VOCAT : Jurnal Pendidikan Katolik Vol. No. Tahun 2024. Hal. 46 - 57 Website: https://ejournal. id/index. php/vocat PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR DI KELAS Vi SMPN 2 SUNGAI KUNYIT Adriani Delsepin1. Metoddyus Tri Brata Role2*. Varetha Lisarani3 1,2,3 Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Email: adrianiaddel@gmail. com1, metoddyusrole85@gmail. betzyvarethalisarani@gmail. Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas Vi di SMPN 2 Sungai Kunyit dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik (PAK) yang dinilai rendah. Studi ini menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) sebagai upaya intervensi. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan dalam dua siklus, masing-masing terdiri dari empat tahap: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 10 peserta didik kelas Vi SMPN 2 Sungai Kunyit pada tahun ajaran 2023/2024. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan kuesioner motivasi belajar peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam motivasi belajar peserta didik dari pra-siklus, siklus I, hingga siklus II. Pada tahap pra-siklus, motivasi belajar peserta didik hanya mencapai 30%. Selama siklus I, motivasi belajar menurun menjadi 20% akibat penerapan model yang kurang optimal, sementara indikator keberhasilan ditetapkan pada Setelah refleksi dan perbaikan, pada siklus II motivasi belajar peserta didik meningkat tajam menjadi 90%. Kesimpulannya, penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik pada materi "Yesus Mewartakan Kerajaan Allah Melalui Tindakan atau Mukjizat" di kelas Vi SMPN 2 Sungai Kunyit. Kata kunci: Motivasi Belajar. Model Pembelajaran Problem Based Learning Abstract: This study was conducted to enhance the learning motivation of Grade Vi students at SMPN 2 Sungai Kunyit in the subject of Catholic Religious Education (PAK), which was deemed low. The study employed the Problem-Based Learning (PBL) model as an intervention. Classroom Action Research (CAR) was conducted in two cycles, each consisting of four stages: planning, implementation, observation, and reflection. The subjects of the study were 10 Grade Vi students at SMPN 2 Sungai Kunyit for the 2023/2024 academic year. Data were collected through observation sheets and student motivation questionnaires. The results showed a significant increase in student learning motivation from the pre-cycle. Cycle I, to Cycle II. In the pre-cycle stage, students' learning motivation reached only During Cycle I, learning motivation dropped to 20% due to suboptimal implementation of the model, with the success indicator set at 80%. After reflection and improvements, in Cycle II, students' learning motivation sharply increased to 90%. In conclusion, the application of the Problem-Based Learning model proved effective in enhancing students' learning motivation in the material "Jesus Proclaims the Kingdom of God Through Actions or Miracles" in Grade Vi at SMPN 2 Sungai Kunyit. Key words: Learning Motivation. Problem Based Learning Model PENDAHULUAN Pendidikan di sekolah memiliki peran krusial dalam membentuk wawasan dan keterampilan peserta didik yang berguna bagi kehidupan di masa mendatang. Pendidikan tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan karakter dan potensi individu untuk mencapai prestasi yang optimal. Seharusnya, pendidikan di sekolah dapat menghasilkan generasi yang berkualitas, yang memiliki kemampuan untuk belajar dengan giat, bersemangat, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Motivasi belajar menjadi salah satu faktor penentu dalam mencapai mutu hasil belajar peserta didik yang diharapkan (Cahyono, dalam Masitoh, 2023: . Namun, tantangan yang dihadapi oleh banyak sekolah adalah rendahnya motivasi belajar di kalangan peserta didik, yang dapat menghambat proses pembelajaran dan pencapaian tujuan pendidikan secara Setiap individu memerlukan motivasi dalam belajar untuk memiliki tujuan hidup yang jelas, terutama peserta didik di sekolah. Namun, tidak semua peserta didik mampu untuk membangun motivasi tersebut dalam dirinya. Banyak peserta didik ditemukan memiliki motivasi belajar yang rendah karena kurangnya tujuan atau pencapaian yang jelas dalam proses belajar mereka, serta berbagai faktor eksternal yang menghambat motivasi mereka. Akibatnya, beberapa peserta didik memandang pembelajaran di sekolah hanya sebagai formalitas dan tidak serius dalam menyikapi materi yang disampaikan oleh guru. Motivasi belajar yang rendah di kalangan peserta didik dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor utama adalah metode pengajaran yang kurang menarik dan tidak melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran. Rumhadi . 