ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 TOSERBA RATU SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI POLINOMIAL NORKHAMID SMA Negeri 1 Mayong Email : norkhamid27272@gmail. ABSTRAK Alasan pemilihan judul tersebut karena rasa percaya diri dan hasil belajar matematika peserta didik kelas XI MIPA 3 masih rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan rasa percaya diri dan hasil belajar matematika pada materi polinomial bagi peserta didik kelas XI MIPA 3 SMA Negeri 1 Mayong Semester genap Tahun Pelajaran 2017/2018 dan untuk mengetahui besarnya peningkatan rasa percaya diri dan hasil belajar tersebut. Penelitian ini mengambil sampel peserta didik kelas XI MIPA 3 Semester genap SMA Negeri 1 Mayong tahun Pelajaran 2017/2018 yang berjumlah 38 orang terdiri dari 12 laki-laki dan 26 perempuan. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas terdiri dari 2 siklus, analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif komparatif yaitu dengan membandingkan data antar Hasil penelitian ini adalah model pembelajaran AuTOSERBA RATUAy dapat meningkatkan rasa percaya diri dan hasil belajar matematika pada materi polinomial bagi peserta didik kelas XI MIPA 3 SMA Negeri 1 Mayong semester genap tahun pelajaran 2017/2018 dan terjadi peningkatan rasa percaya diri berdasarkan angket sebesar 23,68% dari 47,37% sebelum siklus I menjadi 71,05% sesudah siklus II, dan berdasarkan pengamatan meningkat sebesar 26,32% yaitu pada siklus I 44,74 % menjadi 71,05% pada siklus II serta peningkatan hasil belajar matematika sebesar 21,05% yaitu pada siklus I yang tuntas 65,79 % peserta didik menjadi 86,84% pada siklus II setelah menerapkan model pembelajaran AuTOSERBA RATUAy pada materi polinomial bagi peserta didik kelas XI MIPA 3 SMA Negeri 1 Mayong semester genap tahun pelajaran 2017/2018. Kata Kunci : Percaya diri, hasil belajar. TOSERBA RATU. ABSTRACT The reason for choosing the title is because of the low self-confidence and mathematics learning outcomes of class XI MIPA 3 students. The purpose of this study was to increase selfconfidence and mathematics learning outcomes in polynomial material for students of class XI MIPA 3 SMA Negeri 1 Mayong even Semester Academic Year 2017/2018 and to determine the magnitude of the increase in self-confidence and learning outcomes. This study took a sample of 38 students of class XI MIPA 3 in the even semester of SMA Negeri 1 Mayong in the academic year 2017/2018, consisting of 12 boys and 26 girls. The method used was Classroom Action Research consisting of 2 cycles, the data analysis used was comparative descriptive analysis by comparing data between cycles. The results of this study are the learning model "TOSERBA RATU" can increase self-confidence and mathematics learning outcomes on polynomial material for students of class XI MIPA 3 SMA Negeri 1 Mayong even semester of the 2017/2018 school year and there is an increase in self-confidence based on a questionnaire of 23 , 68% from 47. 37% before cycle I to 71. 05% after cycle II, and based on observation increased by 26. 32%, namely in cycle I 44. 74% to 71. 05% in cycle II and an increase in mathematics learning outcomes amounted to 21. 05%, namely in cycle I which 79% of students became 86. 84% in cycle II after applying the learning model "TOSERBA RATU" on polynomial material for class XI MIPA 3 students of SMA Negeri 1 Mayong even semester of the year 2017/2018 lessons. Keywords: Self-confidence, learning outcomes. TOSERBA RATU. ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 PENDAHULUAN Permasalahan pendidikan selalu muncul bersamaan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, pengaruh informasi, dan kebudayaan, serta situasi dan kondisi lingkungan yang ada. Untuk itu dituntut adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pendidikan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut dapat dilakukan dengan pengembangan kegiatan pembelajaran sebagai salah satu upaya untuk mencapai tujuan Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern dan mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Menurut Hamzah B Uno . 