P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 https://journals. upi-yai. id/index. php/IKRAITH-EKONOMIKA Modal Pengetahuan Situs Pusaka Budaya Pesanggrahan Pakubuwono IX Langenharjo dan Pengembangan Potensi Wisata Agustian Budi Prasetya1 . Puji Wahono2 . GPH Surya Witjaksono 3 Universitas Bina Nusantara 1 . Universitas Negeri Jember 2 ,Pesanggrahan Langenharjo 3 E-mail: agustian. prasetya@binus. id1, wahono. fisip@unej. musimgrafis@gmail. ABSTRACT The paper discusses about knowledge assets that applied in heritage site . It is identified the knowledge resources of the site, that suppose to be retained by involving five stakeholders at estate of King PB IX at Sukoharjo City. The research utilizes desk research methodes, obeservation, ingterview and literature study. The paper describe analytically knowledge and phisical assets of the heritage estage and pentahelix model. The paper found that along with effort to maintain the knowledge capital, the heritage estate, might call for involvement in heritage stakeholders to share and collaborate each other. Otherwise the estate might under value of its knowledge capital and loss the opportunity to be creative tourism destination. Keyword : Pentahelix stakeholders, knowledge capital, heritage estate PENDAHULUAN Di era ekonomi yang mengutamakan modal pengetahuan untuk pertumbuhan perusahaan atau ekonomi regional di suatu daerah, paling tidak mereka mengelola dua modal utama, yaitu tangible dan intangible capital. Modal modal pengetahuan sebagai asset utama. Sementara modal tangible, atau inderawi, seperti lahan, keunikan alam, modal dan teknologi. Modal nirinderari seperti pengetahuan memberikan nilai tambah yang utama, khususnya di era teknologi informasi dan sigital saat ini. Modal intangible, khususnya pengetahuan melekat pada mahluk cerdas manusia seperti watak, termasuk nilai nilai yang memuat kearifan lokal yang ramah lingkungan. Tuhan. JURNAL IKRATH-EKONOMIKA Vol 6 No 2 Juli 2023 terpelihara secara (Husaeni, 2. Beberapa literatur membahas modal pengetahuan sebagai tipe pengetahuan pada tingkat individual, kolektif dan (DeLong: ,(Muhammed Arif. ,2. Sebuah situs pusaka budaya atau heritage, dapat diargumentasikan memiliki modal pengetahuan yang melekat dengan keberadaan pusaka budaya tersebut. dapat menjadi modal pengetahuan organisasional yang digunakan sebagai (Nonaka. Ryko. Toyama . Blankenship, et. Sehingga situs pusaka budaya, seperti di Pesanggrahan Langenharjo memiliki aset pengetahuan yang dapat menjadi sumber inovasi atau kreativitas untuk destinasi wisata. Mengingat pengelolaan aset pengetahuan ini stakeholders yang dapat memberikan https://journals. upi-yai. id/index. php/IKRAITH-EKONOMIKA nilai tambah keberadaan pusaka budaya pentahelix dapat membantu sebuah situs mengembangkannya sebagai potensi destinasi wisata. Sehingga dimungkinkan kolobarasi antara dunia akademik, pemerintah , dunia bisnis , media dan Leydesdorff, 1. , (Awaluddin et. al, 2. , ( Halibas, 2. Denner dan Diaz . , menjelaskan modal pengetahuan sebuah entitas dapat bersumber dari pengetahuan tacit individu maupun pengetahuan yang telah dan terorganisir cara Modal pengetahuan tersebut, antara lain aktivitas transfer di dalam komunitas (Nistor et. ,2. Pesangrahan Langenharjo PBIX adalah situs cagar budaya milik Karaton Surakarta. Pesanggrahan tempat bersejarah : Khususnya area bangunan pesanggrahan seperti fasilitas. Kawasan Pesanggrahan terletak di kawasan bantaran Sungai Bengawan Solo, sebuah sungai yang memiliki nilai sejarah dan ekonomi untuk masyarakat sekitarnya dan Solo Raya pada umumnya. Pembangunan Pesanggrahan pada masa pemerintahan Pakubuwono IX . , tepatnya pada tahun 1870 Kemudian selesai dibangun pada era kepemimpinan Pakubuwono X . , yakni tanggal 15 Juli 1931 Makalah ini mencoba mengkaji di dalam situs pusaka budaya pesanggrahan dan komunitas budaya yang melakat di Pesangrahan Dalem Pakubuwono (PB) IX, di Langenharjo. Sukoharjo. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjawab pertanyaan : Apa saja yang harus dikelola sebagai modal pengetahuan P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 yang melekat di situs pusaka budaya Langenharjo? Bagaimana pendekatan multi stakholder pentahelix dapat pengetahuan di situs pusaka budaya Langenharjo? LANDASAN TEORI DeLong . menyebutkan pengelolaan . modal pengetahuan adalah mengelola alur pengetahuan . low of knowledg. yang tersedia digunakan ketika dibutuhkan. Modal pengetahuan dapat dibahas dari tipe-tipe pengetahuan , yaitu : pengetahuan individual ( human knowledg. , pengetahuan sosial . ocial pengetahuan budaya . ultural knowledg. , dan pengetahuan . tructured Human knowledge merujuk kepada apa dan bagaimana individu bekerja, keterampilan dalam menjalankan tugas mengelola situs pusaka budaya. Human knowledge ini biasanya pengetahuan tasit dan eksplisit yang melekat di diri manusia, pelaku di organisasi atau komunitas, sebagaimana dirujuk oleh Nonaka . , atau Blankenship . Social knowledge adalah modal pengetahuan untuk mengelola hubungan atau relasi antar Cultural knowledge : modal pengetahuan yang terefleksi di dalam perilaku perilaku konformitas terhadap nilai nilai yang ada. Sementara structured knowledge atau pengetahuan struktural adalah modal pengetahuan yang dimiliki, termasuk routine kegiatan di dalam pencapaian tujuan organisasi. Termasuk kegiatan di sebuah situs Sebagai alur pengetahuan yang menghubungkan hub di dalam sebuah ekosistem organisasi, , pengelolaan kemampuan menggunakan data dan Melalui pemprosesan data, dan menyebarkan informasi kepada pihak di dalam dan di luar organisasi. Data dan informasi JURNAL IKRATH-EKONOMIKA Vol 6 No 2 Juli 2023 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 https://journals. upi-yai. id/index. php/IKRAITH-EKONOMIKA merupakan dasar pembentukan modal pengetahuan melalui berbagai upaya menggunakan data, informasi agar rmemiliki konteks yang bermakna bagi para pelaku di dalam ekosistem organisasi : pemangku kepentingan yang tergabung dalam model pentahelix. Dalam paper ini para pelaku adalah mereka yang dapat memberikan nilai tambah pengelolaan aset pusaka budaya untuk meningkatkan potensi wisata. Model pentahelix merupakan model mengembangan sosial ekonomi melalui berbagai kolaborasi untuk menghasilkan inovasi mencakup kerjasama NGO, masyarakat sipil, wirausahakan sosial, bisnis dan akademisi (Halibas 2. Model berdasakan Leyesdorff . Triple Helix, yang mengidentifikasi jejaring akademisi, industri dan pemerintah untuk bersama sama mengambil manfaat penelitian penelitian inovasi dan Di Indonesia, model pentahelix banyak diteliti baik dari aspek pemodelan (Awaluddin, 2. , maupun adopsi kebijakan untuk pengembangan regional dan pariwisata. Peraturan Menteri (Perme. Pariwisata Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2016 Tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan, sedikit banyak membahas identifikasi berbagai pihak di model penta mereka berkolaborasi mengelola kualitas aktivitas, fasilitas, pelayanan dan menciptakan pengalaman Model pentahelix ini sistem kepariwisataan melalui kolaborasi pelaku academic, bussiness, community, government and media (ABCGM). Akademisi