Jurnal Keislaman p-ISSN: 2089-7413 and e-ISSN: 2722-7804 Published by Sekolah Tinggi Agama Islam Taruna Surabaya Jl. Kalirungkut Mejoyo I No. Kec. Rungkut. Kota Surabaya. Jawa Timur 60293 Email: jurnalkeislaman@staitaruna. QiryAoah al-Kutub: Kajian Teoretis Berbasis Semantik Kontekstual pada Mahasiswa Studi Keislaman Inayatur Rosyidah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Indonesia inayaturrosyidah86@uin-malang. Mohamad Rofik Fitrotulloh Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Indonesia alessandrorofik@uin-malang. DOI: https://doi. org/10. 54298/jk. Abstract This study examines QiryAoah al-Kutub learning for Islamic studies students using a contextual semantic theory approach to enhance the deep understanding of classical texts. This research focuses on the analysis of Fath al-Qarib by Shaykh Muhammad bin Qasim Al-Ghaziy, particularly on the theme of alZawyj . The contextual semantic approach emphasizes the importance of language, situational, emotional, and cultural contexts in interpreting mufradyt and sentence structures, ensuring studentsAo understanding is not merely lexical but holistic. This research employs a qualitative-theoretical method, involving literature studies of classical texts and scholarly references on contextual semantics and QiryAoah al-Kutub learning. The results indicate that applying contextual semantic theory facilitates students in identifying key mufradyt, understanding variations in word meanings, and relating classical texts to Islamic family law practices. The study also demonstrates that contextual approaches strengthen studentsAo analytical, interpretive, and critical reflection skills. These findings confirm that integrating contextual semantic theory in QiryAoah al-Kutub learning is an effective strategy for developing comprehensive classical text comprehension skills and is a crucial foundation for advancing Arabic language instruction and Islamic studies. Keywords: QiryAoah al-Kutub, contextual semantics, mufradyt. Islamic studies students. Fath al-Qarib. Abstrak Penelitian ini membahas pembelajaran QiryAoah al-Kutub bagi mahasiswa studi keislaman dengan pendekatan teori semantik kontekstual, bertujuan untuk meningkatkan pemahaman teks-teks klasik secara mendalam. Fokus penelitian ini adalah analisis teks Fath al-Qarib karya Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghaziy, khususnya pada tema al-Zawyj . Pendekatan semantik kontekstual menekankan pentingnya konteks bahasa, situasi, emosi, dan budaya dalam menafsirkan mufradyt dan struktur kalimat, sehingga pemahaman mahasiswa tidak hanya bersifat leksikal, tetapi juga holistik. Metode penelitian ini bersifat teoretis-kualitatif, dengan studi literatur terhadap kitab klasik dan kajian pustaka terkait teori semantik kontekstual serta pembelajaran QiryAoah al-Kutub. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teori semantik kontekstual dapat memfasilitasi mahasiswa dalam mengidentifikasi mufradyt kunci, memahami variasi makna kata, serta mengaitkan teks klasik dengan praktik hukum keluarga Islam. Studi ini juga menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual memperkuat keterampilan analisis, interpretasi, dan refleksi kritis mahasiswa terhadap teks. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa integrasi teori semantik kontekstual dalam pembelajaran QiryAoah alKutub merupakan strategi efektif untuk membangun kompetensi membaca dan memahami teks klasik secara menyeluruh, serta menjadi landasan penting dalam pengembangan metode pengajaran bahasa QiryAoah al-Kutub: Kajian Teoretis Berbasis Semantik Kontekstual pada Mahasiswa Studi Keislaman Ae Inayatur Rosyidah. Mohamad Rofik Fitrotulloh Arab dan studi keislaman. Kata kunci: QiryAoah al-Kutub, semantik kontekstual, mufradyt, mahasiswa studi keislaman. Fath alQarib. Pendahuluan Salah satu kompetensi utama yang perlu dimiliki oleh lulusan Perguruan Tinggi Islam adalah kemampuan berbahasa Arab, khususnya keterampilan membaca Kityb Turyts atau kitab gundul. Kemampuan ini menjadi sangat krusial agar mahasiswa mampu melakukan penelitian secara mandiri terhadap ilmu-ilmu Islam yang tersaji dalam literatur berbahasa Arab atau berhuruf Arab, yang merupakan hasil pemikiran para ulama klasik dengan format pra-modern. Menurut Gus Dur, tujuan pembelajaran QiryAoah al-Kutub adalah untuk memahami Al-QurAoan dan Hadis sebagai sumber utama ajaran Islam, sehingga dapat menghindari kesalahan dan kekeliruan dalam penafsiran. Hal ini karena kitab gundul menyajikan penjelasan yang mendalam serta rumusan hukum Islam yang bersumber dari Nash-Nash utama, yang disusun oleh para Mujtahid dalam berbagai kajian keilmuan. Selain itu, kitab ini dianggap sebagai sarana penting untuk memperoleh pemahaman menyeluruh tentang ajaran Islam, sekaligus memberikan perspektif yang segar dan sistematis 1. Dalam konteks akademik, penguasaan QiryAoah al-Kutub menjadi bagian integral dari kompetensi mahasiswa dalam bidang studi keislaman, mendukung kemampuan mereka untuk membaca, memahami, dan menafsirkan sumber-sumber klasik secara kritis dan Sayangnya, kemampuan membaca kitab gundul di kalangan mahasiswa masih belum optimal. Hal ini menjadi perhatian serius karena mahasiswa yang diarahkan untuk menjadi sarjana di bidang keislaman seringkali menghadapi keterbatasan dalam mengakses