1: . matematika adalah suatu ilmu yang merupakan alat pikir, berkomunikasi, alat memecahkan berbagai persoalan praktis berdasar Dalam penguasaan ilmu dan terapan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan materi matematika dengan benar. Oleh karena itu matematika yang diajarkan di sekolah menuntut peserta didik memiliki suatu pemikiran dengan cara berpikir logis. Namun demikian, dalam kenyataan banyak peserta didik yang menganggap pelajaran matematika sebagai pelajaran yang sangat sulit dipahami, pelajaran yang menjenuhkan/ membosankan karena hanya mencari rumus dan latihan soal saja, dan pembelajaran yang menakutkan/menegangkan sehingga motivasi dan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran matematika sangat rendah. Selama ini guru telah berusaha dengan segala cara memberi motivasi peserta didik agar lebih aktif dalam pembelajaran, tetapi hanya sedikit peserta didik yang aktif. Hal tersebut menjadi salah satu faktor penyebab hasil belajar matematika yang masih Permasalahan tersebut juga terjadi di SMA Negeri 1 Mayong, salah satunya di kelas XI MIPA 3. Secara umum besarnya aktivitas yang dilakukan secara sukarela peserta didik dalam pembelajaran hanya sebesar 38,95%. ategori renda. dan peserta didik yang tergolong aktif atau mempunyai rasa percaya diri tinggi hanya 11 orang. ,95%). Dalam kegiatan pembelajaran peserta didik cenderung diam mendengarkan dan mencatat. Setelah ditanya kenapa diam, mereka takut jika jawaban atau pendapatnya atau hasil pekerjaannya salah. Selain itu, hasil belajar peserta didik kelas XI MIPA 3 juga masih sangat rendah. Hal ini terlihat dari hasil ulangan harian pada kompetensi dasar Aumenganalisis lingkaran secara analitikAy diperoleh data dari 38 peserta didik yang tuntas belajarnya hanya 20 . ,63%) dengan KKM sebesar 68 sesuai KTSP SMAN 1 Mayong Tahun Pelajaran 2017/2018, yang berarti belum mencapai ketuntasan klasikal 85%. Salah satu aspek yang berpengaruh pada proses pembelajaran matematika adalah kepercayaan diri peserta didik. Karena kepercayaan diri dapat berpengaruh pada hasil belajar. Kepercayaan diri memberi kekuatan yang dapat mempengaruhi pada penilaian kemampuan dan kesediaan mengerjakan tugas. Peserta didik diharapkan memiliki kecenderungan memandang matematika sebagai sesuatu yang dapat dipahami, merasakan matematika sesuatu yang Meyakini usaha yang tekun dan ulet akan membuahkan hasil. Salah satu penyebab rendahnya hasil belajar adalah rendahnya rasa percaya diri. Misalnya saat tampil didepan kelas mereka gugup, cemas, dan takut. Sebelum di depan kelas mereka gelisah, hilang konsentrasi, perasaan tegang menyelimuti perasaannya. Menurut Dimyati dalam Sri Marjanti . , percaya diri adalah sikap yang timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Rasa percaya diri merupakan keberanian menghadapi suatu tantangan karena memberi suatu kesadaran bahwa belajar dari pengalaman jauh lebih penting daripada keberhasilan atau Rasa percaya diri meningkatkan keefektifan dalam aktivitas atau kegiatan(Hakim Salah satu unsur yang penting untuk meningkatkan kompetensi peserta didik adalah adanya rasa percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran. Ada banyak cara yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan rasa percaya diri peserta didik dalam pembelajaran di kelas, antara lain:. umpan balik positif, . tujuan pembelajaran yang realistis . partisipasi yang sama, . ciptakan suasana pembelajaran yang nyaman dan aman, . unit-unit kecil (Nenden Rosdiana dalam kompasiana Humanior. ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Menurut Gagne dalam Edy Soedjoko . belajar terjadi apabila ada suatu stimulus yang mempengaruhi isi ingatan siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi ke waktu setelah ia mengalami situasi tadi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia . 1: . , hasil belajar adalah prestasi yang dicapai . ilakukan, dikerjaka. , dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta perjuangan yang membutuhkan pikiran. Syaiful Bahri Djamarah menyatakan bahwa hasil belajar atau prestasi belajar adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, atau diciptakan secara individu atau kelompok. Dari ungkapan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak akan ada hasil apabila tidak ada kegiatan. Dari hasil uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika adalah kemampuan yang dimiliki peserta didik dalam memahami, menggunakan dan mengembangkan matematika untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Berdasarkan uraian di atas, terlihat adanya masalah pada peserta didik, yaitu rasa percaya diri peserta didik dan hasil belajar yang masih rendah, sedangkan harapannya adalah peserta didik mempunyai rasa percaya diri yang tinggi dan hasil belajar matematikanya juga Guru juga memiliki masalah yaitu kurang memberi kesempatan pada peserta didik untuk meningkatkan rasa percaya diri melalui pemilihan model pembelajaran yang bervariasi sehingga lebih menarik. Untuk memecahkan masalah tersebut di atas, peneliti akan menerapkan pembelajaran matematika dengan model AuTOSERBA RATUAy Tindakan ini dilaksanakan untuk meningkatkan rasa percaya diri dan hasil belajar matematika. AuTOSERBA RATUAy singkatan dari Tutor Sebaya Ranking Satu merupakan model pembelajaran yang dikembangkan peneliti yang menggabungkan model tutor sebaya dan diakhiri dengan kuis untuk memperebutkan yang terbaik sebagai AuRATUAy yaitu Rangking Satu. Model ini memungkinkan peserta didik untuk lebih aktif dalam pembelajaran karena aktivitas belajar lebih berpusat pada peserta didik, melatih rasa percaya diri karena adanya presentasi dan kuis. Selain itu juga ada rasa tanggung jawab dan bersaing sehat untuk mendapatkan yang terbaik yaitu menjadi AuRATUAy alias rangking satu. Hisyam Zaini . mengatakan bahwa metode belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain. Oleh karena itu pemilihan model pembelajaran tutor sebaya akan sangat membantu siswa dalam belajarnya karena mereka juga mampu mengajarkan materi atau penyelesaian soal kepada temantemannya . elajar mempresentasikan ideny. Adapun langkah-langkah Tutor Sebaya (TOSERBA) adalah sebagai berikut: . Pemilihan materi, . Membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Siswa pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya. Masing-masing kelompok diberi tugas mempelajari satu sub materi dipandu tutor sebaya. Beri waktu yang cukup untuk persiapan baik didalam kelas maupun di luar kelas. Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub materi atau penyelesaian soalnya di depan kelas. Setelah semua kelompok menyampaikan tugasnya secara berurutan sesuai dengan urutan sub materi atau penyelesaian soalnya beri kesimpulan dan krarifikasi seandainya ada pemahaman siswa yang perlu diluruskan. (Hisyam Zaini 2002:. Sedangkan langkah Kuis Rangking Satu(RATU) adalah sebagai berikut: . Guru menampilkan 1 soal melalui LCD atau membagikan soal yang berkaitan dengan materi yang telah dipresentasikan kelompok. Peserta didik berdiskusi dalam kelompok untuk menjawab soal tersebut pada lembar jawab yang telah disediakan. Setelah waktu habis masing-masing kelompok mengangkat lembar jawab untuk diperiksa oleh guru atau observer. Setiap jawaban yang benar di beri skor 1. dan yang salah skor 0. ) Setelah semua soal terjawab peserta didik diberi kesempatan untuk menanyakan materi yang belum dipahami. Kelompok yang menjawab dengan benar diberi kesempatan untuk menjelaskannya dan jika tidak ada kelompok yang jawabannya benar maka guru yang memberikan penjelasan. Pada akhir pembelajaran akan dihitung perolehan skor masing-masing kelompok. Kelompok dengan skor tertinggi dinobatkan sebagai AuRATUAy atau Rangking Satu dan berhak mendapatkan ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, rumusan masalah penelitian yang muncul dalam penelitian ini adalah bagaimanakah menerapkan model AuTOSERBA RATUAy agar dapat meningkatkan rasa percaya diri dan hasil belajar matematika pada materi polinomial bagi kelas XI MIPA 3 SMA Negeri 1 Mayong Semester Genap Tahun Pelajaran 2017/2018 dan seberapa besar peningkatannya. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan rasa percaya diri dan hasil belajar matematika pada materi polinomial pada kelas XI MIPA 3 SMA Negeri 1 Mayong Semester GenapTahun Pelajaran 2017/2018 setelah diterapkan model AuTOSERBA RATUAy dan mengetahui besarnya peningkatan tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI MIPA 3 SMA Negeri 1 Mayong semester genap tahun pelajaran 2017/2018 berjumlah 38 peserta didik, terdiri 12 laki-laki dan 26 perempuan. Variabel input penelitian ini adalah kelas XI MIPA 3 SMA Negeri 1 Mayong semester genap tahun pelajaran 2017/2018 dan peneliti, peserta didik memecahkan masalah melalui kerja sama dalam kelompok yang dibimbing oleh seorang tutor, kemampuan menunjukkan solusi dan mempertahankan ide/gagasan/pendapat presentasi, serta kemampuan memecahkan masalah secara cepat melalui kuis RATU(Rangking Sat. Variabel input ini difokuskan pada rasa percaya diri dan hasil belajar peserta didik pada materi AupolinomialAy. Variabel proses dalam penelitian ini adalah kegiatan peneliti dalam menerapkan model pembelajaran TOSERBA RATU pada materi AupolinomialAy. Penerapan model pembelajaran TOSERBA RATU dengan tahapan pembelajarannya diharapkan peserta didik lebih bersemangat dan semakin percaya diri dalam pembelajaran karena adanya tutor sebaya yang juga teman sendiri, persaingan antar kelompok untuk menjadi tim terbaik. , dan meningkatnya hasil belajar peserta didik. Variabel output dalam penelitian ini adalah meningkatnya rasa percaya diri dan hasil belajar peserta didik kelas XI MIPA 3 SMA Negeri 1 Mayong semester genap tahun pelajaran 2017/2018. Sumber data pada penelitian ini meliputi sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer meliputi: data hasil penilaian harian siklus I dan II, data angket rasa percaya diri sebelum siklus I dan setelah siklus II, data pengamatan rasa percaya siklus I dan siklus II, dan data nilai kuis siklus I dan siklus II. Sedangkan data sekunder meliputi: data catatan personal peserta didik pada pra siklus, daftar nilai penilaian harian pra siklus. Data yang diteliti pada penelitian ini berbentuk kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa: data catatan personal peserta didik pra siklus, data pengamatan aktivitas belajar terutama rasa percaya diri pra siklus, data angket rasa percaya diri sebelum siklus I dan sesudah siklus II, dan data pengamatan rasa percaya diri pada siklus I dan siklus II. Sedangkan data kuantitatif meliputi: daftar nilai penilaian harian pra siklus, siklus I, siklus II, serta data nilai kuis siklus I dan siklus II. Data angket rasa percaya diri peserta didik pra siklus, siklus I, siklus II, dan angket setelah siklus II divalidasi dengan triangulasi sumber, yaitu melibatkan kolaborator dalam pemasukan data pada lembar angket maupun lembar observasi. Sedangkan data hasil belajar pada siklus I, kuis siklus I, siklus II, dan kuis siklus II divalidasi dengan kisi-kisi soal tes. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: . Teknik dokumentasi untuk mengumpulkan data aktivitas. asa percaya dir. dan hasil belajar peserta didik pra siklus. Angket digunakan untuk mengumpulkan data rasa percaya diri peserta didik sebelum siklus I dan setelah siklus II. Angket rasa percaya diri peserta didik ini terdiri dari 10 butir pernyataan dalam bentuk pernyataan positif. dengan pedoman penskoran angket ini adalah sebagai berikut: Jawaban AuTidak pernahAy diberi skor 1. AuKadang-kadangAy skor 2. AuSeringAy skor 3, dan AuSelaluAy . Teknik observasi ini digunakan untuk mengumpulkan data rasa percaya diri pada siklus I dan siklus II yang meliputi 5 aspek yaitu keberanian bertanya, keberanian menjawab pertanyaan, keberanian mengemukakan pendapat, keberanian mempertahankan pendapat, dan ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 keberanian menyampaikan hasil kerja atau presentasi. Teknik tes dibagi menjadi 2 yaitu tes lisan. dan tes tertulis. Data hasil