Proceeding Galuh Mathematics National Conference Vol. 6 No. 1 2026 | Hal 115-120 | ISSN: 3032-2588 https://jurnal. id/GAMMA-NC/article/view/24408 KEMAMPUAN TRANSLASI ANTAR-BENTUK REPRESENTASI MATEMATIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATRIKS Rahmat Ramdhan Candra Syahputra1. Ida Nuraida2. Lala Nailah Zamnah3 1,2,3 Universitas Galuh. Jl. Martadinata No. 150 Ciamis. Indonesia Email: rahmat_ramdhan@student. ABSTRAK Kemampuan translasi antarrepresentasi merupakan indikator penting dalam pemahaman konsep matematika yang utuh, terutama ketika siswa dihadapkan pada masalah yang membutuhkan interpretasi multi-representasi. Namun, banyak siswa yang masih mengalami kesulitan dalam menghubungkan dan mengubah satu bentuk representasi ke bentuk representasi lainnya secara fleksibel. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan translasi antarrepresentasi matematis siswa dalam menyelesaikan masalah kontekstual pada materi matriks. Kemampuan ini menjadi jembatan dalam mengubah informasi dunia nyata menjadi model matematika. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan tiga siswa kelas XI. Data dikumpulkan melalui tes soal cerita, wawancara dan dokumentasi untuk menelusuri proses berpikir siswa. Fokus analisis diarahkan pada proses transformasi dari bentuk verbal ke bentuk visual dan simbolik. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa hambatan utama siswa terletak pada fase translasi verbal ke simbolik, khususnya ketidakmampuan memetakan variabel kontekstual ke dalam elemen baris dan kolom Kegagalan pada tahap awal translasi ini menyebabkan kesalahan pada tahapan penyelesaian matematis Kata Kunci: Translasi Representasi. Matriks. Masalah Kontekstual. Dikirim: Mei 2026. Diterima: Juni 2026. Dipublikasikan: Juni 2026 Cara sitasi: Syahputra. Nuraida. Zamnah. Kemampuan Translasi Antar-Bentuk Representasi Matematis Siswa dalam Menyelesaikan Soal Matriks. Proceeding Galuh Mathematics National Conference, 6. , 115-120. Proceeding Galuh Mathematics National Conference Vol. 6 No. 1 2026 | Hal 115-120 | ISSN: 3032-2588 https://jurnal. id/GAMMA-NC/article/view/24408 PENDAHULUAN Pendidikan matematika memiliki peran krusial dalam membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, dan sistematis untuk menjalani kehidupan sehari-hari (Zamnah & Ruswana. Salah satu standar proses yang menjadi jembatan dalam mengorganisir ide-ide abstrak menjadi lebih konkret adalah kemampuan representasi matematis (NCTM, 2. Kemampuan ini merupakan dasar dalam membangun konsep dan pemecahan masalah (Arnidha, 2. agar masalah yang rumit menjadi lebih mudah dipahami (Sabirin, 2. Menurut (Villegas et al. , 2. , kemampuan representasi matematis mencakup tiga indikator utama: Representasi Verbal . enjelaskan definisi dan menginterpretasikan hasi. Representasi Visual . enyusun tabel informasi atau gamba. Representasi Simbol . enggunakan notasi dan menyusun model persamaa. Meskipun demikian, kemampuan representasi tidak boleh dilihat sebagai kemampuan yang terfragmentasi atau berdiri sendiri. Kematangan pemahaman matematika seorang siswa justru diuji ketika mereka dituntut untuk melakukan translasi antarrepresentasi, yaitu proses kognitif untuk mengubah atau menerjemahkan satu bentuk representasi ke bentuk representasi lainnya tanpa mengubah makna matematisnya (Bossy et al. , 2. Translasi ini bertindak sebagai "jembatan hidup" yang menghubungkan ragam indikator representasi milik Villegas tersebut. Jika siswa terampil melakukan translasi misalnya dari representasi verbal menuju representasi visual lalu bermuara pada representasi simbolik maka konstruksi pemahaman mereka dapat dikatakan utuh dan bermakna (Samijo et al. , 2. Dalam praktiknya, penggunaan masalah kontekstual bertujuan agar pembelajaran lebih bermakna dan relevan bagi siswa (Mulia et al. , 2. Namun, banyak siswa cenderung