JURNAL SENTRA ABDIMAS Sinergi dan Transformasi dalam Pengabdian kepada Masyarakat PENINGKATAN KOMPETENSI GURU MELALUI PELATIHAN IMPLEMENTASI ASESMEN PEMBELAJARAN DALAM KURIKULUM MERDEKA DI MADRASAH ALIYAH AyatusaAoadah1. Yatin Mulyono2. Ridha Nirmalasari3. Dera Damayanti4 1,2,3,4 IAIN Palangka Raya Email Korespondensi: ayatussaadah@iain-palangkaraya. ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam memahami dan mengimplementasikan asesmen pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka di MA Darul Ulum Palangka Raya. Metode yang digunakan adalah pelatihan berbentuk workshop intensif selama dua hari, yang terdiri atas penguatan konsep asesmen dan praktik penyusunan instrumen secara kolaboratif. Tahapan kegiatan yaitu identifikasi kebutuhan, pelatihan, pendampingan dan refleksi. Peserta kegiatan adalah 23 orang guru MA Darul Ulum Palangka Raya. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman dan keterampilan guru, yang tercermin dari perbandingan skor pretest dan posttest serta tingkat kepuasan peserta yang tinggi terhadap materi dan metode pelatihan. Selain itu, peserta memberikan masukan mengenai pentingnya pendampingan berkelanjutan dan pengembangan modul berbasis kebutuhan lapangan. Simpulan dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan yang dilaksanakan secara sistematis dan partisipatif mampu memberikan manfaat nyata dalam mendukung penerapan Kurikulum Merdeka dan peningkatan mutu pembelajaran di madrasah. Kegiatan pelatihan yang dilakukan mendorong terciptanya budaya reflektif dan kolaboratif antar guru di madrasah dan hal ini berkontribusi positif terhadap upaya berkelanjutan dalam peningkatan mutu pembelajaran. Kata Kunci: asesmen. Kurikulum Merdeka, peningkatan kompetensi guru JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. PENDAHULUAN Standar Nasional Pendidikan menjabarkan kompetensi seorang guru yang profesional terdiri dari kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional (PP No. 57 tahun 2. Seorang guru diharapkan mampu mempertahankan keprofesionalannya melalui berbagai kegiatan pengembangan Hal tersebut dikarenakan seorang guru yang profesional menurut Suwandi . merupakan faktor penentu berhasilnya proses pembelajaran di sekolah. Terlebih lagi pada implementasi kurikulum merdeka menjadikan guru sebagai pemeran utama yang harus memiliki kecakapan dalam mengembangkan kurikulum (Putro, 2. Transformasi kurikulum pendidikan di Indonesia melalui penerapan Kurikulum Merdeka membawa semangat baru yang berfokus pada pembelajaran yang lebih fleksibel, holistik, dan berpihak pada murid. Kurikulum ini menempatkan peserta didik sebagai subjek utama dalam proses pembelajaran serta memberi keleluasaan bagi guru untuk menyesuaikan metode dan pendekatan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Namun demikian, di balik semangat progresif yang diusung, implementasi Kurikulum Merdeka menghadapi berbagai tantangan signifikan, khususnya dalam aspek asesmen pembelajaran (Arisanti, 2022. Sucipto et al. , 2024. Marlia et al. , 2. Adanya perubahan kurikulum mengakibatkan terjadinya perubahan pada proses pembelajaran secara menyeluruh dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, asesmen, dan tindak lanjut, dan perubahan yang paling signifikan pada aspek asesmen (Hermawan 2. Kurikulum merdeka lebih menekankan pada optimalisasi hasil belajar sesuai dengan kebutuhan peserta didik (Hasmawati, 2. Oleh karena itu asesmen pembelajaran dalam kurikulum merdeka sangat penting karena terkait optimalisasi hasil belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dicapai melalui asesmen pembelajaran yang bervariatif. Asesmen dalam Kurikulum Merdeka dimaknai sebagai alat ukur capaian akademik serta sebagai instrumen yang mendukung pembelajaran