J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 PERINTISAN GEREJA MELALUI MODEL KOMUNITAS SEL BAGI MAHASISWA SEKOLAH TINGGI TEOLOGI Gabriel Agung. Wahyudi Sri Wijayanto. David Priyo Susilo (Mahasiswa Prodi S1 Teologi STT Kristus Alfa Omega: gabrielagung321@gmail. Dosen STT Kristus Alfa Omega: wahyuwijayantolj@gmail. priyo69@gmail. Abstraksi Penelitian ini mengidentifikasi bahwa perintisan gereja melalui model komunitas sel yang bermultiplikasi kurang maksimal karena mahasiswa kesulitan membangun komunitas yang berkembang, terbukti dengan tidak adanya pertambahan anggota baru. Tujuan penelitian adalah menggambarkan model perintisan gereja melalui komunitas sel bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega 2023/2024 untuk mengembangkan pemimpin gereja masa depan menggunakan metode kualitatif. Hasil wawancara dan pengamatan menunjukkan beberapa hambatan yang menghambat pertumbuhan komunitas sel. Untuk mengatasi hambatan tersebut, diperlukan pendekatan inklusif dan kesadaran peran masing-masing anggota dalam mendukung pertumbuhan komunitas. Kata Kunci: Perintisan Gereja. Komunitas Sel. Multiplikasi. Hambatan Komunitas Sel Abstract This research identifies that church planting through a multiplicative cell community model is less than optimal because students have difficulty building a thriving community, as evidenced by the absence of new members. The purpose of the study was to describe the church planting model through cell communities for students of the Alfa Omega College of Christ Theology 2023/2024 to develop future church leaders using qualitative methods. The results of interviews and observations show several barriers that hinder the growth of cell communities. overcome these barriers, an inclusive approach and awareness of the role of each member in supporting the growth of the community are needed. Key Word: Church Planting. Cell Communities. Multiplication. Cell Community Barriers PENDAHULUAN Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega memiliki visi yaitu menjadi Sekolah Tinggi Teologi yang Alkitabiah, bercirikan Pentakosta Kharismatik dan terdepan dalam pengembangan pelayanan kristiani tingkat global. Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega juga melahirkan calon penanam atau perintis gereja di masa depan. Sejalan dengan itu Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi church planter dengan melakukan pembekalan dalam bentuk pengetahuan maupun pemahaman melalui seminar-seminar yang berkaitan dengan tema besar yaitu pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus, salah satu yang ada di dalamnya adalah komunitas sel yang bermultiplikasi. Peneliti memperoleh data laporan penginjilan yang dilakukan oleh mahasiswa, adapun datanya sebagai berikut: Penginjilan Orang Baru Follow up Tidak Penginjilan Tabel 1. Data Mahasiswa Yang Melakukan Penginjilan Periode 2022-2023 J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Melihat data di atas menunjukkan kurang maksimalnya perintisan gereja melalui model komunitas sel yang bermultiplikasi bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega Semarang. Sebagian besar mahasiswa menghadapi kesulitan dalam mengimplementasikan model komunitas yang bermultiplikasi dalam kelompok yang sudah dibentuk. Meskipun berbagai seminar dan pelatihan telah dilakukan untuk memberikan pengarahan kepada mahasiswa karena beberapa mahasiswa mengatakan bahwa belum pernah terlibat langsung dalam kegiatan komunitas sel yang bermultiplikasi, walaupun modul sudah diberikan. Jadi mahasiswa hanya melakukan penjangkauan jiwa setiap bulannya tetapi tidak melakukan pemuridan atau follow up menunjukkan bahwa mahasiswa belum bermultiplikasi Hasil observasi peneliti yang dilakukan dalam pra penelitian melalui wawancara kepada mahasiswa, menemukan bahwa pengurus program penginjilan sudah memberikan wadah bagi mahasiswa untuk melakukan pemuridan dan juga follow up dengan membagi menjadi beberapa Masing-masing kelompok memiliki koordinator yang diambil dari anggota pengurus Kabar Baik. Kegiatan yang dilakukan seperti doa puasa bersama, pendampingan dan monitoring dengan tujuan untuk bermultiplikasi. Namun, setiap kelompok masih belum bermultiplikasi. Meskipun modul tentang multiplikasi sudah diberikan. Hal ini menjadi dasar dalam penelitian yang akan dilakukan bahwa komunitas sel yang ada masih belum bermultiplikasi untuk menuju kepada perintisan gereja dan hanya sebagai formalitas. Perbedaan kajian ini dengan penelitian terdahulu, peneliti lebih menitik-beratkan penelitian pada perintisan gereja baru melalui komunitas sel yang bermultiplikasi. Mengingat bahwa tidak hanya memberitakan Injil tetapi juga memuridkan dan menghasilkan murid yang bermultiplikasi melalui komunitas sel yang terbentuk, sehingga menghasilkan gereja atau jemaat baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran model perintisan gereja