E-ISSN 2798-3846 Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 PELATIHAN MICROSOFT OFFICE 365 DAN MICROSOFT TEAMS UNTUK MANAJEMEN KELAS DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH Elly Astuti 1*. Supri Wahyudi Utomo 1 Universitas PGRI Madiun *ellyastuti@unipma. id, supri@unipma. ABSTRAK Pembelajaran jarak jauh merupakan suatu kewajiban dalam masa pendemi covid 19. Guru ataupun pendidik lain dalam ruang lingkup yang lebih luas mulai mempertimbangkan penggunaan teknologi pembelajaran secara daring. Keseimbangan antara biaya dan manfaat tentu menjadi fokus utama, di samping komitmen lembaga pendidikannya untuk pemanfaatan teknologi pembelajaran daring Microsoft merupakan salah satu perusahaan teknologi yang menawarkan aplikasi pembelajaran terintegrasi dalam Microsoft Classroom yang mengkombinasikan Microsoft Teams dengan Microsoft Office 365 Online. Semua aplikasi tersebut dapat dimanfaatkan secara gratis dengan syarat lembaga pendidikan memiliki website resmi pendidikan dengan domain ac. id ataupun sch. Namun demikian fasilitas ini belum diketahui secara luas oleh lingkungan akademisi di Indonesia. Untuk itu perlu dilakukan pengabdian untuk memperkenalkan aplikasi ini guna mendukung program pembelajaran jarak jauh yang semakin berkualitas. Metode pelatihan dilakukan dengan demonstrasi dan penugasan mandiri terstruktur dengan jumlah peserta 98 dengan afiliasi institusi yang beragam. Hampir semua peserta merupakan pendidik dari jenjang TK sampai Perguruan Tinggi. Adapun analisis berdasarkan domisili institusi afiliasi, peserta pelatihan ini tersebar dari berbagai wilayah di Indonesia. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa antusiasme peserta sangat tinggi terbukti dari pengerjaan tugas terstruktur secara mandiri dengan baik. Hasil rekap kuisioner menunjukkan bahwa peserta sangat tertarik dan merekomendasikan untuk pemanfaatan aplikasi Microsoft 365 pada institusinya. Kata Kunci: Pembelajaran Daring. Kolaborasi. Teknologi Pendidikan. Kelas Virtual ABSTRACT Distance learning is an obligation during the covid 19 pandemic. Teachers or other educators in a wider scope are starting to consider the use of online learning technology. The balance between costs and benefits is certainly the main focus, in addition to the commitment of educational institutions to the use of online learning technology. Microsoft is a technology company that offers integrated learning applications in Microsoft Classroom that combines Microsoft Teams with Microsoft Office 365 Online. All of these applications can be used for free provided that educational institutions have an official educational website with the domain ac. id or sch. However, this facility is not widely known by the academic environment in Indonesia. For this reason, it is necessary to do dedication to introduce this application to support distance learning programs that are increasingly quality. The training method is carried out by demonstration and structured self-assignment with a total of 98 participants with various institutional affiliations. Almost all of the participants are educators from kindergarten to university level. As for the analysis based on the domicile of the affiliated institutions, the participants of this training were spread from various regions in Indonesia. The results of the training showed that the enthusiasm of the participants was very high, as evidenced by the good work on structured tasks The results of the questionnaire recap show that participants are very interested in and recommend the use of Microsoft 365 applications at their institutions. Keywords: Online Learning. Collaboration. Education Technology. Virtual Class Tanggal Masuk: 19 Maret 2024 Tanggal Diterima: 16 Juni 2024 Halaman: 15-29 Astuti dan Utomo Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 