angket digunakan untuk mengukur tingkat rasa percaya diri peserta didik yang meliputi 10 aspek yaitu keberanian bertanya jika belum paham, keberanian lebih senang bertanya kepada guru daripada teman, kemauan menjawab pertanyaan guru secara sukarela, mampu menjawab pertanyaan guru dengan tenang, memberikan pendapat saat diskusi, memberi tanggapan jika ada pendapat berbeda, berusaha mempertahankan pendapat, berusaha menampilkan hasil kerjanya . , mampu tampil dengan tenang/tidak gugup, merasa puas dengan hasil kerjanya. Data dikelompokkan sesuai dengan pedoman penskoran dengan menggunakan kriteria sebagai berikut: Tabel 1. Pedoman Penentuan Hasil Angket Tingkat Rasa Percaya Diri Jumlah skor Kriteria 10 Ae 15 Sangat Rendah 16 Ae 21 Rendah 22 Ae 27 Sedang 28 Ae 33 Tinggi 34 Ae 40 Sangat Tinggi Data hasil pengamatan digunakan untuk mengukur tingkat rasa percaya diri peserta didik yang meliputi 5 aspek. Teknik analisis data hasil pengamatannya adalah sebagai berikut: Jika setiap aspek percaya diri yang dilakukan peserta didik sebanyak satu kali diberi skor 1 dan jika dilakukan lebih dari satu kali diberi skor 2. banyaknya aspek percaya diri peserta didik dihitung tiap pertemuan dengan pedoman penskoran seperti pada tabel berikut: Tabel 2. Pedoman Penentuan Hasil Pengamatan Percaya Diri Peserta didik Tiap Pertemuan Jumlah Skor Kategori 0Ae2 Sangat Rendah 3Ae4 Rendah 5Ae6 Sedang 7Ae8 Tinggi 9 Ae 10 Sangat Tinggi Skor rata-rata tingkat rasa percaya diri peserta didik dalam satu siklus dihitung dari banyaknya skor dalam satu siklus dibagi banyaknya pertemuan. Skor rata-rata tersebut dapat dihitung dengan rumus : ycIycoycuyc ycycaycyca Oe ycycaycyca = ycycycoycoycaEa ycycoycuyc yccycaycoycayco 1 ycycnycoycoycyc ycaycaycuycycayco ycyyceycycyceycoycycaycu 1 ycycnycoycoycyc Data dikelompokkan sesuai dengan pedoman penskoran dengan menggunakan kriteria sebagai berikut: Tabel 3. Pedoman Penentuan Hasil Pengamatan Tingkat Percaya Diri Peserta Skor Rata-rata Kriteria 0,0 Ae 2,0 Sangat Rendah 2,1 Ae 4,0 Rendah 4,1 Ae 6,0 Sedang 6,1 Ae 8,0 Tinggi 8,1 Ae 10 Sangat Tinggi ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Hasil tes dianalisis untuk membandingkan, hasil belajar setelah siklus I dan hasil belajar setelah siklus II. Peserta didik dikatakan berhasil jika memperoleh nilai ulangan harian lebih dari atau sama dengan KKM . Indikator Kinerja Indikator kinerja yang digunakan adalah adanya peningkatan rasa percaya diri peserta didik dalam pembelajaran dan meningkatnya jumlah peserta didik yang mencapai KKM dari pra siklus, siklus I, dan siklus II. Dalam penelitian ini peneliti mengambil parameter penerapan model TOSERBA RATU dikatakan berhasil jika Ou 70% dari jumlah peserta didik memiliki tingkat rasa percaya diri dengan kriteria tinggi dan sangat tinggi . kor rata-rata Ou 6,. Sedangkan hasil belajar dikatakan meningkat jika Ou 85% dari jumlah peserta didik telah mencapai KKM. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas(PTK), terdiri atas dua siklus. Langkah-langkah dalam setiap siklus terdiri atas Perencanaan. Implementasi Tindakan. Observasi dan Interpretasi, dan Analisis dan Refleksi. Pada perencanaan yang dilakukan adalah melakukan pengamatan awal untuk mengetahui aktivitas belajar terutama rasa percaya diri peserta didik dalam pembelajaran Setelah melakukan pengamatan dilanjutkan dengan penyusunan angket rasa percaya diri dan penyusunan perencanaan pembelajaran yang meliputi penyusunan Silabus, penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), penyusunan materi/bahan ajar, penyusunan kisi-kisi soal tiap pertemuan, penyusunan butir soal dan kunci jawaban tiap pertemuan, penyusunan Kisi-kisi dan Naskah Soal Penilaian Harian. Dalam menyusun RPP model pembelajaran TOSERBA RATU ini guru tidak melaksanakan langkah-langkah yang sama persis dengan sintak TOSERBA RATU yang ada, tetapi ada sebagian yang disesuaikan dengan karakter mata pelajaran matematika, waktu, situasi dan kondisi peserta didik. Misalnya pada kuis rangking satu pada acara di TV swasta peserta yang