melalui komunitas sel bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega Periode 2023/2024 dalam mengembangkan pemimpin gereja masa Metode yang digunakan adalah kualitatif untuk dilakukan berkenaan juga dengan lahirnya calon-calon penanam gereja di masa depan, maka model penanaman gereja perlu diperhatikan dalam konteks melanjutkan misi Kristus di bumi. METODOLOGI Metode penelitian secara umum merupakan pendekatan ilmiah yang digunakan dalam proses pengumpulan dan analisis data untuk menjelaskan, membuktikan, mengembangkan, serta menemukan pengetahuan atau teori. Pendekatan ini bertujuan untuk memahami fenomena, menyelesaikan masalah, dan mengantisipasi tantangan-tantangan yang dihadapi dalam kehidupan manusia. Dalam penelitian ilmiah, metodologi menjadi pondasi penting yang menentukan keabsahan dan reliabilitas temuan yang Oleh karena itu, pemilihan metode penelitian tidak dapat dilakukan secara sembarangan. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 melainkan harus disesuaikan dengan karakteristik masalah dan tujuan penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yaitu suatu metode yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis dan faktual mengenai fenomena sosial atau peristiwa yang sedang Metode ini sangat cocok digunakan ketika peneliti ingin memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap konteks, makna, dan pengalaman yang tidak dapat dijelaskan secara statistik. Fokus utama dari pendekatan ini adalah pada keutuhan dan kekayaan data dalam konteks alami, bukan pada generalisasi hasil. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam sebagai metode utama dalam pengumpulan data. Peneliti merancang pertanyaan wawancara berdasarkan kajian teori, khususnya yang berkaitan dengan konsep teologis dan prinsip-prinsip pelayanan gerejawi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut disusun untuk menggali pemahaman responden secara mendalam mengenai tema penelitian, yaitu perintisan gereja dan komunitas sel. Beberapa fokus pertanyaan dalam penelitian ini meliputi: definisi perintisan gereja, tanda-tanda adanya perintisan, pemahaman tentang komunitas sel, tingkat keterlibatan dalam komunitas sel, faktor keberhasilan komunitas sel, konsep multiplikasi, serta hambatan-hambatan dalam pertumbuhan komunitas tersebut. Melalui wawancara ini, peneliti berharap dapat memperoleh data yang bersifat eksploratif dan reflektif, yang selanjutnya dianalisis secara sistematis untuk menemukan pola-pola yang relevan dengan tujuan penelitian. Setiap data yang diperoleh akan diproses melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan guna menjaga validitas dan integritas hasil penelitian. Dengan demikian, metodologi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi ilmiah yang bermakna bagi pengembangan praktik pelayanan dan pertumbuhan gereja, khususnya dalam konteks komunitas sel. PEMBAHASAN Dalam bagian ini, penulis membahas hasil penelitian untuk mengetahui bagaimana pemahaman perintisan gereja melalui model komunitas sel yang bermultiplikasi pada mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega Semarang. Hasil penelitian diperoleh setelah mengadakan Kemudian peneliti juga memakai teknik observasi sebagai cara untuk melengkapi data yang telah ditemukan. Pengertian Perintisan Gereja Menurut David Ariono, perintisan adalah membangun sesuatu bukan di atas dasar yang diletakkan oleh orang lain. 1 Dapat disimpulkan bahwa kemampuan yang dimiliki jemaat dalam memulai atau melahirkan jemaat yang baru untuk mengembangkan sebuah gereja disebut perintisan Sehingga jemaat menunjukkan partisipasinya dalam menjalankan fungsi berdasarkan tugas masing-masing jemaat. Simon juga menyatakan bahwa merintis gereja merupakan penanaman gereja David Ariano. Gereja Rumah (Jakarta: Pekabaran Injil, 2. , 20. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 baru dari yang tidak ada menjadi ada. 2 Dengan demikian, perintisan gereja adalah proses penting dalam membangun dan memperluas komunitas gereja untuk memenuhi misi Kristus. Menurut Pate merintis gereja ditandai dengan adanya pertambahan jumlah gereja, sehingga gereja tidak hanya sekedar mengalami kenaikan angka linier yaitu satu atau dua gereja dalam setiap tahunnya, namun berlipat ganda dengan berpangkat dua yaitu, dua menjadi empat dan seterusnya. Dengan kata lain, menyatakan bahwa perintisan gereja akan menjadi lebih sukses dan signifikan jika pertumbuhannya bergerak secara eksponensial, sehingga gereja-gereja baru berkembang secara cepat dan masif. Indikator dalam perintisan diperlukan sebagai alat ukur sebuah perubahan yang terjadi yang bertujuan untuk mengukur hasil suatu kegiatan atau program yang dilakukan. Beberapa indikator perintisan gereja adalah sebagai berikut. Pertambahan jiwa dipandang sebagai indikator keberhasilan perintisan, karena melalui proses ini, gereja dapat membawa dampak positif dan