Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 Pengalaman Menggunakan Kondom Pertama Kali Studi Kasus Tentang Penyalahgunaan Alat Kontrasepsi Kondom Oleh Remaja Surabaya pada saat Berpacaran Mochamad Fadhilah Akbar1* dan FX Sri Sadewo2 Program Studi Sosiologi. Jurusan Ilmu Sosial. FISIPOL-Unesa 17040564100@mhs. Abstract In today's adolescent world, there are many things that are difficult to understand, especially in the behavior of a teenager himself, one of which is in having free sex and not caring about the risks that will be obtained to vent a teenager's lust and curiosity about sex is the basis for teenagers in Surabaya to want to do The role of parents and the surrounding environment must be considered how teenagers do not fall into promiscuity without guidance or direction from Contraceptives such as "condoms" themselves have a function that is used to prevent pregnancy which should be used in married couples who are undergoing family planning programs, in fact, if we see for ourselves that teenagers today can freely buy condoms and use them, this is certainly very contrary to the applicable religious and legal norms. The factor that affects adolescents is the curiosity factor for free sex itself and adolescence is a time when the desire to have free sex is high due to hormonal changes in themselves and encourages the teenager to have free sex. This study uses a qualitative method with a phenomenological approach. The theoretical perspective used in this study is Husserl Phenomenology, a science that studies something that appears or what is shown which aims to study and describe phenomena as they are experienced. The results obtained in this study show that the role of parents and the community environment can shape the mindset and characteristics of a child, if the mindset has been embedded in a child, it can be ensured that the child will not plunge into free sex. Dalam dunia remaja sekarang banyak sesuatu yang sulit untuk di pahami terutama dalam tingkah laku seorang remaja itu sendiri, salah satunya dalam melakukan seks bebas dan tidak memperdulikan resiko yang akan di dapatkan pelampiasan nafsu seorang remaja dan keiingintahuan akan seks lah yang mendasari para remaja di Surabaya ini ingin melakukan nya. Peran dari orang tua dan lingkungan sekitar yang harus di perhatikan bagaimana para remaja supaya tidak terjerumus ke dalam pergaulan seks bebas tanpa bimbingan atau arahan dari orang tua. Alat kontrasepsi seperti AukondomAy sendiri mempunyai fungsi yang digunakan untuk mencegah kehamilan yang sebaiknya di gunakan pada pasangan suami istri yang sedang menjalani program keluarga berencana, fakatanya jika kita melihat sendiri para remaja saat ini bisa dengan bebas membeli kondom dan memakainya hal ini tentu sangat menentang norma agama dan hukum yang berlaku. Faktor yang mempengaruhi remaja adalah faktor keingintahuan atas seks bebas itu sendiri dan masa masa remaja adalah masa dimana hasrat untuk melakukan seks bebas itu tinggi dikarenakan perubahan hormonal pada dirinya dan mendorong remaja itu unutk melakukan seks bebas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Perspektif teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Fenomenologi Husserl ilmu yang mempelajari sesuatu hal yang tampak atau apa yang di tampakkan yang bertujuan untuk menelaah dan mendeskripsikan fenomena sebagaimana fenonema tersebut di alami. Hasil yang di dapatkan dalam dari penelitian ini menunjukkan bahwa peran dari orang tua serta lingkungan masyarakat lah yang bisa membentuk pola pikir serta karakteristik seorang anak, jika hal pola pikir sudah terbebtuk di dalam seorang anak maka dapat di pastikan anak tersebut tidak akan terjun ke dalam seks bebas. Keywords: Contraceptive devices. Adolescent. Sex Premarital Pendahuluan Masa