1 JURNAL KAJIAN PEMBELAJARAN DAN KEILMUAN Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024 Halaman 1-11 p-ISSN: 2579-4299, e-ISSN: 2621-0533, DOI: 10.26418/jurnalkpk.v8i1.70325 https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jurnalkpk ALIH KODE DAN CAMPUR KODE PADA INTERAKSI WARGA MTS BABUSSALAM KECAMATAN TELUK PAKEDAI KABUPATEN KUBU RAYA Elviana, Hotma Simanjuntak , Agus Wartiningsih, Ahadi Susissusiawan, Henny Sanulita Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Untan Pontianak Article Info Article history: Received: 15 September 2023 Revised:19 March 2024 Accepted: 27 April 2024 Keywords: Code, Code Mixing, Code Switching, Interaction ABSTRACT The use of the Indonesian language is a cultural development nation, as well as the unifying language of the Indonesian na Today most of humanity is bilingual. Bilingual symptoms can o anytime and anywhere. One of them is in the educational environm The educational environment is one of the formal places w Indonesian is supposed to be used. However, in reality there are m uses of the Madurese language either intentionally or unintentio by students and teachers. This language condition is a sympto code-switching and code-mixing that is spoken by students students when interacting both in class and outside the classroom. purpose of this study was to describe the types, forms and factors cause code-switching and code-mixing in the residents of Babussalam, Teluk Pakedai District, Kubu Raya Regency. The me in this article uses a descriptive method. The form of research use this research is qualitative research. The data collection technique the researcher used in this study was a direct communica technique, namely interviews and an indirect technique, na indirect observation. Data collection tools that researchers use recording devices and note-taking devices. This study uses equivalent method with the technique of sorting out the determina Copyright © 2024 Elviana, Hotma Simanjuntak, Agus Wartiningsih, AhadiSulissusiawan, Henny Sanulita. ✉ Corresponding Author: Elviana, Hotma Simanjuntak, Agus Wartiningsih, Ahadi Sulissusiawan, Henny Sanulita Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP Universitas Tanjungpura, Pontianak Email: f2161211023@student.untan.ac.id PENDAHULUAN Penggunaan bahasa Indonesia adalah sarana untuk mengekspresikan apa yang terkandung dalam pikiran, alat komunikasi sebagai penyampaian pesan, sekaligus merupakan wujud dalam perkembangan kebudayaan suatu bangsa. Sebagai bangsa yang 2 terdiri dari berbagai suku, bahasa Indonesia mempunyai status istimewa sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Pemakaian bahasa yang memiliki berbagai ragam dan bervariasi bahasa, baik dialek, maupun idiolek memiliki keterkaitan dengan budaya masyarakat pemakainya. Saat ini sebagian besar manusia adalah dwibahasawan. Individu sebagai dwibahasawan yang dimaksud selain menguasai bahasa pertama sebagai bahasa ibu, juga menguasai bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi. Namun dari kalangan dwibahasa terbiasa menggunakan dua bahasa atau lebih, bahkan lebih dimonanasi bahasa asing yaitu bahasa Inggris dan bahasa Arab. Bahasa asing yang dimaksud merupakan bahasa yang dipelajari yang banyak diterapkan dalam komunikasi kepada guru dalam proses belajar mengajar di kelas. Perihal terkait dwibahasa bisa terjadi dimanapun baik sengaja maupun tidak sengaja. Salah satunya di lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan adalah salah satu tempat formal seharusnya menggunakan bahasa Indonesia. Akan tetapi, pada kenyataannya banyak ditemukan penggunakan bahasa Madura baik secara disengaja maupun tidak disengaja oleh siswa dan guru. Kondisi kebahasaan tersebut merupakan hal yang menarik karena, pada dasarnya di lingkungan pendidikan seharusnya menggunakan bahasa Indonesia pada saat komunikasi. Namun, pada kenyataannya ditemukan guru dan siswa tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Gejala tersebut dapat berupa alih kode dan campur kode. Penggunaan