Primary Resources berbahasa Arab. Sebagai akibatnya, mereka cenderung bergantung pada Secondary Resources, berupa karya terjemahan dan interpretasi yang dikembangkan oleh pemikir dan ilmuwan Indonesia. Kondisi ini membuat mereka belum mampu langsung menerapkan metode pengkajian yang diakui (Recognized Method. dalam menelaah hukum Islam maupun karya ulama Timur Tengah, sebagaimana lazim dilakukan oleh para ulama Pembelajaran QiryAoah al-Kutub di perguruan tinggi termasuk dalam ranah keterampilan memahami bacaan (Comprehension Skil. dan membaca kritis (Critical Readin. , di mana mahasiswa dituntut mampu menangkap makna yang terkandung dalam teks. menekankan bahwa aspek utama dalam QiryAoah al-Kutub adalah pemahaman makna bacaan, yang meliputi kata, kalimat, dan paragraf. Oleh karena itu. Mufradyt atau bentuk kata menjadi elemen penting dalam pembelajaran ini. Tanpa penguasaan Mufradyt, pembelajar bahasa Arab akan kesulitan memahami isi bacaan. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa bahasa merupakan sarana utama interaksi dan komunikasi dalam masyarakat. Bahasa membentuk ekspresi batin yang ingin disampaikan penutur kepada orang lain serta membantu pendengar memahami makna Abdurrahman Wahid. Pesantren Masa Depan. Wacana Pemberdayaan Dan Transformasi Pesantren (Bandung: Pustaka Hidayat, 1. Ahmad Fuad Effendy. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab (Malang: Misykat, 2. Jurnal Keislaman. Volume 8. Number 2. September 2025 yang dimaksud. Tanpa bahasa, interaksi manusia baik secara lisan maupun tulisan akan mengalami hambatan 3. Oleh karena itu, kemampuan memahami teks keagamaan klasik melalui pendekatan linguistik, seperti teori semantik kontekstual, menjadi kunci dalam mengungkap makna dan nilai yang terkandung di dalamnya secara lebih mendalam dan Secara konseptual. Mufradyt memiliki dua dimensi, yaitu bentuk atau ekspresi dan 4 menjelaskan bahwa bentuk kata dapat diterima melalui panca indera, sedangkan makna kata memicu respon kognitif dalam benak pembaca atau pendengar. Ibn al-Sarryj menegaskan bahwa etimologi makna berkaitan dengan tujuan kalimat (Kaly. , karena kalimat pada dasarnya diciptakan untuk menyampaikan makna 5. 6 membagi makna ke dalam empat jenis: makna leksikal . l-Dilylah al-MuAojamiyya. , makna morfologis . l-Dilylah al-Sharfiyya. , makna gramatikal . l-Dilylah al-Nahwiyya. , dan makna kontekstual . l-Dilylah al-Siyyqiyya. Dalam perspektif semantik kontekstual, 7 menekankan pentingnya memahami kata berdasarkan cara penggunaannya dalam konteks. Ammer 8 membagi konteks menjadi empat: konteks bahasa . l-Siyyq al-Lughaw. , konteks emosional . l-Siyyq al-AoyCthif. , konteks situasi . l-Siyyq al-Mauqi. , dan konteks budaya . l-Siyyq al-Tsaqyf. Pemahaman Mufradyt bergantung pada konteks ini, karena makna kata bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai lingkungan penggunaannya. Konteks bahasa membatasi makna tertentu agar tidak menimbulkan ambiguitas 9. Misalnya, kata AuA AyIAAmemiliki variasi makna tergantung kolokasi: AuA( AyIA ECOIApemimpin kau. AuA( AyEE IAAbagian depan gunun. AuA( AyEIN Iawal sian. , dan AuA( AyEN Iabad pertam. 10 dan 11. Konteks emosional memengaruhi intensitas makna, seperti perbedaan nuansa antara AuA AyOENAdan AuA AyOAmeski keduanya berarti membenci 12. Konteks situasi menentukan penggunaan kata dalam kalimat, misalnya AuA AyOIAberbeda antara doa untuk yang hidup (AuA )AyNEE OIEAdan doa untuk yang telah wafat (AuA )AyNEE OINA13 dan 14. Konteks budaya memengaruhi pemahaman kata sesuai bidangnya, misalnya AuA AyAberarti AubenihAy Moh. Saleh Inayatur Rosyidah. Nurhadi. AuFormation Of Religious Character Behind The Naming Of The Arabic Language In The MaAohad Al-JamiAoah Center Environment Of UIN Maliki Malang,Ay Attanwir : Jurnal Kajian Keislaman Dan Pendidikan 15, no. : 61Ae79. Keraf. Diksi Dan Gaya Bahasa, 18th ed. (Jakarta: P. Ikrar Mandiri Abadi, 2. Samsul Bahri. AuPeran Al-Siyaq (Kontek. Dalam Menentukan Makna,Ay Ittihad Jurnal Kopertais Wilayah XI Kalimantan 14, no. : 88. Fyyiz al- Dyyah. AoIlm Al-Dilylah Al-AoAraby Al- Nazhariyyah Wa Al-Tathbyq, 1st ed. (Beirut: Dyr al-Fikr alMuAoyshir, 1. Ludwig Wittgenstein. Philosophical Investigations, ed. Translated by G. Anscombe (Oxford: Basil Blackwell, 1. Ahmad Mukhtar Umar. Ilmu Dilalah, 5th ed. (Al-Qahirah: AoAlim Al-Kutub, 1. Nasym AoAun. Al-Alsuniyyah Muhydharyt Fy AoIlm Al-Dilylah, 1st ed. (Beirut: Dyr al-Faryby, 2. Taufiqurrochman. Leksikologi Bahasa Arab (Malang: UIN Malang Press, 2. Umar. Ilmu Dilalah. Moh. Matsna. Orientasi Semantik Al- Zamakhsyary. Kajian Makna Ayat-Ayat Kalam, 1st ed. (Jakarta: Anglo Media, 2. Rizal Mustansyir. Filsafah Analitik: Sejarah. Perkembangan. Dan Peranan Para Tokohnya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. Umar. Ilmu Dilalah. QiryAoah al-Kutub: Kajian Teoretis Berbasis Semantik Kontekstual pada Mahasiswa Studi Keislaman Ae Inayatur Rosyidah. Mohamad Rofik Fitrotulloh bagi ahli tumbuhan. Auasal kataAy bagi ahli bahasa, dan Auakar pangkatAy bagi ahli Matematika Makna menjadi unsur utama dalam bahasa karena tujuan komunikasi adalah mencapai pemahaman antara penulis (Kyti. dan pembaca (QyriA. Dalam hal ini, konteks (Siyy. menjadi penentu makna. Teori semantik kontekstual menyediakan kerangka penting untuk penguasaan QiryAoah al-Kutub, membantu pembelajar membedakan