remaja menjadi masa peralihan dimana para remaja yang mencari jatidirinya beanyak sekali aspek yang mempengaruhi seseeorang untuk menggunakan alat kontrasepsi kondom salah satu nya Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 yaitu remaja, sasaran pertama yang menuju langsung kepada remaja ini mempunyai alasan yaitu penggunaan kondom untuk umur umur memasuki fase remaja ini cukup meningkat apalagi penggunaan nya berada di kota besar yaitu surabaya. Faktor yang sangat mempengaruhi adalah pergaulan yang bebas tidak bisa di pungkiri lagi pergaulan di kota besar sangat lah mempunyai efek kepa da sebagian individu, jika individu tersebut menerima hal hal yang tidak baik begitu saja tanpa adanya penyaringan perilaku yang buruk maka akan mudah untuk mengikuti pergaulan bebas tersebut contoh nya seperti tindak kriminal dan seks bebas yang sekarang menjadi suatu Selain ada nya faktor dari pergaulan bebas sendiri ada nya faktor yang mempengaruhi yaitu dari segi lingkungan atau masyarakat sekitar, umum nya di fase ini para remaja yang mempunyai umur dan pemikiran yang belum matang cenderung akan mencontoh dan menirukan hal hal yang dilihat nya dan menjadikan sebagai salah satu faktor pendorong untuk melakukan al hal yang bersifat negatif untuk seseorang. Pada saat memasuki masa remaja ini rasa ke ingin tahu an individu sangat lah besar terhadap hal hal baru, dan lebih bahaya nya adalah dimana seorang remaja ini mempunya rasaa ingin tahu terhadap hal negatif dan ingin mencoba nya mejadikan banyak sekali kasus di kota surabaya yang di alami oleh remaja yang mempunyai pasangan atau pacaran justru hal seperti ini lah yang mendorong ada nya rasa ingin tahu remaja untuk memulai hal hal yang tidak pernah di coba nya, mempunyai pasangan adalah keinginan dari setiap individu tetapi tidak untuk di psalahgunakan beda halnya dengan remaja saat ini dimana pergaulan bebas dan seks bebas menjadikan remaja yang mempunyai pasangan untuk mencoba hal hal baru yaitu dengan berhubungan seks, . disinilah yang menjadikan salah satu hal yang tidak semestinya di tirukan dengan ada nya alat yang bisa di dapatkan dengan mudah yaitu kondom dan mempunyai fungsi untuk mencegah kehamilan maka para remaja ini memanfaatkan alat tersebut sehingga tidak perlu memikirkan hal yang akan terjadi untuk kedepan nya. Alat kontrassepsi kondom sendiri mempunyai kegunaan yaitu untuk mencegah terjadi nya kehamilan, jika di pergunakan untuk pasangan yang sudah sah maka kegunaan nya cukup membantu yaitu untuk mengikuti sistem KB dari pemerintah tetapi jika di gunakan untuk para remaja hal ini sangat di persalahgunakan sisi negatif dari kondom sendiri yaitu bahan yang tidak terlalu tebal sehingga dapat memudahkan bocor. Peran pemerintah lah yang harus mengeluarkan peraturan dimana penjualan alat kontrasepsi di surabaya ini supaya tidak sembarangan sehingga tidak akan terjadi nya pembelian secara leluasa yang di lakukan oleh para remaja yang ingin mencoba hal yang negatif serta membuat peraturan saat pembelian yang dilakukan di supermarket dengan tata cara yaitu menunjuk kan KTP (Kartu Identitas Pendudu. hal ini di lakukan untuk mencegah seks bebas yang terjadi di kalangan remaja yang salah satunya terjadi di surabaya, peraturan pemerintah ini harus nya di sepakati oleh seluruh warga kota surabaya tanpa terkecuali dengan ada nya peraturan seperti ini di harapkan bisa mengurangi dampak seks bebas yang terjadi di kalangan para remaja tidak hanya dengan membubarkan pedagang kaki lima yang berjualan alat kontrasepsi kondom tetapi pemerintah juga rutin untuk melakukan kegiatan patroli malam di tempat tempat yang rawan seperti home stay yang ada di areasurabaya dan melakukan operasi di sekitaran apartemen di surabaya serta tempat hiburan malam yang dijadikan ajang untuk para remaja melkukan