Spiritualitas Kerja Dan Prinsip Keadilan Sosial: Pendampingan Teologis Bagi Orang Beriman Di Koperasi Asep Afaradi Sekolah Tinggi Teologia IKAT Jakarta Email koresponden: asepafariadi69@gmail. Submit: 11-03-2026 Review: 11-04-2026 Diterbitkan: 15-04-2026 Keywords: Vocation. Workers. Economic Theology. Socio-economic Kata Kunci: Panggilan. Pekerja,Teologi Ekonomi,Sosial Ekonomi p: ISSN: 2723-7036 e-ISSN: 2723-7028 A 2026. The Authors. License: Open Journals Publishing. This work is licensed under the Creative Commons Attribution License. https://jurnal. id/index. php/pkm/index Abstract This article examined work spirituality and principles of social justice through theological mentoring activities for Christian employees at Koperasi at Bandung as a form of integrating faith and socio-economic The main problem addressed was the tension between the demands of modern professional work and the integrity of Christian faith, which often reduced work merely to an economic activity. The purpose of this initiative was to construct a theological framework of work as a divine calling . , to cultivate ethical awareness of social justice within workplace culture, and to develop a contextual and applicable model of theological mentoring in the cooperative environment. The method employed was a qualitative-participatory approach through interactive seminars and reflective discussions, enabling dialogue between biblical-Reformed theological reflection and the participantsAo work experiences. The results indicated that understanding work as GodAos calling fostered a transformation in professional attitudes toward integrity, social responsibility, and communal solidarity. The cooperative was understood not merely as an economic institution, but as a space of lived faith reflecting the values of koinonia, justice, and shared well-being. The theological mentoring proved effective in helping participants integrate work spirituality with professional practice in an inclusive manner, so that work became a means of embodying GodAos shalom in grassroots economic life and bearing witness to faith in the public sphere. Abstrak Artikel ini mengkaji spiritualitas kerja dan prinsip keadilan sosial melalui kegiatan pendampingan teologis bagi pegawai Kristen Koperasi di Bandung sebagai bentuk integrasi iman dan praktik sosial-ekonomi. Permasalahan utama yang diangkat adalah adanya ketegangan antara tuntutan profesionalisme kerja modern dengan integritas iman Kristen yang sering mereduksi kerja hanya sebagai aktivitas ekonomi. Tujuan kegiatan ini adalah membangun kerangka teologis mengenai kerja sebagai panggilan ilahi . , menumbuhkan kesadaran etis tentang keadilan sosial dalam budaya kerja, serta mengembangkan model pendampingan teologis yang kontekstual dan aplikatif dalam lingkungan koperasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-partisipatoris melalui seminar interaktif dan diskusi reflektif yang memungkinkan dialog antara refleksi teologi biblika-Reformed dan pengalaman kerja peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pemahaman kerja sebagai panggilan Allah mendorong transformasi sikap profesional menuju integritas, tanggung jawab sosial, dan solidaritas komunal. Koperasi dipahami bukan sekadar institusi Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 ekonomi, tetapi ruang praksis iman yang mencerminkan nilai koinonia, keadilan, dan kesejahteraan bersama. Pendampingan teologis terbukti membantu peserta mengintegrasikan spiritualitas kerja dengan praktik profesional secara inklusif, sehingga pekerjaan menjadi sarana menghadirkan shalom Allah dalam kehidupan ekonomi kerakyatan dan kesaksian iman di ruang publik. PENDAHULUAN Perkembangan ekonomi kerakyatan di Indonesia menempatkan koperasi sebagai salah satu pilar strategis dalam membangun kemandirian dan kesejahteraan bersama. Dalam konteks ini. Koperasi hadir sebagai wadah ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada solidaritas, partisipasi, dan pemberdayaan anggota. Namun demikian, dinamika dunia kerja kontemporer memperlihatkan adanya ketegangan antara profesionalisme, tuntutan produktivitas, dan integritas iman. Para pegawai Kristen yang bekerja di lembaga koperasi kerap menghadapi tantangan etis seperti pragmatisme ekonomi, kompetisi tidak sehat, konflik kepentingan, serta reduksi makna kerja hanya sebagai aktivitas ekonomi tanpa dimensi spiritual. Situasi