INTERVENSI TERAPI RELAKSASI AUTOGENIC TERHADAP PENURUNAN GLUKOSA DARAH PASIEN DIABETES MELITUS DI KELURAHAN KARANGANYAR Abstract STUDI KASUS Ilma Shofiya Luthfi Adillah2* Sri Atun Wahyuningsih3 Putri Permata Sari4 Lenny Rosbi Rimbun5 1,2,5Departemen Keperawatan Medikal Bedah. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia 3 Departemen Keperawatan Jiwa. Jakarta Pusat. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. DKI Jakarta. Indonesia 4Departemen Keperawatan Maternitas. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Jakarta Pusat. DKI Jakarta. Indonesia Korespondensi: M Luthfi Adillah *email: luthfi. adillah@akper-pelni. Latar Belakang: Pengelolaan kadar gula darah merupakan aspek penting dalam penanganan diabetes melitus (DM) untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup. Terapi relaksasi autogenic, yaitu teknik relaksasi dengan sugesti diri, berperan dalam menurunkan stres yang dapat memengaruhi kadar glukosa darah. Berdasarkan kondisi tersebut, terapi relaksasi autogenic berpotensi menjadi metode pendamping yang sederhana, murah, dan dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus dengan terapi relaksasi Autogenic di Kelurahan Karang Anyar. Jakarta Pusat. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan melibatkan 4 pasien. Terapi relaksasi autogenic dilakukan 1 kali pemberian sehari selama 3 hari dengan durasi 15 Ae 20 menit. Penurunan kadar gula darah sewaktu terlihat dari perbandingan data sebelum dan sesudah intervensi yang tercatat pada lembar observasi harian. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi relaksasi dapat menurunkan kadar gula darah sewaktu pada pasien diabetes melitus. Data dari lembar observasi harian keempat responden memperlihatkan peurunan kadar gula darah sewaktu yang signifikan dengan rata-rata penurunan sebesar 41,25 mg/dl dari 236,65 mg/dl menjadi 195 mg/dl setelah dilakukan terapi relaksasi autogenic. Kesimpulan: Penelitian ini menyatakan penurunan kadar gula darah sewaktu yang signifikan pada keempat responden setelah melakukan terapi relaksasi autogenic dengan rata-rata penurunan sebesara 41,25 mg/dl. Kata Kunci: Diabetes Mellitus Gula Darah Terapi Relaksasi Autogenic Diterima: 2 Januari 2026 Diperbaiki: 19 Januari 2026 Dipublikasikan: 31 Januari 2026 E-ISSN Sitasi artikel ini: Shofiya. Adillah. Wahyuningsih. Sari. Rimbun. Analisis Intervensi Terapi Relaksasi Autogenic Terhadap Penurunan Glukosa Darah Di Wilayah Karang Anyar. Volume 2 . , 88-95. https://journal. id/index. php/jkpp PENDAHULUAN Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit kronis yang prevalensinya tinggi dan masih menjadi tantangan besar dalam bidang kesehatan di Indonesia. Penyakit ini ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah dalam waktu lama akibat gangguan metabolisme serta ketidakseimbangan hormon, sehingga dapat menimbulkan komplikasi pada organ vital, seperti pembuluh darah, ginjal, saraf, dan mata. DM dikenal sebagai Ausilent killerAy karena sering kali tidak Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 88 menimbulkan gejala yang jelas hingga menimbulkan komplikasi serius. Tingginya angka morbiditas dan mortalitas akibat DM menjadikannya salah satu masalah kesehatan utama, terutama di negara berkembang (Ambrawati, 2. (Hidayat et al. , 2. DM termasuk dalam empat penyakit tidak menular prioritas dunia. Data WHO . menunjukkan bahwa diabetes merupakan penyebab kematian keenam terbanyak dengan sekitar 1,3 juta kasus kematian setiap tahun. Sekitar 4% di antaranya meninggal sebelum usia 70 tahun, dengan prevalensi tertinggi pada kelompok usia 45Ae54 tahun. Kasus lebih banyak ditemukan di wilayah perkotaan dibandingkan pedesaan (Nugroho et al. , 2. Di Indonesia, prevalensi DM terus menunjukkan