Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 1 No. 01 December 2020 | 17-25 Peranan Organisasi Aisyiyah Daerah Kota Surakarta Dalam Pemberdayaan Perempuan Masa Pra-Kemerdekaan . The Role Of Aisyiyah Organization In Surakarta City In The Empowerment Of Women During Pre-Independence . Annisa Jamilatul Mahmudah1 Article history: 1 Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Bahasa IAIN Surakarta Submitted: 12 Juni 2020 & Komunitas Urub Accepted: 22 Agust 2020 mahmudahjamilatul24@gmail. Published:7 December 2020 Abstract: This study is about the history of women at the local level, the Surakarta branch of the Aisyiyah organization in empowering women before independence day in 1923-1945. This study uses a historical methodology which has four main stages of the historical method, there are . heuristics, . source criticism, . interpretation, and . The results of this study indicate that the Surakarta branch of the Aisyiyah organization made a real contribution through programs and activities in empowering women that were formed in 1923-1945. These programs include, in the field of religion, such as holding recitations, worship facilities and infrastructure by establishing a prayer room for women, and education such as Bustanul Atfal . or early childhoo. Huishoud School (Girls clever Schoo. Nasyiatul Aisyiyah School (Elementary Schoo. Praja students, besides that there is also a reading course as a movement for women's literacy. Keyword: Pre Independence Day . The Surakarta Branch of the Aisyiyah Organization. The Role. Abstrak: Studi ini merupakan kajian sejarah wanita pada tingkat lokal yakni organisasi Aisyiyah cabang kota Surakarta dalam pemberdayaan perempuan masa sebelum kemerdekaan tahun 19231945. Penelitian ini menggunakan metodologi sejarah yang memiliki empat tahap pokok metode sejarah, yakni: . heuristik, . kritik sumber, . interpretasi, dan . Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa organisasi Aisyiyah cabang Surakarta memberikan sumbangsih nyata melalui program dan kegiatan dalam memberdayakan perempuan yang dibentuk tahun 19231945. Program-program ini antara lain, di bidang keagamaan seperti mengadakan pengajian, sarana dan prasarana ibadah dengan mendirikan musholla khusus perempuan, dan pendidikan seperti Bustanul Atfal . ntuk anak usia din. Huishoud School (Sekolah Kepandaian Putr. Nasyiatul Aisyiyah School (Sekolah dasa. Siswa Praja, selain itu terdapat juga kursus membaca sebagai gerakan perempuan melek huruf. Kata Kunci: Pra Kemerdekaan Tahun 1923-1945. Aisyiyah Surakarta. Peranan. P-ISSN x-x E-ISSN x-x A 2020 author. Peranan Organisasi Aisyiyah Daerah Kota Surakarta Dalam Pemberdayaan Perempuan Masa PraKemerdekaan . Annisa Jamilatul Mahmudah PENDAHULUAN Gerakan emansipasi di Indonesia terganjal dengan situasi dan kondisi sosial budaya yang hidup di tengah masyarakat. Warisan sosial budaya yang diturunkan dari nenek moyang, terkait konsep perempuan yang hanya bekerja di seputar dapur, sumur, dan kasur. Hal itu, seolah menggambarkan sosok perempuan tidak lebih dari sekedar pekerja rumah tangga. Kedudukan perempuan dalam kehidupan masyarakat tersebut membuatnya miskin, terutama miskin pengetahuan secara ruang-waktu maupun psikologi1. Jalan perempuan mendapatkan peluang yang sama dengan laki-laki ini telah diperjuangkan lama sebelum Indonesia merdeka. Pada abad ke 20 perempuan-perempuan di Hindia Belanda mengalami ketertinggalan baik dalam bidang pendidikan, agama, maupun kedudukannya dalam Pendidikan tinggi hanya boleh di nikmati oleh para bangsawan laki-laki, hal ini didukung pula dengan relasi gender di Jawa yang cenderung Patriarkhi, dalam relasi ini status lakilaki