Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 ISSN 1693-7724, eISSN 2685-614X https://jurnal. isi-ska. id/index. php/ornamen/ Pengembangan Keramik Batik Sebagai Diversifikasi Produk Bagi Pembatik di Kampung Surtanan Klaten Mohammad Ubaidul Izza a. Rahayu Adi Prabowo b. Sutriyanto b. Cerly Sudarta M. Program Studi Senjata Tradisioanl Keris. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Seni Indonesia Surakarta Program Studi Kriya. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Seni Indonesia Surakarta moohammad@gmail. com, 2 adiaetnika7@gmail. com, 3 su3. artsih@gmail. com, 4 martsidaun@gmail. ABSTRAK Kata Kunci Kampung Surtanan di Desa Serenan. Kabupaten Klaten, memiliki sumber daya manusia pembatik yang selama ini memproduksi batik berdasarkan pesanan dari pengusaha di Solo dan Yogyakarta. Namun, pola produksi yang bergantung pada adanya pesanan menghambat motivasi untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi produk kerajinan yang sejalan dengan perkembangan industri kerajinan. Kelompok pembatik yang dipimpin oleh Sri Suyamti ini juga menghadapi kendala dalam pengetahuan mengenai diversifikasi produk dan strategi produksinya. Menyikapi permasalahan tersebut. Tim instruktur ISI Surakarta memberikan solusi melalui pelatihan diversifikasi produk dengan teknik cetak motif batik pada media keramik. Pelatihan ini melibatkan para pembatik dan perajin ukir yang masih memiliki ikatan kekerabatan, guna menciptakan kolaborasi berkelanjutan dalam kerajinan. Selain memperkaya teknik dan variasi produk, pelatihan ini juga memperkuat manajemen produksi melalui tradisi rewang serta peran kerabat pembatik dalam mengembangkan cetakan keramik. Pendampingan intensif dari Tim instruktur ISI Surakarta kepada 25 orang pembatik diharapkan dapat menguatkan potensi kreativitas dan kolaborasi yang berdampak Teknik cetak. Diversifikasi Cetakan batik. Pengembangan ABSTRACT Keywords Surtanan Village in Serenan. Klaten Regency, has skilled human resources in batik artisans who primarily produce batik based on orders from entrepreneurs in Solo and Yogyakarta. However, this order-based production model limits motivation for creativity and innovation in developing handicraft products aligned with the dynamic craft industry. The batik artisans group, led by Sri Suyamti, also faces challenges related to product diversification knowledge and production strategies. address these issues, the ISI Surakarta Team implemented a product diversification training program using batik motif moulding techniques on ceramic media. This training engaged batik artisans and woodcarvers, who share familial ties, aiming to establish sustainable collaboration within the handicraft sector. In addition to enriching skills and product variety, the training strengthened production management through the rewang tradition and the involvement of artisansAo relatives in developing batik motif molds for ceramics. Intensive mentoring provided by the Mold Product Batik mold. Sustainable craft This is an open access article under the CCAe BY-SA license Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 ISI Surakarta Service Team is expected to strengthen creativity potential and foster collaborative product diversification with sustainable impact. Pendahuluan Kabupaten Klaten memiliki sentra kerajinan batik yang salah satunya berada di Kampung Surtanan. Desa Serenan. Kecamatan Juwiring. Komunitas ini terdiri dari ibu-ibu pembatik, yang melalui tangan terampilnya telah berkontribusi menciptakan karya cipta batik sebagai pendukung ekonomi keluarga (Sudarwanto & Prabowo, 2. Namun eksistensi para pembatik ini, tengah dihadapkan pada persoalan produktivitas dan keberlanjutan usaha. Berdasarkan hasil wawancara awal dapat digaris bawahi bahwa para perajin merasakan penurunan permintaan jasa batik karena perubahan tren maupun karena meningkatnya persaingan dari produk tekstil modern. Selain itu, faktor penurunan produktivitas yang disebabkan oleh kesehatan dan usia juga turut dikeluhkan sebagai permasalahan untuk mempertahankan relevansi produk kerajinan mereka. Kondisi yang demikian