Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 GAMBARAN KEBERADAAN DAN IDENTIFIKASI JENTIK NYAMUK Aedes sp DI SEKOLAH DASAR NEGERI KECAMATAN CIBEUREUM KOTA TASIKMALAYA DESCRIPTION OF THE EXISTENCE AND IDENTIFICATION OF Aedes sp MOSQUITO LARVAE IN STATE ELEMENTARY SCHOOL IN CIBEUREUM DISTRICT. TASIKMALAYA CITY Putri Restu Tirana. Listia Elsa Masofa. Dewi Peti Virgianti*. Rochmanah Suhartati. Khusnul Program Studi D-i Teknologi Laboratorium Medik. Universitas Bakti Tunas Husada Jl. Letjen Mashudi No. 20 Kota Tasikmalaya *e-mail korespondensi: dewipeti@universitas-bth. ABSTRAK Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan yang banyak terjadi di Indonesia, termasuk di lingkungan sekolah. Salah satu penyebabnya adalah keberadaan jentik nyamuk Aedes sp yang berkembang di tempat penampungan air (TPA) di lingkungan sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan jentik nyamuk, menghitung tingkat kepadatannya melalui HI. CI. BI, dan DF, serta mengetahui nilai Angka Bebas Jentik (ABJ) di sekolah dasar negeri wilayah Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif metode visual di 17 sekolah dasar. Hasil menunjukkan bahwa 15 sekolah . ,24%) ditemukan positif jentik dan 2 sekolah . ,76%) negatif. Dari total 341 TPA yang diperiksa, sebanyak 37 TPA dinyatakan positif. Nilai HI sebesar 88,23%. CI 10,85%. BI 217,64%. ABJ 11,76%, dan DF sebesar 7,3 maka keberadaan jentik nyamuk menunjukkan tingkat kepadatan tinggi. Jenis jentik yang ditemukan meliputi Aedes aegypti sebanyak 287 ekor . ,30%). Aedes albopictus sebanyak 46 ekor . ,03%), dan Culex sp sebanyak 20 ekor . ,66%). TPA yang paling banyak ditemukan dalam kondisi positif yaitu ember WC dan dispenser. Kata Kunci: Sekolah dasar negeri. Tempat penampungan air. Aedes sp, culex sp. ABSTRACT Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a common health problem in Indonesia, including in school environments. One of the causes is the presence of Aedes sp mosquito larvae that develop in water reservoirs (TPA) in elementary schools. This study aims to determine the presence of mosquito larvae, calculate their density levels through HI. CI. BI, and DF, and determine the value of Larvae Free Rate (ABJ) in public elementary schools in the Cibeureum District of Tasikmalaya City. This study is a descriptive study using visual methods in 17 elementary schools. The results showed that 15 schools . 24%) were found to be positive for larvae and 2 schools . 76%) were negative. Of the total 341 TPA examined, 37 TPA were declared positive. The HI value was 88. CI 10. BI 217. ABJ 11. 76%, and DF of 7. 3, indicating a high level of mosquito larvae density. The types of larvae found included 287 Aedes aegypti . 30%), 46 Aedes albopictus . 03%), and 20 Culex sp . 66%). The landfills most frequently found in positive condition were toilet buckets and dispensers. Keywords: Public elementary school. Water reservoir. Aedes sp. Culex sp. Diterima: 30 Agustus 2025 Direview: 30 Agustus 2025 Diterbitkan: 31 Agustus 2025 Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 PENDAHULUAN Demam berdarah dengue atau DBD adalah penyakit yang disebarkan oleh vektor yang membawa virus dengue, yang dapat menyebar melalui gigitan dan serangan di semua tingkatan. Rentang usianya mulai dari bayi hingga lansia. Vektor pembawa virus, demam berdarah terutama disebabkan oleh nyamuk jenis Aedes aegypti dan Aedes albopictus (Ismail, 2. Menurut laporan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, di Indonesia tercatat 210. kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan 1. 239 kematian hingga minggu ke-43 tahun 2024. Jawa Barat memiliki kasus DBD tertinggi, 36. 608 pada tahun 2022, menurut data Kementerian Kesehatan. Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di kota Tasikmalaya mencapai 1. 