MAHAROT: Journal of Islamic Education Vol. No. 2, 2023 ISSN: 2580-3980 . 2580-3999 . http://ejournal. id/index. php/maharot IMPLEMENTATION OF EXAMPLE METHOD IN FORMING STUDENTS' WASATHIYAH ISLAMIC CHARACTER IMPLEMENTASI METODE KETELADANAN DALAM MEMBENTUK KARAKTER ISLAM WASATHIYAH SISWA Received 20-12-2023 Revised 25-12-2023 Accepted 29-12-2023 DOI : 10. 28944/maharot. Misbahul Munir STIT Togo Ambarsari Bondowoso misbahmunir031@gmail. Keywords: Islamic Kata kunci: karakter Islam Abstract This research aims to describe the implementation of example method in forming wasathiyah Islamic character of students at Madrasah Aliyah Manbaul Ulum Tangsil Wetan Wonosari Bondowoso. The approach used is a qualitative approach with a descriptive type of research. Data collection techniques used were observation, interviews and Meanwhile, technique for determining informants used was Purposive Sampling. The data analysis technique used is Miles and Huberman model, namely data collection, data reduction, data display, and drawing conclusions. Meanwhile, the data validity test used is triangulation of sources and methods. The results of the research show that school principals, teachers and education staff show, demonstrate and give examples directly to students how to act, behave and have good ethics . swah hasana. The implementation is that on various occasions, school principals, teachers and education staff show a friendly, gentle and polite attitude, show an attitude of mutual respect, show an attitude of kinship and closeness, show an attitude of harmony and togetherness in differences, show an attitude of nationalism, show an attitude of care and pay attention to local wisdom, and display attitudes and behavior that integrate Islamic and Indonesian values. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi metode keteladanan dalam membentuk karakter Islam wasathiyah siswa Madrasah Aliyah Manbaul Ulum Tangsil Wetan Wonosari Bondowoso. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik Pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik penentuan informan yang digunakan adalah Purposive Sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah model Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan Misbahul Muni. MAHAROT Vol. No. 2, 2023 Sedangkan uji keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan menunjukkan, memperagakan dan memberi contoh secara langsung kepada siswa cara bersikap, berperilaku, dan beretika yang baik . swah hasana. Adapun pelaksanaannya adalah dalam berbagai kesempatan, kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan menunjukkan sikap ramah, lemah lembut, dan sopan, memperagakan sikap rasa saling menghormati, menunjukkan sikap kekeluargaan dan keakraban, menunjukkan sikap rukun dan kebersamaan dalam perbedaan, menunjukkan sikap Nasionalisme, menunjukkan sikap peduli dan memperhatikan kearifan lokal, dan menampilkan sikap dan perilaku yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. AMAHAROT: Journal of Islamic Education. This work is licensed under CC BY-NC-SA 4. PENDAHULUAN Wasathiyyah Wasathiyah Bersikap Islam ta`adul, umat beragama lebih memahami hakikat hidup dan kebersamaan (Muzakki, 2. Konsep Islam Wasathiyah sebagai sebuah nilai dan karakter yang harus dimiliki oleh manusia, berikut adalah firman Allah swt. a a a ca AaO aE E aE a a eE I aE eI a acI U acO a U cE a aE eO aN eO a aN a a a aEOA ca AEI aO aO aE eO aIA AE a eO aE aE eOE eI aN eO UA Artinya: AuDemikian pula Kami telah menjadikan kamu . mat Isla. umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas . manusia dan agar Rasul (Nabi Muhamma. menjadi saksi atas . kamuAy. {Qs. Al-Baqarah . : . (Departemen Agama Republik Indonesia, 1. Islam Wasathiyah mengkonsolidasikan, mendamaikan, merekonsiliasi dan mengkompromikan tajamnya keberagaman pendapat, latar belakang, budaya, bahasa, suku, status sosial, agama, ras, kelompok atau golongan. Adapun salah satu visi yang dibangun dalam penyebaran konsep Islam Wasathiyah adalah membangun kesadaran bahwa perbedaan di kalangan umat manusia adalah sunnatullah yang benar-benar alami keberadaannya. Perbedaan dan keberagaman di kalangan manusia