ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29462-29471 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Strategi Manajemen Kewirausahaan dalam Penciptaan Lapangan Kerja Indah Havivah Mulyono1. Andina Firza Shafita2. Benhard Daniel Lumban Tobing3. Ari Anggarani Winadi Prasetyoning4 1,2,3,4 Universitas Esa Unggul e-mail: indahhavivah9@student. Abstrak Kewirausahaan merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi suatu bangsa, terutama dalam menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi angka pengangguran. Strategi manajemen kewirausahaan menjadi kunci utama dalam mengoptimalkan potensi usaha agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi manajemen kewirausahaan dalam penciptaan lapangan kerja dengan menekankan aspek perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Metode yang digunakan adalah studi literatur dari berbagai sumber akademik yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kewirausahaan yang dikelola dengan strategi tepat mampu mendorong tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang secara signifikan berkontribusi pada penyediaan lapangan kerja. Faktor kunci yang mendukung strategi tersebut meliputi inovasi produk, manajemen keuangan yang efektif, pemanfaatan teknologi digital, serta pengembangan sumber daya manusia yang adaptif. Selain itu, dukungan ekosistem kewirausahaan berupa akses permodalan, kebijakan pemerintah, dan jejaring bisnis juga sangat menentukan keberhasilan. Dengan demikian, strategi manajemen kewirausahaan tidak hanya berperan dalam meningkatkan daya saing usaha, tetapi juga berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan melalui penciptaan lapangan kerja produktif. Implikasi penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pelaku usaha, akademisi. Kata kunci: Kewirausahaan. Strategi Manajemen. Penciptaan Lapangan Kerja. Abstract Entrepreneurship is a crucial pillar of a nation's economic development, particularly in creating new jobs and reducing unemployment. Entrepreneurial management strategies are key to optimizing business potential to survive and thrive amidst global competition. This study aims to analyze entrepreneurial management strategies for job creation, emphasizing planning, organization, implementation, and evaluation. The method used is a literature review from various relevant academic sources. The study's results indicate that entrepreneurship, managed with appropriate strategies, can encourage the growth of micro, small, and medium enterprises (MSME. , significantly contributing to job creation. Key factors supporting this strategy include product innovation, effective financial management, the use of digital technology, and adaptive human resource development. Furthermore, support from the entrepreneurial ecosystem, in the form of access to capital, government policies, and business networks, is also crucial for success. Therefore, entrepreneurial management strategies not only play a role in increasing business competitiveness but also contribute to sustainable economic development through the creation of productive jobs. The implications of this research are expected to serve as a reference for business actors, academics, and policymakers in designing an inclusive entrepreneurial model oriented toward community economic independence. Keywords: Entrepreneurship. Management Strategy. Job Creation PENDAHULUAN Pengangguran menjadi persoalan mendasar di sektor ekonomi yang berdampak pada kestabilan sosial dan ekonomi sebuah bangsa. Setiap negara, termasuk Indonesia yang dikenal Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29462-29471 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 dengan negara keempat terpadat di dunia, tidak luput dari persoalan pengangguran ini. Menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) pada Agustus 2023, jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 7,86 juta jiwa yang merepresentasikan 5,32% dari total populasi angkatan kerja di tingkat nasional (Frisnoiry, 2. Sementara di tahun 2024,Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan jumlah pengangguran terbuka di Indonesia dari bulan februari ke Agustus bertambah sebanyak 270. 737 orang, naik dari 862 menjadi 7. 