Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Pengaruh Model Discovery Learning Terintegrasi Masalah Divergen Terhadap Hasil Belajar Matematika Ditinjau Dari Keterampilan Berpikir Kritis pada Siswa Kelas V SD Negeri di Gugus VI Kecamatan Sukawati Putu Sudiadnyani Program Pascasarjana. Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan sudiadnyaniputu19@gmail. Abstrak-Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model discovery learning terintegrasi masalah divergen terhadap hasil belajar matematika ditinjau dari keterampilan berpikir kritis pada siswa kelas V SD Negeri di Gugus VI Kecamatan Sukawati. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu . uasi experimental researc. dengan desain post-test only control. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas V SD Negeri yang ada di Gugus VI Kecamatan Sukawati. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah teknik random sampling, dengan sampel terdiri dari 4 kelas. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif dan statistik inferensial melalui uji ANAVA dua jalur dengan taraf signifikansi pengujian 5%. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menunjukkan: . nilai signifikansi kelompok sebesar 0,000, sehingga terdapat perbedaan hasil belajar Matematika antara kelompok siswa yang menggunakan model Discovery Learning diintegrasikan masalah divergen dengan kelompok siswa yang menggunakan model konvensional pada siswa kelas V, . nilai signifikansi pada interaksi kelompok dan keterampilan berpikir kritis sebesar 0,041, sehingga terdapat pengaruh interaksi antara antara model pembelajaran dan keterampilan berpikir kritis terhadap hasil belajar matematika pada siswa kelas V, . nilai signifikansi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang memiliki keterampilan berpikir kritis tinggi sebesar 0,000, sehingga terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas V yang memiliki keterampilan berpikir kritis tinggi, . nilai signifikansi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang memiliki keterampilan berpikir kritis rendah sebesar 0,000, sehingga terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas V yang memiliki keterampilan berpikir kritis rendah. Kata Kunci : Discovery Learning. Keterampilan Berpikir Kritis. Hasil Belajar Matematika PENDAHULUAN Arus globalisasi yang begitu pesat perkembangannya menjadi tantangan besar bagi masyarakat global. Setiap individu dituntut sigap dalam menerima dan beradaptasi terhadap setiap perkembangan teknologi dan pengetahuan yang ada. Salah satu modal utama yang harus dimiliki generasi bangsa dalam keterampilan berpikir kritis. Berpikir kritis penting bagi seseorang untuk memenuhi tuntutan pribadi, sosial, dan profesional yang selalu berubah dalam masyarakat. Fisher . 9: . mendefinisikan berpikir kritis adalah interpretasi dan evaluasi yang terampil dan aktif terhadap observasi dan komunikasi, informasi dan argumentasi. Ryder . , menyatakan keterampilan berpikir krtitis sangat WIDYA ACCARYA 2025 penting dalam aktivitasAeaktivitas harian manusia dan hanya pribadi-pribadi yang cakap yang memiliki kemampuan untuk berkembang (Tawil & Liliasari, 2013:. Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu gebrakan yang saat ini sedang digaungkan dalam dunia pendidikan dalam menghadapi tantangan di era di era indistri 4. 