kata-kata yang bersifat umum . l-Mujmaly. , yang memiliki kemungkinan makna beragam . l-Muhtamaly. , maupun yang jelas maknanya . l-Wydhihy. , sehingga pemahaman bacaan dapat dicapai secara menyeluruh. Oleh karena itu, penguasaan keterampilan QiryAoah al-Kutub menjadi hal yang mutlak bagi mahasiswa studi keislaman. Hal ini dikarenakan mayoritas materi pembelajaran dalam Program Studi tersebut disajikan dalam bahasa Arab. Materi yang dipelajari meliputi berbagai bidang Fiqh, antara lain hukum keperdataan Islam seperti perkawinan, perceraian, pewarisan. Wasiat. Hibah. Zakat. Infyq. Shadaqah, dan Wakaf, serta ilmu Ushul Fiqh yang digunakan untuk menafsirkan hukum dari sumber syariat utama, yaitu al-QurAoan dan alHadits. Selain itu, mahasiswa juga mempelajari cabang-cabang Fiqh lain, termasuk Fiqh Munykahat. Fiqh Mawyris. Fiqh Zakat, dan Fiqh Wakaf. Teori semantik kontekstual merupakan salah satu pendekatan dalam kajian linguistik yang dapat menjadi salah satu kerangka analisis dalam pembelajaran QiryAoah alKutub, terutama dalam memahami makna bacaan secara lebih menyeluruh. Mengabaikan pemahaman terhadap bentuk kata dan makna mufradyt dalam konteks tertentu, serta kurangnya penguasaan keterampilan QiryAoah al-Kutub di kalangan mahasiswa studi keislaman, merupakan persoalan yang signifikan. Hal ini menunjukkan perlunya kajian yang mendalam dan sistematis mengenai pengembangan keterampilan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sejauh mana penerapan teori semantik kontekstual dapat mendukung pengembangan keterampilan QiryAoah al-Kutub bagi mahasiswa studi keislaman. Signifikansi penelitian ini terletak pada upaya memberikan pemahaman konseptual yang lebih jelas mengenai cara mengoptimalkan kemampuan membaca teks klasik berbahasa Arab. Beberapa penelitian sebelumnya terkait QiryAoah al-Kutub telah dilakukan, di antaranya: Mohammad Sholeh (Tesis, 2. tentang strategi pembelajaran Kitab Kuning di Fakultas Agama Islam Universitas Al-Washliyah. Lili Apriliana (Skripsi, 2. mengenai upaya dosen PAI dalam meningkatkan kemampuan QiryAoah al-Kutub mahasiswa PAI. Eman Sulaeman (Jurnal, 2. yang meneliti model pembelajaran QiryAoah al-Kutub untuk meningkatkan keterampilan membaca kitab tafsir. serta Wahyudi Hidayah (Jurnal, 2. mengenai metode pembelajaran mata kuliah QiryAoah al-Kutub untuk melancarkan kemampuan membaca Kitab Kuning di STAI Ibnu Rusyd Kotabumi Lampung Utara. Meskipun penelitian-penelitian tersebut telah memberikan kontribusi penting, penelitian ini memiliki keunikan tersendiri. Pertama, objek kajiannya adalah mahasiswa Umar. Jurnal Keislaman. Volume 8. Number 2. September 2025 studi keislaman. Kedua, penelitian ini memperkenalkan pendekatan teori semantik kontekstual sebagai kerangka teoretis dalam pembelajaran QiryAoah al-Kutub. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru serta memperluas pemahaman dalam pengembangan keterampilan membaca kitab klasik di kalangan mahasiswa studi keislaman. Metode Penelitian Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif teoretis dengan fokus pada kajian pustaka (Library Researc. Pendekatan ini dipilih karena tujuan utama penelitian adalah untuk menganalisis dan mengkaji teori semantik kontekstual dalam konteks pembelajaran QiryAoah al-Kutub, tanpa melibatkan uji coba lapangan atau eksperimen. Dalam konteks ini, studi pustaka menjadi metode utama untuk mengumpulkan data dan informasi yang Sumber data utama dalam penelitian ini adalah teks-teks kitab kuning . l-Kutub alTuryt. yang digunakan dalam pembelajaran QiryAoah al-Kutub di kalangan mahasiswa studi Kitab-kitab tersebut menjadi objek kajian untuk memahami bagaimana teori semantik kontekstual dapat diterapkan dalam menganalisis makna kata dan kalimat dalam teks-teks tersebut. Selain itu, referensi sekunder berupa literatur akademik terkait teori semantik kontekstual, termasuk karya-karya linguistik klasik dan kontemporer, juga digunakan untuk memperkaya pemahaman dan analisis dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, yaitu dengan menelaah dan mengkaji berbagai sumber yang relevan dengan topik penelitian. Proses ini melibatkan pencarian, pemilihan, dan analisis kritis terhadap teks-teks kitab kuning dan literatur akademik yang berkaitan dengan teori semantik kontekstual. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah sebagai berikut: pertama, reduksi data, yaitu menyaring dan memilih informasi yang relevan dengan fokus kedua, penyajian data, yaitu mengorganisasi dan menyajikan informasi yang telah dipilih dalam bentuk yang sistematis. dan ketiga, penarikan kesimpulan, yaitu menarik kesimpulan berdasarkan analisis data yang telah dilakukan. Untuk memastikan validitas membandingkan dan mengonfirmasi informasi yang diperoleh dari berbagai sumber yang Hal ini dilakukan untuk memastikan konsistensi dan keandalan temuan penelitian. Selain itu. Peer Review juga dilakukan dengan meminta pendapat dan masukan dari ahli atau pakar di bidang linguistik dan studi keislaman untuk menilai kualitas dan validitas analisis yang dilakukan. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan pemahaman tentang penerapan teori semantik kontekstual dalam pembelajaran QiryAoah al-Kutub, khususnya di kalangan mahasiswa studi keislaman. Temuantemuan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi pengembangan kurikulum dan metode pembelajaran yang lebih efektif dalam konteks studi keislaman di perguruan tinggi. QiryAoah al-Kutub: Kajian Teoretis Berbasis Semantik Kontekstual pada Mahasiswa Studi Keislaman Ae Inayatur Rosyidah. Mohamad Rofik Fitrotulloh Hasil dan Pembahasan Pendekatan Pembelajaran QiryAoah al-Kutub bagi Mahasiswa Studi Keislaman Pendekatan pembelajaran QiryAoah al-Kutub bagi mahasiswa studi keislaman dengan teori semantik kontekstual bertujuan untuk mengembangkan keterampilan membaca dan memahami teks-teks klasik secara mendalam. Penelitian ini menekankan contoh penerapan teori semantik kontekstual pada teks Fath al-Qarib karya Syaikh Muhammad bin Qasim AlGhaziy, khususnya pada bab al-Zawyj . , dengan mempertimbangkan berbagai dimensi konteks, meliputi bahasa, situasi, emosi, dan budaya. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai makna kata serta penerapan hukum dalam teks klasik. Dalam konteks bahasa, mahasiswa diarahkan untuk menganalisis kata-kata dan makna mufradyt yang terdapat dalam Fath al-Qarib. Analisis ini dibagi menjadi tiga kategori: kata-kata yang umum . l-Mujmaly. , kata-kata yang memiliki kemungkinan makna beragam . l-Muhtamaly. , dan kata-kata yang memiliki makna jelas . l-Wydhihy. Kata-kata umum, seperti AunikahAy, sering kali membutuhkan penjelasan tambahan agar maknanya sesuai dengan konteks teks dan hukum yang berlaku. Kata-kata yang memiliki kemungkinan makna beragam, seperti AuwaliAy, perlu dianalisis berdasarkan konteks, karena dapat merujuk pada wali nasab . ali berdasarkan hubungan dara. atau wali hakim . ali yang ditunjuk Sedangkan kata-kata dengan makna jelas, misalnya AumaharAy, dipahami secara langsung sebagai mas kawin, sehingga membantu mahasiswa memahami teks dengan lebih Dalam konteks situasi, mahasiswa mempelajari penerapan hukum-hukum yang dijelaskan dalam Fath al-Qarib ke dalam situasi nyata yang relevan dengan kehidupan seharihari. Pendekatan ini membantu mahasiswa memahami bagaimana penerapan hukum dapat bervariasi sesuai kondisi sosial dan budaya masyarakat Muslim. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami makna kata, tetapi juga mampu mengaitkan teks klasik dengan praktik kehidupan nyata. Selain konteks bahasa dan situasi, konteks emosi dan budaya juga menjadi fokus Konteks emosi membantu mahasiswa mengenali nuansa perasaan yang terkandung dalam kata-kata atau ungkapan tertentu, sehingga makna teks dapat ditangkap secara lebih Sementara konteks budaya memberikan kerangka untuk memahami bagaimana latar belakang budaya mempengaruhi interpretasi teks, misalnya perbedaan makna kata AuAAyA dalam bidang Bahasa. Matematika, atau ilmu Pertanian. Kombinasi semua konteks ini memungkinkan mahasiswa studi keislaman menguasai keterampilan QiryAoah al-Kutub secara menyeluruh, serta memperkuat kemampuan mereka dalam memahami dan menafsirkan teks-teks klasik berbasis bahasa Arab. Implementasi Kontekstual Pembelajaran QiryAoah al-Kutub Berbasis Teori Semantik Implementasi pembelajaran QiryAoah al-Kutub dengan pendekatan teori semantik Jurnal Keislaman. Volume 8. Number 2. September 2025 kontekstual bertujuan untuk membantu mahasiswa studi keislaman memahami teks-teks klasik secara lebih mendalam dan holistik. Penelitian ini menekankan contoh penerapan teori semantik kontekstual pada teks Fath al-Qarib karya Syaikh Muhammad bin Qasim AlGhaziy, khususnya pada bab al-Zawyj . , dengan mempertimbangkan konteks bahasa, situasi, emosi, dan budaya. Tahap awal implementasi meliputi persiapan materi dan sumber belajar. Pemilihan teks menjadi langkah pertama, yakni bagian-bagian yang relevan dari Fath al-Qarib, khususnya bab al-Zawyj. Sumber pendukung seperti kamus bahasa Arab, literatur tafsir, dan referensi tambahan juga disiapkan untuk membantu mahasiswa memahami konteks historis, sosial, dan budaya teks tersebut. Pendekatan kontekstual diterapkan melalui analisis kata dan makna mufradyt. Dalam konteks bahasa, mahasiswa diarahkan untuk mengidentifikasi kata-kata umum . lMujmaly. , kata-kata yang memiliki kemungkinan makna beragam . l-Muhtamaly. , serta kata-kata yang memiliki makna jelas . l-Wydhihy. Misalnya, kata AunikahAy dianalisis dalam berbagai konteks penggunaannya. kata AuwaliAy diperiksa apakah merujuk pada wali nasab atau wali hakim. dan kata AumaharAy dipahami sebagai mas kawin yang jelas maknanya. Konteks situasi menjadi tahap berikutnya, di mana mahasiswa mendiskusikan penerapan hukum-hukum yang dijelaskan dalam teks ke dalam situasi nyata, sehingga mereka mampu mengaitkan pemahaman bahasa dengan praktik kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, konteks emosi digunakan untuk mengenali nuansa perasaan yang terkandung dalam Mufradyt, sementara konteks budaya membantu memahami pengaruh latar belakang budaya terhadap interpretasi teks, misalnya perbedaan makna kata dalam disiplin ilmu yang Pengembangan silabus dan Rencana Perkuliahan Semester (RPS) menjadi bagian integral dari implementasi pembelajaran. Dalam tahap ini, standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) ditentukan untuk memastikan mahasiswa mampu memahami dan menginterpretasi teks klasik dengan pendekatan teori semantik kontekstual. Indikator pembelajaran disusun untuk mencakup pemahaman Mufradyt dalam konteks bahasa, situasi, emosi, dan budaya. Contohnya, mahasiswa diharapkan