bermakna dan Guru dituntut untuk mampu menerapkan tiga jenis asesmen utama, yaitu asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif, yang masing-masing memiliki fungsi dan karakteristik berbeda. Namun, pada praktiknya, banyak guru masih mengalami JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. kesulitan dalam membedakan serta mengimplementasikan ketiga jenis asesmen tersebut secara tepat dan efektif. Kondisi ini juga tampak di Madrasah Aliyah (MA) Darul Ulum Palangka Raya, di mana sebagian guru mengaku masih ragu dan belum memahami teknik maupun strategi penerapan asesmen dalam konteks Kurikulum Merdeka (Muhafid & Setiawan, 2024. Gusmawan & Herman, 2. Kurangnya pemahaman ini umumnya berakar pada minimnya pelatihan teknis dan pengalaman praktis dalam menerapkan asesmen pembelajaran yang sesuai dengan semangat Kurikulum Merdeka. Dalam praktiknya, sebagian besar guru masih terjebak dalam pola penilaian tradisional yang berorientasi pada angka dan hasil akhir, tanpa mempertimbangkan proses pembelajaran dan perkembangan kompetensi peserta didik secara menyeluruh (Sartini & Mulyono, 2022. Mirawati et al. , 2. Padahal. Kurikulum Merdeka menuntut asesmen yang lebih menyeluruh dan autentik, termasuk mengamati partisipasi aktif siswa, pemahaman konsep yang berkembang, serta nilainilai karakter dan kemandirian belajar (Achmad et al. , 2. Dalam konteks ini, penguatan kompetensi guru menjadi aspek yang sangat Guru merupakan aktor utama dalam keberhasilan implementasi kurikulum. Tanpa pemahaman yang memadai mengenai asesmen dan keterampilan untuk menerapkannya secara kontekstual, sulit bagi guru untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna dan berpihak pada siswa (Jusuf & Sobari, 2. Oleh karena itu, perlu dilakukan intervensi dalam bentuk pelatihan dan pendampingan yang membekali guru dengan teori dan melatih keterampilan praktis menyusun dan melaksanakan asesmen yang selaras dengan prinsip Kurikulum Merdeka. Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam meningkatkan kompetensi guru di MA Darul Ulum Palangka Raya melalui pelatihan implementasi asesmen pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka. Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi wadah penguatan kapasitas guru dalam menyusun asesmen yang berkualitas dan pada akhirnya mendukung peningkatan mutu pembelajaran di madrasah. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru-guru di Madrasah Aliyah (MA) Darul Ulum Palangka Raya dalam merancang dan melaksanakan asesmen pembelajaran berbasis Kurikulum JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. Merdeka. Dalam konteks implementasi kurikulum yang menekankan pembelajaran berdiferensiasi dan berpusat pada peserta didik, guru memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa proses asesmen berfungsi sebagai alat evaluasi dan sebagai bagian integral dari pembelajaran itu sendiri. Oleh karena itu, pelatihan ini dirancang untuk membekali para guru dengan pemahaman konseptual dan keterampilan praktis dalam menyusun berbagai bentuk asesmen, mulai dari asesmen diagnostik yang digunakan untuk memetakan kebutuhan awal belajar siswa, asesmen formatif yang berperan dalam pemantauan proses pembelajaran, hingga asesmen sumatif yang bertujuan mengukur pencapaian akhir peserta didik. Dengan tercapainya tujuan ini, diharapkan para guru mampu menerapkan strategi asesmen yang lebih holistik, relevan, dan berpihak pada perkembangan siswa secara utuh sesuai semangat Kurikulum Merdeka METODE Kegiatan diawali dengan tahap identifikasi kebutuhan, yang dilakukan melalui pre-survey untuk memetakan tingkat pemahaman awal guru terhadap asesmen pembelajaran dan kesulitan yang mereka hadapi dalam praktik di kelas. Hasil survei ini kemudian menjadi dasar dalam