Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 INTERAKSI DAN RESEPSI MASYARAKAT BONDOWOSO TERHADAP AL QURAoAN Khoirul Ulum Dosen Institut Agama Islam At Taqwa Bondowoso Ulum@Yahoo. Com Ahmad Khoirur Roziqin Sekolah Tinggi Ilmu Al Quran Wali Songo Situbondo Ziqnokia@Gmail. Com Abstrak Studi mengenai Living QurAoan merupakan studi al-QurAoan yang tidak hanya bertumpu pada eksistensi tekstualnya, melainkan studi tentang fenomena sosial yang lahir terkait dengan kehadiran alQurAoan dalam wilayah geografi tertentu dan mungkin masa tertentu pula. Kajian living al-QurAoan semakin menarik seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat Islam terhadap ajaran agamanya. Kita banyak menjumpai kegiatan-kegiatan keagamaan, baik di tempat-tempat tertentu seperti masjid maupun di media cetak dan elektronik. Penelitian ini mengangkat tema AuPembacaan dan Pemaknaan AlQur'an (Studi Masyarakat Bondowos. Sebagai upaya dan aplikasi kajian living al-QurAoan. Lokasi yang menjadi focus kajian adalah di Kabupaten Bondowoso. Kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu penelitian kepustakaan . ibrary researc. dan penelitian lapangan . ield researc. Sumber utama penelitian ini adalah ayat-ayat al-QurAoan yang hidup dalam masyarakat berupa fenomena prilaku maupun respons lainnya sebagai pemaknaan terhadap ayat tersebut. Sedangkan sumber sekundernya dapat berupa literatur- literatur pendukung sumber primer. Berdasarkan kajian mengenai Interaksi dan Resepsi Masyarakat Bondowoso terhadap Al-Qur'an, maka terdapat beberapa kesimpulan bahwa interaksi dibagi menjadi dua moment, yaitu rutinan dan moment insidental menyesuaikan hajat . Pelaksanaan tersebut terdiri dari berbagai bentuk dan model-model ritual pembacaan al-QurAoan meliputi: . Khataman al-QurAoan. Yasinan. Tahlilan. Sedangkan resepsi dari interaksi tersebut terdapat tiga makna. Diantaranya. sebagai kitab bacaan mulia, obat hati dan sarana perlindungan dari bahaya siksa di hari akhir. Tiga makna tersebut, tidak mesti berjalan secara bersamaan, dan terkadang mempunyai makna bersamaan sekaligus. Keyword: Interaksi. Resepsi. Bondowoso PENDAHULUAN Berinteraksi dengan al-Qur'an merupakan salah satu pengalaman beragama yang berharga bagi seorang Muslim. Pengalaman berinteraksi dengan al-Qur'an dapat terungkap atau diungkapkan melalui lisan, tulisan, maupun perbuatan, baik berupa pemikiran, pengalaman emosional maupun spiritual. Pengalaman berinteraksi dengan al-Qur'an menghasilkan pemahaman dan penghayatan terhadapayat-ayat al-Qur'an tertentu secara atomistic. Pemahaman dan penghayatan individual yang diungkapkan dan dikomunikasikan secara verbal maupun dalam bentuk tindakan tersebut dapat mempengaruhi taraf tertentu melahirkan tindakantindakan kolektif dan terorganisasi. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Bentuk Volume 7. No. Juni 2024 al-Qur'an p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 membaca al-Qur'an, memahami dan menafsirkan al-Qur'an, menghafal al-Qur'an, berobat dengan al-Qur'an, memohon berbagai hal dengan al-Qur'an, mengusir mahluk halus dengan al-Qur'an, menerapkan ayat-ayat al-Qur'an tertentu dalam kehidupan individual maupun dalam kehidupan social, dan menuliskan ayat-ayat al- Qur'an untuk menangkal gangguan maupun untuk hiasan. Bagi orang yang tidak paham realita sosial masyarakat dan tak memakai kacamata sosial humaniora, akan dengan mudah memberikan stempel sesat atau minimal bidAoah terhadap praktek-praktek transformatif semacam ini. Padahal inilah yang disebut dengan transformasi atau perubahan atas bentuk pengetahuan dan praktek yang ditransmisikan dari generasi ke generasi, sebagai resepsi umat terhadap kitab suci. Anggapan-anggapan tertentu terhadap al-Qur'an dari berbagai komunitas di atas, menjadi salah satu faktor pendukung munculnya praktik mengfungsikan al-Qur'an dalam kehidupan praksis, di luar kondisi tekstualnya. Perubahan kajian pemaknaan teks menjadi kepada kajian social-budaya, yang menjadikan masyarakat agama sebagai Kajian ini sering disebut dengan istilah Auliving al-QurAoanAy dan Auliving alhadisAy. Secara sederhana. Auliving al-QurAoanAy dapat dimaknai sebagai gejala yang nampak di masyarakat berupa pola-pola prilaku yang bersumber dari maupun respons sebagai pemaknaan terhadap nilai-nilai QurAoani. 1The living QurAoan bermula dari fenomena QurAoan in Everyday, yang tidak lain adalah makna dan fungsi al- QurAoan yang riil difahami dan dialami masyarakat Muslim, artinya praktik memfungsikan al-QurAoan dalam kehidupan praktis, diluar kondisi tekstualnya. Selain itu, studi mengenai Living QurAoan juga merupakan studi al-QurAoan yang tidak hanya bertumpu pada eksistensi tekstualnya, melainkan studi tentang fenomena sosial yang lahir terkait dengan kehadiran al-QurAoan dalam wilayah geografi tertentu dan mungkin masa tertentu pula. Kajian living al-QurAoan semakin menarik seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat Islam terhadap ajaran agamanya. Kita banyak menjumpai kegiatan-kegiatan Muhammad Mansur. AuLiving QurAoan dalam Lintasan Sejarah Studi Al-QurAoanAy, dalam Metodologi Penelitian Living QurAoan dan Hadis. Syahiron Syamsuddin . ) (Yogyakarta: TH Press, 2. , 5. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 keagamaan, baik di tempat-tempat tertentu seperti masjid maupun di media cetak dan Dalam lintas sejarah Islam, bahkan pada era yang sangat dini, praktek memperlakukan al-QurAoan atau unit-unit tertentu dari al-QurAoan sehingga bermakna dalam kehidupan praksis umat pada dasarnya sudah terjadi ketika Nabi Muhammd saw masih Berpijak dari hal tersebut penyusun tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut, dengan rumusan judul Pembacaanan Pemaknaan AlQur'an (Studi Masyarakat Bondowos. Sebagai upaya dan aplikasi kajian living alQurAoan. Pembatasan penelitian menyoroti dari bingkai model-model pelaksanaan pembacaan dan pemaknaan terhadap Al-QurAoan di masyarakat. Sorotan ini merupakan hipotesa sementara penyusun dari hasil penelusuran terhadap berbagai kegiatan keagamaan di Kabupaten Bondowoso. Dari hal tersebut, penyusun melihat adanya pemaknaan tersendiri dan keterpengaruhan yang muncul dalam konsep keseharian masyarakat. Penelitian akademis ini diharapkan dapat mengungkap warisan budaya tentang berbagai peristiwa sosial terkait dengan kehadiran atau keberadaan al- QurAoan di sebuah komunitas Muslim tertentu. Kajian Terdahulu Penulis sadari bahwa apresiasi masyarakat Muslim dalam memperlakukan alQur'an telah banyak dibahas oleh beberapa peneliti terdahulu, baik itu berupa penelitian langsung maupun hanya sekedar opini. Respon atau apresiasi masyarakat Muslim dalam memperlakukan al-Qur'an telah populer di kalangan akademik dengan istilah Living Qur'an. 3 Berbagai ilmu dan pendekatan telah digunakan untuk menganalisis Muhammad Mansur. AuLiving QurAoan Dalam Lintasan Sejarah Studi Al-QurAoanAy, dalam Metodologi. , hlm. Menurut laporan riwayat konon Nabi saw pernah menyembuhkan penyakit dengan ruqyah lewat surat al-fatihah, atau menolak sihir dengan surat al-MuAoawwizattain. Kalau praktek semacam ini sudah ada pada zaman Nabi saw, maka hal ini berarti bahwa al-QurAoan diperlakukan sebagai pemangku fungsi diluar kapasitasnya sebagai teks. Sebab secara semantik surat al-Fatihah tidak memiliki kaitan dengan soal penyakit tetapi digunakan untuk fungsi di luar fungsi semantisnya. Living Qur'an atau al-Qur'an in everyday life dalam konteks ini adalah kajian atau penelitian ilmiah tentang berbagai peristiwa sosial terkait dengan kehadiran Qur'an atau keberadaan al-Qur'an di sebuah komunitas Muslim tertentu. Muhammad Mansur "Living Qur'an Dalam Lintasan Sejarah". Makalah. Seminar Living al-Qur'an dan Hadis. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tanggal 8-9 Agustus 2006, 6. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 masalah ini, baik itu yang menggunakan pendekatan sosiologis, fenomenologis, psikologis maupun yang lainnya. Dari telaah kepustakaan yang telah dilakukan, dalam rangka penelitian tentang AuPembacaan dan Pemaknaan Al-Qur'an (Studi Masyarakat Bondowos. Ay diperoleh gambaran bahwa literatur yang berkaitan dengan masalah tersebut sangat terbatas. Hanya ada beberapa literatur teknis yang didapatkan, diantaranya adalah Sabaruddin dalam tulisannya AuIslam Di Pean (Potret Dinamika Islam di Dusun Grandu Sendangtirto Berbah Slema. ,4 memberikan banyak informasi mengenai pola-pola keberagamaan masyarakat. Disebutkan bahwa setiap masyarakat apakah dalam bentuk suku bangsa maupun daerah, telah melalui jalan sejarahnya masing- masing. Dalam perjalanan sejarah itu, ditemukan dan terbentuk berbagai nilai yang kemudian diakui dan diterima sebagai pengawal . dan pemandu . Dengan nilai-nilai itulah setiap suku bangsa membentuk tradisi kehidupannya. Pembahasan keutamaan faedah-faedah membaca al-QurAoan seorang muslim akan menemukan kenikmatan membaca al-QurAoan ketika dia telah membacanya sampai selesai . , terdapat dalam karya tulis Zainal Abidin S. dalam bukunya Seluk Beluk al-QurAoan. Dalam buku tersebut tidak menjelaskan secara detail. Berbeda dengan penelitian ini, di mana peneliti mencoba menguraikan makna dan tujuan pelaksanaan pembacaan al-QurAoan ditinjau dari berbagai aspek, diantaranya. spritual dan sosial. Beberapa buku yang dikemukakan di atas, sedikit banyak akan mendukung dalam pembahasan penelitian ini. Selain itu semua, masih banyak karya-karya yang membahas mengenai apresiasi dan respon masyarakat Muslim dalam memperlakukan al-Qur'an. Misalnya dalam Penelitian Muh. Ali Wasik. Fenomena Pembacaan al-QurAoan dalam Masyarakat Pedukuhan Srumbung Pleret Bantul menjelaskan respon masyarakat terhadap perintah membaca al-QurAoan dan mengetahui model-model bacaan al-QurAoan dan bagian mana saja dalam al-QurAoan yang sering dibaca. Sabaruddin . alah seorang dosen tetap pada Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijag. , makalah tidak diterbitkann dan disampaikan di Forum Program Diskusi Ilmiah Dosen Tetap UIN Sunan Kalijaga Tahun Ke-27 Tahun Akademik 2004/2005 pada tanggal 10 Juni. Zainal Abidin S. Seluk Beluk al-QurAoan (Jakarta: Rinaka Cipta, 1. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Penelitian Ali Wasik di atas, juga terkait dengan living QurAoan yaitu mengamalkan al-QurAoan dengan melakukan pembacaan surat atau ayat-ayat tertentu. Hasil dari penelitian di atas membaca al-QurAoan adalah sebuah keharusan yang mesti dilakukan oleh orang Islam, kesadaran ini diperoleh dari saran seorang Kiai dan terdapat bagian-bagian ayat-ayat al-QurAoan yang diyakini masyarakat Srumbung sebagai ayat atau surat istemewa dalam arti memiliki kekuatan magis. Tulisan ini hanya menampilkan model-model bacaan yang berasal dari respon masyarakat terhadap perintah membaca al-QurAoan. Berbeda dengan penelitian ini, yaitu lebih mengfokuskan pemaknaan yang terkandung dari pembacaan al-QurAoan, sehingga menjadi sebuah keyakinan akan berdampak positif terhadap keseharian. Meski tidak dapat ditampik, penelitian ini juga menampilkan model-model bacaan yang ada, tetapi perbedaannya adalah objek materinya, yaitu di masyarakat Kabupaten Bondowoso. Buku dengan judul berdiaolog dengan al-Qur'an memahami Pesan Kitab dalam Kehidupan Masa Kini. Buku ini mengupas berbagai permasalahan terkait dengan kehidupan manusia yang berhubungan dengan al-Qur'an. Adapun poin penting dalam buku tersebut adalah konsep penjagaan al-Qur'an yang dijelaskan Muhammad al-Ghazali berupa penghafalan al-Qur'an. Proses penjagaan dengan penghafalan menunjukkan adanya unsur kemurnian al-Qur'an dengan kesadaran diri berusaha untuk menjaganya. Dalam hal ini melibatkan proses dialog antara manusia dengan al-Qur'an. Muhammad Ghazali juga mengkritik umat muslim dewasa ini karena sikap mereka serta respon terhadap al-Qur'an yang mereka muliakan terkesan sangat tidak bagus. Dari membahas tentang Pembacaan dan Pemaknaan Al-Qur'an (Studi Masyarakat Bondowos. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya menambahkan sebuah wacana mengenai fenomena masyarakat Muslim dalam memperlakukan al-Qur'an. Penelitian yang berusaha untuk makna- makna simbolik dalam setiap suatu tindakan yang dilakukan oleh masyarakat, khususnya yang terlihat di masyarakat Bondowoso. Muhammad Ali Wasik. Fenomena Pembacaan al-QurAoan dalam Masyarakat, skripsi tidak diterbitkan (Yogyakarta: Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, 2. Muhammad Ghazali, terj. Maskur Halim dan Ubaidillah. Berdialog dengan Al-Qur'an "Memahami Pesan Suci dalam Kehidupan Masa Kini", (Bandung: Mizan, 1. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Metodelogi Penelitian Kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif,8 yaitu penelitian kepustakaan . ibrary researc. dan penelitian lapangan . ield researc. Sumber utama penelitian ini adalah ayat-ayat al-QurAoan yang hidup dalam masyarakat berupa fenomena prilaku maupun respons lainnya sebagai pemaknaan terhadap Sedangkan sumber sekundernya dapat b erupa literatur- literatur pendukung sumber primer. Secara garis besar, genre dan obyek penelitian al-QurAoan terdapat beberapa 9 Pertama penelitian yang menempatkan teks al-QurAoan sebagai obyek Sebagaimana Amin al-Khuli menjadikan teks al-QurAoan sebagai obyek kajian dengan istilah Dirasat ma fi al- Nas. Kajian ini biasanya dilakukan oleh sarjana-sarjana Muslim yang disebut dengan istilah tafsir maudu'i . afsir temati. Kedua, penelitian yang menempatkan hal-hal di luar teks al-QurAoan, namun berkaitan erat dengan kemunculannya, sebagai obyek kajian. Penelitian ini oleh Amin al-Khulli disebut Dirasat ma Haul al-QurAoan. Kajian tentang asbab al-Nuzul. Tarikh alQurAoan hingga terjemahannya merupakan dalam kategori penelitian ini dan sangat membantu dalam melakukan kajian teks al-QurAoan. Kajian ini telah mendapat perhatian dari ulama-ulama Islam periode klasik. Ketiga, penelitian yang menjadikan pemahaman terhadap teks al-QurAoan sebagai obyek penelitian. Sejak masa Nabi hingga sekarang, al-QurAoan dipahami dan ditafsirkan oleh umat Islam, baik secara keseluruhan maupun hanya bagian- bagian tertentu dari alQurAoan, dan baik secara mushafi maupun secara tematik. Keempat, penelitan yang memberikan perhatian terhadap respon masyarakat erhadap teks al-QurAoan dan hasil penafsiran seseorang. Termasuk dalam pengertian Aurespon masyarakatAy adalah mereka terhadap teks tertentu dan hasil penafsiran Sosial terhadap al-QurAoan dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari, seperti Penelitian dengan paradigma kualitatif mempunyai ciri-ciri, diantaranya: menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung, sifatnya deskripif analitik, tekanan ada pada proses dan bukan pada hasil, tata pikir induktif dan mengutamakan makna. Nana Sudjana dan Ibrahim. Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Bandung: Sinar Baru, 1. , hlm. Sahiran Syamsuddin. AuRanah-Ranah Penelitian dalam Studi al-QurAoan dan HadisAy dalam AuMetodologi Penelitian Living A, hlm. xi-xiv. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 pentradisian bacaan surat atau ayat tertentu pada acara dan serimoni sosial keagamaan Sementara itu, sosial terhadap penafsiran terjelma dengan dilembagakannya bentuk penafsiran tertentu dalam masyarakat, baik dalam skala besar maupun kecil. Teks al-QurAoan yang hidup di masyarakat itulah yang disebut dengan Living QurAoan. Penelitian semacam ini, kiranya merupakan bentuk penelitan yang menggabungkan antara dua cabang ilmu, yaitu ilmu al-QurAoan dengan cabang ilmu social, seperti sosiologi dan antroplogi. Sehubungan dengan pembagian genre dan obyek penelitian al-QurAoan, maka penelitian ini masuk dalam pembagian yang keempat, yaitu penelitan yang memberikan perhatian terhadap respon masyarakat terhadap teks al-QurAoan atau apresiasi dan respon masyarakat Muslim dalam memperlakukan al-Qur'an. Istilah pembagian keempat ini dengan sebutan Living QurAoan. Dengan demikian, teori yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah apa yang diutarakan oleh Keith A. Robert, dan dikutip oleh Imam Suprayogo, bahwa penelitian yang berbasis sosiologi Aetermasuk kajian living QurAoan- akan memfokuskan terhadap dua hal. 10 Pertama. pengelompokan lembaga agama, meliputi pembetukannya, kegiatan demi kelangsungan hidupnya, pemeliharaannya dan pembubarannya. Kedua, perilaku individu dalam kelompok-kelompok yang mempengaruhi status keagamaan dan perilaku ritual. Selain teori di atas, peneliti juga menggunakan kerangka teori seperti apa yang Heddy Shri Ahimsa Putra Antropolog UGM. berpendapat bahwa al-QurAoan tidak lagi merupakan suatu benda tanpa makna, tetapi bisa merupakan sebuah jagad simbolik tersendiri atau salah satu unsur simbolik dari sebuah jagad simbol. Di sisi lain, disebutkan bahwa salah satu asumsi dasar dari paradigm antropologi hermeneutic adalah manusia sebagai animal symbolicium yaitu hewan yang mampu menggunakan, menciptakan dan mengembangkan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan dari individu satu ke individu yang lain. Simbol yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dimaknai. Imam Suprayogo dan Tobroni. Metodologi Penelitian A, 54-61. Heddy Shri Ahimsa Putra. The Living QurAoan. Beberapa Perspektif Antropologi. Sebuah makalah yang disampaikan dalam Workshop AuMencari Model Penelitian Sosial-Budaya dalam Studi alQurAoan dan Hadis di fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 5 Juni 2007. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 Dengan demikian, al-QurAoan menurut Heddy merupakan simbol p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 yang bisa ditafsirkan berbagai macam oleh umat Islam sebagai animal sybolicium. Berangkat animal symbolicium, maka al-Qur'an menjadi sebagai al-QurAoan sebagai. kitab, obat, sarana perlindungan, sarana mencari rejeki dan sumber pengetahuan. Dalam kajian Living QurAoan, paradigma yang diperlukan tidak sama dengan paradigma yang digunakan untuk mengkaji al-QurAoan sebagai sebuah kitab. Akan tetapi, teks dalam kajian Living QurAoan dimaknai secara metaforis dan merupakan sebuah Teks yang sesungguhnya adalah gejala sosial-budaya itu sendiri, bukan kitab surat atau ayat. Diantara paradigma yang digunakan dalam kajian ini. paradigma kualitatif dimaksudkan untuk memahami fenomena ritus siklus kehidupan sebagai bentuk wujud budaya tradisional masyarakat dan persentuhannya dengan berbagai pembacaan alQurAoan serta pengaruhnya dalam sistem pranata sosial budaya masyarakat sesuai dengan fokus masalah yang telah ditetapkan. Paradigma fungsional yaitu mengetahui fungsi-fungsi dari suatu gejala sosial Dengan paradigma ini, akan diketahui fungsi al-QurAoan dalam konteks aktivitas Paradigma fenomenologi yaitu paradigma yang mempelajari suatu gejala sosialbudaya dengan berusaha mengungkap kesadaran pengetahuan pelaku mengenai dunia yang sedang dihuni dan kesadaran mengenai perilaku. Penggunganaan paradigma ini, tidak lagi menilai kebenaran atau kesalahan pemahaman para pelaku, karena yang dianggap bukan lagi benar-salahnya pemahaman . Tetapi titik tekannya adalah isi pemahaman yang menjadi dasar dari pola-pola perilaku Paradigma hermeneutic. Pada kajian antroplogi, teks bukanlah sesuatu yang tertulis seperti hermeneutic dalam kajian teks, namun dimaknai sebagai gejala sosial budaya. Meski demikian, gejala sosial juga perlu dibaca dan dipahami. PEMBAHASAN Masyarakat Bondowoso Adapun kaitannya dengan objek penelitian, yakni masyarakat Kabupaten Bondowoso sebuah wilayah yang terletak di bagian ujung Timur pulau Jawa, di mana masyarakatnya banyak melakukan kegiatan-kegiatan membaca al-QurAoan sampai Heddy Shri Ahimsa Putra. The Living QurAoan. Beberapa A Heddy Shri Ahimsa Putra. The Living QurAoan. Beberapa A Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 khatam . atau membaca salah satu surat al-QurAoan dalam beberapa model. Terselenggaranya beberapa ritual-, dipastikan tidak lepas dari pemaknaan khusus menurut masyarakat itu sendiri Bondowoso mempunyai historisitas yang kental dengan tradisi masyarakat Muslim terutama dengan pondok pesantrennya. Di mana Bondowoso yang terletak pada wilayah AuTapal KudaAy yaitu. Pasuruan. Probolinggo. Jember. Banyuwangi. Situbondo dan Bondowoso mempunyai kebudayaan yang saling mempengaruhi. Hal ini tidak heran, karena di wilayah AuTapal KudaAy, bahasa Madura merupakan bahasa pengantar yang dominan dalam keseharian masyarakatnya. Meski tidak sedikit masyarakat yang berasal dari Jawa. Sejatinya. Bondowoso tidak mempunyai tokoh yang terkenal di ranah Nasional. Meski demikian, masyarakatnya tetap kental dengan tradisi pesantren. Hal ini dikarenakan banyak kaum santri dan beberapa tokoh panutan yang masih dianggap pengayom meski tidak bertaraf nasional. Namun, tidak sedikit masyarakatnya yang keluar untuk menimba ilmu atau nyantri kepada para ulama ternama yang tidak jauh dari Bondowoso. Seperti Kyai Ahmad Shiddiq di Jember, salah satu tokoh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan penyusun Dzikrul Ghofilin yang menjadi pegangan MANTAB di seluruh Indonesia. Di sebelah timur Bondowoso, terdapat pesantren ternama yang diasuh oleh KH. R Holil As'ad tokoh kharismatik dari Situbondo salah satu putra KH As'ad pengasuh pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo. Ilmu yang diperoleh, kemudian diaplikasikan ke dalam kegiatan-kegiatan keseharian masyarakat Bondowoso. Salah satu tradisi yang berlangsung hingga saat ini adanya khataman al-QurAoan baik bi al-Nadri maupun bi al-ghoib . anpa melihat Kegiatan ini diaplikasikan dalam berbagai seremeniol. Pelaksanaan Interaksi Masyarakat Bondowoso dan Resepsinya terhadap alQurAoan Khataman al-QurAoan Pengertian yang dimaksud adalah kegiatan membaca al-QurAoan sampai khatam yaitu 30 juz. Baik membaca dengan cara melihat mushaf maupun tidak melihat. Di Bondowoso terdapat dua bentuk cara. Pertama, muqaddaman yaitu al-QurAoan telah ditentukan Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 majlis, sehingga 30 juz terbaca semua. Kedua, semaan, yaitu ada yang membaca, dan yang lain niteni atau nyemak . endengarkan sambil mengoreksi pembaca apabila Kegiatan membaca dan menyimak ini hingga khatam selesai 30 juz. Tradisi muqaddaman dan semaan al-QurAoan bagi masyarakat Bondowoso adalah hal yang biasa dilaksanakan. Pada setiap bulan, mereka menyelenggarakan kegiatan membaca dan menyimak al-QurAoan dalam wadah kumpulan Khatmil QurAoan. Dalam cara kedua . , pembaca al-QurAoan adalah orang yang hafal alQurAoan dan biasanya cukup tiga sampai empat pembaca. Ketika para pembaca mulai membaca al-QurAoan, semua yang hadir dalam acara ini memegang al- QurAoan menyimak . ayat demi ayat yang dibaca. Pembacaan dilakukan urutan yang ditentukan. Pergantian dilakukan setelah membaca satu juz dan terkadang setelah dua juz, sesuai kesepakatan antar pembaca. Untuk pembacaan doa dipimpin oleh pembaca yang paling sesepuh . rang yang Sebenarnya, acara khatmil QurAoan di wilayah Bondowoso sudah menjadi tradisi sejak dulu. Namun, hanya berbentuk muqaddaman. Untuk cara yang kedua, yaitu semaan baru ada sejak tahun 1990 an. Hal ini karena belum terdengar adanya masyarakat Bondowoso yang hafal al-QurAoan. Sekitar tahun 1992, hadirnya ustadz Mukarrom 14 berasal dari Malang memberikan pencerahan bagi masyarakat Bondowoso di bidang bacaan al- QurAoan dan khususnya hafalan al-QurAoan. Semenjak itulah, beberapa masyarakat Bondowoso tertarik untuk memperbagus bacaan