mengarahkan perlunya alternatif inovasi dalam teknik dan media produksi. Berawal dari keluhan dan persoalan para pembatik selaku mitra. Tim instruktur ISI Surakarta memandang perlu upaya untuk mengembangkan produk kerajinan supaya dapat meningkatkan daya saing para pembatik. Mengacu pada konsep pengembangan produk, diketahui bahwa melalui diversifikasi produk menjadi salah satu strategi utama untuk meningkatkan daya saing perajin dalam menghadapi era ekonomi kreatif yang menuntut inovasi dan keberlanjutan produk (Tegowati et al. , 2. Dengan menerapkan diversifikasi produk, para pembatik dapat mengembangkan variasi kerajinan mereka dengan mempertimbangkan penambahan nilai estetika dan nilai fungsional dari produk kerajinan yang dihasilkan. Wilujeng dan Fauzan menunjukkan bahwa penerapan diversifikasi produk di sektor kerajinan Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 tradisional juga berfungsi untuk menjangkau pasar baru, serta mengurangi ketergantungan pada satu jenis produk saja (Wilujeng & Fauzan, 2. Bentuk diversifikasi produk kerajinan batik yang dianggap potensial adalah transformasi motif batik dari media kain ke media lain yang lebih fungsional dan juga bernilai estetis. Transformasi ini tidak hanya menawarkan estetika baru, tetapi juga memberikan fungsi yang lebih luas. Berdasarkan studi pendahuluan. Tim ISI Surakarta telah berupaya merumuskan upaya diversifikasi produk yang berkonsentrasi pada peningkatan kapasitas keahlian para pembatik dalam berkarya cipta. Inovasi dalam bentuk pelatihan penerapan teknik cetak batik pada media keramik, dipandang dapat memperluas kreativitas sekaligus manajemen produksi dari para pembatik. Hal ini sejalan dengan konsep social entrepreneurship, yang menekankan peran inovasi sebagai sarana peningkatan kreativitas sekaligus upaya strategis untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi kelompok masyarakat yang menjadi sasaran (Sofia. Oleh sebab itu transformasi motif batik pada media keramik memungkinkan perajin untuk mempertahankan seni tradisional yang menjadi kekuatan dari produk kerajinan dari Kampung Surtanan Kabupaten Klaten. Adapun pelatihan teknik cetak batik pada media keramik berfokus pada penggunaan teknik cetak tekan dengan cetakan kayu, yang memungkinkan para perajin untuk lebih mudah memproduksi motif batik pada objek keramik Yuniarto et al. , . menggarisbawahi bahwa teknik cetak keramik memberikan keuntungan karena prosesnya lebih cepat dibandingkan dengan teknik manual tradisional, dan hasilnya tetap mempertahankan keindahan motif yang seragam. Cetakan kayu yang digunakan juga melibatkan keterampilan ukir dari para perajin kayu, yang dalam konteks Kampung Surtanan, merupakan pekerjaan yang dijalani oleh suami dan sanak famili dari Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 banyak ibu-ibu pembatik. Oleh karena itu, kolaborasi antara pembatik dan perajin kayu menciptakan peluang pemberdayaan perajin yang lebih luas. Penggunaan keramik sebagai media baru juga memberikan dimensi fungsional yang tidak ada pada kain batik tradisional, di mana keramik dapat digunakan untuk produk sehari-hari seperti gelas, vas, dan benda dekoratif Inovasi dalam media produksi dapat dipandang sebagai upaya menjaga relevansi produk kerajinan, sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan dan preferensi pasar yang berubah. Inovasi semacam ini juga membuka pintu bagi perajin untuk bereksperimen dengan bentuk, warna, dan pola yang lebih variatif tanpa mengorbankan identitas tradisional batik itu Dengan demikian, diversifikasi produk melalui teknik cetak keramik batik dapat menjadi solusi jangka panjang yang efektif untuk memberdayakan komunitas perajin di Kabupaten Klaten. Inovasi produk berbasis kerajinan tangan, seperti yang diinisiasi melalui program penciptaan karya bersama masyarakat ini, merupakan langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan industri kreatif di daerah tersebut. Dalam konteks teknik cetak keramik, penggunaan cetakan kayu dapat menghasilkan pola batik yang presisi di atas permukaan media. Teknik cetak tekan menggunakan cetakan memberikan solusi praktis untuk mempercepat proses produksi, mengurangi beban kerja manual yang berat, dan meminimalkan kesalahan dalam penciptaan motif yang rumit (Yustana, 2. Adapun diversifikasi produk dalam konteks kerajinan lokal. Sonalitha et al. , . menunjukkan diversifikasi produk melalui inovasi penggunaan tenik decal untuk dekorasi dan laminasi keramik dengan motif dekorasi Batik Malangan guna mempercepat waktu pengerjaan. Studi lain oleh Prima Yustana, et al. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 . dilakukan melalui metode eksperimental dalam mengaplikasikan motif batik tradisional Surakarta pada produk keramik dinding. Tujuan dari studi ini adalah menciptakan prototipe yang memiliki ciri khas kedaerahan sebagai solusi dalam mengatasi fenomena degradasi identitas kedaerahan yang berhubungan dengan seni dan budaya Nasional. Kendati sudah ada beberapa upaya inovasi dalam kerajinan batik, namun penelitian dan pelatihan tentang penerapan teknik cetak keramik bermotif batik masih relatif sedikit. Terlebih yang berfokus pada upaya pelatihan perajin dalam menguasai teknik baru melalui kolaborasi kerajinan dalam mengadaptasi keterampilan lama ke dalam media baru. Dalam konteks ini, penelitian ini berupaya memberikan kontribusi orisinal melalui kolaborasi kerajinan antar perajin dalam menghadirkan transformasi motif batik tradisional ke media keramik sebagai pengembangan produk. Inovasi produk kerajinan dilakukan dengan meningkatkan daya tarik produk bagi konsumen. Hal ini bertujuan untuk tidak hanya mempertahankan esensi seni batik, tetapi juga memperluas aplikasinya ke dalam produk fungsional yang lebih modern. Oleh karena itu, pengembangan teknik cetak batik pada keramik menjadi kontribusi penting untuk literatur yang ada, terutama dalam kaitannya dengan diversifikasi produk berbasis kearifan lokal. Berbicara diversifikasi produk merupakan salah satu strategi utama untuk meningkatkan daya saing dalam industri kerajinan. Pelatihan diversifikasi produk bagi perajin sejalan dengan konsep Ansoff . , yang menyebutkan -product-market pengembangan produk baru yang berkaitan erat dengan produk lama tanpa mengorbankan identitas budaya dari produk tersebut. Dalam konteks pengembangan yang dilakukan adalah secara inkremental, yaitu dengan Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 mempertahankan esensi dari produk lama namun memperkenalkan media atau teknik baru (Hartanto & Sugandha, 2. Secara spesifik pemberdayaan komunitas tidak hanya mencakup pemberian keterampilan teknis, tetapi juga peningkatan rasa kepemilikan dan keterlibatan dalam proses inovasi dan manjemen produksi. Maka dari itu, kolaborasi antara perajin batik dan perajin kayu di Kampung Surtanan. Kabupaten Klaten. Dengan mengintegrasikan teknik ukir kayu pada cetakan yang digunakan untuk mencetak motif batik di atas keramik, para perajin mampu mengoptimalkan sumber daya lokal dan memperluas keterampilan mereka. Penggunaan teknik cetak pada keramik, ketika dikombinasikan dengan cetakan kayu tradisional memungkinkan para perajin menciptakan motif dengan metode manual sehingga memberikan nuansa produk yang tetap mencerminkan nilai Oleh karena itu, pelatihan pengembangan teknik cetak motif batik pada keramik tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperkaya aspek teknik dan estetik. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode penelitian tindakan . ction researc. yang diterapkan dalam kegiatan pelatihan dan pemberdayaan ibu-ibu pembatik di Kampung Surtanan. Kabupaten Klaten. Melalui penelitian tindakan dilakukan 4 siklus, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi, sesuai dengan model yang diusulkan oleh Altrichter . Mengingat mengembangkan keterampilan teknis dan kreativitas para pembatik dalam menerapkan motif batik pada media keramik. Sehingga data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui observasi langsung selama pelaksanaan pelatihan. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 wawancara dengan partisipan, serta dokumentasi hasil karya berupa produk keramik bermotif batik. Peneliti juga menggunakan wawancara mendalam untuk mengevaluasi tingkat pemahaman, kesulitan yang dihadapi, serta tanggapan dari peserta terhadap materi pelatihan yang diberikan. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis kualitatif, mengikuti pendekatan yang diuraikan oleh Miles dan Huberman . , di mana data diorganisasikan, direduksi, dan disajikan secara sistematis untuk menemukan pola-pola yang relevan dengan tujuan penelitian. Adapun untuk metode pelatihan menggunakan pendekatan partisipatif, yang melibatkan ibu-ibu pembatik sebagai subjek utama dalam proses Metode pelatihan berfokus pada teknik cetak tekan dengan cetakan kayu, di mana motif batik tradisional dipindahkan ke media keramik. Dalam pelatihan ini, peserta diajak untuk mempraktikkan pembuatan cetakan kayu dengan bantuan perajin ukir, yang mayoritas merupakan suami atau kerabat para pembatik. Secara spesifik pelaksanaan pelatihan dibagi menjadi beberapa tahap, yang meliputi : Tahap Pengenalan: para pembatik diperkenalkan dengan media keramik sebagai alternatif baru untuk motif batik. Peserta juga diperkenalkan pada teknik cetak tekan menggunakan cetakan kayu dan alat-alat yang Tahap Praktik Langsung: Pada tahap ini, peserta didorong untuk membuat desain motif batik yang sesuai dengan media keramik. Selanjutnya, mereka diajak untuk mempraktikkan teknik cetak tekan pada media keramik, yang difasilitasi oleh instruktur dari tim Penciptaan ISI Surakarta. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Tahap Evaluasi dan Refleksi: Setelah praktik, dilakukan sesi evaluasi untuk meninjau hasil karya peserta dan memberi masukan. Proses refleksi melibatkan diskusi dengan para pembatik tentang kendala yang dihadapi selama pelatihan, serta peluang pengembangan lebih lanjut dalam diversifikasi produk. Berkaitan dengan analisis data yang dikumpulkan selama pelatihan dianalisis secara kualitatif menggunakan teknik analisis visual dan evaluasi Hasil karya berupa produk keramik bermotif batik dinilai berdasarkan kriteria estetika, presisi dalam aplikasi motif, serta potensi fungsional dari produk tersebut. Umpan balik dari para peserta juga diolah untuk menilai efektivitas pelatihan dan mengidentifikasi area peningkatan Hasil dari metode pelatihan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mendalam tentang penerapan teknik cetak batik pada keramik, serta dampaknya terhadap peningkatan daya saing dan pemberdayaan ekonomi perajin di Kabupaten Klaten. Hasil dan Pembahasan Pelatihan diversifikasi produk para pembatik di Kampung Surtanan dilakukan dengan menyelesaikan permasalahan mitra yang terkait teknik produksi kerajinan yang berhubungan dengan batik dan manajemen Tim instruktur ISI Surakarta berupaya memberikan solusi atas permasalahan mitra dengan langkah-langkah sebagai berikut : Perencanaan dan Persiapan Pelatihan Perencanaan dan Persiapan pelatihan dirancang dengan pendekatan partisipatif terhadap identifikasi keterampilan ibu-ibu pembatik di kampung Surtanan beserta potensi lingkungan budayanya. Hambatan Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 pengolahan tanah liat dan pencetakan motif, disiasati dengan mengenalkan teknik dasar keramik serta pengaplikasian motif batik ke dalam produk Melalui observasi dan wawancara langsung Tim instruktur ISI Surakarta mengajak mitra terlibat aktif dalam proses perencanaan dan memastikan program pelatihan sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal ini sejalan dengan prinsip Participatory Rural Appraisal (PRA), yang menekankan keterlibatan aktif komunitas dalam mengidentifikasi potensi dan solusi permasalahan yang dihadapi (Chambers, 1. Pelibatan aktif peserta pelatihan terlihat dari inisiatif mereka yang terlibat membantu mempersiapkan alat dan bahan sebagai alat cetakan, tanah liat, serta peralatan pembentukan. Kolaborasi lintas keterampilan juga dilakukan dengan mengajak partisipasi keluarga peserta pelatihan dalam membuat cetakan kayu yang diukir motif batik dan mengevaluasi efektivitas Hal yang demikian turut memperkuat dimensi partisipatif dari program pemberdayaan masyarakat sehingga diharapkan dapat berkelanjutan sebagai upaya menjawab manajemen