yang dengan tulus ingin percaya kepada Tuhan. Seorang gembala yang baru memulai perintisan menyadari bahwa peningkatan jumlah jiwa tidak terjadi secara instan, melainkan melalui suatu proses yang memerlukan waktu dan ketekunan. Proses pertambahan jiwa dalam perintisan gereja bukan hanya tentang kuantitas, tetapi juga kualitas. Membangun hubungan yang kuat dengan setiap individu, mendengarkan, dan memahami kebutuhan spiritual individu adalah langkah-langkah penting dalam proses ini. Seorang gembala perintis harus bersikap sabar dan berfokus pada kualitas hubungan, karena itulah yang akan membawa dampak positif dalam membimbing jiwajiwa menuju iman yang lebih dalam. Pertambahan jiwa adalah hasil dari proses yang memerlukan kesabaran dan doa yang berkesinambungan, seorang pemimpin dalam perintisan gereja dapat terus memimpin dengan teladan, memberikan pelayanan yang mendalam, dan menjadi sumber inspirasi bagi Dengan demikian, pertambahan jiwa bukan hanya menjadi pencapaian statistik, tetapi juga ungkapan nyata dari dampak positif perintisan gereja yang dilakukan dengan hati dan komitmen kuat. Pemberitaan Injil sangat penting sebagai upaya untuk memperkenalkan Alkitab dan Yesus Kristus. Individu yang menyampaikan Injil harus memiliki dasar Alkitab yang benar sehingga pesan yang disampaikan tetap sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Marthen mengatakan bahwa memberitakan Injil dianggap sebagai suatu bentuk pelayanan untuk menyelamatkan orang lain, tugas yang seharusnya dilakukan oleh seorang gembala, baik di gereja maupun di tempat-tempat yang belum mendengar Injil. Sebagai komitmen untuk menyebarkan pesan keselamatan. 4 Dengan demikian pelayanan pemberitaan Injil tidak hanya terbatas di dalam gereja, tetapi juga melibatkan tugas untuk mencapai tempat-tempat yang belum mendengar pesan Injil. Amanat Agung bukan hanya tanggung Samuel Rudy Angko and Simon. AuPerintisan Gereja Sebagai Bagian Dari Implementasi Amanat Agung,Ay Manna Raffkesia 7 . : 212. Larry Pate. Merintis Gereja-Gereja Baru (Malang: Gandum Mas, 1. , 30. Marthen Luther Mau. AuImplementasi Pola Pelayanan Yesus Sebagai Pelayan Menurut Injil Matius 4:23,Ay Phronesis: Jurnal Teologi Dan Misi 4, no. : 30. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 jawab seorang gembala atau perintis gereja saja, tetapi merupakan panggilan kolektif bagi seluruh Masing-masing anggota gereja memiliki peran penting dalam menjalankan misi ini, dan kolaborasi antar jemaat menjadi kunci keberhasilan melaksanakan Amanat Agung. Dengan begitu, gereja dapat terus berkembang menjadi berkat bagi banyak jiwa yang belum mengenal kasih Kristus. Penginjilan pribadi sangat berpengaruh terhadap perintisan gereja. Sebab penginjilan merupakan strategi dalam perintisan gereja. tanpa penginjilan pribadi, kegiatan perintisan gereja akan sulit untuk dilakukan. Penginjilan dianggap sebagai strategi kunci dalam memulai dan mengembangkan gereja baru. Tanpa adanya penginjilan pribadi, usaha perintisan gereja akan mengalami kesulitan dan mungkin tidak akan berhasil dengan baik. Pelaksanaan Amanat Agung, seorang perintis gereja perlu menggali berbagai cara dan strategi untuk mencapai jiwa-jiwa yang belum Sehingga melibatkan kepekaan terhadap kebutuhan spiritual orang-orang di sekitarnya dan kesiapan untuk beradaptasi dengan berbagai konteks kultural. Dalam setiap interaksi dan pelayanan, perintis gereja harus mengedepankan nilai-nilai kasih dan kepedulian, mencerminkan kasih Tuhan kepada setiap jiwa yang dicari. Dalam proses penyampaian Injil, tidak dapat dipungkiri bahwa ada yang mendengar dan menerima pesan, sehingga mengalami pertobatan dan bersedia hidup sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Pertobatan, sebagai hasil dari penerimaan Injil, memiliki makna mendalam yang mencakup mematikan keinginan duniawi . dan membangkitkan kehidupan rohaniah. Proses pertobatan seharusnya melibatkan pemurnian pikiran, perkataan, perasaan, dan tindakan dosa yang pernah Unsur-unsur pertobatan adalah yang mencakup pengalaman berbalik kepada Tuhan Yesus dengan sepenuh hati, berpuasa, menangis, dan meratap, adalah bagian integral dari perubahan hidup yang diinginkan. Hal ini mencerminkan komitmen yang menyeluruh dalam menyembuhkan hubungan dengan Tuhan dan mencari kebenaran-Nya dengan tekad dan intensitas spiritual. Pertobatan bukanlah suatu proses yang terjadi secara instan atau dengan kekuatan seorang Melalui pimpinan Roh Kudus, seseorang mengalami pertobatan secara pribadi. Seorang perintis gereja memiliki tanggung jawab penting dalam memberitakan Injil, menjadi saluran yang membawa kabar baik kepada orang yang belum mengenal Kristus. Dengan memberikan kesaksian dan memberitakan kebenaran, perintis gereja berkontribusi pada terbentuknya jiwa-jiwa baru yang mau bertobat dan membangun hubungan yang lebih dalam dengan Kristus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sepuluh responden mendefinisikan gereja sebagai bangunan fisik tempat ibadah serta komunitas orang percaya yang bersatu dalam iman, sesuai dengan teori David Ariono yang menyatakan bahwa gereja adalah persekutuan orang percaya yang dipanggil oleh Tuhan untuk membentuk komunitas beriman dengan persekutuan, kepemimpinan, dan pemuridan. Peter Wagner. Penanaman Gereja Untuk Tuaian Yang Lebih Besar, 1st ed. (Jakarta: Harvest Publication House, 1. , 44. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Dalam hal perintisan gereja, sepuluh responden memahami prosesnya sebagai pembentukan gereja baru dari awal, tanpa mengandalkan dasar yang sudah ada, yang mencakup penginjilan untuk membawa orang yang belum percaya atau membangkitkan mereka yang sudah lama tidak berhubungan dengan Kristus. Ini sejalan dengan konsep pertumbuhan gereja secara eksponensial yang diinginkan oleh Pate. Sembilan dari sepuluh responden melihat perintisan gereja sebagai implementasi misi Allah untuk menyebarkan Injil dan memperluas Kerajaan Allah, sesuai dengan pandangan C. Peter Wagner yang menyatakan bahwa perintisan gereja adalah metodologi penginjilan yang efektif. Penginjilan dipandang sebagai strategi kunci oleh para responden, mendukung teori bahwa tanpa penginjilan, perintisan gereja akan sulit dilakukan. Sepuluh responden menyoroti langkah-langkah penting seperti kerinduan atau panggilan untuk merintis gereja, pemilihan lokasi yang sesuai, pembentukan visi dan misi, serta penginjilan aktif sebagai tanda perintisan gereja. Proses ini biasanya dimulai dari persekutuan kecil yang berkembang menjadi pembangunan bangunan gereja. Pemberitaan Injil dan pertobatan juga menjadi fokus utama, menegaskan bahwa perintisan gereja membutuhkan pelayanan pemberitaan Injil yang tepat dan menghasilkan pertobatan. Hasil temuan penelitian ini mendukung dan mencerminkan prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang dibahas oleh para ahli mengenai perintisan gereja dalam konteks misi gereja dan penyebaran Injil. Dalam pembukaan gereja baru memerlukan persiapan dan strategi matang. Gembala gereja harus memperhatikan aspek kunci, seperti perencanaan administratif, finansial, dan logistik. Pemilihan lokasi yang tepat menjadi langkah penting untuk mendukung pelaksanaan ibadah. Strategi perintisan, termasuk pengembangan strategi pelayanan dan pertumbuhan jemaat, serta dukungan aktif dari jemaat, menjadi fokus utama. Keberhasilan dan pertumbuhan gereja menjadi motivasi bagi gembala untuk terus memberikan pelayanan yang bermakna. Dengan memperhatikan semua aspek tersebut, gereja baru dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, memberikan pelayanan yang bermakna bagi jemaat, dan berkontribusi positif dalam masyarakat sekitar. Komunitas Sel Eddy Leo mengatakan bahwa komunitas dapat didefinisikan sebagai kelompok orang yang saling memberikan dukungan. Komunitas tersebut tidak dapat dianggap sebagai komunitas yang sejati, jika dalam suatu komunitas tidak terdapat interaksi saling memberi di antara anggotanya. 6 Dengan demikian, komunitas menekankan pentingnya kolaborasi, dukungan, dan keterlibatan aktif setiap anggota yang akan terus berkembang melalui interaksi positif dan kontribusi berkelanjutan dari setiap individu di dalamnya. Joel Comiskey menyatakan bahwa sel, yang merupakan unit struktur terkecil dalam suatu organisme yang dapat berfungsi secara mandiri dalam konteks biologi, memiliki keterkaitan dengan pembentukan tubuh manusia. Seperti sel-sel yang bergabung untuk membentuk Eddy Leo. Ekklesia (Jakarta: Metanoia Publishing, 2. , 44. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 tubuh manusia, demikian pula sel-sel di dalam gereja bersatu untuk membentuk tubuh Kristus. 7 Gereja sebagai suatu kesatuan organik yang mirip dengan tubuh manusia, di mana setiap anggota memiliki peran yang tak tergantikan dalam membentuk dan memelihara tubuh Kristus secara keseluruhan. Larry Stockstill memberikan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya komunitas sel yang saling terhubung namun tetap mempertahankan keterpisahan. Konsep ini menciptakan sebuah jaringan yang memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan pelayanan secara pesat. 