PENDAHULUAN Pada masa pandemi covid-19 melanda hampir seluruh negara di dunia terjadi pergeseran berbagai aspek kehidupan masyarakat. Pendidikan merupakan salah satu aspek yang terdampak sangat signifikan. Sistematika pembelajaran yang semula dilakukan dengan tatap muka mulai diarahkan menggunakan sistem daring. Guru sebagai ujung tombak pendidikan, mau tidak mau harus melakukan adaptasi kegiatan pembelajarannya. Gunasinghe et al. , . menyatakan bahwa berdasarkan Technology Acceptance Model (TAM), penerimaan akademisi / pendidik dalam pemanfaatan teknologi pendidikan berbasis online sangat dipengaruhi lingkungan mandatory dan voluntary. Pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas berguna pada program peningkatan kualitas pertanian selanjutnya. SDM yang profesional dan ahli menjadi salah satu poin penentu pada pembangunan pertanian yang memiliki daya saingtinggi dan berkelanjutan. Langkah-langkah bisa dilaksanakan dalam menguatkan kualitasSDM pada organisasi tani salah satunya dengan pengembangan dan penumbuhan gapoktan dan poktan dengan memberikan pelatihan pada poktan. Wujud dari upaya yangsangat penting adalah pengembangan pada bidang akuntansi pertanian. Pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas diperlukan dalam rangka pelaksanaan pembangunan pertanian berkelanjutan. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadikan lingkungan pembelajaran wajib . dilakukan secara jarak jauh, dan pada akhirnya guru secara sukarela . mulai mempertimbangkan teknologi pendidikan yang Peran teknologi pendidikan sangat penting pada masa ini. Guru, ataupun pendidik dalam ruang lingkup lain yang lebih luas mulai mempertimbangkan masing-masing keunggulan yang ditawarkan oleh pengembang aplikasi pembelajaran. Pertimbangan biaya dan manfaat tentu menjadi perhatian utama. Beberapa menyelenggarakan pendidikan di masa pandemic seperti Google Classroom. Edmodo. Class Dojo. Schoology, dan Microsoft Classroom. Reimers & Schleicher . menjelaskan bahwa pembelajaran online dan kelas virtual dapat menjadi alternatif yang layak dipertimbangkan Basilaia Kvavadze, . mendokumentasikan bahwa penggunaan kelas vitual di Georgia mampu mencapai kesuksesannya dalam masa transisi yang singkat. Astuti dan Utomo Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 Kelas virtual yang mampu terhubung dengan video conference memiliki daya tarik tersendiri karena memungkinkan adanya interaksi antara guru dan siswa walaupun dalam skala Guru merasa lebih nyaman menggunakan video conference dibandingkan media lainnya karena mereka merasa bahwa pendidikan bukanlah sekedar transfer pengetahuan melainkan membutuhkan adanya interaksi untuk membangun karakter para siswanya. Hal ini sangat dimungkinkan ketika Guru dapat melihat ekspresi siswanya dalam kegiatan Namun demikian, kemudahan akses kelas virtual secara gratis ini belum sepenuhnya diketahui oleh lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Banyak kalangan pendidik yang masih kesulitan dalam mengkondisikan kegiatan pembelajarannya dalam situasi ini. Untuk itu, kami menginisiasi pengenalan Microsoft Classroom dengan pemanfaatan Microsoft Teams dan Microsoft Office 365 secara terintegrasi agar dapat dimanfaatkan oleh pendidik secara maksimal dalam kegiatan pembelajaran. Amirullah & Maesaroh . dan Awaru et al. menunjukkan bahwa Microsoft 365 sangat relevan dalam memenuhi kebutuhan guru untuk penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh. Fatikasari et al. mendokumentasikan bahwa aplikasi Microsoft Office 365 dapat digunakan secara efektif untuk mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal melalui media audio-visual yang disajikan dalam fitur Power point. Larasati & Yuanta . semakin menguatkan fungsi dari aplikasi ini utamanya pada fitur Sway yang