0 yaitu Penguatan Numerasi. Numerasi merupakan kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga Indonesia dan warga Konteks numerasi sangat erat kaitannya dengan pelajaran matematika, karena pada dasarnya pelajaran matematika tidak hanya menyajikan operasi hitung yang siap saji. P a g e 169 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index namun konsep matematika dapat disajikan dalam bentuk soal cerita yang membutuhkan Prihandoko . mengemukakan bahwa matematika merupakan bagian dari ilmu pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa matematika adalah suatu ilmu pengetahuan yang bersifat abstrak, yang membutuhkan kecermatan dalam mempelajarinya sebagai sarana berpikir logis yang sistematis, logis, dan Matematika dikatakan mempunyai nilai praktis karena matematika merupakan suatu alat yang dapat langsung dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan sehari-hari. Untuk permasalahan sehari-hari yang berkaitan dengan bidang ilmu matematika, maka sangat perlu mengembangkan keterampilan berpikir Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas V SD Negeri di gugus VI dari tanggal 9 Desember 2024 sampai dengan 19 Desember 2024 menunjukkan bahwa interaksi yang dibangun di dalam kelas sudah baik yakni dengan memberikan ice breaking sebelum dan disela-sela kegiatan pembelajaran untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, dan beberapa dari guru kelas V di SD Negeri gugus VI kecamatan Sukawati sudah memanfaatkan video pembelajaran sebagai penunjang pengemasan tugas individu maupun kelompok, siswa hanya dihadapkan pada penugasanpenugasan yang berfokus pada menemukan informasi ataupun menyelesaikan operasi hitung yang siap saji. Hasil dari pengumpulan data hasil SAS (Sumatif Akhir Semeste. Matematika kepada siswa kelas V SD di gugus VI Kecamatan Sukawati menunjukkan, bahwa hasil SAS (Sumatif Akhir Semeste. siswa kelas V dengan jumlah siswa sebanyak 300 siswa, menunjukkan nilai rata-rata hasil belajar matematika 64,14. Dilihat dari KKTP Matematika di kelas V SD Negeri di gugus VI Kecamatan Sukawati yaitu 75. Hal tersebut membuktikan, bahwa keterampilan berpikir WIDYA ACCARYA 2025 permasalahan matematika yang dipelajari di kelas V masih belum maksimal, sehingga berdampak pada hasil belajar siswa yang Hasil SAS (Sumatif Akhir Semeste. matematika yang cenderung rendah tersebut juga diperkuat dengan hasil wawancara yang pernah dilakukan dengan narasumber guru kelas V di SD Negeri gugus VI Kecamatan Sukawati dari tanggal 9 Desember 2024 sampai dengan 19 Desember 2024, menyatakan bahwa keterampilan berpikir kritis matematika siswa rendah disebabkan karena . masih minim minat siswa dalam pelajaran matematika, . masih rendahnya keterampilan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal cerita, . mendukung, . siswa cenderung kurang fokus saat mengikuti kegiatan pembelajaran, . masih matematika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, . guru kekurangan waktu mengajar akibat materi yang terlalu padat, . kurangnya penerapan model-model pembelajaran, . sebagian siswa cenderung tidak tepat waktu mengumpulkan tugas harian, dan . siswa mudah lupa dengan konsepkonsep yang dipelajari sebelumnya. Berdasarkan meminimalisir aktivitas guru dalam proses Selain itu, guru juga sudah mencoba menerapkan metode tanya jawab dalam kegiatan pembelajaran dengan harapan siswa ikut terlibat aktif serta berpartisipasi dalam menciptakan suasana pembelajaran yang Namun, upaya yang dilakukan oleh guru belum menunjukkan hasil yang Beranjak dari permasalahan yang sudah dipaparkan sebelumnya, maka sangat penting bagi guru untuk merenovasi Pengupayaan merenovasi proses pembelajaran tidak lain bertujuan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan permasalahan khususnya pada mata pelajaran matematika, sehingga diharapkan dengan terampil dalam P a g e 170 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index berpikir kritis siswa mampu membuat . Simulation (Pemberian rangsanga. , . keputusan yang tepat dengan menggunakan Problem statement (Identifikasi masala. , . konsep-konsep ilmiah, dan dapat bersikap Data collection (Pengumpulan Dat. , . Data ilmiah dalam memecahkan permasalahan yang processing (Pengolahan Dat. , . Verification (Pembuktia. , dan . Generalization (Menarik Salah satu model pembelajaran yang mengajak siswa untuk membiasakan diri Menurut Heinich. Molenda, dan Russell . alam Sunarto. Muhammad