Mengatasi Tantangan Strawberry Generation: Pengembangan Soft Skills dan Mentalitas Kerja Tangguh di Era Modern Suwarni . Ahmad Soleh . Wagini . Ida Ayu Made ErMeytha Gayatri . Abdurrahman Irwandi . 1,2,3,4,. Universitas Dehasen Bengkulu Email: 1 Suwarni. h13@gmail. 2 ahmadsoleh@unived. 3 wagini@unived. meythagayatri@unived. 5 Abdurrahmanirwandi@gmail. ARTICLE HISTORY Received . November 2. Revised . Januari 2. Accepted . Januari 2. KEYWORDS Strawberry Generation. Soft Skills. Mentalitas Kerja Tanggun. Generasi Muda. This is an open access article under the CCAeBY-SA license ABSTRAK Fenomena Strawberry Generation menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia, terutama pada peserta didik tingkat menengah kejuruan yang dihadapkan pada tuntutan dunia kerja modern. Generasi ini kerap digambarkan memiliki kemampuan adaptasi yang rendah, mudah menyerah, serta kurang memiliki ketangguhan mental dalam menghadapi tekanan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan soft skills dan menumbuhkan mentalitas kerja yang tangguh bagi siswa SMK Negeri 3 Bengkulu Tengah melalui pendekatan pelatihan terpadu. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, workshop interaktif, studi kasus, dan pendampingan untuk memperkuat kemampuan komunikasi, kerja sama tim, manajemen emosi, serta ketahanan diri dalam situasi kerja. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta mengenai urgensi soft skills serta perubahan positif dalam sikap dan kesiapan mereka menghadapi tantangan dunia kerja. Kegiatan ini memberikan dampak yang signifikan terhadap pembentukan karakter siswa dan diharapkan dapat menjadi model pembinaan berkelanjutan dalam menghadapi dinamika generasi muda di era modern. ABSTRACT The phenomenon of the Strawberry Generation has become a significant challenge in developing high-quality human resources, particularly among vocational high school students who must prepare for the demands of the modern workforce. This generation is often characterized by low adaptability, a tendency to give up easily, and limited mental resilience when facing pressure. This community service program aims to enhance soft skills and foster a strong work mentality among students of SMK Negeri 3 Bengkulu Tengah through an integrated training approach. The implementation methods include socialization sessions, interactive workshops, case studies, and mentoring activities designed to strengthen communication skills, teamwork, emotional management, and personal resilience in workplace situations. The results indicate an increase in participantsAo understanding of the importance of soft skills, along with positive changes in attitudes and readiness to face real-world professional challenges. This program provides a significant contribution to character development and is expected to serve as a sustainable model for empowering young generations in navigating the dynamics of the modern era. PENDAHULUAN Perkembangan era modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi, intensitas informasi yang tinggi, serta dinamika sosial-ekonomi yang semakin kompleks telah memberikan dampak signifikan terhadap karakter dan pola pikir generasi muda. Fenomena yang dikenal sebagai strawberry generationAiyakni generasi yang dinilai mudah menyerah, kurang tahan terhadap tekanan, serta memiliki tingkat ketangguhan mental yang rendahAimenjadi salah satu isu yang banyak mendapat perhatian di dunia pendidikan dan dunia kerja. Kondisi ini tidak dapat sepenuhnya disalahkan pada peserta didik, melainkan merupakan konsekuensi dari perubahan sosial dan lingkungan yang membentuk perilaku Di tengah tantangan tersebut, satuan