MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN MEWARNAI Suharti. Nur Kholis suharti241089@gmail. com, suarasaljuq@gmail. STAI Darussalam Lampung Received: 25/07/2020 Revised: 25/09/2020 Aproved: 10/11/2020 Abstract This study aims to improve fine motor skills through coloring activities. Fine motor skills are very important to support the next level of This type of research is a classroom action research conducted in 2 cycles. The subjects of this study were 16 children of group B RA Babussalam. Bauh Gunung Sari Village, with the object of fine motor skills. The data collection techniques used were observation and documentation. Data analysis used descriptive qualitative and The results showed that the fine motor skills before the action had an average percentage of 64. 58% with BSH criteria, an increase of 3. 65% in the first cycle was in the BSH criteria, in the second cycle it had an increase of 11. 72% and became BSB. Based on these data, it can be concluded that the child's fine motor skills have increased and achieved success indicators of more than 75% with the criteria of Very Good Development. The positive contribution of this research is to provide information to the wider community that playing coloring activities can help improve fine motor skills in early Keyword: Coloring. Fine Motoric Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus melalui kegiatan mewarnai. Kemampuan motorik halus sangat penting untuk mendukung jenjang pendidikan selanjutnya. Jenis penelitian ini ialah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Subjek penelitian ini adalah anak-anak kelompok B RA Babussalam Desa Bauh Gunung Sari berjumlah 16 anak dengan objek kemampuan motorik halus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa kemampuan motorik halus sebelum tindakan rata-rata persentase sebesar 64,58% dengan kriteria BSH, mengalami AZZAHRA Vol. II No. Th. E-ISSN: 2714-982X Edisi: Juli-Desember 2020 peningkatan sebesar 3,65% pada siklus I berada pada kriteria BSH, pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 11,72% dan menjadi BSB. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan motorik halus anak mengalami peningkatan dan mencapai indikator keberhasilan lebih dari 75% dengan kriteria Berkembang Sangat Baik. Kontribusi positif dari penelitian ini ialah memberikan informasi kepada masyarakat luas bahwa kegiatan bermain mewarnai dapat membantu meningkatkan motorik halus pada anak usia dini. Kata Kunci: Mewarnai. Motorik Halus. Pendahuluan Raudhatul Atfal merupakan jalur pendidikan formal yang diselenggarakan untuk anak usia 4-6 tahun. Pada usia ini anak mempunyai daya serap yang luar biasa apabila terus diberikan stimulasi sesuai tahap perkembangannya, sehingga pada usia ini enam aspek perkembangan anak harus dioptimalkan dengan sebaik-baiknya. Keenam aspek perkembangan itu adalah aspek kognitif, bahasa, fisik motorik, nilai moral agama, sosial emosional dan seni. Aspek fisik motorik merupakan hal yang sangat penting untuk menunjang kelangsungan hidup seseorang, oleh karena itu kemampuan fisik motorik seseorang harus dikembangkan sejak usia dini baik motorik kasar maupun motorik halus. Berdasarkan data penelitian yang dilakukan oleh Lolita Indraswari motorik kasar memerlukan koordinasi kelompok otot-otot tertentu agar dapat membuat mereka melompat, memanjat, berlari, menaiki sepeda. Sedangkan Marliza mengungkapkan dalam artikelnya bahwa perkembangan gerakan motorik halus anak ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan. Lolita Indraswari. Peningkatan Perkembangan Motorik Halus Anak Usia Dini Melalaui Kegiatan Mozaik Di Taman Kanak-Kanak Pembina Agam. Jurnal Pesona PAUD (Vol. No. Hlm. Marliza. Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui Permainan Melukis Dengan Kuas Taman Kanak-Kanak Pasaman Barat. Jurnal Pesona PAUD (Vol. No. Hlm. SUHARTI. NUR KHOLIS. VIRANITA / MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN MEWARNAI A Penelitian ini akan mengkaji terkait peningkatan kemampuan motorik halus melalui kegiatan mewarnai yang merupakan salah satu opsi kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru di sekolah dalam rangka mengembangkan kemampuan motorik halus khususnya pada anak usia 5-6 tahun yang akan memasuki usia sekolah dasar. Berdasarkan pengamatan di di RA Babussalam Desa Bauh Gunung Sari, ditemukan bahwa kemampuan menggerakkan jari jemari dan pergelangan tangan kurang optimal karena anak-anak tidak antusias ketika melaksanakan kegiatan mewarnai. Ketika dikonfirmasi oleh pendidik kepada anak mereka mengatakan tidak seru atau tidak asyik jika mewarnai dengan spidol. Berdasarkan hal tersebut tentu sangat perlu untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak demi kebaikan di masa mendatang dengan mempersiapkan strategi pembelajaran semenarik mungkin guna meningkatkan antusiasme anak secara maksimal. Sesuai pengamatan yang sudah dilakukan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa di kelompok B RA Babussalam Desa Bauh Gunung Sari Kecamatan Sekampung Udik Kabupaten Lampung Timur terdapat masalah ketika kegiatan Masalah yang dimaksud terletak pada kemampuan motorik halus yang berkembang kurang maksimal karena stimulasi yang diberikan kepada anak kurang bervariasi sehingga kemampuan anak untuk bereksplorasi menggunakan jari-jemari serta pergelangan tangan juga kurang. Stimulasi motorik halus yang kurang bervariasi terletak pada penggunaan spidol untuk kegiatan mewarnai yang terlalu sering dilakukan. Anak kelompok B atau usia 5-6 tahun koordinasi gerakan motorik halus berkembang dengan pesat menurut tahap perkembangannya anak mampu mengkoordinasikan gerakan mata dengan gerakan tangan, lengan dan tubuh secara bersamaan, hal ini bisa dilihat ketika anak menggambar ataupun Jadi, kegiatan mewarnai sangat penting diberikan pada anak usia 5-6 tahun yang sedang duduk di RA Babussalam Desa Bauh Gunung Sari Kecamatan Sekampung Udik Kabupaten Lampung Timur. Sangat berbahaya Pra Survey. RA Babussalam, 12 Desember 2018 AZZAHRA Vol. II No. Th. E-ISSN: 2714-982X Edisi: Juli-Desember 2020 apabila pada usia ini ketika diberikan kegiatan mewarnai anak mengalami kejenuhan dan kurang antusias. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah yang terdapat di RA Babussalam Desa Bauh Gunung Sari Kecamatan Sekampung Udik Kabupaten Lampung Timur adalah dengan memberikan variasi kegiatan mewarnai gambar menggunakan alat yang beragam dengan memperhatikan pengaturan intensitas penggunaan yang tidak terlalu sering. Alat yang digunakan untuk kegiatan mewarnai adalah pelepah pisang, pelepah daun pepaya dan cotton bud. Berdasarkan argument di atas maka tentu sangat menarik untuk mengkaji lebih dalam kaitannya dengan Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Mewarnai. Pembahasan Kemampuan Motorik Halus Menurut pendapat Sujiono motorik halus adalah gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil, seperti keterampilan menggunakan jari jemari tangan dan gerakan pergelangan tangan yang tepat. 4 Dewi berpendapat bahwa motorik halus merupakan keterampilan yang menggunakan jari jemari, tangan dan gerakan pergelangan tangan dengan tepat. 