7: . menyatakan bahwa motivasi belajar terbagi dalam dua jenis yaitu, motivasi intrinsik yang dirangsang oleh faktor dari dalam dan motivasi ektrinsik yang dirangsang oleh faktor dari luar diri peserta didik. Kedua jenis motivasi ini memiliki peran yang sangat esensial dalam mengembangkan aktivitas dan inisiatif peserta didik dalam proses pembelajaran. Menurut Haryati . 0: . motivasi belajar sangat penting bagi peserta didik selama proses pembelajaran di Meti . menyatakan bahwa guru memiliki peran dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik dengan cara mendorong peserta didik berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar mengajar, menciptakan metode pembelajaran yang bervariasi dan inovatif, meningkatkan antusiasme dan semangat belajar, memberikan penghargaan kepada peserta didik, mengadakan kompetisi, serta memberikan sanksi. Oleh karena itu, guru memiliki tanggung jawab besar dalam menarik minat peserta didik dengan menyajikan pelajaran di sekolah secara menarik, sehingga peserta didik terdorong dan termotivasi dalam proses pembelajaran yang berlangsung di dalam Bertolak dari pra obervasi yang dilakukan peneliti di SMPN 2 Sungai Kunyit kala PPL, ditemukan beberapa tanda kurangnya motivasi belajar peserta didik di kelas Vi terhadap materi AuYesus Mewartakan Kerajaan Allah Melalui Tindakan atau MukjizatAy pada mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik adalah rendahnya minat peserta didik saat mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Katolik. Rendahnya minat peserta didik saat mengikuti pembelajaran pada materi AuYesus Mewartakan Kerajaan Allah melalui Tindakan atau MukjizatAy dapat dilihat dari cara penyajian materi oleh guru yang mampu memengaruhi minat peserta didik untuk menerima materi Penyajian materi dilakukan dengan metode ceramah, membaca teks dan mencatat, peserta didik tampak mudah bosan sehingga tidak mampu mengolah informasi yang terkandung dalam materi, serta tidak dapat menemukan intisari dan pemecahan masalah yang dapat diteladani. Ketika guru memberikan pekerjaan rumah, banyak peserta didik tidak menyelesaikan tugas tersebut. Saat tiba waktu pengumpulan, mereka sering memberikan berbagai alasan untuk mendapatkan kelonggaran dari guru. Ini mengindikasikan bahwa antusiasme peserta didik sebagai wujud motivasi intrinsik dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Katolik masih rendah. Selain itu, kurangnya dukungan dari orang tua di rumah sebagai motivasi ekstrinsik juga berperan dalam mengingatkan dan mendorong peserta didik untuk menyelesaikan tugas sekolah mereka. Rasidi & Salim . 1: . menyatakan bahwa semakin tepat motivasi yang diberikan, maka keberhasilan peserta didik dalam usaha belajarnya juga akan semakin mudah tercapai. Berdasarkan problem yang telah dikemukakan, maka penelitian ini didesain dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada materi "Yesus Mewartakan Kerajaan Allah Melalui Tindakan atau Mukjizat". Tujuan penerapan model ini adalah untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik. Problem Based Learning, atau pembelajaran berbasis masalah, adalah pendekatan yang mengarahkan fokus pada masalah tertentu dalam proses pembelajaran, yang kemudian digunakan untuk memotivasi serta menyampaikan konsep-konsep pembelajaran kepada peserta didik (Rosyidah. Nagara & Supriana, 2019: 46-. Istiningtyas . 8: . mengungkapkan bahwa upaya meningkatkan motivasi belajar peserta didik dapat dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. Kurangnya motivasi belajar peserta didik terhadap Pendidikan Agama Katolik dapat menyebabkan rendahnya minat belajar pada materi yang Hal ini berakibat pada lemahnya fokus dan pemahaman peserta didik terhadap mata pelajaran ini, yang merupakan salah satu syarat utama untuk lulus. Pendidikan Agama Katolik adalah mata pelajaran yang abstrak, sehingga banyak guru cenderung menggunakan metode konvensional dalam pengajarannya. Namun yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran ini adalah ranah kognitif atau pemahaman akan konsep. Metode tradisional pembelajaran yang dipimpin oleh guru cenderung mengurangi partisipasi dan keterlibatan peserta didik dalam proses belajar, sehingga menyebabkan mereka kehilangan fokus terhadap materi yang diajarkan karena merasa bosan. Jika dibiarkan terus-menerus, hal ini dapat berdampak negatif pada kemajuan peserta didik dan menurunkan motivasi mereka dalam mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Katolik (Safio. Jediut & Robe, 2020: . Oleh karena itu, untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, peneliti memutuskan untuk menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning di kelas Vi SMP Negeri 2 Sungai Kunyit, dengan harapan motivasi belajar ini juga mampu membangun kesadaran dan kemandirian para peserta didik terhadap fokus dan pemahaman materi pembelajaran yang diberikan. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) menempatkan peserta didik sebagai pusat dari proses pembelajaran. PBL mengarahkan peserta didik untuk aktif mencari solusi terhadap masalah yang diberikan, yang pada gilirannya meningkatkan keterlibatan dan motivasi mereka dalam belajar. Rosyidah. Nagara, dan Supriana . 9: 46-. menyatakan bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik karena metode ini mendorong mereka untuk berpartisipasi aktif dan berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas model PBL dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik, khususnya pada materi "Yesus Mewartakan Kerajaan Allah Melalui Tindakan atau Mukjizat". Lebih jauh lagi. Istiningtyas . 8: . menegaskan bahwa PBL dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi rendahnya motivasi belajar peserta didik. Penerapan PBL tidak hanya meningkatkan minat belajar, tetapi juga membantu peserta didik mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis yang esensial dalam memahami konsep-konsep abstrak dalam Pendidikan Agama Katolik. Dalam konteks ini. PBL berfungsi sebagai jembatan antara teori dan praktik, memungkinkan peserta didik untuk menerapkan pengetahuan mereka dalam situasi nyata yang relevan dengan kehidupan mereka. Penelitian ini juga merujuk pada kajian literatur yang menunjukkan bahwa motivasi belajar merupakan faktor kunci dalam keberhasilan akademik. Haryati . 0: . menekankan pentingnya motivasi belajar dalam proses pembelajaran di sekolah, yang mendukung hasil penelitian sebelumnya tentang pengaruh positif motivasi terhadap prestasi akademik. Selain itu. Rasidi & Salim . 1: . menekankan bahwa motivasi yang tepat dapat memudahkan peserta didik mencapai keberhasilan dalam belajar. Dengan demikian, penelitian ini menggabungkan teori dan bukti empiris untuk mendukung penerapan PBL sebagai strategi untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi ilmiah yang signifikan dengan mengeksplorasi efektivitas model pembelajaran Problem Based Learning dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik di SMP Negeri 2 Sungai Kunyit. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi para pendidik dalam memilih dan menerapkan metode pembelajaran yang lebih efektif untuk meningkatkan motivasi dan prestasi akademik peserta didik Dari hasil penelitian dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning di SMP Negeri 2 Sungai Kunyit pada topik "Yesus Mewartakan Kerajaan Allah Melalui Tindakan atau Mukjizat", terlihat bahwa motivasi belajar peserta didik kelas Vi mengalami peningkatan yang cukup berarti. Peserta didik yang telah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang ditetapkan menunjukkan beberapa perubahan dalam sikap belajar, dari yang sebelumnya proses pembelajaran hanya berfokus pada guru dan peserta didik yang sibuk sendiri dan sering bermain handphone, setelah menerapkan metode pembelajaran PBL, peserta didik menjadi lebih energik dalam berpartisipasi dalam diskusi kelompok dan fokus pada pemecahan masalah dalam pembelajaran yang diberikan. METODE Studi ini merupakan bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK), atau yang dikenal sebagai Classroom Action Research. Dalam penelitian ini, fokus utamanya adalah peran guru sebagai fasilitator pembelajaran, sementara peneliti berperan sebagai pengamat. Objek penelitian meliputi 10 peserta didik, terutama yang menganut agama Katolik, di kelas Vi SMPN 2 Sungai Kunyit. Penelitian ini dilakukan selama semester ganjil dari akhir bulan Agustus hingga akhir bulan September 2023. Pendekatan PTK yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari empat tahap utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan, peneliti menetapkan jadwal pertemuan dan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. Proses perencanaan juga melibatkan penyusunan lembar observasi untuk memantau pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan RPP, serta penyusunan