652 dari Januari hingga November 2024, dan 5 di antaranya bahkan meninggal dunia (Nugraha, 2. Berdasarkan data dari website Sistem Informasi Demam Berdarah Dengue (SIDBD) Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya tahun 2024, tercatat Kecamatan Cibeureum sebagai wilayah dengan kasus DBD tertinggi kedua di Kota Tasikmalaya. Sedangkan berdasarkan data Puskesmas Kota Tasikmalaya Puskesmas Cibeureum dengan kasus DBD tertinggi pertama. Data survei yang dilakukan oleh peneliti dari Puskesmas Kecamatan Cibeureum menunjukkan terdapat 60 kasus DBD, dengan jumlah kasus terbanyak pada anak usia 5 - 9 tahun, sebanyak 18 kasus dan pada kelompok usia 10-18 tahun tercatat 17 kasus. Penyakit DBD paling sering terjadi pada anak-anak usia 5Ae14 tahun dan anak-anak usia Anak-anak usia sekolah mulai pergi ke sekolah pukul 07:00 WIB. Nyamuk Aedes aegypti menyukai objek berwarna hitam atau merah dan suka tinggal di tempat gelap. Biasanya ditemukan di bawah meja, bangku, kamar gelap, atau di balik baju yang digantung lama. Nyamuk Aedes aegypti menggigit pada siang hari dari pukul 09. 00 hingga 10. 00 WIB dan sore hari dari pukul 16. 00 hingga 00 WIB. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di tempat yang sering digunakan untuk menampung air, seperti bak mandi, toilet, botol, kaleng bekas, plastik, dan barang lain yang dibuang sembarangan (Atikasari & Sulistyorini, 2. Penelitian mengenai survei jentik telah dilakukan di beberapa sekolah. Penelitian Alim et al. di Sekolah Dasar Kecamatan Banjarbaru Utara dengan total sebanyak 23 sekolah. Ditemukan jentik nyamuk Aedes aegypti positif pada 116 TPA . %) TPA yang paling banyak ditemukan jentik adalah bak mandi dan dispenser. Penelitian lain (Astuti & Lustiyati, 2. , di Sekolah Dasar wilayah kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul dilakukan sebanyak 30, dengan total sampel 412 TPA. Yang positif larva Aedes sp sebanyak 104 . ,24%) TPA. Pada penelitian Safitri et al. , . yang dilakukan di 12 Sekolah Dasar wilayah kerja Puskesmas Temindung, dengan total sampel 55 TPA, hasil menunjukkan ditemukan positif jentik nyamuk sebanyak pada 6 . %) TPA, dari 12 sekolah 5 yang positif jentik nyamuk Jentik Aedes Penelitian mengenai survei jentik nyamuk telah banyak dilakukan di berbagai wilayah, termasuk di lingkungan sekolah dasar. Namun demikian, hingga saat ini belum tersedia informasi yang spesifik mengenai distribusi spasial, jenis kontainer dominan, serta komposisi spesies vektor di lingkungan sekolah dasar negeri Kota Tasikmalaya. Padahal, wilayah ini tergolong daerah dengan endemisitas tinggi sehingga data tersebut sangat diperlukan sebagai dasar dalam upaya pengendalian vektor secara tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan dan jenis jentik nyamuk Aedes sp, menghitung indeks kepadatan vektor (HI. CI. BI. DF), serta menentukan Angka Bebas Jentik (ABJ) di sekolah dasar negeri wilayah Kecamatan Cibeureum. Kota Tasikmalaya. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menilai serta memberikan gambaran mengenai tingkat kepadatan jentik Aedes sp, dengan menggunakan metode visual dan single Penelitian ini dilakukan pada 17 sekolah dasar negeri di wilayah Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya dan Laboratorium Universitas Bakti Tunas Husada, dimulai pada 02 Mei - 21 Mei 2025. Populasi penelitian ini semua sekolah dasar negeri di wilayah Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya. Sampel berupa TPA dari 17 sekolah dasar negeri di wilayah Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara total sampling pada kontainer air. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 ALAT DAN BAHAN Bahan yang dibutuhkan yaitu sampel larva nyamuk, label, dan alkohol 70%, sedangkan alat yang digunakan dalam penelitian ini, senter, pulpen, lembar observasi, lembar kesediaan responden, cidukan, plastik 15x23, mikroskop cx-23, cawan petri, objek glass cekung, cover glass, pipet tetes plastik dan pinset. Prosedur penelitian ini terdiri dari: Diperiksa semua tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang jentik nyamuk, seperti bak mandi, toilet (WC), tempayan, kaleng bekas, vas bunga, tatakan pot, dispenser, drum, dan wadah lainnya. Kemudian diamati dengan teliti ada jentik nyamuk di dalam wadah. Jika sulit terlihat karena wadah terlalu dalam atau gelap, gunakan senter untuk memastikan tidak ada jentik yang terlewat. Dicatat hasil pemeriksaan pada lembar pemantauan jentik. Tulislah jumlah total tempat penampungan air yang diperiksa serta berapa yang positif mengandung jentik. Diambil sampel jentik dari setiap kontainer yang positif, kemudian dimasukkan ke dalam plastic yang diberisi air dan dilabeli. Dikumpulkan dan dibawa jentik nyamuk ke Laboratorium Parasitologi Universitas Bakti Tunas Husada Tasikmalaya. Diamati larva menggunakan mikroskop olympus cx-23 untuk melihat morfologi pada larva meliputi bagian kepala, thorax, abdomen, dan siphon. Kemudian dihitung kepadatan jentik nyamuk menggunakan perhitungan kepadatan populasi jentik Aedes sp (HI. CI, dan BI. DF, dan ABJ). ANALISIS DATA Pengolahan data yang dilakukan dengan cara mengisi lembar pengamatan yang telah diisi dan perhitungan kepadatan populasi jentik Aedes sp (HI. CI, dan BI. ABJ) dengan rumus (Sagala, 2. dan berikut perhitungannya: Perhitungan House Index (HI) HI = ycycycoycoycaEa ycycycoycaEa ycycaycuyci ycyycuycycnycycnyce ycyceycuycycnyco x 100% ycycycoycoycaEa ycycycoycaEa ycycaycuyci yccycnycyyceycycnycoycyca Perhitungan Container Index (CI) CI= yaycycoycoycaEa ycoycuycuycycaycnycuyceyc ycycaycuyci ycyycuycycnycycnyce ycyceycuycycnyco yaycycoycoycaEa ycoycuycuycycaycnycuyceyc ycycaycuyci yccycn ycyyceycycnycoycyca Perhitungan Breteau Index (BI) BI = yaycycoycoycaEa ycoycuycuycycaycnycuyceyc ycycaycuyci ycyycuycycnycycnyce ycyceycuycycnyco x 100% yaycycoycoycaEa ycycycoycaEa ycycaycuyci yccycnycyyceycycnycoycyca Perhitungan Angka Bebas Jentik (ABJ) ABJ = yaycycoycoycaEa ycycycoycaEa ycuyceyciycaycycnyce ycyceycuycycnyco x 100% yaycycoycoycaEa ycycycoycaEa ycycaycuyci yccycnycyyceycycnycoycyca Perhitungan Density Figure (DF) DF = yaya yaya yaAya Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Keberadaan Jentik nyamuk Jumlah Sekolah Positif dan Negatif Jentik Aedes sp jumlah sekolah 88,24% 11,76% sekolah yang negatif sekolah yang positif sekolah yang sekolah yang Observasi Gambar SEQ Gambar \* ARABIC 1. Diagram Jumlah dan persen sekolah positif dan negatif Gambar 1 menyajikan data jumlah persen sekolah yang ditemukan jentik nyamuk. Sebanyak 15 sekolah . ,24%) teridentifikasi positif jentik nyamuk Aedes sp, sedangkan 2 sekolah . ,76%) dinyatakan negatif atau tidak ditemukan jentik nyamuk Aedes sp di lingkungan sekolah. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan dari 341 TPA yang diperiksa ditemukan 37 TPA yang positif jentik nyamuk. Adapun persentase dan jumlah TPA yang positif dari total TPA yang positif dapat di lihat (Gambar . Data Jumlah TPA Positif 22,34% Bak Mandi 28,57% 2,56% Ember WC 12,96% 16,66% 1,86% 14,28% Ember Dispenser Botol Bekas Toilet Genangan Air a Gambar 2. menyajikan rekapitulasi jumlah TPA yang positif per jenis TPA di 17 sekolah dasar Ember WC merupakan TPA dengan jumlah terbanyak positif jentik nyamuk, dari total 94 ember WCmyang diperiksa, 21 . ,34%) ember WC yang positif. Temuan ini tersebar di 10 sekolah yaitu KS2. AW1, b AW2. KS3. CK. CB. KB. KN2. SR. SL2. Pihak sekolah mengaku telah melaksanakan pengurasan seminggu sekali atau dilaksanakan pada hari Sabtu, namun ada beberapa ember WC yang a dikuras sehingga air tergenang