5 Pendapat tersebut sesuai dengan yang diungkapkan Sumantri bahwa motorik halus merupakan pengorganisasian penggunaan sekelompok otot-otot kecil seperti jari-jemari dan tangan yang sering membutuhkan kecermatan dan koordinasi mata tangan. Susanto berpendapat bahwa motorik halus adalah gerakan halus yang melibatkan bagian-bagian tertentu yang dilakukan oleh otot-otot kecil saja, karena tidak memerlukan tenaga namun memerlukan koordinasi yang cermat. Menurut Suyanto Suratno. Pengembangan Kreativitas Seni Rupa Anak TK, (Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional, 2. , h. Rosmala Dewi. Berbagai Masalah Anak Taman Kanak-Kanak, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2. , h. Soemiarti Patmonodewo. Pendidikan Anak Prasekola, (Jakarta: Rineka Cipta, 2. , h. SUHARTI. NUR KHOLIS. VIRANITA / MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN MEWARNAI A perkembangan otot halus dan fungsinya, otot ini berfungsi untuk melakukan gerakan-gerakan bagian-bagian tubuh yang lebih spesifik. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan otot-otot kecil pada tubuh seperti keterampilan menggunakan jari jemari tangan, menggerakkan pergelangan tangan agar lentur serta koordinasi mata tangan yang baik. Contoh kegiatan motorik halus adalah melipat, mewarnai, menggambar, melukis menggunting dan meronce. Tujuan Pengembangan Motorik Halus Tujuan pengembangan motorik halus untuk anak TK . -6 tahu. adalah dapat menunjukkan kemampuan menggerakkan anggota tubuh dan terutama terjadinya koordinasi mata dan tangan sebagai persiapan untuk menulis. Tujuan pengembangan motorik halus Sumantri adalah sebagai berikut: Mampu mengembangkan keterampilan motorik halus yang berhubungan dengan gerak kedua tangan Mempu menggerakkan anggota tubuh yang berhubungan dengan jari-jemari, seperti kesiapan menulis, menggambar, menggunting dan memanipulasi benda-benda Mampu mengkoordinasikan indra mata dan aktivitas tangan Mampu mengendalikan emosi dan beraktivitas motorik halus9 Berdasarkan pendapat yang telah disampaikan di atas dapat disimpulkan bahwa pemberian stimulasi motorik halus pada anak kelompok B yaitu usia 5-6 tahun dilakukan untuk mematangkan otot-otot kecil pada tangan anak untuk Melalui kegiatan menyenangkan yang dapat mematangkan kemampuan otot-otot kecil anak diharapkan tidak tercipta keterpaksaan sehingga anak dapat berkreasi menggunakan jari-jemari tangannya untuk latihan awal Suratno. Pengembangan Kreativitas Seni Rupa Anak TK,. Slamet Suyanto. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini,. MS Sumantri. Pengembangan Keterampilan Motorik Anak Usia Dini, (Jakarta: Dinas AZZAHRA Vol. II No. Th. E-ISSN: 2714-982X Edisi: Juli-Desember 2020 Stimulasi Perkembangan Motorik Halus Kemampuan motorik halus anak dapat berkembang meskipun tidak memperoleh stimulasi, tetapi perkembangan atau kemampuan yang dicapai anak tidak dapat maksimal atau hanya mencapai pada batas minimal yang ada. Stimulasi yang dapat diberikan untuk anak usia 5-6 tahun dengan tujuan untuk mengembangkan motorik halusnya sebagai latihan untuk melatih kemampuan menulis anak dapat dilakukan dengan beberapa kegiatan yang membutuhkan ketelitian, kecermatan serta kesabaran untuk melakukannya. Berikut ini mengembangkan kemampuan motorik halus anak yaitu mencetak, menjahit, menggunting, melipat, menjiplak, bermian playdough, membangun menara, mewarnai dan menggambar. Mengingat pentingnya keterampilan motorik halus dikembangkan secara maksimal sebagai tuntutan keterampilan menulis ketika jenjang sekolah berikutnya, maka stimulasi yang diberikan kepada anak harus optimal. Stimulasi yang diberikan melalui beberapa kegiatan seperti mencetak, menjahit, menggunting, melipat, menjiplak, bermian playdough, membangun menara, mewarnai dan menggambar. Melalui beberapa kegiatan tersebut antara kegiatan yang satu dengan kegiatan yang lain saling melengkapi untuk tujuan yang sama yaitu melatih anak untuk kemampuan menulis. Apabila salah satu diantara beberapa kegiatan untuk mengembangkan kemampuan