Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 28-34 Contents list available at JKP website Jurnal Kesehatan Perintis Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/JKP Kebiasaan Makan pada Balita Stunting di Kecamatan Grogol Kabupaten Kediri Dian Kumalasari*. Umianita Risca Wulandari Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata. Jawa Timur. Indonesia Article Information : Received 16 May 2024. Accepted 28 June 2024. Published online 30 June 2024 *Corresponding author: dian. kumalasari@iik. ABSTRAK Stunting masih menjadi permasalahan dalam gizi anak, walaupun angka kejadian sudah menurun akan tetapi masih menjadi prioritas masalah dikarenakan pemerintah menetapkan target angka stunting ini sebesar 14% di tahun 2024. Salah satu faktor dari ibu adalah perilaku atau kebiasaan pemberian makan yang kurang baik dimana ibu belum memberikan asupan gizi yang baik dan cukup. Penelitian ini memiliki tujuan menganalisis kebiasaan makan pada anak pada balita stunting. Metode penelitian menggunakan rancangan penelitian case kontrol. Pada penelitian ini variabel independen adalah pola konsumsi makanan, sedangkan variabel dependen stunting. Penelitian ini lakukan di Posyandu wilayah kerja Kecamatan Grogol pada bulan Februari 2024 dengan jumlah responden sebanyak 30 balita stunting dan 30 balita Instrument penelitian menggunakan microtoise klasifikasi status gizi dan kuesioner pola pemberian makanan. Hasil penelitian menunjukkan kebiasaan makan yang tepat memiliki pengaruh yang signifikan . value 0,. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kebiasaan makan yang tidak tepat meningkatkan peluang terjadinya stunting. Kata kunci : Kebiasaan makan, balita, stunting ABSTRACT Stunting is still a problem in child nutrition, although the incidence rate has decreased, it is still a priority problem because the government targets the stunting rate to be 14% by 2024. One of the factors is the mother or poor parenting, especially feeding behavior where the mother does not provide good and sufficient nutritional intake for the child. The aim of this research is to analyze the eating habits of stunted children under five. The research method uses a case control research design. In this study the independent variable is food consumption patterns, while the dependent variable is stunting. Location of This research at Posyandu in the working area of Grogol District in February 2024 with a total of 30 stunting toddlers and 30 normal The research instrument used Microtoise to classify nutritional status based on the TB/U indicator, using the TB anthropometric index with a Z score threshold and the Feeding Pattern Questionnaire. The research results show that maternal characteristics such as age, education do not have a significant influence on the incidence of stunting, while income and habits have a significant influence . value 0,. The conclusion of this research is that inappropriate eating habits increase the chances of stunting in children. A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 28-34 Keywords: Eating habits, toddlers, stunting PENDAHULUAN Stunting di Indonesia masih menjadi walaupun dari setiap tahun mengalami Hal ini dikarenakan akibat jangka panjang dari kejadian stunting adalah pertumbuhan dan perkembangan anak di masa selanjutnya. Angka stunting di Indonesia menurut Survey Status Gizi (SSGI) mencapai 21,6% di tahun 2022. Prevalensi stunting ini sebenarnya sudah menurun dari tahun 2013 sampai tahun 2022, akan tetapi masih menjadi prioritas dikarenakan pemerintah menetapkan target angka stunting ini sebesar 14% di tahun Di provinsi Jawa Timur angka stunting mengalami penurunan sebesar 3% pada tahun 2021 sampai 2022 yaitu dari 23,5% menjadi 19,2%. Meskipun terjadi penurunan tetap harus dilihat populasi anak di wilayah Jawa Timur yang relatif besar. Kabupaten Kediri prevalensi stunting mencapai angka 7,9% (Kabupaten Kediri. Angka tersebut masih perlu diturunkan lagi sesuai dengan target yang sudah ditetapkan yaitu zero digit stunting. Gizi buruk pada balita adalah salah satu dari beberapa faktor yang memberikan pengaruh terhadap kejadian stunting. Pada awal kehidupan anak . 