ini menuntut refleksi teologis yang mampu menjembatani iman dan praksis sosial-ekonomi secara utuh. Dalam tradisi teologi Kristen, kerja bukan sekadar aktivitas mencari nafkah, melainkan bagian dari panggilan ilahi . (D. Kristanto et al. 2024, . Pandangan lain mengungkapkan Pekerjaan manusia merupakan aktivitas yang bersifat transformatif dan sosial, berlangsung secara terarah serta saling berhubungan secara dinamis. Melalui pekerjaan, manusia berupaya menghasilkan karya atau menciptakan kondisi tertentu yang mampu memenuhi kebutuhan diri sendiri maupun sesama. Di dalamnya terkandung proses ekspresi diri, eksplorasi potensi, dan pengembangan kemanusiaan yang berkontribusi pada pembangunan lingkungan alam, sosial, dan budaya (Panggabean 2023, . Martin Luther menekankan bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan dalam iman merupakan bentuk pelayanan kepada Allah dan sesama (Froehlich 1999, 196Ae. Pemahaman ini diperdalam oleh John Calvin memiliki pandangan dinamis tentang panggilan, yakni setiap orang percaya dipanggil untuk melayani Allah bukan hanya di gereja, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk ranah publik seperti politik dan pelayanan masyarakat. Ia akan mengingatkan bahwa panggilan Allah tidak terbatas pada jabatan gerejawi, melainkan mencakup semua profesi, serta mendorong orang Kristen untuk menghidupi dan mengekspresikan iman mereka di mana pun mereka berada. Selain itu, setiap pekerja baik karyawan, pengusaha, pedagang, maupun banker bertanggung jawab terutama kepada Allah (Zeze 2. Sehingga orang Kristen bekerja atau memandang sebuah pekerjaan dengan pengertian karena Allah telah menetapkan tugas yang berbeda bagi setiap orang dalam berbagai bidang kehidupan untuk memuliakan Tuhan. Meskipun demikian, kajian teologi kerja . heology of wor. di Indonesia masih cenderung bersifat normatif dan belum banyak diterapkan dalam program Spiritualitas Kerja Dan Prinsip Keadilan Sosial A (Asep Afarad. pendampingan konkret di lembaga ekonomi seperti koperasi. Penelitian-penelitian mengenai integrasi iman dan pekerjaan lebih banyak dilakukan dalam konteks korporasi besar atau kepemimpinan gerejawi, sementara konteks koperasi yang berakar pada ekonomi solidaritas, belum banyak mengeksplorasi secara teologis. Padahal koperasi memiliki karakter partisipatoris yang sejalan dengan prinsip persekutuan . dalam eklesiologi Perjanjian Baru. Kesenjangan antara refleksi teologis dan praktik keseharian inilah yang menjadi latar belakang dilaksanakannya kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Selain itu, dalam realitas pluralitas sosial Indonesia, pendekatan inklusif menjadi Spiritualitas kerja yang eksklusif dan sektarian berpotensi menimbulkan fragmentasi, sedangkan pendekatan inklusif menegaskan bahwa iman Kristen mendorong kontribusi positif bagi kesejahteraan bersama tanpa kehilangan identitas Dalam kerangka ini, keadilan sosial dipahami bukan hanya sebagai distribusi ekonomi yang adil, tetapi juga sebagai pembentukan budaya kerja yang menghargai martabat setiap pribadi, transparansi, dan akuntabilitas. Pandangan tersebut perlu tercipta, dengan kata lain menciptakan suasana kerja organisasi yang baik akan mendorong kinerja karyawan yang baik pula, demikian juga sebaliknya (Agung and Yogatama 2015, . Pendampingan teologis diperlukan untuk menolong pegawai Kristen merefleksikan panggilan iman mereka dalam konteks koperasi secara kontekstual dan Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam kegiatan pengabdian ini adalah bagaimana pendampingan teologis dapat mengintegrasikan iman Kristen dengan praktik profesional secara inklusif dan kontekstual? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi dasar analisis sekaligus arah intervensi program. Adapun tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah: pertama, membangun kerangka teologis yang alkitabiah dan reformatoris mengenai spiritualitas kerja dan keadilan sosial bagi pegawai Kristen. kedua, memfasilitasi refleksi kritis terhadap praktik kerja sehari-hari agar selaras dengan nilai Kerajaan Allah. ketiga, mengembangkan model pendampingan teologis yang aplikatif dan kontekstual dalam lingkungan koperasi. dan keempat, memperkuat integritas, profesionalisme, serta komitmen pelayanan sebagai wujud kesaksian iman di ruang publik. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menghasilkan peningkatan pemahaman teologis, tetapi juga transformasi budaya kerja yang berkeadilan dan berorientasi pada kesejahteraan bersama. Spiritualitas kerja yang berakar pada Injil akan memampukan pegawai Kristen untuk melihat pekerjaan mereka bukan sekadar tugas administratif, melainkan panggilan ilahi yang menghadirkan shalom Allah di tengah praktik ekonomi kerakyatan. Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif-partisipatoris melalui metode seminar interaktif dan sesi tanya jawab reflektif. Metode ini dipilih karena memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan teologis sekaligus dialog kontekstual antara narasumber dan peserta. Pada tahap awal, pemaparan materi dilakukan secara sistematis berdasarkan kajian teologi biblika dan teologi Reformed mengenai spiritualitas kerja dan prinsip keadilan sosial. Kerangka konseptual yang disampaikan mencakup pemahaman kerja sebagai panggilan . , mandat budaya, serta keadilan sebagai perwujudan kasih Allah dalam struktur sosialekonomi. Penyampaian materi tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dikaitkan dengan konteks konkret kehidupan kerja pegawai di Koperasi di Bandung, sehingga peserta dapat melihat relevansi langsung antara refleksi teologis dan praktik profesional sehari-hari. Tahap berikutnya adalah sesi tanya jawab dan diskusi terbimbing yang bersifat dialogis dan partisipatif. Dalam sesi ini, peserta diberi ruang untuk mengemukakan pengalaman, tantangan etis, serta pergumulan iman yang mereka hadapi dalam Metode ini memungkinkan proses refleksi dua arah: peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga menafsirkan kembali pengalaman kerjanya dalam terang prinsip-prinsip teologis yang telah dipaparkan. Diskusi dipandu dengan pertanyaanpertanyaan reflektif yang menolong peserta mengidentifikasi kesenjangan antara nilai iman dan praktik kerja, sekaligus merumuskan komitmen perbaikan secara personal dan Spiritualitas Kerja Dan Prinsip Keadilan Sosial A (Asep Afarad. HASIL DAN PEMBAHASAN Landasan Teologis Spiritualitas Kerja dan Keadilan Sosial Teologi Penciptaan bisa menjadi fondasi teologis spiritualitas kerja dan keadilan sosial yang paling fundamental dalam kekristenan (Silalahi 2. Di satu sisi, ada pandangan yang mereduksi kerja sebagai sekadar konsekuensi kejatuhan manusia ke dalam dosa, kerja dianggap identik dengan penderitaan dan kutuk. Pandangan ini sering mengutip Kejadian 3 untuk menekankan aspek AupeluhAy dan Aukesusahan. Ay ( Namun di sisi lain, teologi biblika menegaskan bahwa kerja telah ada sebelum kejatuhan. ditempatkan di taman untuk Aumengusahakan dan memelihara. Ay Ketegangan ini menghasilkan kesimpulan penting: kerja bukan sekadar sarana bertahan hidup, melainkan panggilan ilahi untuk mengelola ciptaan dengan tanggung jawab moral. Dalam konteks Indonesia, di mana kerja sering dipahami secara pragmatis atau ekonomis Panggilan dasar manusia adalah menghargai dan menjaga sesama manusia. Tetapi ada cara lain di mana kita serupa dengan Tuhan (Stevens 2012, . Dalam pandangan ini, keadilan sosial bukan agenda tambahan, tetapi konsekuensi logis dari mandat budaya. Jika Allah adalah Pencipta yang adil dan baik, maka setiap aktivitas kerja manusia adalah refleksi dari karakter Allah dalam integritas, tanggung jawab ekologis, dan perhatian terhadap sesama. Sebagaimana Steven mengatakan Aupekerjaan manusia bersifat seperti Allah ketika bersifat relasional. Ini berarti bahwa kita dirancang untuk bekerja bersama. pekerjaan setiap orang harus diperkaya oleh dan dimaksudkan untuk memperkaya sesamanyaAy (Stevens 2012, . Perdebatan lain muncul antara dikotomi sakral-sekuler dan kesatuan panggilan Tradisi abad pertengahan cenderung meninggikan kehidupan biara sebagai bentuk spiritualitas tertinggi, sementara pekerjaan AuduniawiAy dianggap lebih rendah Sebaliknya. Reformator melalui pemikiran seperti yang ditegaskan oleh John Calvin menolak hierarki ini dan menegaskan bahwa setiap profesi adalah panggilan dari Allah, ada hubungan yang tidak terpisahkan antara kerja dan vokasi (Winarjo 2023, . Sebagaimana dikutip oleh Zeze mengatakan AuPernyataan Calvin bahwa Tuhan menempatkan individu di tempat yang Dia inginkan dan bahwa pekerjaan setiap orang adalah jabatan dan posisi yang ditetapkan oleh Tuhan dan setiap orang harus mempertahankan tempat dalam hidup yang telah ditetapkan Tuhan baginya dan yang telah dipanggil Tuhan . Kor 7:. Ay (Zeze 2019, . Pandangan