599 orang. Kenaikan ini menunjukkan adanya tantangan serius dalam menciptakan lapangan pekerjaan yang memadai (Data. Goodstats. id, 2. Kondisi ini banyak dipengaruhi oleh keterbatasan lapangan kerja formal serta meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi yang belum terserap dunia kerja. Misalnya, tingkat pengangguran terbuka lulusan universitas masih berada pada angka 5,79%, menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan pekerjaan dan jumlah pencari kerja yang terus Namun, di tengah persoalan tersebut, kewirausahaan muncul sebagai salah satu solusi Contohnya adalah keberhasilan Tokopedia yang dirintis oleh William Tanuwijaya. Dengan mengandalkan inovasi teknologi digital dan dukungan investasi. Tokopedia bukan hanya berhasil menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara, tetapi juga membuka ribuan lapangan kerja langsung di internal perusahaan, serta jutaan peluang usaha tidak langsung bagi UMKM dan penjual di seluruh Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa kewirausahaan berbasis teknologi mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Selain itu, contoh lain datang dari sektor UMKM tradisional, seperti usaha kuliner di Yogyakarta yang dikelola oleh wirausaha muda. Dengan memanfaatkan kreativitas produk makanan lokal dan strategi pemasaran berbasis media sosial, usaha ini tidak hanya memberikan penghasilan bagi pemiliknya, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar, mulai dari tenaga produksi, pengantar makanan, hingga pemasok bahan baku dari petani lokal. Kasus ini menegaskan bahwa kewirausahaan, baik dalam skala besar melalui startup teknologi maupun dalam skala kecil melalui UMKM lokal, memiliki peran vital dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia. Tingginya angka pengangguran dapat dipicu oleh beragam faktor. Keterbatasan ketersediaan lapangan kerja, persaingan yang semakin ketat dalam dunia kerja serta kurangnya keterampilan yang dibutuhkan oleh pihak perekrut merupakan beberapa alasan utama melonjaknya pengangguran (Frisnoiry, 2. Tingginya tingkat pengangguran berimplikasi negatif terhadap stabilitas bangsa. Kondisi ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial memicu berbagai masalah sosio ekonomi serta berkontribusi pada peningkatan angka kemiskinan. Berbagai kebijakan dan inisiatifmterus digencarkan untuk menekanmangka pengangguran demim terciptanya kondisi ekonomi yang lebih baik (Nur'Aini, 2. Perekonomian suatu negaram dapat tumbuh dan berkembang berkat inovasi masyarakatnya yang menciptakan lapangan kerja baru sehingga tidak bergantung pada sektor pekerjaan tradisional yang sudah ada. Di Amerika Serikat, para wirausahawan telah menjadi pendorong utama penciptaan lapangan kerja. Diperkirakan 1. 000 bisnis baru lahir setiap jam dan sejak 1980-an pertumbuhan perusahaan kecil telah menyumbang lebih dari 20 juta pekerjaan baru yang mendorong perekonomian AS. Sementara. Indonesia dihadapkan pada tantangan ekonomi karena banyak individu lebih memilih mencari pekerjaan daripada menciptakan usaha baru (Zainuddin, 2. Namun, meskipun jumlah wirausaha di Indonesia terus meningkat, proporsinya masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara maju. Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, rasio kewirausahaan Indonesia baru mencapai sekitar 3,47% dari total penduduk, sementara negara maju rata-rata memiliki rasio di atas 10%. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan strategi manajemen kewirausahaan agar pelaku usaha tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berkembang dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas. Strategi manajemen kewirausahaan meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga evaluasi usaha. Dalam praktiknya, keberhasilan kewirausahaan sangat Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29462-29471 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 dipengaruhi oleh faktor internal seperti visi, kreativitas, inovasi, serta kepemimpinan, dan faktor eksternal seperti dukungan modal, kebijakan pemerintah, lingkungan bisnis yang kondusif, serta ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten. Dengan mengintegrasikan kedua faktor tersebut, kewirausahaan dapat menjadi solusi nyata dalam mengurangi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kewirausahaan dapat dianggap sebagai instrumen strategis guna meraih kesejahteraan sosial melalui pembukaan lapangan kerja yang lebih merata. Dengan itu peran kewirausahaan tidak lagi hanya sebatas aktivitas ekonomi, melainkan juga sebagai pilar pembangunan sosial yang mampu menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat. Studi ini akan mengeksplorasi lebih dalam bagaimana kewirausahaan berfungsi sebagai penggerak penciptaan lapangan kerja baru. Jakarta, 29 Agustus 2025 Ae Kewirausahaan semakin mendapat perhatian luas sebagai salah satu solusi utama dalam mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Dengan jumlah penduduk usia produktif yang terus meningkat di setiap tahunnya, dunia usaha dipandang sebagai motor penggerak yang mampu menciptakan lapangan kerja baru serta menggerakkan roda perekonomian nasional. Pemerintah bersama berbagai lembaga pendidikan dan komunitas bisnis kini di gencar mendorong tumbuhnya wirausaha muda melalui berbagai program pelatihan, pendanaan, hingga pendampingan usaha. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wirausaha di Indonesia terus meningkat dalam lima tahun terakhir, meskipun masih perlu ditingkatkan agar setara dengan negara-negara maju. Menteri Koperasi dan UKM menegaskan bahwa kewirausahaan bukan hanya sekadar aktivitas mencari keuntungan, tetapi juga memiliki peran penting dalam membuka kesempatan kerja bagi orang lain. AuSetiap wirausaha yang sukses, sekecil apa pun usahanya, berpotensi menyerap tenaga kerja dan mengurangi beban pengangguran di masyarakat,Ay ujarnya dalam sebuah seminar kewirausahaan di Jakarta. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini penting dilakukan untuk menganalisis strategi manajemen kewirausahaan dalam penciptaan lapangan kerja. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman komprehensif mengenai peran kewirausahaan dalam mengurangi angka pengangguran serta merumuskan strategi yang dapat diimplementasikan oleh pelaku usaha, pemerintah, dan dunia pendidikan. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi akademisi maupun pembuat kebijakan dalam memperkuat ekosistem kewirausahaan di Indonesia. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Studi literatur dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran dan strategi manajemen kewirausahaan dalam penciptaan lapangan kerja melalui telaah konseptual terhadap berbagai sumber ilmiah. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menelusuri, membaca, dan menganalisis hasil penelitian sebelumnya, sehingga diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai topik yang dikaji. Sebagai bagian dari penelitian kualitatif, metode ini berfokus pada pengumpulan dan analisis data sekunder yang bersumber dari literatur akademik, jurnal ilmiah, artikel, buku, serta publikasi resmi dari lembaga pemerintah maupun organisasi yang relevan. Melalui pendekatan ini, penelitian tidak hanya memberikan pemahaman konseptual mengenai peran kewirausahaan, tetapi juga menguraikan faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan wirausaha serta strategi yang dapat diterapkan dalam menciptakan lapangan kerja. Dalam penelitian ini, sumber data yang digunakan terdiri atas: Sumber Primer, berupa literatur utama seperti jurnal penelitian terbaru, buku kewirausahaan, serta laporan resmi yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Koperasi dan UKM. Sumber Sekunder, berupa artikel ilmiah, publikasi akademik, hasil penelitian terdahulu, dan dokumen yang relevan terkait peran kewirausahaan. Sumber Tersier, berupa kamus, ensiklopedia, serta sumber penunjang lain yang memberikan informasi tambahan terkait konsep kewirausahaan dan strategi manajemen. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29462-29471 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Proses penelitian dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu mengidentifikasi tema penelitian, mengumpulkan literatur yang relevan, melakukan seleksi untuk memastikan kualitas dan relevansi sumber, kemudian menganalisis isi . ontent analysi. untuk menarik kesimpulan. Dengan metode ini, penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual yang komprehensif mengenai strategi kewirausahaan dalam mengurangi pengangguran dan menciptakan lapangan kerja HASIL DAN PEMBAHASAN Kewirausahaan berperan penting dalam mendorong kemandirian masyarakat. Di Indoneia sekitar 19,3% penduduk dewasa adalah wirausahawan. Melalui kewirausahaan, individu mengembangkan kemampuan untuk menciptakan produk bernilai tambah dan inovasi baru yang ada akhirnya memicu masyarakat untuk menjadi lebih kreatif. Sebagai contoh, seorang wirausahawan yang mendirikan hotel di dekat Pantai Lovina Buleleng. Bali, tidak hanya menarik lebih banyak turis using dan meningkatkan devisa negara, tetapi juga menumbuhkan perekonomian wirausahaan. Kewirausahaan memberikan kontribusi dalam memajukan perekonomian yang dapat dilihat menjadi dua bagian: . kewirausahaan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan pengembangan bisnis yang inovatif. Hal ini secara langsung meningkatkan daya beli dan kemakmuran masyarakat karena individu memiliki lebih banyak peluan untuk mendapatkan penghasilan. kewirausahaan memperkuat kapasitas pemerintah dalam menyediakan layanan publik. Ketika bisnis berkembang, mereka membayar pajak yang menjadi sumber pendapatan vital bagi pemerintah. Dana ini kemudian digunakan untuk membiayai layanan penting seperti kesehatan, pendidikan dan infrastruktur yang pada akhirnya meningkatkan kepuasan dan kesejahteraan publik. Peran Kewirausahaan dalam Penciptaan Lapangan Kerja Kewirausahaan memegang peran yang sangat penting dalam dinamika pembangunan ekonomi, baik pada skala lokal, nasional, maupun global. Dalam konteks globalisasi yang ditandai dengan persaingan ketat, perubahan teknologi yang cepat, serta meningkatnya mobilitas tenaga kerja, kewirausahaan menjadi salah satu instrumen strategis untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus menciptakan inovasi yang berkelanjutan. Peran kewirausahaan dalam penciptaan lapangan kerja tidak hanya terbatas pada mendirikan usaha baru yang menyerap tenaga kerja secara langsung, tetapi juga meliputi kontribusi yang lebih luas, seperti meningkatkan produktivitas masyarakat, memperkuat daya saing industri, serta menumbuhkan ekosistem ekonomi yang Di Indonesia, urgensi peran kewirausahaan semakin menonjol mengingat tingginya jumlah penduduk usia produktif yang tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja formal. Kondisi ini menjadikan kewirausahaan sebagai salah satu solusi alternatif yang dapat mengurangi angka pengangguran sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Setiap wirausaha yang berhasil mengembangkan usahanya tidak hanya menciptakan pendapatan bagi dirinya sendiri, tetapi juga membuka peluang kerja baru bagi orang lain. Lebih dari itu, aktivitas kewirausahaan mampu menimbulkan efek berganda . ultiplier effec. , di mana keberadaan satu usaha dapat memicu pertumbuhan usaha lain di sektor terkait. Dengan kata lain, kewirausahaan tidak hanya berperan sebagai penggerak ekonomi individu, melainkan juga sebagai motor pembangunan sosial dan ekonomi secara luas. Oleh karena itu, analisis terhadap peran kewirausahaan dalam penciptaan lapangan kerja menjadi penting untuk diperdalam, guna memahami bagaimana wirausahawan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, sekaligus mengidentifikasi strategi yang dapat dioptimalkan untuk memperluas penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor. Beberapa kewirausahaan berperan penting dalam menciptakan lapangan pekerjaan diantaranya: Pendiri Usaha Baru Pendirian usaha baru memiliki peran penting dalam menciptakannlapangan kerja karena dapat membuka peluang kerja yang sebelumnya tidak ada. usaha baru, terutama usaha kecil dan Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29462-29471 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 menengah tidak hanya menciptakan pekerjaannbagi pendirinya, tetapi juga menyerap tenaga dalam jumlah besar (Shane, 2. Pengembangan Inovasi dan Produk Inovasi dan pengembangan produk adalah faktor kunci dalam penciptaan lapangan Berdasarkan pandangan Bauomol . dalam (Putra, et. al, 2. ,mDengan memperkenalkan ide dan solusi baru, inovasi tidak hanya meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi juga menciptakan pekerjaan baru di berbagai sektor. Efek ini tidak terbatas pada penciptaan lapangan kerja langsung, tetapi juga menarik permintaan di sektor terkait, memicu munculnya industri baru. Fokus pada inovasi produk memungkinkan perusahaan tumbuh pesat yang menyerap lebih banyak tenaga kerja dan secara signifikan berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan dan berkualitas. Pengaruh Multiplier Wirausaha memainkan peran krusial dalam pertumbuhan ekonomi melalui efek pengganda . ultiplier effec. Menurut Davidson & Wiklund . , dengan memulai bisnis, wirausaha tidak hanya menciptakan lapangan kerja langsung, tetapi juga secara tidak langsung memacu penciptaan pekerjaan di sektor- sektor lain seperti pemasok dan penyedia layanan. Dampak ini memperkuat rantai pasokan dan meningkatkan permintaan untuk barang dan jasa yang pada akhirnya berkontribusi terhadap tingkat pekerjaan secara keseluruhan. Pengembangan Keterampilan dan Pelatihan Pengembangan dan pelatihan keterampilan memiliki peran dalam menciptakan lapangan kerja melalui kewirausahaan. Wirausahawan yang berinvestasi dalam pelatihan karyawannya dapat meningkatkan produktivitas, berinovasi dan memperluas peluang kerja. Menurut Beck et. Pelatihan yang efektif membantu tenaga kerja beradaptasi dengan teknologi dan tuntutan pasar sehingga mengurangi angka pengangguran. Oleh karena itu, program pelatihan adalah komponen esensial dalam strategi kewirausahaan untuk mendorong pertumbuhan bisnis dan menciptakan lebih banyak pekerjaan. Pemberdayaan ekonomi lokal Kewirausahaan memainkan peran krusial dalam pemberdayaan ekonomi lokal dengan fokus pada penciptaan lapangan kerja dan pengembangan komunitas. Menurut Khang & Ligon . Kewirausahaan tidak hanya mengejar profit, tetapi juga memberdayakan masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya lokal, meningkatkan keterampilan penduduk dan menciptakan peluang kerja yang berkelanjutan. Berbagai studi menegaskan bahwa inisiatif kewirausahaan, terutama melalui pendirian usaha kecil dan menengah secara efektif mengatasi tantangan ekonomi di tingkat mikro dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa para wirausahawan, baik secara individu,maupun kelompok berperan sebagai inovator yang menciptakan lapangan kerja baru. Dengan kata lain, semakin banyak wirausaha yang berkembang, semakin besar pula ketersediaan lapangan kerja Mereka juga mendorong inovasi dan kompetisi dalam suatu industri yang akhirnya meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan lapangan kerja secara positif. Faktor Pendorong Keberhasilan Wirausaha dalam Menciptakan Lapangan Kerja Keberhasilan wirausaha dalam menciptakan lapangan kerja tidak terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan hasil dari perpaduan berbagai faktor yang saling melengkapi. Seorang wirausahawan bukan hanya dituntut memiliki ide usaha yang inovatif, tetapi juga perlu ditopang oleh kekuatan internal seperti semangat, visi, kreativitas, inovasi, kecakapan manajerial, dan kepemimpinan yang kuat. Faktor-faktor internal ini menjadi motor penggerak utama yang mendorong lahirnya usaha baru sekaligus memastikan keberlanjutan dan perkembangan usaha yang sudah ada. Namun, faktor internal saja tidak cukup. Lingkungan eksternal yang kondusif, seperti tersedianya akses modal, dukungan kebijakan pemerintah, jaringan bisnis yang luas, serta ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten, juga sangat menentukan arah dan keberhasilan kewirausahaan. Dengan kata lain, kesuksesan seorang wirausahawan dalam membuka lapangan kerja merupakan hasil sinergi antara kemampuan pribadi yang dimilikinya dengan dukungan lingkungan di sekitarnya. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29462-29471 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Wirausaha, atau orang yang berani memulai bisnisnya sendiri, sering disebut sebagai pahlawan ekonomi dikarenakan mereka tidak hanya membangun kekayaan untuk diri sendiri, tetapi juga menciptakan peluang bagi orang lain. Keberhasilan wirausaha dalam membuka lapangan kerja tidak terjadi begitu saja, melainkan didorong 2 faktor, yaitu faktor internal . ari dalam dir. dan eksternal . ari lingkungan sekita. Faktor Internal Menjadi seorang wirausahawan bukan hanya soal memiliki ide cemerlang atau modal yang cukup, tetapi juga tentang kekuatan dari dalam diri yang mendorong mereka untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Tanpa kekuatan ini, ide secemerlang apa pun hanya akan berhenti pada tahap wacana dan sulit berkembang menjadi usaha yang nyata serta mampu menyerap tenaga kerja. Faktor internal berupa semangat, visi, kreativitas, inovasi, kecakapan manajerial, dan kepemimpinan merupakan inti dari kewirausahaan. Semangat dan Visi yang Membara Wirausahawan sukses biasanya memiliki visi yang jelas tentang apa yang ingin Visi ibarat kompas yang memberikan arah bagi setiap langkah bisnis, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Tanpa visi, seorang wirausahawan akan mudah goyah ketika menghadapi perubahan pasar atau krisis ekonomi. Semangat yang membara juga menjadi bahan bakar yang menggerakkan mereka untuk bertahan, bahkan ketika menghadapi kegagalan. Banyak kisah pengusaha besar yang berulang kali jatuh bangun sebelum akhirnya meraih kesuksesan. Dengan tekad yang kuat, mereka bangkit dari kegagalan, belajar dari kesalahan, lalu melangkah lebih mantap. Visi dan semangat yang konsisten tidak hanya membantu menjaga keberlangsungan bisnis, tetapi juga mendorong ekspansi usaha. Setiap kali sebuah bisnis berkembang dan membuka cabang baru, otomatis tercipta peluang kerja tambahan yang dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja. Otak Kreatif dan Jiwa Inovator. Dalam era globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, stagnasi sama saja dengan kemunduran. Wirausahawan yang berhasil selalu menempatkan kreativitas dan inovasi sebagai jantung dari strategi bisnis mereka. Kreativitas memungkinkan mereka untuk melihat peluang di balik tantangan, menemukan ide produk atau jasa yang unik, serta mengembangkan strategi pemasaran yang tidak biasa. Misalnya, banyak startup lahir dari gagasan sederhana yang dipadukan dengan teknologi digital sehingga mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara efektif. Inovasi tidak hanya terkait dengan produk, tetapi juga proses produksi, manajemen distribusi, hingga pelayanan pelanggan. Dengan inovasi yang berkesinambungan, bisnis menjadi lebih relevan, diminati konsumen, dan terus berkembang. Pertumbuhan ini tentu membutuhkan dukungan tenaga kerja tambahan dalam berbagai lini, mulai dari bagian riset dan pengembangan, produksi, hingga pelayanan purna jual. Dengan kata lain, kreativitas dan inovasi bukan hanya memberi nilai tambah pada produk, tetapi juga menjadi motor penciptaan lapangan kerja baru. Kecakapan Mengatur dan Memimpin Ide dan inovasi yang brilian akan sia-sia jika tidak didukung oleh kemampuan manajerial yang baik. Seorang wirausahawan dituntut untuk mampu mengatur berbagai aspek usaha, mulai dari manajemen keuangan, operasional, hingga sumber daya manusia. Kecakapan dalam mengatur keuangan sangat penting agar usaha tidak terjebak dalam masalah arus kas. Dengan perencanaan anggaran yang cermat, wirausahawan dapat memastikan setiap sumber daya digunakan secara efisien untuk menunjang pertumbuhan Selain itu, kepemimpinan yang efektif juga menjadi kunci dalam mengelola tim. Pemimpin yang baik bukan hanya memberi instruksi, tetapi juga mampu menginspirasi, membangun komunikasi yang sehat, serta menumbuhkan budaya kerja positif. Ketika karyawan merasa dihargai dan termotivasi, mereka akan bekerja dengan penuh dedikasi. Produktivitas yang meningkat akan mempercepat perkembangan usaha, dan dalam jangka panjang mendorong kebutuhan untuk merekrut lebih banyak karyawan. Dengan demikian, kepemimpinan yang kuat bukan hanya memengaruhi keberlangsungan bisnis, tetapi juga berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja baru. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29462-29471 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Kecakapan dalam mengatur dan memimpin adalah keterampilan inti yang wajib dimiliki oleh seorang wirausahawan untuk memastikan keberlangsungan dan pertumbuhan Seorang wirausahawan bukan hanya pemilik ide atau modal, tetapi juga harus bertindak sebagai manajer sekaligus pemimpin yang mampu mengelola berbagai aspek usaha dengan bijak. Mengatur berarti mampu menata keuangan, mengendalikan arus kas, mengalokasikan sumber daya secara efektif, serta memastikan semua proses operasional berjalan sesuai rencana. Tanpa kemampuan mengatur, bisnis akan mudah tersendat karena pemborosan biaya, kesalahan perencanaan, atau ketidakefisienan dalam distribusi dan produksi. Di sisi lain, kepemimpinan berhubungan dengan bagaimana seorang wirausahawan mengarahkan, memotivasi, dan menginspirasi tim yang dipimpinnya. Kepemimpinan yang baik bukan hanya soal memberi perintah, tetapi juga menciptakan budaya kerja yang sehat, membangun rasa kebersamaan, serta menanamkan nilai-nilai positif seperti disiplin, integritas, dan tanggung jawab. Kecakapan mengatur dan memimpin juga tampak dalam kemampuan pengambilan keputusan yang tepat di tengah situasi sulit. Misalnya, ketika bisnis menghadapi krisis keuangan atau perubahan tren pasar, seorang wirausahawan dituntut untuk tetap tenang, menganalisis situasi dengan cermat, dan membuat keputusan yang strategis. Kemampuan adaptif ini akan menentukan apakah bisnis mampu bertahan atau justru runtuh. Selain itu, seorang pemimpin yang efektif harus mampu mengelola konflik internal dengan bijak, karena perbedaan pendapat di dalam tim adalah hal yang wajar. Pemimpin yang cakap akan menjadikan konflik sebagai sarana memperkuat solidaritas, bukan sebagai pemicu Lebih jauh, kepemimpinan yang kuat juga berkaitan dengan kemampuan memberdayakan karyawan. Wirausahawan yang baik tidak hanya menuntut hasil, tetapi juga memberi kesempatan bagi tim untuk berkembang melalui pelatihan, mentoring, maupun delegasi tanggung jawab. Dengan demikian, karyawan tidak hanya bekerja untuk pemimpin, tetapi juga merasa terlibat dalam pencapaian visi bersama. Hal ini berdampak pada meningkatnya loyalitas, semangat kerja, dan produktivitas. Ketika produktivitas meningkat, skala bisnis pun meluas, sehingga memerlukan tambahan tenaga kerja baru. Dengan kata lain, kecakapan mengatur dan memimpin bukan hanya berfungsi untuk menjaga stabilitas internal perusahaan, tetapi juga menjadi penggerak utama pertumbuhan usaha. Pertumbuhan ini secara otomatis melahirkan lapangan kerja baru yang lebih luas dan berkelanjutan. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan wirausahawan yang cakap adalah fondasi penting bagi terciptanya ekosistem bisnis yang sehat sekaligus motor penggerak penciptaan lapangan kerja di masyarakat. Semangat, visi, kreativitas, inovasi, serta kecakapan manajerial dan kepemimpinan merupakan inti kekuatan yang harus dimiliki seorang wirausahawan. Faktor-faktor ini saling melengkapi dan berperan besar dalam memastikan sebuah ide dapat tumbuh menjadi bisnis nyata yang berdaya saing. Lebih jauh, kekuatan internal tersebut menjadi penentu utama dalam memperluas usaha, yang pada akhirnya membuka peluang kerja bagi masyarakat luas. Dengan kata lain, semakin banyak wirausahawan yang mampu mengembangkan kekuatan internal ini, semakin besar pula kontribusi mereka dalam menurunkan tingkat pengangguran dan mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan Faktor Eksternal Dukungan Modal dan Keuangan Modal merupakan faktor fundamental yang menjadi fondasi awal dalam perjalanan Tanpa adanya modal yang memadai, sebuah ide inovatif yang berpotensi besar bisa saja terhenti hanya sebagai gagasan. Modal berfungsi sebagai AuoksigenAy yang menghidupkan proses bisnis, mulai dari pembelian bahan baku, pengadaan peralatan produksi, sewa tempat usaha, hingga pembayaran gaji bagi karyawan pertama. Akses terhadap modal yang mudah dan terjangkau akan mendorong wirausahawan lebih berani mengambil risiko dalam mengembangkan usaha. Bentuk dukungan modal dapat berupa pinjaman perbankan dengan bunga rendah, investasi dari venture capital atau angel investor, hingga bantuan modal bergulir dari pemerintah dan lembaga non-bank. Selain itu. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29462-29471 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 manajemen keuangan yang sehat juga menjadi bagian penting dari strategi Seorang wirausahawan harus mampu mengelola arus kas, menekan biaya, serta memastikan bahwa modal yang ada digunakan secara efektif dan efisien. Dengan dukungan finansial yang memadai, keberlangsungan usaha dapat terjaga sekaligus membuka peluang untuk memperluas bisnis, yang pada gilirannya menciptakan lapangan kerja baru. Peran Pemerintah dan Lingkungan Bisnis yang Kondusif Pemerintah memiliki posisi strategis sebagai fasilitator dalam menciptakan iklim kewirausahaan yang sehat dan berdaya saing. Kebijakan yang ramah terhadap pelaku usaha, seperti penyederhanaan perizinan, pemberian insentif pajak, subsidi, maupun perlindungan hukum, mampu mengurangi hambatan administratif dan mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah (UKM). Lingkungan bisnis yang kondusif tidak hanya menciptakan rasa aman bagi para wirausahawan untuk memulai usaha, tetapi juga meningkatkan kepercayaan investor dalam menanamkan modal. Program-program pelatihan kewirausahaan yang difasilitasi oleh pemerintah dapat meningkatkan keterampilan manajerial dan inovasi pelaku usaha. Selain itu, peran pemerintah juga sangat penting dalam memperluas akses pasar, misalnya melalui promosi produk lokal ke pasar internasional. Ketika pemerintah memberikan dukungan maksimal, maka tercipta ekosistem bisnis yang sehat, kompetitif, dan berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan. Dampaknya secara langsung adalah peningkatan jumlah usaha baru dan peluang kerja yang lebih luas bagi masyarakat. Jaringan Luas dan Lingkungan yang Mendukung Keberhasilan seorang wirausahawan tidak hanya ditentukan oleh modal dan inovasi semata, tetapi juga oleh kemampuan dalam membangun jaringan . Jaringan bisnis berfungsi sebagai sarana untuk memperoleh informasi terbaru mengenai tren pasar, akses terhadap sumber daya, hingga peluang kolaborasi dengan mitra strategis. Hubungan dengan sesama wirausahawan, pemasok, pelanggan, hingga investor adalah jembatan yang menghubungkan bisnis dengan peluang pertumbuhan. Jaringan yang solid dapat membantu memperkuat posisi tawar