alih kode dan campur kode merupakan hal yang tidak dapat dihindari di lingkungn pendidikan. Guru dan sisw sebagian besar merupakan dwibahasawan. Mereka menguasai dua bahasa sekaligus, yaitu bahasa Madura dan bahasa Indonesia sehingga terjadi alih kode dan campur kode pada berkomunikasi. Memilih alih kode dan campur kode yaitu sebagai berikut: Pertama, kurangnya penerapan bahasa Indonesia dalam lingkungan Pendidikan sebagaimana telah disebutkan dalam UUD 1945 pasal 36 ayat 1 dan 2. Kedua, sekolah ini mayoritas muridnya berasal dari suku Madura. Ketiga, sekolah ini gurunya berasal dari suku Madura 80% dan guru yang suku Melayu 20%. Keempat, peneliti ingin menggambarkan bagaimana aktivitas berbahasa siswa dengan siswa, siswa dengan guru dan guru dengan siswa di kelas maupun di luar kelas. Penggunaan bahasa di lingkungan sekolah Madrasah Tsanawiyah Babussalam seharusnya yaitu bahasa Indonesia baik guru maupun siswa. Namun, tanpa disadari terkadang terjadi dwibahasa yaitu bahasa Indonesia beralih kode dan campur kode ke bahasa Madura saat berinteraksi. Fenomena bahasa dalam kehidupan sosial yang multilingual terkait dengan alih kode dan campur kode. Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti memfokuskan pada penelitian yang berjudul Alih Kode dan Campur Kode Pada Interaksi Warga MTs Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya. METODE PENELITIAN Metode dalam artikel ini menggunakan metode deskriptif, karna sesuai dengan penelitian tersebut. Alasan peneliti menggunakan metode deskriptif dalam penelitian ini ialah untuk menganalisis dan mendeskripsikan pokok permasalahan alih kode dan campur kode pada interaksi warga Mts Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai saat berinteraksi. Menurut Zuldafrial (2012, p. 5) menyatakan bahwa metode deskriptif adalah data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka. Artikel ini menggunakan bentuk penelitian kualitatif sesuai dengan tahap penelitian yang dilakukan. Alasan penelis menggunakan bentuk penelitian kualitatif karena data yang dikumpulkan berupa kata-kata secara lisan berupa tuturan alih kode dan campur kode pada interaksi warga Mts Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya dan bukan angka. Menurut Ismawati (2012, p. 10) menyatakan bahwa penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang dapat diamati. Data dalam penelitian ini adalah jenis alih kode pada interaksi 3 siswa di Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya, wujud campur kode pada interaksi siswa di Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya dan apa saja faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode dan campur kode pada interaksi siswa di Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya. Data penelitian terdiri dari kualitas tuturan verbal, bukan angka. Sumber data dalam penelitian adalah siswa dengan siswa, siswa dengan guru dan guru dengan siswa di kelas maupun di luar kelas Madrasah Tsanawiyah Babussalam kecamatan Teluk Pakedai. Jumlah keseluruhan siswa Mts Babussalam kecamatan Teluk Pakedai yaitu 90 siswa. Sedangkan jumlah keseluruhan guru Madrasah Tsanawiyah Babussalam kecamatan Teluk Pakedai yaitu 15 guru. Teknik pengumpul data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini ialah teknik tidak langsung yakni observasi tidak langsung dan teknik komunikasi langsung yakni wawancara. Menurut Sugiyono (2017, p. 74) bahwa wawancara tak berstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk mengumpulan datanya. Penelitian ini berjenis deskriptif, yang bertujuan menganalisis jenis dan wujud alih kode dan campur kode pada interaksi siswa di kelas maupun luar kelas. Teknik analisis data dalam peneliti ini menggunakan dua metode yaitu metode padan. Menurut Sudaryanto (2015, p. 24) menyatakan bahwa metode padan merupakan suatu metode yang alat penentunya berada di luar, terlepas dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan. Penelitian ini berfokus 3 rumusan masalah yaitu (1) Bagaimana jenis alih kode dan campur kode pada