Wulan Nuvitasari. Ninik Hidayati Empatheia : Jurnal Psikologi ISSN :A. DOI :AA. Instagram as a Value For Self-Disclosures Media Sosial Instagram Sebagai Wadah Self Disclosure Wulan Nuvitasari1. Ninik Hidayati2 1wulannuvita4@gmail. Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban 2hidayatininik@gmail. Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban Abstract The development of social media, particularly Instagram, has shaped a new communication culture among the younger generation. This study aims to describe the self-disclosure behavior of female Islamic Psychology students at IAINU Tuban through the Instagram Story feature on their second account. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through observation, interviews, and documentation with informants selected using purposive sampling. Analysis was conducted based on the five dimensions of Wheeless' theory: amount, intent, honesty, depth, and valence. The results indicate that self-disclosure on the second account occurs with high frequency, has an emotional purpose . , a relatively high level of honesty, significant emotional depth, and is dominated by content containing negative emotions such as anxiety, fatigue, and disappointment. The second account provides a safe space for female students to express themselves more authentically and selectively, as a coping mechanism against academic and social pressures. However, self-disclosure also carries psychological and social risks, such as post-post anxiety and concerns about privacy violations. These findings underscore the importance of digital literacy, self-identity management, and social media ethics education in the context of higher education, to support students' mental health and social development in the digital age. Keywords: self-disclosure. Instagram Story, second account, students, psychology, social Abstrak Perkembangan media sosial, khususnya Instagram, telah membentuk budaya komunikasi baru di kalangan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perilaku selfdisclosure . engungkapan dir. yang dilakukan oleh mahasiswi Program Studi Psikologi Islam IAINU Tuban melalui fitur Instagram Story pada second account . kun kedu. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap informan yang dipilih secara purposive sampling. Analisis dilakukan berdasarkan lima dimensi teori Wheeless: amount, intent, honesty, depth, dan valence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-disclosure di second account dilakukan dengan frekuensi tinggi, tujuan emosional . , tingkat kejujuran yang relatif tinggi, kedalaman emosional yang signifikan, serta dominasi konten bermuatan emosi negatif seperti kecemasan, kelelahan, dan kekecewaan. Akun kedua menjadi ruang aman bagi mahasiswi untuk mengekspresikan diri secara lebih otentik dan selektif, sebagai bentuk coping mechanism terhadap tekanan akademik dan sosial. Namun demikian, pengungkapan diri juga mengandung risiko psikologis dan sosial, seperti kecemasan pasca-unggahan, serta kekhawatiran terhadap pelanggaran privasi. Temuan ini menegaskan pentingnya literasi digital, pengelolaan identitas diri, dan edukasi etika bermedia sosial dalam konteks pendidikan tinggi, guna mendukung kesehatan mental serta perkembangan sosial mahasiswa di era digital. Kata kunci : self-disclosure. Instagram Story, second account, mahasiswa psikologi, media Vol. No. Tahun 2024 31 Wulan Nuvitasari. Ninik Hidayati PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi menyelamatkan diri dari oversharing yang dan komunikasi di abad ke-21 telah dapat membahayakan data diri yang dapat disalah gunakan oleh pihak-oihak yan tidak menjadikannya sebagai bagian esensial bertanggung jawab. dalam kehidupan manusia modern (Ayub Seiring dengan masuknya era digital, et al. , 2. Teknologi digital, termasuk gaya hidup manusia menjadi semakin internet dan media sosial, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai (Munawar