dan menghafalkan QurAoan dan sekaligus menjadi santri dari ustad Mukarrom. Berjalannya waktu dan pengaruhnya suasana, masyarakat Bondowoso semakin bertambah dan ramai oleh pecinta dan penghafal al-QurAoan. Mereka menyebar kemanakemana untuk belajar serta menghafal al-QurAoan. Dan seiring itu pulalah, semaan alQurAoan semakin digalakkan. Dan akhirnya membentuk jamaah semaan al-QurAoan sebagai cabang semaan al-QurAoan yang didirikan oleh KH. Hamim Djazuli beserta keluarga yang disebut Jantiko. Asli Kawi Malang. Ia juga termasuk salah satu pembaca Majlis Semaan Al-QurAoan Jantiko MANTAB daerah Kabupaten Jember dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Semaan Al-QurAoan JamaAoah Anti Koler (Jantik. Mantab Jantiko Mantab ini tidak lepas dari peran tokoh agama dari Kediri. KH. Hamim Djazuli dengan julukan popular Gus Miek. 15 Bermula pada tahun 1972, gus Miek merintis semaan dan juga Dzikrul Ghofilin dari rumah ke rumah dan hanya beberapa orang saja yang ikut. Baru pada tahun 1986. Gus Miek memproklamirkan kegiatan ini dengan nama Jantiko, bertempat di rumah Bapak Mulyadi. Tata aturan atau pakem dalam pelaksanaan Jantiko adalah: sholat subuh berjamaAoah, membaca al-Fatihah yang dilanjutkan dengan membaca al-QurAoan, sholat dhuha, membaca al-QurAoan, jamaAoah sholat asar, membaca al-QurAoan, jamaAoah sholat magrib, dzikrul ghofilin, jamaAoah sholat isyaAo, doa khataman al-QurAoan. Salah satu tujuan kegiatan ini adalah melatih istiqomah . melaksanakan sholat fardu 5 waktu . hubuh, dhuhur, asar, magrrib dan isyaA. secara berjamaah, dan ihyaAoul bayna isyaAoaini . engisi antara maghrib dan isya dengan beribada. Karena sebuah amaliah yang selalu dilakukan oleh para ulama dahulu. Selain itu, sebuah kegiatan diharapkan mampu menjadi wadah bagi para pecinta dan pejuang al-QurAoan. Salah satu alasan lain yang mendasari Gus Miek mendirikan Jantiko adalah keprihatinannya akan nasib para huffazh . ara penghafal al-QurAoa. yang bersusah payah menghafalkan dan membacakan al-QurAoan tetapi sama sekali tidak ada yang menyimak. Kalaupun para huffazh diundang, biasanya tuan rumah hanya membiarkan mereka membaca begitu saja, dan hanya memikirkan bagaimana melayani dan berapa upahnya. Salah satu tokoh agama dari Tambak Ngadi Mojo Kediri Jawa Timur. Lahir 1939. Wafat Tahun 1993. Muhammad Nurul Ibad. Dhawuh Gus Miek, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2. , hlm. Kata Jantiko ini berasal dari pembicaraan Gus Miek dengan santrinya yang bekerja di bengkel. Saat itu, santri tersebut mempunyai mobil tua yang telah dimodifikasi memakai bahan bakar minyak tanah. Gus Miek bertanya, apakah mobil itu tidak pernah mogok apabila dipakai sehari-hari?. Santri menjawab AuTidak kiai, wong mobil ini antikolerAy. Sejak saat itu, antikoler di masukkan ke dalam kegiatan Gus Miek menjadi JamaAoah Antikoler dengan singkatan Jantiko. Beberapa tahun kemudian, kata Jantiko ditambah dengan kata AuMantabAy ketika acara Jantiko diadakan di rumah KH. Dahnan. Trenggalek. Kata Mantab diambil dari bahasa Arab yaitu A II A, artinya orang yang bertaubat. Akan tetapi. Gus Miek punya singkatannya sendiri, yakni Majelis Nawaitu Tapa Brata. Muhammad Nurul Ibad. Perjalanan dan Ajaran Gus Miek (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2. , 137. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Sepanjang tahun 1986, kegiatan semaan Jantiko hanya dilaksanakan di sekitar Kabupaten Kediri Jawa Timur. Baru kemudian pada 1987 mulai digalakkan di Jember. Seiringya waktu. Jantiko kemudian merambah ke berbagai kota di Pulau Jawa bahkan di luar Jawa, semisal di Yogyakarta. Begitu juga Kabupaten Bondowoso, kota ini juga terdapat Jantiko Mantab, meskipun masuknya kegiatan semaan Jantiko di daerah Bondowoso dianggap terlambat dibanding daerah-daerah yang ada di sekitar Jawa Timur. Menurut pengakuan pengurus Semaan al-QurAoan Jantiko Mantab, kegiatan semacam ini baru ada di Bondowoso sekitar tahun 2002. Mengikuti arus pendiri Jantiko, maka Jantiko Mantab yang didirikan di Bondowoso juga tidak berbeda jauh mengenai maksud, tujuan dan tata Perbedaannya adalah waktu pelaksanaannya dan para pembacanya. Jantiko Mantab Bondowoso dilaksaanakan pada setiap Ahad Legi. Tempat penyelenggara kegiatan ini bergantian, ditentukan masyarakat yang membutuhkan semisal saat memiliki hajat tertentu. Dan apabila tidak ada yang meminta, maka pengurus Jantiko mencari dan menempatkan acara semaan di tempat yang siap secara Berbeda dengan semaan lainnya, ciri khas semaan Jantiko Mantab diselingi dengan acara Dzikrul Ghofilin17 yang disusun oleh sahabat sekaligus besan Gus Miek. KH. Ahmad Shiddiq. 18 Acara Dzikrul Ghofilin dilaksanakan setelah maghrib. Setelah selesai langsung dilanjutkan s h olat isya, kemudian meneruskan sisa bacaan al-QurAoan yang belum terbaca dan Dizkrul Ghofilin adalah kumpulan bacaan-bacaan dizkir. Salah satu bacaanya adalah membaca surat al-Fatihah sebanyak 100 kali. Muhammad Nurul Ibad. Perjalanan dan Ajaran A,. Selain penulis Dzkrul Ghofilin. KH. Ahmad Shiddiq adalah tokoh NU dari Jember yang pernah menjabat sebagai Rais Aam PBNU periode 1984-1989 dan 1989-1994. Namun, sebelum m asajabatannya berakhir, ia meninggal dunia pada 16 Januari 1991 dan atas permintaan Gus Miek, ia dimakamkan di Tambak Kediri . Sekarang dekat makam Gus Miek. Dia juga dikenal dengan pencetus ide ahllul halli wal Aoaqdi, yaitu salah satu model pemilihan yang bertujuan untuk pengembalian otoritas ulama (Khittah NU 1. di Sukorejo Situbondo pada tahun 1984. Ia juga dikenal dengan pemikiran tentang Ahlussunnah. Ukhuwah Basyariyah/Wataniyah . ersaudaraan kebangsaa. Lihat A. Gaffar Karim. Metamorfosis NU dan Politisasi Islam Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar bekerja sama dengan LKiS, 1. , 136-137. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 diakhiri dengan doa khataman al-QurAoan. Untuk pembacaan doa dipimpin oleh Gus Sohib,19 pembaca yang paling senior . rang yang dituaka. Semaan Al-QurAoan Moloekatan Jantiko Mantab Semaan al-QurAoan Moloekatan Jantiko Mantab berbeda dengan Semaan al-QurAoan Jantiko Mantab. Perbedaannya adalah adanya anjuran dan perintah puasa bagi pengikut semaan al-QurAoan Moloekatan saat pelaksanaan khatmil QurAoan. Sehingga kalimat akhirnya diimbuhi dengan Moloekatan. Semaan al-QurAoan Moloekatan Jantiko Mantab yang muncul di Bondowoso Bondowoso juga mengikuti pada pendiri utamanya, yaitu putra gus Miek. Agus Tijani Robert Syaifunnawas dikenal dengan Gus Robert pada tahun 2005. Berdirinya semaan Moloekatan didasari oleh dawuh atau petuah Ayahanda Gus Robert, yaitu Gus Miek, yang sering disampaikan dalam beberapa acara semaan al-QurAoan Jantiko Mantab. Menurut Gus Miek, semaan al-QurAoan Jantiko Mantab dianggap belum memenuhi syarat karena belum mengikuti anjuran Nabi Muhammad saw, yaitu berpuasa saat mengkhatamkan al-QurAoan. 20 Anjuran tersebut tercatat ia tuangkan dalam ceramahnya dengan mengemukakan hadis yang berbunyi AOI AOI OOI EIA Artinya: Disunnatkan berpuasa pada hari khatam al-QurAoan. Keterangan ceramah tersebut, senada dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abi Daud. AI E I IAA OO I O I OEIO I A EOI E EOAOOI OA AEEN INNI IOI EIO OAOI AO EOOI EO OIOI AON ECI AOIA Menetap di Kabupaten Situbondo, dan pernah menjadi salah satu pembaca Majlis Semaan AlQurAoan Jantiko Mantab Jember. Ceramah Gus Miek pada rutinan semaan al-QurAoan Jantiko Mantab di Kabupaten Jember saat pernikahan Ustadz Muqarrabin. Bisa dilihat hasil rekaman videonya pada durasi 40 menit 20 detik. Keterangan hadis yang semakna dengan matan hadis di atas bisa dilihat dalam Abi Zakariya bin Syarf al-Nawawi. Al-Tibyan fi Adab Hamlah al-QurAoan. Fasl fi Adab al-Khatm wa Ma YataAoallaq bihi fihi Masail. Juz 1,. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Mengikuti petuah Gus Miek yang bersumber dari Hadis Nabi, maka penganut setia Gus Miek yang berada di wilayah Bondowoso khususnya dan umumnya Bondowoso membentuk sebuah perkumpulan yang bernama Semaan Mantab Molekatan Kabupaten Bondowoso. Dalam majlis tersebut, penekannya adalah pembacaan al-QurAoan bi al-ghoib . anpa melihat musha. hingga khatam 30 juz dan juga disertai pelaksanaan puasa sunnat. Perkumpulan Semaan Al-QurAoan Moloekatan Jantiko Mantab Kabupaten Bondowoso terhitung baru apabila dibandingkan dengan beberapa wilayah yang berada di Jawa Timur, yaitu muncul sekitar tahun 2008. Yasinan Maksud dalam pembacaan ini ialah bacaan surat yasin yang menjadi pilihan untuk dibaca dalam acara atau kegiatan berbagai pertemuan. Salah satu pengajian yang melakukan pembacaan surat yasin adalah kelompok pengajian al-Munawwaroh yang terletak di Kecamatan Grujugan. Pengajian ini berdiri sekitar tahun 1980 yang hanya diikuti oleh 15 orang, dan semuanya kaum Meski diakui perkembangannya lamban, dan seiring berjalannya waktu, saat ini anggota aktif pengajian al-Munawwaroh mencapai 60 orang. Pengajian ini berbentuk rutinan setiap hari rabu sore dengan kegiatannya pembacaan al-QuAoran surat Yasin dan sholawat Diba' Barzanzi. Dengan itulah mereka menyebutkan pengajian DibaAoan. Seiring berjalannya waktu, kegiatannya berubah menjadi pembacaan surat Yasin, tahlil dan Pembacaan surat Yasin selalu menjadi agenda dalam pengajian alMunawwaroh. Sebelum pembacaan surat Yasin dimulai, seorang pemandu pembacaan surat Yasin menyebut nama-nama para leluhur yang diminta untuk didoakan, dalam hal ini khususnya para leluhur yang ditempati dan umumnya leluhur para anggota pengajian al-Munawwaroh, dan kemudian dibacakan surat al-Fatihah. Selain pengajian al-Munawwaroh, di sekitar Bondowoso juga ada perkumpulan ibu-ibu PKK. Selain acara urun rembuk . , mereka Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 mengawali acara dengan pembacaan surat Yasin. Para anggota membaca surat Yasin bersama-sama dengan harapan memperoleh barokah dari surat yang dibacanya, dan harapan apa yang dimusyawarahkan menjadi bermanfaat bagi masyarakat luas. Tahlilan Pembacaan al-QurAoan yang dimaksud di sini adalah potongan-potongan surat al-QurAoan yang dibaca dalam acara tahlilan. Pada masalah tahlilan, meskipun pada kenyataannya tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Bondowoso, namun peneliti juga mengganggap perlu untuk dikaji. Ini terlihat, saat tahlil tidak lepas dari bacaan-bacaan al-QurAoan. seperti surat al-Fatihah, alIkhlas, al-Falaq, al-Nas, lima ayat pertama dari surat al-Baqarah. Dalam kitab MajmuAo Syarif dan mazhab Imam SyafiAoi (Nawaw. yang banyak beredar di kalangan kaum muslimin, termuat rakitan budaya tahlil. Susunanya adalah A1-Fatihah, membaca Surat Yasin. Ikhlas. A1-Falaq. AnNaas. Al-Fatihah, dilanjutkan dengan membaca lima ayat awal Surat AlBaqarah. Ayat Kursi, kemudian dilanjutkan membaca tiga ayat penutup Surat AI-Baqarah. Kemudiaan dilanjutkan berzikir tahlil, istighfar, tasbih, takbir, dan tahlil, berselawat dan ditutup doa. rah dan biasanya di dahului dengan surat Yasin. Di kalangan masyarakat Bondowoso, sebagian besar masyarakat Nahdliyin, tahlilan dilaksanakan sejak hari pertama dari kematian sampai hari yang ketujuh setelah meninggalnya seseorang. Disamping itu, tahlilan juga dilaksanakan pada hari keempat puluh . mpak poloh ar. dan hari keseratus setelah orang itu meninggal . Bahkan tahlilan sering diselenggarakan pula pada saat setahun setelah orang meninggal . , atau haulan. Namun, masyarakat secara umum hanya melaksanakan sampai hari yang ketujuh dan hari ke empat puluh hari kematian seseorang. Sedang hari ke seratus dan setahun sedikit dilaksanakan, kecuali bagi mereka yang mampu secara finansial. Dalam hal ini, tahlilan bagi masyarakat Bondowoso merupakan upaya untuk membedakan bahwa yang meninggal itu adalah seorang