Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 185-192 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Scaffolding Berbasis Modeling dalam Pengembangan Bahasa Ekspresif Anak Usia Dini di TK Aisyiyah 2 Tasikmalaya Rini Handayani1. Dadan Nugraha2. Alfian Azhar Yamin3 Info Artikel Abstract Keywords: Expressive Language. Early Childhood. Scaffolding. Modeling. Teacher Interaction. Expressive language skills are an important aspect in early childhood development because they play a role in conveying ideas, feelings, and experiences verbally. This study used a descriptive qualitative approach with data collection techniques in the form of observation, semi-structured interviews, and documentation. The research subjects consisted of two children in group B at Aisyiyah 2 Kindergarten in Tasikmalaya, the class teacher, and the principal as supporting informants. The results showed that children have varied language development, ranging from passive to being able to construct coherent sentences. The modeling strategies used by teachers include providing verbal examples, facial expressions, gestures, and are adaptive to the child's characteristics and have proven effective in increasing speaking courage and sentence construction skills. Modeling-based scaffolding is an effective strategy in helping early childhood develop expressive language in a gradual, contextual, and meaningful manner. This study strengthens Vygotsky's theory of scaffolding and Bandura's social learning theory through the role of modeling in children's language development. Early childhood teachers are advised to use a modeling approach in daily interactions as a language stimulation strategy that is adaptive and responsive to characteristics. Kata kunci: Bahasa Ekspresif. Anak Usia Dini. Scaffolding. Modeling. Interaksi Guru. Abstrak Kemampuan bahasa ekspresif merupakan aspek penting dalam perkembangan anak usia dini karena berperan dalam menyampaikan ide, perasaan, dan pengalaman secara verbal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskritif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara semi tersruktur, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari dua anak kelompok B di TK Aisyiyah 2 Tasikmalaya, guru kelas, serta kepala sekolah sebagai informan pendukung. Hasil penelitian menunjukan bahwa anak memiliki perkembangan bahasa yang variatif, mulai dari pasif hingga mampu menyusun kalimat runtut. Strategi modeling yang dilakukan guru mencakup pemberian contoh verbal, ekspresi wajah, gesture, serta adaptif sesuai karakteristik anak dan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: rinirhdy@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: dadan@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: alfianazharyamin@upi. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 terbukti efektif dalam meningkatkan keberanian berbicara serta kemampuan menyusun kalimat. Scaffolding berbasis modeling merupakan strategi yang efektif dalam membantu anak usia dini mengembangkan bahasa ekspresif secara bertahap, kontekstual, dan bermakna. Penelitian ini menguatkan teori Vygotsky tentang scaffolding dan teori belajar sosial Bandura melalui peran modeling dalam perkembangan bahasa anak. Guru Paud disarankan menggunakan pendekatan modeling dalam interaksi sehari-hari sebagai strategi stimulasi bahasa yang adaptif dan responsif terhadap karakteristik. Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 15 Juli 2025 20 Juli 2025 22 Juli 2025 27 Juni 2025 Cara Mensitasi Artikel: Handayani. Nugraha. , & Yamin. Scaffolding Berbasis Modeling Dalam Pengembangan Bahasa Ekspresif Anak Usia Dini di TK Aisyiyah 2 Tasikmalaya. Jurnal Ar-Raihanah, 5 . , 185-192, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korespondensi Penulis: Dadan Nugraha, dadan@upi. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Bahasa merupakan hal dasar yang utama dalam perkembangan anak usia dini karena menjadi alat untuk berpikir, mengekspresikan diri, dan menjalin hubungan sosial (Khaerunnisa. Mutiah. & Aisyah, 2. Salah satu aspek penting dari perkembangan bahasa adalah bahasa ekspresif, yaitu kemampuan anak dalam menyampaikan ide, perasaan, dan informasi baik secara verbal maupun nonverbal (Taringan, 2. Pada usia 5Ae6 tahun, anak berada dalam fase perkembangan yang pesat, di mana mereka mulai mampu menyusun kalimat yang kompleks, dapat memahami struktur bahasa, dan menggunakan bahasa dalam berbagai konteks sosial (Sari, 2. Namun, berbagai studi menunjukkan bahwa belum semua anak mencapai perkembangan bahasa ekspresif secara optimal. Seperti salah satunya dari hasil observasi di TK Aisyiyah 2 Tasikmalaya, yang menunjukkan masih adanya anak yang mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat, berbicara dengan lancar, dan mengekspresikan ide dengan percaya diri. Fenomena ini menjadi perhatian khusus karena kemampuan bahasa ekspresif memiliki dampak signifikan terhadap keberhasilan belajar anak di masa mendatang (Khaerunnisa et al. , 2. Dalam praktik pembelajaran, guru sering kali memberikan contoh atau teladan dalam berbahasa melalui percakapan, cerita, atau isyarat tanpa disadari. Strategi ini sejalan dengan konsep scaffolding berbasis modeling, yaitu pemberian dukungan pembelajaran melalui contoh konkret yang dapat ditiru anak (Bandura A, 2. Scaffolding merupakan sebuah tindakan memberikan bantuan sementara yang diberikan kepada anak untuk menyelesaikan tugas yang berada di luar jangkauan kemampuan mandirinya, dan akan ditarik secara bertahap saat anak sudah mampu mandiri (Etnawati, 2. Beberapa penelitian telah membuktikan efektivitas scaffolding berbasis modeling dalam mendukung perkembangan bahasa anak (Kurniasari. , & Rahmawati, 2. Namun, pendekatan ini lebih sering dikaji dalam konteks formal dan terstruktur, sementara praktik natural guru dalam memberi contoh bahasa sehari-hari masih kurang tereksplorasi secara mendalam. Maka dari itu, penting untuk menelaah lebih jauh bagaimana strategi modeling ini muncul secara spontan dalam pembelajaran dan bagaimana kontribusinya terhadap kemampuan bahasa ekspresif anak. Belum banyak kajian yang secara khusus mengeksplorasi bagaimana strategi scaffolding muncul secara alami dan tidak terencana dalam interaksi sehari-hari antara guru dan anak usia dini. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 sebelumnya cenderung berfokus pada program tersruktur atau perlakukan tertentu, sehingga mengabaikan potensi besar dari interaksi spontan sebagai media pengembangan bahasa ekspresif Penelitian ini menambahkan perspektif baru bahwa strategi modeling tidak hanya efektif dalam konteks formal, tetapi juga memiliki kekuatan dalam praktik keseharian guru yang spontan , adaptif, dan kontekstual. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang utuh dan mendalam mengenai interaksi guru dan anak dalam konteks pembelajaran, serta peran modeling sebagai strategi yang mendukung tumbuhnya kemampuan ekspresif anak usia 5Ae6 tahun. Secara teoritis, penelitian ini memberikan konrtribusi terhadap pengembangan konsep scaffolding berbasis modeling dalam pendidikan anak usia dini dengan menambahkan dimensi spontatitas, kontekstualitas, dan naturalitas praktik guru. Penelitian ini memperluas kerangka berpikir bahwa modeling bukan sekadar teknik pengajaran tersruktur, tetapi juga strategi adaptif yang melekat dalam interaksi guru sehrai-hari. Secara praktis, temuan ini memberikan acuan bagi guru PAUD untuk mengoptimalkan interaksi sehari-hari sebagai ruang stimulasi bahasa, tanpa harus selalu melalui pembelajaran terencana. Dengan demikian, penelitian memberikan sumbangan penting terhadap pengembangan pendekatan scaffolding berbasis modeling yang lebih applikatif, personal, dan relevan dengan dinamika kelas PAUD. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk menggali secara mendalam praktik scaffolding berbasis modeling dalam pembelajaran bahasa pada pendidikan anak usia dini. Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengamati fenomena sosial dalam konteks alaminya dan menafsirkan makna berdasarkan perspektif partisipan (Anggito. , & Johan, 2. Fokus utama penelitian adalah bagaimana guru secara natural memberikan teladan berbahasa yang memengaruhi perkembangan bahasa ekspresif anak usia 5Ae6 tahun. Lokasi penelitian dipilih secara purposif, yaitu TK Aisyiyah 2 Kota Tasikmalaya, berdasarkan studi pendahuluan yang menunjukkan adanya praktik modeling dalam interaksi pembelajaran seharihari. Pemilihan subjek penelitian yang sangat terbatas, yakni dua anak kelompok B, didasarkan pada prinsip utama pendekatan kualitatif yang menekankan kedalaman eksplorasi dan pemahaman konteks secara detail daripada kuantitas subjek. Kedua anak dipilih secara purposif karena menunjukkan karakteristik berbahasa yang berbeda dan kontras, yaitu satu anak cenderung pasif secara verbal, sementara anak lain aktif namun mengalami kendala artikulasi. Perbedaan ini sengaja dipilih agar peneliti dapat menggali variasi respons dan penerapan scaffolding oleh guru dalam konteks yang berbeda, sehingga memberikan gambaran yang lebih kaya dan komprehensif mengenai dampak modeling terhadap perkembangan bahasa Pendekatan ini sesuai dengan tujuan penelitian kualitatif deskriptif yang ingin mengungkap fenomena secara mendalam dan kontekstual melalui partisipan yang relevan dan informatif. Untuk meningkatkan kredibilitas data, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi metode dan triangulasi sumber. Triangulasi metode dilakukan dengan menggabungkan tiga teknik pengumpulan data, yaitu observasi partisipatif dan non-partisipatif, wawancara semi-terstruktur, serta studi Kombinasi metode ini memungkinkan peneliti memperoleh data yang saling melengkapi dan mengonfirmasi temuan dari berbagai sudut pandang, sehingga mengurangi kemungkinan bias dan meningkatkan validitas hasil (Miles. , & Huberman, 1. Sementara itu, triangulasi sumber melibatkan tiga informan utama yang mewakili berbagai peran dalam proses pembelajaran: guru kelas sebagai pelaksana praktik modeling, anak sebagai Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 penerima strategi scaffolding, dan kepala sekolah sebagai pengamat yang memiliki perspektif makro terhadap keseluruhan proses pembelajaran. Dengan melibatkan berbagai sumber informasi, penelitian ini dapat memastikan konsistensi data dan memperkuat interpretasi hasil melalui perbandingan perspektif yang berbeda (Kusumaningsih. , & Azman, 2. Data dianalisis secara interaktif menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data . ata displa. , dan penarikan kesimpulan . onclusion drawin. (Miles & Huberman, 1. Analisis dilakukan selama dan setelah proses pengumpulan data untuk mengidentifikasi pola-pola yang relevan dengan fokus penelitian. Penelitian ini juga memperhatikan prinsip etika penelitian anak usia dini dengan memperoleh persetujuan dari pihak sekolah dan orang tua, menjaga kerahasiaan identitas partisipan, serta memastikan kegiatan observasi tidak mengganggu proses belajar anak. Kehadiran peneliti di kelas dilakukan secara pasif agar interaksi berlangsung alami tanpa pengaruh kehadiran peneliti (Rachmawati. , & Kurniasih, 2. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Bentuk Kemampuan Bahasa Ekspresif Anak Usia 5-6 Tahun Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa kemampuan bahasa ekspresif anak usia 5Ae6 tahun sangat bervariasi, tergantung pada latar belakang pengalaman, stimulasi lingkungan, dan kondisi individu anak. Sebagian anak sudah mampu mengungkapkan ide dan perasaan mereka secara lisan dengan menggunakan struktur kalimat yang utuh, intonasi yang sesuai, dan gestur yang mendukung. Anak-anak ini cenderung aktif dalam percakapan, mampu merespon pertanyaan terbuka, serta dapat menyampaikan cerita atau pengalaman mereka secara runtut. Namun, tidak sedikit pula anak yang masih menunjukkan kemampuan terbatas dalam berbahasa ekspresif. Beberapa di antaranya hanya berbicara jika ditanya, memiliki kosakata yang terbatas, serta belum mampu menyusun kalimat yang jelas. Kondisi ini terlihat dari rendahnya frekuensi komunikasi inisiatif dan kurangnya keberanian menyampaikan pendapat di depan teman sebaya atau Contoh konkret ditunjukkan oleh anak berinisial R, yang pada awalnya mengalami hambatan komunikasi cukup berat, termasuk kesulitan dalam artikulasi