0 hari pertam. menjadi awal permasalahan gizi dimulai apabila terjadi kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Akses terhadap makanan yang mengandung gizi yang cukup, konsumsi vitamin dan mineral, serta keanekaragaman makanan yang mengandung sumber protein baik nabati maupun hewani merupakan penyebabnya. Kemudian faktor dari yang berasal dari ibu seperti pola asuh yang kurang tepat seperti perilaku pemberian makanan dengan pemenuhan gizi yang cukup dan seimbang untuk anak (Budiarti & Suliyawati, 2. Beberapa akibat yang muncul sistem imunitas menjadi lemah sehingga tubuh mudah terkena berbagai infeksi seperti pnemunia dan diare. Akibat yang lain seperti kemampuan kognitif, psikomotor, motorik menurun, sehingga menurunkan prestasi Efek jangka panjang maupun pendek dari stunting ini bisa terjadi apabila tidak segera ditangani seperti produktivitas dan pendapatan menurun pada saat menyebabkan munculnya komplikasi pada kehamilan dan meningkatkan angka kematian pada wanita usia reproduksi, serta menurunkan kualitas kesehatan dan gizi pada antar generasi (Rakotomanana et al. Selain karena beberapa faktor diatas terdapat faktor eksternal maupun internal Keterbatasan ekonomi berasal dari faktor eksternal. Karena keterbatasan ekonomi tersebut menjadikan daya beli masyarakat menjadi berkurang sehingga sebagian keluarga belum bisa membeli bahan makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi yang cukup dan seimbang. Akibatnya beberapa anak menggunakan bahan makanan seperti orang dewasa. Selain itu kebiasaan makan yang terjadi di keluarga membuat anak bisa menolak apabila menu makanan yang diberikan tidak sesuai dengan selera makan (Anggraini, 2. Pola konsumsi masyarakat sekitar, kebanyakan masih berlebihan karbohidrat tetapi kekurangan protein. Mengkonsumsi ikan adalah salah satu usaha yang bisa dilakukan untuk memenuhi asupan protein hewani sehari-hari. Salah satu sumber makanan seperti ikan yang diperlukan dalam meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan intelengensia pada anak. Hal ini dikarenakan ikan merupakan salah satu hewan dengan sumber vitamin, lemak, mineral, dan protein yang tersusun dalam asam asam amino esensial. Kandungan tersebut sangat potensial karena diperlukan bagi pertumbuhan dan kecerdasan anak (Suryati, 2. Menurut penelitian dari (Kurniati et al. terdapat hubungan yang positif antara pola kebiasaan makan balita dengan kejadian stunting. Selain makanan terdapat perhatian dan sikap . orang tua dalam pemberian makanan untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal yaitu (Aryani & Syapitri, 2. Oleh karena itu anggota keluarga terutama seorang ibu agar anaknya jauh dari risiko kejadian stunting, harus mendapatkan A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 28-34 pengetahuan yang memadai dan mampu belajar tentang pola pemenuhan gizi pada anaknya (Ayu & Rosyida, 2. Penelitian ini memiliki keterbaruhan dengan penelitian sejenis lainnya dalam hal metode penelitian yaitu menggunakan rancangan case Penelitian bertujuan menganalisis kebiasaan makan pada anak pada balita METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian case kontrol. Pada penelitian ini variabel independen adalah kebiasaan makan, sedangkan variabel dependen adalah stunting. Penelitian ini lakukan di Posyandu wilayah kerja Kecamatan Grogol pada bulan Februari 2024 dengan jumlah