manusia, bukan seekor Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Pada tradisi Tahlil, sohibul hajat memohon kepada masyarakat yang diundangnya diharapkan memaafkan segala dosa dan kesalahan yang dilakukan mayat, dan memohonkan ampunan kepada Allah swt agar si diampuni oleh Allah swt. Substansi tahlil adalah mendoakan pada yang meninggal agar diampuni dosanya dan segala amal baiknya diterima oleh Tuhan, serta ditempatkan pada sisi mulia dan dijauhkan dari siksa neraka. Selain pada acara kematian, bacaan-bacaan tahlil juga sering terdengar oleh masyarakat Bondowoso. Hal ini menjadi wajar, karena tidak sedikit warga mengadakan kumpulan pengajian, kifayahan, yang membacakan tahlil sebagai agenda acara inti. Sehingga terkadang perkumpulan tersebut disebut dengan Sebagai budaya Islam, upacara tahlil itu di berbagai daerah berbeda- beda Meski demikian, ada pesan agama yang sama yaitu ajaran untuk mengingat peristiwa kematian dengan tahlil dan berdoa untuk keselamatan umat, memohonkan ampun atas kesalahan kaum muslimin, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Interaksi terhadap Al-QurAoan dalam Tradisi Masyarakat Bondowoso Masyarakat Bondowoso upacara pembacaan dibaAo barzanji dan ayat-ayat al-QurAoan tertentu ketika menerima kebahagiaan sebagai tanda bersyukur kepada karunia Ilahi. Dalam perkembangannya, cara ini menggunakan musik, nyanyian dan puji-puijan yang dikemas dalam bentuk kasidah, hadrah, samrah, burdah dan lain-lain. Daerah Bondowoso yang penduduknya mayoritas beragama Islam dan berada di wilayah Jawa, banyak menerima pengaruh kebudayaan Jawa, khususnya kebudayaan Islam, meskipun terdapat percampuran dan transformasi budaya Islam yang telah memperoleh bentuk-bentuk modifikasi tersendiri. Upacara Selametan: seperti tahlil, dibaAo, siman dan lain-lain sebagian besar merupakan bentuk transformasi kebudayaan Jawa. Hampir semuanya berasal dari budaya lain yang diberi nafas Islam. Dalam hal ini, tidak berbeda dengan apa yang di kategorisasikan oleh Kontjraningrat bahwa selamatan dimasukkan ke dalam bentuk budaya Islam, sebagai rekayasa kaum Islam Kejawen. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Bagi masyarakat Bondowoso, budaya selamatan telah melembaga dan merupakan adat-istiadat turun temurun. Adat istiadat adalah aturan yang berlaku di suatu daerah tertentu yang tidak dituliskan dalam kitab hukum, tetapi diakui kebenarannya oleh Adat istiadat berjalan karena kesepakatan masyarakat, bukan karena aturan menurut hukum. Jika kesepakatan berubah, maka adat-istiadat pun ikut berubah. Kebudayaan Islam yang berasal dari kebudayaan lain yang kemudian diberi nafas ke-Islaman semuanya berlaku di Jawa dan Madura, termasuk di Bondowoso. Adapun bentuknya adalah selamatan yang erat sekali kaitannya dengan peristiwa yang dialami dalam kehidupan manusia, yaitu: Upacara Pernikahan: Seperti halnya di wilayah lain, pernikahan bagi masyarakat Bondowoso merupakan peristiwa penting dalam fase kehidupan seorang individu. Para orang tua, keluarga dekat, dan sanak famili akan merasa gelisah jika salah satu diantara keturunan atau kerabat dekat mereka hidup membujang dalam waktu lama. Berkaitan masalah pernikahan, tradisi masyarakat Bondowoso mengenal beberapa tahapan yang harus dilalui oleh seorang individu sebelum pada acara Tahapan-tahapan tersebut adalah tunangan atau perjodohan dan Hari akad nikah adalah puncak dari seluruh rangkaian ritual perkawinan. Pada hari tersebut, pengantin laki-laki sedemikian bagusnya. Kemudian ia berangkat ke rumah pengantin wanita dengan diiringi oleh para undangan dan diramaikan dengan suara sholawatan yang diiringi tabuhan rebana. Di rumah tersebut, prosesi akad pernikahan dilaksanakan. Pada umumnya, masyarakat Bondowoso dalam hal perwalian nikah, wali mempelai wanita mewakilkan perwaliannya kepada tokoh agama yang disegani dan menjadi panutannya. Maksudnya adalah, orang tua memberikan kuasa kepada tokoh agama tersebut untuk menikahkan anaknya dengan disaksikan oleh dua orang modin maupun pegawai Kantor Urusan Agama (KUA). Bagi masyarakat Bondowoso, prosesi pernikahan dipandang sangat sakral, karena melalui ritual akad nikah hubungan suami istri baru dapat disahkan secara agama. Kesakralannya itulah, sebelum proses akad nikah diselenggarakan, sebagian masyarakat Bondowoso mengisi dengan acara yang dianggap baik Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 menurut agama dan masyarakat. Diantaranya adalah membacakan al-QurAoan hingga selesai 30 juz . Pembacaan al-QurAoan dalam hal ini, biasanya dilmulai beberapa jam sebelum akad nikah dan selesai menjelang akad nikah Kemudian di tutup dengan doa khatmil QurAoan yang bersamaan dan dicampur dengan doa akad nikah. Selain doa yang bertujuan dapat mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang aman damai bahagia serta dikaruniai keturunan yang saleh, mereka juga mengharap dengan barakoh khatam al-QurAoan agar menjadi keluarga yang cinta alQurAoan, mengikuti tuntunan al-QurAoan. Sehingga dalam keluarga akan berdampak saling mencintai, tentram, bahagia serta dikaruniai keturunan yang saleh yang biasa disebut dengan istilah sakinah mawaddah wa rahmah. Upacara Selapan Kalimat Selapan berasal dari gabungan bentuk sa, alap dan an, satu alapan, yaitu satu kali daur ulang dari kelahiran tiga puluh lima hari. Pada upacara selapan itu bertemulah nama hari dan pasaran ketika bayi dilahirkan. Di Madura, acara ini dikenal dengan istilah molang are . engulang hari kelahira. Hanya saja, di daerah Madura termasuk Bondowoso tidak dikenal hari pasaran . egi, pahing, pon, wage, kliwo. sebagaimana dalam budaya Jawa. Di daerah Bondowoso, untuk bayi perempuan selamatan molang are diadakan setelah tiga puluh lima hari. Maksudnya adalah supaya nanti gampang dan cepat mendapatkan jodoh. Untuk bayi lelaki, maka selamatan molang are diadakan pada hari