FIQHUNA: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM e-ISSN : x-x Laman Jurnal : https://ejournal. stitaw-binjai. id/index. php/fiqhuna Volume 1 Nomor 2. Januari-Juni 2025 Upaya Guru PAI Menerapkan Empat Pilar Moderasi Beragama Di SD Negeri 023902 Binjai A 2024/2025 Siti Maysarah1. Baihaqi2. Fajar Siddik3 STIT Al Ae WASHLIYAH BINJAI Email : sitimaisarahvivo08@gmail. STIT Al Ae WASHLIYAH BINJAI Email : mbaihaqi@stitaw-binjai. STIT Al Ae WASHLIYAH BINJAI Email : fajarislaina @gmail. ABSTRAK Guru sebagai pendidik yang membimbing, mengajar, menilai dan mengevaluasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Pendidikan Agama Islam peserta didik melakukan proses pembelajaran dengan guru dengan tercapainya tujuan. Tujuan pendidikan yaitu suatu yang diharapkan tercapainya suatu usaha dalam kegiatan pembelajaran salah satunya untuk menerapkan moderasi beragama bagi peserta didik. Moderasi beragama adalah sebagai jalan tengah yang terbaik antara yang baik dan buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya guru PAI dalam menerapkan empat pilar moderasi beragama yang meliputi komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, serta penerimaan terhadap tradisi lokal di SD Negeri 023902 Binjai. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian meliputi guru PAI dan peserta didik di SD Negeri 023902 Binjai. Kesimpulan dari penelitian ini adalah upaya guru PAI dalam menerapkan empat pilar moderasi beragama telah berjalan cukup efektif meskipun masih menghadapi beberapa kendala seperti keterbatasan waktu, perbedaan latar belakang keluarga, serta pengaruh lingkungan luar sekolah. Namun demikian, faktor pendukung berupa dukungan sekolah, peran orang tua, serta semangat peserta didik menjadi aspek penting yang memperkuat penerapan moderasi beragama di sekolah dasar ini. Kata kunci: Guru PAI. Moderasi Beragama. Empat Pilar. Sekolah Dasar STIT Al-Washliyah Binjai ABSTRACT eachers, as educators, guide, teach, assess, and evaluate students in the learning process. In Islamic Religious Education, students engage in a learning process with teachers, aiming to achieve objectives. The goal of education is something that is expected to be achieved through efforts in learning activities, one of which is implementing religious moderation for students. Religious moderation is the best middle ground between good and evil. This study aims to determine the efforts of Islamic Religious Education teachers in implementing the four pillars of religious moderation: national commitment, tolerance, non-violence, and acceptance of local traditions at SD Negeri 023902 Binjai. The research method used was qualitative with a descriptive approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The research subjects included Islamic Religious Education teachers and students at SD Negeri 023902 Binjai. The conclusion of this study is that the efforts of Islamic Religious Education teachers in implementing the four pillars of religious moderation have been quite effective, although they still face several obstacles such as time constraints, differences in family backgrounds, and influences from the outside environment. However, supporting factors in the form of school support, the role of parents, and student enthusiasm are important aspects that strengthen the implementation of religious moderation in this elementary school. Keywords: Islamic Religious Education Teacher. Religious Moderation. Four Pillars. Elementary School PENDAHULUAN Pendidikan tidak terlepas dari kemampuan guru dalam menyampaikan pembelajaran dan pengetahuan pada peserta didik. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang telah menetapkan seorang guru sebagai tenaga pendidik profesional yang artinya pekerjaan yang dilakukan menjadi sumber yang memerlukan keahlian memenuhi standar mutu dan norma tertentu. Oleh karena itu pada proses pembelajaran guru harus memiliki empat kompetensi yaitu pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial (Didaktika Dwija Indria, 2. Guru sebagai kompetensi yang mempunyai hubungan dengan penyelesaian tugas-tugas keguruan dan pembelajaran. Guru pendidikan agama Islam secara profesional yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik melalui kegiatan keagamaan pencapaian kedewasaan serta membentuk kepribadian muslim yang berakhlak (Jafri Jafri, 2. Guru pendidikan agama islam penting diperlukan dalam meningkatkan penanamandalam bentuk moderasi beragama, supaya peserta didik dapat melanjutkan dan memahami perihal yang bersaing dengan kebaikan bersama, bahkan dalam perkembangan aktivitas pemeluk agama yang ada di Indonesia. Maka dari itu moderasi beragama harus dikembangkan pada peserta didik supaya memperoleh mewujudkan hubungan yang serentak, dengan guru, peserta didik, masyarakat akibatnya menjadi lingkungan aman dan damai dari berbagai bahaya ancaman (Rofik Muhammad Nur,2. Sebagai Negara yang mempunyai banyak keberagaman tiada sedikit orang memperkirakan Indonesia ialah salah satu negara multikulturter besar di dunia yang dapat diamati melalui segi geografis wilayah, sosial, adat istiadat kekayaan, bahasa dan kebudayaan. Melalui bangsa Indonesia mempunyai berbagai masalah yang cukup besar dimulai dari masalah ekonomi, pendidikan, lingkungan sekitar, kesehatan, sampai berdebatan perselisihan agama beraneka ragam yang ada di indonesia (Akhmadi Agus, 2. Guru pendidikan agama islam yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas membimbing peserta didik untuk mengembangkan sebuah kegiatan keagamaan sehingga peserta didik untuk lebih memahami dan mengamalkan ajaran islam. Dalam hal ini guru melakukan suatu upaya untuk meningkatkan penanaman pada peserta didik dengan menggunakan strategi maupun kegiatan yang ada disekolah. Oleh karena itu, moderasi beragama dapat dijadikan jalan tengah di tengah keberagaman beragama. Moderasi ajaran inti agama islam yang sangat relevan dalam konteks keberagaman aspek baik agama, adat istiadat, suku dan bangsa (Fahri Mohammad,2. STIT Al-Washliyah Binjai Upaya Guru PAI Menerapkan Empat Pilar Moderasi Beragama Di SD Negeri 023902 Binjai T. A 2024/2025. Oleh karena itu, prinsip-prinsip dasar dalam ajaran Islam yang dikenal dengan maqashid syariahAiyaitu menjaga agama . ifz al-di. , menjaga akal . ifz al-Aoaq. , menjaga jiwa . ifz al-naf. , menjaga keturunan . ifz alnas. , dan menjaga harta . ifz al-ma. memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai moderasi beragama. Islam menekankan pentingnya keseimbangan dalam kehidupan beragama, serta mendorong umatnya untuk bersikap adil, toleran, dan menghindari tindakan ekstrem. Prinsip-prinsip tersebut mengajarkan umat Islam untuk hidup seimbang, menghargai kehidupan, menjunjung tinggi akal sehat, dan mengedepankan kemaslahatan Inilah yang menjadi landasan penting bagi praktik moderasi beragama. Pada Al Ae Baqarah ayat 143. Allah SWT bersabda Umat Islam adalah ummatan wasah umat yang mendapat petunjuk dari Allah swt, sehingga mereka menjadi umat yang adil serta pilihan dan akan menjadi saksi atas keingkaran orang yang kafir. Umat Islam harus senantiasa menegakkan keadilan dan kebenaran serta membela yang hak dan melenyapkan yang batil. Mereka dalam segala persoalan hidup berada di tengah orang-orang yang mementingkan kebendaan dalam kehidupannya dan orang-orang yang mementingkan ukhrawi saja. Sejalan dengan itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama Republik Indonesia mengembangkan konsep empat pilar moderasi beragama, yaitu, komitmen kebangsaan, toleransi, anti - kekerasan, dan penerimaan terhadap budaya lokal (Kementerian Agama RI. Keempat pilar ini bertujuan untuk memperkuat karakter bangsa yang damai, inklusif, dan rukun dalam keberagaman. Moderasi beragama bukanlah upaya untuk menyamakan semua agama, melainkan menempatkan cara beragama dalam posisi yang adil dan seimbang antara komitmen terhadap ajaran agama dan penghormatan terhadap hak-hak warga negara lainnya yang berbeda keyakinan. Dalam dokumen resmi kementerian agama, disebutkan bahwa moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara menghindari ekstremisme dan menghargai keberagaman (Kementerian Agama RI. Penerapan empat pilar moderasi beragama di dunia pendidikan, khususnya di tingkat sekolah dasar, memiliki urgensi yang sangat tinggi karena masa anak-anak adalah fase pembentukan karakter dasar yang akan membekas hingga dewasa. Pada tahap usia ini, peserta didik berada dalam fase perkembangan moral, sosial, dan spiritual yang sangat peka terhadap nilai-nilai yang ditanamkan oleh lingkungan sekitarnya, terutama oleh figur seperti guru. Dan pilar yang terakhir penerimaan terhadap budaya lokal mengajarkan bahwa ajaran agama Islam dapat beradaptasi dengan budaya setempat selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid, sehingga menciptakan harmoni antara nilai agama dan budaya bangsa (Luthfi M, 2. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memegang peran strategis dalam proses ini, karena selain sebagai penyampai materi ajar keagamaan, guru juga berfungsi sebagai teladan dalam sikap dan perilaku. Dalam konteks moderasi beragama, guru PAI diharapkan mampu menginternalisasikan empat pilar, komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap budaya lokal, ke dalam setiap aspek pembelajaran, baik secara langsung dalam materi ajar maupun secara tidak langsung melalui pendekatan pedagogi yang inklusif, dialogis, dan berorientasi pada penguatan karakter. Pentingnya peran guru PAI dalam menerapkan nilai-nilai moderasi beragama tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral dan pedagogis yang mereka dapat. Guru bukan hanya menyampaikan materi ajar secara kognitif, tetapi juga memiliki fungsi sebagai figur teladan . swah hasana. yang mampu menunjukkan secara nyata nilai-nilai toleransi, cinta damai, dan semangat kebangsaan melalui sikap, tindakan, dan interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah. Selain itu, pendekatan pembelajaran berbasis karakter, diskusi kelompok, pemecahan masalah berbasis nilai, serta integrasi materi kewarganegaraan ke dalam pembelajaran PAI merupakan strategi yang dapat digunakan untuk menginternalisasikan nilai-nilai empat pilar moderasi Dengan strategi tersebut, peserta didik SD akan lebih mudah memahami dan mengamalkan sikap saling menghargai perbedaan, mencintai tanah air, dan menolak kekerasan sejak dini. Dengan demikian, melalui pembelajaran yang aktif, reflektif, dan kontekstual serta keteladanan yang konsisten, guru Pendidikan Agama Islam tidak hanya berperan sebagai penyampai materi ajar, tetapi juga sebagai aktor utama dalam pembentukan karakter peserta didik yang berlandaskan pada nilai - nilai moderasi beragama. Nilai -nilai tersebut mencakup penguatan komitmen kebangsaan yang menjunjung tinggi semangat persatuan dan kesatuan bangsa, pembiasaan sikap toleransi terhadap perbedaan keyakinan dan budaya, penolakan terhadap segala bentuk kekerasan baik fisik maupun verbal, serta sikap akomodatif terhadap budaya lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip - prinsip ajaran Islam. Peran ini menjadi semakin sangat penting di tengah meningkatnya isu intoleransi, radikalisme, dan konflik sosial berbasis agama yang dapat merusak sendi - sendi kebangsaan dan keberagaman di Indonesia. Siti Maysarah STIT Al-Washliyah Binjai Siti Maysarah Upaya Guru PAI Menerapkan Empat Pilar Moderasi Beragama Di SD Negeri 023902 Binjai T. A 2024/2025. Dalam konteks inilah, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Negeri 023902 Binjai memiliki peran yang sangat sentral dalam mengimplementasikan empat pilar moderasi beragama sebagaimana yang dicanangkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Melalui berbagai strategi pembelajaran, keteladanan perilaku, serta pembiasaan nilai-nilai kebangsaan dalam lingkungan sekolah, guru PAI berupaya menjadikan nilai-nilai moderasi bukan hanya sebagai materi pelajaran, tetapi juga sebagai karakter yang hidup dalam keseharian peserta Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam upaya guru PAI menerapkan empat pilar moderasi beragama di SD Negeri 023902 Binjai, serta menganalisis bagaimana strategi, tantangan, dan bentuk keberhasilan dari proses tersebut dapat menjadi contoh bagi sekolah lain dalam membangun generasi bangsa yang toleran, damai, dan berwawasan kebangsaan. METODE PENELITIAN Menurut Moleong pendekatan kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena sosial dari sudut pandang partisipan, dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata berdasarkan data yang diperoleh langsung dari lapangan (Moleong. Lexy J. , 2. Penelitian ini termasuk dalam jenis studi kasus . ase stud. karena berfokus pada satu lokasi dan subjek tertentu, yaitu guru PAI di SD Negeri 023902 Binjai, dan bertujuan untuk menggambarkan secara rinci dan kontekstual praktik-praktik yang dilakukan oleh guru dalam menerapkan moderasi beragama. Studi kasus memberikan ruang bagi peneliti untuk mengeksplorasi secara mendalam berbagai aspek yang mempengaruhi praktik tersebut, baik dari sisi guru, siswa, maupun lingkungan Sumber Data Sumber data dalam penelitian kualitatif ini terdiri atas data primer dan data sekunder yang dikumpulkan secara sistematis untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai upaya guru PAI dalam menerapkan empat pilar moderasi beragama di lingkungan SD Negeri 023902 Binjai. Informan utama dalam penelitian ini meliputi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang secara langsung terlibat dalam proses pembelajaran dan pembinaan karakter siswa di sekolah, khususnya dalam hal internalisasi nilai-nilai moderasi beragama yang meliputi komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap budaya lokal. Selain itu, informan pendukung terdiri dari kepala sekolah, yang memiliki peran strategis dalam pengambilan kebijakan serta pengawasan program-program keagamaan, dan juga siswa-siswi dari berbagai latar belakang agama, baik Muslim maupun non-Muslim, guna memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai suasana keberagaman dan sikap moderat yang terbentuk dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi Observasi adalah suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan mengamati secara langsung gejala, perilaku, atau aktivitas individu maupun kelompok dalam setting tertentu, baik secara terstruktur maupun tidak terstruktur. Dalam penelitian kualitatif, observasi digunakan untuk memperoleh data yang bersifat alami dan kontekstual, sehingga peneliti dapat memahami fenomena sebagaimana adanya di lingkungan aslinya (Sugiyono, 2. Observasi dilakukan untuk mendapatkan gambaran nyata dan kontekstual mengenai bagaimana nilai-nilai seperti toleransi, komitmen kebangsaan, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap budaya lokal ditanamkan oleh guru PAI dalam keseharian di sekolah. Wawancara Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yang dilakukan melalui tanya jawab secara langsung antara peneliti dan informan untuk menggali informasi, pandangan, pengalaman, atau pemahaman yang mendalam tentang suatu fenomena. Dalam konteks kualitatif, wawancara tidak sekadar bertanya, melainkan membangun komunikasi yang bermakna dan terbuka agar informan dapat mengungkapkan pemikirannya secara bebas dan reflektif (Moleong. , 2. STIT Al-Washliyah Binjai Siti Maysarah Upaya Guru PAI Menerapkan Empat Pilar Moderasi Beragama Di SD Negeri 023902 Binjai T. A 2024/2025. Wawancara dalam penelitian kualitatif bersifat fleksibel, mendalam, dan terbuka, sehingga memungkinkan peneliti mengeksplorasi informasi secara lebih komprehensif sesuai dengan konteks sosial dan budaya informan. Dokumentasi Menurut Sugiyono dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi dalam bentuk catatan tertulis, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang maupun lembaga. Dokumentasi berguna untuk melengkapi data observasi dan wawancara, serta memberikan bukti visual atau tertulis yang bisa diverifikasi oleh peneliti (Sugiyono. Teknik Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan analisis data kualitatif model interaktif. Pengumpulan Data Tahap pertama, pengumpulan data, merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian, penyederhanaan, dan transformasi data kasar dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi menjadi data yang bermakna dan relevan dengan fokus penelitian. Dalam konteks ini, peneliti mereduksi data berdasarkan indikator penerapan empat pilar moderasi beragama oleh guru PAI, seperti sikap guru dalam menanamkan nilai toleransi, komitmen