dapat dimediasi dan diikat oleh tiga pilar Ukhuwah yaitu Ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Wathaniyah dan Ukhuwah Insaniyah yang merupakan bagian dari pada visi konsep Islam Wasathiyah. Tiga pilar persaudaraan ini Misbahul Muni. MAHAROT Vol. No. 2, 2023 menjadi pondasi kuat dalam mengawal keberagaman yang berimplikasi pada terbangunnya nilai rasa saling menghormati, memiliki sikap yang toleran, tidak mudah terprovokasi, tidak anarkis, tidak mudah merendahkan orang lain, memiliki komitemen kebangsaan yang kuat, anti kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya dan kearifan Dengan demikian, maka peningkatan nilai dan karkter Islam Wasathiyah termasuk di kalangan para pelajar dan para pemuda harus menjadi gerakan yang secara terus menerus perlu dilakukan dan dilestarikan. Hal ini dimaksudkan sebagai cara dan upaya pencegahan dan antisipasi dini terhadap potensi sikap dan karakter yang bertentangan dengan nilai-nilai dan karakter Islam Wasathiyah. Hal ini juga sebagai upaya untuk meminimalisir potensi kerentanan para pemuda, para pelajar, dan peserta didik mudah terkontaminasi dengan sikap, gerakan, pemikiran, sifat, dan karkter yang kontradiktif dengan nilai-nilai Islam Wasathiyah. Sebagaimana kenyataan bahwa dalam tataran praktik dan realitanya tidak sedikit para pelejar, pemuda, dan bahkan peserta didik mudah terpengaruh dengan gerakan-gerakan dan sikap-sikap yang tidak menunjukkan nilai-nilai Islam Wasathiyah. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan nilai dan karkter Islam Wasathiyah dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya disosialisasikan, disebarkan, dan dikampanyekan namun juga dalam tataran aplikasi dan praktiknya perlu adanya keteladanan dan Sebab keteladanan merupakan langkah dan cara yang kongkrit untuk meningkatkan karakter Islam wasathiyaih pada pemuda, para pelajar, dan peserta didik. Keteladanan merupakan metode yang sangat efektif terutama dalam peningkatan karakter peserta didik, termasuk karakter Islam Wasathiyah. Metode keteladanan adalah cara yang paling efektif dan berhasil dalam mempersiapkan peserta didik dari segi akhlak, karakter, membentuk mental dan Hal itu dikarenakan pendidik adalah panutan atau idola dalam pandangan peserta didik dan menjadi contoh yang baik bagi mereka. Peserta didik akan mengikuti tingkah laku pendidiknya, meniru akhlaknya, baik disadari maupun tidak. Bahkan, semua bentuk perkataan dan perbuatan pendidik akan terpatri dalam diri peserta didik dan menjadi bagian dari persepsinya, diketahui maupun tidak. Keteladanan dapat ditunjukkan dalam perilaku dan sikap pendidik dan tenaga kependidikan dalam memberikan contoh tindakan-tindakan yang baik, sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik untuk mencontohnya (Mustofa, 2. Singkatnya adalah Misbahul Muni. MAHAROT Vol. No. 2, 2023 pembentukan karakter Islam Wasathiyah dibutuhkan keteladanan dan figur yang bisa diteladani dan menjadi teladan. Metode keteladanan telah banyak digunakan dalam pembelajaran di antaranya penelitian Abbas dan Khoir . yang menjelaskan bahwa salah satu alternative dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah dan penguatan karakter siswa adalah dengan metode keteladanan guru. Lain halnya dalam Nayyiroh dan Diana . , metode keteladanan bisa digunakan dalam meningkatkan moral anak usia dini seperti bertutur sapa dengan baik. Anak TK Insan Kamil akan melakukan dengan sendirinya tanpa disuru, karena mereka meneladani dan mencontoh apa yang telah dilakukan oleh gurunya. Metode keteladanan juga diimplementasikan dalam meningkatkan mutu pendidikan akhlak pada mata pelajaran PAI, yaitu melalui nilai-nilai akhlak dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, seperti berkata jujur, menghormati guru dan teman, berjalan dengan baik dan sebagainya (Sholichah et al. Sedangkan penelitian tentang Islam Wasathiyyah atau Moderasi beragama pada hakikatnya telah banyak diteliti oleh para peneliti sebelumnya, yaitu: penelitian yang dilakukan oleh Shafwan . tentang konsep wasathiyyah dalam beragama perspektif hadits nabawi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat beberapa hadits yang melarang umat