Cetak ISSN : 0215 - 0638 ISSN Daring : 2723 - 7044 AGRIBIOS : Jurnal Ilmiah Vol 22 No 02. Bulan November Tahun 2024 Analisis Kelayakan Usahatani Benih Terung Ungu di Kecamatan Puger Kabupaten Jember Cindera Rosa Damascena 1 . Nur Halimah 2 . Indah Ibana 3 . Agus Supriono 4 . Meidiana Purnamasari 5. Julita Hasanah 6 1,3,5,6 Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Jember Program Studi Agroteknologi. Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian * Email Korespondensi : cinderarosad@gmail. DOI : https://doi. org/10. 36841/agribios. Abstrak Pertimbangan ini melihat karakteristik dan kelayakan usaha budidaya benih terung ungu di Daerah Puger . Kabupaten Jember . Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pengambilan sampel secara purposive sampling. Lokasi penelitian dilakukan secara sengaja yaitu di Kecamatan Puger Kabupaten Jember. Hal ini dikarenakan Kecamatan Puger merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Jember . Puger merupakan salah satu penghasil benih terung ungu terbesar di Kabupaten Jember. Analisis kelayakan finansial dilakukan dengan menggunakan kriteria kelayakan usaha, yaitu R/C Berdasarkan hasil survei dan wawancara dengan petani setempat, diketahui bahwa sebagian besar petani . %) berusia antara 40-50 tahun, yang menunjukkan potensi produktivitas tinggi. Sebagian besar petani berpendidikan SMP . %) dan tidak ada yang berpendidikan sarjana. Luas lahan yang dimiliki oleh sebagian besar petani adalah 0,75-1,25 Ha . %), sedangkan rata-rata pengalaman berusahatani berkisar antara 17-23 tahun . %). Dari hasil pendataan diperoleh penggunaan variabel sebesar Rp 58. per hektar dan biaya tetap sebesar Rp 752. 900 per hektar, dengan total perolehan sebesar Rp 58. 200 per hektar. Gaji pokok usaha budidaya terung ungu mencapai Rp 000 per hektar dengan total biaya yang harus dibayar sebesar Rp 144. 800 per Hasil penyelidikan kemungkinan menunjukkan Proporsi RC sebesar 1. 406, yang menunjukkan bahwa usaha budidaya ini produktif dan layak untuk dilanjutkan. Kata Kunci : Usahatani. Benih Terong Ungu. Analisis Kelayakan Abstrak This consideration looks at the characteristics and feasibility of purple eggplant seed cultivation in Puger Area. Jember Regency. The method used is descriptive analytical with purposive sampling. The location of the study was carried out intentionally, namely in Puger District. Jember Regency. This is because Puger District is one of the districts in Jember Regency. Puger is one of the largest producers of purple eggplant seeds in Jember Regency. Financial feasibility analysis was carried out using business feasibility criteria, namely the R/C ratio. Based on the results of surveys and interviews with local farmers, it is known that most farmers . %) are between 40-50 years old, which indicates high productivity Most farmers have junior high school education . %) and none have a bachelor's The area of AUland owned by most farmers is 0. 25 Ha . %), while the average farming experience ranges from 17-23 years . %). From the data collection results obtained variable usage of Rp 58,040,300 per hectare and fixed costs of Rp 752,900 per hectare, with a total acquisition of Rp 58,793,200 per hectare. The basic salary of purple eggplant cultivation business reaches Rp 203,500,000 per hectare with a total cost to be paid of Rp 144,706,800 per hectare. The results of the investigation likely show the RC Proportion of 1,406, which indicates that this cultivation business is productive and feasible to continue. Submit : 31 Oktober 2024 Review : 11 November 2024 Accepted : 20 November 2024 AGRIBIOS : Jurnal Ilmiah Vol 22 No 02. Bulan November Tahun 2024 Keywords: Farming Business. Eggplant Seeds. Feasibility Analysis PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki potensi dalam sektor Potensi Indonesia dalam sektor agraris dapat digali dan menjadi salah satu sektor yang memiliki peranan penting bagi bangsa ini (Kurniatiningsih et al. Akan tetapi, sektor pertanian di Indonesia semakin menyusut akibat adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri, pemukiman, perkebunan dan alih fungsi lahan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain ( Pamuji et al. , 2. Dampak yang paling besar dari alih fungsi lahan adalah