mampu menganalisis Mufradyt seperti Nikah. Wali. Mahar, dan Talak, serta memahami makna kontekstualnya dalam teks Fath al-Qarib. Materi pokok pembelajaran mencakup analisis Mufradyt penting dalam bab al-Zawyj, yang disertai penjelasan makna kontekstual dan relevansi hukum Islam. Langkah-langkah pembelajaran dirancang mulai dari tahap pendahuluan, pengenalan teori semantik kontekstual, hingga penjelasan pentingnya konteks dalam memahami mufradyt. Tahap inti meliputi pembahasan Mufradyt, diskusi dan analisis kontekstual, serta studi kasus untuk menerapkan teori semantik kontekstual. Tahap penutup mencakup ringkasan materi, refleksi, dan umpan balik mahasiswa. Sumber belajar yang digunakan meliputi buku tafsir, kamus Mufradyt, artikel ilmiah tentang semantik kontekstual, serta sumber Online yang relevan. Instrumen evaluasi dikembangkan untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam memahami dan QiryAoah al-Kutub: Kajian Teoretis Berbasis Semantik Kontekstual pada Mahasiswa Studi Keislaman Ae Inayatur Rosyidah. Mohamad Rofik Fitrotulloh menerapkan Mufradyt dengan pendekatan semantik kontekstual, berupa tes formatif dan sumatif, diskusi kelompok, presentasi, serta studi kasus. Dengan kombinasi semua tahapan ini, pembelajaran QiryAoah al-Kutub berbasis teori semantik kontekstual diharapkan mampu meningkatkan keterampilan mahasiswa studi keislaman dalam memahami dan menafsirkan teks-teks klasik Arab secara menyeluruh. Capaian Pembelajaran dan Kriteria Penilaian QiryAoah al-Kutub Berbasis Teori Semantik Kontekstual Capaian pembelajaran QiryAoah al-Kutub dengan pendekatan teori semantik kontekstual menekankan kemampuan mahasiswa studi keislaman dalam memahami, menganalisis, dan menafsirkan Mufradyt . yang terkandung dalam teks klasik, khususnya tema alZawyj. Penilaian dilakukan berdasarkan indikator yang mengukur penguasaan konteks bahasa, situasi, emosi, dan budaya, serta kemampuan mahasiswa menerapkan teori semantik kontekstual secara kritis dan reflektif. Pemahaman Mufradyt Kontekstual Mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi mufradyt terkait tema al-Zawyj dalam Fath al-Qarib dan memahami makna kontekstualnya. Indikator penilaian mencakup kemampuan menyebutkan mufradyt kunci seperti Nikah. Wali. Mahar, dan Talak, serta menjelaskan maknanya secara tepat sesuai konteks teks. Pemahaman Mufradyt Berdasarkan Konteks Bahasa Mahasiswa dapat menganalisis makna Mufradyt berdasarkan konteks bahasa yang digunakan dalam teks. Penilaian dilakukan melalui kemampuan mahasiswa memberikan penjelasan mendalam tentang makna kata dalam kalimat maupun paragraf, menunjukkan pemahaman yang tepat terhadap struktur bahasa Arab Pemahaman Mufradyt dalam Konteks Situasi dan Emosi Mahasiswa mampu menganalisis bagaimana konteks situasi dan emosi yang terkandung dalam teks mempengaruhi makna Mufradyt. Indikator penilaian meliputi analisis kontekstual yang menunjukkan pemahaman mahasiswa terhadap variasi makna berdasarkan kondisi sosial dan nuansa emosional yang disampaikan dalam Pemahaman Mufradyt dalam Konteks Budaya Mahasiswa dapat menjelaskan pengaruh konteks budaya terhadap penggunaan dan makna mufradyt dalam bab al-Zawyj. Penilaian mencakup kemampuan mahasiswa mengaitkan makna kata dengan tradisi, praktik sosial, dan norma budaya yang relevan pada masa penulisan teks. Aplikasi Teori Semantik Kontekstual Mahasiswa mampu menerapkan teori semantik kontekstual untuk menafsirkan mufradyt dalam teks dan menjelaskan implikasinya terhadap pemahaman hukum pernikahan Islam. Indikator penilaian meliputi presentasi atau makalah yang Jurnal Keislaman. Volume 8. Number 2. September 2025 menunjukkan kemampuan mahasiswa menganalisis teks secara sistematis dengan pendekatan semantik kontekstual. Kritis dan Reflektif Mahasiswa diharapkan mampu mengkritisi dan merefleksikan relevansi hukum dari teks yang dipelajari serta implikasinya terhadap hukum keluarga Islam kontemporer. Penilaian dilakukan melalui diskusi kelas dan refleksi tertulis yang menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan aplikatif terhadap teks klasik. Proses dan Langkah Pembelajaran QiryAoah al-Kutub Berbasis Teori Semantik Kontekstual Berdasarkan capaian pembelajaran dan indikator yang telah ditetapkan, proses pembelajaran QiryAoah al-Kutub dengan pendekatan teori semantik kontekstual pada mahasiswa studi keislaman dapat dirancang dalam empat tahap utama: pendahuluan, pembelajaran inti, pembelajaran terpadu, dan penutup. Pada tahap pendahuluan, mahasiswa diperkenalkan dengan pentingnya memahami tema pernikahan dalam perspektif hukum Islam. Selanjutnya, mereka diberi pengenalan tentang teori semantik kontekstual, meliputi definisi, tujuan, dan manfaatnya dalam menafsirkan teks-teks klasik seperti Fath al-Qarib. Dosen juga memberikan latar kitab, menjelaskan signifikansi karya Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghaziy dalam studi hukum keluarga Islam, sekaligus membentuk kelompok diskusi kecil untuk mendukung interaksi dan kolaborasi selama pembelajaran. Tahap pembelajaran inti dimulai dengan pembacaan awal teks bab al-Zawyj secara individu, diikuti pembacaan mendalam yang fokus pada kosakata kunci, istilah hukum, dan Mufradyt yang terkait dengan pernikahan, seperti Nikah. Wali. Mahar, dan Talak. Mahasiswa menganalisis struktur kalimat, hubungan antar kata, dan