pendidikan vokasi seperti SMK memiliki peran strategis dalam mempersiapkan peserta didik agar mampu memasuki dunia kerja dengan kompetensi yang SMK Negeri 3 Bengkulu Tengah sebagai institusi pendidikan vokasional dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang terampil secara teknis, tetapi juga memiliki soft skills yang kuat serta mentalitas kerja yang tangguh. Soft skills seperti kemampuan komunikasi, kerja sama tim, manajemen waktu, keterampilan memecahkan masalah, adaptabilitas, dan etos kerja menjadi modal utama bagi siswa untuk bersaing di dunia kerja yang semakin kompetitif. Namun, hasil observasi awal dan diskusi dengan guru di SMK Negeri 3 Bengkulu Tengah menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih menghadapi kendala dalam hal disiplin, motivasi belajar, rasa percaya diri, kemampuan mengelola tekanan, serta kepekaan sosial di lingkungan sekolah. Fenomena ini selaras dengan karakteristik strawberry generation, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kesiapan mereka dalam memasuki dunia kerja. Tantangan tersebut semakin meningkat seiring perkembangan teknologi digital yang seringkali membuat generasi muda terlalu nyaman, kurang fokus, dan tidak terbiasa menghadapi situasi sulit secara mandiri. Jurnal Dehasen Untuk Negeri. Vol. 6 No. 1 Januari 2026 page: 81 Ae 86 | 81 Melihat kondisi tersebut, diperlukan sebuah program pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada pengembangan soft skills dan mentalitas kerja tangguh bagi siswa SMK. Penguatan kedua aspek ini menjadi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama di kalangan generasi muda yang akan menjadi tulang punggung pembangunan di masa depan. Melalui kegiatan pelatihan, pendampingan, simulasi, dan pendekatan edukasi yang partisipatif, program ini berupaya membantu siswa SMK Negeri 3 Bengkulu Tengah dalam membangun karakter kuat, meningkatkan kesiapan kerja, dan meminimalkan karakteristik negatif dari strawberry generation. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam membentuk peserta didik yang lebih mandiri, tangguh, berorientasi pada penyelesaian masalah, serta memiliki soft skills yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja modern. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan vokasi dan menyiapkan generasi muda yang siap bersaing di era global. Fenomena strawberry generation di Indonesia dikaitkan dengan perubahan pola asuh, kemajuan teknologi, dan gaya hidup serba instan. Menurut Muslih . , salah satu penyebab munculnya generasi rapuh ini adalah kecenderungan orang tua memberikan kenyamanan berlebih tanpa menanamkan nilai kemandirian dan ketangguhan. Selain itu. Suryadi . menjelaskan bahwa perkembangan media digital yang cepat membuat remaja cenderung menginginkan hasil instan, kurang mampu mengelola tekanan, dan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan. Kondisi ini banyak ditemukan di sekolah menengah, termasuk SMK. Soft skills di Indonesia telah banyak dibahas oleh para pakar pendidikan. Wibowo . Menjelaskan bahwa soft skills merupakan bagian dari kompetensi perilaku yang menentukan keberhasilan seseorang di dunia kerja, terutama kemampuan komunikasi, kerja sama tim, dan manajemen diri. Dalam konteks SMK, menurut Sudira . , soft skills harus diintegrasikan dalam pembelajaran vokasional melalui praktik langsung, kegiatan kelompok, proyek, dan pembiasaan karakter. Ketangguhan kerja . ork resilienc. dapat dikembangkan melalui pembiasaan, tantangan, dan lingkungan pendidikan yang mendorong siswa untuk mandiri. Darmadi . menyatakan bahwa mentalitas tangguh pada siswa dapat dikembangkan melalui pendidikan karakter, yang meliputi