Islam untuk bersikap ekstrim dalam beragama baik dalam beraqidah, beribadah, dan bermuAoamalah dengan sesama. Hadits-hadits shahih yang ada mengajak untuk memahami dan mengamalkan agama harus melalui jalur keseimbangan dan berada di jalan tengah sehingga agama terkesan ramah, lembut, kasih sayang. Prinsip moderasi dalam agama . yang diterangkan dalam hadits nabawi adalah prinsip alkhairiyah . enjadi yang terbai. Penelitian Rahmah . tentang Konsep Wasathiyyah dalam pendidikan Islam: studi komparasi pemikiran Muhammad Quraish Shihab dan Nadirsyah Hosen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Muhammad Quraish Shihab dan Nadirsyah Hosen memiliki kesamaan mengenai prinsip-prinsip umum Wasathiyyah, di mana pemahaman teks kegamaan harus memperhatikan konteks. Wasathiyyah dalam pendidikan Islam terwujud dengan memperhatikan unsur jasmani dan rohani manusia, menyediakan materi pendidikan Islam yang menciptakan kerukunan dan menggunakan metode diskusi yang melibatkan peserta didik. Perbedaan di antara Muhammad Quraish Shihab dan Nadirsyah Hosen adalah pada wilayah kajian. Misbahul Muni. MAHAROT Vol. No. 2, 2023 Mengacu pada beberapa penelitian di atas, tidak ditemukan penelitian yang secara spesifik dan praktis membahas dan mengkaji tentang implementasi metode keteladanan dalam membentuk karakter Islam Wasathiyah peserta didik di MA Manbaul Ulum Tangsil Wetan Wonosari Bondowoso. MA Manbaul Ulum merupakan lembaga pendidikan yang menjadi rool Model dalam hal pembentukan karakter Islam Wasathiyah pseserta didik melalui implementasi metode keteladanan. Hal ini ditunjukkan dan ditandai dengan adanya beberapa program-program kegiatan sekolah yang berorientasi pada pembentukan karakter Islam Wasathiyah melalui keteladanan yang diberikan oleh kepala sekolah, para guru, dan tenaga kependidikan. Berdasarkan tataran konteks tersebut, maka fokus dan tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tentang pembentukan karakter Islam Wasathiyah siswa MA Manbaul Ulum Tangsil Wetan Wonosari Bondowoso melalui metode keteladanan. METODE PENELITIAN Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif (Nazir, 2. , di mana peneliti dalam hal ini meneliti suatu kelompok orang atau individu, suatu objek, dan peristiwa, serta fenomena tentang Implementasi metode keteladanan dalam membentuk karakter Islam Wasathiyyah. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif (Sukmadinata, 2. , di mana peneliti menceritakan, menguraikan, dan medeskripsikan secara mendalam peristiwa dan sekelompok individu yang ada di MA Manbaul Ulum terkait dengan implementasi metode keteladanan dalam membentuk karakter Islam Wasathiyyah pada siswa. Teknik penentuan informan yang peneliti gunakan adalah Purposive Sampling, dalam hal ini peneliti, dengan pertimbangan tertentu menentukan pihak-pihak yang dimintai keterangan dan informasi mengenai implementasi metode keteladanan dalam membentuk karakter Islam Wasathiyyah. Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara dan konfirmasi kepada kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, dan siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi (Moleong, 2. Dalam hal ini peneliti melakukan observasi atau pengamatan secara langsung pada lokasi penelitian, peneliti juga melakukan wawancara dengan pihak-pihak tertentu yang memiliki kapasitas untuk menyampaikan keterangan dan informasi kemudian peneliti mendokumentasikan setiap peristiwa mengenai implementasi metode keteladanan dalam membentuk karakter Islam Misbahul Muni. MAHAROT Vol. No. 2, 2023 Wasathiyyah. Teknik penentuan informan yang peneliti gunakan adalah Purposive Sampling. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan model teknik analisis data Miles dan Huberman . yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Metode Keteladanan Membentuk Karakter Islam Islam Wasathiyah Siswa MA Manbaul Ulum Wonosari Bondowoso Implementasi Wasathiyah siswa MA Manbaul Ulum Tangsil Wetan Wonosari Bondowoso yaitu kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan dalam berbagai kesempatan menunjukkan, memperagakan dan memberikan contoh secara langsung kepada siswa cara bersikap, berperilaku, dan beretika yang baik . swah hasana. Hal ini selaras dengan pengertian bahwa metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Fathurrohman & Sutikno, 2. Metode adalah cara yang digunakan untuk melaksanakan strategi (Sanjaya, 2. Dalam bahasa arab teladan dikenal dengan istilah Uswah artinya adalah contoh. Keteladanan secara bahasa yaitu berasal dari kata teladan adalah sesuatu . erupa sifat, sikap, perilaku, perbuatan, nilai, dan karakte. yang patut dan pantas untuk ditiru dan dicontoh (Poerwadaminta, 1. Keteladanan menjadi sebuah metode aplikatif yang menuntut seorang pendidik tidak hanya mengajarkan pengetahuan teoritis melainkan juga praktis, yaitu dengan memberikan dan menunjukkan contoh yang baik dalam perilakunya sehari-hari. Saat bersamaan peserta didik melihat secara langsung dan memaknai pereilaku pendidiknya untuk ditiru atau dicontoh (Hamid, 2. Metode keteladanan adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara memberikan menunjukkan, dan menampilkan contoh yang baik . swah hasana. yang bisa ditiru dan diteladani. Terkait dengan metode keteladanan, berikut adalah firman Allah swt. a a Aa a e a a a a e e a a e N a e a U a a a U ca e a a a e a N a a e a e a e a a a a a NA AcEE E a e U A AcEE O I aaEI EI OO cEE OEOOI eE a OEA a AEC EI EEI aAO O aEA Artinya AuSungguh, telah ada pada . Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu . bagi orang yang mengharap . Allah dan . hari Misbahul Muni. MAHAROT Vol. No. 2, 2023 Kiamat dan yang banyak mengingat AllahAy. {QS. Al-Ahzab . : . (Departemen Agama Republik Indonesia, 1. Ayat ini menyatakan bahwa keteladanan merupakan bagian penting dalam pendidikan sebagai metode yang efektif dan reel dan konkrit untuk diimplementasikan termasuk dalam hal peningkatan karakter, sikap, moral, akhlak, dan etika peserta didik. Eksistensi keteladanan memberikan harapan besar bagi dunia pendidikan ditengahtengah krisis keteladanan dan figur yang patut diteladani baik dalam bersikap, berinteraksi, maupun hidup bersama dan berdampingan dengan orang yang memiliki suku, bahasa, agama, ras, status sosial, dan golongan atau kelompok yang berbeda. Adapun wujud implementasi dan pelaksanaan metode keteladanan dalam meningkatkan karakter Islam Wasathiyah peserta didik di MA Manbaul Ulum Tangsil Wetan Wonosari Bonowoso adalah sebagai berikut. Pertama. Menunjukkan sikap dan sifat ramah, lemah lembut, dan sopan secara langsung kepada peserta didik sebagai wujud dari sikap kasih sayang . dan anti terhadap kekerasan. Sikap-sikap ini ditunjukkan dan diteladankan secara langsung oleh kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan di MA Manbaul Ulum kepada peserta didik. Ini menjadi langkah nyata dan konkrit, bahwa untuk meningkatkan karakter Islam Wasathiyyah memerlukan adanya keteladanan. Kasih sayang . dan Anti kekerasan merupakan bagian dari prinsip, nilai, dan ciri khas atau karakter indikator moderasi beragma atau Islam Wasathiyyah. Kedua Menunjukkan Sikap Rasa Saling Menghormati: Selain mencontohkan secara langsung rasa saling menghormati, kepala Madrasah, guru, maupun tenaga kependidikan dalam setiap kegiatan madrasah selalu menyampaikan pentingnya rasa saling menghormati, tidak meremehkan, dan tidak mencela serta tidak merendahkan martabat, kehormatan, status sosial, budaya, bahasa, suku, dan agama orang lain. bersamaan dengan ini juga dicontohkan secara langsung kepada peserta untuk saling respek satu dengan yang lain, saling mendukung, dan saling menguatkan satu dengan yang lain, dan toidak memandang sebelah terkait status orang lain. di MA Manbaul rasa saling menghargai telah menjadi budaya yang terus menerus dirawat sehingga hubungan baik antar stekholder di MA Manbaul Ulum lebih kokoh dan kuat. Ketiga. Menujukkan sikap kekeluargaan dan keakraban: Sikap dan perilaku yang menunjukkan kekeluargaan dan keakraban adalah wujud keteladanan yang langsung diberikan oleh pendidik di MA Manbaul Ulum sebagai bentuk implementasi dari konsep Misbahul Muni. MAHAROT Vol. No. 2, 2023 Ukhuwah. Adapun konsep persaudaraan yang dibangun melalui metode keteladanan adalah ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Wathaniyah, dan ukhuwah Insaniyah. Sikap dan