Edukasi Pengenalan Seks Dini Pada Komunitas Anak Di Rumah Singgah Kota Bengkulu Tita Septi Handayani. Murwati. Emi Pebriani. Jipri Suyanto. 1,2,3,. Universitas Dehasen Bengkulu Email: handayani_tita@yahoo. murstikes@yahoo. emipebriani@yahoo. 4jefrisuyanto@gmail. ARTICLE HISTORY Received . November 2. Revised . November 2. Accepted . Desember 2. KEYWORDS Sexual education, parenting This is an open access article under the CCAeBY-SA license ABSTRAK Tingginya peningkatan kekerasan seksual menunjukan bahwa masih rendahnya pengetahuan orang tua dalam menerapkan pola asuh dan rendahnya pengetahuan anak mengenai kekerasan seksual itu sendiri. Untuk mengurangi terjadinya kekerasan seksual, pendidikan dini dapat menjadi suatu solusi dalam meningkatkan pengetahuan anak dan di harapkan sebagai salah satu pencegah terjadinya kekerasan seksual. Pengabdian masyarakat ini di tujukan pada komunitas anak yang berada di rumah singgah . binaan HI Bengkulu KCS Odot Kota Bengkulu. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan anak-anak mengenai seks dini dengan sasaran menurunkan angka kekerasan seksual pada anak. Berdasarkan hasil pengabdian masyarakat di komunitas anak yang berada di rumah singgah . binaan HI Bengkulu KCS Odot Kota Bengkulu tingkat pengetahuan anak tentang seks dini kategori Baik sebanyak 53 responden . %), pada kategori kurang baik sebanyak 36 Responden . %). Jadi dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan anak tentang seks dini adalah dalam kategori Baik. ABSTRACT Sexual violence is still high, which is proof of low parental knowledge to apply parenting concepts and low child knowledge in general. For decreasing sexual violence, early education about sex is a solution to improving children's knowledge and a preventive measure to protect them. Community service is proposed for the children's community under KCS Odot. Bengkulu City. Indonesia. respondents to reduce the case by proposing improved children's sex education knowledge. According to the results of community service in the KCS Odot child community in Bengkulu city, children had good knowledge among 53 respondents . %), and low knowledge among 36 respondents . %). According to the findings, majority of participants had a good level of early sexual PENDAHULUAN Usia anak-anak merupakan salah satu faktor terjadinya kekerasan, yang dalam hal ini apabila tidak ditangani dengan baik maka akan lebih rentan masuk ke dalam kondisi PTSD (Post Traumatic Stress Disorde. bila hal ini tidak ditangani dan terjadi terus menerus akan menurunkan produktivitas dari Menurut Sarwono . Kelompok anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan menjadi korban dan paling menderita daripada orang dewasa, karena mereka belum bisa menyelamatkan dan memulihkan diri dari rasa trauma, sehingga peluang menjadi korban lebih lanjut menjadi besar. Trauma masa kanak-kanak juga dapat mengarahkan pada pengembangan gejala trauma kronis pada saat dia dewasa, seperti rentan terhadap depresi dan menunjukkan gejala-gejala traumatis (Robinson, 2. Ketidakmampuan coping inilah yang membuat mereka beresiko tinggi mengalami trauma fisik dan psikis . Rendahnya pendidikan dan perhatian orang tua serta minimnya pengetahuan cara mendidik anak yang benar, akan berdampak terhadap perilaku orang tua dalam memberikan pengasuhan kepada anak (Maryam, 2. Selain itu, (Harianti & Salmaniah, 2. menambahkan bahwa faktor utama yang menyebabkan terjadinya kekerasan orang tua terhadap anak meliputi faktor ekonomi, faktor pendidikan, faktor lingkungan sosial dan faktor psikologis. Kurangnya partisipasi orang tua dalam program parenting mengakibatkan orang tua tidak memahami betapa pentingnya pengasuhan itu bagi orang tua agar kita bisa mendewasakan anak secara lebih manusiawi. Kasus kekerasan seksual yang dialami anak diindonesia cukup tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir dapat dikatakan tahun yang sangat memprihatinkan bagi anak indonesia. Data yang diperoleh dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesi. menemukan ratusan kasus kekerasan terhadap anak yang diduga dilakukan oleh orang-orang terdekat, kasus kekerasan terhadap anak mencapai 218 kasus kekerasan anak pada tahun 2015, 120 kasus kekerasan anak di tahun 2016, pada tahun 2017 terdapat 116 kasus, pada tahun 2019 sebesr 11. 