interaksi warga sekolah di Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya? (2) Bagaimana wujud alih kode dan campur kode pada interaksi warga sekolah di Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya? (3) Apa saja faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode dan campur kode pada interaksi warga sekolah di Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya? HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Alih kode dan campur kode pada interaksi warga sekolah di Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya Sosiolinguistik adalah ilmu bidang studi sosiologi dan linguistik yang mengkaji bahasa dan struktur penggunaan bahasa pada masyarakat (Malabar, 2015, p. 3). Sosiolinguistik lebih berhubungan dengan penggunaan bahasa yang sebenarnya, seperti pola-pola pemakaian bahasa atau dialek dalam budaya tertentu sedangkan sosiologi bahasa lebih berhubungan dengan faktor-faktor sosia yang saling bertimbal balik dengan bahasa atau dialek. Konsisten dengan hal di atas, Jazeri (2017, p. 4) menyatakan bahwa sosiolinguistik adalah menelaah bahasa dalam hubungannya dengan masyarakat. Bilingualism (kedwibahasaan) secara sosiolinguistik berarti pemakaian dua bahasa atau lebih secara bergantian oleh seorang penutur atau masyarakar tutur dalam berinteraksi dengan orang lain. Secara istilah kedwibahasaan dikenal kalangan masyarakat dengan bilingualisme yang berarti salah satu indinvidu atau kelompok mampu menguasai dua bahasa pada saat bertutur. Menurut Chaer dan Agustina (2010, p. 84) menyatakan bahwa kedwibahasaan adalah penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian. Kedwibahasaan adalah salah satu peristiwa dalam berinteraksi karena beberapa faktor. Menurut Simantunjak (2017, p. 70) menyatakan bahwa berdasarkan pada sejarah dwibasa terbagi menjadi 4 faktor penyebab kedwibahasaan yaitu sebagai berikut: (1) Dwibahasa dan bahasa melalui perpindahan penduduk (2) Dwibahasa dan bahasa melalui penjajahan (3) Dwibahasa dan bahasa persekutuan (4) Dwibahasa dan bahasa melalui sempadan. Alih kode merupakan salah satu faktor tentang ketergantungan bahasa dalam sekelompok masyarakat sehingga terjadinya bilingual atau multilingual. Menurut 4 Wardhaugh (2006, p. 88) menyatakan bahwa alih kode dan campur kode adalah metode percakapan serta kemampuan beralih bahasa tersebut. Menurut Hymes menyebutkan jenis alih kode yaitu alih kode internal dan alih kode eksternal. Menurut Poedjosoedarmo (1976, p. 14-20) membagi alih kode menjadi dua macam yaitu sebagai berikut (1) Alih kode sementara dan (2) Alih kode parmanen. Pembahasan mengenai alih kode, biasanya diikuti dengan pembicaraan tentang campur kode. Campur kode terjadi apabila seorang penutur menggunakan penyisipan kode bahasa pada saat pembicaran, misalnya kode bahasa Indonesia ke dalam bahasa daerahnya dalam pembicaraan tersebut. Dengan kata lain, seseorang yang berbicara dengan kode utama bahasa Indonesia yang memiliki fungsi keotonomiannya, sedangka kode bahasa daerah yang terlibat dalam kode utama merupakan serpihan- serpihan saja tanpa fungsi atau keotonomian sebagai sebuah kode maka disebut campur kode. Menurut Azhar, dkk (2011, p. 17) menyatakan bahwa campur kode dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut: (1) campur kode ke dalam (Inner Code- Mixing) dan (2) campur kode ke luar (Outer CodeMixing). Menurut Rohmadi (2010, p. 66) campur kode memiliki berbagai bentuk atau wujud antara lain sebagai berikut: (1) kata (2) frasa (3) klausa (4) kata ulang dan (5) idiom. A. Data Jenis, Wujud dan Faktor Penyebab Terjadinya Alih Kode pada interaksi warga sekolah di Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya (1) Data guru dengan siswa Guru : sapah se nangis e kelas kennak? (siapa yang nangis di kelas budak) Siswa : ayu bu diolok-diolok aril Bu Guru Aril : dikacau gimane ril sampai nangis? : ngolok name orang tue bu, awal ayu duluan jadi aku balas olok gak tak lama nangis Guru : kenapa name orang tua yu? Ayu : Ken awalah Aril ngolok engkok Bu, bi' engkok