motorik halus tersebut tidak dapat terlaksana secara maksimal maka akan mempengaruhi tujuan dari penerapan kegiatan untuk mengembangkan motorik halus yang lain. Sehingga sangat penting untuk mengemas kegiatan mewarnai agar lebih menarik dan menimbulkan antusiasme anak. Karakteristik Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 5-6 Tahun Perkembangan motorik halus anak usia 5-6 tahun yang baik tentunya sesuai dengan karakteristik perkembangan yang telah ditetapkan. Karakteristik Pendidikan, 2. , h. SUHARTI. NUR KHOLIS. VIRANITA / MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN MEWARNAI A kemampuan motorik halus seorang anak itu dikatakan baik apabila tujuan dari pengembangan motorik halus yang telah dipaparkan sebelumya dapat tercapai. Pernyataan Hurlock pengendalian otot tangan, bahu dan pergelangan tangan meningkat dengan cepat selama masa kanak-kanak. 11 Selain itu, pengendalian otot jari tangan berkembang lebih lambat. Allen dan Marotz mengemukakan bahwa pada usia 5 tahun anak menunjukkan pengendalian yang cukup baik pada pensil atau spidol yaitu mulai mewarnai di dalam garis dan pada usia 6 tahun ketangkasan serta koordinasi mata tangan anak meningkat seiring fungsi motorik semakin baik. Pendapat tersebut sesuai dengan yang diungkapkan Santrock yaitu usia 5 tahun koordinasi motorik halus anak semakin meningkat ditandai dengan tangan, lengan dan jari semua bergerak bersama di bawah perintah mata. Berdasarkan beberapa pernyataan yang telah dipaparkan di atas maka karakteristik kemampuan motorik halus anak usia 5-6 tahun yang baik yaitu koordinasi mata dan tangan, kelenturan pergelangan tangan serta keterampilan jari tangan dapat berkembang dengan baik. Oleh karena itu, melalui kegiatan pembelajaran motorik halus di taman kanak-kanak dapat memaksimalkan kemampuan yang dimiliki anak. Mewarnai Anak-anak sangat suka memberi warna melalui berbagai media baik saat menggambar atau meletakkan warna saat mengisi bidang-bidang gambar yang harus diberi pewarna. 14 Berdasarkan pernyataan tersebut maka kegiatan Menyenangkan yang dimaksud di sini terletak pada proses memilih warna yang digunakan untuk mewarnai sebuah bidang gambar kosong. Hal tersebut sesuai Soemiarti Patmonodewo. Pendidikan Anak Prasekolah. Ah. Hurlock. Elizabeth. Perkembangan Anak. Penerjemah: Meitasari Tjandra dan Muslichah Zarkasih, . Eileen. & Marotz. Profil Perkembangan Anak Prakelahiran Hingga Usia 12 Tahun. Penerjemah: Valentino, (Jakarta: PT Indeks. , h. Santrock. John W. Perkembangan Anak. Penerjemah: Mila Rachmawati dan Ama Kuswanti, (Jakarta: Erlangga. , h. Hajar Pamadhi. Seni Keterampilan Anak, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2. , h. AZZAHRA Vol. II No. Th. E-ISSN: 2714-982X Edisi: Juli-Desember 2020 dengan pendapat Sumanto bahwa kreativitas yang dapat dikembangkan pada kegiatan mewarnai bagi anak TK adalah adanya kebebasan untuk memilih dan mengkombinasikan unsur warna pada obyek yang diwarnainya sesuai keinginan 15 Tujuan dari kegiatan mewarnai adalah melatih menggerakkan pergelangan tangan. Mewarnai pada anak usia dini bertujuan untuk melatih keterampilan, kerapian serta kesabaran. Keterampilan diperoleh dari kemampuan anak untuk mengolah tangan yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga semakin lama anak bisa mengendalikan serta mengarahkan sesuai yang dikehendaki. Kerapian dilihat dari bagaimana anak memberi warna pada tempat-tempat yang telah ditentukan semakin lama anak akan semakin terampil untuk menggoreskan media pewarnanya karena sudah terbiasa. Kesabaran diperoleh melalui kegiatan memilih dan menentukan komposisi yang tepat sesuai pendapatnya, seberapa banyak warna yang digunakan untuk menentukan komposisi warnanya. Usaha