et al. , 2. Pendidikan daring aktivitas manusia, memengaruhi bidang dan layanan kesehatan berbasis digital seperti telemedicine menjadi contoh nyata pendidikan (Zeva et al. , 2. Media pemanfaatan teknologi dalam kehidupan sosial, sebagai produk dari kemajuan sehari-hari (Novita & Hutasuhut, 2. tersebut, membawa dampak yang bersifat Namun, kemudahan ini masih terhambat ganda: positif maupun negatif. Di satu oleh keterbatasan infrastruktur dan akses sisi, ia mempermudah komunikasi dan internet yang belum merata. jejaring sosial. di sisi lain, jika digunakan Transformasi mengubah cara individu bekerja, belajar, dan bersosialisasi (Zis et al. , 2. oversharing yang dapat membahayakan. Aplikasi pesan instan, konferensi video, dan platform kolaborasi kini menjadi sarana berlebihan, dapat pengguna (Khairuni, 2. Kemajuan Namun, interaksi digital dibandingkan tatap muka perubahan besar dalam cara manusia mengandalkan teknologi digital (Martha, kesehatan seperti gangguan tidur dan postur Namun, memunculkan ketimpangan akses atau (Salsabila et al. , 2. Salah populer di kalangan generasi muda adalah (Jayanthi & Dinaseviani, 2. Selain itu Instagram, yang memungkinkan pengguna membatasi atau memilah terlebih dahulu membagikan momen pribadi secara visual Vol. No. Tahun 2024 32 Wulan Nuvitasari. Ninik Hidayati sejak diluncurkan pada 2010 (Yurindah et penyalahgunaan data pribadi (Kristanti & , 2. Fitur "Instagram Story", yang Eva, 2. diperkenalkan pada 2016, menjadi daya Di Indonesia, budaya narsisme digital berbagi konten yang bersifat sementara, mendorong tingginya intensitas penggunaan Instagram Story (Fujiawati & Raharja. Mukaromah, 2. Penggunaan filter. Hal ini menjadi refleksi dari Friends pergeseran batas antara ruang pribadi dan memperkuat pengalaman pengguna dalam publik, serta munculnya kebiasaan baru mengekspresikan diri mereka (Rosemary dalam interaksi sosial. Penggunaan fitur et al. , 2. Story juga (Kadiasti Close Fitur ini juga menjadi sarana penting memperlihatkan bagaimana individu menyesuaikan diri dengan norma dalam pengungkapan diri . elf-disclosur. di dunia maya. Baik disengaja maupun berkomunikasi, dan membangun hubungan interpersonal (Satata & Shusantie, 2021. pribadi kehidupannya, yang sekaligus Kreling et al. , 2. menjadi bentuk representasi identitas dan Fenomena ini menjadi menarik untuk citra diri di ruang digital (Johana et al. diteliti lebih jauh, terutama dalam konteks Luo & Hancock, 2. Pengguna, mahasiswa Psikologi Islam I. Mahasiswa terutama selebgram dan influencer, sering sebagai bagian dari generasi digital aktif memanfaatkan fitur ini untuk membangun kedekatan dengan audiens serta sebagai mengekspresikan emosi, aktivitas, strategi promosi produk (Habil et al. pemikiran mereka, yang turut memengaruhi Self-disclosure Instagram Story memiliki implikasi sosial dan lingkungan virtual (Rahayu et al. , 2023. Haimbash et al. , 2. Ia menciptakan relasi yang Fokus lebih erat, meningkatkan rasa percaya diri, serta memungkinkan pengguna untuk Mahasiswi (Pengungkapan Dir. di Instagram Story? Self Disclosure Tujuan mengetahui gambaran dan perilaku yang memunculkan risiko terhadap privasi dan mendorong Mahasiswi Psikologi Isalm pribadinya ingin dibagikan. Namun, jika Vol. No. Tahun 2024 33 Wulan Nuvitasari. Ninik Hidayati Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Instagram-nya. Peneliti akan mengkaji Tuban untukmelakukan Self Disclosure fenomena ini dengan meninjau langsung melalui Instagram Story. akun Instagram para informan. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi METODE PENELITIAN Penelitian fenomena self-disclosure pada pengguna akun kedua . econd accoun. Instagram di Program Studi Psikologi Islam IAINU Tuban. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari para informan, yaitu individu yang dianggap relevan terkait topik yang diteliti. teknik purposive sampling, yaitu teknik pertimbangan tertentu. Menurut Sugiyono . , teknik ini dipilih dengan memperhatikan kriteria-kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam konteks ini, informan adalah mahasiswa Psikologi Islam IAINU Tuban yang memiliki akun kedua di Instagram serta aktif menggunakannya, yang dapat diketahui melalui fitur aktivitas di aplikasi Instagram PEMBAHASAN Perkembangan penggunaan akun tersebut. Informan yang terpilih adalah mereka yang telah melakukan pengungkapan diri . elf-disclosur. melalui second account khususnya media sosial, telah mengubah secara sosial. Di kalangan mahasiswa. IAINU Tuban. Psikologi Islam Instagram menjadi ruang utama dalam Pemilihan informan dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. pengalaman pribadi. Fenomena ini dikenal dengan istilah self-disclosure, yakni proses pengungkapan informasi pribadi kepada orang lain, baik dalam bentuk perasaan, pendapat, hingga aspek identitas diri yang Hasil observasi dan wawancara dalam Instagram, khususnya fitur Instagram Story. Close Friends. Direct Message, digunakan secara aktif oleh mahasiswa sebagai sarana untuk melakukan selfdisclosure. Mahasiswa merasakan bahwa platform ini memberikan kemudahan dalam menyampaikan isi hati, mencurahkan stres pribadi, dan berbagi momen sehari-hari Vol. No. Tahun 2024 34 Wulan Nuvitasari. Ninik Hidayati yang dianggap bermakna. Penggunaan isu pribadi seperti kecemasan, overthinking, media sosial untuk tujuan ini sejalan burnout akademik, bahkan dinamika relasi dengan karakteristik generasi digital yang interpersonal yang tidak mungkin mereka tampilkan secara terbuka di akun utama. dunia virtual dan memanfaatkan teknologi Penggunaan sebagai perpanjangan diri. Instagram Salah signifikan dalam penelitian ini adalah emosi yang dianggap lebih aman dan privat. sarana coping mechanism atau pelampiasan Lebih Psikologi Islam IAINU Tuban memiliki second account atau akun kedua di InstagramAiterutama Instagram. Akun ini bersifat lebih tertutup second accountAidapat memberikan efek dan selektif dalam hal pengikut, biasanya hanya dibagikan kepada teman-teman perasaan didengar, mendapat empati dari dekat atau orang-orang yang dianggap teman dekat, dan meredakan beban pikiran. Hal ini mendukung pandangan Johana et al. account menjadi strategi mahasiswa dalam . bahwa self-disclosure di media membedakan konten publik dan pribadi. sosial dapat memperkuat relasi sosial serta meningkatkan perasaan terhubung dengan Penggunaan membagikan konten yang lebih "formal", orang lain, meski secara digital. estetis, dan dapat diterima oleh khalayak Namun luas, sedangkan akun kedua digunakan untuk konten yang lebih personal dan pengungkapan diri memberikan sejumlah manfaat, tidak sedikit pula mahasiswa yang Second account ini memungkinkan Instagram mengalami efek sebaliknya. Beberapa di antaranya mengungkapkan bahwa setelah emosional dan otentik diri mereka, tanpa melakukan self-disclosure, mereka merasa tekanan untuk menjaga citra seperti di cemas, khawatir dengan persepsi orang lain, akun utama. Dalam konteks psikologi, hal atau takut terhadap kemungkinan informasi ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk tersebut bocor ke publik. Risiko ini semakin safe space dalam mengungkapkan diri. besar jika akun tidak dijaga dengan baik Mahasiswa merasa lebih bebas untuk atau terdapat pengikut yang tidak cukup mencurahkan isi hati, membicarakan isu- Hal Vol. No. Tahun 2024 35 Wulan Nuvitasari. Ninik Hidayati Kristanti dapat diterima secara sosial namun tetap otentik bagi diri sendiri. Self-disclosure menjadi salah satu cara mereka merawat Eva kesehatan mental, mencari dukungan sosial, ancaman terhadap keamanan data dan dan menegosiasikan eksistensi diri dalam privasi pengguna. ruang digital yang serba cepat. Selain itu, adanya tekanan sosial Temuan ini juga memperkuat pendapat untuk tampil sempurna di media sosial Satata seringkali membuat mahasiswa merasa menyatakan bahwa media sosial telah terpolarisasi antara citra ideal yang ingin membentuk budaya