mengabaikan realitas dunia nyata dan langsung melakukan operasi hitung secara mekanik (Verschaffel et al. , 2. Hal ini menyebabkan interpretasi hasil akhir sering kali tidak sinkron dengan konteks aslinya (Sasauw et al. , 2. Kesulitan melakukan translasi ini sangat nyata pada materi matriks, di mana siswa cenderung melihatnya hanya sebagai susunan angka mati tanpa memahami struktur di baliknya (Konyalioglu, 2009. Utami, 2. Penelitian sebelumnya lebih banyak meninjau kemampuan representasi secara umum, sedangkan kajian mengenai proses translasi antarrepresentasi pada materi matriks masih terbatas. Rendahnya kemampuan representasi ini disebabkan oleh kebingungan siswa dalam memahami soal cerita serta keengganan berpikir kritis (Nuraida et al. , 2. Secara teoritis, kondisi ini menunjukkan adanya hambatan epistemologis di mana pemahaman siswa terbatas hanya pada prosedur rutin (Sari & Fuadiah, 2. Berdasarkan pengamatan di MAS Sabilil Muttaqien, siswa masih mengalami kesulitan dalam melakukan translasi dari bahasa soal cerita ke dalam model matriks. Siswa kerap kali langsung melompat ke rumus tanpa melakukan organisasi data secara visual terlebih dahulu Berdasarkan pengamatan di MAS Sabilil Muttaqien, siswa masih mengalami kesulitan dalam melakukan translasi dari bahasa soal cerita ke dalam model matriks. Siswa kerap kali langsung melompat ke rumus tanpa melakukan organisasi data secara visual terlebih dahulu. Fenomena ini sejalan dengan beberapa penelitian empiris terbaru yang menunjukkan bahwa hambatan dalam proses translasi matematis, khususnya dari representasi verbal menuju simbolik, masih menjadi persoalan laten dalam pembelajaran matematika (Samijo et al. , 2. Lebih lanjut, rendahnya kemampuan siswa dalam mengintegrasikan berbagai bentuk multi-representasi . erbal, visual, dan simboli. secara fleksibel sering kali memicu terjadinya kesalahan konseptual yang fatal saat menyelesaikan masalah berbasis konteks dunia nyata (Mulia et al. , 2. Melihat urgensi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memetakan bagaimana kemampuan siswa dalam berpindah antarrepresentasi berdasarkan kategori kemampuan mereka. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan judul: AuKEMAMPUAN TRANSLASI ANTARREPRESENTASI MATEMATIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATRIKSAy. Proceeding Galuh Mathematics National Conference Vol. 6 No. 1 2026 | Hal 115-120 | ISSN: 3032-2588 https://jurnal. id/GAMMA-NC/article/view/24408 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Tujuan penelitian adalah untuk menggambarkan kemampuan representasi matematis siswa dalam menyelesaikan soal matriks. Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini adalah guru matematika kelas XI dan tiga siswa kelas XI di MA Sabilil Muttaqien. Instrumen yang digunakan meliputi lembar tes, wawancara dan dokumentasi sesuai dengan indikator kemampuan representasi matematis. Sebelum digunakan, instrumen tes tertulis tersebut telah melalui proses validasi instrumen berupa penilaian ahli . xpert judgmen. oleh validator untuk memastikan kesesuaian dan kelayakan soal. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan memberikan instrumen tes tertulis berupa soal cerita berbasis masalah kontekstual kepada 3 subjek yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yang masing-masing mewakili kategori kemampuan akademis tinggi, sedang, dan rendah. penelitian untuk mengeksplorasi kemampuan translasi antarrepresentasi mereka. Untuk menjamin keabsahan data hasil penelitian, dilakukan teknik triangulasi metode dengan membandingkan hasil tes tertulis, wawancara berbasis tugas . ask-based intervie. , dan dokumentasi pengerjaan. Selanjutnya, analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan menurut (Miles & Huberman, 1. Pada tahap reduksi, lembar jawaban siswa diseleksi dan difokuskan berdasarkan