yang bertentangan ini memunculkan pertanyaan: apakah pegawai negeri, pengusaha, buruh pabrik, atau guru memiliki nilai rohani yang sama dengan pendeta? Teologi Reformasi menjawab dengan tegas: ya, selama pekerjaan itu dijalankan dalam iman dan ketaatan. Gagasan Reformasi tentang imamat semua orang percaya menegaskan bahwa jabatan pastoral tetap merupakan panggilan khusus dari Tuhan dengan tanggung jawab dan otoritas tersendiri, namun pada saat yang sama setiap orang percaya juga memiliki panggilan kudus untuk melayani Allah dalam kehidupannya. Semua orang Kristen memiliki akses yang sama kepada Kristus dan status rohani yang setara di hadapan-Nya, sehingga setiap pekerjaan dan kehidupan orang percaya menjadi Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 panggilan suci tanpa harus menjadi pendeta atau pekerja gereja (Veith 2002, . Spiritualitas kerja berarti menghadirkan iman dalam kebijakan publik, etika bisnis, dan pelayanan masyarakat. Dengan demikian, keadilan sosial tidak hanya diperjuangkan melalui mimbar gereja, tetapi juga melalui keputusan anggaran, sistem pengupahan, dan tata kelola perusahaan. Landasan teologisnya adalah pengakuan bahwa Kristus adalah Tuhan atas seluruh ciptaan, bukan hanya atas ruang ibadah. Ketegangan berikutnya terlihat antara individualisme dan solidaritas komunal. Modernitas sering menekankan kerja sebagai pencapaian pribadi dan sarana mobilitas Sebaliknya, teologi menampilkan kerja sebagai bagian dari kehidupan perjanjian yang saling terikat. Hukum Taurat, misalnya, mengatur upah, perlindungan terhadap orang miskin, dan tahun Yobel sebagai bentuk keadilan restorative (Santoso 2025, . Jika kerja dipahami hanya sebagai hak individual, maka eksploitasi dan ketimpangan mudah terjadi. Namun jika kerja dilihat sebagai tanggung jawab perjanjian, maka kesejahteraan bersama menjadi prioritas. Di Indonesia, dengan konteks kemajemukan dan kesenjangan ekonomi yang nyata, gereja perlu menegaskan bahwa spiritualitas kerja mencakup dimensi sosial. Orang percaya dipanggil bukan hanya untuk sukses pribadi, tetapi untuk membangun struktur yang adil. Keadilan sosial tidak berarti menghapus perbedaan, melainkan memastikan setiap orang diperlakukan sebagai gambar Allah (Winarjo 2023, 896Ae. Landasan teologisnya terletak pada kasih perjanjian . yang memadukan kesetiaan kepada Allah dan kepedulian kepada sesama dalam praktik konkret di tempat kerja. Ada pula pertentangan antara teologi kemakmuran dan teologi salib. Teologi kemakmuran sering mengajarkan bahwa iman yang benar akan menghasilkan keberhasilan finansial dan karier yang menanjak (Simorangkir and Sumarno 2021, 66Ae Sebaliknya, teologi salib menekankan penderitaan, pengorbanan, dan kesetiaan dalam situasi sulit. Dalam terang Injil, kerja tidak dijanjikan selalu membawa kelimpahan bahkan Kristus sendiri bekerja sebagai tukang kayu sebelum memikul salib. Spiritualitas kerja yang alkitabiah menolak reduksi iman menjadi alat meraih sukses. Sebaliknya, ia memanggil orang percaya untuk setia, jujur, dan adil meskipun tidak selalu Di Indonesia, di mana narasi kesuksesan sering dipromosikan secara agresif, gereja bertugas untuk mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan bukan hanya angka, tetapi kesetiaan kepada kehendak Allah. Keadilan sosial lahir bukan dari ambisi pribadi, tetapi dari solidaritas dalam penderitaan dan komitmen pada kebenaran. Landasan teologisnya adalah Kristus yang menderita dan bangkit, yang memanggil umatNya untuk bekerja dengan integritas sekalipun harus membayar harga. Perdebatan antara hukum dan anugerah juga memengaruhi pemahaman tentang Ada yang menekankan etika kerja sebagai kewajiban moral yang keras dan tanpa kompromi, sehingga menghasilkan legalisme dan perfeksionisme (Mihai 2024, 2Ae. sisi lain, penekanan berlebihan pada anugerah dapat disalahartikan sebagai kebebasan tanpa tanggung jawab. Teologi Reformed menempatkan keduanya dalam ketegangan yang kreatif: anugerah membebaskan manusia dari pembenaran diri melalui kerja, tetapi justru mendorongnya untuk bekerja sebagai respons syukur. Dengan demikian, kerja Spiritualitas Kerja Dan Prinsip Keadilan Sosial A (Asep Afarad. bukan sarana keselamatan, melainkan buah keselamatan. Dalam konteks Indonesia, di mana budaya kerja keras sering bercampur dengan tekanan sosial, orang Kristen perlu memahami bahwa identitas mereka tidak ditentukan oleh jabatan atau