mampu meningkatkan HOTS peserta didik. Fitur Teams yang terintegrasi dengan Microsoft 365 semakin meningkatkan efektivitas pembelajaran jarak jauh (Sawitri & Icchanti, 2. serta memberikan kemudahan siswa dalam mengakses sumber belajar sehingga mereka merasa senang dalam kegiatan pembelajaran (Kartini, 2. Microsoft 365 ini pun juga dapat mengakomodasi pelaksanaan lomba kompetensi siswa yang dapat diakses secara gratis (Astuti & Utomo, 2. Dengan demikian, diharapkan pelatihan ini dapat memberikan manfaat serupa bagi peserta yang masih kesulitan dalam memfasilitasi pembelajaran jarak jauh pada institusi afiliasinya masing-masing. Astuti dan Utomo Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 METODE Kegiatan pelatihan dimulai dari survei minat dari pendidik untuk mengikuti pelatihan penggunaan aplikasi Microsoft Classroom. Sosialisasi kegiatan dilakukan dengan menyebarkan flyer pelatihan gratis selama 4 hari dengan penugasan terstruktur. Pada awalnya direncanakan bahwa peserta pelatihan hanya berjumlah 40 peserta. Namun respon peserta sangat luar biasa. Ketika flyer disebarkan pada hari JumAoat tanggal 5 Juni 2020 pukul 12. malam sampai hari Sabtu tanggal 06 Juni 2020 pukul 07. 00 pagi hari jumlah pendaftar sudah mencapai 619 peserta. Untuk itu sementra link ditutup, namun banyak peserta yang kemudian menghubungi kontak person untuk didata sementara saja. Menunggu antrian jika sewaktuwaktu ada kuota tambahan. Akhirnya link pendaftaran dibuka kembali hingga pada saat pelatihan dilaksanakan total pendaftar mencapai 817 peserta. Untuk memaksimalkan kegiatan pelatihan, diterapkanlah sistem gugur. Peserta harus mengikuti instruksi penugasan yang dikirimkan melalui email dalam form pendaftaran. Peserta diminta untuk mebuat akun di Microsoft Education Center dan Microsoft Teams secara mandiri dengan panduan video tutorial yang telah dibuat. Setelah pembuatan akun, mereka diarahkan untuk bergabung dalam grup telegram. Pada tahap ini jumlah peserta menyusut hingga tersisa 198 peserta. Peserta dilibatkan dalam penyusunan rundown acara selama 3 hari berikut penugasan terstruktur yang harus dikerjakan. Link kelas pelatihan secara virtual dibagikan secara terintegrasi melalui Microsoft classroom. Peserta yang konsisten mengikuti pelatihan dari awal sampai penutupan selama 3 hari berjumlah 98 orang. Ketika dilakukan wawancara kenapa banyak yang mundur dari kegiatan pelatihan yang diikuti mayoritas mengatakan belum siap dengan teknologinya atau merasa kesulitan harus membuat akun dulu sebelum pelatihan. Peserta kegiatan memiliki afiliasi yang beragam dari seluruh wilayah Indonesia. Mayoritas peserta pelatihan berprofesi sebagai pendidik pada berbagai jenjang pendidikan. Sebelum kegiatan pelatihan dimulai. Instruktur memberikan beberapa penawaran untuk disepakati oleh peserta. Beberapa kesepakatan yang dibuat meliputi jadwal pelatihan, alokasi waktu setiap sesi, media konferensi yang digunakan, sistematika struktur penugasan, serta materi pelatihan yang diinginkan. Kesepakatan ini dilakukan agar peserta merasa nyaman selama kegiatan pelatihan. Ketika pembelajar dilibatkan dalam kesepakatan kelas, mereka merasa terhubung dan dapat membangun pengetahuannya secara mandiri sehingga mampu memperoleh manfaat dari adanya e-mentoring secara maksimal (Dahalan et al. , 2. Astuti dan Utomo Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 Sesuai kesepakatan kegiatan pelatihan, instruktur memberikan pemaparan mengenai pemanfaatan aplikasi selama 2 sampai 3 jam setiap sesi. Setelah pemaparan materi, peserta akan diberikan link video untuk belajar mandiri menggunakan aplikasi. Pembuatan video tutorial ini juga ditujukan untuk membantu peserta agar dapat belajar secara perlahan-lahan mengingat semua peserta yang mengikuti pelatihan berada pada usia dewasa, dimana