perancangan modul pelatihan, yang mencakup materi teoritis dan praktis mengenai asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif, serta prinsipprinsip asesmen yang berpihak pada siswa dan sesuai dengan pendekatan diferensiasi. Selanjutnya, kegiatan memasuki tahap pelatihan, yang dilaksanakan selama dua hari dalam bentuk workshop interaktif. Metode yang digunakan mencakup ceramah singkat untuk penguatan konsep, diskusi kelompok untuk pemahaman kontekstual, simulasi kasus pembelajaran, dan praktik langsung menyusun instrumen asesmen. Dalam praktik ini, guru dilatih untuk merancang soal dan rubrik penilaian yang mengukur kompetensi secara menyeluruh, baik aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Setiap sesi difasilitasi oleh tim dosen pendamping yang memberikan umpan balik secara langsung terhadap hasil kerja peserta. Sebagai bentuk keberlanjutan, kegiatan ini juga mencakup pendampingan dan refleksi, di mana peserta diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman, tantangan, serta memperoleh bimbingan dalam menyempurnakan instrumen asesmen yang telah mereka susun. Refleksi ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman peserta dan JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. memastikan bahwa hasil pelatihan dapat langsung diterapkan dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Untuk mengetahui efektivitas kegiatan, dilakukan evaluasi melalui dua instrumen utama. Pertama, pretest dan posttest diberikan kepada peserta untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan mereka terkait asesmen Kedua, kuesioner kepuasan dan efektivitas pelatihan disebarkan guna mengetahui tanggapan peserta terhadap aspek materi, penyampaian, dan fasilitasi Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta serta tanggapan positif terhadap pendekatan pelatihan yang Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan kompetensi guru-guru MA Darul Ulum dalam merancang dan melaksanakan asesmen pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka dapat meningkat secara nyata, sehingga berdampak langsung pada kualitas pembelajaran yang mereka laksanakan di kelas. Peserta kegiatan ini terdiri atas 23 orang guru yang merupakan tenaga pendidik dari berbagai mata pelajaran di lingkungan MA Darul Ulum, termasuk guru-guru bidang IPA. IPS. Bahasa, dan Keagamaan. Mayoritas dari mereka memiliki pengalaman mengajar lebih dari lima tahun, namun belum seluruhnya memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menyusun asesmen pembelajaran sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu, kegiatan ini dirancang secara menyeluruh agar dapat menjawab tantangan tersebut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah (MA) Darul Ulum Palangka Raya, yang berlokasi di Kalimantan Tengah, pada bulan Agustus 2024. Kegiatan ini dirancang sebagai respons terhadap kebutuhan peningkatan kompetensi guru dalam merancang dan melaksanakan asesmen pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka. Pelatihan ini menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk turut serta dalam mendukung implementasi kurikulum nasional yang menekankan pembelajaran berdiferensiasi dan berpusat pada siswa. HASIL Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh tim dosen dari Program Studi Tadris Biologi IAIN Palangka Raya berjalan secara sistematis dan sesuai JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. dengan tahapan yang telah dirancang sebelumnya. Setiap tahapan dilaksanakan dengan penuh koordinasi dan keterlibatan aktif dari semua pihak, sehingga menghasilkan capaian yang menggembirakan. Berikut ini adalah uraian rinci mengenai capaian pada tahap perencanaan yang menjadi fondasi keberhasilan keseluruhan kegiatan. Pada tahap perencanaan, tim