gaji. Spiritualitas kerja berarti bekerja dengan tekun tanpa menjadikan pekerjaan sebagai berhala. Keadilan sosial muncul ketika manusia tidak lagi terobsesi membuktikan diri, melainkan bebas melayani sesama. Landasan teologisnya adalah pembenaran oleh iman yang melahirkan etos kerja yang rendah hati dan bertanggung jawab. Ketegangan lain terlihat antara kapitalisme bebas dan sosialisme kolektif. Kapitalisme menekankan kebebasan individu dan efisiensi pasar, tetapi berisiko melahirkan eksploitasi. Sosialisme menekankan pemerataan dan solidaritas, tetapi dapat mengabaikan tanggung jawab pribadi dan kreativitas. Teologi Kristen tidak sepenuhnya mengidentifikasi diri dengan salah satu sistem, melainkan menilai keduanya berdasarkan prinsip kerajaan Allah. Alkitab menghargai kepemilikan pribadi sekaligus menuntut keadilan dan kepedulian terhadap yang lemah. Dalam konteks Indonesia yang menganut ekonomi Pancasila, orang Kristen dipanggil untuk menjadi garam dan terang dalam merumuskan kebijakan yang menghormati martabat manusia. Spiritualitas kerja berarti menolak praktik korupsi, manipulasi, dan ketidakadilan struktural. Keadilan sosial bukan sekadar slogan politik, tetapi perwujudan kasih Allah dalam sistem ekonomi. Landasan teologisnya adalah pengakuan bahwa bumi dan segala isinya milik Tuhan, sehingga setiap sistem harus tunduk pada prinsip kebenaran dan kasih. Ada pula ketegangan antara spiritualitas kontemplatif dan aktivisme sosial. Sebagian orang menilai bahwa doa dan ibadah adalah inti kehidupan rohani, sementara keterlibatan sosial dianggap sekunder. Sebaliknya, aktivisme dapat kehilangan kedalaman rohani dan berubah menjadi sekadar gerakan moral. Teologi Kristen memadukan keduanya: doa melahirkan tindakan, dan tindakan kembali pada doa. Dalam kehidupan kerja, ini berarti keputusan profesional harus berakar pada relasi dengan Allah. Di Indonesia, di mana dinamika sosial-politik sering kompleks, orang Kristen membutuhkan kebijaksanaan rohani agar tidak terjebak dalam polarisasi. Spiritualitas kerja yang sejati mengintegrasikan disiplin rohani dengan tanggung jawab publik. Keadilan sosial menjadi ekspresi iman yang hidup, bukan sekadar program sosial. Landasan teologisnya adalah inkarnasi KristusAiAllah yang hadir di tengah duniaAiyang menunjukkan bahwa spiritualitas dan keadilan tidak terpisah, melainkan bersatu dalam kasih yang konkret. Perdebatan mengenai natur manusia juga memengaruhi spiritualitas kerja. Optimisme humanistik melihat manusia pada dasarnya baik dan mampu menciptakan masyarakat adil melalui rasionalitas. Sebaliknya, doktrin dosa asal menegaskan kerusakan moral yang mendalam. Teologi Kristen memegang realitas dosa tanpa kehilangan harapan anugerah. Dalam dunia kerja, ini berarti menyadari potensi kebaikan sekaligus kecenderungan mental non-produktif, kemalasan sampai korupsi. Sistem pengawasan, transparansi, dan akuntabilitas bukan tanda kurang iman, melainkan pengakuan realistis akan natur manusia. Bagi pekerja Kristen di Indonesia, kesadaran ini mendorong integritas pribadi sekaligus dukungan terhadap reformasi struktural. Salah satu contoh yang diteliti secara mendalam oleh Wonji Yoo adalah kehidupan pemuda Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 Kristen di Tiongkok yang hidup di tengah tantangan budaya pasca-sosialisme, khususnya terkait etos kerja keras, dorongan kemakmuran ekonomi, serta etika neoliberal yang menekankan pengembangan diri. Kondisi ini turut memunculkan kecenderungan kecanduan kerja, materialisme, dan gaya hidup yang sangat berorientasi pada pencapaian serta kesuksesan. Keberhasilan pemuda Kristen di Tiongkok dipengaruhi oleh pemahaman identitas diri sebagai agen Allah, sehingga pekerjaan dipandang sebagai panggilan rohani, bukan sekadar sarana mencari keuntungan. Mereka menata kehidupan ekonomi berdasarkan prinsip teosentris dengan menempatkan kehendak Tuhan di atas ambisi kesuksesan, materialisme, dan tekanan pasar neoliberal. Akibatnya, mereka mengembangkan etos kerja yang disiplin, etis, dan bermakna, di mana keberhasilan ekonomi dipahami sebagai sarana untuk memuliakan Allah dan melayani sesame (Yoo 2020, . Keadilan sosial tidak lahir dari naivitas, tetapi dari pertobatan terus-menerus dan pembaruan oleh Roh Kudus. Landasan teologisnya adalah pengudusan yang progresifAiAllah bekerja dalam dan melalui manusia berdosa untuk memulihkan relasi Ketegangan antara