Fikri, dkk, permasalahan adalah model Discovery 2022:. keunggulan model Discovery Learning. Model Discovery Learning Learning sebagai berikut: . Ketertarikan siswa serta pembentukan konsep abstrak memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjadi bermakna dicapai melalui pengalaman menemukan informasi yang berupa konseplangsung yang dilakukan dalam kegiatan konsep dan prinsip-prinsip dalam suatu proses , . Pembelajaran lebih realistis mental, yang dilakukan melalui kegiatan dan berarti karena dilatarbelakangi oleh interaksi langsung siswa dengan contoh-contoh nyata, . Melibatkan siswa secara langsung diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, dalam pembelajaran, . Serta membangkitkan sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. motivasi siswa, . Cocok diterapkan pada Menurut Takdir berbagai tingkatan sekolah, dan . Siswa bisa Setiangningrum Wardani . menemukan suatu konsep dari materi tanpa menyatakan bahwa Discovery Learning Adapun kelemahannya : . Pada siswa merupakan pembelajaran yang menekankan harus ada kesiapan dan kematangan mental, memiliki keberanian dan keinginan yang kuat mengoraganisasikan bahan pelajaran yang untuk mengetahui keadaan sekitarnya dengan dipelajarinya dengan suatu bentuk akhir yang baik, . Bila kelas terlalu besar penggunaan sesuai dengan tingkat kemajuan berpikir anak metode ini akan kurang efektif, dan . tanpa harus selalu bergantung pada teori-teori Membutuhkan waktu yang relatif lama. pembelajaran yang ada dalam pedoman buku Mengacu pada latar belakang yang Sejalan dengan pernyataan tersebut, telah dipaparkan, maka perlu dilakukan tindak Mulyasa dikutip Setiangningrum & Wardani lanjut terkait rendahnya hasil belajar . juga menyatakan bahwa Discovery matematika siswa melalui sebuah penelitian Learning merupakan suatu pembelajaran yang eksperimen untuk mengetahui sejauh mana melibatkan siswa untuk menemukan atau Model Discovery Learning menyelidiki sesuatu yang bermakna dalam Terintegrasi Masalah Divergen Terhadap Hasil pembelajaran melalui pengalaman langsung. Belajar Matematika Ditinjau dari Keterampilan Berdasarkan pendapat tersebut, dapat Berpikir Kritis pada Siswa Kelas V SD Negeri dikatakan bahwa model Discovery Learning di Gugus VI Kecamatan Sukawati. dalam pembelajaran matematika dapat mendorong siswa untuk lebih aktif dalam II. METODE PENELITIAN menemukan konsep-konsep belajarnya secara Jenis penelitian yang dilakukan adalah mandiri melalui aktivitas-aktivitas yang . uasi membutuhkan sikap ilmiah dalam memecahkan experimental researc. Rancangan penelitian suatu permasalahan. Selain itu, model yang digunakan adalah non equivalent posttest pembelajaran Discovery Learning mendorong only control group design dengan rancangan siswa untuk melakukan berbagai aktivitas fisik faktorial 2 x 2. Dalam non equivalent posttest only control group design terdapat dua mengembangkan keterampilan berpikir kritis. kelompok yang dipilih, yakni kelas eksperimen Menurut Kemendikbud . ada enam dan kelas kelas kontrol. Desain penelitian dan tahapan pelaksanaan Discovery Learning yaitu: WIDYA ACCARYA 2025 P a g e 171 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index rancangan ANAVA dua jalur pada penelitian ini digambarkan sebagai berikut. Tabel 3. Pupulasi Siswa Kelas V SD Negeri di Gugus VI Kecamatan Sukawati Tabel 1. Non equivalent Post-test Only Control Grup Design PostKelas Treatment Model Discoveri Kelompok Learning Eksperimen diintegrasikan Masalah Divergen Kelompok Model Pembelajaran Kontrol Konvensional Sebelum sampel, perlu dilakukan uji kesetaraan hasil belajar berupa nilai SAS (Sumatif Akhir Tabel 2. Rancangan Anava 2x2 by Level Semeste. Matematika pada siswa kelas V SD negeri di gugus VI Sukawati. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik random sampling atau sampling acak. Pengambilan dua kelas secara acak dilakukan setelah uji kesetaraan terhadap seluruh populasi. Uji kesetaraan dilakukan Keterangan : (A. : Kelompok siswa yang mengikuti model Discovery dengan memanfaatkan aplikasi SPSS 25. 0 for Learning diintegrasikan masalah divergen windows dengan signifikansi 5% atau 0,05. (A. : Kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran Berdasarkan data hasil uji kesetaraan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dari 45 (B. : Kelompok siswa yang memiliki keterampilan berpikir pasangan SD di gugus VI kecamatan Sukawati kritis tinggi (B. : Kelompok siswa yang memiliki keterampilan berpikir 26 pasangan sekolah dikategorikan setara kritis rendah dengan nilai signifikansi lebih dari 0,05. Dari (A. : Kelompok siswa yang mengikuti model Discovery 26 pasangan sekolah yang masuk kategori (B. Learning diintegrasikan masalah divergen dan setara, selanjutnya dilakukan sistem Random Kelompok siswa yang memiliki keterampilan berpikir kritis tinggi Sampling untuk pemilihan kelas kontrol dan (A. : Kelompok siswa yang mengikuti model Discovery kelas eksperimen. Berdasarkan hasil Random (B. Learning diintegrasikan masalah divergen dan Sampling yang telah dilakukan, maka Kelompok siswa yang memiliki keterampilan berpikir didapatkan bahwa kelas V SDN 6 Batubulan kritis rendah Kelas VA dan SDN 6 Batubulan kelas VB (A. : Kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran (B. konvensional dan Kelompok siswa yang memiliki sebagai kelas kontrol serta kelas V SDN 5 keterampilan berpikir kritis tinggi Batubulan dan SDN 7 Batubulan sebagai kelas (A. : Kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran (B. konvensional dan Kelompok siswa yang memiliki Menentukan jumlah siswa memiliki keterampilan berpikir kritis rendah keterampilan berpikir kritis tinggi dan jumlah Prosedur penelitian ini menggunakan siswa yang memiliki keterampilan berpikir tiga tahapan yakni tahap persiapan, tahap kritis rendah, baik pada kelas kontrol maupun pelaksanaan dan tahap akhir. Populasi dalam kelas eksperimen yang dilakukan yaitu penelitian ini adalah seluruh kelas V SD melakukan perangkingan pada kelompok yang Negeri yang ada di Gugus VI Kecamatan tinggi dan kelompok yang rendah berdasarkan Sukawati. Komposisi anggota populasi dapat skor SAS yang diperoleh dengan ketentuan dilihat pada Tabel 3. 33% dari kelompok dengan keterampilan berpikir kritis rendah dan 33% dari kelompok dengan keterampilan berpikir kritis tinggi. WIDYA ACCARYA 2025 P a g e 172 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Pengambilan masing-masing 33% kelompok atas dan kelompok bawah adalah modifikasi dari Sugiyono, . Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode Dalam Penelitian ini, tes hasil belajar dan tes keterampilan berpikir kritis dalam bentuk soal uraian. Dalam penelitian ini, fokus pengukuran adalah pencapaian kompetensi dalam ranah kognitif, yang mencakup aspek analisis (C. hingga mencipta (C. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial . tatistik parametri. melalui uji ANAVA dua jalur yang diawali dengan analisis prasyarat yaitu uji normalitas dan uji Jika uji prasyarat sudah terpenuhi maka dilakukan uji ANAVA dua jalur untuk menganalisis apakah hipotesis diterima atau i. HASIL DAN PEMBAHASAN Data tes hasil belajar matematika berupa pilihan ganda kompleks yang terdiri dari 20 soal dengan jumlah siswa kelompok eksperimen sebanyak 63 siswa dan kelompok kontrol sebanyak 68 siswa. Rekapitulasi data hasil belajar matematika siswa kelas V disajikan pada tabel 4. sebagai berikut. kelompok ekperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada grafik histogram di bawah ini. Gambar 1. Grafik Histogram Kelompok Eksperimen Uji normalitas dalam penelitian kolmogorov-Smirnov (S-K) dengan bantuan IBM SPSS statistic 25. Adapun kriteria pengujiannya yaitu apabila skor signifikansi KS > 0,05, maka data penelitian yang diperoleh berdistribusi normal, sedangkan apabila skor signifikansi K-S < 0,05, maka data penelitian yang diperoleh berdistribusi tidak normal. Hasil Uji normalitas dapat dilihat pada tabel 5. sebagai berikut. Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Menggunakan Statistik Kolmogorov-Smirnov Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Data Hasil Belajar Tiap-tiap Kelompok Perbedaan hasil belajar matematika Gambar 2. Grafik Histogram Kelompok Kontrol WIDYA ACCARYA 2025 P a g e 173 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Berdasarkan hasil uji normalitas yang ditunjukkan pada tabel 4. 19 menggunakan Kolmogorov-Smirnov Asymp. Sig. sebesar 0,085 yang berarti bahwa 0,085 > 0,05 sehingga syarat normalitas berdistribusi normal. Dalam penelitian eksperimen ini, uji homogenitas menggunakan uji LeveneAos dengan bantuan IBM SPSS statistic 25. Adapun kriteria pengujiannya yaitu jika sig. (Base On Mea. > 0,05 maka H0 diterima yang berarti populasi kedua kelompok penelitian homogen. Hasil Uji homogenitas dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6. Hasil Uji Homogenitas Menggunakan Uji LeveneAos Berdasarkan hasil uji homogenitas LeveneAos signifikansi Based On Mean yakni 0,655 yang berarti bahwa 0,655 > 0,05 sehingga syarat homogenitas terpenuhi atau data hasil penelitian adalah homogen. Mengacu pada hasil uji normalitas menggunakan statistik Kolmogorov-Smirnov dan hasil uji homogenitas menggunakan uji LeveneAos dengan taraf signifikansi > 0,05, maka dapat dikatakan bahwa uji prasyarat untuk pengujian hipotesis menggunakan ANAVA dua jalur telah terpenuhi sehingga dapat Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan ANAVA dua jalur dengan taraf signifikansi 5%. Hasil perhitungan dengan ANAVA dua jalur dapat dilihat pada tabel 7. sebagai berikut. WIDYA ACCARYA 2025 Tabel 7. Hasil Uji ANAVA Dua Jalur Berdasarkan tabel 7. hasil uji ANAVA dua jalur menunjukkan bahwa nilai signifikansi kelompok sebesar 0,000, dengan kata lain 0,000 < 0,05. Mengacu pada nilai signifikansi yang kurang dari 0,05, maka H0 ditolak sehingga terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model Discovery Learning terintegrasi masalah divergen dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Negeri di gugus VI Sukawati. Berdasarkan tabel 7. hasil uji ANAVA dua jalur menunjukkan bahwa nilai signifikansi pada interaksi kelompok dan keterampilan berpikir kritis sebesar 0,041, dengan kata lain 0,041 < 0,05. Mengacu pada nilai signifikansi yang kurang dari 0,05, maka H0 ditolak sehingga terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan keterampilan berpikir kritis terhadap hasil belajar matematika pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri di gugus VI Sukawati. Berikut hasil pengujian dapat divisualisasikan secara grafis pada gambar 3. sebagai berikut. Gambar 3. Interaksi Model Pembelajaran dan Keterampilan Berpikir Kritis Terhadap Hasil Belajar Matematika P a g e 174 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Berdasarkan digambarkan bahwa Skor rata-rata hasil belajar matematika ditinjau dari keterampilan berpikir kritis tinggi dan rendah pada kelompok siswa menggunakan model Discovery Learning terintegrasi masalah divergen lebih baik dibandingkan dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Negeri di gugus VI Sukawati yang menandakan adanya interaksi antara model pembelajaran dan keterampilan berpikir kritis terhadap hasil belajar matematika. Untuk pengujian hipotesis 3, maka dilakukan uji lanjut . ost ho. untuk mengetahui kelompok mana yang lebih unggul menggunakan uji tukey. Hasil perhitungan uji lanjut dapat dilihat pada tabel 8. Tabel 8. Hasil Uji Lanjut (Post Ho. ANAVA Dua Jalur Menggunakan Uji Tukey pada Keterampilan Berpikir Kritis Tinggi Berdasarkan tabel 8. hasil uji lanjut . ost ho. ANAVA dua jalur menggunakan uji tukey menunjukkan bahwa nilai signifikansi kelompok ekperimen dan kelompok kontrol yang memiliki keterampilan berpimir kritis tinggi sebesar 0,000, dengan kata lain 0,000 < 0,05. Mengacu pada nilai signifikansi yang kurang dari 0,05, maka H0 ditolak sehingga terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model Discovery Learning terintegrasi masalah divergen dengan kelompok siswa yang WIDYA ACCARYA 2025 mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri di gugus VI Sukawati pada kelompok siswa yang memiliki keterampilan berpikir kritis tinggi. Untuk pengujian hipotesis 4, maka dilakukan uji lanjut . ost ho. untuk mengetahui menggunakan uji tukey. Hasil perhitungan uji lanjut dapat dilihat pada tabel 9. Tabel 9. Hasil Uji Lanjut (Post Ho. ANAVA Dua Jalur Menggunakan Uji Tukey pada Keterampilan Berpikir Kritis Rendah Berdasarkan tabel 9. hasil uji lanjut . ost ho. ANAVA dua jalur menggunakan uji tukey kelompok ekperimen dan kelompok kontrol yang memiliki keterampilan berpikir kritis rendah sebesar 0,000, dengan kata lain 0,000 < 0,05. Mengacu pada nilai signifikansi yang kurang dari 0,05, maka H0 ditolak sehingga terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model Discovery Learning terintegrasi masalah divergen dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri di gugus VI Sukawati pada kelompok siswa yang memiliki keterampilan berpikir kritis rendah. Hasil belajar yang diperoleh siswa menjadi salah satu tolak ukur berhasil atau tidak suatu proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang ideal pada dasarnya mampu memberikan pengalaman yang bermakna pada proses belajar siswa serta memberikan dampak yang positif pada perkembangan siswa baik secara kognitif, afektif maupun psikomotor. Model pembelajaran Discovery Learning terintegrasi masalah divergen menjadi salah satu model kooperatif yang menekankan kerja sama antar siswa dalam kelompok kecil dalam P a g e 175 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index menyelesaikan suatu permasalahan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam model pembelajaran Discovery Learning terintegrasi masalah divergen, siswa tidak hanya dihadapkan pada pemecahan permasalahan yang menuntut satu jawaban, namun siswa dituntut untuk menemukan lebih dari satu pemecahan masalah. Dengan memberikan ruang kepada siswa untuk menemukan lebih dari satu pemecahan secara langsung siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-konsep yang Selain itu masalah divergen juga dapat mendorong kreatifitas dan inovasi dalam cara-cara memahami dan mengaplikasikan konsepkonsep yang dipelajari. Dalam model Discovery Learning terdapat 6 tahapan yang dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis diantaranya : : . Simulation (Pemberian . Problem (Identifikasi masala. , . Data collection (Pengumpulan Dat. , . Data processing (Pengolahan Dat. , . Verification (Pembuktia. , dan . Generalization (Menarik Berdasarkan 6 tahapan model Discovery Learning, tampak bahwa proses memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa dalam menyelesaikan suatu permasalahan dan melatih keterampilan berpikir kritis siswa sehingga hasil diperoleh mudah dipahami dan tahan lama dalam Peran guru dalam penerapan model Discovery Learning hanya sebagai fasilitator yang memfasilitasi kebutuhan belajar siswa dalam menemukan konsep-konsep baru dan membimbing siswa dalam mengintrepretasikan hasil temuannya. Berbeda halnya dengan model pembelajaran konvensional, yang mana proses pembelajarannya berpusat kepada guru . eacher cente. yang artinya peran siswa dalam pembelajaran ini sangat minim yang mengakibatkan potensi yang dimiliki siswa kurang dapat dikembangkan. Dalam model pembelajaran konvensional siswa hanya WIDYA ACCARYA 2025 melakukan tahapan apersepsi, penjelasan konsep, latihan terbimbing dan mengecek pemahaman serta memberikan umpan balik. Pada kegiatan apersepsi, guru mengajukan beberapa pertanyaan dasar