menurunnya ketersediaan pangan dan menurunnya ketersediaan pangan nasional. Sementara itu, dampak yang bersifat skala kecil berdampak pada petani yang awalnya hanya menanam tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Hal ini menyebabkan kebutuhan pangan keluarga tidak terpenuhi secara optimal. Dampak lain dari alih fungsi lahan adalah hilangnya lapangan pekerjaan yang mengakibatkan petani kehilangan pendapatan dari bercocok tanam. Dari sisi produksi, hal ini akan mematikan produksi pertanian seiring dengan berkurangnya jumlah lahan yang digantikan oleh alih fungsi lahan persawahan. Kemalangan lainnya adalah kemalangan lowongan kerja di bidang agribisnis dan lowongan gaji serta kegiatan keuangan yang terkait dengan agribisnis, seperti usaha penyediaan perlengkapan pertanian, peralatan pertanian, pengolahan beras, dan penyewaan traktor ( Setyarini et al. , 2. Dalam menghadapi dampak skala besar dan skala kecil dari transformasi ekonomi dan pendekatan pemerintah yang terus berubah. Negara-negara Bersatu mengeluarkan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG. pada tahun 2015, yang diakui oleh semua negara bagiannya, untuk mengidentifikasi kemiskinan dan kesulitan yang meluas di seluruh dunia. Salah satunya adalah Zero Starvation, khususnya SDG yang menekankan pada penguatan peran petani skala kecil karena jika petani skala kecil ini semakin diperkuat dalam hal produksi pangan Hal ini dapat dilakukan untuk menciptakan pertanian dengan cara yang selaras dengan alam, kesejahteraan manusia, dan tanpa menguras kantong Sehingga mengarah pada cara di mana pertanian berkelanjutan menjadi sangat penting dengan mempertimbangkan upah dari para petani ( Bhati et al. Upah yang cukup besar dalam ekonomi pertanian akan sia-sia apabila harus dicapai dengan menginvestasikan biaya produksi yang besar. Akan tetapi, keputusan terpenting yang diambil oleh petani adalah bagaimana mencapai proporsi yang cukup tinggi antara upah yang mereka peroleh dari bercocok tanam dan total biaya produksi yang mereka keluarkan. Semakin tinggi tingkat pengembalian, semakin tepat pilihan pemanfaatan aset dalam kegiatan pertanian. Biaya produksi yang lebih besar akan mempengaruhi tingkat pendapatan dan upah yang diperoleh petani. Di sebagian besar daerah, upah petani dapat diperoleh dari menanam satu jenis tanaman atau beberapa tanaman lainnya ( Putri , 2. Bidang pertanian di Indonesia meliputi subsektor pangan, perikanan, peternakan, peternakan, jasa kehutanan, dan budi daya. Salah satu subsektor yang potensial di Indonesia adalah subsektor budi daya. Kebutuhan pembangunan pedesaan yang Cetak ISSN : 0215 - 0638 ISSN Daring : 2723 - 7044 AGRIBIOS : Jurnal Ilmiah Vol 22 No 02. Bulan November Tahun 2024 diharapkan terlaksana adalah swasembada pangan, hal ini terjadi karena subsektor budidaya kurang mendapat perhatian sehingga pembangunannya Ancaman perubahan iklim yang mengakibatkan meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman juga menjadi masalah serius yang dapat menghambat pembangunan subsektor hortikultura. Salah satunya adalah pengembangan benih terung ungu di Daerah Puger. Kabupaten Jember. Budidaya merupakan salah satu subsektor pertanian yang berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi (Putra, 2. , sehingga pengembangan benih terung ungu menjadi pilihan bagi para petani di Daerah Puger . Bencana banjir yang kerap terjadi pada tahun 2022 akibat curah hujan yang tinggi menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi para Kerugian tersebut terjadi karena sebagian besar tanaman mengalami kerusakan sehingga tidak dapat menghasilkan panen yang diharapkan oleh para Musim kemarau yang panjang pada tahun 2022 ini juga berdampak buruk terhadap produksi benih terung di Daerah Puger . Jember. Aturan. Musim kemarau yang tertunda membuat musim panen menjadi kering, sehingga menurunkan kualitas dan kuantitas produksi. Dua karakteristik pengaruh perubahan iklim menyebabkan penurunan upah petani ( Damascena , 2. Jadi sarannya adalah bahwa suatu usaha pertanian dinyatakan layak atau tidak untuk bersaing dalam mengoptimalkan hasil pertanian dan upah petani ( Putri , 2. Menurut Ningsih dan Jumiati . , studi kelayakan dalam sebuah proyek agribisnis merupakan hal yang dasar, dimana semakin besar