indikator translasi (Villegas et al. , 2. Penyajian data dilakukan dengan memaparkan hasil reduksi ke dalam bentuk narasi deskriptif dan tabel pemetaan kemampuan. Akhirnya, penarikan kesimpulan dilakukan secara bertahap untuk merumuskan profil kemampuan translasi siswa yang sahih melalui verifikasi berkelanjutan di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil uji soal tes bagaimana tiga subjek siswa (S1. S2, dan S. mentranslasikan masalah matriks kontekstual, dengan jawaban yang diberikan, ditemukan variasi yang jelas dalam kedalaman penggunaan indikator kemampuan representasi matematis menurut (Villegas et al. , 2. Tabel 1. Jawaban Subjek Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3 Proceeding Galuh Mathematics National Conference Vol. 6 No. 1 2026 | Hal 115-120 | ISSN: 3032-2588 https://jurnal. id/GAMMA-NC/article/view/24408 Tabel 2. Analisis Tingkatan Kemampuan Representasi Matematis Indikator (Villegas et al. Siswa 1 (S. Siswa 2 (S. Siswa 3 (S. Representasi Verbal Rendah: Tidak ada Sedang: Memberikan kesimpulan harga satuan meskipun hasil hitung salah. Tinggi: Memberikan kesimpulan harga satuan & penjelasan Representasi Visual Rendah: Tidak membuat tabel Rendah: Tidak membuat tabel bantu. Tinggi: Menyusun tabel informasi pada soal No. Representasi Simbol Rendah: Prosedur tidak sesuai dengan Rendah: Terjadi kesalahan operasional . enghitung skalar tunggal dari matrik. Tinggi: Operasi matriks . nvers & perkalia. sangat akurat dan Analisis Penyebab Kegagalan Translasi Siswa Kelemahan utama siswa terletak pada fase translasi dari bentuk verbal ke bentuk visual dan simbolik. Fenomena kegagalan ini dipengaruhi oleh tiga faktor kognitif berikut: Mengatasi Overload Memori (Cognitive Loa. Siswa 1 (S. dan Siswa 2 (S. langsung melompati tahap organisasi data visual . dan langsung menuju penyelesaian simbolik. Berdasarkan cognitive load theory, membaca soal cerita kontekstual yang padat informasi secara bersamaan dengan memikirkan model matriks memicu cognitive overload . elebihan beban kogniti. pada memori kerja siswa. Akibatnya, mereka gagal memetakan variabel kontekstual ke dalam elemen matriks dengan benar. Hal ini terkonfirmasi dari pengakuan S1 saat diwawancara: Peneliti: "Mengapa di lembar jawaban Anda langsung menuliskan model tanpa ada tabel S1: "Saya bingung kalau harus membagi-bagi teksnya lagi ke tabel. Di otaknya sudah penuh mikirin bagaimana rumus matriksnya supaya cepat selesai. Sebaliknya. Siswa 3 (S. berhasil mengelola beban kognitifnya dengan membuat tabel informasi pada soal tertentu. Tabel ini berfungsi sebagai alat bantu . eksternal yang meringankan kerja memori, sehingga operasi simbolik berikutnya dapat dieksekusi secara akurat. Dominasi Berpikir Algoritma (Procedural Thinkin. yang Kaku Hambatan lain dipicu oleh kecenderungan procedural thinking, di mana siswa hanya berfokus pada langkah-langkah mekanis atau hafalan rumus tanpa memahami makna konseptualnya. memahami prosedur umum ycU = yaOe1 yaA, namun karena orientasinya hanya menyelesaikan algoritma, ia kehilangan kontrol terhadap esensi masalah dan menuliskan hasil akhir tanpa satuan atau kejelasan makna fisisnya. Kondisi lebih parah dialami S2 yang mengalami "kebingungan" ia memaksakan operasi matriks hingga diringkas secara keliru menjadi angka skalar tunggal (=. Kecenderungan berpikir prosedural yang keliru ini terlihat dari kutipan wawancara dengan S2: Peneliti: "Bisa jelaskan mengapa hasil akhir hitungan matriks Anda tiba-tiba berubah menjadi angka tunggal 90?" Proceeding Galuh Mathematics National Conference Vol. 6 No. 1 2026 | Hal 115-120 | ISSN: 3032-2588 https://jurnal. id/GAMMA-NC/article/view/24408 S2: "Saya ingatnya kalau rumus invers itu dikali terus dibagi angka determinannya. Jadi angka-angka di dalam kurung matriks itu langsung saya hitung begitu saja supaya ketemu hasil