8 Dengan menerapkan prinsip hidup untuk saling mengasihi, komunitas sel menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan spiritual dan pelayanan yang berkelanjutan. Sikap saling mengasihi menciptakan fondasi yang kokoh untuk membangun hubungan yang sehat, memperkuat keterhubungan antar individu dalam mencapai tujuan pelayanan. Prinsip ini tidak hanya menciptakan keharmonisan internal, tetapi juga dapat memancarkan dampak positif ke luar, menjadikan komunitas sel sebagai agen perubahan yang memberdayakan dan melayani masyarakat di sekitarnya. Hasil penelitian tentang komunitas sel menunjukkan bahwa lima responden memahami komunitas sel sebagai tempat untuk berbagi firman Tuhan, kesaksian hidup, dan aktivitas lainnya, serta saling mendoakan dan mendukung dalam penginjilan dan pelayanan. Tiga responden menyoroti peningkatan interaksi dan keterlibatan anggota gereja, sedangkan dua responden memandang komunitas sel sebagai upaya gereja untuk melihat pertumbuhan individu secara mendalam. Temuan ini konsisten dengan teori para ahli seperti Larry Stockstill dan Steve Gladen, yang menekankan manfaat komunitas sel dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan spiritual dan pelayanan yang efektif. Seluruh responden aktif terlibat dalam komunitas sel, dengan peran beragam dalam kegiatan seperti ibadah, sharing firman Tuhan, doa bersama, dan penginjilan. Kegiatan seperti doa bersama, penyembahan, dan pembelajaran firman Tuhan dianggap penting untuk memperkuat iman dan hubungan antar anggota, dengan beberapa responden juga menekankan pentingnya penginjilan dan pertumbuhan komunitas. Hambatan yang dihadapi termasuk ketidakmauan dari dalam dan keterbatasan waktu dari luar. Faktor keberhasilan komunitas sel mencakup pertumbuhan anggota dan rohani, motivasi dalam menjalankan peran sebagai murid-murid Tuhan, perubahan positif dalam kehidupan anggota, serta pelatihan dan keberanian dalam penjangkauan jiwa. Temuan ini sejalan dengan teori Cho yang menekankan pentingnya memenangkan jiwa, memberikan nasihat yang efektif, dan mendoakan anggota kelompok sel, meskipun terdapat perbedaan penekanan antara teori dan temuan penelitian. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa komunitas sel berperan penting dalam pertumbuhan spiritual seluruh anggota komsel, interaksi antar anggota, dan keberhasilan misi penginjilan gereja. Joel Comiskey. Ledakan Kelompok Sel (Jakarta: Yayasan Media Buana Indonesia, 1. Larry Stockstill. Gereja Sel (Jakarta: Metanoia, 2. , 3. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Komunitas Sel Yang Bermultiplikasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman responden mengenai konsep multiplikasi dalam komunitas sel bersifat beragam, namun saling melengkapi satu sama lain. Multiplikasi tidak dipandang sebagai konsep yang kaku atau terbatas pada satu pendekatan tertentu, melainkan sebagai suatu proses yang kompleks dengan berbagai dimensi. Secara umum, multiplikasi dipahami dalam dua dimensi utama, yaitu kuantitatif dan kualitatif, yang keduanya berkontribusi terhadap pertumbuhan gereja secara holistik. Pandangan ini memperlihatkan bahwa proses multiplikasi tidak hanya menekankan pada pertambahan jumlah semata, tetapi juga pada pendalaman nilai-nilai spiritual dan penguatan karakter para anggotanya. Dengan demikian, pemahaman para responden mencerminkan suatu pendekatan yang menyeluruh terhadap dinamika pertumbuhan komunitas sel. Sebagian responden, khususnya tiga orang, memahami multiplikasi sebagai proses penggandaan melalui pertumbuhan jumlah jiwa yang dijangkau, serta pembentukan komunitaskomunitas baru yang mandiri. Dalam pandangan ini, multiplikasi merupakan hasil langsung dari aktivitas penjangkauan . yang efektif. Strategi ini menekankan pentingnya ekspansi melalui penjangkauan yang terencana, di mana anggota komunitas secara aktif membawa orang-orang baru untuk kemudian dibina dalam komunitas yang baru. Tujuannya bukan sekadar menambah jumlah anggota dalam satu kelompok, tetapi membentuk kelompok-kelompok baru yang dapat berdiri sendiri dan melayani secara kontekstual. Maka dari itu, multiplikasi dipahami sebagai strategi ekspansi gereja yang berdampak luas dan berkelanjutan. Empat responden lainnya mengaitkan multiplikasi dengan peningkatan jumlah kelompok sel sebagai hasil dari penjangkauan jiwa yang terus berkembang. Dalam pandangan mereka, multiplikasi merupakan indikator pertumbuhan eksternal gereja yang nyata dan terukur. Mekanisme ini memungkinkan gereja untuk menjangkau wilayah-wilayah baru dan mengakomodasi lebih banyak individu dalam wadah pembinaan rohani. Kesuksesan suatu komunitas sel, dalam konteks ini, diukur dari kemampuan kelompok untuk melahirkan komunitas baru dari dalam dirinya, sehingga menunjukkan adanya reproduksi spiritual yang sehat. Multiplikasi tidak hanya dipahami sebagai hasil akhir, tetapi sebagai bagian dari siklus kehidupan komunitas sel yang hidup dan dinamis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman para responden terhadap multiplikasi mencerminkan adanya kesadaran akan pentingnya pertumbuhan gereja yang bersifat holistik dan Baik dalam bentuk penggandaan jiwa, pembentukan komunitas baru, maupun pertumbuhan kelompok secara numerik, semua pendekatan tersebut berkontribusi pada misi gereja secara keseluruhan. Hal ini mempertegas bahwa multiplikasi merupakan pondasi penting dalam strategi pemuridan dan ekspansi pelayanan gerejawi. Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan keselarasan antara visi gereja, kesiapan anggota, serta strategi pembinaan yang terstruktur dan berorientasi pada pertumbuhan yang seimbang antara kualitas dan kuantitas. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Tiga responden lainnya menyoroti dimensi pemuridan dalam multiplikasi, yakni bertambahnya jumlah anggota melalui proses pembinaan rohani yang intensif. Dalam pandangan ini, multiplikasi bukan sekadar peningkatan jumlah, melainkan hasil dari proses pemuridan yang terarah dan Mereka menggarisbawahi pentingnya ketersediaan calon murid serta kesediaan anggota lama untuk mengambil tanggung jawab sebagai murid. Tantangan utama yang dihadapi dalam konteks ini adalah rendahnya komitmen dan kesadaran anggota terhadap tanggung jawab memuridkan. Multiplikasi menjadi tidak efektif apabila pemuridan tidak berjalan dengan baik dan jika tidak terdapat pola regenerasi dalam kepemimpinan maupun pelayanan di komunitas sel. Pemikiran para responden ini sejalan dengan pandangan para ahli seperti Eddy Leo, yang menyatakan bahwa multiplikasi dalam konteks kelompok sel mencakup aspek kuantitatif dan kualitatif. Aspek kuantitatif mengacu pada pertambahan jumlah jiwa dan kelompok, sementara aspek kualitatif mencakup pendalaman iman dan kedewasaan rohani setiap anggota. Artinya, multiplikasi tidak hanya sebatas penggandaan jumlah secara fisik, tetapi juga transformasi spiritual yang dialami oleh individuindividu di dalam komunitas. Pemahaman ini memperkuat temuan bahwa pertumbuhan sejati dalam komunitas sel hanya akan terjadi ketika kedua aspek berjalan seimbang. Empat responden menambahkan bahwa multiplikasi juga mencakup proses melahirkan pemimpin atau murid baru yang akan menjadi pilar bagi komunitas sel selanjutnya. Dalam hal ini, multiplikasi memerlukan partisipasi aktif dari setiap anggota, terutama dalam membina dan mengembangkan potensi kepemimpinan orang lain. Mereka menekankan pentingnya kesadaran dan kesiapan anggota untuk terlibat dalam proses ini sebagai bagian dari panggilan pelayanan. Hambatan yang diidentifikasi mencakup kurangnya pemahaman mendalam tentang multiplikasi dan kekhawatiran akan penolakan dari orang yang ingin dijangkau. Oleh karena itu, pembinaan yang tepat perlu diberikan agar anggota memiliki keyakinan dan keberanian untuk mengambil peran sebagai pemimpin atau murid. Selanjutnya, tiga responden menyoroti pertumbuhan kuantitas melalui upaya penjangkauan jiwa dan pembentukan murid baru sebagai komponen utama multiplikasi. Menurut mereka, anggota komunitas sel perlu memiliki semangat bersaksi dan komitmen untuk memuridkan orang lain secara Proses ini membutuhkan keberanian dan ketekunan, karena salah satu hambatan utama adalah rasa takut akan penolakan atau kegagalan dalam menjangkau orang baru. Ketakutan ini dapat menghambat inisiatif anggota dalam terlibat langsung dalam proses pemuridan. Oleh sebab itu, diperlukan dukungan dan dorongan dari pemimpin kelompok serta lingkungan yang mendukung agar setiap anggota merasa mampu dan percaya diri untuk melaksanakan tugas ini. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa responden memahami pentingnya konsep multiplikasi dalam konteks komunitas sel sebagai upaya melahirkan pemimpin atau murid baru, menjangkau jiwa, dan membentuk komunitas baru. Namun, pemahaman ini juga diiringi dengan tantangan yang memerlukan strategi khusus untuk diatasi, seperti pembinaan yang berkelanjutan, penguatan pemahaman teologis, dan peningkatan motivasi anggota. Pandangan ini sejalan dengan teori J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Sukamto. Paul Yonggi Cho, dan Eko Setiawan yang menyatakan bahwa kelompok sel merupakan sarana penting dalam pemuridan, pelatihan kepemimpinan, dan ekspansi pelayanan gereja. Keberhasilan multiplikasi sangat bergantung pada kesiapan individu dan struktur komunitas yang mendukung proses pembinaan dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Hambatan Komunitas Sel Komsel tidak hanya berfungsi sebagai tempat pertemuan sosial, melainkan lebih sebagai arena pertumbuhan rohani dan peribadatan yang mendalam. Meski begitu, realitas di lapangan seringkali menunjukkan bahwa tidak semua komsel beroperasi dengan efektivitas yang diharapkan. Menurut Eli dalam tulisannya tentang penyakit mematikan dalam komsel, terdapat tantangan-tantangan tertentu seperti sindrom persekutuan, kepemimpinan yang lemah, penekanan yang salah, stagnasi rohani, dan visi yang tidak sesuai, kerap menjadi hambatan yang mengurangi keefektifan dan keberlanjutan komsel dalam memenuhi tujuannya. Sindrom Persekutuan Kelompok kecil berperilaku kontraproduktif. Sering kali ada kecurigaan dan penolakan terhadap anggota baru yang ingin bergabung. Adanya batasan yang jelas antara anggota komsel dan anggota baru menciptakan atmosfer di mana anggota baru merasa tidak diterima atau diakui dalam komunitas tersebut. Ironisnya, anggota menyadari bahwa kelompok kecil seharusnya menjadi lingkungan terkecil yang