pada usia ini kemampuan kognitif untuk mempelajari teknologi cenderung menurun (Rotar, 2. Peserta juga diberikan petunjuk penugasan secara terstruktur atas setiap materi yang diberikan agar mereka dapat mengingat step-by-step penggunaan aplikasi. Peserta diminta untuk memanfaatkan fitur-fitur yang disediakan dalam Microsoft classroom yang meliputi Microsoft Teams. Microsoft Office 365 serta Microsoft Education Center secara optimal. Instruktur mengevaluasi ketercapaian tujuan pelatihan dan pemahaman peserta melalui Microsoft One Note yang terintegrasi dengan Class Note Book. Peserta yang belum mencapai kriteria ketuntasan akan dihubungi oleh instruktur untuk mendapatkan pembimbingan lebih intensif diluar kelas pelatihan. Pada akhir pelatihan, peserta juga diminta untuk memberikan evaluasi terhadap program yang telah dilaksanakan untuk mengetahui kebermanfaatan kegiatan pengabdian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelatihan dilakukan secara daring menggunakan platform zoom. Media tersebut dipilih karena pada agenda pelatihan ini, tidak terafiliasi secara langsung dengan pihak Microsoft. Peserta dari kalangan pendidik dengan afiliasi yang sangat beragam dengan berbagai jenjang sehingga tidak mampu terwadahi Microsoft teams. Adapun materi pelatihan meliputi: 1. Pengenalan Microsoft Education Center. Pembelajaran Mandiri office 365 Teacher Academy. Pengenalan dan Pengaplikasian Kelas Virtual dengan Microsoft Teams. Microsoft Forms. One Drive dan Kolaborasi dengan Office 365. Microsoft Sway. Onenote dan Pengorganisasian Kelas dengan ClassNotebook. Mekanisme pelatihan dilaksanakan selama tiga hari . elas terstruktu. dan empat belas hari penugasan mandiri. Setiap sesi pelatihan dilaksanakan selama 8 jam sehingga total pertemuan adalah 32 jam. Pelatihan pada hari pertama adalah pengenalan Microsoft Education Center dan Pemanfaatan Microsoft Teams. Microsoft Education Center (MEC) merupakan situs website yang dapat digunakan oleh pendidik dalam meningkatkan pemahamnnya untuk merancang sistem pembelajaran yang inovatif, kreatif dan efektif pada abad 21. Pendidik dapat Astuti dan Utomo Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 memilih paket-paket kursus yang ditawarkan oleh Microsoft secara gratis. Setelah meyelesaikan paket kursus yang disediakan. Microsoft akan memberikan sertifikat sesuai jenis kursus dan juga rekapan transkip yang memuat paket kursus apa saja yang telah diikuti oleh Gambar 1. Contoh Sertifikat MEC Gambar 2. Contoh Transkip Pelatihan MEC Untuk memperkuat pemahaman peserta dalam pemanfaatan Microsoft Classroom, penugasan mandiri peserta diarahkan untuk mengerjakan paket kursus Office 365 Teacher Academy. Peserta diminta untuk mengumpulkan 7500 poin dalam pelatihan tersebut. Untuk mendampingi peserta dalam pengerjaan tugas mandiri. Instruktur membentuk grup di telegram guna konsultasi jika peserta mengalami kendala. Astuti dan Utomo Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 Gambar 2. Contoh Transkip Pelatihan MEC Untuk memperkuat pemahaman peserta dalam pemanfaatan Microsoft Classroom, penugasan mandiri peserta diarahkan untuk mengerjakan paket kursus Office 365 Teacher Academy. Peserta diminta untuk mengumpulkan 7500 poin dalam pelatihan. Untuk mendampingi peserta dalam pengerjaan tugas mandiri. Instruktur membentuk grup di telegram guna konsultasi jika peserta mengalami kendala. Gambar 3. Kosultasi peserta dalam pengerjaan tugas MEC Materi kedua pelatihan sesi pertama dilanjutkan denggan pemanfaatan aplikasi Microsoft Teams. Peserta diperkenalkan semua fitur dan fungsi dalam Microsoft Teams. Namun dalam pelatihan ini agak terkendala karena peserta berasal dari berbagai institusi yang berbeda sehingga tidak bisa gabung dalam satu teams yang sama. Fitur teams dalam Microsoft teams hanya bisa