sebuah usaha di pasar yang kompetitif. Selain itu, dukungan lingkungan sosial juga memiliki peran penting. Lingkungan yang mendukung, baik dalam bentuk keluarga, komunitas bisnis, maupun asosiasi kewirausahaan, mampu memberikan motivasi dan dukungan moral yang dibutuhkan oleh seorang wirausahawan. Ketika jaringan bisnis diperluas, kebutuhan akan tenaga kerja tambahan tidak terhindarkan, sehingga mendorong terciptanya lapangan kerja baru. Ketersediaan Talenta dan Pendidikan Setiap usaha yang berkembang membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten dan adaptif. Talenta yang terampil merupakan aset berharga dalam membantu wirausahawan menjalankan operasional bisnis secara efektif. Oleh karena itu, ketersediaan tenaga kerja yang berkualitas sangat dipengaruhi oleh sistem pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Institusi pendidikan, baik formal maupun nonformal, perlu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan teoritis, tetapi juga keterampilan praktis yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja modern. Program vokasi, kursus kewirausahaan, serta inkubator bisnis berperan penting dalam mempersiapkan SDM yang siap kerja sekaligus berjiwa wirausaha. Selain itu, mentorship dari wirausahawan berpengalaman juga dapat memperkaya wawasan para pengusaha Dengan adanya tenaga kerja yang kompeten, wirausahawan akan lebih percaya diri dalam mengembangkan usahanya, memperluas operasi, dan merekrut lebih banyak Secara keseluruhan, keberhasilan kewirausahaan dalam menciptakan lapangan kerja merupakan hasil sinergi antara faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi visi, inovasi, keberanian mengambil risiko, serta manajemen usaha yang efektif. Sementara itu, faktor eksternal terdiri dari dukungan modal dan keuangan, kebijakan pemerintah, jaringan bisnis yang luas, serta ketersediaan talenta yang terampil. Kedua aspek ini saling melengkapi dan membentuk ekosistem kewirausahaan yang dinamis. Dengan strategi yang tepat dan dukungan lingkungan yang Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29462-29471 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 kondusif, kewirausahaan dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus solusi dalam mengatasi pengangguran. SIMPULAN Wirausaha memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya di Indonesia yang menghadapi masalah pengangguran. Usaha baru, khususnya UMKM, mampu menyerap tenaga kerja, sementara inovasi produk, efek pengganda, pelatihan, dan pemberdayaan lokal semakin memperluas kesempatan kerja. Keberhasilan wirausaha ditentukan oleh dua faktor utama. Faktor internal mencakup visi, semangat, kreativitas, inovasi, serta kemampuan manajerial dan kepemimpinan. Sedangkan faktor eksternal meliputi dukungan modal, kebijakan pemerintah, jaringan bisnis, serta ketersediaan tenaga kerja terampil. Singkatnya, kewirausahaan dapat berkembang jika ada sinergi antara kekuatan individu dan dukungan lingkungan. Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan yang telah dijabarkan, maka diperlukan langkah-langkah strategis dari berbagai pihak untuk memperkuat peran kewirausahaan dalam menciptakan lapangan kerja. Oleh karena itu, beberapa saran dapat diajukan sebagai berikut. Bagi Pemerintah, disarankan untuk terus memperkuat dukungan terhadap kewirausahaan melalui penyediaan akses modal yang lebih mudah, pemberian insentif pajak, serta penyederhanaan proses perizinan usaha. Selain itu, pemerintah juga perlu memperluas program pelatihan dan pendampingan kewirausahaan yang menyasar generasi muda agar mereka memiliki kesiapan untuk memulai dan mengembangkan usaha. Bagi Dunia Pendidikan, sebaiknya kewirausahaan dijadikan bagian dari kurikulum pembelajaran, baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi. Institusi pendidikan juga dapat berperan aktif dengan membuka inkubator bisnis dan pusat pelatihan, sehingga mampu menumbuhkan jiwa wirausaha sejak dini dan menghasilkan lulusan yang tidak hanya mencari pekerjaan tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja. Bagi Masyarakat dan Wirausahawan, penting untuk terus meningkatkan kreativitas, inovasi, serta kemampuan manajerial dalam mengelola usaha. Wirausahawan juga disarankan untuk aktif membangun jejaring bisnis . dengan berbagai pihak agar peluang usaha semakin luas. Dengan demikian, usaha yang dijalankan tidak hanya berkembang secara individu, tetapi juga dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian masyarakat. DAFTAR PUSTAKA