makna kontekstual dengan bimbingan dosen, yang membantu mengaitkan kosakata dengan konteks bahasa, situasi, emosi, dan budaya. Setiap kelompok kemudian mendiskusikan pemahaman mereka terhadap teks, menyusun pertanyaan, dan menarik kesimpulan dari analisis kontekstual. Pada tahap pembelajaran terpadu, setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas. Dosen memberikan klarifikasi, menambahkan penjelasan, dan membuka sesi tanya jawab untuk memperdalam pemahaman mahasiswa. Mahasiswa juga menulis refleksi individu mengenai pemahaman mereka terhadap teks dan relevansi hukum pernikahan Islam yang terkandung di dalamnya. Diskusi kelas bertujuan untuk menggabungkan analisis leksikal dan kontekstual sehingga tercapai pemahaman yang komprehensif. Tahap penutup meliputi refleksi, evaluasi, dan tindak lanjut. Mahasiswa menulis QiryAoah al-Kutub: Kajian Teoretis Berbasis Semantik Kontekstual pada Mahasiswa Studi Keislaman Ae Inayatur Rosyidah. Mohamad Rofik Fitrotulloh ringkasan pemahaman mereka tentang bab al-Zawyj dalam Fath al-Qarib menggunakan pendekatan semantik kontekstual. Evaluasi dilakukan melalui kuis, tugas analisis teks, atau laporan singkat. Dosen merekomendasikan bacaan tambahan dan proyek kelompok untuk memperluas pemahaman terhadap tema pernikahan dalam teks klasik dan keterkaitannya dengan teori semantik kontekstual. Metode Pembelajaran Aktif yang diterapkan meliputi: Diskusi dan Analisis Teks Mahasiswa membaca teks bersama di kelas, mengidentifikasi makna katakata kunci dan konteks penggunaannya, serta berdiskusi untuk memberikan interpretasi masing-masing. Studi Kasus dan Role-Playing Menggunakan studi kasus nyata untuk memahami penerapan hukum pernikahan, serta melakukan simulasi peran . uami, istri, wali, haki. agar mahasiswa dapat merasakan konteks praktis hukum dalam kehidupan nyata. Penerjemahan Teks dan Presentasi Mahasiswa menerjemahkan bagian bab al-Zawyj dalam Fath al-Qarib, kemudian mempresentasikan hasil analisis mereka di depan kelas untuk mendorong diskusi kontekstual lebih lanjut. Refleksi dan Evaluasi Setiap sesi diakhiri dengan refleksi individu dan diskusi tantangan yang dihadapi, disertai evaluasi pemahaman mahasiswa melalui kuis atau tanya Penilaian dan Umpan Balik Evaluasi mencakup tes formatif, diskusi kelompok, presentasi, serta umpan balik konstruktif dari dosen untuk memperbaiki pemahaman dan interpretasi Proyek Akhir Mahasiswa membuat proyek analisis mendalam pada bagian tertentu dari bab al-Zawyj dalam Fath al-Qarib, menggunakan teori semantik kontekstual untuk menafsirkan mufradyt dan menjelaskan implikasinya dalam hukum keluarga Islam. Dengan rancangan pembelajaran ini, mahasiswa studi keislaman tidak hanya menguasai keterampilan membaca dan menafsirkan teks klasik Arab, tetapi juga mampu mengaplikasikan pemahaman mereka dalam konteks hukum keluarga Islam secara kontekstual, kritis, dan reflektif. Tabel berikut menyajikan rancangan proses dan langkah pembelajaran, mulai dari pendahuluan hingga metode pembelajaran aktif, yang dirancang untuk Jurnal Keislaman. Volume 8. Number 2. September 2025 memandu mahasiswa melalui tahap pembacaan, analisis, diskusi, presentasi, refleksi, dan evaluasi. Setiap langkah dilengkapi dengan deskripsi kegiatan agar pembelajaran dapat berjalan sistematis dan efektif, serta mampu menghasilkan pemahaman yang kontekstual terhadap teks klasik. Tabel 1. Rancangan proses dan langkah pembelajaran teks Fath al-Qarib tema al-Zawyj. Langkah Proses Deskripsi Pendahuluan Orientasi Pengantar tentang pentingnya Pembelajaran memahami tema pernikahan dalam Islam. penjelasan tujuan dan capaian pembelajaran. Pengenalan Mahasiswa Teori Semantik Kontekstual memahami teks klasik. Contoh penerapan dalam analisis teks Fath al-Qarib. Pengenalan Dosen Kitab Fath al- belakang Syaikh Muhammad Qarib Qasim Al-Ghaziy pentingnya kitab Fath al-Qarib dalam studi hukum keluarga Islam. Pembentukan Mahasiswa Kelompok kelompok kecil untuk diskusi Pembelajaran Inti Pembacaan Mahasiswa membaca bab al- Teks (QiryAoah al- Zawyj secara individu, mencatat Kutu. kosakata kunci seperti Nikah. Wali. Mahar. Talak. Walimah, serta menganalisis struktur kalimat dan hubungan antar kata. Diskusi Setiap Kelompok Mufradyt dalam konteks bahasa, situasi, emosi, dan budaya, lalu QiryAoah al-Kutub: Kajian Teoretis Berbasis Semantik Kontekstual pada Mahasiswa Studi Keislaman Ae Inayatur Rosyidah. Mohamad Rofik Fitrotulloh Pembelajaran Presentasi Kelompok Terpadu Kelompok makna kontekstual mufradyt. Diskusi Kelas Mahasiswa analisis leksikal dan kontekstual untuk membentuk pemahaman memberikan umpan balik dan membuka sesi tanya jawab. Penutup Refleksi Mahasiswa menulis ringkasan pemahaman mereka terhadap teks Fath al-Qarib tema al-Zawyj semantik kontekstual. Evaluasi Dosen memberikan kuis, tes Pembelajaran Tindak Lanjut Dosen bacaan tambahan dan proyek kelompok untuk memperdalam pemahaman tema lain dalam kitab Fath al-Qarib. Metode Pembelajaran Aktif Diskusi dan Analisis Teks Membaca teks bersama-sama, mendiskusikan makna kata dan interpretasi dan berdiskusi. Studi Kasus & Simulasi situasi nyata dalam Role-Playing hukum pernikahan. berperan sebagai suami, istri, wali, atau hakim. Menerjemah Mahasiswa menerjemah bab al- Teks & Zawyj Presentasi hasilnya di depan kelas. Refleksi & Sesi Jurnal Keislaman. Volume 8. Number 