057 tahun 2020 11. 279 tahun 2021 januari sampai dengan november sebanyak 12. Bertolak dari masih tingginya angka kejadian kekerasan seksual yang Jurnal Dehasen Untuk Negeri. Vol. 2 No. 1 Januari 2023 page: 61Ae. ISSN: 2809-8854 e-ISSN : 2809-8684 dialami oleh anak, maka langkah pemberian bantuan menjadi hal yang sangat penting dilakukan. Penanganan yang dilakukan bagi korban kekerasan memiliki cara pendekatan yang berbeda-beda. Di indonesia, beberapa upaya pencegahan kekerasan pada anak sudah banyak dilakukan oleh KPAI seperti kampanye mengenai hak-hak anak, sosialisasi mengenai dampak kekerasan maupun hukuman bagi pelaku kekerasan serta berbagai pelatihan bagi orang tua dan guru mengenai deteksi dini indikasi kekerasan yang mungkin dialami oleh anak (Asawiah, 2. Selain pemerintahan, upaya penanganan untuk korban kekerasan juga telah dilakukan oleh praktisi pendidikan kesehatan. Beberapa intervensi farmakologi dan non farmakologi telah dilakukan, terapi non farmakologi yang telah dilakukan berupa play therapy atau terapi bermain, terapi hipno, terapi spiritual, terapi traumatik anak, terapi spiritual freedom technique (Rizki, 2. Penanganan secara farmakologi dan non farmakologi, upaya lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan mengetahui kebutuhan yang dibutuhkan oleh anak korban kekerasan Salah satunya adalah berkaitan dengan edukasi yang dibutuhkan oleh anak korban kekerasan. Hal ini sangat penting karena adanya perbedaan karakteristik pada anak-anak yang juga akan membedakan pula kebutuhankebutuhan setiap anak-anak di setiap tahap perkembangannya. Hal ini dimungkinkan mengarahkan pada kebutuhan yang berbeda pula akan bentuk edukasi. Edukasi tidak hanya bertujuan untuk terapi, tetapi juga penanganan rehabilitasi sehingga bisa menurunkan stres yang terkait dengan masalah tersebut dan mencegah agar masalah tersebut tidak terjadi kembali. Edukasi disesuaikan dengan kekuatan partisipan dan lebih fokus pada sat ini dan masa yang akan datang daripada kesulitan-kesulitan di masa lalu (Widyastuti,2. Edukasi kesehatan dapat diartikan sebagai pemberian informasi, instruksi, atau peningkatan pemahaman terkait kesehatan. Pendidikan kesehatan dapat meliputi jenis pendidikan terkait potensial kesehatan dan bagaimana potensial kesehatan dapat tercapai atau terkait bagaimana menghindari masalah penyakit tertentu (T. Carr, & Brown, 2. Lahad & Doron . juga mengatakan bahwa edukasi akan membantu klien mengubah pemahaman dan tingkah laku seseorang terkait respon fisik dan psikologis yang dapat muncul setelah terpapar peristiwa traumatis. Edukasi kesehatan sangat berpengaruh untuk meningkatkan derajat kesehatan seseorang dengan cara meningkatkan kemampuan masyarakat untuk melakukan upaya kesehatan itu sendiri. METODE Metode Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan di lakukan dengan model ceramah dan diskusi secara bersesi, sesi pertama sebanyak 25 orang dan sesi kedua sebanyak 24 orang. Proses kegiatan pengabdian ini dapat di lihat pada Gambar 1 berikut. Gambar 1 Proses Jalannya Penelitian 62 | Tita Septi Handayani. Murwati. Emi Pebriani. Jipri Suyanto. Edukasi Pengenalan Seks. Waktu Efektif Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan pengabdian ini telah dilaksanakan selama 1 bulan sejak tanggal 20 Juni - 20 Agustus 2022 dengan total durasi waktu selama 10 jam Tempat Kegiatan Pelaksanaan Kegiatan di Rumah Singgah (HOME) Binaan Human Initiative Bengkulu KCS ODOT di Jalan Tongkol RT IV Kecamatan Malabero. Kota Bengkulu HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Aktivitas Kegiatan ini telah dilaksanakan selama 1 bulan. Pelaksanaan pemberian informasi atau materi terkait pengenalan seks dini pada anak kepada komunitas anak berjalan sesuai harapan, seluruh anak yang biasanya dating setiap hari hamper seluruhnya hadir saat kegiatan. Peserta berperan aktif dalam pelaksanaan kegiatan. Proses kegiatan dapat di lihat pada gambar-gambar berikut Gambar 2. Peserta mempraktekkan kondisi