pengabdian terlebih dahulu melakukan koordinasi internal untuk menentukan arah strategis kegiatan, termasuk pemilihan lokasi pelaksanaan, identifikasi kebutuhan, serta pembagian tugas di antara anggota tim. Koordinasi ini menjadi penting mengingat keberhasilan program sangat ditentukan oleh kejelasan peran dan kesiapan materi yang akan disampaikan. Setelah tahapan internal tersusun dengan matang, dilanjutkan dengan koordinasi eksternal bersama pihak MA Darul Ulum Palangka Raya. Dalam pertemuan tersebut, dibahas berbagai aspek penting, mulai dari kebutuhan aktual guru di lapangan hingga kesiapan teknis sekolah sebagai tuan rumah kegiatan. Dari hasil diskusi tersebut, ditemukan bahwa sebagian besar guru mata pelajaran Darul Ulum mengimplementasikan asesmen berbasis Kurikulum Merdeka. Permasalahan tersebut mencakup aspek konseptual serta menyentuh sisi teknis dalam penyusunan instrumen asesmen yang valid dan sesuai dengan karakteristik pembelajaran berdiferensiasi. Temuan ini memperkuat urgensi pelaksanaan pelatihan dan mendorong tim pengabdian untuk menyesuaikan materi dengan kebutuhan nyata guru. Melalui musyawarah yang bersifat partisipatif, disepakati bahwa pelaksanaan kegiatan akan berbentuk workshop intensif selama dua hari, yaitu pada tanggal 13 dan 14 Agustus 2024. Hari pertama difokuskan pada penguatan konsep tentang asesmen dalam Kurikulum Merdeka, termasuk pemahaman tentang jenis-jenis asesmen dan prinsip penilaiannya. Sementara itu, hari kedua dikhususkan untuk praktik penyusunan instrumen asesmen, di mana peserta dilibatkan secara aktif dalam mendesain butir soal, rubrik penilaian, dan format pelaporan asesmen yang relevan dengan konteks pembelajaran di madrasah. Setelah penetapan jadwal dan konten pelatihan, tim pengabdian kembali melakukan koordinasi internal guna mempersiapkan semua kebutuhan teknis kegiatan, mulai dari penyusunan modul pelatihan, perangkat presentasi, lembar kerja peserta, hingga alat evaluasi. Persiapan ini dilakukan dengan mengedepankan prinsip JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. kolaboratif, agar pelatihan yang akan diberikan benar-benar kontekstual, aplikatif, dan berdampak pada peningkatan kompetensi guru dalam praktik asesmen berbasis Kurikulum Merdeka. Dengan persiapan yang matang pada tahap perencanaan ini, kegiatan pengabdian dilaksanakan sesuai jadwal serta mampu menjawab kebutuhan peserta secara nyata, menciptakan suasana pelatihan yang interaktif dan produktif. Tahapan ini sekaligus menjadi tonggak penting dalam memastikan keberlangsungan program pendampingan dan peningkatan mutu pendidikan di lingkungan MA Darul Ulum Palangka Raya. Tahap pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah disusun dalam tahap perencanaan. Workshop berlangsung selama dua hari di MA Darul Ulum Palangka Raya, tepatnya pada tanggal 13 dan 14 Agustus 2024, dengan melibatkan seluruh guru mata pelajaran sebagai peserta aktif. Pada hari pertama, kegiatan difokuskan pada penyampaian materi tentang asesmen dalam Kurikulum Merdeka melalui metode ceramah interaktif yang dipadukan dengan sesi tanya jawab. Dalam sesi ini, para peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai konsep dasar asesmen formatif dan sumatif, prinsip penilaian autentik, serta keterkaitannya dengan diferensiasi pembelajaran yang menjadi inti Kurikulum Merdeka. Suasana pelatihan berlangsung dinamis. peserta terlihat antusias dalam mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman, serta mendiskusikan tantangan yang mereka hadapi di kelas masing-masing. Memasuki hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan praktikum dan diskusi kelompok yang difokuskan pada penyusunan instrumen asesmen, seperti lembar observasi, rubrik penilaian proyek, dan soal-soal asesmen diagnostik. Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan bidang mata pelajaran, dan masing-masing kelompok didampingi oleh fasilitator dari tim pengabdian. Dalam proses ini, para guru menyusun instrumen serta diajak untuk merefleksikan kesesuaian antara tujuan pembelajaran, aktivitas pembelajaran, dan teknik asesmen yang mereka rancang. Diskusi-diskusi produktif muncul dari perbedaan pendekatan antar kelompok, yang pada akhirnya memperkaya pemahaman peserta terhadap keberagaman strategi asesmen yang bisa diterapkan secara kontekstual di madrasah mereka. Selama dua hari pelaksanaan, kegiatan workshop berjalan dengan lancar, partisipatif, dan penuh semangat kolaboratif. Indikator keberhasilan dapat dilihat dari JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. beberapa capaian penting. Pertama, tingkat kehadiran peserta mencapai 100%, menunjukkan komitmen dan keseriusan guru dalam mengikuti pelatihan. Kedua, partisipasi aktif dalam sesi diskusi dan praktik penyusunan instrumen mencerminkan keterlibatan yang tinggi dari peserta. Ketiga, hasil pretest dan posttest menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konseptual dan keterampilan praktis guru dalam merancang asesmen pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka. Selain itu, hasil kuesioner evaluasi menunjukkan bahwa 91% peserta menyatakan sangat puas dengan metode pelatihan, penyampaian materi, serta relevansi topik dengan kebutuhan mereka di kelas. Capaian-capaian ini menjadi bukti bahwa pelaksanaan kegiatan sukses secara teknis maupun memberikan dampak nyata dalam peningkatan kompetensi profesional guru di MA Darul Ulum Palangka Raya. Evaluasi dilakukan melalui berbagai instrumen yang telah dirancang sejak awal, yaitu pretest dan posttest kompetensi guru serta kuesioner kepuasan peserta terhadap pelatihan yang telah dijalankan. Pretest dilakukan sebelum pelatihan dimulai untuk mengukur tingkat pemahaman awal guru mengenai asesmen dalam Kurikulum Merdeka, sedangkan posttest dilaksanakan setelah seluruh rangkaian workshop selesai sebagai alat ukur peningkatan kompetensi guru. Analisis hasil pretest dan posttest menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman dan keterampilan guru dalam menyusun dan melaksanakan asesmen pembelajaran. Rata-rata skor posttest meningkat secara substansial dibandingkan pretest, menandakan bahwa materi yang disampaikan selama pelatihan berhasil menyerap dan dapat diaplikasikan oleh para Selain itu, kuesioner kepuasan yang dibagikan kepada seluruh peserta memberikan gambaran menyeluruh tentang bagaimana mereka menilai kualitas pelatihan, mulai dari relevansi materi, metode penyampaian, hingga fasilitas pendukung selama kegiatan berlangsung. Evaluasi juga dilakukan secara kualitatif melalui refleksi bersama antara tim pengabdian dan pihak sekolah, di mana guru-guru mengungkapkan tantangan dan kebutuhan mereka terkait asesmen dalam Kurikulum Merdeka. Refleksi ini menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan kegiatan pendampingan dan pelatihan lanjutan, guna memastikan transfer pengetahuan dan keterampilan yang optimal. Dengan demikian, tahap evaluasi menjadi alat pengukur keberhasilan kegiatan dan menjadi dasar bagi perbaikan dan pengembangan program pengabdian di masa JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. mendatang, serta memperkuat komitmen semua pihak dalam meningkatkan kualitas pendidikan di MA Darul Ulum Palangka Raya secara berkelanjutan. PEMBAHASAN Analisis ketercapaian tujuan menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi PMB UNISS di Kawasan Industri Kendal telah mencapai sasaran awal secara efektif yang dilakukan dengan metode komunikasi interpersonal. Dari total 50 brosur yang dibagikan, sekitar 35 orang pekerja diajak