digunakan dalam satu domain yang sama. Kolaborasi dalam teams dengan domain yang berbeda hanya memungkinkan dalam kegiatan rapat / konferensi saja, tidak untuk Astuti dan Utomo Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 pembuatan teams Class. Professional Learning Community (PLC). Staff ataupun Others . umpulan hobi, asosiasi dan lain-lai. Untuk itu dalam kegiatan role play, pemanfaatan Microsoft teams peserta diminta untuk bergabung dengan peserta lain yang berasal dari institusi yang sama. Jika tidak ada, maka peserta diminta untuk memperkenalkan teams pada teman institusinya untuk latihan. Namun demikian, ternyata tidak semua institusi dapat memanfaatkan Microsoft teams dan Microsoft office 365 secara gratis. Ada beberapa ketentuan yang dipersyaratkan oleh Microsoft seperti jumlah pengguna sebagai guru / dosen dan mahasiswa dalam institusi pendidikan, jumlah karyawan dalam organisasi / asosiasi. Beberapa institusi yang belum terdaftar dalam list Microsoft dapat mendaftarkan diri secara mandiri dengan melakukan setting dns yang dimiliki institusi. Syarat yang diajukan oleh Microsoft adalah memiliki website dengan domain institusi pendidikan . id untuk kampus dan sch. id untuk sekola. Jika tidak memenuhi kriteria, lembaga hanya bisa memanfaatkan fiturnya secara berbayar. Hal ini tentu memerlukan komitmen dari lembaga pendidikan dimana guru / dosen tersebut berafiliasi. Sebenarnya guru dapat memperoleh akun gratis hanya dengan pendaftaran mandiri menggunakan email pribadinya yang berafiliasi institusi. Namun pendaftaran mandiri tersebut, hanya dapat menggunakan fasilitas Microsoft teams secara terbatas. Tidak ada menu calendar untuk penjadwalan rapat / pertemuan. Beberapa peserta pelatihan terkendala dengan dukungan institusi. Untuk itu, instruktur menyarankan untuk konsultasi kepada pimpinan dan staf IT lembaga pendidikannya jika memang berkomitmen untuk memanfaatkan fitur gratisnya secara penuh. Beberapa peserta yang kebetulan adalah staf IT suatu lembaga pendidikan, mengikuti instruksi yang diberikan untuk melakukan setting dns di lembaga pendidikannya. Fitur Microsoft teams langsung dapat digunakan hanya selang 15 menit dari pendaftarannya. Gambar 4. Sharing Hasil Setting Dns Dan Pendaftaran Akun Gratis Untuk Lembaga Pendidikan Astuti dan Utomo Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 Pelatihan hari kedua dan ketiga difokuskan untuk pembahasan fitur-fitur dalam Microsoft Office 365 Online. Materi pertama dimulai dengan pengenalan Microsoft Forms. Microsoft forms dapat digunakan untuk membuat form dalam melaksanakan fungsi administratif pendidikan seperti pendaftaran peserta didik, pendaftaran seminar, pendaftaran ujian dan lain-lain. Fitur lain dari Microsoft Forms adalah untuk membuat kuis yang dapat digunakan sebagai alat evaluasi dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik. Materi hari kedua setelah forms dilanjutkan dengan pemanfaatan onedrive sebagai tempat penyimpanan data dan saling berbagi file secara online. Peserta dipandu untuk mengupload file yang digunakan untuk berkeja secara kolaboratif, menyalin link untuk berbagi file, mengatur password untuk memproteksi file yang dibagikan. Ketika pemanfaatan office 365 online. Instruktur memberikan contoh membuat suatu file powerpoint, excel dan document lalu membagikan linknya kepada peserta melalui fasilitas chat yang disediakan oleh Microsoft Teams ketika menyelenggarakan rapat / pertemuan. Beberapa peserta ikut berkolaborasi mengisi file yang dibagikan. Instruktur memandu pembagian peran dan tugas masing-masing kolaborator. Melalui role-play yang diberikan, peserta semakin memahami bahwa dalam ruang kelas virtual, mereka tetap dapat berkolaborasi memecahkan suatu masalah secara bersama-sama. Kondisi tersebut sesuai dengan pernyataan Lin et al. , . bahwa