sifat persudaraan menitikberatkan pada interaksi sehari-hari yang ditunjukkan kepada peserta didik sebagaimana hubungan saudara yang diantaranya saling tolong menolong, saling berempati, dan saling memotivasi sekalipun diantara mereka berbeda latar belakang, budaya, dan asal daerah, namun tetap hubungannya seperti hubungan Keempat, menunjukkan Sikap Rukun dan Kebersamaan dalam Perbedaan: Sikap rukun dan kebersamaan yang ditunjukkan oleh kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan di MA Manbaul Ulum menjadi teladan secara langsung kepada peserta didik, di mana sekalipun budaya, bahasa, suku, status sosial, dan asal daerah serta kearifan lokal mereka berbeda, namun tidak mengurangi kebersamaan dan kerukunan diantara mereka. Hal ini ditunjukkan kepada peserta didik sebagai rool Model dan uapaya Madrasah dalam meningkatkan karakter Islam Wasathiyah peserta didik. Kelima, menunjukkan dan menampilkan Sikap Nasionalisme: MA manbaul Ulum merupakan lembaga pendidikan yang sangat memperhatikan makna hakikat pentingnya nasionalisme, di mana setiap hari-hari bessar Nasional selalu dirayakan dan disemarakkan baik dengan cara mengadakan lomaba-limba, acara-acara ceremonial seperti perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia, hari pahlawan Nasional, hingga hari santri. Hal ini dilaksankan selain menunjukkan rasa nasionalisme juga menunjukkan dan meneladankan secara langsung kepada peserta didik akan pentingnya mencintai tanah air. Selain itu. Madrasah juga mengadakan istighotsah dalam menyambut hari-hari besar Nasional maupun hari-hari besar Islam. Sehingga peserta didik melihat secara langsung contoh-contoh sikap nasionalisme. Sikap nasionalisme yang ditunjukkan sebagai teladan bagi peserta didik sebagai manifestasi komitmen kebangsaan yang kuat. Keenam, menunjukkan sikap peduli dan memperhatikan kearifan lokal: Sikap dan sifat lain yang ditunjukkan sebagai keteladanan adalah memperhatikan dan melestarikan kearifan lokal, sehingga kepala sekolah dan pendidik selalu berupaya menunjukkan adapatasi yang baik terhadap budaya yang berlaku di Madrasah, di mana MA Manbaul Ulum merupakan lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan pondok pesantren, maka budaya dan kearifan lokal yang ditunjukkan adalah budaya, kultur, dan nilai kepesantrenan, seperti senantiasa menjaga dan menunjukkan akhlak Misbahul Muni. MAHAROT Vol. No. 2, 2023 mulia, etika yang patut, dan moral yang baik. Di samping itu, di MA Manbaul Ulum semua pendidik dan tenaga kependidikan pria ketika berada di lingkungan madrasah berpakaian rapi, sopan dan berkopyah sedangkan bagi pendidik dan tenaga kependidikan perempuan berpakain syarAoi, rapi dan sopan. Kearifan ini ditularkan dan ditunjukkan secara langsung kepada peserta didik sebagai wujud keteladanan. Ketujuh, menunjukkan perilaku mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan: sikap dan perilaku ini ditunjukkan melalui beberapa program-program kegiatan madrasah yaitu seperti sholat dhuhah, istighotzah, perayaan-perayaan hari besar Islam diantaranya israAo miAoraj, maulid nabi serta perayaan hari besar Nasional seperti hari pahlawan, hari santri, hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia menjadi kegiatan rutin yang dilaksanakan di MA Manbaul Ulum sebagai wujud implementasi nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan yang merupakan bagian dari karakter Islam Wasathiyyah. SIMPULAN Implementasi metode keteladanan dalam Meningkatkan karakter Islam Wasathiyah Peserta didik di MA Manbaul Ulum Tangsil Wetan Wonosari Bondowoso , yaitu guru dan tenaga kependidikan dalam berbagai kesempatan menunjukkan, memperagakan dan memberi contoh secara langsung kepada peserta cara bersikap, berperilaku, dan beretika etika yang baik . swah hasana. Adapun pelaksanaannya adalah kepala, guru, dan tenaga kependidikan dalam berbagai kesempatan menunjukkan sikap ramah, lemah lembut, dan sopan, rasa saling menghormati, kekeluargaan dan keakrban, rukun dan kebersamaan dalam perbedaan. Nasionalisme, peduli dan memperhatikan kearifan lokal, dan memberi contoh sikap dan perilaku yang mengintegrasikan nilai-nilai Kesilaman dan keindonesiaan. DAFTAR PUSTAKA