memungkinkan pertumbuhan. Kepemimpinan Yang Lemah Keadaan komsel bisa terganggu karena kepemimpinan yang kurang efektif dari pemimpin komunitas sel. Kurangnya kemampuan pemimpin dalam memimpin secara tepat dan efisien dapat menyebabkan ketidaksehatan di dalam komsel. Solusi untuk penyakit ini dapat ditemukan dengan mengganti pemimpin atau memberdayakan melalui program mentoring. Kunci kesuksesan dalam membimbing komsel terletak pada kualitas kepemimpinan. Penekanan Yang Salah Komsel tidak dapat disamakan dengan kegiatan santai atau pertemuan sosial semata, seperti acara kumpul-kumpul dan makan bersama. Sebaliknya, komsel merupakan ruang pertumbuhan bersama dalam lingkup kecil, yang didasarkan pada pemahaman terhadap firman Allah. Kesalahan dalam menekankan tujuan komsel dapat menghasilkan suatu kondisi yang dapat dianggap sebagai penyakit komsel, namun hal ini dapat diatasi. Stagnasi Rohani Komsel berperan sebagai tempat pertemuan dengan Tuhan, di mana setiap individu diharapkan dapat mengalami perjumpaan dengan Kristus melalui berbagi firman, pujian penyembahan, dan https://sonnyelizaluchu. com/2009/01/penyakit-mematikan-yang-komsel. Diakses 10 Januari 2024. Pukul 13. 00 WIB. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 berbagi tentang pengalaman hidup. Jika komsel kehilangan suasana rohani, dampaknya akan terasa sebagai stagnasi rohani yang menyebabkan kurangnya kehidupan spiritual di dalamnya. Hal ini dapat membuat anggota enggan mengikuti komsel karena merasa tidak mendapatkan manfaat Oleh karena itu, kekuatan doa menjadi sangat penting dalam komsel, dimulai dari pemimpin dan seluruh anggota yang harus berdoa untuk pengalaman pertemuan dengan Tuhan serta jiwa-jiwa yang akan diutus oleh-Nya Visi Yang Salah Gereja perlu berdoa agar Tuhan memberikan visi pertumbuhan yang jelas, tanpa harus meniru strategi pertumbuhan gereja lain. Jika komsel merupakan strategi yang Tuhan tentukan untuk sebuah gereja, maka upaya manusia akan berhasil dengan sendirinya. Sebaliknya, jika strategi tersebut hanya hasil peniruan tanpa memperhatikan konteks dan hambatan dalam jemaat, kemungkinan besar akan mengalami kegagalan. Banyak gereja mengalami kegagalan menerapkan komsel karena hanya meniru tanpa mempertimbangkan kondisi unik jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan komunitas sel di Mahanaim Community Church Semarang menghadapi berbagai hambatan yang cukup signifikan. Berdasarkan temuan lapangan, empat responden menyatakan bahwa salah satu kendala utama adalah keterbatasan dalam memperluas cakupan komunitas. Hal ini disebabkan oleh kenyamanan sebagian besar anggota dengan keadaan yang sudah ada, sehingga mereka cenderung pasif dalam melakukan ekspansi. Kurangnya inisiatif untuk mencari anggota baru menjadi tantangan serius, karena tanpa adanya regenerasi atau penambahan anggota, komunitas cenderung stagnan. Selain itu, beberapa responden juga mengungkapkan adanya kesulitan dalam menerima anggota baru, baik karena faktor kecocokan personal maupun budaya kelompok yang tertutup. Empat responden lainnya mengidentifikasi perbedaan pendapat dan kurangnya kesatuan hati sebagai penghambat pertumbuhan komunitas sel. Ketidakharmonisan ini muncul dari perbedaan pandangan terkait arah dan tujuan kelompok, serta kurangnya komunikasi terbuka di antara anggota. Dalam komunitas sel, kesatuan hati merupakan pondasi penting untuk membangun relasi yang kuat dan kerja sama yang efektif. Ketika anggota memiliki visi dan nilai yang tidak selaras, maka semangat kebersamaan dan kolaborasi pun terganggu. Hambatan ini mencerminkan pentingnya kepemimpinan yang mampu menyatukan anggota dalam satu visi dan misi yang jelas. Di sisi lain, dua responden mencatat bahwa kurangnya antusiasme dan keterlibatan aktif anggota menjadi faktor penghambat lain dalam pertumbuhan komunitas sel. Ketika anggota bersikap pasif dan tidak menunjukkan komitmen dalam kegiatan kelompok, maka dinamika dan keberlanjutan komunitas menjadi terancam. Selain itu, pemahaman yang salah tentang tujuan keberadaan komunitas sel juga mempengaruhi partisipasi Sebagian menganggap komunitas sel sekadar forum sosial, bukan sebagai sarana pembinaan rohani dan pemuridan. Hal ini menunjukkan perlunya edukasi dan pembinaan berkelanjutan agar anggota memahami nilai strategis komunitas sel dalam kehidupan gereja. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 Temuan-temuan ini sejalan dengan teori para ahli tentang kesehatan kelompok sel yang menyebutkan adanya beberapa faktor risiko, seperti sindrom persekutuan, kepemimpinan yang lemah, dan stagnasi rohani. Sindrom persekutuan merujuk pada kecenderungan komunitas untuk menjadi eksklusif dan nyaman dengan lingkaran yang sudah ada, sehingga menutup diri dari pertumbuhan. Kepemimpinan yang tidak efektif juga menjadi penyebab kurangnya arah dan motivasi dalam Sementara itu, stagnasi rohani muncul ketika komunitas kehilangan semangat untuk bertumbuh secara spiritual, sehingga tidak lagi menjadi wadah yang hidup dan berdampak bagi anggotanya maupun lingkungan sekitar. Untuk mengatasi hambatan ketertutupan terhadap anggota baru, responden memberikan beberapa solusi. Tiga responden menekankan pentingnya pendekatan yang bijaksana dalam menerima anggota baru, termasuk membangun hubungan yang alami dan tidak memaksa. Empat responden menyoroti pentingnya interaksi yang ramah dan inklusif, di mana setiap individu merasa diterima tanpa Tiga responden lainnya menekankan perlunya kesadaran dari setiap anggota terhadap peran mereka dalam mendukung pertumbuhan dan inklusi. Kesadaran kolektif ini akan menciptakan budaya kelompok yang terbuka dan bersahabat, serta mendorong atmosfer yang kondusif bagi pertumbuhan anggota baru. Peran pemimpin dalam komunitas sel juga sangat krusial dalam menentukan arah dan keberhasilan kelompok. Lima responden menekankan bahwa pemimpin harus menjadi teladan dalam sikap, perilaku, dan kedewasaan rohani. Selain itu, pemimpin yang baik juga harus mampu menjadi pengajar yang efektif serta memiliki pemahaman mendalam tentang kondisi dan kebutuhan Lima responden lainnya menambahkan bahwa kepemimpinan yang ideal harus mencakup kemampuan berkomunikasi dengan baik, membangun relasi yang kuat antar anggota, menjaga kedekatan pribadi dengan Tuhan, serta menunjukkan sikap melayani yang tulus. Semua aspek ini akan menciptakan iklim komunitas yang sehat dan bertumbuh. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa hambatan utama dalam pertumbuhan komunitas sel meliputi keterbatasan dalam ekspansi, perbedaan pandangan, kurangnya inisiatif dan antusiasme anggota, serta miskonsepsi mengenai tujuan komunitas. Mengatasi tantangantantangan ini memerlukan strategi yang menyeluruh, meliputi pendekatan interpersonal yang bijak, penciptaan interaksi yang inklusif, peningkatan kesadaran peran anggota, serta penguatan kualitas Pemimpin yang efektif memegang peran kunci dalam mengarahkan komunitas sel menuju pertumbuhan yang berkelanjutan, membangun komunikasi yang terbuka, serta menciptakan atmosfer yang berpusat pada pelayanan dan pembinaan rohani. J T S 2024 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 13 NOMOR 2 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian kualitatif mengenai studi deskriptif perintisan gereja melalui model komunitas sel yang bermultiplikasi dan penerapannya bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi, dapat disimpulkan bahwa perintisan gereja yang efektif melalui model komunitas sel yang bermultiplikasi memerlukan pemahaman mendalam tentang konsep perintisan gereja dan komunitas sel, serta penerapan prinsip-prinsip yang terbukti berhasil dalam teori dan praktik gerejawi. Temuan menunjukkan bahwa pemahaman tentang gereja sebagai persekutuan orang percaya yang bersatu dalam iman, pemahaman akan proses perintisan gereja sebagai pembentukan gereja baru dari awal, dan pentingnya penginjilan dalam pertumbuhan gereja merupakan elemen kunci yang harus dipahami dan diterapkan oleh mahasiswa. Selain itu, penelitian ini juga menyoroti pentingnya komunitas sel dalam mendukung pertumbuhan rohani dan pelayanan yang efektif dalam tubuh Kristus. Komunitas sel tidak hanya menjadi tempat beribadah dan berbagi Firman Tuhan, tetapi juga menjadi wadah untuk pelayanan, pembelajaran, dan penginjilan. Hal ini sejalan dengan teori para ahli yang menekankan manfaat komunitas sel dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan spiritual dan pelayanan yang efektif. Namun, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa hambatan yang dapat menghambat pertumbuhan komunitas sel, seperti keterbatasan anggota dalam memperluas cakupan komunitas, kurangnya inisiatif untuk mencari anggota baru, dan kesulitan menerima orang baru. Dalam mengimplementasikan model komunitas sel yang bermultiplikasi, perlu adanya upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut melalui pendekatan interaksi yang inklusif, termasuk kegiatan atau forum diskusi yang menyambut berbagai perspektif dan pengalaman. Dengan demikian, komunitas sel dapat berkembang secara efektif, mendukung pertumbuhan spiritual, dan menjalankan misi gereja dengan lebih baik. Penelitian ini menawarkan kebaruan dalam konteks model komunitas sel yang bermultiplikasi di kalangan mahasiswa teologi, menunjukkan bagaimana pemahaman dan strategi yang tepat dapat mendukung perintisan gereja yang efektif. Disarankan agar mahasiswa dan pemimpin gereja memperkuat pemahaman tentang pentingnya komunitas sel dalam mendukung misi gereja, meningkatkan inisiatif dan keterlibatan dalam mencari dan menerima anggota baru, menerapkan pendekatan interaksi yang inklusif, serta mengadakan pelatihan dan diskusi rutin untuk membekali anggota dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam penginjilan dan pelayanan. DAFTAR PUSTAKA