selama >14 hari. Sejalan dengan penelitian Saleh et al. r menguras tempat penampungan air minimal dilaksanakan seminggu sekali agar dapat mengurangi tempat perkembangbiakan larva Aedes sp karena siklus hidup larva Aedes sp selama 6-8 E Alasan lain keadaan ember WC yang digunakan jarang menggunakan penutup. Sejalan dengan penelitian Fitria, . tidak memberikan penutup yang rapat pada penampungan air, sehingga wadah menjadi faktor risiko nyamuk senang berada pada penampungan air tersebut. TPA dispenser juga menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk terbanyak kedua, dari 54 dispenser yang diperiksa terdapat 7 dispenser . ,96%) yang positif. Pada kode sekolah KS1. CB. KN2. KB. aHal ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran dari siswa dan guru bahwa di dispenser juga terdapat air yang dapat menjadi media perkembangbiakan jentik nyamuk, sejalan dengan Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 penelitian (Faridah et al. , 2. menyebutkan bahwa dispenser juga sering ditemukan positif jentik nyamuk sebanyak 25 lokasi . %). TPA ember, botol bekas, dan genangan air yang berada di luar ruangan ditemukan positif jentik. Ember yang di luar ruangan dapat menampung air hujan dan menjadi tempat berkembangbiak nyamuk. Selain itu, botol bekas yang di simpan di luar menjadi bisa menampung air sehingga menjadi tempat perkembangbiak nyamuk. Hal yang sama juga terjadi pada hiasan kolam yang airnya tidak mengalir dapat berpotensi menimbulkan genangan yang disukai nyamuk. Ini sejalan dengan penelitian Sutrisna & Wulandari, . keberadaan tempat penampungan air di dalam maupun luar rumah sangat berpengaruh terhadap tempat perkembangbiakan nyamuk yang akan menjadi vektor DBD. Kepadatan Jentik Nyamuk Aedes sp Jumlah Kepadatan Larva Nyamuk 217,64 Presentase HI (%) CI(%) 88,23 11,76 10,85 HI (%) CI(%) BI(%) BI(%) ABJ(%) ABJ(%) Data yang disajikan pada gambar 3 merupakan data kepadatan jentik nyamuk dari 17 sekolah dasar negeri di Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya. Parameter kepadatan jentik nyamuk yang dihitung terdiri dari,House Index (HI). Container Index (CI). Breteau Index (BI), dan nilai Angka Bebas Jentik (ABJ). Menurut Permenkes RI No. 50 Tahun 2017, nilai ABJ di bawah 95% menandakan kondisi tidak bebas jentik, sehingga wilayah tersebut tergolong rawan transmisi DBD, serta dapat ditentukan kategori kepadatan jentik mengacu pada nilai Density figure. Adapun uraian HI. CI. BI, dan ABJ dari 17 sekolah dasar negeri sebagai berikut. House Index (HI) House Index (HI) adalah jumlah sekolah positif jentik nyamuk per seluruh sekolah yang diperiksa, dari data gambar 3 didapatkan HI 88,23%. Container Index (CI) Container Index (CI) adalah jumlah kontainer positif jentik nyamuk per jumlah kontainer yang diperiksa, dari data gambar 3 hasil perhitungan CI 10,85%. Breteau Index (BI) Breteau Index (BI) adalah jumlah kontainer positif jentik nyamuk per jumlah sekolah yang diperiksa, dari data gambar 3 hasil perhitungan BI 217,64%. Angka Bebas Jentik (ABJ) ABJ adalah jumlah sekolah yang negatif per jumlah sekolah yang diperiksa. Dari data gambar 3 hasil perhitungan ABJ 11,76% menunjukkan tidak bebas jentik. Karena ABJ dapat dikatakan baik jika nilai tersebut melebihi standar 95% dari total sekolah yang diperiksa (Permenkes, 2. Density Figure (DF) Density Figure (DF) adalah nilai kepadatan jentik Aedes sp yang merupakan gabungan dari HI. CI. BI yang dinyatakan dengan skala 1-9. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Tabel 1. Kepadatan Populasi Larva Nyamuk (Density Figur. Kriteria Kepadatan Rendah Sedang Density figure (DF) Tinggi House Index (HI) >77 Container index (CI) >41 Breteau index (BI) >200 (WHO 1973 dalam Lesmana & Halim, 2. Keterangan Tabel: DF= 1 = kepadatan rendah DF= 2-5 = kepadatan sedang DF= 6-9 = kepadatan tinggi Dari hasil perhitungan didapatkan dari gabungan HI. CI. BI maka tingkat kepadatan jentik nyamuk diperoleh: House Index (HI) sebesar 88,23% pada posisi DF 9. Container Index (CI) sebesar 10,85% pada posisi DF 4. Breteau Index (BI) sebesar 217,64% pada posisi DF 9. yaya yaya yaAya Rumus = DF = 9 4 9 = 7. Sehingga dari nilai-nilai tersebut didapatkan nilai Density Figure (DF) adalah 7,3. Hal ini berarti Sekolah Dasar Negeri kecamatan Cibeureum termasuk kategori kepadatan tinggi. Sejalan dengan penelitian (Astuti & Lustiyati, 2. bahwa nilai Density Figure (DF) diperoleh 9 artinya kepadatan jentik nyamuk di sekolah dasar wilayah Kecamatan Kasihan. Kabupaten Bantul tergolong tinggi. Tingginya nilai Density Figure (DF) yang menunjukkan kepadatan jentik nyamuk Aedes sp di lingkungan sekolah dasar di Kecamatan Cibeureum disebabkan karena lokasi sekolah berada di wilayah rawan nyamuk, seperti di perkebunan dan persawahan. Selain itu ada berbagai faktor yang saling Salah satu penyebab utamanya adalah belum optimalnya pelaksanaan program 3M . enguras, menutup, dan memanfaatkan kembali barang beka. jumlah larva Jenis dan Jumlah Keberadaan Jentik nyamuk Aedes sp 287 ekor 81,30% Jumlah keberadaan larva Aedes aegypti 46 ekor 13,03% Aedes aegypti Aedes albopictus 20 ekor 5,66% Aedes albopictus Culex sp Culex sp jenis larva Gambar 4. Diagram Persentase Jenis Larva dari Total Larva yang ditemukan di sekolah Gambar 4 menunjukkan jenis larva nyamuk yang ditemukan adalah Aedes aegypti sebanyak 287 ekor . ,30%). Aedes albopictus ditemukan sebanyak 46 ekor . ,03%), dan Culex sp sebanyak 20 ekor . ,66%). Spesies Aedes aegypti memang sering ditemukan khususnya di air bersih yang tidak Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 tertutup seperti ember dan dispenser. Selain itu, lingkungan sekolah yang lembab, kurangnya jaring pada ventilasi, serta penyikatan yang kurang bersih sehingga telur nyamuk bisa menempel kuat pada dinding wadah menurut Gunara et al. , . dan ukuran telur nyamuk yang kecil sehingga tidak Temuan ini juga sesuai dengan pendapat Washliyah et al. , . yang menyatakan bahwa nyamuk Aedes aegypti menyukai tempat air bersih yang berada di dalam ruangan seperti ember plastik dan bak mandi. Spesies Aedes albopictus juga ditemukan pada ember, ember WC dan dispenser berada di dalam ruangan. Tempat penampungan air ember ditemukan di luar ruangan dalam kondisi terbuka dan tergenang air, hal ini sesuai dengan karakter nyamuk tersebut dan sejalan dengan penelitian (Widyarati, 2. yang menyatakan bahwa larva Aedes albopictus umumnya berkembang di lingkungan kebun, bambu, dan tempat alami yang terbuka. Jenis larva ini juga dapat beradaptasi di TPA yang berada dalam ruangan karena pada saat survei lingkungan sekolah dekat dengan perkebunan serta tidak ada penutup ventilasi sehingga nyamuk jenis lain bisa masuk ke dalam ruangan. Selain ditemukan larva Aedes sp, peneliti menemukan larva Culex sp pada kloset WC yang sudah tidak terpakai pada salah satu sekolah. Kloset tersebut dalam keadaan kotor, tidak digunakan, dan terdapat air yang menggenang. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang lembab dan kotor sesuai dengan tempat karakteristik nyamuk Culex sp, temuan ini juga sesuai dengan pendapat (Warsoridjo, et , 2. yang menyatakan nyamuk Culex sp ditemukan di saluran limbah, semak-semak, serta toilet yang tidak terawat. Identifikasi larva nyamuk dilakukan dengan cara melihat morfologi larva di bawah mikroskop secara satu persatu dengan pembesaran 10x dan 40x. Adapun ciri-ciri larva Aedes aegypti dan Aedes albopictus dapat dibedakan dari pangkal bulu bagian thorax, duri pada segmen abdomen ke Vi, dan ventral brush pada segmen anal (Adrianto et al. , 2. Sebagaimana tercantum pada penjelasan di bawah ini. Thorax Gambar 5. Thorax, (A) Aedes albopictus hanya memiliki bulu pangkal berupa tonjolan saja, (B) Aedes aegypti memiliki pangkal bulu segmen ke II dan i terdapat duri besar Abdomen ke Vi Gambar 6. Abdomen ke-Vi (A) Aedes albopictus hanya memiliki duri tengah . edian spin. , (B) Aedes aegypti memiliki duri tengah dan duri samping. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Segmen Anal Gambar 7. Segmen anal, (A) Aedes albopictus memiliki 4 pasang ventral brush, (B) Aedes aegypti memiliki 5 pasang ventral brush Selain larva Aedes sp adapun ciri-ciri larva jenis lain yaitu Culex sp. Penjelasan dicantumkan di bawah ini. Gambar 8. Abdomen ke-Vi . uri gigi sisi. berjumlah lebih dari 2 baris. Gambar 9. Siphon berbentuk kerucut, yang ramping dan memanjang dengan rambut siphon . berjumlah lebih dari satu pasang Dari total 17 sekolah dasar negeri yang diteliti, hanya 11 sekolah yang melaksanakan program 3M secara rutin, sementara sisanya belum menjalankan kegiatan tersebut secara konsisten. Hal ini menunjukkan masih kurangnya kesadaran atau komitmen dari pihak sekolah dalam menjalankan pemberantasan jentik nyamuk. Sejalan dengan penelitian Ibrahim et al. , . siswa juga diajarkan bagaimana melakukan gerakan 3M dengan benar, karena cara ini terbukti efektif untuk mencegah berkembangnya nyamuk Aedes aegypti. Pengetahuan ini penting agar siswa bisa membantu mencegah dan mengendalikan DBD di sekolah mereka. Selain itu, kegiatan pemeriksaan jentik nyamuk yang seharusnya dilakukan secara berkala juga belum menyeluruh. Dari wawancara yang dilakukan, hanya 10 sekolah yang secara rutin memeriksa tempat penampungan air di lingkungan sekolah mereka. Sisanya belum melaksanakan kegiatan ini secara teratur, bahkan ada yang belum pernah melakukannya sama sekali, sejalan dengan penelitian (Dewi et al. , 2. Bahwa faktor penyebab tingginya kejadian DBD disebabkan oleh kurangnya pengetahuan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Kunci keberhasilan sekolah untuk bebas jentik nyamuk yaitu ada peran aktif guru dan siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah bukan hanya dari petugas kebersihan nya saja. Hal nya yang dilakukan oleh pihak sekolah kode sekolah CD dan SL1 dimana sering melakukan kompetensi kebersihan tiap kelas. Kegiatan tersebut tidak hanya mendorong siswa untuk menjaga kebersihan ruang kelas dan lingkungannya, tetapi menumbuhkan kesadaran siswa dalam menjaga kebersihan. Serta mengikatkan kepada siswa mengenai program 3M sebagai langkah pencegahan terhadap berkembangnya jentik nyamuk. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian keberadaan jentik nyamuk Aedes sp di lingkungan sekolah dasar negeri Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya dapat disimpulkan bahwa dari 17 sekolah yang diperiksa menunjukkan bahwa 15 sekolah . ,24%) ditemukan positif jentik dan 2 sekolah . ,76%) negatif. Dari total 341 TPA yang diperiksa, sebanyak 37 TPA dinyatakan positif. Nilai HI sebesar 88,23%. CI 10,85%. BI 217,64%. ABJ 11,76%, dan DF sebesar 7,3 maka keberadaan jentik nyamuk menunjukkan tingkat kepadatan tinggi. Terdapat 3 spesies larva nyamuk yang ditemukan yaitu Aedes aegypti. Aedes albopictus, dan Culex sp dimana jenis Aedes aegypti sebagai spesies yang paling banyak ditemukan dengan jumlah 287 ekor . 30%). Jenis Tempat Penampungan Air yang paling banyak ditemukan positif larva yaitu ember WC dan dispenser. SARAN Kepada pihak sekolah: meningkatkan kebersihan di lingkungan sekolah serta melakukan program 3M dan pemeriksaan jentik secara rutin. Kepada masyarakat maupun pemerintah: meningkatkan perhatian dalam upaya pemberantasan jentik nyamuk Aedes sp. Kepada peneliti selanjutnya: memperluas lokasi penelitian di jenjang SMP dan SMA yang berada di wilayah Kota Tasikmalaya. DAFTAR PUSTAKA