beles namanah orang tuanah Bu kek beci'en (kan awalnya aril ngolok saya bu, terus saya balas namanya orang tuanya karna faktor benci) Guru : Aril dan ayu sama-sama salah seharusnya tidak boleh nyebut name orang tua masing-masing. Hukumnya pungut sampah di lingkungan sekolah. Ayu : iyyeh bu (iya bu) Guru : Aril juga pungut sampah! Aril : iyyeh bu (iya bu) Analisis: Data di atas merupakan percakapan menyuruh guru dan siswa pada saat di kelas. Percakapan tersebut terjadi di kelas Mts Babussalam. Guru sedang menegur siswa. Percakapan tersebut terjadi pada saat siang hari. Percakapan tersebut terdapat fenomena peralihan kode atau peralihan bahasa oleh lawan tutur yaitu siswa. a. Jenis Alih Kode Percakapan antara guru dan siswa tersebut digolongkan sebagai fenomena peralihan kode ke dalam Internal Code Swiching karena dalam percakapannya menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Madura. Kedua bahasa tersebut merupakan bahasa serumpun. 5 b. Bentuk Alih Kode Percakapan di atas merupakan alih kode permanen, karena di dalam percakapannya menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Madura. Pada poin 1 guru pertanyaan kepada siswa menggunakan bahasa Madura “sapah se nangis e kelas kennak? (siapa yang nangis di kelas budak) kemudian pada poin 2 siswa menggunakan bahasa Indonesia. Pada poin ke 6 siswa menjawab menggunakan bahasa Madura “Ken awalah Aril ngolok engkok Bu, bi' engkok beles namanah orang tuanah Bu kek beci'en (kan awalnya aril ngolok saya bu, terus saya balas namanya orang tuanya karna faktor benci)”. Pada percakapan terakhir siswa juga menjawab menggunakan bahasa Madura “iyyeh (iya)”. c. Faktor Alih Kode Dapat disimpulkan bahwa data percakapan di atas terjadi fenomena peralihan kode karena penutur. Dibuktikan pada tuturan tersebut, awal guru atau penutur menggunakan bahasa Madura yang bermaksud menanyakan siapa yang nangis di kelas 7 karna suaranya kedengaran ke kantor. Selanjutnya siswa menjawab dengan menggunakan bahasa Melayu kemudian pada pertengahan percakapan dan terakhir kembali menggunakan bahasa Madura. Peralihan tersebut dikarnakan penutur yang pada awal percakapan menggunakan bahasa Madura. Hal tersebut dilakukan penutur karena ingin bertanya kepada siswa. (2) Data siswa dengan siswa Supatma : Eh. .perpustakaan buka ke? Popi : Iyyeh, bebdeh bu Fatmala (Iya ada bu fatmala) Supatma : Denda berape ye telat kembalikan dulu sejarah? Popi : Paleng tak sampek sepoloh ebuh (Paling tak sampai sepuluh ribu) Supatma : Yok kawankan Popi : Majuh lah, ke kantin kelluh ye melleh es. (Ayok lah, ke kantin dulu ye mau beli es) Supatma : Iyyeh majuh (Iya ayok) Analisis: Data di atas merupakan percakapan bertanya terkait perpustakaan buka apa tidak kepada temannya. Percakapan tersebut terjadi di kelas Mts Babussalam. Percakapan tersebut terjadi pada saat sore hari. Percakapan tersebut terdapat fenomena peralihan kode atau peralihan bahasa oleh lawan tutur yaitu temannya. a. Jenis Alih Kode Percakapan antara siswa dan siswa tersebut digolongkan sebagai fenomena peralihan kode ke dalam Internal Code Swiching karena dalam percakapannya menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Madura. Kedua bahasa tersebut merupakan bahasa serumpun. b. Bentuk Alih Kode Percakapan di atas merupakan alih kode permanen, karena di dalam percakapannya menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Madura. Pada poin pertama siswa bertanya menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian poin 2 temannya menjawab dengan bahasa “sapah se nangis e kelas kennak? (siapa yang nangis di kelas budak). Selanjutnya pada poin ke 3 sampai 5 percakapan menggunakan bahasa Melayu. Pada percakapan poin hingga menggunakan bahasa Madura “majuh lah, ke 6 kantin kelluh ye melleh es (ayok lah, ke kantin dulu ye mau beli es)” dan “iyyeh majuh (iya ayok)” c. Faktor Alih Kode Dapat disimpulkan bahwa data percakapan di atas terjadi fenomena peralihan kode karena lawan tuturr. Dibuktikan pada percakapan penutur menggunakan bahasa Indonesia dan temannya