eskatologi futuristik dan tanggung jawab kini juga relevan. Ada pandangan yang menekankan bahwa dunia ini akan berlalu, sehingga usaha memperbaiki struktur sosial dianggap kurang penting. Sebaliknya, teologi kerajaan Allah melihat bahwa pekerjaan sekarang memiliki makna kekal. Kebangkitan Kristus menjadi jaminan bahwa karya dalam Tuhan tidak sia-sia. Dalam konteks Indonesia, di mana tantangan kemiskinan dan ketidakadilan nyata, orang Kristen tidak boleh melarikan diri pada spiritualitas eskapis. Spiritualitas kerja berarti menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah melalui praktik keadilan, kejujuran, dan belas kasih. Keadilan sosial adalah anticipatio regni sebuah pendahuluan dari pemerintahan Allah yang sempurna. Landasan teologisnya adalah harapan eskatologis yang aktif, bukan pasif, yang mendorong keterlibatan kreatif setiap komunitas orang percaya dalam Sejarah melalui segala panggilannya (Mostert 2011, . Akhirnya, semua ketegangan ini menemukan jawabannya dalam Kristologi yang Kristus adalah Pencipta. Penebus, dan Raja. Dalam Dia, kerja dipulihkan dari kutuk menjadi sarana pelayanan. dalam Dia, keadilan ditegakkan melalui salib dan kebangkitan. Spiritualitas kerja Kristen bukan moralitas kosong atau ideologi politik, melainkan partisipasi dalam misi Allah. Bagi orang Kristen IndonesiaAibaik di pemerintahan, bisnis, pendidikan, maupun sektor informalAilandasan teologisnya adalah kesatuan antara iman dan praktik. Mereka dipanggil untuk bekerja dengan integritas, memperjuangkan keadilan, dan membangun masyarakat yang mencerminkan kasih Allah. Dengan demikian, spiritualitas kerja dan keadilan sosial bukan dua agenda terpisah, tetapi satu kesaksian tentang Tuhan yang berdaulat atas seluruh kehidupan. Kerja dalam Perspektif Teologis Kristen Koperasi pada dasarnya merupakan bentuk organisasi ekonomi yang dibangun atas prinsip kebersamaan, partisipasi, dan kesejahteraan bersama. Secara umum, koperasi Spiritualitas Kerja Dan Prinsip Keadilan Sosial A (Asep Afarad. dipahami sebagai lembaga ekonomi yang dimiliki dan dikelola secara kolektif oleh anggota demi memenuhi kebutuhan bersama, bukan semata-mata untuk akumulasi keuntungan individu (Sitio and Tamba 2. , (Jegalus 2. Dalam perspektif teologis Kristen, konsep koperasi memiliki resonansi yang kuat dengan nilai-nilai Alkitab mengenai persekutuan, keadilan sosial, tanggung jawab bersama, dan pengelolaan sumber daya sebagai mandat Allah kepada manusia. Oleh sebab itu, koperasi tidak hanya dapat dipahami sebagai sistem ekonomi alternatif, tetapi juga sebagai ruang praksis iman dalam kehidupan sosial-ekonomi (Rutishauser-James 2009, 328Ae. Teologi Kristen memulai pemahaman sosial-ekonomi dari doktrin penciptaan. Dalam Kejadian 1:26Ae28, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Salah satu implikasi penting dari doktrin ini adalah bahwa manusia bersifat relasional dan komunal. Allah sendiri dinyatakan dalam relasi kasih, sehingga manusia sebagai gambar Allah dipanggil untuk hidup dalam kebersamaan, bukan individualism (Hoekema 2. Prinsip kerja di koperasi menekankan kerja sama dan kepemilikan bersama mencerminkan natur komunal tersebut. Sejak awal penciptaan, manusia tidak dimaksudkan hidup secara terisolasi. Pernyataan Autidak baik manusia seorang diri sajaAy (Kej. menunjukkan bahwa kehidupan manusia menemukan maknanya dalam relasi saling menolong. Dalam kerangka ini, koperasi dapat dipahami sebagai ekspresi sosial dari panggilan manusia untuk membangun kehidupan bersama yang saling menopang secara ekonomi maupun Sistem ekonomi yang terlalu individualistik sering menghasilkan kesenjangan dan eksploitasi, sedangkan koperasi berusaha mengembalikan dimensi kebersamaan yang selaras dengan visi penciptaan Allah. Mandat Budaya dan Teologi Kerja Teologi kerja Kristen menegaskan bahwa manusia menerima mandat budaya untuk mengusahakan dan memelihara bumi (Kej. Mandat ini tidak diberikan kepada individu secara terpisah, melainkan kepada komunitas manusia. Artinya, pengelolaan sumber daya ekonomi pada hakikatnya merupakan tanggung jawab kolektif. Koperasi menjadi salah satu bentuk konkret pelaksanaan mandat tersebut karena mendorong partisipasi anggota dalam produksi, distribusi, dan pengelolaan kesejahteraan bersama. Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 Dalam pemikiran Reformasi, khususnya melalui Martin Luther, pekerjaan dipahami sebagai panggilan ilahi . Setiap profesi memiliki nilai rohani ketika dilakukan untuk melayani sesama. Sementara itu. John Calvin menekankan bahwa aktivitas ekonomi harus dijalankan dengan tanggung jawab moral di bawah kedaulatan Allah (D. Kristanto et al. Dari pandangan tersebut maka prinsip koperasi yang menempatkan pelayanan anggota di atas keuntungan maksimal sejalan dengan pandangan ini, karena ekonomi dipahami sebagai sarana pelayanan sosial, bukan dominasi kekuasaan ekonomi. Dengan demikian, koperasi dalam perspektif teologis menjadi ruang di mana kerja manusia diarahkan pada kesejahteraan komunitas, bukan hanya kepentingan pribadi. Kerja kolektif dalam koperasi mencerminkan solidaritas yang menjadi bagian dari panggilan iman Kristen. Salah satu dasar teologis paling kuat bagi konsep koperasi dapat ditemukan dalam kehidupan gereja mula-mula sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:44Ae45 dan 4:32Ae35 (Dewantara 2023, 280Ae. Komunitas Kristen awal hidup dalam semangat koinonia, yaitu persekutuan yang melibatkan berbagi sumber daya demi memenuhi kebutuhan bersama. Mereka menjual milik kepunyaan dan membagikannya sesuai kebutuhan setiap orang. Praktik ini bukanlah komunisme ideologis, melainkan ekspresi kasih dan solidaritas Kepemilikan pribadi tetap diakui, tetapi orientasinya berubah dari kepentingan diri menuju kesejahteraan komunitas. Prinsip ini sangat dekat dengan nilai koperasi: kepemilikan bersama, tanggung jawab kolektif, dan distribusi manfaat secara adil. Dalam terang teologi koinonia, koperasi dapat dilihat sebagai bentuk modern dari praktik solidaritas ekonomi yang berakar pada spiritualitas Kristen. Keadilan Sosial sebagai Tuntutan Iman Alkitab secara konsisten menekankan keadilan sosial sebagai kehendak Allah. Para nabi Perjanjian Lama mengecam praktik ekonomi yang menindas kaum lemah (Am. 5:11Ae15. Yes. Teguran dan kritik sosial dalam Kitab Amos bertujuan untuk mengajarkan bahwa kejahatan sosial dalam masyarakat membuat setiap ibadah agamawi tidak berguna (B. Kristanto 2024, . Keadilan bukan sekadar konsep hukum, tetapi Spiritualitas Kerja Dan Prinsip Keadilan Sosial A (Asep Afarad. tindakan nyata yang melindungi martabat manusia. Dalam Perjanjian Baru. Yesus sendiri menunjukkan perhatian kepada kelompok marginalAiorang miskin, pekerja kecil, dan mereka yang tersisih secara sosial. Dalam refleksi teologi modern. Nicholas Wolterstorff menegaskan bahwa keadilan berkaitan dengan penghormatan terhadap hak manusia sebagai gambar Allah. Tuhan menghendaki setiap manusia mengalami pertumbuhan dan kepenuhan hidup yang dalam tradisi para penulis Perjanjian Lama disebut sebagai shalom, sehingga karena ketidakadilan merusak keadaan damai dan sejahtera tersebut. Allah yang mengasihi keadilan menuntut terwujudnya keadilan demi perkembangan seluruh ciptaan-Nya, di mana kasih dan keadilan bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling berkaitan dan menopang satu sama lain (Wolterstorff 2008, . Koperasi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan anggota kecil dan masyarakat akar rumput menjadi sarana konkret pelaksanaan keadilan sosial tersebut. Melalui sistem partisipatif, koperasi berusaha mengurangi ketimpangan ekonomi yang sering dihasilkan oleh sistem ekonomi yang kompetitif dan eksploitatif. Dengan demikian, koperasi dapat dipahami sebagai praktik ekonomi yang sejalan dengan visi shalom AllahAikeadaan damai sejahtera yang mencakup relasi yang benar antara manusia dengan Allah, sesama, dan struktur sosial. Manusia bukan pemilik mutlak atas sumber daya ekonomi, melainkan pengelola yang bertanggung jawab kepada Allah. Prinsip ini menolak keserakahan dan eksploitasi yang merusak komunitas. Dalam koperasi, keputusan ekonomi diambil melalui musyawarah anggota, sehingga kekuasaan ekonomi tidak terpusat pada individu Model ini mencerminkan prinsip penatalayanan kolektif, di mana sumber daya digunakan untuk keberlanjutan dan kesejahteraan bersama. Transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab sosial menjadi nilai yang selaras dengan etika Kristen. Ketika koperasi dijalankan dengan semangat stewardship, aktivitas ekonomi menjadi tindakan iman yang menghormati Allah melalui pengelolaan yang adil dan bijaksana. Dimensi Inklusivitas dan kesaksian publik dalam konteks masyarakat plural, koperasi juga memiliki dimensi kesaksian publik bagi iman Kristen. Spiritualitas Kristen tidak