kuesioner untuk mengevaluasi motivasi belajar peserta didik. Alat pengukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tentang motivasi belajar Pendidikan Agama Katolik. Kuesioner ini menggunakan skala Likert yang terdiri dari pernyataan positif sebanyak 14 pernyataan dan pernyataan negatif sebanyak 11 pernyataan. Total terdapat 25 pernyataan dalam kuesioner ini dengan pilihan jawaban dari Sangat Setuju (SS). Setuju (S). Tidak Setuju (TS), hingga Sangat Tidak Setuju (STS). Bobot nilai yang diberikan untuk pernyataan positif adalah 4, 3, 2, dan 1, sedangkan untuk pernyataan negatif adalah 1, 2, 3, dan 4. Kuesioner tentang motivasi belajar Pendidikan Agama Katolik ini dirancang berdasarkan indikator-indikator motivasi belajar, yang mencakup adanya hasrat dan keinginan berhasil, adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, adanya harapan dan cita-cita masa depan, adanya penghargaan dalam belajar, adanya kegiatan yang menarik dalam belajar serta adanya situasi belajar yang kondusif. Penelitian ini memiliki beberapa tahapan yang perlu dilaksanakan yakni berupa siklus. Pelaksanaan jumlah siklus ditentukan oleh ketercapaian indikator keberhasilan yang telah Siklus akan dihentikan setelah motivasi belajar peserta didik berhasil mencapai target yang telah ditetapkan, yakni setidaknya 8 dari 10 orang peserta didik di kelas Vi SMPN 2 Sungai Kunyit mendapat skor angket motivasi belajar minimal 80. Menurut Parnawi . 0: . , siklus PTK terdiri dari empat langkah yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Dalam konteks penelitian ini, prosedur yang diterapkan dalam setiap siklus penelitian diuraikan sebagai Dalam tahap perencanaan, peneliti menetapkan jadwal pertemuan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses perencanaan melibatkan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. Selain itu, juga disusun lembar observasi untuk mengawasi pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan RPP, dan menyusun kuesioner untuk mengevaluasi motivasi belajar peserta didik. Langkah berikutnya adalah pelaksanaan tindakan, di mana rencana yang telah disusun sebelumnya diimplementasikan secara langsung dalam kegiatan pembelajaran. Pada tahap ini, model pembelajaran Problem Based Learning diterapkan dalam proses belajar mengajar, sementara peneliti mengamati jalannya kegiatan pembelajaran untuk memantau keefektifan intervensi. Observasi dilakukan secara serentak dengan pelaksanaan langkah-langkah yang telah direncanakan untuk memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan sesuai dengan rencana dan untuk menilai dampaknya terhadap motivasi belajar peserta didik. Setelah siklus pertama selesai, peserta didik diberikan angket motivasi belajar untuk mengukur perubahan motivasi mereka. Tahap observasi melibatkan pengumpulan data secara sistematis selama pelaksanaan tindakan. Data yang dikumpulkan meliputi hasil angket motivasi belajar serta catatan observasi tentang perilaku dan partisipasi peserta didik selama proses Pengamatan ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana tindakan yang dilakukan mampu mencapai perubahan yang diharapkan dalam motivasi belajar peserta didik. Langkah terakhir adalah refleksi, yang merupakan evaluasi terhadap pelaksanaan tindakan pada suatu siklus. Refleksi ini melibatkan analisis data yang dikumpulkan dari angket motivasi belajar dan observasi pada setiap pertemuan. Hasil analisis digunakan sebagai dasar untuk merencanakan tindakan yang akan dilakukan pada siklus berikutnya. Refleksi memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari tindakan yang telah dilaksanakan, serta untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan agar tujuan penelitian tercapai. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melibatkan penggunaan kuesioner motivasi belajar dan lembar observasi. Kuesioner digunakan untuk mendapatkan data kuantitatif mengenai tingkat motivasi belajar peserta didik, sedangkan lembar observasi digunakan untuk mengumpulkan data kualitatif mengenai proses pembelajaran dan partisipasi peserta didik. Pengembangan instrumen kuesioner didasarkan pada indikator-indikator motivasi belajar yang telah teruji validitasnya, sehingga dapat memberikan hasil yang akurat dan dapat diandalkan. Analisis data dilakukan dengan mengolah hasil angket motivasi belajar dan catatan observasi. Data kuantitatif dari angket dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk melihat distribusi skor motivasi belajar peserta didik, sedangkan data kualitatif dari observasi dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola-pola yang muncul selama proses pembelajaran. Hasil analisis ini digunakan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan untuk merencanakan tindakan selanjutnya dalam siklus penelitian. Dengan pendekatan PTK yang sistematis dan terstruktur, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik, khususnya dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik, serta memberikan model pembelajaran yang efektif yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah lain. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum melaksanakan penelitian tindakan kelas dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning, peneliti perlu mengumpulkan data awal sebagai dasar untuk memahami tingkat motivasi belajar peserta didik sebelum diberikan intervensi. Pengambilan data awal ini dilaksanakan dalam pra siklus, yakni pengambilan data angket motivasi belajar pada pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode yang berbeda, yakni menggunakan metode konvesional pada materi pembelajaran yang sama dengan penelitian yang dilaksanakan dalam siklus. Hasil angket motivasi belajar yang diperoleh sebelum siklus intervensi, yang dikumpulkan menggunakan metode pembelajaran konvensional, seperti yang ditampilkan pada Tabel 1. Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Angket Motivasi Belajar Peserta Didik Pra Siklus No. Nama Total Skor Angket KCS KMM RHA Berdasarkan data pra siklus pada Tabel 1, dapat diamati bahwa terdapat 3 orang peserta didik yang mencapai target indikator keberhasilan dengan skor minimal 80. Ini mengindikasikan bahwa motivasi belajar peserta didik kelas Vi SMPN 2 Sungai Kunyit masih tergolong rendah. Oleh karena itu, diperlukan tindakan untuk meningkatkan motivasi belajar tersebut melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning. Sebelum memulai tindakan siklus, peneliti dan guru mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik telah menetapkan bahwa tindakan akan dilakukan selama dua kali pertemuan. Hal ini disebabkan oleh materi yang akan disampaikan dalam siklus ini yang mencakup tugas kelompok yang akan dijadikan pekerjaan rumah, serta akan dipresentasikan pada pertemuan berikutnya. Siklus I dilaksanakan melalui empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan tindakan, peneliti telah menyiapkan bahan-bahan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai panduan dalam menjalankan tindakan penelitian. RPP tersebut kemudian diserahkan kepada guru Pendidikan Agama Katolik sebagai pengajar dalam Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tentang "Yesus Mewartakan Kerajaan Allah Melalui Tindakan atau Mukjizat", yang akan diterapkan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning. Materi pembahasan meliputi diskusi tentang "hubungan konteks permasalahan antara mukjizat yang dilakukan oleh Yesus pada masanya dengan mukjizat yang terjadi pada masa sekarang". Peneliti juga telah menyiapkan lembar observasi untuk mengumpulkan data melalui pengamatan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas. Selain itu, peneliti juga menyusun angket mengenai motivasi belajar yang mencakup pernyataan-pernyataan terkait motivasi belajar peserta didik. Angket ini akan diisi oleh peserta didik pada pertemuan kedua setelah materi pembelajaran selesai diberikan. Pada siklus I, tindakan dilaksanakan dalam dua sesi pertemuan. Pertemuan pertama diadakan pada hari Rabu, 6 September 2023, dan pertemuan kedua diadakan pada hari Rabu, 20 September 2023. Masing-masing pertemuan berlangsung selama 3 x 40 menit atau sekitar 120 menit, dengan standar kompetensi dan indikator pencapaian yang sama. Proses pembelajaran dimulai dengan menonton video pembelajaran mengenai kisah Yesus menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan dan video pembelajaran tentang kesaksian Kezia Yamamoto yang sembuh dari penyakit kronis. Setelah itu, dilakukan kegiatan diskusi kelompok. Namun, kebanyakan peserta didik tidak menunjukkan semangat yang besar dalam mengikuti pelajaran, hanya sedikit yang aktif berpartisipasi dengan menjawab pertanyaan dari guru. Pada pertemuan kedua, rencananya adalah untuk melaksanakan presentasi hasil diskusi kelompok. Namun, karena tidak ada satupun kelompok yang menyelesaikan tugas tersebut, kegiatan presentasi diganti dengan sesi tanya jawab terkait penjelasan materi. Deskripsi hasil observasi pada siklus ini menunjukkan bahwa tahapan observasi dilakukan secara simultan