hal hal yang negatif. Banyak sekali motif Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 motif yang dilakukan dari para remaja untuk melakukan seks bebas dengan pacar nya salah satu nya yaitu motif ke ingin tahuan remaja yang tinggi setelah melihat atau mendengar ceritaa dari teman ataupun media sosial yang berkembang pada zaman sekarang. Dengan media sosial yang canggih ini para remaja dapat mengakses berita melalui apapun tanpa adanya batasan umur ataupun kebijakan dari pemerintah itu sendiri jika ditinjau lebih lanjut adanya media sosial ini berdampak yang buruk jika para remaja tidak bisa menyaring informasi di tambah lagi penyewaan yang sangat luas dari pihak hotel ataupun home stay yang ada di surabaya menjadi salah satu faktor dimana malah mendukung ada nya seks bebas tidak ada pengecualian terhadap penyewa kamar atau room yang ada di surabaya, memang banyak sekali faktor yang harus di benahi dari sistem untuk mengurangi seks bebas yang beredar pada umur yang menginjak waktu remaja bukan sekedar dari himbauan yang dilakukan oleh keluarga tetapi harus adanya tindakan yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi intensitas perkembangan usia hamil dini dan hamil di luar nikah, serta faktor individu sendiri yang harus di ajak dalam hal hal positif seperti mendekatkan diri atau memperkuat agama serta menjauhi pergaulan bebas dan penggunaan media sosial yang baik dan juga bijak supaya dapat mengurangi sesuatu yang tidak di inginkan dari individu tersebut. Kajian Teori Teori fenomenologi Endmund husserl. Fenomenologi Husserl merupakan sebuah upaya untuk memahami suatu kesadaran yang dialami dari sudut pandang orang pertama. Secara luas yang dimaksud dari fenomenologi adalah studi mengenai fenomena atau segala sesuatu yang nampak dalam pengalaman subjektif dan bagaimana pengalaman tersebut bisa terjadi. Fenomenologi upaya untuk memahami kesadaran dari sudut pandang subjetif seseorang yang bersangkutan, terdapat perbedaan antara pendekatan fenomenologi dengan pendekatan ilmu pengetahuan saraf atau neuronsience yaitu adanya usaha untuk memahami cara kerja kesadaran otak dan saraf manusia dengan cara menggunakan sudut pandang pengamat. Sementara deskripsi mengenai fenomenoloi Husserl ini lebih melihat pengalaman manusia sebagaimana manusia itu mengalaminya yaitu dengan cara dari sudut orang pertama. Dalam fenomenologi Husserl konsep dari makna (Meanin. adalah isi penting dari pengalaman sadar manusia atau individu. Pengalaman setiap individu berbeda beda, oleh sebab itu makna lah yang menjadi pembeda dari pengalaman individu satu dengan lainnya. Suatu pengalaman juga bisa menjadi bagian dari kesadaran, karena orang juga memaknainya dengan berbeda dan hanya melalui tindakan kesadaran manusia bisa menyentuh dunia sebagai suatu struktur teratur . rganized structur. dari segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Menurut Husserl makna bukanlah objek kajian ilmu-ilmu empiris. Melainkan makna adalah objek kajian logika murni. Bagi Husserl fenomenologi merupakan suatu bentuk ilmu mandiri yang berbeda dengan ilmu alam ataupun ilmu sosial. Husserl menyebutkan bahwasannya fenomenologi sebagai ilmu transendental yang dibedakan dengan ilmu pengetahuan naturalistik, terdapat perbedaan yang utama antara fenomenologi dengan ilmu ilmu alam termasuk psikologi positivistik adalah peranan makna di dalam pengalaman manusia . eaning in experienc. Fenomenologi tidak menggambil langkah generalisasi dalam penelitian mengenai manusia, yang pada umumnya ditemukan pada psikologi. Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 Konteks dari fenomenologi. Husserl membedakannya denan beberapa tingkat kesadaran. Pada tingkat kesadaran fokus fenomenologi bukanlah spesifik, tetapi struktur pengalaman kesadaran manusia yaitu seperti realitas objektif berdasarkan manusia. Fenomenologi Husserl memusatkan perhatian pada makna subjektif dari kesadaran objektif dalam kesadaran manusia, seperti contoh kehidupan dan aktivitas manusia sehari hari. Fenomenologi Husserl di dasarkan pada dua asumsi, pertama-tama setiap pengalaman manusia sebenarnya adalah ekspresi yang diturunkan dari kesadaran dirinya sendiri. Seseorang akan mengalami sesuatu sehingga mereka sadar akan pengalamannya yang bersifat subjektif, dan yang kedua bentuk kesadaran apapun akan selalu menciptakan gambaran tentang sesuatu. Penelitian Terdahulu Temuan ini di dapatkan oleh M. Hadi dan Sumiyati pada tahun 2002 yaitu yang berjudul Faktor Faktor yang mempengaruhi alat kontrasepsi Kondom. Dari penelitian terdahulu menghasilkan sebuah jawaban yaitu penyebab yang mempengaruhi alat kontrasepsi kondom yaitu kurangnya promosi pelayanan KB pada pria rendah, tidak ada nya dukungan dari istri untuk suami supaya ikut ber KB. Dari penelitian terdahulu memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui apa yang mempengarui minimnya penggunaan alat kontrasepsi kondom di kota metro. Jakarta. Pengetahuan suami,umur suami dan istri hingga pekerjaan suami dijadikan sampel pada penenlitian terdahulu. Dengan cara menganilisis data dan terjun langsung di kota metro mewajibkan kita untuk mengetahui apa yang Setelah mengacu pada study of the art justru kita harus mempunyai pandangan untuk kedepan nya perlukah pengenalan alat kontrasepsi pada masyarakat untuk mewujudkan sistem dari pemerintah yaitu keluarga berencana, dengan ada nya penelitian yang membahas tentang alat kontrasepsi kondom yang digunakan oleh remaja sekarang tentunya akan menjadikan . Penelitian yang serupa yaitu penelitian dari Yunis Adila. Rini Muthar. Indah Purnama Sari pada tahun 2017 yang ber judul Determinan Penggunaan Kondom Pada Hubungan Seksual Pertama kali Oleh Remaja Belum Menikah di Indonesia (Analisis Data SDKI KRR 2. , penelitian ini menggunakan metode desain cross sectional dan memperoleh data sekunder dari Survei Demografi, pada kesehatan reproduksi remaja di Indonesia tahun 2012. Subjek di penelitian ini yaitu remaja di Indonesia yang belum menikah berusia 15-24 tahun. Sampel dari penelitian ini yaitu remaja yang mempunyai usia 15-24 tahun dan belum menikah yang pernah melakukan seks pranikah serta bersedia menjawab . Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat. Sehinga menemukan data sebagai berikit : Penggunaan alat kontrasepsi kondom pada saat hubungan seksual pertama kali oleh remaja belum menikah di Indonesia yaitu 24,7% dari keseluruhan responden yang melakukan hubungan seksual. Hasil dari analisis bivariat yang kongkret bahwa adanya hubungan yang berkesinambungan antara status ekonomi . -value=0,. , akses informasi . -value=0,. dan pengetahuan . -value=0,. penggunaan alat kontrasepsi kondom pada saat pertama kali oleh remaja yang belum menikah di Indonesia. Status ekonomi adalah faktor paling besar yang mempunyai pengaruh terhadap pengunaan alat kontrasepsi kondom terhadap remaja Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 yang belum menikah (RP=1,629 95% CI: 1,076-2,468. p-value=0,. Dari data ini dapat menyimpulkan bahwa yang paling berpengaruh terhadap penggunaan alat kontrasepsi kondom saat melakukan hubungan seksual pranikah pertama kali adalah status ekonomi. Data inilah yang dapat diambil dari penelitian SDKI KRR tahun 2012. Metode Penelitian Metode Penelitian yang diggunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan memakai prespektif teori fenomenologi dari Edmund Husserl. Penelitian yang dilakukan ini mempunyai tujuan untuk mencari jawaban yang benar dan tepat mengenai penggunaan kondom yang dilakukan oleh remaja di surabaya saat berpacaran. Bentuk penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan bentuk penelitian kualitatif diharapkan dapat terjawab nya penelitian ini dengan benar ddan tepat Penelitian kualitatif berakar pada latar alamiah sebagai suatu keutuhan, mengandalkan manusia sebagai alat penelitian, memanfaatkan metode kualitatif lebih mementingkan proses daripada hasil, membatasi seperangkat kriteria untuk memberikan keabsahan dan hasil penelitiannya disepakati oleh kedua belah pihak yaitu peneliti dengan subyek yang diteliti. Epoche (Bracketin. Definisi: Epoche adalah proses menanggalkan atau mengesampingkan prasangka, asumsi, dan keyakinan yang ada tentang dunia untuk melihat fenomena dengan cara yang murni dan tidak terdistorsi. Praktik: Peneliti harus menyadari dan menanggapi pandangan dunia mereka sendiri, dan berusaha untuk mendekati data tanpa bias. Deskripsi Fenomena Definisi: Fokus pada deskripsi mendalam tentang bagaimana fenomena itu muncul dalam kesadaran individu. Praktik: Mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi, atau metode lain yang memungkinkan pemahaman mendalam tentang pengalaman subjektif individu. Pengalaman Subjektif Definisi: Menekankan pada cara individu mengalami dan memaknai fenomena dari sudut pandang mereka sendiri. Praktik: Peneliti harus fokus pada pengalaman subjektif informan, menggali bagaimana mereka memaknai dan merasakan peristiwa atau fenomena. Reduksi Fenomenologis Definisi: Mengurangi pengalaman ke esensi yang paling mendasar, mengidentifikasi elemen-elemen penting dari pengalaman tersebut. Praktik: Menggunakan teknik reduksi untuk mengekstrak esensi dari pengalaman subjektif yang dijelaskan oleh peserta. Ini termasuk mencari pola atau tema yang mendasari pengalaman. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Semua data yang sudah terkumpul dari para subjek penelitian yang berjenis kelamin laki laki remaja dengan usia 10-19 tahun yang mempunyai masalah keluarga sebagai latar belakang terjadi nya masalah pergaulan bebas hingga terjun ke dalam seks bebas. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi seorang individu tersebut sehingga mau tidak mau dan sadar tidak sadar individu tersebut termasuk ke dalam pengaruh pergaulan negatif yang dapat memunculkan banyak sekali permasalahan, contoh dari beberapa informan yang di dapat kan datanya mengungkapkan jika individu itu sendiri tidak menginginkan pergaulan negatif apalagi sampai mengarah ke hal seks bebas yang sekarang sedang ramai di kalangan remaja di Surabaya. Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 LA juga menambahkan jika bukan hanya faktor orang tua saja melainkan faktor lingkungan juga menjadi permasalahan penting khususnya di kota besar seperti Surabaya, jika seorang anak remaja yang tidak mendapatkan hak nya serta faktor lingkungan yang tidak mendukung maka individu tersebut akan mudah terpengaruh untuk mengikuti pergaulan bebas. Menurut subjek kedua yaitu FY menambahkan bahwa anak laki laki di usia remaja akan cepat terpengaruh hal hal yang dilihat dan akan melakukan nya apalagi seorang anak di usia remaja sedang memasuki masa masa hormon yang sedang naik, maka disitulah penting nya seorang orang tua hingga guru untuk membimbing remaja supaya tidak terjerumus pada seks bebas. Seorang remaja mempunyai kesadaran terhadap dirinya sendiri sebagaimana sistem dan cara pemikiran individu seseorang ber beda beda. Menurut LA sendiri dirinya melakukan tindakan seperti itu dengan penuh kesadaran penuh dan kurang nya kasih sayang serta perhatian dari orang tua lah yang menurut LA menjadi faktor utama dirinya terjun di dalam pergaulan bebas serta mencoba hal hal baru seperti seks bebas. LA memilih untuk melakukan seks bebas di karenakan adanya rasa ingin tahu yang di dapatkan dari teman sebaya nya di lingkungann sekitar. LA menjadikan rasa ke ingin tahuan tersebut sebagai dasar