2. September 2025 Evaluasi mendiskusikan tantangan dan solusi dalam memahami teks. Penilaian Umpan Balik Tes dan kuis untuk mengukur Proyek Akhir Mahasiswa membuat proyek terhadap bagian tertentu dari al-Zawyj Evaluasi Pembelajaran QiryAoah al-Kutub Berbasis Teori Semantik Kontekstual Dalam rangka meningkatkan keterampilan QiryAoah al-Kutub pada mahasiswa studi keislaman, pendekatan teori semantik kontekstual menjadi landasan yang Pendekatan ini menekankan pemahaman Mufradyt . tidak hanya dari sisi makna leksikal, tetapi juga melalui konteks bahasa, situasi, emosi, dan budaya yang melingkupinya. Penerapan pendekatan ini pada teks Fath al-Qarib karya Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghaziy, khususnya pada tema al-Zawyj . , diharapkan mampu membantu mahasiswa membaca, menafsirkan, dan mengaitkan hukum-hukum yang terdapat dalam teks klasik dengan praktik hukum keluarga Islam secara relevan dan kontekstual. Untuk memastikan capaian pembelajaran dapat diukur secara objektif, diperlukan rancangan evaluasi yang sistematis. Tabel berikut menyajikan capaian pembelajaran, indikator, jenis evaluasi, serta bentuk penilaian yang digunakan dalam pembelajaran QiryAoah al-Kutub berbasis teori semantik kontekstual. Evaluasi ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami makna Mufradyt, tetapi juga mampu menerapkan dan merefleksikan pengetahuan mereka dalam konteks akademik maupun praktik nyata. Tabel 2. Capaian pembelajaran, indikator, jenis evaluasi, serta bentuk penilaian yang digunakan dalam pembelajaran QiryAoah al-Kutub berbasis teori semantik kontekstual. QiryAoah al-Kutub: Kajian Teoretis Berbasis Semantik Kontekstual pada Mahasiswa Studi Keislaman Ae Inayatur Rosyidah. Mohamad Rofik Fitrotulloh Capaian Indikator Pembelajaran Jenis Bentuk Penilaian Evaluasi Pemahaman Mahasiswa mampu Tes tertulis Menyebutkan Mufradyt kunci Mufradyt / Kuis (Nikah. Wali. Mahar. Talak. Kontekstual mufradyt penting Walima. dan menjelaskan terkait tema al-Zawyj maknanya sesuai konteks dan memahami makna bahasa, situasi, emosi, dan Pemahaman Mahasiswa dapat Analisis Menganalisis kalimat dan Konteks menjelaskan makna teks tertulis penilaian berdasarkan Bahasa Mufradyt berdasarkan ketepatan interpretasi kata konteks bahasa dalam dalam kalimat dan paragraf Pemahaman Mahasiswa Diskusi Menjelaskan bagaimana Konteks menganalisis pengaruh konteks sosial atau emosi Situasi & konteks situasi dan Laporan memengaruhi makna kata. Emosi emosi terhadap makna penilaian berbasis relevansi Mufradyt dengan praktik hukum Pemahaman Mahasiswa Presentasi Menguraikan bagaimana Konteks menjelaskan pengaruh budaya dan tradisi Budaya konteks budaya memengaruhi penggunaan terhadap makna penilaian berdasarkan Mufradyt kejelasan analisis dan contoh Penerapan Mahasiswa Makalah Analisis Mufradyt dengan Teori menerapkan teori mempertimbangkan konteks Semantik semantik kontekstual bahasa, situasi, emosi, dan Kontekstual untuk menafsirkan Proyek penilaian berdasarkan mufradyt dan kedalaman analisis dan penerapan teori Kritis dan Mahasiswa mampu Diskusi Mengemukakan argumen kritis Reflektif merefleksikan relevansi tentang penerapan hukum. hukum dari teks dan Laporan penilaian berbasis kualitas implikasinya terhadap argumen, pemahaman konteks, hukum keluarga Islam Evaluasi Mahasiswa Portofolio / Kumpulan tugas dan analisis Holistik Presentasi yang menunjukkan seluruh konteks dalam dan refleksi kritis kemampuan menafsirkan teks Jurnal Keislaman. Volume 8. Number 2. September 2025 pemahaman dan secara menyeluruh. penerapan mufradyt berdasarkan kemampuan sintesis, analisis kontekstual, dan aplikasi praktis dalam hukum keluarga Islam Kajian Literatur dan Penelitian Terkait Pemahaman teks klasik dalam studi keislaman menuntut pendekatan yang tidak hanya melihat kata secara literal, tetapi juga mempertimbangkan konteks yang Pendekatan semantik kontekstual telah menjadi salah satu strategi yang menekankan pentingnya konteks bahasa, situasi, emosi, dan budaya dalam menafsirkan mufradAt dan teks klasik. Beberapa penelitian sebelumnya memberikan bukti empiris mengenai efektivitas pendekatan kontekstual dalam analisis teks keagamaan, sehingga menjadi landasan penting untuk pengembangan pembelajaran QiryAoah al-Kutub bagi mahasiswa studi keislaman. Penelitian sebelumnya menunjukkan pentingnya pendekatan kontekstual dalam memahami teks klasik dan mufradAt. Misalnya, studi oleh Muhammad Khalil Kanzu dan rekan-rekannya tentang implementasi teori SyAq al-QurAoAn menganalisis kata Rh dan RiyAh dalam Al-QurAoan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna kata-kata tersebut tidak bersifat tetap sebagai positif atau negatif, melainkan sangat bergantung pada konteks internal maupun eksternal dalam teks. Temuan ini menegaskan urgensi pendekatan kontekstual dalam menafsirkan makna MufradAt, baik dalam Al-QurAoan maupun teks-teks keislaman Selain itu, sebuah artikel mengenai Pembelajaran MufradAt Berbasis Konteks menyoroti bahwa makna kata atau simbol ujaran tidak dapat dipahami secara absolut jika terlepas dari konteksnya, baik konteks bahasa maupun non-bahasa. Studi ini menekankan bahwa analisis MufradAt yang efektif memerlukan pemahaman terhadap situasi, budaya, dan aspek emosional yang melingkupi penggunaan kata, sehingga pembelajaran bahasa Arab dan teks klasik menjadi lebih kaya dan akurat 18. Selain penelitian dalam konteks keislaman, kajian linguistik global juga mendukung pentingnya pendekatan kontekstual dalam pembelajaran bahasa. Gillam et al. dalam Language. Speech, and Hearing Services in Schools menunjukkan bahwa instruksi bahasa berbasis konteks secara signifikan meningkatkan pemahaman semantik dan kemampuan interpretasi Faisal Mahmoud Adam Ibrahim Syuhadak. Inayatur Rosyidah. Muh. Zamroni. Usfiyatur Rusuly. Yesi Darasita. AuPedagogical Approach to Developing Linguistic Competence through Contextual Semantics in Classical Texts,Ay Izdihar: Journal of Arabic Language Teaching. Linguistics, and Literature 8, no. 275Ae90, https://doi. org/https://doi. org/10. 