bunyi, pemilihan kata, serta kepercayaan diri untuk berbicara. Namun, setelah menjalani proses pendampingan yang terstruktur dan konsisten melalui interaksi guru di kelas, anak R mulai menunjukkan perubahan signifikan. Guru mengungkapkan: AuSekarang dia sudah bisa bercerita dengan jelas, bahkan menceritakan pengalaman pergi ke laut bersama orang tuanya secara runtut. Ay Perkembangan ini menunjukkan bahwa kemampuan bahasa ekspresif anak dapat berkembang secara bertahap bila diberikan stimulasi yang tepat. Sementara itu, anak lain seperti RL memiliki struktur bahasa yang sudah baik namun menghadapi kendala dalam aspek volume suara. Guru menjelaskan bahwa RL cenderung berbicara dengan suara yang sangat pelan, sehingga komunikasi menjadi kurang efektif: AuRL itu mah lancar bicaranya, cuma suaranya kecil banget. Jadi kita harus benar-benar lihat wajahnya untuk memahami. Ay Kondisi ini menunjukkan bahwa bentuk kemampuan bahasa ekspresif tidak hanya terkait struktur kalimat atau kosakata, tetapi juga meliputi aspek paralinguistik seperti intonasi, kejelasan suara, dan keberanian berbicara dalam situasi sosial. Praktik Interaksi Guru yang Mengandung Unsur Scaffolding Berbasis Modeling Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Dalam upaya mengembangkan bahasa ekspresif anak, guru menerapkan strategi interaksi yang mengandung unsur scaffolding, terutama melalui teknik modeling. Strategi ini diterapkan secara berkelanjutan dalam situasi yang kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan individu anak. Modeling dilakukan tidak hanya dalam konteks pembelajaran formal seperti kegiatan diskusi kelompok atau tanya jawab di kelas, tetapi juga dalam interaksi informal seperti saat bermain, makan bersama, atau kegiatan rutin lainnya. Guru secara aktif menunjukkan penggunaan bahasa yang benar, termasuk dalam hal pengucapan, struktur kalimat, intonasi, dan penggunaan ekspresi wajah atau gerak tubuh sebagai pendukung komunikasi. Strategi ini tidak hanya memberikan contoh konkret kepada anak, tetapi juga membangun rasa percaya diri anak untuk mencoba berbicara dengan meniru pola bahasa yang Salah satu pendekatan yang banyak digunakan guru adalah modeling individual, yaitu memberikan contoh langsung dan membimbing anak secara bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan dan gaya belajar anak. Dalam wawancara, seorang guru menjelaskan: AuAnak itu saya beri perhatian penuh dulu, terus saya ajak bermain, biar dia merasa nyaman dan akhirnya mau bicara. Ay Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberhasilan scaffolding dalam bentuk modeling sangat bergantung pada keterampilan guru dalam membangun hubungan emosional dan menciptakan lingkungan belajar yang suportif. Guru juga memperhatikan sinyal nonverbal dari anak sebagai bagian dari komunikasi, seperti anggukan, tatapan, atau ekspresi wajah, untuk menilai kesiapan anak dalam mengekspresikan diri. Keterkaitan antara Praktik Modeling dan Perkembangan Bahasa Ekspresif Anak Berdasarkan hasil triangulasi data dari observasi, wawancara, dan dokumentasi, ditemukan bahwa praktik modeling yang diterapkan guru memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan bahasa ekspresif anak. Anak-anak yang awalnya menunjukkan perilaku komunikasi pasif, seperti hanya menjawab jika ditanya atau bahkan tidak berbicara sama sekali di lingkungan sekolah, mulai memperlihatkan perubahan perilaku yang positif. Mereka mulai menunjukkan inisiatif dalam berkomunikasi, mengungkapkan pendapat, bertanya, dan bahkan mampu mengisahkan pengalaman pribadi mereka secara runtut. Dalam proses perkembangan ini, terlihat bahwa guru tidak hanya sekadar memberikan contoh bahasa, tetapi juga melakukan penyesuaian teknik modeling sesuai karakteristik dan kebutuhan anak. Sebagai contoh, pada anak R yang mengalami hambatan komunikasi awal, guru memberikan modeling dalam bentuk kalimat pendek, intonasi jelas, serta penggunaan gambar atau media bantu visual untuk mendukung pemahaman. Guru juga sering mengajak anak R untuk mengulang kata atau kalimat sebagai bentuk latihan keterampilan berbicara. Sementara pada anak