populasi 259 balita. Teknik pengambilan sample menggunakan purposive sampling sehingga didapatkan sebanyak 30 balita stunting dan 30 balita normal. Kriteria inklusi dari penelitian ini balita usia 24-59 bulan, sedangkan kriteria ekslusi nya adalah balita dengan gangguan perkembangan seperti Penelitian ini menggunakan alat ukur yaitu kuesioner. Instrumen penelitian menggunakan Microtoise klasifikasi status TB/U, menggunakan indeks antropometri TB dengan ambang batas Z score dan Kuesioner Pola Pemberian Makanan. Kuesioner pemberian makan seperti jenis dan jumlah makanan, frekuensi makan atau jadwal Instrument penelitian berupa kuesioner telah dilakukan uji validitas dengan nilai 0,339 dan reliabilitas sebesar 0, 0,778. Analisis hubungan antara variabel menggunakan uji Chi-square. Penelitian ini mendapatkan ijin layak etik dengan nomor 364/FIK/EP/II/2024. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 menunjukkan sebagian besar pada kelompok kasus usia ibu 21-35 tahun sebesar 70%, sebagian besar Pendidikan ibu dari SMA 53,3%, karakteristik penghasilan dalam keluarga dengan 000 sebesar 13 orang . ,3%). Tabel 2 menjelaskan bahwa dari 11 anak balita yang memiliki kebiasaan makan yang tepat terhadap makanan yang bergizi lebih banyak pada balita tidak stunting . %) dibandingkan dengan yang balita stunting . ,7%). Hasil uji statistik dengan nilai p-value = 0,02 . -value O 0,. yang menunjukkan adanya hubungan bermakna antara kebiasaan makan dengan angka terjadinya stunting pada anak balita. Hasil perhitungan nilai Odds Ratio (OR) yaitu 4,183 menunjukkan anak balita mempunyai kebiasaan makan yang tidak tepat meningkatkan anak mengalami stunting dengan risiko 4 kali lebih besar. Pada penelitian Hagos menyatakan digunakan untuk membeli bahan makanan berkualitas dapat mencegah terjadinya malnutrisi pada anak. Pendapatan yang tinggi akan meningkatkan daya beli yang Sehingga asupan gizi yang baik dan seimbang pada balita tercukupi (Hagos et , 2. Sebaliknya, pendapatan yang rendah akan menurunkan daya beli (Subarkah & Rachmawati, 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian tersebut, hal ini dikarenakan responden memiliki pendapatan diantara 1 sampai 2 Tabel 1. Karakteristik ibu balita Karakteristik Usia ibu Pendidikan Penghasilan Kategori >35 tahun 21-35 tahun < 21 tahun Sarjana/Diploma SMA SMP >1. >2. >2. Kasus Kontrol A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 28-34 Tabel 2 Kebiasaan makan balita stunting Kebiasaan Tepat Tidak tepat Kasus Kontrol Oleh karena itu pendapatan seseorang sangat mempengaruhi kuantitas dan kualitas bahan makanan yang dikonsumsi, kebutuhan nutrisi (Amalika et al. , 2. Pada kenyataannya keluarga dengan umum yang baik. Layanan yang dimaksud adalah seperti pendidikan, kesehatan, dan akses yang lainnya di segala aspek yang balita(Rahmadani et al. , 2. Pendidikan memiliki peran untuk seberapa mampu dalam menyerap dan beradaptasi dengan ilmu atau informasi baru yang ada di sekitar dengan mudah atau Dengan pendidikan yang semakin tinggi diharapkan pengetahuannya juga Pengetahuan seseorang akan mempengaruhi sikap dan perilaku dalam meningkatkan gizi pada anak. Seorang ibu supaya lebih tanggap dan beradaptasi dalam menerima keadaan. Keadaan yang mengalami stunting, maka perlu memiliki pendidikan yang tinggi . uharmianti mentari. Penelitian ini menjelaskan bahwa pendidikan belum memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian stunting. Berdasarkan berkembangnya kemampuan ibu dalam memperoleh informasi melalui media Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa pada anak usia 1-5 tahun memiliki kebiasaan makan kurang tepat terutama pada anak dengan stunting. Pada saat menerapkan pola makan yang tepat, status gizi anak akan meningkat. Kebiasaan makan yang