skala investasi maka semakin penting untuk dilaksanakan studi tersebut guna melihat apakah proyek yang akan dijalankan menuntungkan atau tidak menguntungkan. Menurut Adnyana . , dalam mencapai tujuan perusahaan tersebut dapat tercapai sesuai dengan tujuan yang diinginkan, maka apa pun tujuan perusahaan . aik profit, sosial maupun gabungan dari keduanya profit dan sosia. , hendaknya apabila ingin melakukan investasi sebaiknya didahului dengan suatu studi. Tujuannya adalah untuk menilai apakah investasi yang akan ditanamkan layak atau tidak untuk dijalankan . alam arti sesuai dengan tujuan usah. atau dengan kata lain jika usaha tersebut dijalankan akan memberikan suatu manfaat atau tidak. Menurut Alaydrus . , bagi sebagian pengusaha mungkin ada yang kurang begitu faham atau mengenal apa itu studi kelayakan bisnis dan apa saja aspek yang ada didalamya sehingga hal itu akan terdengar cukup asing menurut sebagian Oleh karena itu, perlu melakukan analisis kelayakan dalam pengembangan usahatani benih terung ungu. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan pada bulan April-November 2023 di Daerah Puger Jember Uji yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan penelitian purposive, yaitu penelitian yang dilakukan dengan tujuan (Sugiyono, 2. , dengan pemikiran bahwa petani di Daerah Puger merupakan salah satu pelopor kemajuan pertanian, khususnya benih terung ungu. Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 29 orang petani. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan secara subjektif dan kuantitatif. Data subjektif disajikan dalam bentuk ekspresif. Untuk mengetahui gambaran Submit : 31 Oktober 2024 Review : 11 November 2024 Accepted : 20 November 2024 AGRIBIOS : Jurnal Ilmiah Vol 22 No 02. Bulan November Tahun 2024 tentang budidaya benih terung ungu. Data kuantitatif meliputi data jumlah input dari biaya yang dikeluarkan, upah dan pendapatan yang diperoleh, serta analisis peluang usaha. Teknik analisis data berikut yang digunakan dalam penelitian ini meliputi (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri-Ciri Benih Terong Ungu Petani Berdasarkan hasil wawancara dan survey terhadap petani benih terung ungu di Kecamatan Puger, maka gambaran tentang petani benih terung ungu dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 1. Karakteristik Petani Benih Terong Ungu di Wilayah Puger Jember Kriteria Jumlah Persentase Usia < 40 40 Ae 50 > 50 Pendidikan Tidak menyelesaikan sekolah dasar Cetak ISSN : 0215 - 0638 ISSN Daring : 2723 - 7044 AGRIBIOS : Jurnal Ilmiah Vol 22 No 02. Bulan November Tahun 2024 SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SMA Sarjana Luas lahan (H. < 0,75 0,75 - 1,25 > 1,25 Pengalaman Bertani 10 Ae 16 17 Ae 23 Tanggal 24 Ae 30 Sumber : ( Pengolahan data , 2. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa 80% peternak benih terung ungu berumur antara 40-50 tahun dan sisanya berumur 50 tahun sebanyak 10%. Hal ini menunjukkan bahwa umur peternak tergolong umur produktif dengan kapasitas kerja yang besar. Umumnya individu yang masih muda umumnya lebih kuat dan mampu menerima perkembangan zaman, serta enerjik dan tanggap terhadap kemajuan lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan usaha pertaniannya. Para pengusaha dan pekerja usia produktif harus memiliki kemampuan berinovasi dan memanfaatkan peluang untuk memajukan usaha pertanian yang dijalankannya. Dari data tersebut, sekitar 52% berpendidikan SMP, 21% berpendidikan SD, 17% tidak tamat SD, dan 10% berpendidikan SMA. Artinya, sebagian besar dari mereka hanya berpendidikan SMP dan tidak ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Meskipun tingkat pendidikan formal tidak diperlukan dalam budidaya terung ungu, namun pendidikan petani tetap harus ditingkatkan mutunya. Untuk meningkatkan mutu petani maka diperlukan adanya pendidikan nonformal seperti penyuluhan, pelatihan dan lain-lain. Dilihat dari segi luas lahan, 69% petani memiliki lahan seluas 0,75-1,25 Ha, 24% petani memiliki lahan seluas 1,25 Ha. Hal ini berarti sebagian besar petani memiliki lahan yang cukup untuk mengembangkan benih terung ungu. Sedangkan dari segi pengalaman bercocok tanam, 52% petani saat ini memiliki pengalaman 17-23 tahun, 24% memiliki pengalaman 10-16 tahun dan 24% petani memiliki pengalaman 24-30 tahun. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar petani memiliki pengalaman yang sangat panjang dalam pengembangan benih terung ungu . Petani yang telah lama bercocok tanam akan lebih mudah dalam melakukan budidaya dibandingkan dengan petani pemula atau petani Petani yang telah lama bercocok tanam akan lebih mudah dalam melakukan penyuluhan maupun penerapan teknologi (Putra, 2. Kelayakan Usahatani Petani Benih Terung Ungu Submit : 31 Oktober 2024 Review : 11 November 2024 Accepted : 20 November 2024 AGRIBIOS : Jurnal Ilmiah Vol 22 No 02. Bulan November Tahun 2024 Informasi Penelitian Budidaya Benih Terong Ungu di Daerah Puger Jember, khususnya setelah dilakukan Perhitungan biaya variabel dan biaya tetap ditampilkan dalam 1 Ha perubahan dalam tabel berikut: Tabel 2. Klasifikasi Biaya Produksi Komponen Jumlah Biaya ( Rp ) Variabel Biaya Benih Pupuk Biaya Irigasi Obat-obatan Tenaga Kerja Pembajakan Pembibitan Penanaman Pemupukan Obat Penyerbukan Irigasi Memanen Total Biaya Tetap Peralatan Total biaya Sumber : ( Pengolahan data , 2. Persentase (%) 0,77 Tanggal 9. Rp 100. Berdasarkan tabel 2, secara spesifik jumlah informasi biaya dalam budidaya benih terung ungu di wilayah Puger Kabupaten Jember , dapat diketahui bahwa variabel yang diambil biaya pemakaiannya sebesar Rp . 300,- per Ha atau sebesar 98,72%. Hal ini dapat diartikan bahwa konsumsi yang diambil paling besar diperoleh dari variabel yang diambil. Biaya pemakaiannya masih terdiri dari solar, tangki, gunting tanaman, karung, bedengan, sabit dan perkakas. Setelah memperhitungkan biaya penyusutan alat-alat diperoleh sebesar Rp. 900,- per Ha. Dibandingkan dengan variabel yang diambil, biaya pemakaiannya masih jauh lebih kecil yaitu sebesar 1,28%. Total biaya yang dikeluarkan dalam usahatani benih terung ungu dalam satuan Ha di Daerah Puger Aturan Jember adalah Rp Cetak ISSN : 0215 - 0638 ISSN Daring : 2723 - 7044 AGRIBIOS : Jurnal Ilmiah Vol 22 No 02. Bulan November Tahun 2024 Banyak komponen yang mempengaruhi jumlah biaya dalam pengembangan benih terung ungu, diantara biaya tetap seperti pembelian/investasi lahan, peralatan pertanian, dan sarana serta prasarana lainnya, selain itu juga terdapat biaya variabel yang terdiri dari pembelian benih, pupuk, pestisida, biaya tenaga kerja, dan sebagainya. Analisis selain dilakukan dengan penghitungan jumlah benih usaha tani terung ungu pada lahan seluas 1 Ha, hal ini dapat dijelaskan pada tabel Tabel 3. Hasil Penerimaan Budidaya Bibit Terong Ungu di Daerah Puger Jember Total Produksi (K. Harga (R. Total Pendapatan Sumber : ( Pengolahan data , 2. Penyelidikan mengenai gaji budidaya benih terung ungu dapat dijelaskan sebagai Tabel 4. Hasil Analisis Pendapatan Budidaya Benih Terong Ungu di Daerah Puger Jember Total Biaya ( Rp ) Total Pendapatan (R. Total Pendapatan (R. Sumber : ( Pengolahan data , 2. Pengakuan dan upah ini biasanya disebabkan oleh tinggi dan rendahnya harga jual benih terung ungu, dimana tingginya harga jual juga dipengaruhi oleh kualitas benih yang dipasarkan, sehingga semakin baik kualitas benih yang dipasarkan maka semakin tinggi pula pengakuan dan upah petani. Selain itu dari hasil penelitian di atas dilakukan pengujian kelayakan sebagai berikut : Tabel 5. Ujian Ketercapaian Analisis Kelayakan Rasio RC = TR / TC Rasio RC 406 orang Sumber: (Pengolahan data, 2. Berdasarkan hasil analisis kelayakan dapat diketahui bahwa nilai RC Proportion sebesar 1,406 > 1 yang berarti bahwa upaya pengembangan benih terung ungu yang dilakukan oleh petani di Wilayah Puger mampu memberikan keuntungan bagi petani dan layak untuk dikembangkan. KESIMPULAN Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar petani benih terung ungu masih berumur produktif dengan tingkat pendidikan yang cukup tinggi sebagian besar adalah lulusan SMP dan tidak ada satupun yang menamatkan pendidikan tinggi, dengan pengalaman yang sangat lama yaitu antara 10-30 tahun, sehingga dengan pengalaman yang lama tersebut cukup bagi petani untuk memperoleh penghasilan yang sesuai dengan biaya yang dikeluarkan. Usahatani benih terung ungu yang dilakukan oleh petani di Daerah Puger Kabupaten Jember bisa dikatakan bisa dilaksanakan karena mampu memberikan keuntungan bagi para petani. DAFTAR PUSTAKA