dengan pelaksanaan tindakan Selama pembelajaran berlangsung, peneliti bertindak sebagai pengamat yang berada di bagian belakang kelas untuk memantau jalannya kegiatan belajar mengajar dan kesesuaian penyajian materi oleh guru dengan desain prosedur yang ditetapkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hasil observasi menunjukkan bahwa prosedur pembelajaran yang telah disusun dalam RPP tidak sepenuhnya dijalankan dan disampaikan oleh guru. Beberapa aktivitas pembelajaran seperti pemberian tugas kelompok dan penjelasan tata cara pembelajaran pada pertemuan berikutnya tidak disampaikan langsung oleh guru di kelas, tetapi melalui media online seperti aplikasi WhatsApp. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan waktu pembelajaran yang berada di akhir jam pelajaran dan desakan para peserta didik untuk pulang, sehingga guru kesulitan dalam mengatur waktu pembelajaran. Akibatnya, pelaksanaan pembelajaran tidak berlangsung secara optimal sesuai dengan prosedur yang telah direncanakan. Pada pertemuan kedua, observasi menunjukkan bahwa tugas kelompok yang diberikan pada pertemuan sebelumnya tidak dikerjakan oleh peserta didik, sehingga presentasi yang direncanakan pada pertemuan tersebut terpaksa digantikan dengan diskusi ringan dan tanya jawab tentang materi yang sama dengan pertemuan Hal ini disebabkan oleh kurangnya disiplin peserta didik dalam mengerjakan tugas serta kurangnya kejelasan dalam penyampaian informasi tugas melalui aplikasi online, yang membuat peserta didik kesulitan memahaminya. Selain itu, kurangnya interaksi yang dinamis dalam ruang diskusi juga menjadi faktor penghambat peserta didik dalam bertanya tentang tugas. Saat peserta didik mengisi kuesioner motivasi belajar, pengawasan dari guru dan peneliti tidak dilakukan dengan maksimal. Hal ini berdampak pada hasil kuesioner, dimana banyak peserta didik yang tidak mengisi dengan teliti. Akibatnya, hasil kuesioner motivasi belajar pada Siklus I mengalami penurunan dibandingkan dengan hasil kuesioner sebelumnya. Hasil motivasi belajar peserta didik untuk Siklus I ditampilkan dalam Tabel 2. Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Angket Motivasi Belajar Peserta Didik Siklus I No. Nama Total Skor Angket KCS KMM RHA Berdasarkan data dalam Tabel 2, terlihat bahwa hanya dua peserta didik yang memperoleh skor setidaknya 80 dalam angket motivasi belajar. Hal ini menunjukkan adanya penurunan motivasi belajar dari hasil pra siklus. Evaluasi terhadap tindakan siklus I mengungkapkan beberapa hal. Pertama, indikator keberhasilan belum tercapai. Kedua, peserta didik belum mencapai penguasaan kemampuan yang diharapkan, yaitu kerjasama kelompok dan aktif berargumentasi. Ketiga, guru belum sepenuhnya mengikuti RPP dengan cermat. Keempat, kegiatan pembelajaran tidak berjalan sesuai prosedur karena kurangnya disiplin peserta didik dalam mengerjakan tugas kelompok. Kelima, guru masih kesulitan mengatur dan memanfaatkan waktu pembelajaran secara optimal. Keenam, jadwal pembelajaran yang berada pada akhir jam pelajaran membuat proses pembelajaran kurang efisien. Ketujuh, saat mengisi angket motivasi belajar, peserta didik tidak terawasi sehingga ada kecenderungan untuk mengisi sembarangan. Dari refleksi tersebut, beberapa perbaikan diperlukan. Pertama, guru perlu mengikuti setiap prosedur pembelajaran yang tercantum dalam RPP. Kedua. RPP siklus II perlu diperbarui dengan menggunakan kasus yang berbeda namun tetap dengan materi yang sama, serta mengurangi tugas berkesinambungan untuk meminimalisir perubahan implementasi pembelajaran. Ketiga, diperlukan koordinasi lebih sering antara peneliti dan guru untuk mengatur alokasi waktu sesuai RPP. Keempat, perlu adanya bimbingan dan pengawasan saat peserta didik mengisi angket motivasi belajar. Berdasarkan hasil angket yang belum mencapai indikator keberhasilan, dapat disimpulkan bahwa siklus I belum berhasil meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas Vi SMPN 2 Sungai Kunyit. Oleh karena itu, penelitian dilanjutkan ke siklus II. Deskripsi Siklus II dilakukan sebagai respons terhadap ketaktercapaian hasil pada siklus I. Penelitian ini menggunakan refleksi dari siklus sebelumnya untuk memandu penyusunan rencana pembelajaran siklus kedua. Sebelum mengimplementasikan tindakan pada siklus kedua, peneliti berkoordinasi dengan guru PAK untuk mengatur materi kegiatan belajar mengajar. Meskipun bahan ajar tetap sama dengan siklus sebelumnya, fokus pembahasan diubah menjadi refleksi peserta didik terhadap mukjizat dalam kisah penyembuhan perempuan yang sakit pendarahan dan Kezia Yamamoto dalam konteks kehidupan sehari-hari. Persiapan meliputi penyesuaian RPP berdasarkan refleksi siklus sebelumnya, serta penyusunan ulang lembar observasi dan angket motivasi belajar. Dalam pelaksanaan siklus kedua, guru dituntut untuk meningkatkan keterampilan dalam pengelolaan ruang belajar dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih menarik. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi perubahan prosedur pembelajaran yang telah disusun sebelumnya, serta memastikan konsistensi dan efisiensi dalam proses belajar mengajar. Dalam pelaksanaan siklus II, kegiatan dilaksanakan dalam satu sesi yakni pada hari Rabu, 27 September 2023, dengan durasi jam pelajaran yang sama, yaitu 3 x 40 menit atau total 120 menit. Kegiatan pembelajaran berfokus pada diskusi kelompok tentang materi dan bahan pembahasan yang telah disiapkan sebelumnya. Peserta didik terlihat sangat antusias dalam diskusi kelompok. Guru juga terlibat aktif mengatur pengelolaan kelas dan memberikan ruang berpartisipasi aktif dengan mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan. Observasi dilaksanakan bersamaan dengan tindakan penelitian. Guru telah mengikuti prosedur pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Selama proses belajar, peserta didik terlibat aktif dan guru berhasil mengelola kelas dengan baik, memandu diskusi dengan cara yang menarik, serta meminta setiap kelompok peserta didik untuk melaporkan hasil Tujuan dari laporan ini adalah agar guru dapat mengevaluasi dan merangkum jawaban dari diskusi kelompok peserta didik. Selama tahap pembelajaran, beberapa faktor penghambat juga teridentifikasi. Keterbatasan waktu dalam melakukan diskusi, keragu-raguan dan rasa malu beberapa peserta didik dalam menyampaikan argumentasi, serta kurangnya fokus karena beberapa peserta didik teralihkan oleh ponsel atau obrolan dengan teman-teman mereka. Namun, terdapat faktor pendukung yang memperkuat proses pembelajaran. Antusiasme peserta didik, kemampuan mereka untuk mengungkapkan pendapat dan argumentasi secara bebas, serta partisipasi aktif dalam diskusi yang membangkitkan semangat belajar, semuanya menjadi faktor pendukung yang signifikan. Karena keterbatasan waktu pembelajaran, pengisian angket motivasi belajar peserta didik dilakukan di tempat tinggal mereka masing-masing. Guru mendistribusikan angket setelah pembelajaran dan mengumpulkannya untuk selanjutnya dikirim secara online kepada peneliti untuk Hasil dari angket motivasi belajar pada siklus II dapat ditemukan dalam Tabel 3. Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Angket Motivasi Belajar Peserta Didik Siklus II No. Nama Total Skor Angket KCS KMM RHA Berdasarkan data dalam Tabel 3, terlihat bahwa terdapat sembilan peserta didik yang telah mencapai skor angket minimal 80. Ini menunjukkan bahwa hampir keseluruhan peserta didik di kelas Vi sudah mengalami peningkatan motivasi belajar. Hal ini juga menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang sangat signifikan dari hasil yang diperoleh selama siklus pertama, menunjukkan bahwa pada siklus kedua telah berhasil mencapai standar keberhasilan yang telah Hasil pengamatan pada siklus II menunjukkan bahwa proses pembelajaran telah berjalan dengan baik. Pada siklus ini, peserta didik telah mencapai penguasaan kemampuan yang telah ditetapkan, seperti kerja sama kelompok dan aktif serta kreatif dalam berargumentasi. Indikator keberhasilan pun telah tercapai, dan guru berhasil menyelaraskan kondisi kelas dengan prosedur pembelajaran yang tertera dalam RPP. Selain itu, alokasi waktu yang diberikan untuk mengisi angket motivasi belajar terbukti efisien dan membantu peserta didik agar lebih teliti dalam membaca dan mengisi angket. Setelah melakukan refleksi tersebut, terlihat adanya peningkatan baik dalam pencapaian indikator motivasi belajar peserta didik maupun kinerja guru dalam menyajikan materi Pendidikan Agama Katolik dengan baik. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penelitian pada siklus II berhasil karena telah mencapai indikator keberhasilan dalam meningkatkan motivasi belajar yakni 8 dari 10 peserta didik memperoleh skor angket motivasi belajar minimal 80. Secara menyeluruh, hasil penelitian dari tahap pra siklus, siklus I, dan siklus II dapat dilihat dalam diagram 1. Diagram 1. Hasil Angket Motivasi Belajar Peserta Didik pada Setiap Siklus Pra Siklus Siklus I Siklus II Berdasarkan gambaran pada diagram 1, tampaknya terjadi penurunan hasil pada siklus I dibandingkan dengan hasil pra siklus. Situasi ini menimbulkan rasa kecewa karena model Pembelajaran Berbasis Masalah seharusnya dimaksudkan untuk meningkatkan semangat belajar peserta didik tidak berjalan dengan optimal karena beberapa prosedur pembelajaran tidak dilaksanakan sepenuhnya. Penelitian ini didukung oleh teori Arifianti & Astuti . 