peningkatan (Kementerian Kesehatan RI, 2. menyebutkan prevalensi mencapai 11,3%, angka yang lebih tinggi dibanding tahuntahun sebelumnya. DKI Jakarta tercatat sebagai provinsi dengan kasus terbanyak, yaitu sekitar 250 ribu penderita dari total 10,5 juta jiwa penduduk. Peningkatan ini juga berdampak pada komplikasi kronis seperti ulkus diabetikumyang dapat berujung pada tindakan amputasi (Nina et al. , 2. Gejala utama DM adalah hiperglikemia, yang muncul akibat resistensi insulin atau berkurangnya produksi insulin oleh pankreas. Kondisi ini dialami lebih dari separuh pasien . ,8%) dan berisiko menimbulkan kerusakan permanen pada saraf dan pembuluh darah, yang pada akhirnya dapat memicu stroke, gagal ginjal, hingga penyakit jantung (Anisa et al. , 2. Upaya penatalaksanaan DM dilakukan melalui terapi farmakologis maupun non-farmakologis. Obat oral seperti metformin dan insulin termasuk terapi utama, namun intervensi non-farmakologis juga penting untuk mendukung kontrol glukosa darah. Salah satu metode yang terbukti bermanfaat adalah terapi relaksasi autogenic, yaitu teknik relaksasi dengan pengulangan sugesti positif untuk menciptakan rasa tenang, menurunkan ketegangan, dan membantu menstabilkan kadar gula darah melalui mekanisme hormonal (Ambrawati, 2. Sejumlah penelitian menunjukkan efektivitas terapi ini. (Yulita et al. , 2. melaporkan penurunan kadar gula darah rata-rata dari 282,37 mg/dl menjadi 232,21 mg/dl setelah tiga hari intervensi. Hasil serupa juga ditunjukkan oleh (Aprilani & Warsono, 2. serta (Ningrung et al. , 2. , yang menemukan adanya penurunan signifikan kadar glukosa pada pasien DM tipe 2 setelah tiga hari berturut-turut diberikan terapi relaksasi autogenic. Hasil studi pendahuluan di Kelurahan Karang Anyar Jakarta Pusat menemukan 16 pasien DM tipe 2 yang sebagian besar hanya mengandalkan obat metformin. Berdasarkan kondisi tersebut, terapi relaksasi autogenic berpotensi menjadi intervensi tambahan yang sederhana, murah, efektif, dan dapat dilakukan secara mandiri. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh terapi relaksasi autogenic terhadap penurunan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus di Kelurahan Karang Anyar Jakarta Pusat. METODE Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif untuk mengetahui pengaruh terapi relaksasi autogenic terhadap penurunan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Karang Anyar. Jakarta Pusat, pada tanggal 14-16 Agustus 2025. Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 Sampel penelitian terdiri dari empat responden penderita diabetes melitus tipe 2 yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi, yaitu terdiagnosis DM, memiliki kadar gula darah sewaktu >200 mg/dl, tidak sedang menjalani komplikasi akut, dan bersedia mengikuti intervensi. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sesuai dengan kebutuhan penelitian. Intervensi berupa terapi relaksasi autogenic dilakukan selama tiga hari berturut-turut, satu kali setiap pagi sebelum mengonsumsi obat metformin. Setiap sesi berlangsung selama 15Ae20 menit dengan bimbingan Terapi dilakukan dengan posisi duduk atau berbaring rileks, mengucapkan sugesti positif, serta memusatkan perhatian pada sensasi hangat dan nyaman di bagian tubuh tertentu. Instrumen yang digunakan adalah glucometer untuk mengukur kadar gula darah sewaktu sebelum dan sesudah intervensi, serta lembar observasi untuk mencatat hasil pengukuran. Data kadar glukosa darah dicatat setiap hari sebelum memulai intervensi dan setelah selesai intervensi. Pengumpulan data dilaksanakan dalam 3 tahap, yaitu pra-intervensi, intervensi, dan pasca-intervensi. Pada tahap pra- intervensi, dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah awal serta pemberian edukasi mengenai