latihan disiplin, pengendalian diri, dan kemampuan menyelesaikan masalah. Dalam pendidikan vokasi, perkembangan soft skills dan mentalitas kerja tangguh merupakan bagian dari pembentukan karakter Sudira . menegaskan bahwa kesiapan kerja siswa SMK ditentukan oleh pengalaman praktik, etos kerja, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi. Sekolah perlu memberikan aktivitas pembelajaran yang relevan dengan dunia kerja seperti pelatihan, magang, praktik industri, serta kegiatan pengembangan diri. Dengan demikian, intervensi pengembangan soft skills dan mentalitas kerja tangguh merupakan bagian integral dari teori kesiapan kerja. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di SMK Negeri 3 Bengkulu Tengah dengan sasaran utama yaitu siswa kelas X dan XI yang dianggap mengalami berbagai kecenderungan fenomena strawberry generation, seperti rendahnya daya juang, kurangnya kemandirian, serta lemahnya kemampuan bekerja sama dan menghadapi tekanan. Metode pelaksanaan dirancang secara komprehensif melalui pendekatan partisipatif, edukatif, dan aplikatif melalui empat tahapan utama, yaitu: tahap persiapan, pelaksanaan, evaluasi, dan pelaporan, yang bertujuan untuk meningkatkan soft skills sekaligus membentuk mentalitas kerja yang tangguh. Pelaksanaan pengabdian dilakukan melalui beberapa tahapan seperti pada gambar 1 sebagai berikut: Gambar 1. Work breakdown structure Pengabdian kepada Masyarakat 82 | Suwarni. Ahmad Soleh. Wagini. Ida Ayu Made Er Meytha Gayatri, . Mengatasi Tantangan Strawberry GenerationA. Tahap Persiapan Tahap persiapan merupakan tahap dasar yang memastikan kegiatan berjalan sistematis dan sesuai kebutuhan sekolah. Kegiatan persiapan meliputi: Koordinasi dengan pihak sekolah Tim pengabdian melakukan pertemuan dengan kepala sekolah, guru Bimbingan Konseling, dan wali kelas untuk menentukan sasaran peserta, menyusun jadwal yang tidak mengganggu kegiatan belajar, serta menyusun strategi pelaksanaan program. Penyusunan Modul dan Jadwal Kegiatan Berdasarkan hasil analisis kebutuhan, tim menyusun modul pelatihan soft skills, materi pembentukan mentalitas kerja tangguh, lembar kegiatan simulasi dunia kerja, serta instrumen evaluasi berupa pretestAeposttest dan lembar observasi. Seluruh perangkat kegiatan disiapkan agar pelaksanaan program berjalan efektif dan terarah. Tahap Pelaksanaan Tahap pelaksanaan merupakan inti kegiatan pengabdian. Pelaksanaan program terdiri atas empat bentuk kegiatan utama sebagai berikut: Pelatihan Soft Skills Materi pelatihan mencakup kemampuan komunikasi efektif, manajemen waktu, kerja sama tim, pengendalian emosi, penyelesaian masalah . roblem solvin. , serta etika kerja. Pelatihan dilakukan melalui metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, permainan edukatif, dan latihan langsung . ands-on practic. Tujuan utama tahap ini adalah meningkatkan kecakapan sosial dan kompetensi dasar siswa yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan maupun dunia kerja. Penguatan Mentalitas Kerja Tangguh Penguatan mentalitas kerja dilakukan melalui pembentukan growth mindset, peningkatan motivasi Kegiatan mencakup sesi motivasi, refleksi diri, simulasi tantangan, serta latihan teknik relaksasi untuk membantu siswa mampu mengelola tekanan dan tetap produktif. Simulasi Dunia Kerja Untuk memberikan pengalaman nyata, siswa terlibat dalam kegiatan simulasi seperti mini project berbatas waktu, role play layanan pelanggan, serta proyek kolaboratif yang meniru suasana dan tuntutan dunia kerja. Simulasi ini dirancang untuk meningkatkan kedisiplinan, ketekunan, tanggung jawab, serta kemampuan bertahan dalam situasi menantang. Pendampingan (Mentorin. Tim