ketika suatu kelompok diberikan suatu studi kasus secara multitasking mereka akan berkolaborasi secara efektif, walaupun tidak bertemu secara langsung . elalui kelas virtua. Pelatihan hari ketiga meliputi pemanfaatan OneNote. ClassNotebook dan Microsoft Sway. Fitur dan fungsi yang dimiliki OneNote dan ClassNotebook sebenarnya sangat mirip yaitu sebagai media catatan bagi pendidik dan peserta didik. Bedanya adalah OneNote lebih ClassNotebook menggabungkan OneNote Individual siswa dan guru secara terintegrasi. Ketika kegiatan pelatihan, instruktur memberikan contoh pemanfaatan OneNote untuk mendesain kegiatan pembelajaran mulai dari kontrak dengan siswa, rencana materi pembahasan setiap pertemuan, hingga perencanaan ujian yang dilaksanakan. Pada sesi ini peserta diberikan panduan untuk mengintegrasikan Office 365 Online dalam satu buku catatan OneNote Sedangkan untuk ClassNotebook instruktur mendemonstrasikan pengaplikasiannya dalam ruang lingkup kelas virtual dimana guru dapat memantau penugasan kepada siswa secara berkala, ruang kolaboratif antara guru dengan siswa serta antar siswa. ClassNotebook Astuti dan Utomo Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 memungkinkan privasi dari data perkerjaan siswa karena siswa lain tidak dapat melihat tugas Akses penuh hanya dimiliki oleh guru. Fitur yang disedikan memungkinkan interaksi yang lebih intensif antara guru dengan siswa guna memberikan authentic assessment. Penggunaan ClassNotebook juga memungkinkan siswa dalam kelompok minoritas atau yang selalu pasif di kelas tradisional lebih leluasa dalam berkonsultasi tugas dengan guru serta memberikan opininya. Ke & Kwak . menyatakan bahwa pembelajaran daring dengan kelas virtual mampu membangun persepsi yang lebih baik antara guru dengan siswa karena interaksi yang semakin intensif. Materi terakhir adalah Microsoft Sway. Fitur ini digunakan untuk membuat digital story Instruktur memberikan contoh pembuatan media pembelajaran story telling dengan menggunakan Sway. Setelah peserta memperhatikan langkah-langkah untuk membuat story telling, mereka diberikan tugas untuk mebuat story tellingnya sendiri yang berisi pengalaman selama mengenal Microsoft Education Center. Microsoft Teams dan Microsoft Office 365. Beberapa testimoni peserta menyatakan bahwa pembuatan story telling dengan sway dapat dijadikan referensi media pembelajaran di kelas karena tampilannya yang menarik. Harapan dari implementasi aplikasi ini diruang kelas adalah untuk mencegah kebosanan siswa ketika mengikuti pembelajaran jarak jauh. Microsoft sway dapat digunakan sebagai media alternatif pembelajaran lainnya selain Microsoft power point, karena penggunaan media yang interkatif dan bervariasi dapat meningkatkan capaian pembelajaran yang direncanakan oleh guru. Hal ini sesuai dengan Hermawati et al. , . yang mendokumentasikan bahwa siswa yang menggunakan media pembelajaran interaktif memiliki capaian pembelajaran yang lebih baik jika dibandingkan dengan siswa yang hanya menggunakan power point dalam kegiatan pembelajarannya. Selaras dengan kondisi tersebut. Iasha et al. Khan et al. dan Mahmud . menyatakan bahwa peran media pembelajaran berdampak positif terhadap capaian pembelajaran siswa. Kegiatan hari terakhir adalah sesi diskusi bebas untuk bertukar pengalaman antara instruktur dengan peserta maupun antar peserta untuk melakukan evaluasi dari kegiatan yang telah dilaksanakan. Dalam sesi diskusi, peserta sangat antusias karena kebimbangan dan kebingungannya untuk mengkondisikan siswa dalam pembelajaran jarak jauh ini akhirnya bisa menemukan sedikit titik terang. Respon kepuasan peserta dalam mengikuti pelatihan juga dibuktikan dengan matriks NPS yang cukup baik. Peserta diberikan beberapa pertanyaan terkait rekomendasi mereka atas Astuti dan