prosedur terapi relaksasi autogenic kepada pasien dan keluarga. Tahap intervensi dilaksanakan dengan melakukan relaksasi autogenic selama 15Ae20 menit, satu kali sehari, selama tiga hari berturut-turut dengan pendampingan peneliti. Selanjutnya, tahap pasca-intervensi berfokus pada pengukuran ulang kadar glukosa darah setelah tiga hari intervensi, kemudian hasilnya dibandingkan dengan kadar gula darah sebelum Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel serta narasi untuk memberikan gambaran perubahan kadar glukosa darah pada responden. HASIL Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Karang Anyar Jakarta Pusat dengan jumlah responden empat orang penderita diabetes melitus tipe 2 yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi. Seluruh responden memiliki kadar glukosa darah sewaktu >200 mg/dl sebelum dilakukan intervensi. Intervensi yang diberikan berupa terapi relaksasi autogenic selama 15Ae20 menit sekali sehari, selama tiga hari berturut-turut. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan sebelum intervensi dan setelah tiga hari intervensi menggunakan glucometer. Karakteristik Responden Responden berjenis kelamin perempuan dengan rentang usia > 45 tahun. Seluruh responden tercatat mengonsumsi obat antidiabetes oral . secara rutin dan belum pernah mendapatkan terapi nonfarmakologis berupa relaksasi autogenic sebelumnya. Tabel 1. Perbandingan Kadar Gula Darah (Pre test dan Post tes. menggunakan lembar observasi harian. Perbandingan Gula Darah Sebelum Setelah Sewaktu Intervensi Intervensi Responden I 285 mg/dl 195 mg/dl Responden II 215 mg/dl 198 mg/dl Responden i 215 mg/dl 190 mg/dl Responden IV 230 mg/dl 197 mg/dl Sumber: Data Primer Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 Berdasarkan hasil pengukuran, dapat disimpulkan bahwa terapi relaksasi autogenic memberikan efek positif dalam menurunkan kadar glukosa darah pada seluruh responden, meskipun besar penurunan bervariasi. Selain pengaruh fisiologis terhadap penurunan kadar glukosa darah, responden juga melaporkan adanya manfaat psikologis, seperti rasa lebih rileks, tenang, dan berkurangnya keluhan sulit tidur. Hal ini sejalan dengan teori bahwa relaksasi autogenic dapat menurunkan aktivitas saraf simpatis, mengurangi pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, serta meningkatkan peredaran darah. Gambar 1. Perbandingan kadar Gula Darah Sewaktu Sebelum dan Sesudah Sumber : Data Primer . Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi relaksasi autogenic yang dilakukan selama tiga hari berturutturut mampu menurunkan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penurunan yang terjadi bervariasi antara 17Ae90 mg/dl, dengan rata-rata 40,5 mg/dl. Temuan ini mendukung penggunaan terapi relaksasi autogenic sebagai salah satu intervensi non-farmakologis yang sederhana, murah, dan dapat diterapkan secara mandiri oleh pasien untuk membantu mengendalikan kadar gula darah. PEMBAHASAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kadar glukosa darah pada responden dipengaruhi oleh berbagai faktor. Usia menjadi salah satu faktor penting, di mana seluruh responden berada pada kelompok >45 tahun. Hal ini sejalan dengan temuan (Istianah & Kushayati, 2. yang menyebutkan bahwa semakin bertambah usia, risiko terkena diabetes melitus meningkat akibat berkurangnya efektivitas insulin dalam mengendalikan glukosa darah. (Ambrawati, 2. juga menegaskan bahwa Aisyiyah, 2. usia merupakan faktor risiko yang tidak dapat dihindari karena penurunan sekresi insulin terjadi secara fisiologis. Faktor jenis kelamin juga memberikan kontribusi. Semua responden dalam penelitian ini adalah perempuan. (Rista, 2. dan (Aisyiyah, 2. menjelaskan bahwa perempuan lebih rentan terhadap diabetes akibat perubahan hormonal, penumpukan lemak tubuh, serta gaya hidup yang kurang sehat, terutama setelah menopause. Kondisi ini memperkuat bukti bahwa gender dapat menjadi faktor risiko tambahan pada DM. Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 Tingkat pendidikan terbukti memengaruhi pemahaman kesehatan. Responden dengan pendidikan lebih tinggi menunjukkan penurunan gula darah yang lebih besar. Hal ini sesuai dengan penelitian (Arania et al. dan (Anggreini & Lahagu 2. yang menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin baik pula pemahaman seseorang dalam menjaga kesehatan. Selain itu, sebagian besar responden merupakan ibu rumah tangga dengan aktivitas fisik terbatas (Suratman et al. , 2. dan (Astutisari1 et al. , 2. menekankan bahwa kurangnya aktivitas fisik berperan dalampeningkatan kadar glukosa darah. Semua responden juga rutin mengonsumsi metformin 500 mg, menunjukkan kepatuhan terhadap terapi obat sebagaimana dijelaskan oleh (Della et al. , 2. bahwa motivasi diri yang baik berhubungan dengan keteraturan pengobatan. Riwayat hipertensi yang dialami responden selama 2Ae4 tahun juga berkontribusi terhadap kadar glukosa Menurut (Trihandini & Britama1Bernadetha, 2. hipertensi dapat menurunkan sensitivitas insulin sehingga glukosa darah meningkat. Faktor lain yang berpengaruh adalah pola makan, di mana seluruh responden masih sering mengonsumsi makanan tinggi gula. Hal ini konsisten dengan penelitian (Vena et al. dan (Petra et al. , 2. bahwa pola makan yang tidak sehat dapat memperburuk kendali glukosa darah. Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan penurunan glukosa darah tidak hanya dipengaruhi oleh terapi relaksasi autogenic, tetapi juga berkaitan erat dengan faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, kepatuhan terhadap obat, riwayat penyakit, dan pola makan. KESIMPULAN Penelitian ini membuktikan bahwa terapi relaksasi autogenic mampu menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Kelurahan Karang Anyar Jakarta Pusat. Besar penurunan rata-rata 41,25 mg/dl setelah tiga hari intervensi. Efektivitas terapi ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, kepatuhan pengobatan, riwayat penyakit, serta pola Oleh karena itu, relaksasi autogenic dapat direkomendasikan sebagai salah satu pilihan terapi nonfarmakologis yang mudah, praktis, dan bermanfaat dalam membantu pengendalian kadar gula darah. Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya disampaikan kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan, motivasi, serta bimbingan selama proses penelitian berlangsung. Penulis juga berterima kasih kepada pihak Kelurahan Karang Anyar Jakarta Pusat, para kader kesehatan, serta seluruh responden yang telah berpartisipasi dan bekerja sama dengan baik. Tidak lupa apresiasi diberikan kepada keluarga dan sahabat atas doa serta dukungan yang selalu menyertai. PERNYATAAN BEBAS KONFLIK KEPENTINGAN Tidak terdapat konflik kepentingan yang timbul pada saat melakukan penelitian ini. PENDANAAN Penelitian ini tidak dibiayai oleh pihak manapun dan menggunakan dana pribadi. KONTRIBUSI PENULIS Ilma Shofiya: Penulis utama, konseptualisasi, metodologi, analisis, dan referensi Luthfi Adillah: Menghasilkan ide, konseptualisasi, analisis formal, dan kurasi data Sri Atun Wahyuningsih: Validasi, analisis formal, dan kurasi data Putri Permata Sari: Validasi, analisis formal, dan kurasi data Lenny Rosbi Rimbun: Validasi, analisis formal, dan kurasi data ORCiD ID Ilma Shofiya ORCiD ID : Tidak Tersedia Luthfi Adillah ORCiD ID : 0000-0002-1146-819X Sri Atun Wahyuningsih ORCiD ID : 0009-0005-7316-0130 Putri Pertama Sari ORCiD ID : 0000-0002-6463-8199 Lenny Rosbi Rimbun ORCiD ID : Tidak Tersedia Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 93 REFERENSI