3: . yang menekankan pentingnya pemahaman oleh orang tua dan guru terhadap penyebab rendahnya motivasi belajar peserta didik serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian lain oleh Putri. Sofwan & Noviyanti . juga menyoroti bahwa motivasi belajar yang rendah dapat timbul karena kurangnya semangat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu, diharapkan guru, sebagai motivator di kelas, mampu meningkatkan semangat belajar peserta didik dengan cara menyajikan materi pembelajaran secara menarik. Setelah merefleksikan dan memperbaiki hasil pada siklus I, motivasi belajar peserta didik pada siklus II menunjukkan peningkatan yang signifikan, mencapai sekitar 70% lebih tinggi dibandingkan hasil siklus I. Peningkatan ini juga dipengaruhi oleh keterlibatan aktif peserta didik dalam diskusi dan kreativitas mereka dalam mengembangkan serta menyajikan hasil diskusi. Dalam proses ini, siswa terlibat aktif, berinteraksi, dan bekerja sama menyampaikan ide dan pendapat mereka untuk memecahkan masalah yang disajikan dalam pembelajaran. Menurut Suari . , dorongan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik juga dapat diperkuat dengan evaluasi yang diperbaiki di setiap tahap penelitian dan memperkenalkan kebiasaan positif kepada peserta didik untuk mencoba hal-hal baru yang dapat membantu dalam proses pembelajaran mereka. Hal ini merupakan aspek penting dalam meningkatkan motivasi belajar, terutama saat menghadapi tantangan dalam pembelajaran. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada topik "Yesus Mewartakan Kerajaan Allah melalui Tindakan atau Mukjizat" di kelas Vi SMPN 2 Sungai Kunyit telah berhasil dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan motivasi belajar peserta didik melalui metode PBL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran pada siklus II berjalan lancar, dengan peserta didik mampu mencapai kemampuan pemecahan masalah yang diharapkan. Ini menunjukkan bahwa model pembelajaran PBL dapat diterapkan secara efektif dalam konteks pembelajaran topik religius di sekolah. Keberhasilan penerapan PBL ini sangat dipengaruhi oleh konsistensi dalam waktu dan pelaksanaan yang optimal. Proses pembelajaran yang terstruktur dan terencana dengan baik memungkinkan peserta didik untuk lebih aktif terlibat dalam proses belajar, sehingga mampu mengembangkan keterampilan pemecahan masalah secara Dalam siklus II, berbagai refleksi dan perbaikan yang dilakukan setelah siklus I terbukti efektif dalam memperbaiki metode dan strategi pembelajaran, yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan hasil belajar peserta didik. Selain itu, penerapan model pembelajaran PBL juga terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik di kelas Vi SMPN 2 Sungai Kunyit. Data dari angket motivasi belajar menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dari siklus ke siklus. Pada awalnya, motivasi belajar peserta didik masih rendah, namun melalui refleksi dan perbaikan yang dilakukan pada siklus I, terjadi peningkatan motivasi yang nyata pada siklus II. Sebanyak 9 dari 10 peserta didik berhasil mencapai indikator keberhasilan dengan skor angket motivasi belajar minimal 80. Hal ini menunjukkan bahwa model PBL tidak hanya efektif dalam meningkatkan kemampuan kognitif peserta didik, tetapi juga berdaya guna dalam memotivasi mereka untuk lebih aktif dan antusias dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning pada topik "Yesus Mewartakan Kerajaan Allah Melalui Tindakan atau Mukjizat" efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan motivasi belajar peserta didik di kelas Vi SMPN 2 Sungai Kunyit. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa metode PBL dapat menjadi alternatif yang efektif dalam pembelajaran, khususnya pada topik-topik yang memerlukan pemahaman mendalam dan aplikasi praktis. Oleh karena itu, konsistensi dalam penerapan dan penyesuaian yang terus-menerus terhadap kebutuhan dan karakteristik peserta didik menjadi kunci utama dalam mencapai hasil yang Temuan ini juga memberikan kontribusi penting bagi pengembangan strategi pembelajaran yang lebih efektif di masa mendatang. DAFTAR PUSTAKA