menjawab dengan bahasa Madura bermaksud menjelaskan atas pertanyaan tersebut. Peralihan tersebut dikarnakan lawan tutur yang pada awal penutur menggunakan bahasa Indonesia lalu lawan tutur menjawab menggunakan bahasa Madura. Hal tersebut dilakukan penutur karena ingin menjelaskan pertanyaan tersebut. (3) Data guru dengan siswa Pak guru : Assalamualaikum anak2. Bapak presensi dulu ya Siswa : Iya pak. Pak guru : Sebelum masuk ke pelajaran bapak tanya dulu, siapa kemaren sore tidak Sholat asar berjamaah? Wahyu : Abdul Ben Rohim pak diem e samping sekolah. (Abdul dan Rohim pak, diam di samping sekolah) Pak guru : Bapak tanya kemaren yang merasa tidak sholat asar siapa? Abdul : Engko' pak Ben Rohim pak (Saya pak dengan rohim) Pak guru : kakeh arapah tak sholat? (Kenapa kamu tidak sholat) Selamet : Diajak nyantai-nyantai pak, tapi pulang sekolah langsung sholat sholat di rumah pak Pak guru : Siswa wajib sholat asar di musholla sekolah jadi, tidak ada alasan untuk tidak sholat kecuali bagi wanita yang berhalangan sholat. Analisis: Data di atas merupakan percakapan bertanya terkait siswa yang tidak ikut sholat ashar berjamaah Percakapan tersebut terjadi di kelas Mts Babussalam. Percakapan tersebut terjadi pada saat siang hari. Percakapan tersebut terdapat fenomena peralihan kode atau peralihan bahasa oleh lawan tutur yaitu siswa. a. Jenis Alih Kode Percakapan antara guru dan siswa tersebut digolongkan sebagai fenomena peralihan kode ke dalam Eksternal Code Swiching karena dalam percakapannya menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Arab dan bahasa Madura. b. Bentuk Alih Kode Percakapan di atas merupakan alih kode permanen, karena di dalam percakapannya menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Arab dan bahasa Madura. Pada poin pertama guru membuka pembelajaran, sebelum masuk materi guru bertanya terkait siswa yang tidak ikut sholat ashar berjamaah percakapan tersebut ada pada poin 3, 4 dan 5. c. Faktor Alih Kode Dapat disimpulkan bahwa data percakapan di atas terjadi fenomena peralihan kode karena lawan tutur. Dibuktikan pada percakapan penutur menggunakan bahasa Arab yaitu sholat dan siswa menjawab dengan bahasa Madura bermaksud menjelaskan atas pertanyaan tersebut. Peralihan tersebut dikarnakan lawan tutur yang pada awalnya penutur menggunakan bahasa 7 Indonesia lalu lawan tutur menjawab menggunakan bahasa Madura. Hal tersebut dilakukan penutur karena ingin menjelaskan pertanyaan tersebut. (4) Data guru dengan guru Guru 1: Mari makan bu, maklum lah full ngajar hari ini jadi tak sempat makan di rumah. Guru 2: Ngajar edimmah kelle' pagi bu (Tadi pagi ngajar dimana bu) Guru 1: Pondok pesantren Mubarok fat. Guru 2: Se ngajar bahasa Arab sapah? (Siapa yang ngajar bahasa Arab) Guru 1: Mon tak salah ustad Rozali fat (Kalau tidak salah ustad Rozali fat) Guru 2: Mantap lah kak, karna ustad Rozali tu pintar bahasa Arab dan kitab kuning pokoknye boleh lah ustad yang satu ni hahaha Analisis: Data di atas merupakan percakapan menawarkan makan siang sesama teman guru pada saat jam istirahat. Percakapan tersebut terjadi dalam kantor Mts Babussalam. Percakapan tersebut terjadi pada saat sore hari. Percakapan tersebut terdapat fenomena peralihan kode atau peralihan bahasa oleh lawan tutur yaitu temannya. a. Jenis Alih Kode Percakapan antara siswa dan siswa tersebut digolongkan sebagai fenomena peralihan kode ke dalam Eksternal Code Swiching karena dalam percakapannya menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Arab dan bahasa Madura. b. Bentuk Alih Kode Percakapan di atas merupakan alih kode permanen, karena di dalam percakapannya menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Madura. Pada poin pertama guru menawarkan makan siang kepada guru disekitarnya. Kemudian poin 2 teman guru temannya menjawab dengan bahasa Madura “ngajar edimmah kelle' pagi bu (tadi pagi ngajar dimana bu). Selanjutnya pada poin ke 3 siswa beralih menggunakan bahasa Indonesia dan poin ke 4 kembali menggunakan bahasa Madura “se ngajar bahasa Arab