RL, yang struktur kalimatnya sudah baik namun memiliki masalah pada aspek keberanian berbicara dan volume suara, guru lebih menekankan pada aspek intonasi, ekspresi wajah, serta pemberian penguatan positif ketika anak mulai meningkatkan volume suara. Guru AuKalau RL mah dalam bahasanya udah bagus, cuma dalam intonasi dan keberaniannya yang harus ditingkatkan. Dulu dia jarang banget bicara kalau gak ditanya. Ay Pernyataan ini menunjukkan bahwa modeling tidak bersifat seragam, tetapi kontekstual dan responsif terhadap dinamika kemampuan setiap anak. Dampaknya, anak-anak menjadi lebih percaya diri dalam mengekspresikan diri secara verbal, bahkan beberapa anak mulai aktif berinteraksi dengan teman sebaya, mengikuti kegiatan diskusi kelompok kecil, dan menunjukkan kemampuan berbahasa ekspresif yang lebih baik dari waktu ke waktu. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Pembahasan Temuan mengenai variasi kemampuan bahasa ekspresif anak sesuai dengan indikator yang dikemukakan Azmi. Indrayani. , & Rahmah . , bahwa kemampuan bahasa ekspresif meliputi kemampuan menjawab, menanggapi, dan mengisahkan pengalaman pribadi. Fenomena perbedaan volume suara dan keberanian berbicara sejalan dengan kajian Sunarti . dan Rahayu dkk. yang menegaskan bahwa bahasa ekspresif tidak hanya soal isi pesan, tetapi juga cara penyampaian, termasuk intonasi dan artikulasi (Talango, 2. Faktor lingkungan sosial dan pola asuh di rumah juga berperan penting dalam perkembangan bahasa anak. Strategi modeling yang dilakukan guru sesuai dengan teori scaffolding, yang menekankan bantuan bertahap dari orang dewasa untuk membantu anak mencapai kompetensi yang belum dapat dicapai sendiri. Guru berperan sebagai zona proksimal yang memberikan stimulus linguistik awal dan (Putri. Ramadhan. Selain itu, pendekatan ini juga relevan dengan teori pembelajaran sosial Bandura . yang menyatakan bahwa anak belajar melalui observasi perilaku orang dewasa sebagai role model. Penelitian Dwi Asmiarti dkk. dan Pujiwati . juga mendukung bahwa penggunaan symbolic modeling secara konsisten meningkatkan keterampilan bahasa ekspresif anak. Hasil penelitian memperkuat temuan Sunarti & Nirwana . yang menunjukkan bahwa permainan peran yang dipandu guru sebagai media modeling efektif dalam membangun keberanian dan kosakata anak (Sujiono, 2. Permainan seperti simulasi pasar dan dokter-dokteran yang dipadukan dengan teladan bahasa mendorong anak meniru struktur kalimat dan ekspresi verbal sesuai konteks sosial (Ningsih. , & Rahmawati, 2. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan scaffolding sangat ditentukan oleh kepekaan guru terhadap kebutuhan linguistik anak (Sunarti. Nirwana, 2. Maka dari itu, modeling tidak hanya alat bantu pembelajaran bahasa, tetapi juga strategi pendampingan yang memperkuat hubungan sosial, afeksi, dan kepercayaan diri anak, sehingga membantu anak mengekspresikan diri secara utuh dan bermakna. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di TK Aisyiyah 2 Tasikmalaya, dapat disimpulkan bahwa kemampuan bahasa ekspresif anak usia 5-6 tahun berkembang melalui interaksi yang intensif, responsif, dan bersifat mendukung. Anak-anak menunjukan variasi dalam kemampuan mengekspresikan ide, perasaan, dan pengalaman baik secara verbal maupun nonverbal. Meskipun beberapa anak mengalami keterlambatan dalam komunikasi pada tahap awal, mereka memperlihatkan kemajuan signifikan setelah mendapatkan stimulasi yang tepat dan berkesinambungan. Strategi scaffolding berbasis modeling terbukti efektif dalam mendukung perkembangan bahasa ekspresif anak. Guru tidak hanya memberikan contoh berbahasa secara verbal, tetapi juga menggunakan ekspresi wajah, gerakan tubuh, intonasi, dan pendekatan emosional yang membangun rasa percaya diri anak. Interaksi yang dilakukan bersifat adaptif, di mana guru menyesuaikan bentuk dukungan dengan kebutuhan dan karakteristik setiap anak. Praktik modeling yang konsisten dan kontekstual berperan besar dalam membentuk keberanian anak untuk berbicara, menyusun kalimat, dan menyampaikan gagasan secara utuh. Dengan memberikan teladan bahasa yang baik