22219/jiz. Dkk Muhammad Khalil Kanzu. AuKajian Semantik Al-QurAoan: Implementasi Teori SyAq Al-QurAoAn Syekh AlhahrAn Dalam Analisis Kata Ru Dan RyAu,Ay Jurnal Semiotika-Q 5, no. : 259Ae79, https://doi. org/https://doi. org/10. 19109/jsq. Samsul Bahri. AuPembelajaran Mufradat Berbasis Konteks (Siya. Bagi Pembelajar Non-Arab,Ay Fasahah: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab 02, no. : 41Ae51, https://doi. org/https://doi. org/10. 62748/fasahah. QiryAoah al-Kutub: Kajian Teoretis Berbasis Semantik Kontekstual pada Mahasiswa Studi Keislaman Ae Inayatur Rosyidah. Mohamad Rofik Fitrotulloh peserta didik. Sejalan dengan itu, 19 dalam Educational Research Review menegaskan peran teks kontekstual dalam membangun kompetensi komunikatif lintas budaya di kelas bahasa. Di bidang pendidikan bahasa Arab, 20 memperkenalkan metode semantik leksikal dan kontekstual untuk memahami kosakata Al-QurAoan, menekankan bahwa penguasaan makna yang akurat hanya dapat dicapai melalui pemahaman konteks linguistik dan budaya. Sejalan dengan itu, 21 dalam Lisanuna: Jurnal Ilmu Bahasa Arab dan Pembelajarannya menunjukkan bahwa penguasaan sintaksis dan morfologi Arab memiliki korelasi positif dengan pemahaman isi teks-teks klasik di pesantren. Hasil ini memperkuat pandangan bahwa analisis semantik harus diintegrasikan dengan aspek gramatikal agar pemahaman terhadap teks lebih menyeluruh. 22 juga menyoroti pentingnya penyusunan bahan ajar bahasa Arab berbasis pendekatan semantik agar mahasiswa mampu memahami makna secara relasional, bukan hanya leksikal. Sementara itu, dari perspektif ilmu kognitif, 23 melalui penelitiannya di Cognitive Science mengungkap bahwa makna kata bersifat relatif dan dibentuk oleh model memori semantik individual yang sangat bergantung pada konteks pengalaman. Keterpaduan berbagai penelitian tersebut memperkuat dasar teoritis bahwa penerapan pendekatan semantik kontekstual dalam pembelajaran QiryAoah al-Kutub mampu meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap teks klasik secara menyeluruhAibaik dari sisi linguistik, emosional, sosial, maupun budaya. Dengan demikian, teori semantik kontekstual tidak hanya berperan sebagai alat analisis bahasa, tetapi juga sebagai jembatan pedagogis untuk mengembangkan kemampuan interpretatif dan reflektif dalam studi Kesimpulan Sebagai kesimpulan, kajian ini menegaskan pentingnya penguasaan QiryAoah al-Kutub bagi mahasiswa studi keislaman melalui pendekatan teori semantik kontekstual. Pendekatan pembelajaran ini memberikan kerangka konseptual yang mendalam untuk memahami teks klasik, khususnya Fath al-Qarib, dengan mempertimbangkan konteks bahasa, situasi, emosi, dan budaya. Implementasi pembelajaran menekankan tahapan mulai dari pendahuluan, pembacaan teks, diskusi kelompok, presentasi, refleksi, hingga evaluasi, sehingga mahasiswa Heggernes. AuA Critical Review Of The Role Of Texts In Fostering Intercultural Communicative Competence In The English Language Classroom,Ay Educational Research Review 33 . : 1Ae12, https://doi. org/https://doi. org/10. 1016/j. et al. Hizbullah. AuPengenalan Metode Semantik Leksikal Dan Kontekstual Dalam Pemahaman Kosakata Al-QurAoanAy (Jakarta, 2. , 41Ae50, https://doi. org/https://doi. org/10. 36722/psn. Alif. , & Munirul. AuHubungan Penguasaan Sintaksis Dan Morfologi Arab Terhadap Pemahaman Isi Teks-Teks Arab Dalam Kitab Klasik Di Pondok Pesantren Al-Mukhlisin Batu,Ay Lisanuna: Jurnal Ilmu Bahasa Arab Dan Pembelajarannya 13, no. : 114Ae129, https://doi. org/https://doi. org/10. 22373/ls. & Sulkifli Ilyas. AuProsedur Penyusunan Dan Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Arab,Ay Journal of Arabic Education and Linguistics 2, no. : 77Ae84, https://doi. org/https://doi. org/10. 24252/jael. Johns. AuDetermining The Relativity Of Word Meanings Through The Construction Of Individualized Models Of Semantic Memory,Ay Cognitive Science 48, no. : 1Ae50, https://doi. org/https://doi. org/10. 1111/cogs. Jurnal Keislaman. Volume 8. Number 2. September 2025 dapat menginternalisasi makna Mufradyt secara komprehensif. Capaian pembelajaran dan mengidentifikasi, menafsirkan, dan menerapkan Mufradyt secara tepat. Selanjutnya, rancangan proses dan langkah pembelajaran serta evaluasi berbasis teori semantik kontekstual memperkuat pemahaman kontekstual mahasiswa sekaligus membekali mereka dengan keterampilan analisis kritis yang relevan dalam praktik hukum keluarga Islam. Secara keseluruhan, model pembelajaran ini tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga menegaskan posisi QiryAoah al-Kutub sebagai kompetensi integral dalam studi keislaman. Daftar Pustaka