diri nya untuk melakukan seks bebas selain itu LA ternyata juga masih mempunyai kesadaran atas resiko yang akan menimpa kehidupan nya dan resiko yang di tanggung bukan hanya tentang kesehatan tetapi kesadaran akan resiko yang lain nya seperti yang akan menimpa psikis seorang remaja tersebut. Dari informan LA ini meberitahukan bahwa dirinya tahu akan kegunaan serta manfaat yang alat kontrasepsi kondom. LA juga menambahkan jika alat kontrasepsi kondom tidak selalu aman melainkan alat kontrasepsi kondom hanya untuk mencegah kehamilan itu terjadi bukan untuk mengurangi resiko akan terjadi nya kehamilan diluar pernikahan. Analisis Penelitian Dari hasil observasi dan wawancara tersebut, dapat diperoleh bahwa peran orang tua dan lingkungan sekitarlah yang memiliki pengaruh yang besar dalam individu seorang ramaja. Melalui interaksi sehari-hari, obrolan ringan, dan keterlibatan dalam kegiatan bersosialisai, seorang remaja di tuntut untuk cepat ber adaptasi terhadap lingkungan sekitar serta masyarakat. Analisis diatas jika dikaitkan dengan perpfetif teori fenomenologi hasserl mempunyai kesamaan yang dimana suatu individu akan melihat serta akan mencotohkan hal tersebut kepada suatu objek dengan kesadaran Kesadaran : Husserl menyatakan bahwa kesadaran selalu diarahkan pada sesuatu,yang dikenal sebagai "intentionalitas. " Dalam kasus LA, kesadarannya diarahkan pada situasi keluarganya yang kurang memberikan perhatian dan kasih sayang, serta lingkungan pergaulan yang negatif. Keputusannya untuk menggunakan kondom saat melakukan seks bebas mencerminkan kesadaran akan risiko dan konsekuensi, yang menunjukkan adanya perhatian terhadap kesehatan dan pencegahan kehamilan dini. Reduksi Fenomenologis :Melalui pendekatan epochy, kita menangguhkan penilaian moral untuk memahami pengalaman subjektif LA tanpa prasangka. Ini memungkinkan kita untuk melihat bagaimana LA merasakan kekosongan emosional karena kurangnya perhatian dari orang tua, yang menyebabkan perasaan kehilangan arah. Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa tindakan LA, seperti terlibat dalam seks bebas, adalah upaya untuk mengisi kekosongan tersebut dan mencari kenyamanan atau pengakuan. Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 Pengalaman Subjektif : Pengalaman subjektif LA sangat dipengaruhi oleh situasi keluarganya dan lingkaran pertemanannya. LA merasa bahwa kurangnya perhatian dari orang tua, yang sibuk dengan pekerjaan, membuatnya kehilangan arah. Dalam upayanya untuk menemukan identitas dan pemenuhan. LA terlibat dalam pergaulan yang tidak sehat, termasuk seks bebas. Ini adalah bagian dari pencarian identitasnya dalam konteks pengalaman hidupnya yang kompleks. Peran Lingkungan Sosial :Fenomenologi Husserl juga mengeksplorasi bagaimana lingkungan sosial mempengaruhi pemahaman dan tindakan individu. LA mengungkapkan bahwa pengaruh negatif dari lingkaran pertemanannya dan kemudahan akses ke penginapan dan kondom di sekitar lingkungannya turut mendorong keterlibatannya dalam seks bebas. Hal ini mencerminkan bagaimana lingkungan sosial dapat membentuk keputusan dan perilaku seseorang. Kesadaran akan Risiko : Meskipun terlibat dalam perilaku seks bebas. LA menunjukkan kesadaran akan risiko yang terlibat, seperti penyakit menular dan kehamilan dini. Kesadaran ini tercermin dalam keputusannya untuk selalu menggunakan kondom, yang menunjukkan pemahaman akan pentingnya keamanan dan pencegahan. Dengan menggunakan teori fenomenologi Husserl, kita dapat memahami bahwa pengalaman LA tidak hanya sekadar perilaku menyimpang, tetapi juga merupakan hasil dari interaksi kompleks antara pengalaman subjektif, lingkungan sosial, dan pencarian makna dalam kehidupannya. Fenomenologi membantu mengungkap cara LA memaknai situasi hidupnya dan bagaimana ia mencoba mengatasi tantangan