menjawab salah pada pertanyaan pertama langsung gugur dari peserta, pada kuis TOSERBA RATU ini tidak ada sistem gugur, bagi peserta yang menjawab salah tetap bisa mengikuti pertanyaan berikutnya sehingga perhitungannya adalah peserta yang menjawab soal dengan benar terbanyak dinyatakan sebagai RATU atau rangking satu. Pada tahap implementasi tindakan guru melaksanakan pembelajaran TOSERBA RATU sesuai dengan langkah-langkah yang telah ditentukan. Kegiatan observasi dibantu oleh observer untuk mengamati pelaksanaan rencana pembelajaran dan mencatat hambatan-hambatan yang dijumpai dalam pembelajaran. Hasil yang diperoleh pada pelaksanaan tindakan dan tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis melalui diskusi dengan observer sehingga diperoleh data hasil refleksi yang dapat digunakan untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Pelaksanaan Siklus II pada dasarnya sama dengan pelaksanaan Siklus I, tetapi sudah diadakan perbaikan-perbaikan agar pelaksanaan pembelajaran berjalan lancar. Pelaksanaan siklus II pada tahap implementasi tindakan kelas tetap dibagi menjadi 8 kelompok dengan jumlah anggota masing Aemasing 4-5 peserta didik, tetapi keanggotaan dalam kelompok sudah disempurnakan berdasarkan pengamatan dan nilai yang diperoleh pada siklus I. Hasil Penelitian Pra Siklus Berdasarkan pengamatan secara umum aktivitas yang dilakukan secara sukarela peserta didik dalam pembelajaran hanya sebesar 38,95% . ategori renda. dan peserta didik yang tergolong aktif atau mempunyai rasa percaya diri tinggi hanya 11 peserta didik . ,95%). Sedangkan dari hasil angket rasa percaya diri banyaknya peserta didik yang mempunyai rasa percaya diri dengan kriteria tinggi dan sangat tinggi hanya 18 peserta didik . ,37%). Sementara itu hasil belajar peserta didik pra siklus diperoleh data sebagai berikut: ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Tabel 4. Rangkuman data Hasil Ulangan Harian Pra Siklus URAIAN NILAI Nilai Terrendah Nilai Tertinggi Nilai Rata-rata Rentang Nilai Banyak Siswa yang Tuntas 63,79 20 . ,63%) Hasil Penelitian Siklus I Pada Siklus I dengan kompetensi dasar menganalisis keterbagian dan faktorisasi polinomial dilaksanakan selama 3 kali pertemuan. Berdasarkan pengamatan rasa percaya diri peserta didik selama sikus I diperoleh data sebagai berikut: Tabel 5. Rangkuman Pengamatan Percaya Diri Siklus I Skor Rata-rata Banyak PD Kategori 0,0 Ae 2,0 2,1 Ae 4,0 4,1 Ae 6,0 6,1 Ae 8,0 Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi 8,1 - 10 Sangat Tinggi Berdasarkan tabel diatas banyak peserta didik yang skor skor rata-rata percaya diri termasuk tinggi dan sangat tinggi mencapai 17 peserta didik. ,74%). Sementara itu hasil belajar peserta didik siklus I diperoleh data sebagai berikut: Tabel 6. Rangkuman data Hasil Ulangan Harian Siklus I URAIAN NILAI Nilai Terrendah Nilai Tertinggi Nilai Rata-rata Rentang Nilai Banyak Siswa yang Tuntas 73,53 25 . ,79%) Analisis dan Refleksi Pada kondisi awal/pra siklus guru belum menerapkan model pembelajaran TOSERBA RATU diperoleh data peserta didik yang tergolong aktif atau mempunyai rasa percaya diri tinggi hanya 11 peserta didik . ,95%), hasil angket rasa percaya diri banyaknya peserta didik yang mempunyai rasa percaya diri dengan kriteria tinggi dan sangat tinggi hanya 18 peserta didik . ,37%), dan banyak peserta didik yang tuntas belajarnya 20 peserta didik . ,63%). Pada siklus I guru sudah menerapkan model pembelajaran TOSERBA RATU RATU diperoleh data peserta didik yang banyaknya peserta didik yang mempunyai rasa percaya diri dengan kriteria tinggi dan sangat tinggi hanya 17 peserta didik . ,74%), dan banyak peserta didik yang tuntas belajarnya 25 peserta didik . ,79%). Berdasarkan uraian di atas, dari kondisi awal ke siklus I ternyata rasa percaya diri hasil belajar matematika peserta didik telah meningkat tetapi belum memenuhi mencapai tingkat keberhasilan parameter yang ditetapkan, sehingga perlu dilanjutkan ke siklus II. Hasil Penelitian Siklus II Penelitian pada siklus II ini pada dasarnya sama dengan