baru dalam komunikasi ditampilkan dan kondisi nyata yang interpersonal, di mana batas antara ruang privat dan publik semakin kabur. Di tengah mengaku menggunakan akun utama untuk budaya validasi sosial dan tekanan untuk membentuk citra diri yang positif dan tampil eksis secara online, mahasiswa mencoba mencari keseimbangan antara digunakan untuk mengungkapkan sisi kebutuhan akan penerimaan sosial dan rapuh, emosi negatif, atau pengalaman kebutuhan untuk mengekspresikan diri secara jujur. Beberapa Perbedaan Shusantie . Dengan demikian, dapat disimpulkan identitas digital yang kompleks, di mana bahwa penggunaan Instagram, khususnya mahasiswa memainkan berbagai peran second account, telah menjadi sarana tergantung pada audiens yang mereka penting bagi mahasiswa Psikologi Islam hadapi di masing-masing akun. IAINU Tuban dalam melakukan self- Dalam perspektif keilmuan Psikologi. Mereka memanfaatkan platform fenomena ini mencerminkan dinamika ini tidak hanya sebagai media sosial biasa, antara public self dan private self, serta tetapi sebagai ruang psikologis untuk menyalurkan emosi, memperkuat relasi membangun identitas diri yang sehat. sosial, dan membentuk identitas diri yang Mahasiswa lebih kompleks. Penggunaan ini juga pemahaman lebih baik mengenai konsep mencerminkan upaya mahasiswa dalam emosi, kepribadian, dan relasi sosial, mengelola tekanan akademik dan sosial cenderung lebih sadar akan pentingnya menyalurkan perasaan melalui cara yang menunjukkan bahwa media sosial kini Psikologi. Vol. No. Tahun 2024 36 Wulan Nuvitasari. Ninik Hidayati berperan sebagai bagian dari ekosistem psikologis individu. Namun, di sisi lain, fenomena ini juga account dibandingkan kepada teman secara Praktik digital dan kesadaran akan etika bermedia Mahasiswa self-disclosure, terbatas pada audiens tertentu. Contoh pengungkapan yang sering menjaga privasi, serta risiko psikologis yang mungkin muncul jika pengungkapan kelelahan kuliah atau beban akademik. diri dilakukan secara berlebihan atau tidak Ungkapan Institusi pendidikan memiliki peran penting dalam memberikan edukasi Komentar sarkastik atau sindiran halus memanfaatkan media sosial secara sehat dan produktif dalam kehidupan seharihari. Cerita Keresahan kepada lingkungan sosial Intent (Niat dalam Mengungkapkan Dir. Peneliti Tujuan bentuk self-disclosure yang dilakukan. Instagram Story second account cenderung dengan menggunakan teori Wheeless yang menjabarkan lima dimensi utama dalam Informan menyatakan bahwa niat utama pengungkapan diri, yaitu: mereka adalah untuk "meluapkan emosi", "melegakan Amount of Disclosure (Jumlah Pengungkapan Dir. Sebagian "mencari dukungan emosional" dari teman dekat yang tergabung dalam daftar pengikut. Dalam beberapa kasus, informan juga mengungkapkan bahwa mereka cukup mengaku bahwa self-disclosure mereka sering membagikan isi hati, pemikiran, dan aktivitas sehari-hari melalui Instagram Story Hal tanggapan positif atau pesan dukungan di DM. kuantitas pengungkapan diri tergolong Namun, ada pula pengungkapan yang Bahkan, dalam beberapa kasus, dilakukan tanpa niat spesifik selain ingin Vol. No. Tahun 2024 37 Wulan Nuvitasari. Ninik Hidayati "mengekspresikan Hal menguatkan bahwa self-disclosure tingkat kedalaman yang cukup tinggi. Pengungkapan media sosial seringkali dilakukan secara spontan, tanpa perhitungan mendalam melainkan juga menyentuh aspek identitas terhadap dampaknya. diri, spiritualitas, kondisi mental, hingga Honesty/Accuracy (Kejujuran dan Ketepatan Informas. sehari-hari relasi keluarga. Pengungkapan Pengungkapan diri yang dilakukan di seperti:Rasa terhadap orang tua atau pasangan. Krisis second account cenderung jujur dan Para mahasiswi merasa bahwa akun tersebut merupakan ruang aman menunjukkan bahwa Instagram, yang memungkinkan mereka tampil tanpa khususnya second account, telah menjadi Tidak ada tekanan untuk menjaga media untuk ekspresi yang mendalam dan citra diri, seperti yang biasanya terjadi di