yang dilakukan secara terus-menerus akan melatih kesabaran anak. Berdasarkan beberapa pendapat yang telah disampaikan di atas dapat disimpulkan bahwa mewarnai merupakan kegiatan yang sangat cocok diterapkan untuk anak usia taman kanak-kanak, karena mewarnai merupakan kegiatan yang menyenangkan. Selain itu, melalui kegiatan mewarnai dapat keinginannya untuk memberi atau membuat warna pada obyek gambar menggunakan pewarna dan alat yang digunakan untuk mewarnai misalnya, menggunakan pelepah pisang, pelepah daun pepaya dan cotton bud. Kegiatan Mewarnai Anak prasekolah juga senang berpartisipasi dalam aktivitas gerak ringan seperti menggambar, mewarnai, melukis, memotong, dan menempel. 17 Anak pra sekolah disini termasuk anak kelompok B yaitu usia 5-6 tahun yang Sumanto. Pengembangan Kreativitas Seni Rupa Anak TK, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2. , h. Bambang Sujiono. Metode Pengembangan Fisik. A, h. Morrison. S George. Buku Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Penerjemah: Suci Romadhona dan Apri Widiastuti, (Jakarta: PT Indeks, 2. , h. SUHARTI. NUR KHOLIS. VIRANITA / MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN MEWARNAI A seharusnya menyukai kegiatan mewarnai menggunakan bahan yang beraneka Kegiatan mewarnai gambar merupakan kegiatan mewarnai yang dilakukan menggunakan berbagai macam media seperti krayon, spidol, pensil warna dan pewarna makanan. Dalam penelitian ini akan digunakan media pewarna makanan. Gambar yang akan diwarnai disesuaikan dengan tema yang sedang digunakan di taman kanak-kanak. Mewarnai gambar menggunakan pelepah pisang Mewarnai gambar menggunakan pelepah pisang merupakan alternatif kegiatan mewarnai yang bisa dilakukan di taman kanak-kanak untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Mewarnai menggunakan pelepah pisang dilakukan dengan mempersiapkan pewarna makanan dengan warna merah, biru, kuning dan hijau yang dicampur dengan air, pelepah pisang dengan lebar 1cm, lepek yang digunakan untuk meletakkan pewarna serta pola gambar yang akan diwarnai. Mewarnai gambar menggunakan pelepah daun pepaya Mewarnai merupakan kegiatan mewarnai pada sebuah kertas bergambar menggunakan pelepah daun pepaya yang dipotong dengan panjang sekitar 5-6 cm dan lebar sekitar 1cm. Pewarna yang digunakan adalah pewarna makanan dengan 4 warna yang berbeda, pola gambar yang akan diwarnai dan setiap warna akan disediakan 5 pelepah daun pepaya sehingga ketika kegiatan mewarnai menggunakan pelepah daun pepaya dilakukan membutuhkan sebanyak 20 pelepah daun pepaya. Mewarnai gambar menggunakan cotton bud Mewarnai gambar menggunakan cotton bud menjadi pilihan dalam kegiatan mewarnai gambar karena merupakan variasi kegiatan yang dipadukan dengan pewarna makanan untuk menciptakan sebuah warna pada gambar agar terlihat menarik. Alat serta bahan yang digunakan ketika mewarnai gambar menggunakan cotton bud adalah pewarna makanan dengan warna merah, biru, kuning dan hijau, tempat untuk meletakkan pewarna makanan yang sudah dicampur dengan air, cotton bud berukuran besar atau kecil serta pola gambar AZZAHRA Vol. II No. Th. E-ISSN: 2714-982X Edisi: Juli-Desember 2020 yang digunakan untuk mewarnai. Ketika kegiatan mewarnai akan disediakan cotton bud pada tiap-tiap warna yaitu setiap warna akan disediakan 5 cotton bud sehingga ketika kegiatan mewarnai menggunakan cotton bud dilakukan membutuhkan sebanyak 20 cotton bud. Metodologi Penelitian Jenis penelitian dalam penelitian ini ialah penelitian tindakan . ction researc. Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Subjek dalam penelitian ini adalah anak kelompok B RA Babussalam Desa Bauh Gunung Sari Kecamatan Sekampung Udik Kabupaten Lampung Timur TP. 2018/2019, yang berjumlah 16 anak, terdiri dari 9 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Objek dalam penelitian ini adalah kemampuan motorik halus. Siklus I dilaksanakan pada hari Selasa November 2019 dengan tema air udara api dan sub tema udara. Kegiatan dimulai dengan baris-berbaris di halaman sekolah, menyanyikan beberapa lagu serta kegiatan motorik kasar memantulkan bola kecil dengan diam di tempat secara bergantian kemudian anak-anak memasuki ruang kelas. Anak yang sudah di kelas dipersilahkan untuk minum terlebih dahulu kemudian guru mengucapkan salam dan berdoAoa bersama-sama. Setelah berdoAoa, menyanyikan lagu wajib setiap pagi yaitu lagu garuda pancasila dilanjutkan dengan apersepsi serta penjelasan kegiatan yang akan dilakukan. Siklus II dilaksanakan pada hari Kamis tangal 27 November 2019 dengan tema alat komunikasi dan sub tema jenis-jenis alat komunikasi. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan baris-berbaris di halaman sekolah dan melakukan senam fantasi. Kegiatan pertama sebelum masuk kelas adalah kegiatan motorik kasar yaitu berjalan di atas papan titian secara bergantian. Anak yang sudah selesai dipersilahkan untuk masuk kelas dan minum terlebih dahulu sebelum dilanjutkan dengan salam dari guru dan berdoAoa sebelum belajar. Selesai berdoAoa anak-anak menyanyikan lagu wajib setiap pagi yaitu lagu garuda pancasila serta SUHARTI. NUR KHOLIS. VIRANITA / MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN MEWARNAI A beberapa lagu lain seperti nama-nama hari dan lagu rajin ke sekolah. Dilanjutkan apersepsi dari guru tentang jenis-jenis alat komunikasi dan melakukan beberapa tepuk seperti tepuk radio dan tepuk koran. Pembahasan Penelitian tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan mewarnai telah dilaksanakan di kelompok B RA Babussalam Bauh Gunung Sari selama 2 siklus menunjukkan adanya peningkatan serta keberhasilan. Berikut ini merupakan rata-rata prosentase kemampuan motorik halus anak dari sebelum tindakan, pelaksanaan siklus I dan siklus II. Tabel Persentase Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Sebelum Tindakan Kelas. Sesudah Pelaksanaan Tindakan Siklus I, dan Sesudah Pelaksanaan Tindakan Siklus II Indikator Kemampuan Motorik Halus Memegang alat mewarnai Menggerakkan pergelangan tangan Persentase (%) Persentase Persentase Sebelum (%) Siklus (%) Siklus Tindakan 64,58% 68,23% 79,95% Mewarnai dengan rapi Berdasarkan tabel 6 di atas dapat diketahui adanya peningkatan dari data AZZAHRA Vol. II No. Th. E-ISSN: 2714-982X Edisi: Juli-Desember 2020 yang diperoleh sebelum tindakan dan sesudah dilakukan tindakan pada siklus I dan siklus II. Persentase kemampuan motorik halus anak kelompok B RA Babussalam Bauh Gunung Sari sebelum tindakan sebesar 64,58%, mengalami peningkatan pada pelaksanaan tindakan siklus I menjadi 68,23% dan peningkatan signifikan terjadi pada pelaksanaan tindakan siklus II menjadi 79,95%. Gambar 3. Diagram Rekapitulasi Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Mewarnai Berdasarkan gambar 3 di atas dapat dilihat bahwa kemempuan motorik halus anak mengalami peningkatan dari pra tindakan ke siklus I sampai siklus II. Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh peneliti kemampuan motorik halus anak mengalami peningkatan setelah pelaksanaan kegiatan mewarnai gambar dilakukan menggunakan cotton bud dan pewarna makanan karena kegiatan mewarnai jarang dilakukan di RA Babussalam Bauh Gunung Sari sehingga menimbulkan antusiasme yang tinggi dari anak dan stimulasi yang diberikan kepada anak dapat dilakukan secara maksimal karena stimulasi motorik halus yang diberikan menggunakan beberapa variasi. Kegiatan mewarnai sangat tepat untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak kelompok B karena melalui kegiatan mewarnai anak belajar tentang kemampuan awal menulis yaitu dari kemampuan memegang alat mewarnai, menggerakkan pergelangan tangan dan koordinasi mata tangan yang sangat berguna untuk jenjang pendidikan selanjutnya. Oleh karena itu. SUHARTI. NUR KHOLIS. VIRANITA / MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN MEWARNAI A menerapkan kegiatan mewarnai pada kelompok B sangat tepat. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Pamadhi bahwa anak-anak sangat suka memberi warna melalui berbagai media baik saat menggambar atau meletakkan warna saat mengisi bidang-bidang gambar yang harus diberi Ketika anak-anak senang atau suka melakukan kegiatan maka tujuan pemberian stimulasi dapat maksimal tercapai. Kegiatan mewarnai yang dilaksanakan pada siklus I, menggunakan 3 alat mewarnai yang berbeda yaitu pelepah pisang, pelepah daun pepaya dan cotton bud hasilnya banyak anak yang mengalami kesulitan serta mengalami penurunan persentase dari pra tindakan. Kegiatan mewarnai pada siklus II dilakukan menggunakan 1 alat mewarnai saja yaitu cotton bud hasilnya menggerakkan pergelangan tangan dan mewarnai secara rapi dapat berkembang sangat baik dan sesuai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, kegiatan mewarnai yang dilakukan untuk anak kelompok B dengan usia 5-6 tahun belum bisa dilakukan dengan 3 alat mewarnai sekaligus, tetapi baru menggunakan 1 alat mewarnai saja. Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan motorik halus setiap anak untuk mencapai kemampuan motorik halus yang maksimal dengan kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB) berbeda-beda sesuai dengan tahap perkembangannya sehingga pada hasil pengamatan yang dilakukan pada pra tidakan, siklus I dan siklus II setiap hasil yang dicapai oleh anak juga berbeda-beda. Hal tersebut sesuai dengan teori perkembangan anak Sumantri memperhatikan perbedaan individual setiap anak yang berbeda-beda. Oleh karena itu tidak adil apabila menyamakan kemampuan anak dalam menerima stimulasi yang diberikan. Indikator keberhasilan yang tercapai serta peningkatan persentase yang terjadi dari sebelum tindakan ke siklus I dan dilanjutkan pada siklus II dikarenakan kegiatan mewarnai dilakukan selama 6 kali pertemuan dimulai dari kegiatan mewarnai yang mudah ke sulit. Selain itu, kegiatan mewarnai AZZAHRA Vol. II No. Th. E-ISSN: 2714-982X Edisi: Juli-Desember 2020 dilaksanakan secara berulang-ulang untuk mencapai hasil yang maksimal dan disesuaikan dengan perkembangan anak. Hal tersebut sesuai pendapat Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menegah yang menyatakan bahwa pengembangan motorik halus dilakukan secara bertahap serta berulang-ulang sesuai kemampuan anak. Kesimpulan Kegiatan mewarnai dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak kelompok B RA Babussalam Bauh Gunung Sari Kecamatan Sekampung Udik Kabupaten Lampung Timur. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari adanya peningkatan persentase dari sebelum tindakan dan setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I dan siklus II. Pelaksanaan tindakan pada siklus I menggunakan 3 alat mewarnai yang berbeda dan anak-anak merasa kesulitan karena 3 stimulasi diberikan sekaligus sehingga peningkatan persentase yang ditunjukkan dari pra tindakan ke siklus I sebesar 3,65% kemudian peningkatan persentase yang cukup signifikan ditunjukkan pada pelaksanaan siklus II menjadi 11,72% dikarenakan kegiatan mewarnai dilakukan menggunakan 1 alat mewarnai saja sehingga stimulasi yang diberikan kepada anak bisa tuntas dan anak tidak mengalami SUHARTI. NUR KHOLIS. VIRANITA / MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN MEWARNAI A DAFTAR PUSTAKA