Utomo Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 kegiatan pelatihan yang dilaksanakan, aplikasi yang dikenalkan dan kemungkinan implementasinya di masa yang akan datang. Berdasarkan respon peserta, nilai tertinggi diberikan pada rentang passives, selisih tidak jauh berada pada rentang promoters, dengan jumlah detractorsAo sangat jauh dibawahnya. Promoters Passives Detractors Gambar 5. Grafik Respon Peserta atas Kegiatan Pelatihan Adapun pertanyaan yang diajukan kepada peserta adalah sebagai berikut: Q1. Bagaimanakah metode yang digunakan instruktur dalam menjelaskan materi? Q2. Bagaimanakah instruktur memberikan solusi terhadap permasalahan atas tugas yang Q3. Bagaimanakah kemungkinan implementasi office 365 dalam kegiatan pembelajaran Bapak / Ibu? Q4. Bagaimanakah kemungkinan Bapak / Ibu menyarankan aplikasi ini kepada rekan kerja untuk berkolaborasi? Gambar 6. Hasil analisis NPS atas kualitas pelatihan yang diberikan oleh Instruktur Astuti dan Utomo Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 Gambar 7. Hasil analisis NPS untuk Implementasi Aplikasi Microsoft Classroom dalam Pembelajaran Berdasarkan respon atas kegiatan pelatihan (Gambar . serta hasil penugasan terstuktur yang dilakukan, tujuan pelatihan ini telah tercapai dengan baik. Kondisi peserta yang kooperatif dalam pertemuan kelas virtual, pengerjaan tugas terstruktur secara mandiri dan sesi konsultasi yang efektif dapat tercapai karena adanya kesepahaman antara instruktur dengan peserta sejak awal kesepakatan kegiatan pelatihan. Hal ini sesuai dengan Chen et al. , . yang menyatakan bahwa ketika aktivitas pendidikan menggunakan teknologi pembelajaran dan peserta diberikan kesempatan untuk membentuk kesepakatan, akan memberikan dampak positif dalam capaian pembelajaran yang diharapkan. Namun demikian untuk hasil NPS kemungkinan implementasi dan sosialisasi ke rekan kerja, lebih rendah dibandingkan dengan respon positif atas pelaksanaan kegiatan. Beberapa peserta memang menyatakan komitmennya untuk langsung mengimplementasikan aplikasi ini ketika kembali ke aktivitas pembelajarannya di institusi masing-masing. Namun demikian, banyak peserta lain yang sebenarnya tertarik namun terkendala oleh izin pimpinan institusinya, karena untuk mengaplikasikan Microsoft Classroom secara penuh diperlukan komitmen atasan untuk melakukan setting dns IT institusi serta melakukan pendaftaran kepada Microsoft. Hal inilah yang mungkin perlu diperhatikan oleh pejabat pembuat kebijakan dalam tataran institusi kampus ataupun pejabat di tingkat atasnya, seyogyanya meberikan fasilitas sarana dan prasarana guna mendukung pembelajaran jarak jauh yang semakin berkualitas. Jika melakukan pertimbangan biaya dan manfaatpun aplikasi ini sangat direkomendasikan karena seluruh civitas akademika dapat memperolehnya secara gratis . engorbanan Rp . Astuti dan Utomo Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 SIMPULAN DAN SARAN Kegiatan Antusiasme peserta pelatihan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran jarak jauh sangat tinggi. Berdasarkan hasil diskusi, mereka telah mencoba beberapa aplikasi untuk mendukung kegiatan pembelajarannya dan Microsoft Classroom adalah salah satu aplikasi yang paling powerfull karena mampu mengintegrasikan semua proses pembelajaran secara Peserta mengimplementasikannya dalam kegiatan pembelajaran secara riil. Namun demikian, kurangnya komitmen pimpinan institusi ataupun dukungan sarana dan prasarana menjadikan kebermanfaatan aplikasi tidak dapat dioptimalkan. Untuk itu perlu adanya dukungan dari pimpinan institusi ataupun pejabat yang berwenang untuk mengakomodasi kebutuhan pendidik terutama penyediaan sarana dan prasarana guna mendukung aktivitas pembelajaran jarak jauh yang berkualitas. Astuti dan Utomo Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 DAFTAR PUSTAKA