untuk mengarahkan siswa pada materi yang akan dipelajari. Kegiatan penjelasan konsep tampak pada guru menjelaskan konsep-konsep yang dipelajari dan siswa hanya mendengarkan informasi yang berasal dari satu sumber yakni guru. Kegiatan latihan terbimbing tampak saat siswa hanya mengerjakan LKS yang diberikan oleh guru. Kegiatan memberikan umpan balik tampak pada siswa menyimpulkan serta guru memberikan umpan balik terhadap hasil kerja siswa. Beranjak dari serangkaian proses pembelajaran yang terdapat dalam model pembelajaran konvensional secara langsung dapat membuat siswa mudah bosan dan kurang interaktif. Situasi pembelajaran yang cenderung monoton dan membosankan berdampak pada motivasi intrinsik dan hasil belajar siswa yang rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian Anintya Putri Wahyuni, dkk . meneliti tentang Pengaruh Model Pembelajaran Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar. Hasil Penelitiannya adalah berdasarkan hasil analisis data, tentang uji t menggunakan SPSS 21. Diperoleh taraf signifikansi t sebesar 0. Oleh karena taraf signifikansi t kurang dari taraf signifikansi pengujian yaitu 0,001 < 0,050, maka ditolak, yang berarti terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dan Pembelajaran Langsung sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model Discovery Learning terhadap hasil belajar matematika pada materi bangun ruang sisi Hal tersebut terjadi, karena melalui pengalaman yang bermakna yang diperoleh dalam proses pembelajaran yang menerapkan model Discovery Learning, menjadikan kemampuan berpikir kritis siswa menjadi berkembang sehingga berdampak pada hasil belajar yang memuaskan. P a g e 176 Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index IV. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat diuraikan menjadi empat simpulan hasil penelitian yang merupakan jawaban terhadap empat masalah yang diajukan dalam penelitian ini. Simpulansimpulan tersebut adalah sebagai berikut: . Terdapat perbedaan hasil belajar Matematika antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model Discovery Learning terintegrasi masalah divergen yang memperoleh skor rata-rata sebesar 32,67 dengan kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional yang memperoleh skor rata-rata sebesar 29,95 pada siswa kelas V SD Negeri di Gugus VI Kecamatan Sukawati 2024/2025. Nilai signifikansi kelompok sebesar 0,000, dengan kata lain 0,000 < 0,05. Terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan keterampilan berpikir kritis terhadap hasil belajar matematika pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri di Gugus VI Kecamatan Sukawati 2024/2025 dengan signifikansi pada interaksi kelompok dan keterampilan berpikir kritis sebesar 0,041 dengan nilai signifikansi < 0,005. Terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model Discovery Learning terintegrasi masalah divergen yang memperoleh skor rata-rata sebesar 34,10 dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional yang memperoleh skor rata-rata sebesar 31,91 pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri di Gugus VI Kecamatan Sukawati tahun pelajaran 2024/2025 pada kelompok siswa yang memiliki keterampilan berpikir kritis tinggi. Nilai Signifikansi uji lanjut ANAVA dua jalur menggunakan uji Tukey sebesar 0,000 dengan kata lain 0,000 < 0,05. Terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model Discovery Learning memperoleh skor rata-rata sebesar 31,24 dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional yang memperoleh skor rata-rata sebesar 28,00 pada siswa kelas V WIDYA ACCARYA 2025 Sekolah Dasar Negeri di Gugus VI Kecamatan Sukawati tahun pelajaran 2024/2025 pada kelompok siswa yang memiliki keterampilan berpikir kritis rendah. Nilai Signifikansi uji lanjut ANAVA dua jalur menggunakan uji Tukey sebesar 0,000 dengan kata lain 0,000 < 0,05. DAFTAR PUSTAKA