dan membangun suasana belajar yang nyaman, guru berperan sebagai fasilitator utama dalam pencapaian perkembangan bahasa anak usia dini. Dengan demikian, scaffolding berbasis modeling dapat dijadikan sebagai salah satu pendekatan strategis dalam mendampingi anak usia dini mengembangkan keterampilan bahasa ekspresif secara bertahap, alami, dan bermakna. Guru PAUD diharapkan menerapkan strategi ini secara konsisten dan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 adptif, mengintegrasikan aspek verbal dan nonverbal dalam interaksi harian, serta memanfaatkan aktivitas bermain dan sosial sebagai sarana modeling yang menyenangkan. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan melibatkan partisipan yang lebih beragam dalam hal usia, jumla , dan latar belakang sosial budaya agar diperoleh gambaran yang lebih komperehensif. Selain itu, penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi pengaruh faktor lain seperti peran orang tua, lingkungan keluarga, dan media pembelajaran. Pendekatan kuantitatif atau mixed methods juga direkomendasikan untuk mengukur efektivitas strategi ini secara lebih objektif dan terukur. DAFTAR KEPUSTAKAAN Anggito. , & Johan. Metodologi penelitian kualitatif. Yogyakarta: CV Jejak. Azmi. Indrayani. , & Rahmah. Indikator perkembangan bahasa ekspresif anak. Jurnal Ilmiah Edukids, 10. , 2559Ae2571. https://doi. org/https://doi. org/10. 30595/edukids. Bandura A. Social learning theory. New York: Routledge. Dwi Asmiarti. Aeni. , & Mulawarman. The effectiveness of symbolic modeling learning to early childrenAos expressive language skills. Journal of Primary Education, 9. , 39747. https://doi. org/https://doi. org/10. 15294/jpe. Etnawati. Penerapan scaffolding dalam pembelajaran bahasa anak usia dini. Jurnal Golden Age, 6. , 131Ae140. https://doi. org/https://doi. org/10. 30736/gold. Khaerunnisa. Mutiah. , & Aisyah. Perkembangan bahasa pada masa golden age. Jurnal PAUD, 10. , 106Ae115. https://doi. org/https://doi. org/10. 21009/jpud. Kurniasari. , & Rahmawati. Peran guru dalam perkembangan bahasa ekspresif anak usia Jurnal Obsesi: Pendidikan Anak Usia Dini, 5. , 50Ae60. https://doi. org/https://doi. org/10. 31004/obsesi. Kusumaningsih. , & Azman. Scaffolding dalam konteks pendidikan anak usia dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 13. , 294Ae305. https://doi. org/https://doi. org/10. 21009/JPUD. Miles. , & Huberman. Qualitative data analysis: An expanded sourcebook. Ningsih. , & Rahmawati. Pola Asuh Responsif dan Perkembangan Emosional Anak. Jurnal Pendidikan Dan Psikologi, 9. , 34Ae42. Pujiwati. Pembelajaran metode modelling simbolik berbantu boneka terhadap kemampuan bahasa ekspresif anak usia dini. Journal of Primary Education. Putri. , & Ramadhan. Strategi modeling dalam pengembangan bahasa anak. Jurnal Cakrawala Dini, 9. , 65Ae76. https://doi. org/https://doi. org/10. 17509/cd. Rachmawati. , & Kurniasih. Etika penelitian kualitatif dalam konteks anak usia dini. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Anak Usia Dini , 4. , 55Ae66. Rahayu. Lestari. Handayani. Nasution. , & Puspita. Pengaruh lingkungan sosial terhadap perkembangan bahasa anak usia dini. Jurnal Pendidikan PAUD, 8. , 307Ae313. https://doi. org/https://doi. org/10. 33222/pelitapaud. Sujiono. Teknik observasi dan dokumentasi dalam pendidikan anak usia dini. Jurnal Ilmu Pendidikan, 15. , 77Ae85. Sunarti. Nirwana, & N. Peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anak melalui kegiatan bermain peran. Ihya Ulum: Early Childhood Education Journal, 2. , 374Ae382. Sunarti. Peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anak melalui kegiatan bermain peran. Jurnal Ihya Ulum, 2. , 374Ae382. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Talango. Konsep Perkembangan Anak Usia Dini. Early Childhood Islamic Education Journal, 1. , 92Ae105. https://doi. org/10. 54045/ecie. Taringan. Berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa. Angkasa. Perkembangan bahasa anak usia dini: Telaah sintaksis dan pragmatik. Jurnal Ilmiah Potensia, 6. , 105Ae112. https://doi. org/https://doi. org/10. 33369/potensia.