Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-89 Gusniarni1*. Vivi Rosida2. Herman Alimuddin3 Available online at http://jurnal2. stkip-andi-matappa. id/index. php/poligon Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-89 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS) DENGAN MENGGUNAKAN VIDEO PEMBELAJARAN TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA Gusniarni1*. Vivi Rosida2 . Herman Alimuddin3 1, 2, 3 STKIP Andi Matappa * Email: arnigusni10@gmail. Received:5 Desember 2024. Revised:8 April 2025. Accepted: Tanggal Pusblish 6 juli 2025 ABSTRAK Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Dengan Menggunakan Video Pembelajaran Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas VII di SMP Negeri 2 Labakkang. Jurusan ilmu Pendidikan, program studi matematika Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Andi Matappa. Dibimbing oleh Vivi Rosida. Pd. ,M. Pd. sebagai pembimbing I dan Ir. Herman Alimuddin. Pd. sebagai pembimbing II. Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen One Group Pretest- Posttest Design dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian iniadalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Labakkang yang berjumlah 180 siswa dengan pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling yaitu seluruh siswa kelas VII 1 sebanyak 25 siswa tahun ajaran 2023/2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah terdapat Perbedaan Yang Signifikan Sebelum dan Sesudah Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas VII di SMP Negeri 2 Labakkang. Semua data dianalisis dengan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial dengan melakukan uji prasyarat analisis dan uji hipotesis. Adapun uji prasyarat analisis menggunkan uji Normalitas dan Uji Homogenitas. Sedangkan uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Labakkang Kata Kunci: model pembelajaran. Creative Problem Solving (CPS). Kemampuan Pemecahan Masalah PENDAHUlUAN Pendidikan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat 1 tertulis bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. This is open access article under the CC-BY-SA-licens Copyright A Tahun Terbit. Poligon: Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: x-x . ISSN x-x . Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-90 Gusniarni1*. Vivi Rosida2. Herman Alimuddin3 Menurut Partayasa dkk . Matematika adalah ilmu dasar dari segala ilmu pengetahuan yang digunakan secara luas dalam berbagai kehidupan. Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang universal yang mempunyai dasar perkembangan teknologi modern, dan mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu (Asikin et al, 2008:. Setiap permasalahan memerlukan strategi untuk menemukan sebuah solusi yang tepat adalah kemampuan pemecahan masalah. Pembelajaran adalah langkah belajar yang dibuat oleh guru untuk menumbuhkan kreativitas berpikir yang bisa meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan ilmu pengetahuan. Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan pengalaman yang baru untuk siswa (Hutuji et al. Pembelajaran melibatkan siswa lebih banyak memperoleh pengalaman yang baru serta mendapat banyak informasi untuk meningkatkan kemampuan siswa adalah pembelajaran matematika. Model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) adalah variasi dari pembelajaran penyelesaian masalah dengan teknik yang sistematis dalam menyusun gagasan kreatif untuk menyelesaikan masalah (Yudhanegara, 2015:. Istilah problem mengarah pada proses belajar saat terdapat situasi permasalahan yang menantang. Sedangkan solving artinya belajar adalah cara untuk menemukan solusi dari problem tersebut. Dengan menggunakan model pembelajaran ini harus memiliki kemampuan yang kreatif dan keterampilan dalam menyelesaikan pemecahan masalah soal yang disajikan, dimana siswa dalam memecahkan permasalahan soal harus mengidentifikasi masalah, kemudian menganalisa soal, pengamatan terhadap lingkungan sekitar yang berkaitan dengan soal, mendapatkan ide, kemudian menentukan cara mana yang paling tepat dan akurat untuk menyelesaikan soal tersebut. Model Creative Problem Solving (CPS) mengajak siswa untuk terbiasa berpikir kreatif melalui diskusi kelompok untuk mengembangkan ide-ide yang dimiliki pada saat memecahkan masalah matematika. Menurut Nugraha . video pembelajaran adalah sebuah media audio visual yang menampilkan gambar yang bergerak, animasi yang memiliki sebuah alur cerita yang digunakan untuk menyampaikan suatu pesan kepada setiap orang yang melihat video Hal ini sependapat dengan Agustiningsih . yang menyatakan bahwa video adalah media audio visual yang menampilkan gambar dan suara. Ketika menggunakan media video dapat menarik perhatian siswa dalam belajar rasa ingin tahu dan penasaran dengan media pembelajaran yang tidak monton dapat meningkatkan konsentrasi siswa dalam proses pembelajaran, selain itu dengan menggunakan video juga dapat meningkatkan kemampuan daya tangkap siswa dalam menerima materi pelajaran. Copyright A Tahun Terbit. Poligon: Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: x-x . ISSN x-x . Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-90 Gusniarni1*. Vivi Rosida2. Herman Alimuddin3 Kemampuan pemecahan masalah adalah suatu usaha menemukan solusi untuk menyelesaikan suatu situasi baru (Polya, 2. yang memerlukan proses berpikir tingkat tinggi menerapkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Mawaddah dan Annisa . , pemecahan masalah adalah suatu proses berpikir seseorang untuk menentukan apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan suatu masalah yang menuntut seseorang untuk mengkoordinasikan pengalaman, pengetahuan, pemahaman yang dimiliki. Jadi dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemacahan masalah adalah proses berpikir tingi seseorang untuk menyelesaikan suatu masalah dengan melibatkan pengalaman, pemahaman dan pengetahuan yang dimiliki. Jika model Creative Problem Solving (CPS) dikombinasikan dengan video pembelajaran maka akan meningkatkan minat siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan menarik perhatian siswa dalam belajar rasa ingin tahu dan penasaran dengan media pembelajaran yang tidak monton dapat meningkatkan konsentrasi siswa dalam proses pembelajaran dan dapat meningkatkan kemampuan daya tangkap siswa dalam menerima materi pelajaran. Selain itu juga model Creative Problem Solving (CPS) dikombinasikan dengan video pembelajaran akan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan menggunakan video pembelajaran terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Labakkang. Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat untuk beberapa pihak diantaranya : . Bagi Siswa. Dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa melalui model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan menggunakan video pembelajaran. Guna menciptakan dan melakukan pengembangan minat maupun motivasi siswa dalam memperlajari matematika. Guna Memberikan peningkatan prestasi belajar siswa dalam pelajaran matematika. Bagi Guru. Bisa digunakan sebagai suatu model pembelajaran alternatif pada pembelajaran matematika. Guru diinginkan bisa memberi peningkatan kualitas pembelajaran, maka menghasilkan peserta didik dengan kualitas unggul di masa mendatang,. Bagi Sekolah. Memberikan masukan bagi sekolah dalam usaha perbaikan proses pembelajaran sehingga berdampak pada mutu sekolah. Dapat dijadikan sebagai bahan rujukan untuk memperbaiki proses belajar mengajar guru melalui kegiatan supervisi kepala sekolah. Copyright A Tahun Terbit. Poligon: Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: x-x . ISSN x-x . Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-90 Gusniarni1*. Vivi Rosida2. Herman Alimuddin3 II. METODE PENELITIAN Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Metode ini disebut dengan metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik (Sugiyono, 2015:. Jenis penelitian ini adalah penelitian pra-eksperimen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen yang dilaksanakan pada satu kelompok eksperimen tanpa ada kelompok pembanding atau kelompok kontrol. Variabel dan Desain Penelitian Adapun variabel pada penelitian ini sebagai berikut: Variabel bebas . : Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan menggunakan Video Pembelajaran Variabel terikat . : Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa. Pada penelitian ini menggunakan desain One Group Pretest-Posttest Design, yaitu sebuah penelitian eksperimen yang dilaksanakan dengan satu kelompok yang diberikan pretest sebelum adanya perlakuan dan posttest setelah adanya perlakuan dengan model pembelajaran Creative Probelem Solving. Dengan demikian, hasil perlakukan dapat diketahui lebih akurat karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Adapun desain penelitian ini sebagai berikut (Sugiyono, 2. Desain penelitian dapat digambarkan sebagai berikut: Kelas Eksperimen Pre-test ycC1 Treatment ycU Post-test ycC2 Gambar 1 Desain Penelitian Keterangan : ycC1 = Pretest (Sebelum Penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving dengan menggunakan video pembelajara. ycU = Treatment (Penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving dengan menggunakan video pembelajara. ycC2 = Posttest (Sesudah Penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving dengan menggunakan video pembelajara. Copyright A Tahun Terbit. Poligon: Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: x-x . ISSN x-x . Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-90 Gusniarni1*. Vivi Rosida2. Herman Alimuddin3 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2023/2024 di SMP Negeri 2 Labakkang yang beralamat di Jalan Pendidikan Kampung Baru Desa Taraweang Kecamatan Labakkang . Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Populasi merupakan sumber data dan informasi untuk kepentingan penelitian atau sekelompok subjek, baik manusia, nilai, tes, benda atau peristiwa Menurut Sugiyono . mengatakan populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari atas: objek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya. Populasi juga didefinisikan sebagai suatu himpunan yang terdiri dari orang, hewan, timbuh-tumbuhan, dan benda-benda yang memiliki kesamaan sifat (Winarni, 2. Pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan populasi merupakan keseluruhan orang yang akan diteliti oleh peneliti. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Labakkang tahun pelajaran 2023/2024 sebanyak 180 orang yang terbagi dalam 6 kelas. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik AuSimple Random SamplingAy Dalam bukunya Sugiyono . mengemukakan AusimpleAy berarti sederhana, hal ini karena proses pengambilan sample dari populasi dilakukan secara acak tanpa mempertimbangkan atau memperhatikan strata yang terdapat dalam populasi. AuSimple Random SamplingAy adalah pengambilan anggota sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada, maka dipilih kelas VII. 1 dengan jumlah siswa sebanyak 25 orang sebagai sampel penelitian Instrumen Penelitian Instrumen pada penelitian ini menggunakan tes kemampuan pemecahan masalah dengan 5 nomor soal yang berbentuk essay. Tes ini dirancang disesuaikan dengan keluasan materi dan jumlah indikator pembelajaran yang harus dicapai. Skor jawaban masing-masing responden dinilai kebenarannya sesuai dengan bobot yang telah ditentukan untuk setiap nomor Untuk mengetahui tingkat kesahihan atau validitas instrumen yang digunakan dilakukan validasi konstruksi dengan meminta persetujuan dari ahli yaitu dosen matematika yang telah ditunjuk sebagai validator untuk melihat kesesuaian antara materi dengan bentuk tes yang digunakan serta kesesuaian antara indikator yang diukur dengan soal yang digunakan. Tes dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu pretest dan posttest. Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah sebelum dan sesudah diterapkan model pembelajaran Copyright A Tahun Terbit. Poligon: Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: x-x . ISSN x-x . Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-90 Gusniarni1*. Vivi Rosida2. Herman Alimuddin3 Creative Problem Solving (CPS). Posttest dibuat berdasarkan materi yang diberikan selama penelitian ini berlangsung dengan berdasarkan rumusan indikator pembelajaran. Teknik Analisis Data Statistik Deskriptif Analisis Deskripsif dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi, meliputi skor rata-rata, median, modus, standar deviasi, variansi, rentang skor, nilai maksimum, dan nilai minimum dengan masing-masing perhitungan pretest dan post test. Statistik Inferensial Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah sebaran dari data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini pengujian normalitas data menggunakan uji sampel Kolmogorov-Smirnov dengan berbantuan program SPSS. Uji Homogenitas Uji Homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data homogen atau tidak. Uji Homogenitas pada penelitian ini menggunakan Uji Levene dengan bantuan SPSS. Uji Hipotesis Uji hipotesis dalam untuk penelitian ini menggunakan uji T Paired sample t-test. Uji T Paired sample t-test berfungsi untuk menguji apakah terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran Craetive Problem Solving (CPS). Uji Gain Uji gain digunakan utuk mengetahui seberapa besar pengaruh antara hasil belajar siswa sebelum dan setelah pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E. Dengan menggunakan perhitungan data skor rata-rata gain yang dinormalisasi (Ngai. yang dikembangkan oleh Hake dalam (Sundayana, 2. dengan formulasi sebagai yci= ycIycyycuycyc Oe ycIycyycyce ycIycoOeycnyccyceycaycoOeycIycyycyce Keterangan: < yci >= Skor rata-rata gain yang di normalisasi Spost = Skor rata-rata tes akhir ycIycyycyce = Skor rata-rata tes awal Smaks = Skor maksimum ideal Copyright A Tahun Terbit. Poligon: Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: x-x . ISSN x-x . Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-90 Gusniarni1*. Vivi Rosida2. Herman Alimuddin3 i. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Analisis Data Deskriptif Analisis Hasil Belajar . Hasil Analisis Statistik Deskriptif (Pretes. Kemampuan Pemecahan Masalah siswa di kelompokkan kedalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase hasil kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada tabel 3. 1 berikut ini : Tabel 3. 1 Distribusi Frekuensi dan Persentase Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa pada Pretest Rentang Skor Kategori 0 Ae 39 Sangat Kurang 40 - 54 Kurang 55 Ae 69 Sedang 70 - 84 Baik 85 - 100 Sangat Baik Jumlah Frekuensi Persentase Sumber: Hasil analisis data penelitian. Tahun : 2024 Tabel 3. 1 diatas menunjukkan bahwa dari 25 siswa yang mengikuti pretest tampak bahwa 22 siswa berada dalam kategori kurang dengan persentase 88%, 3 siswa berada dalam kategori kurang dengan presentase 12%. dan dalam kategori sedang, baik dan sangat baik tidak ada siswa yang mencapai kategori tersebut. Dengan demikian kemampuan pemecahan masalah siswa sebelum diterapkan model pembelajaran Craetive Problem Solving (CPS) dalam kategori sangat kurang. Hasil perhitungan pretest dapat dilihat pada diagram berikut Copyright A Tahun Terbit. Poligon: Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: x-x . ISSN x-x . Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-89 Gusniarni1*. Vivi Rosida2. Herman Alimuddin3 Presentase Pretest Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Sangat Kurang Kurang Sangat Kurang Sedang Kurang Sedang Baik Baik Sangat Baik Sangat Baik Gambar 3. 1 Diagram Presentase Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Pada Pretest Hasil tabulasi presentase skor rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa tiap indikator pada pretest dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 3. 2 Skor Rata-Rata Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Tiap Indikator Pada Pretest Indikator Skor Presentase Kategori Memahami Masalah 2,36% Cukup Merencanakan Penyelesaian 1,76% Kurang Menyelesaikan Masalah 1,6% Kurang Memeriksa Kembali Pemecahan 1,24% Sangat Kurang Sumber: Hasil analisis data penelitian. Tahun : 2024 Dari tabel 3. 2 diatas menunjukkan bahwa pada indikator memahami masalah, skor yang diperoleh sebesar 59 dengan rata-rata 2,36% berada dalam kategori cukup, pada indikator merencanakan penyelesaian skor yang diperoleh sebesar 44 dengan rata-rata 1,76% berada dalam kategori kurang, pada indikator menyelesaikan masalah presentase skor yang diperoleh sebesar 40 dengan rata-rata 1,6% berada dalam kategori Kurang dan pada indikator memeriksa kembali pemecahan sekor yang diperoleh sebesar 31 dengan rata-rata 1,24% berada dalam kategori sangat Copyright A Tahun Terbit. Poligon: Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: x-x . ISSN x-x . Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-89 Gusniarni1*. Vivi Rosida2. Herman Alimuddin3 Hasil perhitungan dapat dilihat pada diagram berikut ini : Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah Memahami Masalah Merencanakan Penyelesaian Menyelesaikan Masalah Memeriksa Kembali Pemecahan Memahami Masalah Merencanakan Penyelesaian Menyelesaikan Masalah Memeriksa Kembali Pemecahan Gambar 3. 2 Diagram Presentase Skor Rata-Rata Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Tiap Indikator Pada Pretest . Hasil Analisis Statistik Deskriptif (Posttes. Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dikelompokkan kedalam lima kategori, maka diperoleh distribusifrekuensi dan persentase kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada tabel 3. 3 berikut ini : Tabel 3. 3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Pada Posttest Rentang Skor Kategori 0 Ae 39 Sangat Kurang 40 - 54 Kurang 55 Ae 69 Sedang 70 - 84 Baik 85 - 100 Sangat Baik Jumlah Frekuensi Persentase Sumber: Hasil analisis data penelitian. Tahun : 2024 Tabel 3. 3 diatas menunjukkan bahwa dari 25 siswa yang mengikuti posttest tampak bahwa tidak ada siswa yang masuk dalam kategori sangat kurang dan kurang, sebanyak 4 siswa berada dalam kategori sedang dengan presentase 16%, sebanyak 19 siswa berada dalam kategori baik dengan presentase 76% dan sebanyak 2 siswa berada dalam katogori sangat baik dengan presentase 8%. Hasil perhitungan posttest dapat dilihat dalam diagram berikut ini: Copyright A Tahun Terbit. Poligon: Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: x-x . ISSN x-x . Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-89 Gusniarni1*. Vivi Rosida2. Herman Alimuddin3 Presentase Posttest Kemampuan Pemecahan Masalah Sangat Kurang Kurang Sangat Kurang Sedang Kurang Sedang Baik Baik Sangat Baik Sangat Baik Gambar 3. 3 Diagram Presentase Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Pada Postest Hasil tabulasi presentase skor rata-rata kemampuan pemecahan masalah siswa tiap indikator pada posttest dapat dilhat pada tabel 3. 4 berikut ini : Tabel 3. 4 Skor rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa tiap indikator pada Posttest Indikator Skor Presentase Kategori Memahami Masalah 3,84% Sangat Baik Merencanakan Penyelesaian 3,68% Sangat Baik Menyelesaikan Masalah 2,76% Cukup Memeriksa Kembali Pemecahan 1,72% Kurang Sumber: Hasil analisis data penelitian. Tahun : 2024 Tabel 3. 4 diatas menunjukkan bahwa pada indikator memahami masalah skor yang diperoleh sebesar 96 dengan rata-rata 3,84% berada dalam kategori sangat baik, pada indikator merencanakan penyelesaian, skor yang diperoleh sebesar 92 dengan rata-rata 3,68% berada dalam kategori sangat baik, pada indikator menyelesaikan masalah, skor yang diperoleh Copyright A Tahun Terbit. Poligon: Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: x-x . ISSN x-x . Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-89 Gusniarni1*. Vivi Rosida2. Herman Alimuddin3 sebesar 69 dengan rata-rata 2,76% berada dalam kategori cukup dan pada indikator memeriksa kembali pemecahan, skor yang diperoleh sebesar 43 dengan rata-rata 1,72% berada dalam kategori kurang. Hasil perhitungan dapat dilihat pada diagram berikut ini : Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah Memahami Masalah Merencanakan Penyelesaian Menyelesaikan Masalah Memeriksa Kembali Pemecahan Memahami Masalah Merencanakan Penyelesaian Menyelesaikan Masalah Memeriksa Kembali Pemecahan Gambar 3. 4 Diagram Presentase Skor Rata-Rata Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Pada Tiap Indikator Posttest Analisis Statistik Inferensial Uji Prasyarat Analisis . Uji Normalitas Pengujian normalitas data menggunakan uji sampel Kolmogorov-Smirnov dengan berbantuan program SPSS. Hasil data yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 3. 5 berikut ini : Tabel 3. 6 Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic Sig. Shapiro-Wilk Statistic Sig. Pretest Postest Sumber: Hasil analisis data penelitian. Tahun : 2024 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa untuk hasil nilai siswa sebelum diterapkan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan menggunakan video pembelajaran dengan nilai sig = 0,088 > sehingga data dari pretest dinyatakan normal. Sedangkan data sesudah diterapkan model Creative Problem Solving (CPS) dengan menggunakan video pembelajaran, dengan nilai sig = 0,104 > sehingga data dari posttest dinyatakan normal. Copyright A Tahun Terbit. Poligon: Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: x-x . ISSN x-x . Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-89 Gusniarni1*. Vivi Rosida2. Herman Alimuddin3 . Uji Homogenitas Pengujian Homogenitas menggunakan uji Oneway Anova dengan bantuan program SPSS dengan kriteria pengujian apabila nilai ycycnyci > yu = 0,05 maka varian homogen. Hasil data yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 3. 6 berikut ini : Tabel 3. 6 Hasil Uji Homogenitas Oneway Anova Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic Hasil Based on Mean Belajar Based on Median Based on Median and with adjusted df Based on trimmed mean Sig. Sumber: Hasil analisis data penelitian. Tahun : 2024 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa hasil uji homogenitas data pretest dan posttest kelasVII di SMP Negeri 1 MaAorang, diperoleh nilai sig = 0,132 > , sehingga dinyatakan Homogen. Uji Hipotesis Uji Hipotesis menggunakan uji t yang dapat dilakukan dengan syarat data yang diteliti berdistribusi normal dan homogen. Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk mengetahui bagaiaman kemampuan pemecahan masalah matematika sebelum dan sesudah diterapkan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan menggunakan video pembelajaran pada mata pelajaran matematika di kelas VII SMP Negeri 2 Labakkang. Tabel 3. 7 Hasil Paired T-Test Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair Pretest - Postest Std. 95% Confidence Interval Std. Error of the Difference Deviation Mean Lower Upper Sig. Sumber: Hasil analisis data penelitian. Tahun : 2024 Data hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS melalui paired sample t test diperoleh nilai sig = 0,000, sementara taraf signifikan = 0,000 < 0,05. Berdasarkan tabel diatas, diperoleh bahwa nilai thitung sebesar -32. 552 Kemudian untuk mencari ttabel digunakan Copyright A Tahun Terbit. Poligon: Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: x-x . ISSN x-x . Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-89 Gusniarni1*. Vivi Rosida2. Herman Alimuddin3 rumus yca : n Ae 1 dimana = 0,05 dan n = 25 sehingga diperoleh nilai ttabel sebesar 2,063, karena thitung > ttabel ( 2,063 > -32,552 ) maka hipotesis H0 ditolak dan hipotesis H1 diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan menggunakan video pembelajaran terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Labakkang. Uji Gain Data peningkatan (Gai. merupakan data yang diperoleh dari selisih antara hasil belajar posttest dan pretest. Uji N-Gain digunakan untuk mengetahui seberapa besar perbedaan antara hasil belajar siswa sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). Adapun cara untuk menghitung nilai Gain berikut ini : yci= ycyycuycycycyceycyc Oe ycyycyceycyceycyc ycIycoycuyc ycoycaycoycycnycoycayco Oe ycyycyceycyceycyc 75,32 Oe 33,68 85 Oe 33,68 41,64 51,32 = 0,8 Dari perhitungan manual diatas, diperoleh nilai Gain sebesar 0,8. Dalam indeks uji Gain, jika yci > 0,7 maka hasil perhitungan uji Gain berada pada kategori tinggi. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sebelum dan sesudah diterapkannya model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan menggunakan video pembelajaran. Pembahasan Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) tersebut dalam pembelajaran matematika pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) merupakan model pembelajaran yang dapat melatih tingkat kemampuan berpikir yang matang, melihat sudut pandang dan memikirkan solusi terbaik, dan dengan penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) ini, diharapkan bisa membuat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa akan menjadi lebih baik sehingga kemampuan pemecahan masalah siswapun dapat meningkat. Dengan demikian, berhasil tidaknya suatu kegiatan pembealajarn dalam hal ini kegiatan pembelajaran menggunakan Copyright A Tahun Terbit. Poligon: Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: x-x . ISSN x-x . Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-89 Gusniarni1*. Vivi Rosida2. Herman Alimuddin3 model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS), tidak terlepas dari beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam belajar. Bukan hanya guru yang mempengaruhi tetapi ada faktor lain. Faktor tersebut antara lain siswa, motivasi, psikologis, dan lain sebagainya. Faktorfaktor tersebut saling mendukung dan saling mempengaruhi pencapaian kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Berdasarkan analisis deskriptif dan analisis inferensial diperoleh bahwa terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah diterapkan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan menggunakan video pembelajaran kelas VII di SMP Negeri 2 Labakkang. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini sesuai dengan hasil yang di peroleh oleh Eka Budianti Tahun 2022 mengenai AuPengaruh Model Creative Problem Solving (CPS) Berbantuan Video Pembelajaran Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika SiswaAy. Hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil analisis deskriptif dan inferensial yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dan siswa yang diterapkan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan menggunakan video pembelajaran lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran model konvensional. Selain itu guru juga diharapkan untuk memahami dengan baik perubahan-perubahan tuntutan kurikulum sehingga mampu membuat perangkat pembelajaran yang sesuai kebutuhan siswa, seperti adanya bahan ajar dan LKPD yang digunakan sebagai bahan pembelajaran di sekolah dan juga sebagai salah satu alat untuk mempermudah siswa dalam memahami konsep Bahan ajar dan LKPD merupakan hal yang harus diperhatikan yang dapat memberikan efek yang sangat baik kepada siswa dalam upaya meningkatkan keaktifan siswa di dalam kelas. IV. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa Tingkat kemampuan pemecahan masalah siswa pada tiap indikator kemampuan pemecahan masalah siswa sebelum penerapan model pembelajaran Creative Probelem Solving (CPS) dengan menggunakan video pembelajaran pada materi lingkaran berada pada rata-rata 33,68 dari jumlah sampel 25 siswa dan nilai standar deviasi 4,767 dan variansi sebesar 22,272 yang menunjukkan bahwa pencapaian rata-rata siswa berada dalam kategori sangat kurang. Tingkat kemampuan pemecahan masalah siswa pada tiap indikator kemampuan pemecahan masalah siswa setelah diterapkan model pembelajaran Creative Probelem Solving (CPS) dengan menggunakan video pembelajaran pada Copyright A Tahun Terbit. Poligon: Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: x-x . ISSN x-x . Poligon : Jurnal Pendidikan Matematika 3. Tahun Terbit 2025. Halaman 74-89 Gusniarni1*. Vivi Rosida2. Herman Alimuddin3 materi lingkaran berada pada rata-rata 75,32 dari jumlah sampel 25 siswa dan nilai standar deviasi 6,019 dan variansi sebesar 36,277 yang menunjukkan bahwa pencapaian rata-rata siswa berada dalam kategori baik sehingga bisa disimpulkan bahwa pencapaian kemampuan pemecahan masalah siswa mengalami peningkatan setelah diterpakan model pembelajaran dan Setelah proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Creative Probelem Solving (CPS) dengan menggunakan video pembelajaran, proses belajar mengajar dapat dikatakan efektif karena terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan menggunakan video pembelajaran terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dengan ditunjukkan oleh hasil uji gain ternormalisasi yaitu sebesar 0,8 berarti dalam kategori sangat tinggi. SARAN