berperan sebagai sumber pengetahuan formal dalam bentuk konsep, teori untuk merangkai berbagai pelaku dalam upaya memberikan nilai tambah. Dalam hal ini adalah pengelolaan situs pusaka budaya sebagai aset pengetahuan untuk nilai tambah masyarakat. Dunia bisnis, industri maupun sektor swasta sebagai JURNAL IKRATH-EKONOMIKA Vol 6 No 2 Juli 2023 Dalam hal ini mereka menciptakan nilai tambah melalui upaya pengelolaan sumberdaya maupun intangible secara proporsional. Bahkan diharapkan memberikan makna efisiensi untuk keberlanjutan bisnis. Seperti pemodalan finansial dan ketenegakerjaan melalui rantai kegiatan penciptaan di hulu maupun pemasaran jasa di hilir. Dalam hal ini enabler untuk menciptakan berbagai pihak dapat memberikan kontribusi terhadap perlindungan dan pengembangan aset pusaka budaya. Termasuk ekosistem fisik agar dengan demikian aset tangible sebuah pusaka budaya memberikan daya tarik finansial kepada berbagai pelaku. Komunitas, berperan sebagai akselarator, untuk memperantarai berbagai minat, potensi. Lebih khusus lagi di dalam pengelolaan modal pengetahuan di pusaka budaya, adalah mempertemukan berbagai minat untuk keberadaan dan kelestarian situs Dalam Pesanggrahan Langenharjo, komunitas komunitas yang memiliki minat atas budaya jawa, ekosistem sungai dan Pemerintah, sebagai regulator dan Dimana melibatkan berbagai kepentingan dan jaringan kemitraan antara berbagai sektor yang mendukung keberadan situs pusaka budaya. Beberapa kebijakan pengusulan menyangkut pemberdayaan masyarakat kelurahan atau desa, rencana pembangunan jangka menengah yang memungkinkan berbagai inisiatif dari berbagai pelaku dikoordinasikan oleh Baik penganggaran, perizinan, pelaksanaan dan pengendalian, promosi dan mobilisasi sumberdaya birokrasi dan politik. Dalam hal ini bagaimana berbagai kebijakan perlindungan dan pelestarian aset pusaka kegiatan kegiatan yang memungkinkan https://journals. upi-yai. id/index. php/IKRAITH-EKONOMIKA penggunaan fasilitas aset budaya bagi masyarakat dan aktivitas pemerintah. Sehingga Media, memiliki content untuk mendukung publikasi, promosi berbagai aktivitas masyarakat, termasuk memberikan informasi, konteks, dan kurasi di media sosial atas sebuah kegiatan dan relevansinya dengan keberadaan asets pusaka budaya. Membangun brand sehingga masyarakat memiliki sense of belonging. Dalam hal ini komunitas komunitas yang memiliki minat atas keberadaan aset pusaka budaya, misalnya mudah mengakses informasi yang sedang dilakukan oleh Dan menjadi influencer Singkatnya pemberdayaan Pentahelix dan pengetahuan pusaka budaya, model ini dapat digunakan untuk mengidentifikan pemetaan pelaku dan hub kolaborasi di dalam ekosistem situs pusaka budaya. Dengan berbagai kolaborasi dan berbagi pengetahuan, memungkinkan pengetahuan di sebuah pusaka budaya, mengalir . dari dalam keluar atau dari luar ke dalam kawasan. Sehingga sebuah modal pengetahuan, yang intangible ini, ia merupakan sumber inovasi dan proposisinya (Husaini, 2. Ia dapat sebagai leverage , pendongkrak sebuah pengembangan destinasi wisata, seperti di situs pusaka budaya Pesanggrahan Dalem PB IX di Langenharjo. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 kajian pustaka. sumber informasi, berasal dari buku, media cetak, maupun media online. Data primer diperoleh dengan cara wawancara mendalam dengan putra dan keturunan Sinuwun Pakubuwono dari Keraton Surakarta dan pengelola Focussed discussion dilakukan dengan para pihak yang terlihat guna memperoleh informasi yang lebih akurat dan komprehensif, antara lain dengan pimpinan komunitas, pelaku NGO dan narasumber pemerintah lokal. Pengolahan dilakukan dengan cara pemilahan dan pengklasifikasian datadata yang terkait sehingga membentuk narasi jawaban dari pertanyaan penelian yang diajukan. Demikian pula digunakan studi kepustakaan untuk mengkaji dan menjelaskan modal pengetahuan dan model pentahelix sebuat situs pusaka budaya berdasarkan kepustakaan terbitan luar negeri maupun dalam negeri HASIL DAN PEMBAHASAN Modal pengetahuan, yang melekat situs pusaka budaya Pesanggrahan Dalem PB IX Langenharjo sebagai situs yang berpotensi untuk destinasi wisata. Situs ini dengan penetapan cagar budaya dengan nomor registrasi CB. 290 dan SK penetapan No SK : PM. 24/PW. 007/MKP/2007. Tanggal 26 Maret 2007. METODOLOGI Penelitian ini mengunakan studi kualitatif (Denzin dan Lincoln ,2. atau strategi kualitatif menurut Creswell . Data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data primer. Data sekunder diperoleh melalui JURNAL IKRATH-EKONOMIKA Vol 6 No 2 Juli 2023 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 https://journals. upi-yai. id/index. php/IKRAITH-EKONOMIKA didirikan Sungai Bengawan Solo dan Pesanggrahan menjadi pusat aktivitas Antara lain keberadaan pesanggrahan yang memiliki nilai estetik dan nilai ekologi bagi keberlangsungan hidup ekosistem yang ada di area sungai. Kehadiran Raja Pakubuwono IX dan X pada masa sebelum Indonesia merdeka, merupakan daya tarik untuk kawasan tersebut menjadi pusat kegiatan wisata dan ekonomi. Sebagai kawasan seluas lebih dari 1. ha di tepi sungai Bengawan Solo, aset pengetahuan yang menjadi modal untuk potensi wisata adalah pengelolaan sungai dan kawasan lingkungan alam di Pesanggrahan Langenharjo. Ia memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kelestarian alam, dan mengurangi terjadinya bencana alam akibat kerusakan ekosistem sungai. Gambar 1. Salah Satu Bangunan Pesanggrahan Dalem PB IX. Langenharjo Pesanggrahan Langenharjo terletak di tepi Sungai Bengawan Solo, dan dikenal memiliki nilai historis sebagai kawasan menyatu dengan ekososistem Pesanggrahan pada masanya memiliki pelabuhan sungai, yang menghubungkan kawasan pedalaman Jawa dengan pantai utara dan sekitarnya. Di pesanggrahan Langenharjo dulunya terdapat fasilitas sumber air panas . dan api abadi dari dalam tanah. Ketika jaman PB IX dam PB X , seringkali pesanggrahan Langenharjo tempat untuk digelarnya acara resmi kraton, acara kesenian bahkan untuk menyambut tamu tamu dari petinggi Keistimewaan dari pesanggrahan ini terletak di tepian Sungai Bengawan Solo, terpanjang di Indonesia. Pada saat JURNAL IKRATH-EKONOMIKA Vol 6 No 2 Juli 2023 Sebagai aset di ekosistem sungai , pengembangan revitalisasi dan adaptasi Pesanggrahan Langeharjo kawasan wisata, harus menyatu dengan tepi area bantaran Bengawan Solo. Sehingga nilai estetik dan nilai ekologi sungai dan Pesanggrahan Langenharjo adalah nilai lebihnya sebagai destinasi Khususnya, memperhatikan Pesanggrahan Langenharjo sebagai salah satu pelabuhan sugai di masa kerajaan Mataram. Sungai Bengawan Solo menghubungkan kawasan pedalaman dengan kawasan pantai utara, seperti Gresik hingga Madura. Kondisi bangunan luar Pesanggrahan Langenharjo Terdapat berbagai macam bangunan fisik . Sebagaimana rumah Pesanggrahan Langenharjo memiliki pendopo tengah, depan dan belakang, tembok pembatas kawasan dan Terdapat berbagai macam bangunan fisik yang ada di Pesanggrahan Langenharjo yaitu kamar berendam air https://journals. upi-yai. id/index. php/IKRAITH-EKONOMIKA belerang, kolam renang, kamar mandi raja, kolam renang, saluran irigasi air. Bangunan Pesanggrahan yang terkait dengan fasilitas air ini menjadi kegiatan ritual spiritual kelompok komunitas budaya. Kawasan Air Belerang: Kawasan air belerang menyediakan sarana terbuka yang hijau, mempertahankan pohon pohon tua sebagai peneduh. Pelatarannya dapat digunakan untuk tempat pengunjung untuk keperluan wisata kuliner, rekreasi, berendam air belerang, maupun kegiatan spiritual Bagaimana pendekatan pentahelix dapat menyumbang pengelolaan modal pengetahuan di situs pusaka budaya Langenharjo? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan mengelola berbagai inisiatif sebagai berikut : Komunitas di Langenharjo. Para komunitas ini memiliki minat mengenai kebudayaan jawa, kehidupan air dan lingkungan Salah satu hal yang dipercayai oleh para komunitas ini adalah keberadaan Sungai Bengawan Solo dan sumber air belerang di Langernharjo. Sungai Bengawan Solo memiliki nilai historis, mengingat ini merupakan jalur air bagi raja raja di Mataram dan Pajang. Langenharjo pesanggrahan yang didirikan oleh Raja PB IX, saat ayahandanya PB VI dibuang di Ambon karena mendukun Diponegoto di Perang Jawa . melawan Belanda. PB IX ini berputra PB X sebagai Raja Mataram , terkaya di Indonesia sebelum masa Sementara sumber air belerang, merupakan satu satunya sumber air belerang di dataran rendah, yang cukup jauh P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 dari area pegunungan. Sehingga sumber belerang ini merupakan istimewa bagi komunitas yang Nilai sejajarah ini memunculkan berbagai komunitas budaya dan spiritual untuk turut memiliki pusaka budaya Langenharjo. , yang memungkinkan pengetahuan . acit dan explici. melalui transfer pengetahuan di Dalam kaitan dengan komunitas budaya, sungai dan lingkungan, mereka dapat sebagai pelaku untuk meningkatkan lingkungan di Pesanggrahan PB IX. Sebagai kawasan yang hijau, berbunga dan wangi alami. Antara lain partisipasi komunitas domestik, memelihara sungai dan lingkungan alam sekitara pusaka budaya Langenharjo. Akademisi sebagai sumber pengetahuan untuk pemanfaatan lingkungan alam, kawasan bantaran sungai, dan peminatan budaya atas Pesanggrahan. Misalnya ditemui di dalam penelitian lapangan komunitas budaya berpenghasilan rendah hingga Sektor bisnis, ademisi memberdayakan komunitas dan mewujudkan kawasan pusaka budaya sebagai destinasi wisata berbasis pengelolaan lingkungan Antara lain melalui : eco-friendly dalam pengelolaan sampah domestik komunitas budaya. Khususnya yang tinggal di JURNAL IKRATH-EKONOMIKA Vol 6 No 2 Juli 2023 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 https://journals. upi-yai. id/index. php/IKRAITH-EKONOMIKA Langenharjo. Sebagai kawasan yang dilindungi oleh Undang-undang Cagar Budaya. , kawasan ini masih asri. Namun diperlukan keasrian yang lebih luas di luar kawasan cagar Misalnya hijau dengan menggunakan metode eco-drain yang dikenalkan Suripin . Antara NGO lingkungan mempromosikan ecodrain. Seperti reservasi air hujan,mengatur pembuangan limbah domestik, dan pemisahan sampah organik dan organik yang terpendaam di Menurut Suripin, pengelolaan eco-drain ini akan memelihara tingkat ketinggian air tanah di kawasan pusaka budaya, sehingga di musim kemarau tetap tersedia air. Lebih dari itu, tanaman keras dan perindang, serta pertamanan akan lebih mudah tumbuh. Mendorong agar halaman rumah rumah, di Pesanggrahan, dipertahankan sebagai halaman Tidak tertutup aspal, ataupun pengerasan tertutup Penggunaan paving, bebatuan, merupakan upaya ecodrain. Sehingga estetika komunitas bekerjasama dengan akademisi, pebisnis, aparatur meningkatkan kualitas kawasan budaya, sebagai potensi destinasi Hal dimungkinkan