pengabdian melakukan pendampingan kepada siswa selama dan setelah pelatihan guna memastikan materi dapat diterapkan secara berkelanjutan. Mentoring diberikan dalam bentuk diskusi individu, bimbingan kelompok kecil, serta pemantauan terhadap siswa yang memerlukan dukungan tambahan. Tahap Evaluasi Evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas kegiatan pelatihan dalam meningkatkan soft skills dan mentalitas kerja tangguh siswa. Teknik evaluasi meliputi: Observasi Perilaku Observasi dilakukan sepanjang kegiatan untuk melihat perubahan sikap, tingkat partisipasi, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, serta kemampuan menghadapi tekanan dalam simulasi Wawancara dengan Guru Guru BK dan wali kelas memberikan informasi tambahan mengenai perbedaan perilaku siswa sebelum dan sesudah kegiatan, sehingga evaluasi lebih objektif dan komprehensif. Tahap Pelaporan dan Rekomendasi Sekolah Tahap akhir kegiatan adalah penyusunan laporan lengkap yang mencakup latar belakang, metode, pelaksanaan, hasil, pembahasan, dokumentasi, dan rekomendasi untuk pengembangan program Laporan diserahkan kepada sekolah sebagai bentuk pertanggungjawaban dan kontribusi akademik bagi peningkatan mutu pendidikan di SMK Negeri 3 Bengkulu Tengah. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Aktivitas Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema AuMengatasi Tantangan Strawberry Generation: Pengembangan Soft Skills dan Mentalitas Kerja Tangguh di Era ModernAy di SMK Negeri 3 Bengkulu Tengah menghasilkan sejumlah temuan penting terkait kondisi awal peserta sebelum Jurnal Dehasen Untuk Negeri. Vol. 6 No. 1 Januari 2026 page: 81 Ae 86 | 83 intervensi dilakukan. Temuan tersebut menggambarkan berbagai permasalahan yang secara umum berkaitan dengan aspek kesiapan diri, ketangguhan mental, serta kemampuan soft skills yang menjadi dasar pembentukan karakter dan profesionalitas siswa. Soft Skills Permasalahan pertama yang teridentifikasi adalah rendahnya kemampuan soft skills dasar, terutama dalam aspek komunikasi, kerja sama, dan manajemen waktu. Berdasarkan observasi langsung selama kegiatan berlangsung, banyak siswa menunjukkan kecenderungan pasif ketika diminta menyampaikan pendapat atau menjawab pertanyaan di forum. Kemampuan mengemukakan ide secara sistematis masih terbatas, ditandai dengan keraguan dan minimnya keberanian berbicara di depan kelompok. Pada aspek kerja sama tim, peran dalam kelompok tampak tidak terbagi secara merata, di mana sebagian besar siswa hanya mengikuti instruksi tanpa memberikan kontribusi aktif. Selain itu, kemampuan mengatur waktu dan mengelola tugas juga masih kurang optimal, terlihat dari beberapa kelompok yang belum mampu menyelesaikan simulasi kegiatan dalam batas waktu yang Mentalitas Kerja Tangguh Permasalahan kedua menyangkut Mentalitas Kerja Tangguh atau resilience. Selama rangkaian kegiatan, sejumlah siswa tampak mudah merasa tertekan ketika dihadapkan pada tugas atau kegiatan yang menuntut pemikiran kritis ataupun keberanian mengambil keputusan. Sikap mudah menyerah, kurangnya inisiatif dalam mencari solusi, serta ketidakmampuan mengelola stres merupakan pola perilaku yang sering muncul. Kondisi ini mengindikasikan bahwa mentalitas kerja yang tangguh, seperti kemampuan mengatasi tekanan, keuletan menghadapi hambatan, dan positif dalam merespons kegagalan, belum berkembang secara optimal pada sebagian besar siswa. Selanjutnya, ditemukan pula masalah terkait minimnya wawasan mengenai dunia kerja dan tuntutan kompetensi di era modern. Hasil diskusi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum memahami karakteristik dunia kerja profesional, termasuk etos