tepat berhubungan dengan Pemberian menu yang seimbang meliputi menu seimbang, frekuensi dan jadwal makan yang teratur. Hasil penelitian ini, pola P-value 0,02 4,183 kebiasaan makan pada anak stunting usia 15 tahun masih yang belum tepat. Dari hasil penelitian didapatkan hasil yaitu pemenuhan kandungan nutrisi dalam makanan yang diberikan masih tidak tepat. Ibu yang memiliki balita normal atau bukan stunting didapatkan data bahwa anaknya sering mengkonsumsi makanan yang mengandung nutrisi seimbang secara rutin. Konsumsi makanan yang seimbang seperti buah-buahan. Sedangkan beberapa ibu balita yang memiliki anak dengan stunting didapatkan bahwa anaknya kurang memenuhi gizi seimbang dan tidak tertatur dalam konsumsi Selain itu balita dengan stunting sering mengkonsumsi makanan dengan pilihan menu yang terbatas atau bahkan sama tiap kali makan. Sehingga asupan nutrisi seperti vitamin, kalsium dan protein sertaa kandungan lain juga kurang karena keterbatasan menu makanan. Biasanya memberikan makanan mengikuti kebiasaan makan dikeluarga yang sudah ada dan menggunakan bahan makanan yang tersedia di rumah tanpa mengetahui dengan pasti kandungan gizinya. Pemberian makan pada balita hanya bergantung pada bahan yang ada di rumah, keinginan anak, mudah diolah, tidak ribet tanpa pengaturan gizi atau tidak mencari menu yang variasi. Selain itu di beberapa penelitian seperti disebutkan oleh Sharma . , pola konsumsi makan pada anak terutama dari pengasuh lebih banyak memberikan makanan yang hanya disukai, mudah disediakaan dan mudah disuapkan. Hal ini merujuk pada bentuk makanan seperti Bila anak memiliki usia yang lebih dini saat mulai mengonsumsi makanan kudapan berhubungan dengan kejadian (Raudhatussabrina dkk, 2. Beberapa menghasilkan informasi yang sama yaitu pemberian makan yang diterapkan oleh ibu A Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis 11 . 2024: 28-34 memiliki pola atau kebiasaan yang memang kurang tepat kepada balita stunting, hal ini kesesuaian gizi pada balita belum sepenuhnya menjadi prioritas. Sebagian orang tua yang memilik anak usia toddler dengan kebiasaan perilaku makan yang tidak sesuai seperti jenis, jadwal dan jumlah berhubungan dengan kejadian sulit makan pada anak tersebut (Anggraini IR, 2. Pada umumnya konsep frekuensi makan dalam sehari sebanyak 3 kali seperti makan pagi, siang dan malam (Ningtias LO, 2. Salah satu pendapat menyebutkan apabila frekuensi makan kurang 2 kali sehari kemungkinan besar menyebabkan kejadian stunting menjadi semakin meningkat pada Frekuensi makan apabila hanya 2 kali atau kurang juga menghambat terserapnya nutrisi yang ada pada bahan makanan. Jenis makanan yang masih dikonsumsi ibu kandungan lainnya. Padahal jenis makanan yang dikonsumsi anak harusnya lebih seimbang dan variatif. Salah satu penyebabnya adalah pengaruh dari perilaku makan orang tuanya seperti di keluarga mengkonsumsi nasi dan mie yang memiliki kandungan yang sama. Menurut peneliti disebutkan juga hasil dari jawaban responden bahwa ibu jarang memberikan makanan selingan yang bergizi. Ibu merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan gizi pada anak melalui pengetahuan dan ketrampilannya dalam memenuhi dan mengolah bahan makanan yang sesuai dengan gizi seimbang. Pola makan yang tepat mengurangi kejadian stunting pada anak (I. Choliq. Nasrulloh, 2. KESIMPULAN Terdapat pemberian makan dengan kejadian stunting pada anak usia 1-5 tahun. Balita yang memiliki kebiasaan makan yang tepat dapat menurunkan angka kejadian stunting. UCAPAN TERIMA KASIH Kami menucapkan terima kasih kepada program hibah internal Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata atas segala dukungan pendanaan penelitian, sehingga kami bisa melaksanakan dan menyusun laporan penelitian dengan baik. REFERENSI