siklus I, tetapi telah diadakan perbaikan atas kelemahan yang ditemukan pada siklus I. Pada siklus II dilakukan selama 3 kali ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Pada Siklus II dengan kompetensi dasar menganalisis keterbagian dan faktorisasi polinomial dilaksanakan selama 3 kali pertemuan. Berdasarkan pengamatan rasa percaya diri peserta didik selama sikus II diperoleh data sebagai berikut: Tabel 7. Rangkuman Pengamatan Percaya Diri Siklus II Skor Rata-rata Banyak PD Kategori 0,0 Ae 2,0 2,1 Ae 4,0 4,1 Ae 6,0 6,1 Ae 8,0 Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi 8,1 - 10 Sangat Tinggi Berdasarkan tabel diatas banyak peserta didik yang skor skor rata-rata percaya diri termasuk tinggi dan sangat tinggi mencapai 27 peserta didik. ,05%). Sementara itu hasil belajar peserta didik siklus II diperoleh data sebagai berikut: Tabel 8. Rangkuman data Hasil Ulangan Harian Siklus II URAIAN NILAI Nilai Terrendah Nilai Tertinggi Nilai Rata-rata Rentang Nilai Banyak Siswa yang Tuntas 80,89 33 . ,84%) Analisis dan Refleksi Pada siklus I guru sudah menerapkan model pembelajaran TOSERBA RATU diperoleh data peserta didik yang banyaknya peserta didik yang mempunyai rasa percaya diri dengan kriteria tinggi dan sangat tinggi hanya 17 peserta didik . ,74%), dan banyak peserta didik yang tuntas belajarnya 25 peserta didik . ,79%). Pada siklus II guru sudah menerapkan model pembelajaran TOSERBA RATU diperoleh data peserta didik yang banyaknya peserta didik yang mempunyai rasa percaya diri dengan kriteria tinggi dan sangat tinggi hanya 27 peserta didik . ,05%), dan banyak peserta didik yang tuntas belajarnya 33 peserta didik . ,84%). Selain dari itu dari hasil angket yang dilakukan setelah siklus II, banyaknya peserta didik yang termasuk kategori tinggi dan sangat tinggi mencapai 27 peserta didik atau 71,05%. Berdasarkan uraian di atas, dari siklus I ke siklus II ternyata rasa percaya diri hasil belajar matematika peserta didik telah meningkat dan telah mencapai tingkat keberhasilan parameter yang ditetapkan, sehingga penelitian dihentikan. Pembahasan Pada kondisi awal/pra siklus guru belum menerapkan model pembelajaran TOSERBA RATU diperoleh data peserta didik yang tergolong aktif atau mempunyai rasa percaya diri tinggi hanya 11 peserta didik . ,95%), hasil angket rasa percaya diri banyaknya peserta didik yang mempunyai rasa percaya diri dengan kriteria tinggi dan sangat tinggi hanya 18 peserta didik . ,37%). Pada siklus I guru sudah menerapkan model pembelajaran TOSERBA RATU diperoleh data peserta didik yang banyaknya peserta didik yang mempunyai rasa percaya diri dengan kriteria tinggi dan sangat tinggi hanya 17 peserta didik . ,74 %) ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Berdasarkan uraian di atas, dari kondisi awal ke siklus I ternyata rasa percaya diri peserta didik telah meningkat tetapi belum memenuhi mencapai tingkat keberhasilan parameter yang ditetapkan, sehingga perlu dilanjutkan ke siklus II. Setelah dianalisis terhadap hasil pengamatan rasa percaya diri peserta didik dan ditelaah secara mendalam ternyata terdapat beberapa kelemahan pada siklus I , antara lain: . peserta didik belum mampu melaksanakan model TOSERBA RATU secara baik karena belum terbiasa, . pembagian kelompok yang didasarkan pada aktivitas dan penilaian kompetensi dasar sebelumnya kurang mencerminkan pemerataan keaktifan dan kemampuan peserta didik, . peserta didik yang ditunjuk sebagai tutor sebaya masih malu-malu dan grogi serta kurang mencerminkan kemampuannya. Untuk mengatasi kelemahan tersebut maka pada siklus II diadakan perbaikan-perbaikan, diantaranya . waktu yang diberikan untuk mempelajari materi di buat lebih lama, . diadakan pemmbagian kelompok baru berdasarkan hasil pengamatan dan penilaian pada siklus I, . Mengganti tutor yang kurang aktif. Pada siklus II guru sudah menerapkan model pembelajaran TOSERBA RATU diperoleh data peserta didik yang banyaknya peserta didik yang mempunyai rasa percaya diri dengan kriteria tinggi dan sangat tinggi hanya 27 peserta didik . ,05%), dan banyak peserta didik yang tuntas belajarnya 33 peserta didik . ,84%). Selain dari itu dari hasil angket yang dilakukan setelah siklus II, banyaknya peserta didik yang termasuk kategori tinggi dan sangat tinggi mencapai 27 peserta didik atau 71,05%. Berdasarkan uraian di atas, dari siklus I ke siklus II ternyata rasa percaya diri hasil belajar matematika peserta didik telah meningkat dan telah mencapai tingkat keberhasilan parameter yang ditetapkan. Hal ini sesuai pendapat Nenden Rosdiana dalam Kompasiana humaniora yang menyatakan bahwa memberi umpan balik positif misalnya memberikan hadiah baik berupa pujian maupun hadiah dapa meningkatkan rasa percaya diri. Selain itu rasa percaya diri juga dapat ditingkatkan dengan memberiakn kesempatan yang sama pada semua peserta didik. Begitu juga suasana belajar yang aman dan nyaman serta membagi kelas menjadi kelompokkelompok kecil juga dapat meningkatkan rasa percaya diri. Pada kondisi awal/pra siklus guru belum menerapkan model pembelajaran TOSERBA RATU diperoleh data banya peserta didik yang tuntas belajarnya 20 peserta didik . ,63%). Pada siklus I guru sudah menerapkan model pembelajaran TOSERBA RATU diperoleh data banyak peserta didik yang tuntas belajarnya 25 peserta didik . ,79%). Berdasarkan uraian di atas, dari kondisi awal ke siklus I ternyata banyak peserta didik yang tuntas belajarnya telah meningkat tetapi belum memenuhi mencapai tingkat keberhasilan parameter yang ditetapkan, sehingga perlu dilanjutkan ke siklus II. Setelah dianalisis terhadap hasil pengamatan dan hasil belajar peserta didik dan ditelaah secara mendalam ternyata terdapat beberapa kelemahan pada siklus I , antara lain: . peserta didik belum mampu melaksanakan model TOSERBA RATU secara baik karena belum terbiasa, . sebagian besar peserta didik kurang persiapan dalam mengerjakan soal kuis, . pemahaman konsep masih kurang sehingga dalam mengerjakan butuh waktu lama, . ketelitian masih kurang karena sering terburu-buru dan grogi. Untuk mengatasi kelemahan tersebut maka pada siklus II diadakan perbaikan-perbaikan, diantaranya . waktu yang diberikan untuk mempelajari materi di buat lebih lama, . diadakan pembetulan konsep yang sering salah dan ditekankan berkali-kali, . Mengganti tutor yang kurang aktif. Pada siklus II guru sudah menerapkan model pembelajaran TOSERBA RATU diperoleh data peserta didik yang tuntas belajarnya 33 peserta didik . ,84%). Berdasarkan uraian di atas, dari siklus I ke siklus II ternyata hasil belajar matematika peserta didik telah meningkat dan telah mencapai tingkat keberhasilan parameter yang Hal ini sesuai pendapat Hisyam Zaini. yang menyatakan bahwa metode belajar yant paling baik adalah dengan mengajarkan pada orang lain. Oleh karena itu pemilihan model pembelajaran tutor sebaya akan sangat membantu peserta dalam belajarnya karena ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 mereka juga mampu mengajarkan materi atau penyelesaian soal kepada teman-temannya. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Agus Triono. yang menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi perkalian pada siswa kelas IV SDN 1 Prambatan Lor kudus. Begitu juga penelitian yang dilakukan Ririn Hariyani, dkk. menyatakan bahwa strategi pemelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIIA SMPN 2 Gatak Sukoharjo tahun pelajaran 2012/2013. Hal tersebut juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Nurmala, dkk . bahwa penerapan model pembelajaran Tutor Sebaya dapat meningkatkan Hasil Belajar Siswa kelas V SDN 20 Toli toli pada operasi Hitung Campuran Bilangan Bulat tahun pelajaran 2012/2013. KESIMPULAN Berdasarkan hasil peneltian dapat disimpulkan bahwa melalui Model Pembelajaran TOSERBA RATU dapat meningkatkan rasa percaya diri dan hasil belajar matematika pada materi polinomial bagi kelas XI MIPA 3 SMA Negeri 1 Mayong semester genap tahun pelajaran 2017/2018 dan terjadi peningkatan rasa percaya diri sebesar 23,68% serta terjadi peningkatan peserta didik yang tuntas belajarnya sebesar 21,05%. DAFTAR PUSTAKA