kerja, budaya kerja, serta kompetensi yang dibutuhkan di industri saat ini. Berbagai perubahan di dunia kerja, terutama yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan digitalisasi, belum sepenuhnya dipahami oleh siswa. Minimnya pemahaman ini berdampak pada rendahnya kesiapan mereka dalam merencanakan masa depan serta terbatasnya pengetahuan mengenai jalur pengembangan karier. Permasalahan berikutnya berkaitan dengan rendahnya motivasi belajar dan kurangnya orientasi karier jangka panjang. Sebagian siswa mengungkapkan bahwa mereka belum memiliki tujuan konkret yang ingin dicapai setelah menyelesaikan pendidikan kejuruan. Kondisi ini tercermin dari rendahnya antusiasme terhadap beberapa kegiatan, meskipun metode pembelajaran telah dirancang interaktif. Minimnya motivasi internal menyebabkan sebagian siswa bersifat reaktif dan belum menunjukkan kesadaran diri akan pentingnya pembentukan karakter dan kompetensi sejak dini. Selain itu, muncul pula hambatan dalam pembelajaran kolaboratif, yang terlihat dari pola interaksi antaranggota kelompok selama kegiatan berlangsung. Pembagian peran yang tidak proporsional, kurangnya kemampuan menginisiasi diskusi, dan dominasi oleh satu atau dua siswa dalam kelompok menunjukkan bahwa perubahan pola komunikasi dan kolaborasi masih perlu mendapat perhatian Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa siswa menghadapi berbagai tantangan yang berkaitan dengan pengembangan soft skills, ketangguhan mental, motivasi, serta pemahaman tentang dunia kerja. Permasalahan tersebut menjadi dasar bagi perlunya intervensi edukatif yang terarah dan berkelanjutan agar siswa dapat meningkatkan kesiapan diri menghadapi perkembangan dunia kerja yang semakin dinamis. Penyelesaian Masalah Berdasarkan hasil identifikasi permasalahan yang dihadapi siswa SMK Negeri 3 Bengkulu Tengah terkait rendahnya soft skills, lemahnya ketahanan mental, kurangnya wawasan dunia kerja, serta minimnya motivasi dan orientasi karier, program pengabdian ini dirancang untuk memberikan solusi yang bersifat komprehensif, terstruktur, dan aplikatif. Penyelesaian masalah dilakukan melalui pendekatan edukatif yang menggabungkan metode pelatihan, simulasi, pembelajaran kolaboratif, dan pendampingan Solusi pertama diarahkan pada penguatan soft skills dasar melalui kegiatan pelatihan komunikasi, kerja tim, manajemen waktu, serta penyelesaian masalah. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk penyampaian materi interaktif, latihan praktik, dan permainan edukatif . yang dirancang untuk mendorong keterlibatan aktif siswa. Melalui metode ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga mengalami secara langsung bagaimana berkomunikasi efektif, berkolaborasi secara produktif, dan mengatur waktu dalam menghadapi tugas kelompok. Pendekatan ini terbukti meningkatkan 84 | Suwarni. Ahmad Soleh. Wagini. Ida Ayu Made Er Meytha Gayatri, . Mengatasi Tantangan Strawberry GenerationA. kepercayaan diri siswa dalam menyampaikan pendapat dan memperbaiki dinamika kerja sama di dalam Gambar 2. Pemaparan Materi Oleh Para Dosen Solusi kedua difokuskan pada pengembangan mentalitas kerja yang tangguh . ork resilienc. Untuk menangani sikap mudah menyerah dan rendahnya kemampuan mengelola tekanan, diberikan sesi mengenai strategi penguatan mental, termasuk teknik mengatasi stres, cara menghadapi kegagalan, dan metode membangun motivasi internal. Melalui diskusi kasus, refleksi diri, dan simulasi tantangan, siswa diajak untuk mengenali potensi diri serta memahami bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses Proses ini membantu siswa mengembangkan pola pikir bertumbuh . rowth mindse. , sikap