kebangsaan, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap budaya lokal di lingkungan sekolah dasar. Penyajian Data Tahap kedua, yaitu penyajian data, dilakukan dengan cara menyusun data yang telah direduksi ke dalam bentuk naratif atau deskriptif yang sistematis. Penyajian ini bertujuan agar peneliti dapat memahami konteks dan pola hubungan antardata secara lebih utuh. Data ditampilkan dalam bentuk uraian naratif, kutipan hasil wawancara, dan temuan lapangan lainnya yang menggambarkan bagaimana moderasi beragama diterapkan oleh guru dalam proses pembelajaran maupun dalam interaksi sosial di sekolah. Penarikan Kesimpulan Tahap ketiga adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, yaitu proses merumuskan makna dari data yang telah disajikan untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Penarikan kesimpulan dilakukan secara bertahap dan terus-menerus selama proses penelitian berlangsung, sambil terus diverifikasi melalui pencocokan antar sumber data . , agar hasilnya valid, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan menggunakan model analisis interaktif ini, peneliti dapat memperoleh gambaran yang mendalam, menyeluruh, dan kontekstual tentang upaya guru PAI dalam menerapkan nilai-nilai moderasi beragama di SD Negeri 023902 Binjai, sehingga hasil penelitian tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga reflektif terhadap realitas yang ada di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Guru PAI dalam menerapkan moderasi beragama di SD Negeri 023902 Binjai Moderasi beragama merupakan sikap sidang atau tidak berlebihan sehingga tidak terjadinya Moderasi beragama sebagai penengah diantara dua dengan sikap adil. Moderasi beragama sebuah keadaan yang sangat tepuji yang menjaga seseorang dengan ajaran-ajaran yang tidak berlebihan. Sesuatu perbedaan yang tidak menghalangi untuk terjalin kerja antara individu dengan asas kemanusiaan dengan menyakini agama Islam merupakan agama yang paling benar bukan berarti dapar merendahkan antar Moderasi beragama yaitu sebagai berkomitmen kebangsaan, bertoleransi, anti kekerasan dan menyesuaikan diri terhadap kebudayaan lokal. Moderasi beragama dipahami dengan cara pandang, sikap dan perilaku yang selalu mengambil posisi ditengah-tengah, bertindak adil dan tidak ekstrim (Amir Najamiah,2. Guru PAI berupaya mengintegrasikan empat pilar moderasi beragama ke dalam kegiatan belajar mengajar. Pertama, pada aspek komitmen kebangsaan, guru secara konsisten menanamkan pemahaman bahwa mencintai tanah air merupakan bagian dari ajaran agama. STIT Al-Washliyah Binjai Siti Maysarah Upaya Guru PAI Menerapkan Empat Pilar Moderasi Beragama Di SD Negeri 023902 Binjai T. A 2024/2025. Hal ini ditunjukkan melalui pembiasaan sikap disiplin ketika upacara bendera, menghormati simbol negara seperti bendera dan lagu kebangsaan, serta mengaitkan nilai nasionalisme dengan ayat-ayat AlQurAoan dan hadis yang relevan. Dengan demikian, anak-anak sejak dini memahami bahwa beragama tidak dapat dipisahkan dari sikap mencintai bangsa dan negara. Kedua, pada aspek toleransi, guru membimbing anak-anak agar terbiasa menghargai perbedaan, baik perbedaan agama, suku, maupun kebiasaan sehari-hari. Guru sering memberikan contoh sederhana, misalnya bagaimana cara berbicara sopan kepada teman yang berbeda keyakinan, atau bagaimana menghargai ketika ada teman yang tidak ikut melaksanakan ibadah sesuai agama Islam. Dengan cara ini, toleransi tidak hanya menjadi teori, tetapi dipraktikkan dalam keseharian. Ketiga, pada aspek anti kekerasan, guru senantiasa menekankan bahwa setiap masalah harus diselesaikan dengan musyawarah dan bukan dengan perkelahian. Guru memberikan bimbingan agar anakanak menghindari tindakan bullying, baik dalam bentuk verbal seperti mengejek, maupun dalam bentuk Pada setiap pertemuan, guru selalu mengingatkan pentingnya menggunakan kata-kata baik, menjaga sikap, serta menolong teman yang membutuhkan. Hal ini membentuk suasana sekolah yang aman, nyaman, dan kondusif bagi perkembangan anak. Keempat, pada aspek penerimaan terhadap tradisi lokal, guru berusaha mengajarkan kepada anakanak bahwa tidak semua tradisi lokal harus ditinggalkan, selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan syariat agama. Misalnya, tradisi gotong royong, saling membantu tetangga, serta kegiatan kebersamaan masyarakat, tetap dijaga sebagai bagian dari budaya luhur bangsa Indonesia. Dengan demikian, peserta didik tidak tumbuh menjadi pribadi yang eksklusif, tetapi mampu menerima budaya sekitar dengan Strategi Guru dalam Penguatan Moderasi Beragama Guru PAI di SD Negeri 023902 Binjai menggunakan berbagai strategi dalam menanamkan nilai moderasi beragama. Strategi tersebut dirancang agar sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar yang masih berada pada tahap perkembangan awal, sehingga materi yang disampaikan dapat lebih mudah dipahami dan diamalkan. Pertama, strategi pembelajaran kontekstual. Guru berusaha mengaitkan materi pelajaran dengan situasi nyata yang dialami anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, ketika membahas tentang ukhuwah islamiyah, guru memberikan ilustrasi bagaimana siswa dapat hidup rukun dengan teman sebaya meskipun berbeda agama atau budaya. Dengan pendekatan ini, siswa merasa bahwa ajaran agama bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka, tetapi justru dekat dan relevan dengan pengalaman sehari-hari. Kedua, strategi pembiasaan sikap religius dan humanis. Guru tidak hanya mengajarkan teori keagamaan, melainkan membiasakan peserta didik untuk melaksanakan kegiatan keagamaan dan sosial secara konsisten. Misalnya, membiasakan berdoa bersama sebelum memulai pelajaran, shalat dhuha berjamaah, membaca doa sebelum makan, serta berbagi makanan dengan teman. Pembiasaan ini diyakini lebih efektif dalam membentuk karakter karena anak-anak lebih mudah meniru perilaku nyata dibandingkan hanya menerima penjelasan secara lisan. Ketiga, pemanfaatan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan seperti pramuka, upacara bendera, dan peringatan hari besar keagamaan dijadikan sarana untuk menanamkan nilai-nilai moderasi. Melalui pramuka, siswa dilatih bekerja sama, disiplin, dan saling menghormati. Melalui upacara bendera, siswa dibiasakan untuk mencintai tanah air dan menghormati simbol negara. Sementara itu, melalui peringatan hari besar agama, siswa belajar memahami keberagaman cara beribadah dan pentingnya menghormati Keempat, keteladanan guru. Hal terpenting dalam strategi ini adalah sikap guru yang menjadi role model bagi siswa. Guru berusaha selalu bersikap ramah, tidak membeda-bedakan siswa, serta menyelesaikan masalah dengan bijaksana. Keteladanan guru ini terbukti menjadi faktor yang sangat berpengaruh, karena anak-anak lebih cenderung meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang hanya mereka dengar. Dampak Penguatan Moderasi Beragama bagi Peserta Didik Salah satu dampak paling nyata dari penguatan moderasi beragama adalah meningkatnya sikap toleransi di kalangan peserta didik. Anak-anak yang awalnya cenderung mudah mengejek atau menertawakan teman yang berbeda, kini mulai menunjukkan sikap saling menghargai. Mereka belajar menerima keberagaman sebagai sesuatu yang wajar dan bahkan menjadi kekayaan bersama. STIT Al-Washliyah Binjai Siti Maysarah Upaya Guru PAI Menerapkan Empat Pilar Moderasi Beragama Di SD Negeri 023902 Binjai T. A 2024/2025. Guru membimbing siswa agar tidak hanya memahami toleransi sebatas teori, tetapi juga mempraktikkannya dalam interaksi sehari-hari. Misalnya, saat ada teman yang berbeda keyakinan, anakanak tidak memaksakan kehendak untuk mengikuti cara mereka beribadah. Sebaliknya, mereka diajarkan untuk menghormati dan tidak mengganggu. Hal ini membentuk budaya kelas yang lebih kondusif, penuh dengan rasa saling menghargai, dan jauh dari sikap diskriminatif. Dampak lain yang cukup penting adalah terbentuknya karakter religius yang moderat. Siswa tidak hanya semakin rajin melaksanakan ibadah, seperti shalat dhuha, membaca doa sebelum dan sesudah belajar, atau mengaji, tetapi mereka juga memahami bahwa menjalankan agama tidak berarti menutup diri dari orang lain. Anak-anak belajar bahwa menjadi seorang muslim yang baik berarti tetap ramah, santun, serta terbuka terhadap perbedaan. Karakter religius yang moderat ini membuat siswa tidak tumbuh menjadi pribadi yang eksklusif, melainkan pribadi yang mampu menyeimbangkan antara ketaatan beragama dengan keterbukaan sosial. Dengan demikian, ajaran agama tidak dipahami secara sempit, tetapi diaplikasikan dalam kehidupan nyata dengan sikap yang seimbang. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Penguatan Moderasi Beragama di SD Negeri 023902 Binjai Dalam setiap proses pendidikan, khususnya dalam upaya menanamkan nilai-nilai moderasi beragama, tentu terdapat faktor yang mendukung serta faktor yang menghambat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan guru PAI di SD Negeri 023902 Binjai dalam menerapkan moderasi beragama tidak terlepas dari adanya faktor-faktor pendukung yang memperkuat upaya tersebut, sekaligus adanya faktor penghambat yang menjadi tantangan di lapangan. Faktor pendukungnya seperti Kepala sekolah memberikan perhatian khusus terhadap penerapan nilai moderasi beragama di sekolah. Hal ini terlihat dari kebijakan sekolah yang mendorong adanya kegiatan keagamaan rutin, seperti doa bersama sebelum belajar, shalat dhuha berjamaah, peringatan hari besar Islam, serta pembiasaan sikap toleransi dalam kehidupan sekolah. Lingkungan sekolah turut mendukung terwujudnya moderasi beragama. Negeri 023902 Binjai dikenal sebagai sekolah yang memiliki kultur religius cukup baik, misalnya pembiasaan memberi salam, budaya berjabat tangan, serta penghormatan kepada guru. Suasana sekolah yang penuh kekeluargaan menjadikan nilai-nilai toleransi, anti kekerasan, dan cinta tanah air lebih mudah tertanam pada diri peserta didik. Meskipun banyak faktor yang mendukung, terdapat pula hambatan yang dihadapi guru dalam mengimplementasikan moderasi beragama di sekolah. Hambatan ini datang dari STIT Al-Washliyah Binjai Siti Maysarah Upaya Guru PAI Menerapkan Empat Pilar Moderasi Beragama Di SD Negeri 023902 Binjai T. A 2024/2025. KESIMPULAN Dari analisis keseluruhan dapat disimpulkan bahwa keberhasilan guru dalam menerapkan penguatan moderasi beragama di SD Negeri 023902 Binjai sangat ditentukan oleh keseimbangan antara faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung yang kuat, seperti dukungan sekolah, orang tua, dan keteladanan guru, mampu mempercepat internalisasi nilai moderasi. Namun, faktor penghambat seperti perbedaan latar belakang keluarga, rendahnya disiplin siswa, keterbatasan sarana, serta pengaruh lingkungan luar, tetap perlu diantisipasi secara serius. Dengan demikian, keberhasilan penguatan moderasi beragama bukan hanya ditentukan oleh guru semata, tetapi oleh sinergi seluruh elemen pendidikan. Apabila hambatan dapat diminimalisasi dan dukungan diperkuat, maka moderasi beragama akan tertanam secara efektif dan menjadi bagian dari karakter siswa sejak UCAPAN TERIMAKASIH Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah Swt atas limpah rahmat dan karunia Ae Nya sehingga penulisan jurnal ini dapat terselesaikan dengan baik. Jurnal ini berjudul AuUpaya Guru PAI Menerapkan Empat Pilar Moderasi Beragama Di SD Negeri 023902 Binjai T. A 2024/2025Ay. Saya mengucapkan terimakasih yang sebesar Ae besarnya Pimpinan dan Tim Reduksi Jurnal Fiqhuna Pendidikan Agama Islam, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mempubliskasikan karya ilmiah ini. Kepada Dosen pembimbing yang telah memberikan arahan, masukan, serta semangat dalam proses penulisan jurnal ini. Kepala Sekolah SD Negeri 023902 Binjai yang telah memberikan izin serta dukungan selama proses penelitian berlangsung. Para siswa dan guru SD Negeri 023902 Binjai yang telah bersedia menjadi subjek penelitian dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Semoga tulisan ini dapat memberikan konstribusi positif dalam Upaya Guru PAI Menerapkan Empat Pilar Moderasi Beragama Di SD Negeri 023902 Binjai T. A 2024/2025, serta menjadi refrensi yang bermanfaat bagi para pendidik, peneliti dan pemerhati dunia pendidikan. Akhir kata saya menyadari bahwa jurnal ini masih memiliki Oleh karena itu, saya sangat terbuka terhadap kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa yang akan datang. DAFTAR PUSTAKA