lebih tinggi daripada perempuan, di lingkungan masyarakat peran laki-laki lebih dominan atas perempuan di berbagai aspek kehidupan2. Masyarakat Surakarta awal abad- XX masih menganut relasi gender Patriarki. Relasi gender ini mengakibatkan terjadinya kesenjangan antara perempuan dan laki-laki. Hal tersebut kemudian mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia mulai kedudukan dalam masyarakat dan lain sebagainya. Selain itu, nilai-nilai masyarakat Jawa terhadap perempuan menambah terbatasnya ruang gerak istri-istri dan gadis-gadis Jawa. Perempuan ideal bagi suku Jawa adalah perempuan yang memiliki keterampilan tertentu yakni masak . , macak . , manak . Tidak hanya kemampuan ataupun keahlian tertentu, tetapi juga harus memiliki kepribadian yang nantinya akan membuat gadis-gadis Jawa menjadi perempuan ideal dan terhormat seutuhnya, kepribadian ini ialah rila . ,nrima . , dan sabar3. Perempuan Jawa ketika itu hanya diperbolehkan keluar saat pesta pernikahan dan kematian Sedangkan dalam hal rumah tangga perempuan terikat dengan pepatah Suwarga nunut neraka katut . e surga menumpang suami ke neraka pun ikut suam. Hal ini menunjukkan betapa wanita tidak memiliki hak dalam menentukan jalan hidupnya sendiri dan tidak ada kemandirian, segala suka dan duka yang dialami oleh istri semuanya tergantung suami 4. Faktor-faktor tersebutlah adalah salah satu faktor yang melatarbelakangi dibentuknya organisasi Aisyiyah cabang Surakarta. Gerakan emansipasi ini dilakukan agar perempuanperempuan Surakarta mendapatkan hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan, seperti mengenyam pendidikan dan lain sebagainya. Tulisan ini terfokus pada peranan organisasi Aisyiyah cabang Surakarta dalam memberdayakan perempuan sebelum Indonesia merdeka yakni tahun 1923-1945. Istri-istri dan Ade Irma Sakina dan Dessy Hasanah Siti A. AuMenyoroti Budaya Patriarki Di Indonesia,Ay Social Work Jurnal 7 No 1 . Hal 72. Nunuk P. Murniati. Getar Gender Perempuan Indonesia Dalam Perspektif Agama. Budaya. Dan Keluarga (Magelang: Yayasan Indonesia Tera, 2. Hal 10. Suwardi Endraswara. Falsafah Hidup Jawa, cetakan ke (Yogyakarta: Cakrawala, 2. Hal 56. Tim Pimpinan Pusat AoAisyiyah. Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan AoAisyiyah (Yogyakarta: Pimpinan Pusat AoAisyiyah. Tanpa Tahun. Hal 12. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 1 No. 01 December 2020 | 17-25 gadis-gadis Jawa ketika itu mengalami penyempitan ruang gerak mereka hanya bisa melakukan pekerjaan yang bersifat domestik, selain itu pembatasan-pembatasan yang diakibatkan Patriarki dan nilai-nilai masyarakat Jawa menambah sulitnya perempuan mengembangkan potensi yang ada pada diri mereka masing-masing. METODE PENELITIAN Secara keseluruhan penelitian ini merupakan kajian pustaka (Library Researc. yang merujuk pada metodologi sejarah dengan mengikuti empat tahap utama yakni: heuristic, kritik, interpretasi, dan historiografi. Metode sejarah merupakan kaidah pelaksanaan dan kaidah tekhnis mengenai bahan, kritik, interpretasi, dan penyajian sejarah5. Tahap pertama ialah heuristic . engumpulan sumbe. Heuristik merupakan proses mencari data serta mengumpulkan sumber- sumber ataupun data-data yang diperlukan, kegiatan ini difokuskan pada studi arsip dokumen, wawancara, literatur ilmiah, majalah maupun internet berkenaan dengan tema penelitian yang diangkat. Tahap kedua ialah kritik sumber. Setelah melakukan pengumpulan data tahap selanjutnya adalah Melakukan kegiatan guna menyeleksi sumber sejarah yang telah didapatkan, proses kegiatan kritik melalui dua tahap yakni kritik intern dan kritik ekstern. Tahap ketiga ialah interpretasi, yakni Langkah selanjutnya menafsirkan data-data yang telah diuji, kemudian menghubungkan fakta-fakta dalam bentuk konsep yang disusun berdasarkan analisis terhadap sumber sejarah yang telah diperoleh. Lebih jauh lagi, interpretasi adalah kegiatan untuk mengaitkan satu bukti seperti arsip, foto, maupun berita sezaman kemudian di kaitkan dan di rangkai menjadi sebuah narasi. Penelitian ini melakukan aktivitas interpretasi turut dibantu dengan sejumlah bahan pustaka seperti buku, jurnal, karya tulis ilmiah, dan skripsi. Tahap keempat ialah historiografi . Merupakan proses penyusunan seluruh hasil penelitian kedalam bentuk tulisan ataupun laporan hasil penelitian mengenai tema yang diangkat. PEMBAHASAN Sejarah Berdirinya Aisyiyah Cabang Surakarta Aisyiyah Surakarta berdiri pada tahun 1918. Ketika Muhammadiyah membentuk sebuah perkumpulan dengan nama SATV, maka anggota perempuan Muhammadiyah pada tahun tersebut membentuk perkumpulan dengan nama Wanito Sedyo Rahayu. Kata ini berasal dari bahasa Jawa, yang artinya perempuan yang berkehendak mencari selamat dan kebahagiaan6. Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana, 2. Hal 69. Tim Penyusun Asiyiyah Kota Surakarta. Sejarah Dan Langkah Aisyiyah Kota Surakarta (Surakarta: Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Surakarta, 2. Hal 29. Peranan Organisasi Aisyiyah Daerah Kota Surakarta Dalam Pemberdayaan Perempuan Masa PraKemerdekaan . Annisa Jamilatul Mahmudah Perkumpulan ini biasa menghadiri pengajian setiap sabtu sore di rumah Ny. Sontohartono. Tokoh pelopor dari terbentuknya perkumpulan ini ialah ibu R. Ng Sontohartono, istri dari Sontohartono seorang pedagang sukses yang juga mengabdikan diri untuk kepentingan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Selain ibu Sontohartono. Aisyiyah juga di gagas oleh ibu Wigyodisastro, ibu Syamsulhadu dan ibu Nyai Demang Soekati 7 Perkumpulan Wanito Sedyo Rahayu berubah nama menjadi Aisyiyah. Hal ini bersamaan dengan dikeluarkannya Besluit pemerintah Belanda, yang memperbolehkan berdiri cabang-cabang Muhammadiyah di luar wilayah Yogyakarta. Perubahan ini dilaksanakan pada tanggal 11 Maret Organisasi Aisyiyah mendapatkan gabungan pula dari organisasi perempuan IslamIslam di Surakarta yakni Wanito Proyo8. Pergerakan Perempuan Muslim Surakarta Pergerakan perempuan muslim di Surakarta sangat erat kaitanya dengan kebangkitan pergerakan perempuan di Indonesia. Selain dipicu melihat keadaan perempuan ketika itu, berkembangnya organisasi-organisasi kebangsaan seperti Sarekat IslamIslam memotivasi tumbuhnya organisasi-organisasi perempuan yang bertujuan untuk mengangkat derajat kaumnya. Organisasi yang berdasarkan agama turut berkembang pesat seperti Aisyiyah. Jong IslamIslamieten Bond bagian wanita dan lain sebagainya. Pada masa Penjajahan terutama tahun 1921-1932 di Surakarta mulai berkembang adanya pergerakan perempuan, baik gerakan tersebut berdiri sendiri ataupun bagian dari pergerakan kaum laki-laki seperti Aisyiyah. kebangkitan tersebut bergerak dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Pergerakan-pergerakan perempuan yang berada di Surakarta9. Pergerakan perempuan IslamIslam di Surakarta pada masa sebelum kemerdekaan dibagi menjadi 2 berbasis agama dan tidak berbasis agama lain Aisyiyah Surakarta . Nahdotul Muslimat . Yong IslamIslaminten Bond Dames Afdeling . Fatimiyah . PSII BI . Sedangkan organisasi pergerakan perempuan yang tidak berbasis agama antara lain Sancoyorini . Wanita Praya . Wanita Utama . , dan Putri Narpawandawa . Peranan Aisyiyah Surakarta dalam Pemberdayaan Perempuan 1923-1945 Sebagaimana Aisyiyah memulai dakwah menyebarkan agama Islam sesuai Al Quran dan hadist tanpa tercampur dengan BidAoah. Khurafat, dan Taklid. Mereka mengawalinya dengan melakukan pengajian-pengajian dari lingkup jamaah yang kecil, kemudian berkembang menjadi dalam jumlah jamaah yang banyak. Strategi penyebaran agama ini diterapkan pula oleh organisasi Aisyiyah ketika awal berdiri, dimulai dengan pembinaan jamaah wanita, diselenggarakannya Ibid. Ny. MurfiAoah Sarwono. Sejarah Kebangkitan Pergerakan Wanita Surakarta (Surakarta: Wanita Islam Kotamadya Surakarta, 1. Hal 9. Ny. MurfiAoah Sarwono. Sejarah Kebangkitan Pergerakan Wanita Surakarta (Surakarta: Wanita Islam Kotamadya Surakarta, 1. Hal 9. Ibid Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 1 No. 01 December 2020 | 17-25 ibadah khusus wanita, pengajian dan lain sebagainya. Usaha Aisyiyah tersebut bertujuan untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam meningkatkan kehidupan umat Islam khususnya Selain itu untuk mendapatkan perhatian masyarakat agar tertarik mempelajari Islam11. Metode yang dipergunakan ada beberapa yakni lisan. Metode ini banyak dilakukan dalam pengajian, khutbah, ceramah, ataupun kunjungan dari rumah ke rumah. Seorang muballigh dan harus memiliki kemampuan dalam mengatur dan memilah kata yang Dakwah bil lisan ini diterapkan Aisyiyah Surakarta ketika awal-awal berdiri, pengajian ini seringkali diselenggarakan di rumah Ibu Sontohartono. Pengisi pengajian ini berasal dari Muballigh-muballigh yang berasal dari Muhammadiyah Surakarta, salah satunya adah ketua Muhammadiyah yakni Kyai Moechtar Boechari dan Kyai Hadisiwaya. Dakwah Bil Kalam Ia menggunakan seni tulisan sebagai mediatornya, yang disampaikan melalui buku, bulletin, majalah, serta surat kabar13. Anggota Aisyiyah turut berperan dalam menyebarkan agama Islam serta pengetahuan terkait perempuan, menggunakan model dakwah ini. Mereka menulis artikel, laporan singkat, maupun karangan-karangan pendek yang kemudian dikirim dan diterbitkan oleh majalah Suara Aisyiyah di Yogyakarta 14. Dakwah Bil Hal adalah dawah dengan melakukan tindakan nyata, yang meliputi keteladanan 15. Aisyiyah Surakarta setelah berdiri tahun 1928 membuat musholla yang dikhususkan bagi Di dalam musholah ini dilakukan berbagai kegiatan, seperti pengajian, pelajaran agama, dan kursus mengaji. Selain itu mereka juga menyelenggarakan sekolah Diniyah putri, dan kursus Muballigh. Hal ini merupakan contoh nyata, dimana Aisyiyah tururt berdakwah melalui metode ini Dakwah Jamaah adalah dengan menjadikan kehidupan para jamaah sebagai sarana dakwah. Penggunaan metode dakwah ini menjadi sasaran dakwah bukan hanya per individu melainkan seluruh anggota suatu kelompok masyarakat, tujuannya agar tertarik mengadakan usaha pengembangan masyarakat16. Selain melalui dakwah dilaksanakan pembagungan sarana dan prasarana ibadah. Pendirian Musholla perempuan ini diinisiasi oleh Ibu Wiryosanjoyo ,sedangkan pembangunan gedungnya diserahkan kepada Bp Sudarmo tahun 1928. Musholla ini sekarang menjadi satu komplek dengan gedung Aisyiyah Surakarta yang terletak di Keprabon. Sebelum menjadi gedung Aisyiyah gedunggedung ini didapat dari hasil wakaf anggota Muhammadiyah seperti Bp Abutoyib. Bp. HM. Edris, dan Bp. Abdul MuAoid 17. Bidang Pendidikan mendirikan beberapa sekolah maupun kursus yakni Taman Kanak-Kanak Bustanul Atfal. Pendirian sekolah Bustanul Atfal ini diikuti pula oleh Aisyiah cabang Surakarta. Sekolah ini didirikan tahun 1932 dengan guru Ibu Sudinah dan Bapak Moena. Diantara guru-guru Ibid Kustadi Suhandang. Ilmu Dakwah. Prespektif Komunikasi (Bandung: Rosdakarya, 2. Hal 167. Suf Kasman. Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-Prinsip DaAowah Bi Al-Qalam Dalam Al-QurAoan (Jakarta: Teraju, 2. Hal 119-120. Sitti Alfijjah. AuDi Dalam Congres Ke 22 Di Semarang,Ay Suara Aisyiyah (Yogyakarta, 1. (Tim Pimpinan Pusat AoAisyiyah Tanpa Tahu. Hal 47. (Tim Pimpinan Pusat AoAisyiyah Tanpa Tahu. Hal 63. Tim Penyusun Asiyiyah Kota Surakarta. Sejarah Dan Langkah Aisyiyah Kota Surakarta. Hal 63 Peranan Organisasi Aisyiyah Daerah Kota Surakarta Dalam Pemberdayaan Perempuan Masa PraKemerdekaan . Annisa Jamilatul Mahmudah perintis TK Bustanul Atfal cabang Surakarta ialah Ibu Djoko Rahardjo dan Ibu Mutmainah Symasulhadi, dilanjutkan oleh Ibu Sudinah Siswoprabowo. Sudarti Siswodihardjo, dan Ibu Hadisunarto, selanjutnya tahun 1936 dilanjutkan oleh Ibu Sukanthi dan Ibu Dinah. Tahun 1936 Bustanul Atfal ini memiliki 23 anak yang bertempat di gedung Sontohartanan 18. Selanjutnya, mengadakan kursus bahasa Melayu, mayoritas pribumi khususnya perempuan ketika itu buta huruf. Perempuan sukar merasakan manisnya ilmu pengetahuan karena tidak diperbolehkan menempuh pendidikan, baca tulis hanya diajarkan bagi anak-anak bangsawan yang sekolah di sekolah yang didirikan Belanda maupun sekolah-sekolah untuk pribumi tetapi hanya bagi laki-laki 19. Kegiatan Aisyiyah untuk menyelesaikan persolaan pendidikan terutama gerakan melek huruf ini dengan mengadakan kursus baca tulis baik latin, melayu, maupun Arab 20. Kursus Muballigh diisi dengan mempelajari Al Quran beserta artinya kemudian di bahas bersama-sama, selain itu cara membaca Al Quran yang benar. Lulusan dari kursus Muballigh ini kemudian menyebarkan agama Islam ke kampung-kampung. Guru-guru yang mengisi kursus Muballigh untuk para anggota Aisyiyah Surakarta salah satunya ialah Kyai Muchtar Buchori selaku ketua Muhammadiyah cabang Surakarta dan Kyai Hadisiswaya, sedangkan salah satu lulusan dari kursus Muballigh ini adalah ibu Nyai Demang Soekati (Majalah Adil No 2 tahun 46 okt II 1. Siswa Praja Aisyiyah cabang Surakarta pun turut membentuk perkumpulan ini, hal-hal yang diajarkan ini tercantum pada majalah Suara Aisyiyah tahun 1930 yakni Siswa Praja supaya diberikan pelajaran adat sopan santun dan bahasa yang alus bahasa Jawa. Siswa Praja supaya diberi pelajaran tentang merawat orang sakit dan orang yang tengah menderita luka. Siswa Praja supaya diberi pelajaran ilmu guru-guru21. Selanjutnya mendirikan sekolah dasar Nasyiatul Aisyiyah yang didirikan oleh organisasi Aisyiyah cabang Surakarta sendiri pada tahun 1940-an bertempat di Kauman utara Masjid Agung. Namun setelah Jepang mulai masuk ke Indonesia menggantikan penjajah Belanda sekolah ini dipindah ke rumah H. Muslih 22. Selain sekolah dasar Aisyiyah juga membangun sekolah kepandaian putri Huishoudschool. Sekolah Huishoudschool . ekolah rumah tangg. ini terletak di timur perempatan Tumenggungan muka Prodia. Tahun 1945 sekolah ini diketuai oleh Ibu Sulastri dan sekretarisnya Muzayanah Sekolah ini mengajarkan tata cara mencuci, menjahit pakaian, menyetrika, dan memasak23. Dinamika Organisasi Aisyiyah Surakarta Dalam Pemberdayaan Perempuan Tahun 1923-1945 Anonim. AuPak Marno Disalahkan Apa?,Ay Adil (Surakarta, 1. Aris Himawan Setiaji. AuWanita Jawa Dalam Pendidikan Kolonial (Studi Sekolah Van Deventer Di Mangkunegaran Surakart. Ay (Universitas Sebelas Maret, 2. Hal 56-57. Tim Penyusun Asiyiyah Kota Surakarta. Sejarah Dan Langkah Aisyiyah Kota Surakarta. Hal 33. Siti Marchamah. AuHal Siswa Praja,Ay Suara Aisyiyah (Yogyakarta. October 1. Hal 64. (H. Muhammad Amir Tanpa Tahu. Hal 16. Ibid Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 1 No. 01 December 2020 | 17-25 Sebagai organisasi perempuan Islam yang pertama kali dibentuk di wilayah Surakarta. Aisyiyah memiliki tujuan untuk memajukan prempuan baik itu dari segi keagamaan, pendidikan, maupun perekonomian. Pada masa awal pergerakan Aisyiyiya kerap mengajak istri-istri dan gadisgadis Jawa untuk mempelajari Islam, hal ini dibuktikan dengan pembangunan musholla perempuan yang terletak di Keprabon. Dibangunnya musholla ini bertujuan agar perempun merasa nyaman dalam belajar mengenai keagamaan, tidak hanya itu Aisyyah pun sering mengadakan pengajianpengajian. Salah satu usaha Aisyiyah yang membuahkan hasil adalah perlahan-lahan mereka mulai mengenakan kerudung sederhana. Model kerudung ini yakni kain panjang yang kemudian disampirkan kepala dan setiap ujungnya ataupun salah satu ujung kerudungnya di sampirkan ke atas pundak 24. Ketika Kolonialisme Belanda berakhir dan Indonesia diduduki Jepang Tahun 1942. Jepang mulai mebentuk sebuah organisasi yang diberi nama Fujinkai. Organisasi ini bertujuan untuk mempermudah pengawasan dan pergerakan perempuan dengan cara menjadikan satu seluruh organisasi perempuan di Hindia Belanda, tak terkecuali Aisyiyah cabang Surakarta. Ketika itu organisasi dilarang melakukan kegiatannya, keadaan ini berlangsung selama kurang lebih 3 setengah tahun sampai hengkangnya Jepang tahun 1945. Aisyiyah Surakarta selama kurun waktu penjajahan Jepang terpaksa tidak bisa melakukan kegiatan-kegiatan maupun programprogram pemberdayaan perempuan karena pelarangan ini. Bahkan, sekolah Nasyiatul Aisyiyah School sempat di pindah ketika Jepang masuk yang semula berada di Kauman utara Masjid Agung kemudian dipindah ke rumah H. Muslih25. PENUTUP Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis terhadap Aisyiyah cabang Surakarta, terkait peranannya dalam memberdayakan perempuan tahun 1923-1945. Maka penulis mengambil kesimpulan, bahwa pemberdayaan perempuan yang diusahakan oleh Aisyiyah tidak hanya bagi kalangan anggota Aisyiyah dan Muhammadiyah saja, melainkan menyeluruh kesegala lapisan masyarakat di Surakarta. Program pemberdayaan perempuan yang dikerjakan organisasi Aisyiyah Surakarta ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dan mampu mengembangkan potensi pada diri masing-masing. Organisasi Aisyiyah mengusung semangat pemberdayaan perempuan sesuai dengan kondisi perempuan pada waktu itu. ibu-ibu dan gadis-gadis Jawa di Surakarta, dilarang menempuh Pelarang ini berakibat mayoritas perempuan Surakarta mengalami buta huruf. Sedangkan, di bidang ekonomi perempuan desa terpaksa harus bekerja di sawah guna membantu perekonomian Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Islam tertua di Surakarta, memberikan banyak kontribusi penting bagi perempuan Surakarta, program-program meliputi gerakan pemberantasan Tim Penyusun Asiyiyah Kota Surakarta. Sejarah Dan Langkah Aisyiyah Kota Surakarta. Hal 29. (H. Muhammad Amir Tanpa Tahu. Hal 16. Peranan Organisasi Aisyiyah Daerah Kota Surakarta Dalam Pemberdayaan Perempuan Masa PraKemerdekaan . Annisa Jamilatul Mahmudah buta huruf, pendirian kursus-kursus, pendirian sekolah-sekolah, pembentukan fasilitas ibadah, dan kegiatan-kegiatan lainya. Gerakan tersebut muncul atas kepedulian sesama perempuan Islam atas kondisi dan situasi yang tengah dialami bersama, pembatasan-pembatasan yang diberikan oleh Patriarkhi, colonial Belanda, maupun peraturan-peraturan Jawa, membuat perempuan hanya berperan di sektor domestik. Perempuan sendiri yang harus bangkit dan menolong sesamanya. oleh karena itu Aisyiyah merupakan bukti nyata bagaimana perempuan menolong sesama Keberadaan organisasi Aisyiyah cabang Surakarta, dirasakan telah membawa dampah positif bagi kemaslahatan umat. Berdasarkan uraian diatas, sudah cukup jelas menegaskan bahwa Aisyiyah Surakarta mempunyai peranan dan sumbangsih yang penting bagi pemberdayaan perempuan di Surakarta tahun 1923-1945. DAFTAR PUSTAKA