pantang menyerah, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi sulit. Solusi ketiga berfokus pada peningkatan wawasan dunia kerja dan orientasi karier. Kegiatan ini dilakukan melalui penyampaian materi mengenai budaya kerja profesional, perubahan tuntutan kompetensi di era digital, dan strategi perencanaan karier sejak dini. Siswa juga diberikan gambaran mengenai peluang jenjang karier di berbagai bidang kejuruan, termasuk kompetensi yang harus disiapkan untuk memasuki industri. Dengan demikian, siswa memperoleh pemahaman yang lebih jelas mengenai arah karier yang ingin ditempuh serta langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk Gambar 2. Sesi Tanya Jawab Selain itu, untuk mengatasi masalah rendahnya motivasi, diterapkan pendekatan motivasional melalui sesi inspiratif yang menekankan pentingnya membangun tujuan jangka panjang, kedisiplinan, serta komitmen dalam belajar. Pendekatan ini membantu siswa memahami hubungan antara Jurnal Dehasen Untuk Negeri. Vol. 6 No. 1 Januari 2026 page: 81 Ae 86 | 85 pengembangan diri dan kesiapan memasuki dunia kerja, sehingga meningkatkan minat dan kesadaran mereka terhadap pentingnya proses pembinaan karakter. Solusi selanjutnya berkaitan dengan optimalisasi pembelajaran kolaboratif, yang dilakukan melalui tugas kelompok berbasis proyek . roject-based activit. Melalui kegiatan ini, siswa diberi kesempatan untuk mempraktikkan pembagian peran, koordinasi antaranggota, dan proses pengambilan keputusan Pendekatan ini berhasil memperkuat pemahaman siswa terhadap nilai-nilai kolaborasi serta meningkatkan kemampuan mereka dalam berinteraksi dan berkontribusi dalam lingkungan kerja tim. Secara keseluruhan, penyelesaian masalah dalam kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui pendekatan multi-metode yang saling melengkapi dan berorientasi pada perubahan perilaku. Intervensi yang diberikan mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna, memperbaiki kemampuan interpersonal siswa, meningkatkan ketangguhan mental, serta memperluas wawasan mereka mengenai dunia kerja. Dengan penyelesaian masalah yang menyeluruh ini, siswa diharapkan dapat lebih siap menghadapi tantangan di era modern dan mampu berkembang sebagai generasi muda yang tangguh, berkompeten, serta berdaya saing. KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pengabdian ini berhasil meningkatkan pemahaman dan kemampuan siswa SMK Negeri 3 Bengkulu Tengah dalam mengembangkan soft skills serta mentalitas kerja yang tangguh. Melalui pelatihan dan pendampingan, peserta menunjukkan perubahan positif dalam komunikasi, kerja sama, pengelolaan emosi, dan ketahanan menghadapi tekanan. Program ini memberikan kontribusi nyata dalam mempersiapkan siswa menghadapi tantangan dunia kerja di era modern. Saran yang diberikan pada saat melakukan pengabdian di SMK Negeri 3 Bengkulu antara lain . Sekolah perlu melanjutkan pembinaan soft skills secara berkelanjutan, . Penguatan Karakter an mentalitas Kerja sebaiknya dalam kurikulum, . Kolaborasi Dengan Dunia usaha dan industri perlu ditingkatkan untuk memberikan pengalaman nyata, . Guru dan Pembina perlu mendapatkan pelatihan pendukung agar Program lebih efektif UCAPAN TERIMA KASIH Tim Pengabdian Masyarakat Universitas dehasen Bengkulu mengucapkan terima kasih kepada bapak Kepala Sekolah SMKN 3 Seluma Bengkulu yang telah mengijinkan dan mendukung terlaksananya kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini serta seluruh pihak yang erlibat atas kontribusi, kerja sama, dan partisipasi aktif selama kegiatan berlangsung. Tanpa dukungan berbagai pihak, kegiatan pengabdian ini tidak akan terlaksana dengan baik. DAFTAR PUSTAKA