Ini mendukung temuan Wheeless akun utama. Kejujuran ini ditandai dengan pengakuan atas perasaan negatif . edih, mengungkapkan trauma atau pengalaman pahit yang tidak pernah mereka ceritakan kepada keluarga atau teman dekat. self-disclosure Refleksi Valence (Nada Emosional dalam Pengungkapa. Valensi emosional dari konten self- Namun demikian, beberapa informan disclosure cenderung negatif. Mayoritas juga menyadari bahwa meskipun jujur, informan mengunggah hal-hal yang bersifat informasi yang dibagikan di Instagram Hal ini menunjukkan bahwa Hal dilakukan sebagai bentuk perlindungan perasaan negatif yang tidak dapat atau tidak diri dari risiko eksposur yang berlebihan. ingin diungkapkan secara langsung kepada Depth of Disclosure (Kedalaman Pengungkapa. Kedalaman orang lain. Namun, membagikan konten dengan valensi positif, diungkapkan melalui Instagram second seperti rasa syukur, pencapaian akademik, account cenderung bervariasi, namun dan kebahagiaan kecil dalam keseharian. sebagian besar informan menunjukkan Hal ini menunjukkan bahwa self-disclosure Vol. No. Tahun 2024 38 Wulan Nuvitasari. Ninik Hidayati Instagram Dengan mengacu pada lima dimensi teori Wheeless, dapat disimpulkan bahwa didominasi oleh luapan emosi yang tidak praktik self-disclosure yang dilakukan oleh tersalurkan di dunia nyata. mahasiswa Psikologi Islam IAINU Tuban Analisis Kontekstual di Instagram, khususnya melalui second account, merupakan bentuk komunikasi pendekatan Wheeless, dapat dipahami pribadi yang sangat dipengaruhi oleh bahwa self-disclosure yang dilakukan kebutuhan emosional, situasi sosial, serta mahasiswa Psikologi Islam IAINU Tuban keterbatasan ruang berbagi di dunia nyata. PsikologisDengan Instagram membangun ruang interaksi emosional interpersonal yang unik: terbuka namun yang tertutup namun ekspresif, sekaligus terseleksi, jujur namun tidak utuh, serta komunikasi dalam masyarakat digital. Penggunaan media sosial, terutama akun Platform Oleh karena itu, penting bagi institusi pendidikan dan praktisi psikologi untuk berkomunikasi tentang diri sendiri dalam memahami dinamika ini sebagai bagian dari cara yang dianggap aman, efisien, dan emosional relevan. mental mahasiswa, serta menyusun strategi Sebagai mahasiswa psikologi, mereka edukatif tentang etika bermedia sosial, juga menunjukkan kesadaran metakognitif literasi digital, dan keseimbangan antara ekspresi diri dan perlindungan privasi. Sebagian dari mereka mengakui bahwa tindakan self-disclosure di media sosial adalah bentuk coping mechanism dan HASIL Berdasarkan regulasi emosi yang mereka butuhkan di wawancara, dan dokumentasi terhadap tengah tekanan akademik dan sosial. informan, diperoleh gambaran bahwa self- Namun, mereka juga menyadari risiko disclosure melalui Instagram, khususnya dari tindakan ini, seperti kemungkinan second account, merupakan praktik yang cukup dominan di kalangan mahasiswi reputasi, dan efek psikologis jika tidak Psikologi Islam IAINU Tuban. Setidaknya mendapat respons yang diharapkan. 50% dari informan yang diteliti memiliki second account, yang digunakan sebagai Vol. No. Tahun 2024 39 Wulan Nuvitasari. Ninik Hidayati ruang pribadi dalam mengekspresikan berbagi di dunia nyata. Platform ini perasaan, keluhan, pemikiran, hingga dimanfaatkan untuk membangun ruang pengalaman yang bersifat sensitif. interaksi emosional yang tertutup namun Kesimpulan Dengan mengacu pada lima dimensi teori Wheeless, dapat disimpulkan bahwa praktik self-disclosure yang dilakukan oleh mahasiswa Psikologi Islam IAINU Tuban di Instagram, khususnya melalui dipengaruhi oleh kebutuhan emosional, situasi sosial, serta keterbatasan ruang masyarakat digital. Oleh karena itu, penting bagi institusi pendidikan dan praktisi psikologi untuk memahami dinamika ini sebagai bagian dari perkembangan identitas dan kesehatan mental mahasiswa, serta menyusun strategi edukatif tentang etika keseimbangan antara ekspresi diri dan perlindungan privasi Daftar Pustaka