berinteraksi langsung oleh tim pengabdi, dan 20 di antaranya . %) menunjukkan ketertarikan nyata, yang terlihat dari keaktifan mereka dalam bertanya mengenai kelas karyawan, skema pembiayaan, dan alur Bahkan, terdapat dua pekerja yang menghubungi kontak resmi kampus setelah kegiatan berlangsung untuk mendapatkan informasi lanjutan. Capaian ini mencerminkan bahwa pendekatan lapangan secara langsung mampu membangun kesadaran awal dan membuka akses informasi bagi segmen pekerja industri. Faktor pendukung keberhasilan kegiatan meliputi pendekatan komunikatif yang dilakukan secara interpersonal, pemilihan lokasi strategis . rea warung, parkir, gerbang pabri. , serta keterlibatan aktif tim pengabdi dalam menjelaskan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami. Hal ini membuat kegiatan berjalan efektif meskipun tanpa forum resmi. Namun, keterbatasan waktu, intensitas kerja masyarakat, serta kurangnya ruang publik yang memadai menjadi kendala dalam membangun dialog lebih mendalam. Strategi yang digunakan adalah menyampaikan informasi secara ringkas, menyertakan kontak kampus di brosur, dan memanfaatkan momen saat istirahat atau setelah jam kerja. Dalam jangka pendek, kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan literasi pendidikan tinggi di kalangan pekerja, yang sebelumnya tidak mengenal UNISS maupun program kelas malam. Capaian ini sejalan dengan tujuan awal kegiatan: meningkatkan kesadaran dan membuka akses pendidikan bagi masyarakat industri. Dalam jangka panjang, kegiatan ini berpotensi mendorong peningkatan partisipasi pendidikan tinggi di lingkungan pekerja serta memperkuat kemitraan antara UNISS dan dunia industri. Dibandingkan dengan pendekatan promosi digital atau seminar formal, metode komunikasi interpersonal terbukti lebih adaptif dan relevan dengan karakteristik JURNAL SENTRA ABDIMAS, 2025: 1. masyarakat industri. Tidak semua pekerja memiliki akses terhadap media sosial kampus atau situs resmi. pendekatan langsung memungkinkan mereka menerima informasi yang sesuai konteks dan disampaikan secara humanis. Hal ini mempertegas bahwa komunikasi tatap muka tetap relevan dan bahkan penting dalam konteks sosialisasi pendidikan kepada segmen masyarakat yang kurang terjangkau teknologi informasi. Potensi pengembangan kegiatan ini masih sangat besar. Sosialisasi serupa dapat diperluas ke kawasan industri lain di Kendal dan sekitarnya. Selain itu, peluang kerja sama formal dengan perusahaan dalam bentuk dukungan beasiswa internal, izin sosialisasi berkala, atau sinergi dengan program CSR (Corporate Social Responsibilit. dapat memperkuat dampak kegiatan. Dari sisi teknis, materi sosialisasi juga bisa dikembangkan dalam bentuk digital seperti video pendek. QR code pendaftaran, atau layanan WhatsApp otomatis, sehingga memperluas jangkauan informasi dan mempermudah tindak lanjut oleh calon mahasiswa. Dengan strategi yang tepat, kegiatan pengabdian semacam ini tidak hanya memperkuat citra UNISS sebagai institusi pendidikan yang peduli terhadap masyarakat, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia industri secara berkelanjutan. SIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pelatihan asesmen Kurikulum Merdeka telah memberikan manfaat yang nyata bagi peningkatan kompetensi profesional guru, khususnya dalam merancang dan mengimplementasikan instrumen asesmen yang relevan dan kontekstual. Para peserta merasakan adanya peningkatan pemahaman konseptual serta keterampilan praktis dalam menyusun asesmen formatif dan sumatif. Di samping itu, kegiatan ini turut mendorong terciptanya budaya reflektif dan kolaboratif di lingkungan madrasah, yang berkontribusi positif terhadap upaya berkelanjutan dalam peningkatan mutu pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA