Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 7 Nomor 7, Juli 2024 ISSN: 27342488 ANALISIS ALTERNATIF BAGI PELAJAR YANG MENEMPUH PENDIDIKAN DI LUAR DAERAH DALAM MEMAHAMI PERBEDAAN BAHASA YANG DIGUNAKAN SEHARI-HARI Rizki Amallia 1 , Ahmad Maskur Subaweh2 Email: amalliarizki211@gmail.com1 , ahmadmaskur4@gmail.com 2 Universitas Darul Ma'arif ABSTRAK Komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan atau informasi dari seseorang ke orang lain, yang melibatkan lebih dari sekedar katakata yang digunakan dalam percakapan, ekspresi wajah, intonasi, titik putus local, dan sebagainya. Komunikasi pada dasarnya penyampaian pesan yang disengaja dari sumber terhadap penerima dengan tujuan mempengaruhi tingkah laku pihak penerima. Jadi komunikasi lebih fokus pada tujuan atau kesengajaan. Salah satu cara berkomunikasi adalah menggunakan bahasa yang dapat dipahami. Di dalam masyarakat bahasa terkadang terdapat dua atau lebih bahasa yang hidup berdampingan secara subur. Selain itu, juga banyaknya variasi penggunaan bahasa secara bergantian di masyarakat. Gambaran peristiwa pengunaan variasi bahasa di dalam suatu masyarakat yang memiliki peranan tertentu disebut diglosia. Adapun konteks, topik, dan situasi juga merupakan hal yang cukup penting dipahami terlebih dahulu oleh antar penutur. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan harus dikuasai terlebih dahulu agar penutur mampu memilih konteks, topik dan situasi yang tepat untuk melakukan komunikasi. Komunikasi biasanya dilakukan dengan menggunakan bahasa yang dipahami oleh kedua belah pihak. Namun, tidak jarang juga komunikasi dilakukan dengan bahasa yang berbeda beda. Hal ini biasanya terjadi pada pelajar yang menempuh pendidikan di luar daerah. Pada jurnal ini peneliti ingin manganalisa pengunaan bahasa tubuh bisa menjadi alternatif bagi pelajar luar daerah dalam memahami perbedaan bahasa sehari-hari. Penelitian ini dimulai dengan membuat kuis. Kuis dibuat dengan menggunakan media google form. Peneliti memilih media google form dikarenakan memiliki tingkat fleksibel yang tinggi, apalagi peneliti memilih sumber informasi dari luar daerah indramayu tepatnya dari Sumatra Utara. Peneliti memilih sumber informasi yang dsedang menempuh pendidikan di luar daerah. Sumber informasi kita sebut saja informan. Informan 1 berasal dari Pematang Sidamanik yang sedang menempuh pendidikan Universitas Malikusaleh di Aceh, informan 2 berasal dari pematang Sidamanik juga dan sedang menempuh pendidikan di STIKOM Tunas Bangsa Pematang Siantar, informan 3 berasal dari Sidamanik dan sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Medan di Medan. Informan 4 berasal dari Pematang Sidamanik yang menempuh pendidikan Universitas Muhamadiyah Sumatra Utara di Medan, keempat sumber informasi rata rata berasal dari daerah yang sama, namun menempuh pendidikan di luar daerah yang berbeda beda. Dari keempat informan tersebut dapat disimpulkan bahwa mereka menggunakan gerakan tubuh atau bahasa tubuh untuk memahami bahasa yang tidak mereka mengerti. Kata Kunci: bahasa tubuh, komunikasi, luar daerah, pelajar. 1 PENDAHULUAN Dalam buku Drs. Syahrul Abidin, MA yang berjudul Komunikasi Antarpribadi, Suranto mengemukakan bahwa Komunikasi antarpribadi merupakan aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, dan merupakan cara untuk menyampaikan dan menerima pikiran-pikiran, informasi, gagasan, perasaan, dan bahkan emosi seseorang, sampai pada titik tercapainya pengertian yang sama antara komunikator dan komunikan. Komunikasi dilakukan untuk menyampaikan informasi oleh seseorang dan menerima informasi dari seseorang, maka dari itu komunikasi harus dipahami oleh pemberi informasi dan penerima informasi. Di dalam masyarakat bahasa terkadang terdapat dua atau lebih bahasa yang hidup berdampingan secara subur. Selain itu, juga banyaknya variasi penggunaan bahasa secara bergantian di masyarakat. Gambaran peristiwa pengunaan variasi bahasa di dalam suatu masyarakat yang memiliki peranan tertentu disebut diglosia. Adapun konteks, topik, dan situasi juga merupakan hal yang cukup penting dipahami terlebih dahulu oleh antar penutur. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan harus dikuasai terlebih dahulu agar penutur mampu memilih konteks, topik dan situasi yang tepat untuk melakukan komunikasi. Komunikasi biasanya dilakukan dengan menggunakan bahasa yang dipahami oleh kedua belah pihak. Namun, tidak jarang juga komunikasi dilakukan dengan bahasa yang berbeda beda. Hal ini biasanya terjadi pada pelajar yang menempuh pendidikan di luar daerah. Banyak pelajar yang memilih pendidikan di luar daerah. Hal ini karena beberapa orang ingin mencari suasana yang berbeda ataupun mencari tempat pendidikan yang memiliki kualitas yang lebih baik. Sehingga tak jarang pelajar memilih pendidikan di luar daerah. Selain untuk menempuh pendidikan, pelajar juga akan belajar budaya baru dari daerah yang akan mereka datangi. Mulai dari kebiasaan, bahasa dan budaya baru. Bahasa sering kali menjadi salah satu tantangan dalam mengambil pendidikan di luar daerah. Seperti yang penulis alami. Penulis berasal dari daerah Sumatera Utara dan biasanya penulis menggunakan bahasa ibu di daerahnya yaitu bahasa Indonesia, namun ketika pindah ke daerah yang baru penulis berhadapan dengan lingkungan yang memakai bahasa Jawa disetiap percakapannya. Hal ini yang membuat penulis kesulitan dalam berkomunikasi dengan masyarakat di daerah tersebut. Namun kesulitan dalam memahami bahasa mereka tidaklah lama, ternyata belajar bahasa daerah secara langsung atau melakukan komunikasi antarpribadi dapat memudahkan penulis dalam belajar bahasa daerah tersebut. Sehingga dari hasil penelitian yang dilakukan penulis dapat disimpulkan bahwa, mempelajari bahasa lain tidak harus mengikuti kegiatan kursus, namun berasa di lingkungan dengan bahasa yang berbeda dapat membuat seseorang terbiasa bahkan paham dengan bahasa yang digunakan di lingkungan tersebut tanpa mengambil kursus bahasa. ME TODE PE NE LITIA N Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif deskriptif. Penelitian melakukan penyebaran google form atau kuis dan wawancara melalui media sosial kepada beberapa teman yang menempuh pendidikan di luar daerah. Peneliti menggunakan metode ini dikarenakan lebih fleksibel dalam pelaksanaannya. Peneliti akan memilih beberapa teman yang menempuh pendidikan diluar daerah. Sumber informasi berada dari beberapa daerah, ada yang dari Aceh, Medan, Pematang Siantar dan Indramayu. Pengumpulan sumber informasi diawali dengan pembuatan google form yang berikan beberapa kuis tentang cara berkomunikasi di luar daerang tempat tinggal. Setelah semua kuis selesai maka peneliti menghubungi teman yang dipilih sebagai sumber informasi dan membagikan link google form untuk diisi oleh mereka. Selain pengisian kuis dari google form, peneliti juga melakukan wawancara dengan menggunakan media sosial. Peneliti menggunakan media sosial WhasApp. Peneliti memberikan beberapa pertanyaan yang masih i i i i i 2 dianggap kurang pada saat pengisian kuis di google form. HASIL DAN PEMBAHASAN Komunikasi adalah proses penyampaian pemahaman berupa ide dan informasi dari seseorang ke orang lain. Ini bukan hanya kata-kata yang digunakan dalam percakapan, ekspresi wajah, intonasi, jeda lokal, dll. Komunikasi pada dasarnya adalah penyampaian pesan secara sadar dari pengirim kepada penerima dengan tujuan mempengaruhi perilaku penerima. Oleh karena itu, komunikasi berfokus pada tujuan dan niat. Salah satu bagian terpenting dari tindakan komunikatif adalah diri sendiri. Siapa anda dan cara anda memandang diri sendiri dan orang lain memengaruhi cara anda berkomunikasi dan cara anda merespons komunikasi orang lain. Komunikasi diri disebut juga komunikasi intrapersonal merupakan suatu proses komunikasi yang terjadi di dalam tubuh seseorang berupa pengolahan informasi melalui panca indera dan sistem saraf. Orang yang terlibat dalam komunikasi dengan dirinya sendiri ini memberi makna pada objek yang diamatinya dan muncul dalam pikirannya. Contohnya seperti berpikir, menimbang, mendengar sesuatu, menggambar sesuatu, menulis sesuatu, memahami sesuatu, dan sebagainya. Pada jurnal ini peneliti ingin manganalisa pengunaan bahasa tubuh bisa menjadi alternatif bagi pelajar luar daerah dalam memahami perbedaan bahasa sehari-hari. Penelitian ini dimulai dengan membuat kuis. Kuis dibuat dengan menggunakan media google form. Peneliti memilih media google form dikarenakan memiliki tingkat fleksibel yang tinggi, apalagi peneliti memilih sumber informasi dari luar daerah indramayu tepatnya dari Sumatra Utara. Setelah pembuatan kuis melalui media google form, peneliti memilih sumber informasi yang dsedang menempuh pendidikan di luar daerah. Sumber informasi kita sebut saja informan. Informan 1 berasal dari Pematang Sidamanik yang sedang menempuh pendidikan Universitas Malikusaleh di Aceh, informan 2 berasal dari pematang Sidamanik juga dan sedang menempuh pendidikan di STIKOM Tunas Bangsa Pematang Siantar, informan 3 berasal dari Sidamanik dan sedang menempuh pendid ikan di Universitas Negeri Medan di Medan. Informan 4 berasal dari Pematang Sidamanik yang menempuh pendidikan Universitas Muhamadiyah Sumatra Utara di Medan, keempat sumber informasi rata rata berasal dari daerah yang sama, namun menempuh pendidikan di luar daerah yang berbeda beda. Informan 1 menggunakan Bahasa Indonesia saat berada dirumahnya. Informan 1 berasal dari suku Batak. Ayah informan 1 berasal dari suku Batak, namun ibunya dari suku Jawa. Dari keterangan yang diberikan informan 1, mereka menggunakan Bahasa Indinesia saat melakukan komunikasi di rumah. Tidak jarang juga mereka menggunakan bahasa Batak karena ada beberapa keluarga mereka yang menggunakan bahasa Batak. Saat menempuh pendidikan S1 di Aceh, informan 1 masih menggunakan Bahasa Indonesia di lingkungan kampus. Lingkungan kampus memang menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa uatama mereka, hal ini dikarenakan banyak mahasiswa yang berasal dari luar daerah. Saat berada di lingkunan masyarakat ternyata lebih dominan menggunakan bahasa Aceh. Saat saya lihat hasil pengerjaan kuisnya yang berisikan pertanyaan seperti ini “Menurut anda, jika anda ditempatkan di daerah yang memiliki bahasa yang berbeda, dan anda sama sekali belum pernah belajar bahasa dari daerah tersebut, apakah anda bisa melakukan komunikasi dengan warga sekitar? Jelaskan alasannya!” dia menjawab “bisa, dengan cara menggunakan bahasa tubuh”. Kesimpulannya informan 1 mengguna bahasa tubuh saat tidak memahami bahsa daera yang digunakan masyarakat sekitar yang artinya bahasa tubuh bisa menjadi alternatif saat kita tidak bisa memahami bahasa yang ada di daerah tempat tinggal kita. Informan 2 berasal dari pematang Sidamanik juga dan sedang menempuh pendidikan di STIKOM Tunas Bangsa Pematang Siantar. Informan 2 memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari hari, namun tak jarang juga informan 2 memakai bahasa Jawa untuk bahasa 3 sehari harinya dikarenakan lingkungan tempat tinggal informan 2 mayoritas orang Jawa sehingga tidak jarang mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. Informan 2 menempuh pendidikan di luar daerah namun masih memiliki ruang lingkup bahasa yang sama sehingga di lingkungan kampus informan selalu menggunakan bahasa Indonesia. Saat peneliti memberikan kuis tentang bagaimana jika informan 2menempuh pendidikan di luar aderah yang memniliki bahasa yang tidak dikenali informan 2 dapat disimpulkan bahwa informan 2 akan tetap memakai bahasa Indonesia, namun informan 2 akan mempelajari bahasa di daerah tersebut. Saat memilih tetap menggunakan bahasa Indonesia informan 2 juga menggunakan bahasa tubuh agar komunikasi dengan yang lain dapat berjalan dan tersampaikan maksud dan tujuannya. Informan 3 berasal dari Sidamanik dan sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Medan di Medan. Informan 3 berasal dari suku Batak. Informan 3 biasanya menggunakan bahasa Batak saat berkomunilkasi di rumah dan lawan bicara yang memahami bahasa Batak. Informan 3 baiasanya menggunakan bahasa Indonesia di lingkungan kampus dan di luar lingkungan tempat tinggal. Saat diberikan kuis oleh peneliti tentang bagaimana jika informan 3 menempuh pendidikan di luar deerah yang memniliki bahasa yang tidak dikenali informan 3 dapat disimpulkan bahwa informan 3 akan berusaaha mempelajarai bahasa di daerah tersebut. Sebelum menguasai bahasa di daerah tersebut, informan 3 juga akan tetap memakai bahasa Indonesia. Jika penggunakaan bahasa Indonesia tidak efektif dalam melakukan komunikasi maka informan 3 akan mencoba bahasa tubuh yang diselingi dengan bahasa Indonesia. Informan 4 berasal dari Pematang Sidamanik yang menempuh pendidikan Universitas Muhamadiyah Sumatra Utara di Medan. Informan 3 berasal dari lingkungan yang mayoritasnya berbahasa Jawa. Biasanya informan 4 memakai bahasa Jwa di rumah dan bersama teman teman yang memahami bahasa yang sama. Namun ternyata informan 4 juga memakai bahasa yang sama dengan informan lainnya yaitu bahasa Indonesia di kampus dan lingkungan tempat kosannya. Informan 4 juga melakukan hal yang sama ketika ditempatkan di lingkungan dengan bahasa yang berbeda. Informan 4 akan menyimak bahasa mereka dan mencoba memahami dari gerakan tubuh mereka yang kemudian menyimpulkan maksud pemebecaraan mereka. Dari keempat informan tersebut dapat disimpulkan bahwa mereka menggunakan gerakan tubuh atau bahasa tubuh untuk memahami bahasa yang tidak mereka mengerti. KESIMPULAN Pada jurnal ini peneliti ingin manganalisa pengunaan bahasa tubuh bisa menjadi alternatif bagi pelajar luar daerah dalam memahami perbedaan bahasa sehari-hari. Penelitian ini dimulai dengan membuat kuis. Kuis dibuat dengan menggunakan media google form. Informan 1 berasal dari Pematang Sidamanik yang sedang menempuh pendidikan Universitas Malikusaleh di Aceh, informan 2 berasal dari pematang Sidamanik juga dan sedang menempuh p endidikan di STIKOM Tunas Bangsa Pematang Siantar, informan 3 berasal dari Sidamanik dan sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Medan di Medan. Informan 4 berasal dari Pematang Sidamanik yang menempuh pendidikan Universitas Muhamadiyah Sumatra Utara di Medan, keempat sumber informasi rata rata berasal dari daerah yang sama, namun menempuh p endidikan di luar daerah yang berbeda beda. Dari keempat informan tersebut dapat disimpulkan bahwa mereka menggunakan gerakan tubuh atau bahasa tubuh untuk memahami bahasa yang tidak mereka mengerti. 4 DAFTAR PUSTAKA Abidin, Syahrul. Komunikasi Antar Pribadi. Cet . I, Malang: PT. Literasi Nusantara Abadi Grup. 2022. Handoko dalam Ngalimun. Ilmu Komunikasi: Sebuah Pengantaar Praktis. Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2017. Miller dalam Iswandi Saputra. Ilmu Komunikasi: Tradisi, Perspektif dan Teori. Cet. I; Yogyakarta: Calpulis, 2016. Nurudin. Ilmu Komunikasi: Ilmiah dan Populer. Cet. II; Jakarta: Rajawali Pers, 2017. Zikri Fachrul Nurhadi. Teori Komunikasi Kontemporer. Cet. .Depok:Kencana. 2017. 5