kejahatan seksual Gambar 4. Salah satu pertanyaan dari pemateri Gambar 3. Proses penyampaian materi Gambar 5. Penutupan kegiatan dengan reward dan pendampingan Jurnal Dehasen Untuk Negeri. Vol. 2 No. 1 Januari 2023 page: 61Ae. ISSN: 2809-8854 e-ISSN : 2809-8684 Saat Proses penyampaian materi pengenalan seks dini pada anak di rumah singgah HOME terlihat sangat antusias dan fokus dalam menerima materi. Materi pengenalan seks dini yang di berikan kepada peserta memuat komponen terkait : Konsep laki-laki dan perempuan. Anggota tubuh secara umum. Perbedaan anggota tubuh perempuan dan laki-laki. Peran laki-laki dan perempuan di dalam dan luar rumah. Kesadaran kepemilikan tubuh. Berbagai bentuk kekerasan. Contoh bentuk kekerasan seksual. Cara mencegah terjadinya kekerasan seksual. Hal yang harus dilakukan jika mengalami kekerasan Setelah proses pemberian materi diharapkan bagi anak di rumah singgah HOME dapat memiliki pengetahuan terkait pengenalan gender dan dapat melindungi diri dari kekerasan seksual. Dari hasil penelitian sebelumnya, bahwa kelompok usia anak merupakan salah satu kelompok yang seringkali menjadi korban kekerasan yang tidak berdaya dari orang dewasa maupun anak yang lebih tua, sehingga sangat penting untuk dibekali informasi terkait seks dini dan cara melindungi diri dari kejahatan seksual. Umumnya anak masih sangat minim pengetahuan dan pengalaman terkait seks dini, dimana seharusnya pengetahuan ini diberikan pada anak dari orang tua atau anggota keluarga terdekat. Pendidikan yang diberikan kepada peserta siswa-siswi akan mengalami penyerapan yang berbeda-beda antara setiap peserta yang lain karena disebabkan oleh berbagai faktor, seperti tingkat pemahaman, perkembangan kognitif, metode yang di gunakan, dan cara implementasi ceramah yang satu arah atau tanpa ada feedback diskusi dari peserta. Setelah pemberian materi di lanjutkan dengan sesi diskusi atau tanya jawab seputar materi. Dalam proses diskusi dapat terlihat bahwa anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi mengenai cara melindungi diri dari kejatahan seksual dan hampir seluruh anak sangat antusias bertanya. Setelah proses penyajian materi dan diskusi, selanjutnya dilakukan evaluasi untuk mengetahui pemahaman yang di dapat oleh anak-anak terkait materi. Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan data pengabdian masyarakat bahwa dari pengetahuan anak melalui observasi dan sesi tanya jawab, peserta dapat menyebutkan anggota tubuhnya, perbedaan lakilaki dan perempuan, menyebutkan nama alat kelamin dan menunjukkan dengan benar pada masingmasing jender. Selain itu anak juga dapat menyebutkan Kembali jenis-jenis kekerasan yang mungkin terjadi, menentukan situasi atau orang yang harus dihindari karena dinilai mengancam keselamatan, menyadari bagian tubuh yang sepenuhnya harus dijaga, membedakan sentuhan yang pantas dan tidak pantas, pentingnya berbicara jujur dengan orang tua. Anak juga dapat menyebutkan respon yang seharusnya jika merasa terancam atau menerima tindak kekerasan atau disakiti secara fisik dan atau Andriana . menjelaskan bahwa perkembangan gender dan seksitas pada anak- anak dimulai dari hal yang paling mendasar, sepeti pada anak usia tiga tahun yang sudah dapat membedakan jenis kelamin dan perbedaan fisik yang terjadi. Seksitas berkembang sejak masa anak usia dini sampai Perkembangan ini meliputi perkembangan fisik dan psikis, perkembangan secara psikis berupa perkembangan psikoseks yang terjadi pada masa anak-anak. Pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang seks akan membantu anak memiliki rasa tanggung jawab sejak dini. Pendidikan seks pada anak usia dini harus menggunakan berbagai cara, agar tujuan dari pendidikan seks dapat terwujud. Nugraha dan Wibisono . menjelaskan bahwa tidak ada salahnya berdialog tentang seks dengan anak laki-laki dan anak perempuan secara bersamaan, karena bagaimanapun juga anak laki-laki perlu mengetahui lebih jauh tentang anak perempuan dan juga Banyak dari kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi belakangan ini adalah akibat dari pola asuh yang salah dari orang tua. Para orang tua masih merasa tabu untuk memberikan pendidikan seks terhadap anak-anak, karena sebagian besar mereka masih menggunakan cara lama Menganggap masalah pembekalan tentang pemahaman pendidikan seks masih sangat tabu untuk dibicarakan, padahal saat ini anak-anak dengan mudahnya memperoleh informasi tersebut melalui berbagai macam media. Hal yang dikhawatirkan adalah anak-anak memperoleh informasi dengan cara yang salah. Selain itu, pelaku kejahatan seksual terkadang bukanlah berasal dari orang yang tidak dikenal oleh anak-anak. Kebanyakan dari kasus yang terjadi, pelaku kejahatan tersebut adalah orang terdekat korban seperti dari keluarga dekat, tetangga, guru, teman sebaya bahkan dari orang tua korban itu sendiri. Untuk itu, perlu adanya pembekalan kepada anak seputar cara menjaga diri dari bahaya kejahatan seksual (Ayurinanda, 2. Pendidikan seksual kepada anak dapat meningkatkan pengetahuannya dan keterampilan. Dalam penelitianyang dilakukan oleh Martin dalam (Tampubolon. Yuliani. Sri: 2. menjelaskan bahwa orangtua yang diberikan pendidikan dan pelatihan pendidikan seks anak akan meningkat pengetahuan dan keterampilannya. Maka, orang tua perlu dibekali pengetahuan mengenai perkembangan seksual anak, memiliki keterampilan komunikasi yang efektif, memiliki kedekatan yang baik dengan anak serta mendidik anak dengan moral yang berlaku umum di masyarakat (Azzahra. Pembekalan pendidikan seks dan pengawasan lingkungan baik di rumah maupun di sekolah, 64 | Tita Septi Handayani. Murwati. Emi Pebriani. Jipri Suyanto. Edukasi Pengenalan Seks. menjadi peran penting dalam melindungi anak dari bahaya kekerasan seksual. Sehingga anak bisa membekali diri dengan pertahanan yang kuat. Dalam proses evaluasi terlihat bahwa sebagian besar anak-anak di rumah singgah HOME telah memiliki pemahaman yang baik dan positif terkait seks dini. Diharapkan selanjutnya anak-anak yang telah memahami seputar informasi tentang seks dini dan perlindungan diri dari kejahatan seksual ini ke depannya dapat menjadi kader pendidik sebaya bagi anak-anak yang lainnya yang belum memiliki pemahaman serta anak-anak yang belum mengetahui sepenuhnya tentang seks dini, sehingga potensi menjadi korban kejahatan seksual dapat di cegah. Penyelesaian Masalah Dengan adanya pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Rumah Singgah (Hom. Binaan Hi Bengkulu Kcs Odot, dapat menambah wawasan masyarakat . rang tu. dan guru dalam Pendidikan seks bagi anak lebih menjurus kepada upaya memberikan pengetahuan yang benar sebagai usaha pengajaran, penyadaran dan perenungan akan topik seksual agar mereka mampu beradaptasi dan waspada terhadap permasalahan dan penyimpangan seksual yang mungkin mereka hadapi dimasa depan kehidupan mereka. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil pengabdian masyarakat di Rumah Singgah (Hom. Binaan Hi Bengkulu Kcs Odot bahwa tingkat pengetahuan anak tentang seks dini kategori Baik sebanyak 15 responden . %), pada kategori kurang baik sebanyak 9 Responden . %). Jadi dapat disimpulkan bahwa mayoritas tingkat pengetahuan anak tentang seks dini adalah dalam kategori Baik. Dengan adanya pengabdian kepada masyarakat ini dapat membantu masyarakat khususnya orang tua dalam memecahkan masalah tentang pendidikan seks pada anak sejak dini diharapkan mampu memberikan pengetahuan dasar yang sesuai dengan norma agama kepada anak agar anak tidak memperoleh informasi yang salah tentang pendidikan seks dan memberikan benteng pertahanan diri kepada anak, agar anak tidak menjadi korban dari para pedofil . elaku pencabulan ana. dan kaum Lesbian. Gay. Biseksual dan Transgender (LGBT). UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih kami ucapkan kepada seluruh anggota yang sudah banyak membantu dalam melakukan aktivitas pengabdian kepada masyarakat ini sehingga semuanya dapat berjalan dengan Diharapkan dengan adanya pengabdian masyarakat ini dilakukan, para para orang tua lebih aktif mencari informasi lewat media cetak, televisi, radio dan ikut serta dalam penyuluhan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan agar orang tua mengetahui tentang pentingnya dilakukan Pendidikan seks pada anak sejak dini. DAFTAR PUSTAKA