bersumber dari aset pengetahuan Pesanggrahan langenharjo. Pemerolehan . JURNAL IKRATH-EKONOMIKA Vol 6 No 2 Juli 2023 sungai di kawasan sepanjang Sungai Bengawan Solo. Atau kementerian PUPR maupun KLH. Pemerolehan pengetahun ini merupakan aktivitas eksplorasi untuk mendapatkan ketrampilan aktivitas komunitas mengenai ekosistem sungai dan Sebuah keunikan ekosistem sungai dan sebuah pusaka budaya dalam bentuk pesanggrahan antik dan estetik. Data dari Direktorat Sumberdaya Air PUPR, terdapat lebih dari 400 . Termasuk yang berkomunitas di sepanjang Sungai Bengawan Solo. Mereka aktif di dalam pemeliharaan bantaran sungai dan menjalankan bank sampah. Hal ini akan memperkuat keberadaan Pesanggrahan sebagai kawasan yang hijau, dengan mengelola bantaran sungai Termasuk mengelola kawasan bantaran agar terbebas dari sampah komunitas. Mengelola pembudidayaan ikan ataupun tanaman hias. Dapat disimpulkan dari uraian di atas bahwa melakukan berbagai inisiatif yang melibatkan komunitas dan berbagai pelaku pentahelix yang lain, dengan demikian dapat meningkatkan nilai aset pengetahuan yang melekat di dalam keberadaan aset fisik Pesanggrahan. Inisiatif untuk melibatkan media, baik di dalam pengelolaan kawasan akan sejalan dengan pemberdayaan masyarakat dalam sebuah perencanaan nasional yaitu: Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air . Bekerjasama dengan pemerintah P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 https://journals. upi-yai. id/index. php/IKRAITH-EKONOMIKA daerah, universitas, dan kelompok masyarakat sipil, akan membantu kawasan pusaka budaya Pesanggrahan PB IX sebagai salah satu destinasi wisata. Baik pembangunan jangka pendek maupun jangka menengah yang diupayakan dengan partisipasi permusyawarahan perencanaan pembangunan. Beberapa hal yang dapat dilakukan juga untuk melibatkan berbagai pelaku di dalam pentahelix adalah . memulai promosi kawasan wisata yang dibangun dengan konsepsi kawasan pusakan budaya yang komunitas budayanya memiliki komitmen untuk memulikan lingkungan dan sungai. Mengajak berbagai pihak untuk menciptakan kesadaran mengenai pentingnya modal pengetahuan yang melakat di dalam aset fisik cagar budaya, modul modul pemberdayaan mengenai wisata , dimulai pelajar, organisasi masyarakat, hingga pengurus dan ibu ibu di RT dan RW. Melibatkan pekerja sosial, mahasiswa dan pelajar untuk cinta sejaarah atau lingkungan melalui Dukungan media dan pemerintah untuk mengelola aktivitas kesadaran dan kecintaan. Perhatian pemerintah lokal untuk berkomitmen: Pelaku bisnis yang memiliki komitmen kredibel. Seperti CSR perusahaan yang memiliki kepentingan dengan pemuliaan ekologi sungai. KESIMPULAN Penelitian ini membahas secara analitis deskriptis kajian mengenai modal pengetahuan yang melekat di Pesanggrahan PB IX Langenharjo. Sebagai aset fisik, ia memiliki modal pengetahuan tasit yaitu sebagai bagunan yang memelihara ekosistem kawasan sungai dan lingkungan Namun demikian kondisi ini belum cukup kuat dikelola sebagai salah satu kawasan destinasi wisata di Solo Raya. Salah satu upayanya adalah melibatkan berbagai pelaku di dalam model pentahelix yaitu ABCGM. Para pelaku mengelola modal pengetahuan pesanggrahan dan ekosistem sungai yang menjadi salah satu keunikan pusaka budaya Pesanggrahan PB IX. Kesadaran akan arti penting pengetahuan sebagai aset yang melekat di dalam bangunan koloborasi segenap stakeholders dalam pendekatan pentahelix. Kolaborasi ini akan memungkinkan intensitas transfer pengetahuan sebagai sumber kreativitas menjadikan kawasan budaya sebagai kawasan destinasi wisata. DAFTAR PUSTAKA