akhirnya. Hal ini membuktikan bahwa berpikir prosedural tanpa pemahaman konseptual membuat siswa gagal memahami sifat objek matematis matriks yang sedang dikerjakannya. Rendahnya Kefasihan Representasi (Representational Fluenc. Representational fluency adalah kemampuan berpindah secara luwes antar-bentuk representasi tanpa kehilangan makna matematisnya. Dari ketiga subjek, hanya S3 yang menunjukkan kefasihan S3 mampu bergerak runtut dari menerjemahkan soal . , mengaturnya ke bentuk tabel . , menyusun operasi matriks . , hingga mengembalikan lagi angka hitungan menjadi kalimat kesimpulan yang logis. Kefasihan S3 diperkuat oleh penuturannya dalam wawancara singkat berikut: Peneliti: "Bagaimana Anda bisa lancar menuliskan kesimpulan harga dan mengaitkan arti determinan nol dengan kunci yang macet?" S3: "Karena dari awal data soal sudah saya susun di tabel. Jadi pas pengerjaan simbolik selesai, saya tinggal melihat hubungan di tabel tadi untuk mengembalikan angka-angka itu menjadi kalimat jawaban. Sementara itu. S1 dan S2 mengalami pemutusan jembatan kognitif . epresentational stiffnes. Mereka hanya mampu memproses informasi pada domain simbolik-prosedural, tetapi gagal total ketika diminta melakukan translasi balik untuk menginterpretasikan hasil akhir ke dalam konteks dunia nyata. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa kemampuan translasi antar-bentuk representasi matematis siswa dalam menyelesaikan masalah kontekstual materi matriks masih didominasi oleh pendekatan simbolik-prosedural. Siswa cenderung langsung menghitung tanpa mengorganisir data secara visual . dan lemah dalam menginterpretasikan hasil akhirnya secara Terbukti, siswa yang menggunakan tahapan visual . eperti S. jauh lebih akurat dibanding siswa yang hanya mengandalkan hafalan rumus (S1 dan S. REKOMENDASI Berdasarkan hasil temuan dan analisis mengenai profil kemampuan translasi siswa, peneliti merumuskan beberapa rekomendasi strategis bagi kemajuan pembelajaran matematika, antara lain: Optimalisasi Desain Pembelajaran Multi-Representasi: Guru matematika diharapkan tidak hanya berfokus pada latihan soal hitungan yang bersifat prosedural-mekanis. Pembelajaran materi matriks sebaiknya dirancang dengan membiasakan siswa melewati alur representasi yang utuh, yaitu dari situasi dunia nyata . , dikonstruksikan ke dalam bentuk tabel bantu atau skema visual . , sebelum akhirnya diwujudkan dalam bentuk operasi matriks formal . Pengembangan Instrumen Soal Cerita yang Bervariasi: Guru disarankan untuk lebih masif mengintegrasikan soal cerita kontekstual yang membutuhkan tahapan organisasi data. Variasi soal ini penting untuk melatih fleksibilitas kognitif siswa dalam melakukan translasi bolak-balik, baik dari bahasa sehari-hari ke dalam model matematika . , maupun menerjemahkan kembali angka hasil hitungan menjadi kalimat kesimpulan yang logis . Proceeding Galuh Mathematics National Conference Vol. 6 No. 1 2026 | Hal 115-120 | ISSN: 3032-2588 https://jurnal. id/GAMMA-NC/article/view/24408 Penyediaan Perancah (Scaffoldin. pada Proses Translasi: Mengingat hambatan terbesar siswa terletak pada fase awal transformasi . erbal ke simboli. , guru perlu memberikan bimbingan khusus atau scaffolding pada saat siswa memetakan variabel kontekstual ke dalam elemen baris dan kolom. Penggunaan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didi. berbasis masalah yang menuntun pembuatan tabel informasi secara eksplisit dapat menjadi solusi alternatif yang efektif di kelas. UCAPAN TERIMAKASIH Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing Ibu Dr. Ida Nuraida. Pd. Pd. yang telah memberikan arahan, dukungan, dan ilmunya sehingga penulis dapat menyelesaikan artikel ini. Serta semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan artikel ini. Masukan dan komentar yang membangun sangat berharga bagi peneliti. DAFTAR PUSTAKA