empat puluh. Ini merupakan isyarat bahwa anak lelaki kelak harus kerja keras untuk memberi nafkah istrinya. Selain itu, ini bermakna masa muda yang lebih panjang untuk belajar dan bekerja. Di masa lampau, pada malam sepasaran bayi diadakan acara macapat, yaitu membaca sastra Jawa yang mengandung pelajaran atau filsafat dan para pujangga seperti dari buku Wulang Reb. Wedafama. Serat Piwulang, serat Kidungan, dan Pada masa sekarang, kebiasaan membaca macapat semakin pudar, bahkan sudah tidak ditemukan kembali di daerah Bondowoso. Akan tetapi, ganti dari kegiatan pada momen kelahiran, biasanya masyarakat Bondowoso membacakan ayat-ayat al-QurAoan. Dalam momen kelahiran, mereka menghadirkan beberapa Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 orang untuk membacakan surat-surat tertentu. Diantara surat tersebut adalah surat WaqiAoah dan surat Yusuf. Bacaan dua surat tersebut dibaca secara bersama-sama dan pelan-pelan serta diulang sebanyak tiga kali. Harapannya adalah si bayi kelak mendapatkan usia yang barokah dan memiliki budi pekerti yang mulia serta rezki yang cukup. Selain dua surat tersebut, tidak sedikit masyarakat Bondowoso mengadakan semaan al-QurAoan. Pelaksanaan acara ini biasanya diadakan oleh orang yang yang berkeinginan kuat atau orang yang mampu dalam hal dana. Sohib al-Hajah . ang punya keperlua. mengundang orang yang hafal QurAoan untuk membaca seluruh al-QurAoan 30 juz. Dalam hal ini, pembaca saat membaca tidak melihat mushaf alQurAoan, sedang yang lainnya menyimak. Biasanya, hanya keluarga Sohib alHajah yang datang menyimak. Waktu membaca dimulai dari pagi dan diselesaikan sesuai permintaan Sehingga al-QurAoan menyesuaikan dengan durasi yang akan dibutuhkan. Semisal sampai sore, maka pembaca akan membacanya lebih cepat. Namun, apabila shohibul hajat masih mempunyai rentetan acara selapan di malam hari, maka mereka membaca tidak terlalu cepat. Dalam hal membaca, baik cepat atau tidak terlalu cepat, mereka tetap tata baca al-QurAoan baik secara tajwid, mahkraj bahkan tetap dilantukan dengan berirama indah. Upacara molang are itu kemudian ditutup dengan pembacaan doa khatmil QurAoan dan barzanji. Kemudian ditambahi doa-doa untuk sang bayi. Doa yang biasa diungkap adalah agar sang bayi kelak menjadi anak sholeh bila laki-laki dan sholehah bila perempuan. Selain itu, doa yang sering disebut adalah supaya bayi tersebut menjadi anak yang berguna bagi kedua orang tuanya, lingkungannya, bangsa dan negara dan khususnya agama Islam. Upacara Kematian Dalam hal kematian, pembacaan surat Yasin menjadi budaya dan dibudayakan serta dijadikan pelajaran, bahkan dikaitkan dengan rangkaian upacara tahlilan selama tujuh hari setelah jenazah dimakamkan. Menjadi maklum adanya, bahwa bisa dan mampu membaca al-Quran secara baik dan benar tidaklah mudah. Hal itu harus dibiasakan sejak kecil. Apabila orang Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 dewasa atau setengah baya masih belum bisa mengaji, maka surat Yasin tidak lagi Kalaupun bisa membaca, mereka hanya menjadi hafal karena seringnya mendengarkan orang membaca. Dan kalaupun terpaksa harus membaca sedang dia tidak bisa dan tidak hafal, maka membaca surat Yasin dengan tulisan latin indonesia, walaupun kita tahu bacaan Latin tidak selalu sama antara bunyi dengan lafal Arabnya. Mereka yang membaca surat Yasin dan tahlil adalah masyarakat yang datang pada umumnya, dan durasi waktu yang mereka butuhkan sekitar empat puluh lima menit dan terkadang sampai satu jjam. Pada masa sekarang, tidak ditemukan kapan dimulainya, untuk hal kematian di masyarakat Bondowoso tidak hanya membaca surat Yasin dengan dilanjutkan Namun, mereka juga semakin memperbanyak memperbanyak bacaanbacaan al-QurAoan, yaitu membaca al-QurAoan hingga khatam . Proses pembacaan al-QurAoan hingga khatam ini terdapat dua kebiasaan. Pertama, terdiri dari tiga puluh orang. Masing-masing dari mereka membaca satu Proses membaca dalam ritual ini, mereka membaca al-QurAoan secara cepat terkadang kurang Kedua, menghadirkan hanya orang yang hafal al-QurAoan yang biasanya sekitar tiga sampai empat orang, sehingga tidak perlu menghadirkan orang banyak. KESIMPULAN Berdasarkan kajian mengenai Interaksi dan Resepsi Masyarakat Bondowoso terhadap Al-Qur'an, maka terdapat beberapa kesimpulan bahwa interaksi dibagi menjadi dua moment, yaitu rutinan dan moment insidental menyesuaikan hajat . Pelaksanaan tersebut terdiri dari berbagai bentuk dan model-model ritual pembacaan al-QurAoan meliputi: . Khataman al-QurAoan. Yasinan. Tahlilan. Sedangkan resepsi dari interaksi tersebut terdapat tiga makna. Diantaranya. sebagai kitab bacaan mulia, obat hati dan sarana perlindungan dari bahaya siksa di hari Tiga makna tersebut, tidak mesti berjalan secara bersamaan, dan terkadang mempunyai makna bersamaan sekaligus. DAFTAR PUSTAKA Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Volume 7. No. Juni 2024 p-ISSN: 2615-2568 e-ISSN: 2621-3699 Abidin. Zainal. Seluk Beluk al-QurAoan. Jakarta: Rinaka Cipta, 1992 Ali Wasik. Muhammad. Fenomena Pembacaan al-QurAoan dalam Masyarakat. Yogyakarta: Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, 2005 Gaffar. Karim. Metamorfosis NU dan Politisasi Islam Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar bekerja sama dengan LKiS, 1995 Ghazali. Muhammad. Berdialog dengan Al-Qur'an "Memahami Pesan Suci Kehidupan Masa Kini". Bandung: Mizan, 1997 Mansur. Muhammad. AuLiving QurAoan dalam Lintasan Sejarah Studi Al-QurAoanAy, dalam Metodologi Penelitian Living QurAoan dan Hadis. Syahiron Syamsuddin . Yogyakarta: TH Press, 2007 Nurul Ibad. Muhammad. Dhawuh Gus Miek. Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2007 . Muhammad. Perjalanan dan Ajaran Gus Miek (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2007 Sabaruddin, makalah tidak diterbitkan dan disampaikan di Forum Program Diskusi