sapah? (siapa yang ngajar bahasa Arab) dan kemudian penutur juga menjawab dengan bahasa Madura “Mon tak salah ustad Rozali fat (kalau tidak salah ustad Rozali fat)” c. Faktor Alih Kode Dapat disimpulkan bahwa data percakapan di atas terjadi fenomena peralihan kode karena lawan tutur. Dibuktikan pada percakapan penutur menggunakan bahasa Indonesia dan temannya menjawab dengan bahasa Madura bermaksud menjelaskan atas pertanyaan tersebut. Peralihan tersebut dikarnakan lawan tutur yang pada awal penutur menggunakan bahasa Indonesia lalu lawan tutur menjawab menggunakan bahasa Madura. Hal tersebut dilakukan penutur karena ingin menjelaskan pertanyaan tersebut. 8 B. Data Jenis, Wujud dan Faktor Penyebab Terjadinya Campur Kode Pada Interaksi Warga Sekolah di Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya (1) Data siswa dengan guru Siswa : bu masuk ke? Guru : iya waktunya masuk Siswa : belum rappah bu, 10 menit lagi lah bu (Belum ngape bu, 10 menit lagi lah bu) Guru : sekarang waktunya masuk andre Siswa : firman masok bebdeh ibu. (firman masuk ada ibu) Analisis: Data di atas merupakan interaksi bertanya siswa kepada guru di depan kelas VIII saat pergantian jam pembelajaran di kelas. Percakapan tersebut terdapat mengandung fenomena penyelipan kode atau campur bahasa yang dilakukan oleh siswa. a. Jenis Campur Kode Percakapan tersebut digolongkan sebagai fenomena peralihan kode ke dalam Internal Code Swiching karena di dalam percakapan tersebut menggunakan dua bahasa dalam percakapan, yaitu bahasa Madura dan bahasa Indonesia. b. Bentuk Campur Kode Percakapan tersebut digolongkan sebagai fenomena peralihan kode ke dalam Internal Code Swiching karena di dalam percakapan tersebut menggunakan dua bahasa dalam percakapan, yaitu bahasa Madura dan bahasa Indonesia. Pada percakapan di atas, terdapat penyelipan bahasa atau fenomena campur kode berupa kata yang mana dituturkn oleh siswa. Pada percakapan tersebut siswa menggunakan bahasa Madura “belum rappah bu, 10 menit lagi lah bu” dan “firman masok bebdeh ibu” yang artinya dalam bahasa Indonesia “tunggu bentar bu, 10 menit lagi lah bu” dan “firman masuk ada ibu masuk” merujuk dari kata tersebut yang merupakan bentuk campur kode berupa penyelipan kata. c. Faktor Dari data di atas dapat disimpulkan yang mempengaruhi pencampuran kode dalam bentuk kata yaitu faktor penutur yaitu siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari tuturan siswa menggunakan Bahasa Indonesia kemudian terjadi campur kode menggunakan bahasa Madura “belum rappah bu, 10 menit lagi lah bu” dan “firman masok bebdeh ibu”. (2) Data siswa dengan siswa Siswa 1: Kennak suruh ganti baju sekarang olahraga! (Kawan-kawan suruh ganti baju sekaran olahraga!) Siswa 2: Ongkuan ron, katenye pak bambang tak masok (benaran ron, katanya pak bambang tidak masuk) Siswa 3: Masuk, esoro cepat kennak (masuk, disuruh cepat budak) Siswa 2: Awasnye mon ngomong (Awasnya kalau bohong) Siswa 1: Iye, awas gak kalau benar ye 9 Analisis: Data di atas merupakan interaksi penyampaian informasi kepada teman kelasnya pada saat mata pelajaran olahraga. Percakapan tersebut mengandung fenomena penyelipan kode atau campur bahasa yang dilakukan oleh siswa. a. Jenis Campur Kode Percakapan tersebut digolongkan sebagai fenomena peralihan kode ke dalam Internal Code Swiching karena di dalam percakapan tersebut menggunakan dua bahasa dalam percakapan, yaitu bahasa Madura dan bahasa Indonesia. b. Bentuk Campur Kode Pada percakapan di atas, terdapat penyelipan bahasa atau fenomena campur kode berupa kata yang mana dituturkn oleh siswa. Pada percakapan tersebut siswa menggunakan bahasa Madura “kennak” dan “ongkuan ron” yang artinya dalam bahasa Indonesia “kawan-kawan”dam “benar ron”. Kata tersebut merujuk bentuk campur kode berupa penyelipan kata. c. Faktor Dari data di atas dapat disimpulkan yang mempengaruhi pencampuran kode dalam bentuk kata yaitu faktor penutur yaitu siswa. Dikarnakan lingkungan dan latar belakang penuntur. Hal tersebut dapat dilihat dari tuturan siswa menggunakan