emosional dan sosial yang Intentionalitas Kesadaran Husserl menekankan bahwa kesadaran selalu diarahkan pada sesuatu. Dalam kasus FY, kesadarannya tentang situasi keluarga yang tidak harmonis dan ketidaknyamanannya di rumah diarahkan pada pencarian kenyamanan di luar, termasuk dalam pergaulan bebas. Keputusan FY untuk menggunakan kondom saat berhubungan seksual mencerminkan kesadaran akan risiko kesehatan, yang dipengaruhi oleh pengalaman teman yang terkena penyakit menular seksual. Epochy dan Reduksi Fenomenologis Melalui pendekatan epochy, kita menangguhkan penilaian moral dan normatif untuk memahami pengalaman FY sebagaimana adanya. FY merasa tidak nyaman di rumah akibat pertengkaran orang tua dan kurangnya perhatian, yang mendorongnya untuk mencari pelarian di luar rumah. Hal ini Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 mencerminkan bagaimana FY memaknai dan merespons lingkungannya tanpa pertimbangan moral yang kompleks. Krisis Makna dan Pencarian Identitas FY berada dalam fase pencarian identitas, di mana dia merasa tidak memiliki teman bercerita dan kurangnya bimbingan agama dari orang tua. Fenomenologi Husserl memungkinkan kita untuk memahami bahwa pengalaman subjektif FY dalam situasi ini adalah upaya untuk menemukan makna dalam hidupnya. Ketidakpastian mengenai nilai-nilai yang harus diikuti membuat FY rentan terhadap pergaulan bebas. Pengalaman Subjektif enomenologi Husserl menekankan pentingnya pengalaman subjektif. FY mengungkapkan bahwa pergaulan bebas adalah cara untuk mengatasi ketidaknyamanan di rumah. Pengalaman ini mencerminkan upaya untuk mengisi kekosongan emosional yang dirasakannya. Penginapan OYO dan ketersediaan kondom di sana menjadi bagian dari lingkungan yang memfasilitasi pilihan-pilihan ini, yang FY lihat sebagai solusi sementara. Lingkungan dan Kehidupan Sehari-hari FY menyebutkan bahwa ia berkenalan dengan perempuan melalui media sosial dan mencoba melakukan hubungan seksual di penginapan murah. Fenomenologi Husserl dapat digunakan untuk memahami bagaimana lingkungan sosial dan kemudahan akses mempengaruhi keputusan FY. juga menyadari bahwa penggunaan KTP palsu di penginapan adalah praktik umum, menunjukkan bagaimana lingkungan sosialnya mempengaruhi pandangannya tentang legalitas dan etika. Dengan menghubungkan wawancara dengan teori fenomenologi Husserl, kita dapat memahami lebih dalam pengalaman subjektif FY dan bagaimana ia memaknai situasinya. Ini membantu untuk melihat keputusan FY tidak hanya dari segi moral tetapi juga dari perspektif fenomenologis yang menekankan pemahaman atas pengalaman hidup dan persepsi individu. Kesimpulan Alat kontrasepsi kondom merupakan alat yang di desain untuk mencegah akan terjadinya kehamilan dan dipergunakan untuk orang yangg sudah memasuki status menikah secara sah dalam pandangan agama dan negara, jika alat kontrasepsi kondom ini sendiri di salah gunakan di kalangan remaja tidak menutup kemungkinan bahwa penerus generasi kita sekarang khusus nya di kota Surabaya sudah terjerumus di dalam seks bebas, seks bebas yang di anggap wajar wajar saja di kalangan remaja kini mendapat sorotan karena kasus nya yang mulai beigitu marak di perbincangkan, dari data yang diperoleh oleh peneliti dan menarik kesimpulan dari atas bahwa harus ada nya peran serta dari orang tua lah yang harus mendidik serta membimbing anak anak nya di tambah juga sekolah atau peran dari guru yang seharusnya meluruskan dan membuat karakter dari seorang individu remaja ini menjadi positif. Dengan demikian kesimpulan dari seorang peneliti menegaskan bahwa penting nya orang tua untuk membentuk Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024 karakteristik seorang remaja di dalam keluarga serta di lingkungan sekitar untuk membentuk generasi penerus bangsa yang jauh lebih baik. Daftar Pustaka