalah cara menyapukan kuwas dengan campuran warna yang telah disiapkan sebelumnya ke atas permukaan kain dengan tidak menyentuh bagian perintang yang sudah kering. Perintang yang baik akan tembus ke bagian bawah kain sehingga ketika disapukan ke permukaan kain maka warna tidak akan merembes ke bidang objek lainnya (Pandanwangi & Sukapura Dewi, 2. Adapun karya -karya tersebut adalah: Karya 1 dibuat dengan komposisi seimbang melalui pohon yang digambarkan di tengah bidang kain, batang pohon membentuk huruf AuSAy membelah bidang menjadi bagian kiri dan kanan, kemudian penambahan 2 ranting pada bagian kiri, yaitu pada bagian atas 1/4 dari bagian pohon dan batang ke-2 yang berada di tengah-tengah pohon serta dua batang bagian kanan batang atas terdapat pada 1/3 bagian dari atas pohon dan batang ke-2 berada pada 1/3 bagian dari bawah pohon. Pada batang atas yang mengarah ke sudut kiri terdapat 2 daun besar dengan posisi simetris menempel di batang kiri atas. Pada batang kiri bawah terdapat 4 helai daun yang berjarak relatif sama. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 2. Karya batik kreatif dengan tema flora Sumber: Tim Pengabdi. Dua daun pada bagian batang bawah menghadap ke bawah, daun ke-3 mengarah ke atas, ujung daun menyentuh pangkal batang atas, daun ke-4 terakhir berada hampir di ujung menghadap ke bawah. Batang bagian kanan atas terdapat 4 daun besar dengan posisi simetris menempel di kiri dan kanan batang, 2 helai daun di bagian hampir di ujung batang, 2 helai selanjutnya berada di tengah batang dan yang terakhir 1 helai daun menempel di dekat pangkal batang yang berujung di pohon. Meskipun berbeda letak, satu helai daun berada di dekat pangkal batang ke-2. Kedua batang di kiri maupun kanan serta keenam helai daun di kiri maupun kanan menjadikan komposisi ini seimbang, berirama, dan menjadi satu kesatuan. Begitupun dengan warna background bagian bawah berwarna biru bercorak segitiga panjang bagian bawah, di atasnya bagian biru, terdapat warna hijau. Di atas bagian hijau terdapat bagian merah yang membentuk 2 lengkung yang terpotong batang pohon. Di atas warna merah terdapat warna kuning dengan bentuk segitiga, di atas corak 4 terdapat 2 lengkung berwarna oker. Di bagian kiri dan kanan pohon di atas warna oker terdapat warna merah yang semakin ke ujung kiri menjadi berwarna kuning, sedangkan pada bagian kanan semakin ke ujung menjadi warna oker. Lapisan-lapisan warna yang berwarna cerah diakhiri dengan gradasi dari paling kiri, berwarna merah, kemudian oranye dan kuning. Bagian kanan, warna bagian atasnya berwarna ungu dan di atasnya lagi berwarna biru. Batang pohon yang berwarna coklat meliuk-liuk, begitupun pembatasan warnanya, sehingga secara keseluruhan gambar terlihat berirama. Karya 2 menampilkan potret figur tanpa baju, sehingga kurang begitu jelas gendernya. Posisi figur menghadap ke depan, kedua tangan berada di depan dada, bersilangan dengan arah jari-jari kedua tangan yang mengarah ke bawah, hampir menyentuh sisi bawah kain. Posisi figur berada di 2/3 bagian kanan dari sisi kain, sehingga di bagian kiri terdapat ruang yang lebih besar. Ruang ini diisi oleh background berwarna analogus kuning di sudut kiri, kemudian warna hijau dengan posisi diagonal di bawah warna kuning, dilanjutkan dengan warna biru di bawah warna hijau, warna biru dengan posisi diagonal, sampai pada sisi kanan. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Ariesa Pandanwangi, dkk: Pelatihan Batik Kreatif: Lilin Dingin Untuk Membatik Melalui MGMP Seni Budaya. Gambar 3. Karya seni batik kreatif dengan tema figuratif Sumber: Tim Pengabdi. Di bawah warna biru terdapat warna gradasi putih ke kuning dan pada kedua sisi leher terdapat bulatan-bulatan warna-warni, pink, ungu muda, dan kuning muda, serta terdapat pembatas . , di kiri-kanan leher. Di bawah warna kuning terdapat warna hijau dan biru berdampigan di antara warna-warna tersebut terdapat taburan bunga, di perbatasan warna dan di bawah serta di atasnya. Di bagian kiri atas gerai rambut lebih besar dibandingkan dengan bagian kanan, sehingga penempatan warna maupun objekobjek menjadikan komposisinya lebih berimbang dan penyebaran warna lebih merata, sehingga terlihat menjadi satu kesatuan. Ada beberapa bagian yang dianggap lebih penting, seperti wajah, mata, dan mulut dibesarkan. Leher dianggap kurang penting, sehingga dikecilkan. Begitupun dengan lengan bagian kiri dikecilkan dan jari-jari bagian kiri maupun kanan dibesarkan. Ornamen yang digunakan seperti kalung, gelang, dan hiasan lengan atas berwarna ungu, coklat, dan biru sera gelang berwarna merah, masuk belum dapat dipastikan gender yang dibuat. Gambar 4. Karya seni batik kreatif dengan tema flora Sumber: Tim Pengabdi. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Pada karya tiga terdapat 3 batang/ranting pohon dan 3 bulatan dalam setiap ranting, menyerupai daun-daun pohon yang sudah disederhanakan. Bentuk seperti di atas, diulang kembali di bagian bawahnya dengan jarak dari tepi atas sampai batang pohon pertama sama degan jarak batang pohon kedua. Batang pohon atas terdapat seekor burung yang sedang bertengger di atas batang diagonal, sedangkan burung ke2 terdapat di atas tanah, sejajar dengan batang yang ke-2. Komposisi bulatan-bulatan dibuat berderet dengan posisi lengkung diagonal, dimulai dari bagian tengah atas membuat 3 bulatan ke arah kiri. Komposisi bulatan ke-2 dibatasi oleh kupu-kupu, antara bulatan terakhir bagian 1 yang berwarna merah dengan bulatan pertama pada pohon ke-2 yang terletak sedikit lebih rendah dari bulatan merah dan arahnya lebih ke kanan, mendekati tepian sisi kanan. Bulatan ini merupakan rangkaan 3 bulatan dari kanan berurutan ke arah bawah kiri. Bulatan 1 dan 2 beririsan. Bulatan ke-2 yang berwarna ungu posisinya lebih jauh jaraknya dari sisi pinggir dibandingkan bulatan ke-1, sedangkan bulatan terakhir posisinya lebih dekat jaraknya dari sisi kiri. Komposisi terlihat berirama karena ada 2 pohon yang posisinya berirama. Ada pengulangan bulatan-bulatan di pohon 1 dan 2, baik dari bulatan-bulatan maupun batang-batang pohon. Warna gradasi coklat muda pada bagian atas dan coklat tua pada bagian bawah. Penambahan warna ungu di bagian sudut kiri atas untuk mengimbangi berat pada bagian bawah. Warna hijau muda pada sisi kanan atas, seolah-olah menyambungkan lingkaran di sudut kiri atas. Komposisi yang berirama dengan warna merah di tengah sebagai titik fokus. Gambar 5. Karya seni batik kreatif dengan tema flora Sumber: Tim Pengabdi. Karya ke empat mengingatkan pada tanda baca . anda tany. Garis lingkaran dibuat dimulai pada bagian tengah dan garis mulai melingkar ke bagian 1/3 dari sisi kiri, tidak sampai menyentuh sisinya. Begitupun garis lengkung pada bagian atas, bentuk lengkung tidak sampai menyentuh sisi atas, tetapi hanya 1/5 bagian dari sisi atas. Lalu pada sisi kanan pun tidak menyentuh bagian sisi, tetapi masih sedikit berjarak 1/10 dari sisi kanan, lengkungan dilanjutkan dengan posisi diagonal. Pada 1/3 bagian bawah lengkungan mulai membentuk garis lurus dan berakhir di bawah A dari bagian kiri, sehingga secara keseluruhan komposisi motif lengkung ini terlihat satu kesatuan. Meskipun lingkaran besar berada di bagian atas dan lengkung diagonal dari kanan Volume 14 No. 2 Desember 2023 Ariesa Pandanwangi, dkk: Pelatihan Batik Kreatif: Lilin Dingin Untuk Membatik Melalui MGMP Seni Budaya. ke kiri tidak menyebabkan lebih berat di atas karena penggunaan warna di atas lebih muda daripada bagian bawah yang lebih tua. Secara keseluruhan komposisi menjadi seimbang. Bidang kosong yang berada di sekeliling motif tanda tanya tersebut dipenuhi oleh motif bunga. Motif pada bagian atas cenderung menggunakan warna-warna terang oranye dan background kuning, gradasi ke oranye muda, sedangkan bagian atas sampai sudut kanan berwarna ungu. Bagian tengah lingkaran terdapat bulatan oranye dan bunga kuning pada bagian atas merupakan point of interest. Background di tengah berwarna biru, melingkar ke Di depan bulatan merah terdapat setengah lingkaran menyerupai bulan sabit bergaris warna merah dan kuning. Warna merah dan kuning pada bagian tengah menjadikan motif yang berada di tengah menjadi point of interest. Gambar 6. Karya seni batik kreatif dengan motif abstrak Sumber: Tim Pengabdi. Lukisan batik motif abstrak ini pada bagian tengah kiri terdapat garis ekspresif berbentuk lingkaran dan yang berbentuk A lingkaran dan di dalamnya ada pengulangannya dengan menggunakan warna coklat, yaitu garis-garis diagonal yang berupa 2 garis. Pada bagian tengah kanan terdapat lingkaran yang terpotong oleh batas sisi dari kain. Pada kanan atas terdapat gambar matahari dengan sinar berwarna-warni ke arah berwarna dasar hijau dan kuning serta ke arah dalam berlatar putih dengan sinar merah dan merah muda. Pada bagian bawah, garis-garis yang menjadi sinar diulang lagi dengan latar belakang warna-warni. Garisgaris menyerupai garis sinar darli lengkung bagian kiri. Komposisi karya abstrak terlihat dinamis, ditambah dengan permainan warna yang beragam, tersebar ke seluruh bagian. Warna coklat menjadi titik fokus pada komposisi ini. Karya enam menggambarkan batik berbentuk daun-daun panjang. Pada sisi daun bergerigi, lentur, mempunyai 2 warna. Bagian tengah biru dan bagian pinggir pink serta putih. Secara garis besar, komposisi terbagi 2, yaitu bagian daun dan tulang daun yang terdapat pada bagian bawah serta atas. Pangkal daun bagian awah terdapat di sudut kiri seperti sebuah buket, berada di bawah setangkai bunga pink. Dari bawah bunga, muncul 6 helai daun berbagai ukuran. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 7. Karya seni batik kreatif dengan tema flora Sumber: Tim Pengabdi Daun pertama berukuran kecil, melengkung dari bawah bunga dengan panjang sampai pertengahan bidang, sedangkan daun ke-2 berada tepat di atas helai pertama, mempunyai panjang daun sampai ke ujung Daun ke-3 dimulai dari pertengahan daun ke-2, melengkung ke atas sampai ke 1/3 sisi pinggiran Daun ke-4 dimulai dari bunga pink, kemudian daun tersebut mempunyai lengkungan yang sangat besar, hingga mencapat A dari panjang karya. Ujung lengkungan berada di atas hiasan dan bunga pink. Daun yang ke-5 terdapat di dalam lengkung daun ke-4. Begitupun daun yang ke-6 mengisi rongga dari daun ke-4, sehingga rongga oada daun ke-4 terisi oleh lengkung-lengkung daun yang seirama dengan daun ke-4. Komposisi daun bagian atas muncul dari 1/3 bagian dari ujung daun ke-4 dengan lengkungan besar berlawanan arah, lengkungan ke bagian sisi atas, lalu turun sampai ke sisi kanan pertengahan. Lengkungan ke-2 di atas, yaitu muncul dari pangkal daun bagian atas, tetapi mempunyai lengkungan daun yang sejajar lengkungannya dengan ujung daun ke-4. Daun yang berada di dalam lengkungan daun atas, mulai muncul dari pertengahan daun ke-4 dengan arah mengikuti daun atas. Perbedaan lengkungan yang berbeda dari 2 komposisi daun yang atas maupun yang bawah, menghasilkan irama yang dinamis. Bidang dari latar belakang diisi degan sulur-sulur yang menambah kesan irama yang dinamis. Latar warna oranye dan motif daun berwarna biru menjadikannya sangat kontras. Secara keseluruhan, komposisi sulur daun seimbang, dinamis, dan satu kesatuan. Keberhasilan para peserta dalam kegiatan pelatihan ini, tampak pada sampel enam karya yang dibahas di atas. Keunggulan peserta dalam mempraktikan material ini dilatarbelakangi oleh kebanyakan sebagai guru seni budaya yang sbeelumnya sudah memiliki pengalaman dalam memberikan materi ikat celup kepada peserta didik dan juga materi lainnya. Sedangkan bagi guru yang diperbantukan harus ditingkatkan lagi latihan yang difokuskan pada penggunaan perintang lilin dingin. Peserta ini belum dapat mengukur jarak antara ujung plastik segitiga dengan permukaan kain, sehingga tarikan garis berupa outline terputus-putus dan sangat kasar hasil tarikan garisnya. Secara keseluruhan kegiatan pelatihan ini berjalan dengan baik dan lancar, dibuktikan dengan mayoritas hasil karya peserta yang dianggap representative sebagai karya awal. Volume 14 No. 2 Desember 2023 Ariesa Pandanwangi, dkk: Pelatihan Batik Kreatif: Lilin Dingin Untuk Membatik Melalui MGMP Seni Budaya. KESIMPULAN Kegiatan berjalan dengan sangat baik dan lancar. Peram mitra dalam pengabdian ini sangat membantu tim pengabdi sehingga permasalahan yang diusung dapat pengabdian ini dapat diberikan solusinya melalui keilmuan seni rupa yang di implementasinya pada olah material ramah lingkungan . co gree. dan pengembangan batik kreatif yang mengangkat kearifan lokal. Keilmuan seni rupa dapat memperkuat fondasi dasar dalam peningkatan kompetensi guru seni budaya. DAFTAR PUSTAKA