produksi. Secara spesifik tim instruktur ISI Surakarta juga menyiapkan alat-bahan pembuatan keramik yang disesuaikan dengan standar produksi keramik, guna memastikan kualitas karya hasil pelatihan. Gambar 1. Simulasi pengujian cap bermotif batik kawung pada tanah liat (Foto: Izza, 8 Maret 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Ceramah. Demonstrasi, dan Simulasi Keteknikan Keramik Metode ceramah selama pelatihan dilakukan dengan menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa yang akrab digunakan dalam keseharian Tujuannya pemahaman dalam menanamkan pola pikir pengembangan produk supaya tidak tergantung pada produksi satu jenis kerajinan semata. Ceramah yang dilakukan tim instruktur berupaya menjelaskan cara diversifikasi produk sebagai strategi dalam menciptakan variasi produk melalui pengayaan keterampilan dan kolaborasi keteknikan. Para peserta diajak untuk melihat keterampilan batik mereka sebagai potensi yang dapat dikembangkan ke dalam media yang berbeda serta menciptakan peluang baru dalam sektor Penyampaian ceramah perihal pengetahuan dasar diversifikasi produk itu telah membantu peserta mempersepsi relevansi dan manfaat praktis dari pelatihan yang diajarkan. Gambar 2. Tim Penciptaan memberikan ceramah tentang strategi diversifikasi produk (Foto: Izza, 20 April 2. Kesadaran kreativitas para peserta terlihat dari umpan balik selama proses ceramah. Indikatornya terlihat dari dialog antar peserta saat menganalisa motif batik tradisional yang dapat diterjemahkan ke media tanah liat. Selama pengamatan di lapangan, peserta terlihat canggung dengan keteknikan yang tidak biasa mereka gunakan. Maka dari itu Tim Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 instruktur menggunakan rangsangan melalui demonstrasi pembentukan tanah liat yang ternyata berhasil meningkatkan rasa ingin tahu peserta sehingga mereka turut mensimulasikan bagaimana perlakuan terhadap tanah liat dengan teknik pijit, teknik pilin dan tekni slab. Tanggapan peserta terlihat positif dan antusias dengan menganggap kemudahan berkerajinan dengan media tanah liat seperti membuat adonan kue. Di sisi lain, selama ceramah berlangsung anggota tim instruktur berbagi peran dengan turut mendampingi peserta melalui simulasi keteknikan dengan berlatih membuat produk keramik fungsional seperti vas, piring, dan gelas. Gambar 3. Peserta pelatihan mempraktikan teknik pembentukan tanah liat . dan salah satu hasil simulasi keteknikan pembentukan tanah liat . (Foto: Izza, 20 April 2. Pelatihan Teknik Cetak Keramik Batik Langkah pelatihan pada tahap ini dilakukan dengan melatih pemahaman peserta tentang cara mempercepat produksi keramik melalui penggunaan cetakan seperti cetakan dekorasi pada kue. Tim instruktur memberikan panduan langkah demi langkah tentang cara mempersiapkan tanah liat dan menggunakan cetakan secara efektif. Mengawali simulasi teknik cetak, tim langkah-langkah persiapan cetakan, pengolahan tanah liat, hingga proses pencetakan motif batik menggunakan cetakan kayu. Demonstrasi ini bertujuan untuk menunjukkan praktik yang tepat, termasuk cara menjaga konsistensi tekanan saat mencetak agar motif yang dihasilkan seragam dan detail. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Gambar 4. Pemaparan materi dari Tim Instruktur dengan cara ceramah tentang alat cetakan keramik motif batik (Foto: Izza, 27 April 2. Selanjutnya peserta diberikan kesempatan untuk berlatih secara langsung dengan didampingi oleh tim pengajar yang siap memberikan umpan balik. Pendampingan ini dirancang untuk meminimalisir kesalahan dan meningkatkan pemahaman peserta. Adapun kesalahan umum yang ditemui selama proses ini adalah kurang meratanya tekanan saat mencetak sehingga menyebabkan motif batik tidak tercetak dengan baik. Pemahaman peserta pada keteknikan cetak ini terlihat setelah para peserta berlatih mencetak sebanyak 3 kali cetakan. Hasilnya terlihat dari konsistensi tekanan saat mencetak sehingga menghasilkan motif batik dengan hasil yang Gambar 5. Tim Instruktur sedang mendemonstrasikan teknik cetak tekan motif batik pada media tanah liat (Foto: Rahayu Adi, 27 April 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Adapun di sela-disela proses pelatihan, tim Instruktur juga menyisipkan pemahaman tentang keselarasan karakteristik motif batik yang dapat diterapkan sebagai dekorasi pada media keramik. Mengingat terdapat keterbatasan kemampuan cetakan dari kayu untuk mereproduksi detail motif batik, dimana perlu mempertimbangkan ukuran dan tingkat kerumitan ukiran pada cetakan kayu. Maka dari itu motif yang dipilih harus memperhatikan ketepatan ukuran dan repetisi agar sesuai untuk dicetak pada tanah liat. Para peserta ternyata telah mempersepsi motif-motif sederhana, seperti motif geometris pada kawung sebagai motif yang lebih mudah diterapkan dengan cetakan kayu. Sementara untuk pemberian motif isian dan isen-isen dapat dilakukan setelah pencetakan agar memperindah hasil cetakan dengan nuansa batik. Mengingat citra visual dari batik erat kaitannya dengan penerapan kompen isian dan isen-isen. Gambar 6. hasil cetakan motif batik pada media tanah liat dari para peserta pelatihan (Foto: Rahayu Adi, 27 April 2. Pendampingan Pembentukan dan Pengeringan Keramik Batik Langkah pelatihan selanjutnya adalah pendampingan intensif untuk membantu peserta mempraktikkan pembentukan hasil cetakan motif batik Pendampingan ini dilakukan dalam beberapa sesi, dimulai dengan Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 pengenalan sifat elastisitas tanah liat, lem tanah liat dan alat bantu pembentukan agar hasil pembentukan mencapai konsistensi bentuk yang Tahap pembentukan menggunakan alat bantu pipa dan papan untuk membentuk hasil cetakan menjadi produk vas dan gelas tanpa merusak motif batik yang telah tercetak. Gambar 7. Tim instruktur mendampingi peserta pelatihan dalam membentuk hasil cetakan motif batik menjadi produk fungsional berupa gelas (Foto: Sutri, 27 April 2. Gambar 8. Tim instruktur mendampingi peserta pelatihan dalam membentuk hasil cetakan motif batik menjadi produk fungsional berupa (Foto: Sutri, 27 April 2. Secara spesifik tim pengajar memberikan arahan tentang cara menjaga agar bentuk produk tetap proporsional dan konsisten. Mengingat pada proses pengeringan menjadi sangat penting untuk memastikan pengaturan kelembaban produk keramik sebelum memasuki tahap pembakaran. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Pengeringan dilakukan secara bertahap di ruangan tetapi terhindar dari sinar matahari secara langsung untuk mencegah pengeringan yang terlalu Peserta dipandu untuk memeriksa produk secara berkala selama proses pengeringan untuk memastikan tidak ada deformasi yang terjadi pada bentuk atau motif. Adapun temuan dalam tahap pelatihan ini dapat diketahui dari kecakapan tangan para perserta yang dapat membentuk produk keramik sesuai dengan acuan desain. Namun, terdapat beberapa karya yang mengalami keretakan atau cacat selama proses pengeringan. Karya yang cacat ini disebabkan oleh ketidakmerataan ketebalan produk, yang mengakibatkan deformasi saat pengeringan. Gambar 9. Pendampingan pada tahapan pengeringan sekaligus pemberian detail isian pada permukan benda kerja dan motif batik (Foto: Sutri, 27 April 2. Gambar 10. Tim PKM ISI Surakarta bersama pemateri dan peserta pelatihan berfoto bersama dengan hasil karya dari pelatihan (Foto: Ardi, 27 April 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Pelatihan Pembakaran dan Glasir Keramik Setelah pengeringan selesai, tim instruktur memberikan pelatihan tentang langkah menguatkan struktur tanah liat melalui tahap pembakaran biskuit sebelum proses pewarnaan glasir. Pembakaran pertama dilakukan pada suhu sekitar 900-1000AC, menghasilkan keramik yang keras tetapi masih dapat menyerap glasir. Pada tahap ini, peserta diperkenalkan pada konsep pembakaran keramik dengan ilustrasi proses oven kue namun perbedannya pada ketepatan suhu serta waktu pembakaran supaya hasil pembakaran tida retak atau bentuk benda terdeformasi. Setelah pembakaran biskuit selesai, produk kemudian dilanjutkan ke tahap pewarnaan dengan menggunakan glasir, yang akan memberikan lapisan warna dan menambah estetika visual produk. Peserta diajarkan cara mengaplikasikan glasir dengan kuas dan penyemprotan pencelupan, serta pentingnya memastikan bahwa lapisan glasir tidak terlalu tebal atau tipis. Adapun tahap akhir adalam pembakaran glasir diatur pada suhu yang lebih tinggi, sekitar 12001300AC, untuk menghasilkan hasil akhir keramik yang mengkilap. Proses ini disertai dengan evaluasi terhadap hasil karya peserta, di mana mereka merefleksikan tantangan dan keberhasilan yang mereka alami selama Gambar 11. Pendampingan proses pembakaran biskut dan pembakaran glasir dengan pengaturan penataan benda kerja, suhu pembakaran dan waktu pembakaran (Foto: Sutri, 7 Maret 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Diseminasi Hasil Pelatihan Penyampaian evaluasi dalam pelatihan ini ditinjau dari pemahaman keteknikan dalam mengaplikasikan motif batik pada media keramik, serta manajemen produksi yang dilakukan secara kelompok. Refleksi atas kebermanfaatan pelatihan juga disampakan saat sesi evaluasi dimana perlu pendampingan berkelanjutan supaya potensi kerajinan keramik batik dapat diimplementasikan dengan baik. Selama proses pelatihan dapat digaris ibu-ibu mengembangkan keterampilan mereka karena memiliki modalitas keuletan dan signifikasi dengan lingkungan masyarakat perajin. Berdasarkan evaluasi Tim instruktur, peserta pelatihan menunjukkan peningkatan pemahaman terhadap teknik keramik, namun terdapat tantangan terkait pengelolaan waktu pengeringan yang tidak seragam sehingga berakibat pada proses pembakaran. Dialog antara tim instruktur dan peserta menyepakati bahwa tantangan produksi keramik batik dapat teratasi karena adanya pendampingan intensif dan pelibatan diskusi para perajin selama proses pelatihan. Hal ini sejalan dengan konsep pemberdayaan komunitas, di mana pelatihan keterampilan yang didukung oleh pendampingan yang memadai dapat meningkatkan kapasitas peserta untuk berinovasi dan mengembangkan produk yang memiliki nilai tambah (Hapsari, 2. Salah satu temuan utama dari pelatihan ini adalah kemampuan ibu-ibu pembatik untuk beradaptasi dengan teknik dan media baru dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini berkaitan erat dengan lekatnya tradisi rewang yang tercermin pada kebersamaan berbagi pemahaman dalam memahami manajemen produksi keramik batik. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Gambar 12. Contoh hasil pembakaran produk yang retak menjadi diskusi keteknikan dengan para peserta pelatihan (Foto: Sutri, 8 Mei 2. Adapun berdasarkan evaluasi pada produk memperlihatkan beberapa temuan deformasi bentuk dan keretakan pada permukaan keramik setelah proses pembakaran. Namun demikian karya yang dihasilkan berhasil membawa motif batik tradisional ke dalam bentuk yang lebih kontemporer dan fungsional, sejalan dengan teori nilai tambah produk kerajinan Hasil produk yang berupa vas, gelas, dan berbagai bentuk dekoratif berhasil mengadaptasi motif batik geometris dengan detail motif yang konsisten. Penggunaan motif batik tradisional ini tidak hanya menjaga nilai-nilai budaya, tetapi juga berupaya menambah daya tarik kontemporer yang lebih diterima oleh pasar modern. Dari segi teknis dan produktivitas, hasil cetakan produk keramik batik yang berhasil telah menunjukan ketepatan proses produksi yang teridentifikasi dari stabilitas bentuk yang Hal yang demikian terlihat dari permukaan keramik yang memiliki hasil glasir yang merata dan tidak mengalami perubahan warna yang Namun demikian masih diperlukan pelatihan khusus dalam penerapan glasir dan pembakaran pada suhu yang tepat karena memengaruhi ketahanan dan tampilan akhir produk. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Gambar 13. Hasil pelatihan berupa produk gelas dengan motif batik lung bengawan (Foto: Sutri, 8 Mei 2. Gambar 14. Hasil pelatihan berupa produk vas dan dekorasi dinding (Foto: Sutri, 8 Mei 2. Gambar 15. Promosi produk hasil pelatihan dalam event Solo Art Etnik Batik & Craft 2024 Di Atrium Solo Paragon Mall (Foto: Izza, 8 Mei 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Kesimpulan Pelatihan teknik keramik bermotif batik di kampung Surtanan Kabupaten Klaten berhasil memperlihatkan potensi signifikan dalam mendukung diversifikasi produk kerajinan berbasis motif tradisional. Pelatihan ini menunjukkan bahwa ibu-ibu pembatik memiliki adaptabilitas tinggi terhadap teknik baru, seperti teknik cetak untuk aplikasi motif batik pada media keramik. Penguasaan menghasilkan produk yang tidak hanya estetis tetapi juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi, seperti gelas, vas, dan benda-benda dekoratif lainnya yang menampilkan motif batik dengan cara yang lebih modern dan fungsional. Secara teknis, hasil karya yang dihasilkan berhasil mencerminkan perpaduan antara budaya tradisional dan inovasi pada media keramik yang memerlukan ketelitian dalam proses pembakaran dan glasir. Tantangan teknis, terutama dalam manajemen pengeringan dan pembakaran keramik, menjadi catatan penting yang dapat diperbaiki pada pelatihan selanjutnya. Kendala tersebut, meskipun mengakibatkan beberapa produk tidak berhasil lolos proses produksi, memberikan wawasan bagi peserta untuk semakin meningkatkan keterampilan mereka dalam mengelola faktor-faktor teknis dalam produksi Dari segi sosial, keberhasilan pelatihan ini menciptakan motivasi dan semangat komunitas yang selaras dengan tradisi rewang, di mana kerjasama kekompakan para perajin. Adapun Berdasarkan hasil yang telah dicapai, terdapat beberapa rekomendasi untuk pengembangan lanjutan: Pendampingan Teknis Berkelanjutan Mengingat adanya tantangan dalam proses teknis seperti pengeringan dan pembakaran, perlu dilakukan pendampingan teknis berkelanjutan untuk meningkatkan kontrol kualitas pada produk keramik. Program Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 pendampingan dapat mencakup pengelolaan suhu pembakaran, teknik glasir, dan manajemen waktu produksi agar para perajin dapat mempertahankan kualitas produk keramik bermotif batik. Pengembangan Produk dan Inovasi Desain Perluasan ragam produk dan eksplorasi motif batik yang lebih variatif dapat meningkatkan daya tarik produk di pasar yang lebih luas. Pengembangan inovasi desain ini dapat menggabungkan elemen-elemen batik kontemporer tanpa mengesampingkan nilai tradisional, sehingga produk dapat terus berkembang sesuai dengan permintaan pasar dan tren Kolaborasi Pentahelix Kolaborasi antara lembaga pendidikan tinggi, peneliti, pelaku usaha, meida dan instansi pemerintah penting untuk mendukung pemberdayaan komunitas perajin melalui berbagai program peningkatan keterampilan dan pengembangan pasar. Secara spesifik melalui dukungan dari pemerintah daerah, terutama dalam menyediakan fasilitas pembakaran keramik atau pelatihan intensif, akan membantu meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk. Peneliti lain di bidang desain produk dan ekonomi kreatif juga diharapkan untuk berkolaborasi guna memperkuat aspek desain dan potensi pasar. Kajian Ekonomi dan Pemberdayaan Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkaji dampak ekonomi yang dihasilkan oleh diversifikasi produk keramik bermotif batik ini terhadap kesejahteraan komunitas perajin. Studi dampak sosial ekonomi ini dapat Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 membantu mengidentifikasi lebih dalam kontribusi ekonomi bagi para ibu pembatik sekaligus mengevaluasi efektivitas program pelatihan dan pendampingan dalam jangka panjang. Program Pemasaran dan Branding Selain keterampilan teknis, kemampuan dalam pemasaran produk juga perlu diperkuat. Kerjasama dengan dinas pariwisata dan ekonomi kreatif dapat membantu produk keramik batik ini mendapatkan akses pasar yang lebih luas. Program branding yang mengedepankan ciri khas lokal juga akan memperkuat posisi produk di pasar kerajinan, baik nasional maupun Secara spesifik program pelatihan keramik bermotif batik ini memberikan gambaran bahwa pengembangan kapasitas teknis, inovasi produk, serta dukungan kolaboratif dapat menciptakan peluang ekonomi baru yang berbasis nilai-nilai lokal. Melalui sinergi antara perajin, akademisi, dan pemerintah, keberlanjutan program ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian ekonomi komunitas perajin dan mempertahankan identitas budaya batik pada medium yang lebih modern dan fungsional. Daftar Pustaka