Bahasa Indonesia kemudian terjadi campur kode menggunakan bahasa Madura “kennak” dan “ongkuan ron”. Faktor lain yang mungkin mendorong terjadinya campur kode pada saat berinteraksi lebih sering menggunakan bahasa Madura saat berkomunikasi sehari-hari, sehingga tidak mudah untuk menyesuaikan keadaan di sekolah. (3) Data siswa dengan guru Siswa 1 : Beli opo bu? (Beli apa bu) Guru : Bhajar gorengan empa’ (Bayar gorengan empat) Siswa 2 : Iya bu, apah poleh? (Iya bu, apa lagi?) Guru : Itu jak berape? Aliyah : Empa’ ebuh (Empat ribu) Analisis: Data di atas merupakan interaksi pembayaran di kantin kepada salah siswa tersebut. Percakapan tersebut mengandung fenomena penyelipan kode atau campur bahasa yang dilakukan oleh guru dan siswa. a. Jenis Campur kode Percakapan tersebut digolongkan sebagai fenomena peralihan kode ke dalam Internal Code Swiching karena dalam percakapan tersebut menggunakan dua bahasa dalam percakapan, yaitu bahasa Madura dan bahasa Indonesia. b. Bentuk Campur Kode Pada percakapan di atas, terdapat penyelipan bahasa atau fenomena campur kode berupa kata yang mana dituturkn oleh guru dan siswa. Pada percakapan tersebut siswa menggunakan bahasa Madura “Opo” dan “empa’ ebuh” yang artinya dalam bahasa Indonesia “Apa”dan “Empat ribu” sedangkan campur kode berupa kata yang mana dituturkn oleh guru “bhajar” dan “empa”. Kata tersebut merujuk bentuk campur kode berupa penyelipan kata. c. Faktor Dari data di atas dapat disimpulkan yang mempengaruhi pencampuran kode dalam bentuk kata yaitu lawan tutur yaitu siswa, dikarnakan situasi dan faktor 10 lingkungan. Hal tersebut dapat dilihat dari tuturan siswa menggunakan Bahasa Indonesia kemudian terjadi campur kode menggunakan bahasa Madura “apa”dan “empat ribu” sedangkan tuturan guru “bhajar” dan “empa”. Faktor lain yang mungkin mendorong terjadinya campur kode tersebut karna faktor pergaulan teman karna siswa Mts Babussalam 80 persen etnis Madura, sehingga tidak mudah untuk menyesuaikan keadaan di sekolah. (4) Data siswa dengan guru Kawan 1 : Bu mau nabung? Guru : Simpan di meja ibu masih mau makan di kantin Kawan 2 : Sabbe’ e dimmah bu? (Simpan dimana bu?) Guru : Atas meja ibu Analisis: Data di atas merupakan interaksi terkait buku tabungan. Percakapan tersebut mengandung fenomena penyelipan kode atau campur bahasa yang dilakukan oleh siswa kepada guru. a. Jenis Campur Kode Percakapan tersebut digolongkan sebagai fenomena peralihan kode ke dalam Internal Code Swiching karena dalam percakapan tersebut menggunakan dua bahasa dalam percakapan, yaitu bahasa Madura dan bahasa Indonesia. b. Bentuk Campur Kode Pada percakapan di atas, terdapat penyelipan bahasa atau fenomena campur kode berupa frasa yang mana dituturkn oleh siswa. Pada percakapan tersebut siswa menggunakan bahasa Madura “sabbe’ e dimmah bu” yang artinya dalam bahasa Indonesia “simpan dimana bu”. Kata tersebut merujuk bentuk campur kode berupa penyelipan frasa. c. Faktor Dari data di atas dapat disimpulkan yang mempengaruhi pencampuran kode dalam bentuk kata yaitu faktor penutur yaitu siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari tuturan siswa menggunakan Bahasa Indonesia kemudian terjadi campur kode menggunakan bahasa Madura “sabbe’ e dimmah bu” arti bahasa Indonesia yaitu “disimpan dimana bu”. Faktor lain yang memungkinkan terjadinya campur kode yaitu lingkungan keluarga dan latar belakang penuntur. Selain itu, faktor terjadinya campur kode lebih sering menggunakan bahasa Madura saat berkomunikasi sehari-hari. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian serta hasil analisis data dan pembahasan yang dilakukan, peneliti dapat menarik kesimpulan berdasarkan hasil analisis tentang jenis, bentuk dan faktor penyebab terjadinya alih kode dan campur kode pada interaksi warga sekolah di Madrasah Tsanawiyah Babussalam kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya. Jenis alih kode dan campur kode pada interaksi warga sekolah Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya meliputi 2 jenis alih kode dan 2 jenis campur kode. Berdasarkan dari teori yang digunakan oleh peneliti bahwa alih kode yaitu dilihat dari jenis Internal Code Swiching dan jenis alih kode Eksternal Code Swiching. Sedangkan jenis campur kode terbagi menjadi 2 Internal dan Eksternal. Berdasarkan dari teori yang digunakan oleh peneliti bahwa campur yaitu dilihat dari jenis Internal Code Swiching ada yang dipeoleh dan jenis campur kode Eksternal Code Swiching pada interaksi warga sekolah Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya. Wujud alih kode dan campur kode pada interaksi warga sekolah Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai 11 Kabupaten Kubu Raya meliputi 2 wujud alih kode dan 4 wujud campur kode. Berdasarkan dari teori yang digunakan oleh peneliti maka wujud alih kode dan wujud alih kode sementara. Sedangkan wujud campur kode meliputi kata, frasa, kata pengulangan dan klausa pada interaksi warga sekolah Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya. Faktor terjadinya alih kode dan campur kode pada interaksi siswa Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya yaitu terdapat 3 faktor terjadinya alih kode dan 3 faktor terjadinya campur kode pada pada interaksi warga sekolah Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya. Faktor terjadinya alih kode pada interaksi warga sekolah Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya yakni penutur, faktor lawan tutur dan faktor orang ketiga. Sedangkan faktor terjadinya campur kode pada interaksi siswa Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya yakni faktor penutur, faktor lawan tutur dan faktor hubungan suatu bahasa dengan topik yang dibicarakan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Madrasah Tsanawiyah Babussalam Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya, ada beberapa saran untuk siswa seharusnya siswa lebih mengutamakan bahasa Indonesia pada saat berbahasa Indonesia pada saat proses pembelajaran dan dilingkungan sekolah serta perbanyak membaca dan menyimak terkait kajian-kajian ilmiah yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik, agar siswa memperkaya kosa kata atau keterampilan berbahasa Indonesia yang lebih baik, sehingga tidak terjadi alih kode dan campur kode pada saat berinteraksi pada guru atau sesama temannya. Untuk guru seharusnya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik sehingga menjadi contoh pada siswa serta memeluruskan penggunaan bahasa Indonesia siswa jika terjadi kesalahan serta selalu memberikan motivasi agar selalu bangga menggunakan bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia yang baik dan benar. DAFTAR PUSTAKA Chaer, A dan Agustina, L. (2010). Sosiolinguistik. Balai Pustaka. Emzir. (2014). Metodologi Penelitian kualitatif Analisis Data. PT. Raja grafinda Persada. Ismawati, E. (2012). Metode Penelitian Pendidikan Bahasa & Sastra. Yuma Pressindo. Jezeri, M. (2017). Sosiolinguistik. Akademik Pustaka. Malabar, S. (2015). Sosiolinguistik. Ideas Puslishing. Moleong. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya. Rohmadi, M. (2010). Pragmatik Teori dan Analisis. Yuma Pustaka. Simanjuntak, H. (2017). Pengekalan dan Peralihan Bahasa Dalam Kalangan Orang BatakToba Di Pontianak, Indonesia. http://studentsrepo.um.edu.my/7534/ Simatupang, et al. (2018). Tuturan Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kode (Kajian Sosiolinguistik Alih Kode dan Campur Kode). Kajian ilmu dan sastra. 3(2), 119-130. https://journals.ums.ac.id/index.php/KLS/article/view/5981 Sugiyono. (2017). Metode Penelitian kualitatif. Alfabeta. Sudaryanto. (2015). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Duta WacanaUniversity. Sumarsono. (2007). Sosiolinguistik. Pustaka Pelajar. Susmita, N. (2015). Alih Kode dan Campur Kode dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 12 Kerinci. Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Humaniora, 17(2), 87 -98. Wardhaugh, R. (2006). An Introduction to Sociolinguistics. Hak Cipta Inggris Raya. Zuldafrial. (2012). Penelitian Kualitatif. Yuma Pustaka.