diwujudkan melalui dominasi religius, tetapi melalui kontribusi nyata bagi kesejahteraan Koperasi menjadi ruang di mana nilai kasih, kejujuran, dan keadilan dapat diwujudkan tanpa diskriminasi. Pegawai dan anggota Kristen menunjukkan iman mereka melalui profesionalisme, pelayanan, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, koperasi berfungsi sebagai bentuk diakonia sosialAipelayanan gereja yang hadir di tengah masyarakat melalui struktur ekonomi. Tujuan akhir teologi sosial Kristen adalah terwujudnya shalom Allah. Shalom tidak hanya berarti damai spiritual, tetapi kesejahteraan menyeluruh yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan relasional. Sistem ekonomi yang adil dan partisipatif merupakan bagian dari visi tersebut. Koperasi, ketika dijalankan secara etis, menjadi sarana menghadirkan shalom dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Melalui koperasi, individu belajar berbagi tanggung jawab, membangun kepercayaan, dan mengutamakan kesejahteraan bersama. Nilai-nilai ini bertentangan dengan budaya ekonomi yang menekankan kompetisi tanpa batas. Dalam terang teologi Kristen, keberhasilan ekonomi Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 tidak diukur hanya dari keuntungan finansial, tetapi dari sejauh mana kehidupan bersama menjadi lebih adil, manusiawi, dan bermartabat. Karena kerja adalah sarana utama untuk mengentaskan kemiskinan sementara dan juga sebagai elemen mendasar dalam mematahkan ikatan gaya hidup kesejahteraan (Manunay 2022, . Dari sudut pandang teologis Kristen, koperasi bukan sekadar lembaga ekonomi, melainkan ekspresi praksis iman dalam kehidupan sosial. Prinsip kebersamaan mencerminkan natur komunal manusia sebagai gambar Allah. kerja kolektif mencerminkan mandat budaya. kesejahteraan mencerminkan keadilan sosial. dan pengelolaan bersama mencerminkan penatalayanan yang bertanggung jawab. Dengan demikian, koperasi dapat dipahami sebagai ruang transformasi sosial di mana iman Kristen diwujudkan secara konkret. Ketika nilai-nilai InjilAikasih, keadilan, integritas, dan solidaritasAimenjadi dasar pengelolaannya, koperasi tidak hanya menghasilkan kesejahteraan ekonomi, tetapi juga membangun komunitas yang mencerminkan nilai Kerajaan Allah di tengah masyarakat. Dalam konteks ini, keterlibatan orang Kristen dalam koperasi merupakan bagian dari panggilan misional untuk menghadirkan shalom Allah melalui praktik ekonomi yang adil, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama. KESIMPULAN Kegiatan pendampingan teologis bagi pegawai Kristen di Koperasi di Bandung menegaskan bahwa spiritualitas kerja dan keadilan sosial merupakan dua dimensi yang tidak terpisahkan dalam panggilan iman Kristen. Kerja, dalam perspektif teologi penciptaan dan Reformasi, bukan sekadar sarana ekonomi, melainkan partisipasi manusia dalam mandat Allah untuk memelihara ciptaan dan membangun kesejahteraan Melalui pendekatan reflektif-partisipatif, peserta mengalami pergeseran paradigma dari pemahaman kerja yang pragmatis menuju kesadaran bahwa profesi merupakan bentuk pelayanan kepada Allah dan sesama. Kajian ini menunjukkan bahwa koperasi memiliki relevansi teologis yang kuat karena mencerminkan nilai-nilai alkitabiah seperti kebersamaan, solidaritas, tanggung jawab kolektif, dan distribusi kesejahteraan yang adil. Prinsip koinonia gereja mula-mula menemukan ekspresi kontekstualnya dalam praktik ekonomi koperasi yang menempatkan manusia dan martabatnya di atas akumulasi keuntungan. Pendampingan teologis juga membantu peserta memahami berbagai ketegangan dalam dunia kerja modernAiantara iman dan profesionalisme, individualisme dan solidaritas, keberhasilan ekonomi dan kesetiaan imanAidalam terang Kristologi yang utuh. Transformasi yang dihasilkan tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga etis dan praksis, terlihat dalam meningkatnya komitmen terhadap integritas, transparansi, serta tanggung jawab sosial dalam budaya kerja. Dengan demikian, spiritualitas kerja menjadi sarana kesaksian Kristen di ruang publik. Artikel ini menegaskan bahwa keadilan sosial merupakan ekspresi konkret kasih Allah dan bahwa praktik ekonomi yang berkeadilan. Spiritualitas Kerja Dan Prinsip Keadilan Sosial A (Asep Afarad. seperti koperasi, dapat menjadi instrumen menghadirkan shalom Allah dalam konteks ekonomi kerakyatan Indonesia secara nyata dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA