Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. Available at: https://journal. id/index. php/griyawidya EISSN: 2809-6797 Perbandingan Pengetahuan dan Sikap tentang PCOS pada Mahasiswi Kesehatan dan Non Kesehatan Wilda Qotrunnada Salsabila1*. Kartika Adyani2, dan Friska Realita3 Universitas Islam Sultan Agung. Semarang. Indonesia *Email : wildaqotrunn8@gmail. Submitted: 2024-06-07 Accepted: 2024-10-23 Published: 2024-12-29 Keywords: Students Knowledge PCOS Attitudes DOI: 10. 53088/griyawidya. Abstract Background: Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) is a common reproductive problem in women of childbearing age, with a global prevalence of 3. 4% and 5Ae 10% in Indonesia. PCOS can cause infertility, as well as metabolic and psychological disorders. The main symptom is irregular menstruation, which is often associated with poor dietary habits such as junk food consumption, especially in female students. Lack of knowledge about PCOS among adolescents and female students triggers inappropriate attitudes towards this Method: This research is a quantitative research using a comparative study design with a cross-sectional design. The sample of 94 health students and 94 non-health students was obtained through proportionate sampling with a stratified random method. Data collection used a questionnaire and was analyzed using the Independent Sample T-Test and Maan Whitne. Result: The results of the study showed that the average and median values of knowledge and attitudes of health students were higher than non-health students, the difference between the two variables was . <0. These results indicate that there are differences in knowledge and attitudes between health and non-health students. Health students have better knowledge and attitudes. Implications: For health and non-health students, it is expected to improve reproductive health literacy, participate in health education or seminars, especially regarding PCOS considering that this syndrome can affect women's quality of life and long-term health. PENDAHULUAN Salah satu masaIah kesehatan yang paling umum diderita oleh wanita usia subur adalah sindrom ovarium polikistik (PCOS). PCOS mempengaruhi sistem reproduksi, metabolisme, endokrin, dan aspek psikologis (Wahyuni, 2. Sindrom ini mengakibatkan gangguan pada ovarium atau kondisi endokrin, yang ditandai dengan masalah dalam ovuIasi yang disebabkan oleh hiperandrogenisme dan ketidakseimbangan hormon, yaitu hormon estrogen dan progesteron (Singh et al. , 2. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 116 juta wanita . ,4%) terkena PCOS di seluruh dunia (Bulsara et al. , 2. A 2024. This work is licensed under a CC BY-SA 4. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. 2024 Kejadian PCOS bervariasi berdasarkan ras, mulai dari 1,8% hingga 15%. Prevalensi PCOS di Indonesia mencapai 5-10% (Sari et al. , 2. Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian Hanani . Prevalensi PCOS di Kota Semarang (Hanani & Ardiyanti, 2. Prevalensi PCOS di RSUP Dr. Kariadi Semarang mengalami kenaikan kasus dari tahun 2020-2022 dari 66 kasus hingga 104 kasus, sedangkan di RSD K. T Wongsonegoro kasus mengalami penurunan pada tahun 2020-2021 tetapi kembaIi meningkat pada tahun 2021-2022 dari 13 kasus menjadi 19 kasus, dan di RS Panti Wilasa Citarum Semarang hanya terdapat satu data di tahun 2022 yakni 29 kasus PCOS. PCOS tidak hanya sebagai kelainan reproduksi namun ternyata sindrom ini memiliki konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang dalam kehidupan wanita. Komplikasi janga pendek yang dapat terjadi jika PCOS tidak segera diobat yakni, infertilitas, komplikasi obstetrik, sedangkan komplikasi jangka panjangnya yakni, resiko kardiovaskular, metabolik (Resisten insuli. , resiko onkologi, psikologis dan penurunan kualitas hidup (Palomba et al. Menurut penelitian (Sari et al. , 2. pasangan infertil baru meningkat setiap tahun, dengan perkiraan 10% kasus infertilitas. PCOS dianggap sebagai suatu kondisi yang mempengaruhi yang memperngaruhi ovulasi dan infertilitas yang ditandai dengan ketidakteraturan menstruasi, kelebihan androgen, obesitas, hirsutisme, andogren yang meningkat, resistensi insulin, atau hiperinsulnemia, tumbuh jerawat, obesitas, dan oligomenorea . siklus menstruasi atau kurang dalam satu tahu. (Spritzer et al. , 2022. Suprapti, 2. Ketidakteraturan menstruasi menjadi tanda gejala dari PCOS pada remaja yang paling sering dialami dan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian PCOS. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. , sekitar 11,7% remaja di Indonesia mengaIami siklus menstruasi yang tidak teratur. Selain itu, di daerah metropolitan Indonesia, terdapat 14,9% yang juga mengalami masalah menstruasi yang tidak teratur (Yuni Purwati, 2. Ketidakteraturan menstruasi menjadi keluhan paling sering yang dialami. Gejala tersebut berhubungan dengan pola hidup kurang baik, seperti pola makan yang tidak sehat dan mengonsumsi makan-makanan cepat saji. Menurut penelitian Surya . diketahui mayoritas mahasiswa sebesar 84. 11% sering mengonsumsi junk food dengan frekuensi Ou 3x/minggu (Suryaalamsah et al. , 2. Menurut penelitian Kurniasih . Pola makan buruk pada mahasiswa meningkatkan risiko munculnya jerawat sebesar 23. 524 kali lipat dibandingkan dengan mahasiswa dengan pola makan yang baik (Kurniasih et al. , 2. Menurut penelitian Priyanka . ketidakteraturan menstruasi juga jauh lebih umum terjadi pada anak perempuan yang rutin mengonsumsi junk food . ,37%) dan tidak menjalani pola makan sehat . ,20%) (Negi. Mishra, & Lakhera, 2. Isu-isu yang berhubungan dengan hal ini sebagian besar disebabkan oleh minimnya pemahaman dan pengetahuan remaja tentang PCOS sehingga mempengaruhi sikap dalam kehidupan sehari-hari. Menurut penelitian Goh . hampir separuh responden wanita dalam penelitian ini memiliki skor pengetahuan < 10 . ,30%) dan skor praktik kesehatan < 30 . ,60%) (Goh et al. , 2. Penelitian (Rizvi et al. , 2. menunjukkan rata-rata skor pengetahuan PCOS adalah 12,02 pada mahasiswi Kesehatan dan 9,36 . ahasiswa nonkesehata. Kesadaran akan sindrom ini sangat terkait dengan dampak langsung atau tidak langsung dari PCOS, karena pengetahuan di antara peserta sangat bergantung pada pengalaman sebelumnya. Peneliti berminat melakukan penelitian untuk mengeksplorasi dan mengetahui perbandingan pengetahuan dan sikap mahasiswi tentang PCOS pada mahasiswi fakultas kesehatan dan non kesehatan diharapakan penelitian ini dapat menambah pengetahuan mahasiswi sehingga dapat melakukan pencegahan dini. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. METODE Jenis dan Desain PeneIitian ini merupakan peneIitian kuantitatif yang menggunakan desain peneIitian comparative study atau peneIitian komparatif. Penelitian yang bersifat komparatif menurut (Sahir, 2. adalah studi yang bertujuan untuk membandingkan subjek penelitian dan mengidentifikasi hubungan sebab-akibat antara mereka, tanpa mempertimbangkan variabel sebelumnya. (Sugiyono, 2. Selain itu, peneIitian komparatif adaIah studi yang membandingkan kondisi satu variabeI atau Iebih pada dua atau Iebih sampeI atau pada dua waktu yang berbeda. Adapun rancangan peneIitian ini menggunakan desain Studi cross sectional mengukur data hanya sekali dan satu waktu untuk variabel independen dan dependen (Yunitasari et al. , 2. Data dan Sumber Data Sumber data yang sebenarnya dalam suatu studi peneIitian adalah sampel, yang merupakan komponen dari populasi (Adnyana, 2. Penelitian ini menggunakan sample mahasiswa perempuan dari Fakultas kesehatan dan non kesehatan Universitas IsIam Sultan Agung. Semarang. Jumlah sampel yang diteliti berjumlah 88 mahasiswi di setiap kelompok. Jumlah sampel minimal akan ditambahkan 10% untuk mengantisipasi hilangnya sampel . rop ou. , sehingga sampel yang digunakan akan mencakup 94 mahasiswi, sehingga jumlah sampel keseluruhannya yakni 188. Terdiri dari kelompok fakultas kesehatan terdiri dari. Fakultas Farmasi . rogram studi S1 Kebidana. dan Fakultas Keperawatan (S1 Keperawata. dan Kelompok fakultas non kesehatan yakni Fakultas Ekonomi . rogram studi S1 Manajeme. dan Fakultas hukum . rogram studi S1 Huku. Teknik Pengumpulan Data Teknik untuk mengumpulkan data dalam studi ini adalah menggunakan kuesioner. Kuesioner merupakan teknik untuk mengumpulkan data dengan cara memberikan kumpulan pertanyaan atau pernyataan dalam bentuk tulisan kepada responden untuk dijawab (Prawiyogi et al. , 2. Kuesioner pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui perbandingan hasil pengetahuan dan sikap tentang PCOS, kuesioner tersebut diberikan melalui google form. Keabsahan Data Hasil uji validitas angket variabel pengetahuan yang dilakukan kepada 30 mahasiswi tersebut didapatkan hasil bawah dari 20 item pertanyaan dan kuesioner pertanyaan sikap dinilai valid, dimana nilai R-Hitung > R-Tabel. Setelah dilakukan uji validitas, selanjutnya dilakukan uji reliabilitas, didapatkan bahwa nilai Cronbach' Alpa variabel pengetahuan 0,905 dan variabel sikap 0,742. Analisis Data Analisis untuk menguji perbandingan pengatahuan dan sikap tentang PCOS pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan, pada variabel pengetahuan dikarenakan data terdistribusi normaI dan homogen maka uji analisis menggunakan uji Independen sample ttest, sedangkan pada variabel sikap menggunakan uji Mann Whitney u-test menggunakan SPSS 25. A 2024. This work is licensed under a CC BY-SA 4. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. HASIL Karakteristik Responden Fakultas Tabel. 1 Karakteristik Responden Frekuensi Karakteristik . Persentase (%) Program studi Kesehatan Non Kesehatan S1 Kebidanan S1 Keperawatan Jumlah S1 Hukum S1 Akuntansi Jumlah 17 Ae 24 tahun < 17 Ae 24 tahun Jumlah 17 Ae 24 tahun < 17 Ae 24 tahun Jumlah < 12 tahun 12 - 14 tahun > 14 tahun Jumlah < 12 tahun 12 - 14 tahun > 14 tahun Jumlah 21 Ae 35 Hari < 21 Hari > 35 hari Jumlah 21 Ae 35 Hari < 21 Hari > 35 hari Jumlah < 18. 5 Ae 24. 0 Ae 29. > 30 Jumlah < 18. 5 Ae 24. 0 Ae 29. > 30 Jumlah Usia Kesehatan Non Kesehatan Usia Menarche Kesehatan Non Kesehatan Siklus Menstruasi Kesehatan Non Kesehatan IMT Kesehatan Non Kesehatan Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. 2024 Berdasarkan table. 1 karakteristik mahasiswi kesehatan program studi S1 Keperawatan lebih banyak . %) dibandingkan S1 Kebidanan . %). Selain itu, responden dari fakultas non kesehatan juga berjumlah 94 mahasiswi dengan persentase program studi S1 Hukum lebih banyak . %) dibanding S1 Akuntansi . %). Pada variabel usia responden pada penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswi Fakultas Kesehatan dan non kesehatan 100% . kesehatan dan 94 non kesehata. responden memiliki usia 17 Ae 24 tahun. Responden pada penelitian ini menunjukkan bahwa menarche . sia pertama kali menstruas. pada mahasiswi fakultas kesehatan paling banyak terdapat pada usia 12 Ae 14 tahun . %), diikuti usia 14 tahun . %). Sedangkan menarche pada responden fakultas non kesehatan paling banyak terdapat pada usia 12 Ae 14 . %), diikuti usia < 12 tahun . %), dan usia > 14 tahun . %). Siklus menstruasi yang dialami oleh mahasiswi yang menjadi responden pada penelitian ini menunjukkan bahwa . %) responden mahasiswi fakultas kesehatan memiliki siklus menstruasi 21-35 hari, . %) responden memiliki siklus < 21 hari, dan . %) responden memiliki siklus > 35 hari. Selain itu, pada fakultas non kesehatan . %) responden memiliki siklus 21 Ae 35 hari, . %) responden memiliki siklus < 21 hari, dan . %) memiliki siklus > 35 hari. Selain itu mahasiswi yang menjadi responden pada penelitian ini memiliki IMT (Indeks Massa Tubu. yang berbagai macam kondisi, diantaranya pada fakultas kesehatan paling banyak . %) responden memiliki IMT 18. 5 Ae 24. 9, diikuti . %) responden memiliki IMT < 5, dan . %) responden memiliki IMT > 30. Selain itu, pada fakultas non kesehatan paling banyak . %) responden memiliki IMT 18. 5 Ae 24. 9, diikuti . %) memiliki IMT < 18. 5, dan . %) responden memiliki IMT > 30. Hasil pengukuran pengetahuan mahasiswi kesehatan dan non kesehatan. Tabel. 2 Hasil Pengetahuan tentang PCOS Variabel Mean Min Max Selisih Mean Kesehatan Non Kesehatan 70,59 58,24 12,35 Berdasarkan tabel. 2 diketahui bahwa rata-rata mahasiswi kesehatan sebesar 70,59, skor nilai minimal 5, dan skor nilai maksimal 100. Sedangkan rata-rata mahasiswi non kesehatan 58,24 nilai minimal 0, dan maksimal 100 dengan perbedaan skor rata-rata antara kelompok kesehatan dan non kesehatan 12,35. Hasil pengukuran sikap mahasiswi kesehatan dan non kesehatan Variabel Kesehatan Non Kesehatan Tabel. 3 Hasil Sikap tentang PCOS Median Min Max 70,83 62,50 Selisih Median 8,33 Berdasarkan Tabel. 3 mahasiswi kesehatan memiliki nilai median sebesar 70,83 dengan skor nilai minimal 50, dan skor nilai maksimal 92. Sedangkan. Mahasiswi non kesehatan memiliki nilai median adalah sebesar 62,50, dengan skor nilai minimal 38, dan skor nilai maksimal 88. Selisih median dari kelompok fakultas kesehatan dan non kesehatan 8,33. A 2024. This work is licensed under a CC BY-SA 4. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. 2024 Perbandingan Pengetahuan Tentang PCOS Mahasiswi Fakultas Kesehatan dan Non Kesehatan. Tabel. 4 Perbedaan Pengetahuan PCOS pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan Std. Error Mean P-Value* Difference Pengetahuan Fakultas 12,340 3,238 3,811 ,000 Kesehatan non kesehatan Berdasarkan tabel. 4 dapat diketahui bahwa nilai sig. 2 tailed pada uji independent sample t-test mendapatkan hasil 0. 000 yang mana lebih kecil dari pada 0. pengambilan keputusan nilai p-value 0. 000 < 0. 05 dan Nilai t-hitung . > t-tabel . berarti (H. ditolak dan (H. Ini berarti terdapat perbedaan antara pengetahuan mahasiswi fakultas kesehatan dibandingkan dengan mahasiswi fakultas non kesehatan Perbandingan Sikap Tentang PCOS Mahasiswi Fakultas Kesehatan dan Non Kesehatan. Table. 5 Perbedaan Sikap PCOS pada mahasiswi kesehatan dan non kesehatan Variabel Kelompok Mean Rank P-Value* Kesehatan 112,74 Sikap 0,000 Non Kesehatan 76,26 Berdasarkan table. 5 dapat diketahui bahwa nilai sig, 2 tailed pada uji Mann Whitney mendapatkan hasil 0. 000 yang mana lebih kecil dari pada 0. berdasarkan pengambilan keputusan nilai sig. 2 tailed 0. 000 < 0. 05 berarti (H. ditolak dan (H. Ini berarti terdapat perbedaan antara sikap mahasiswi fakultas kesehatan dengan mahasiswi fakultas non kesehatan. Mahasiswi kesehatan memiliki sikap yang lebih baik terhadap kejadian PCOS dibanding mahasiswi non kesehatan. PEMBAHASAN Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini tebagi menjadi dua kelompok, sesuai dengan tujuan dari penelitian peneliti mengambil responden dari dua latar belakang yang berbeda. fakultas kesehatan dan non kesehatan. Pada fakultas kesehatan, responden terdiri dari 23 . %) mahasiswi S1 Kebidanan dan 71 . %) mahasiswi S1 Keperawatan. Sedangkan pada fakultas non kesehatan, terdiri dari 33 . %) mahasiswi S1 Hukum dan 61 84 . %) mahasiswi S1 Akuntansi. Perbedaan latar belakang pendidikan ini penting dianalisis karena berpengaruh terhadap akses dan pemahaman responden terhadap isu-isu kesehatan, khususnya PCOS. Pemahaman seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti usia, pengalaman, dan lingkungan (Notoadmodjo, 2. dalam (Khanif & Mahmudiono, 2. Hasil Penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan usia pada responden mahasiswi kesehatan maupun non kesehatan. Dalam penelitian ini seluruh responden berusia 17-24 tahun untuk mahasiswi fakultas kesehatan dan non kesehatan. Usia 17Ae24 tahun termasuk dalam rentang usia reproduksi awal, di mana wanita mulai mengalami kematangan sistem PCOS sering kali terdiagnosis pada wanita usia subur, termasuk remaja dan dewasa muda. Menurut (Wahyuni, 2. , prevalensi PCOS pada remaja berkisar antara 11Ae Remaja pada fase ini belum mencapai kedewasaan dalam hal mental dan sosial, sehingga mereka harus berhadapan dengan berbagai tekanan emosional dan sosial yang Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. 2024 saling berlawanan. Masa remaja akhir hingga dewasa muda adalah periode penting dalam pembentukan perilaku kesehatan jangka panjang. Pengetahuan dan sikap yang terbentuk pada usia ini dapat mempengaruhi keputusan kesehatan di masa depan (Ismiati et al. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 67-87% mayoritas responden mengalami menarche pada usia 12-14 tahun, selain itu pada mahasiswi fakultas kesehatan 7% diantaranya menarche dini . Sedangkan pada mahasiswi non kesehatan, 20% menarche dini . Menarche adalah pertama kalinya seorang anak perempuan mengalami menstruasi. Menarche dikategorikan menjadi 3. Menarche dini . (Nainar et al. , 2. Menurut bebarapa penelitian menarche dini dapat menjadi salah satu faktor resiko terjadinya PCOS di kemudian hari. Menarche dini mencerminkan aktivasi awal dari poros hipotalamus-hipofisis-ovarium, yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormonal seperti hiperandrogenisme dan resistensi insulinAidua karakteristik utama dari PCOS. Menurut (Manthey et al. , 2. pada penelitian ini wanita dengan PCOS mengalami menarche 1,8 tahun lebih awal yaitu pada rata-rata usia 11,4 tahun (>12 tahu. , dibandingkan yang tidak mengalami PCOS pada usia 13,2 tahun. Responden mahasiswi kesehatan dan non kesehatan pada penelitian ini mayoritas memiliki siklus menstruasi 21 Ae 35 hari. Namun, terdapat 14 Ae 35% mahasiswi dengan siklus menstruasi 35 hari. Siklus normal menstruasi berlangsung selama 21-35 hari, dengan durasi haid 2-8 hari dan volume darah 20-60 ml per hari (Villasari, 2. Gangguan siklus menstruasi dibagi menjadi 2,yaitu polimenorea dan oligomenorea. Polimenorea terjadi saat siklus < 21 hari, umumnya disebabkan oleh Kelainan hormon endokrin dapat mengakibatkan masalah dalam ovulasi serta fase luteal yang lebih singkat, sehingga menyebabkan unovulasi karena sel telur tidak dapat matang dan sulit terjadi pembuahan. Sementara itu,oligomenorea adalah siklus menstruasi >35 hari. Oligomenorea dapat menyebabkan ketidaksuburan dalam jangka panjang karena produksi sel telur yang jarang sehingga tidak terjadi pembuahan (Ilham et al. , 2023. Islamy & Farida, 2. Berdasarkan penelitian Shinde & Patil . yang terdapat pada (Salsabila et al. , 2. hasil ini menunjukkan responden wanita yang mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur memiliki resiko 38. 53 lebih tinggi mengalami PCOS dibandingkan dengan wanita dengan siklus menstruasi yang teratur. Mayoritas responden kesehatan dan non keseahatan memiliki IMT normal . 5 Ae 24. Kg/. Tetapi, beberapa mahasiswa lain juga memiliki IMT yang Overweight 7-13% dan Obesitas 1%. Menurut penelitian (Fitriani et al. , 2. status gizi memiliki hubungan yang signifikan dengan terjadinya PCOS. Sebagian besar wanita dengan PCOS mengalami obesitas sebanyak 50-80% (Zainiyah. Susanti. , & Suhron, 2. Kelebihan berat badan dapat berdampak pada subfertilitas pada perempuan dan berpotensi memengaruhi sistem reproduksi, mengakibatkan siklus menstruasi yang tidak teratur, subfertilitas. Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS), serta kanker rahim, endometrium, payudara, dan serviks (Irene et al. , 2. Menurut penelitian (Fitriani et al. , 2. didapatkan dari hasil responden, bahwa wanita yang 87 memiliki status gizi berlebih mempunyai tingkat resiko 3,090 kali lebih tinggi menderita PCOS dibandingkan dengan wanita yang memiliki status gizi normal. Hasil pengukuran pengetahuan mahasiswi kesehatan dan non kesehatan Menurut Notoadmodjo . dalam (Wijayanti & Purwati, 2. Pengetahuan adalah hasil dari pemahaman, dan kondisi ini muncul setelah individu mengamati suatu objek tertentu melalui pengindraan. Penginderaan berlangsung melalui indera yang dimiliki oleh manusia, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan, dan sentuhan. Pengetahuan adalah salah satu unsur yang memengaruhi, yaitu unsur yang memudahkan atau mengarahkan individu untuk bersikap dengan cara tertentu. Pemahaman individu tentang suatu program kesehatan akan memotivasi orang tersebut A 2024. This work is licensed under a CC BY-SA 4. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. 2024 untuk terlibat di dalamnya. Pengetahuan merupakan aspek yang sangat penting dalam membentuk perilaku seseorang. Ketidaktahuan mahasiswa mengenai PCOS mengakibatkan minimnya pemahaman mereka tentang kondisi tersebut (Heri yanis, 2. Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) merupakan gangguan endokrin kompleks yang ditandai oleh berbagai manifestasi klinis, terutama gangguan menstruasi dan ovulasi. Sebagian besar wanita dengan PCOS mengalami oligomenore atau amenore sebagai akibat dari anovulasi kronik yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon, khususnya peningkatan kadar luteinizing hormone (LH) relatif terhadap follicle-stimulating hormone (FSH). Selain itu, hiperandrogenisme merupakan salah satu karakteristik utama PCOS, yang ditunjukkan oleh gejala klinis seperti hirsutisme, jerawat, dan alopecia androgenik. Peningkatan kadar androgen ini tidak hanya berdampak pada estetika dan psikologis pasien, tetapi juga berkontribusi terhadap gangguan metabolik yang menyertai (Su et al. , 2. Selain dampak pada sistem reproduksi. PCOS juga berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi metabolik yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Salah satu mekanisme utama yang menghubungkan PCOS dengan penyakit jantung adalah resistensi Obesitas, juga menjadi faktor risiko yang umum pada wanita dengan PCOS dan berkaitan erat dengan hipertensi serta peradangan kronis yang mempercepat kerusakan pembuluh darah. Oleh karena itu. PCOS tidak hanya berdampak pada sistem reproduksi, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit jantung melalui berbagai jalur metabolik dan hormonal (Wan et al. , 2. Pendidikan seseorang memberikan pembelajaran dan memberikan pengetahuan pada Hasil pengetahuan mahasiswi kesehatan didapatkan memiliki rata-rata 70,59 dan mahasiswi non kesehatan 58,24 dari rat-rata tersebut terlihat bawah mahasiswi kesehatan memiliki pengetahuan yang lebih baik dibanding dengan mahasiswi non kesehatan dengan selisih rata-rata 12,35. Skor minimal dari mahasiswi kesehatan yakni 5 dan skor maksimal 100. Sedangkan, mahasiswi non kesehatan mendapatkan skor minimal 0 dan skor maksimal 100. Penelitian yaang serupa menurut (Rizvi et al. , 2. , pada penelitian ini mahasiswi kesehatan mendapatkan rata-rata skor 12,02 dan mahasiwi non kesehatan dengan ratarata 9,36. Penelitian tersebut menilai pengetahuan dengan rentang skor 1-20. Hasil pengukuran sikap mahasiswi kesehatan dan non kesehatan Menurut (Mahmud et al. , 2. Sikap dapat dipahami sebagai kecenderungan untuk berperilaku atau tidak berperilaku dalam cara tertentu, yang berarti sikap tidak hanya merupakan kondisi psikologis internal yang sepenuhnya berasal dari individu, tetapi juga merupakan sebuah proses kesadaran yang bersifat personal. Sikap seseorang terhadap suatu tindakan dapat dipengaruhi oleh kepercayaan bahwa tindakan tersebut akan menghasilkan hasil yang diinginkan atau sebaliknya. Oleh karena itu. Seseorang memiliki kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan apa yang mereka nilai dapat membawa konsekuensi positif. Setiap orang memiliki pandangan yang beragam, yang dipengaruhi oleh berbagai elemen dan faktor yang mendasarinya (Hati & Goalbertus, 2. Pada penelitian ini, ditemukan bahwa mahasiswi dari jurusan kesehatan menunjukkan sikap yang lebih baik terhadap PCOS dibandingkan dengan mahasiswi non-kesehatan. Hal ini dibuktikan dengan nilai median sikap pada mahasiswi kesehatan sebesar 70,83, sedangkan pada mahasiswi non-kesehatan sebesar 62,50, dengan selisih median 8,33. Selain itu, rentang skor sikap pada mahasiswi kesehatan adalah 50 - 92, sedangkan pada mahasiswi non-kesehatan berkisar antara 38 - 88. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat individu nonkesehatan yang memiliki sikap baik, secara umum mahasiswi kesehatan memiliki sikap yang lebih positif. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. 2024 Menurut penelitian (Mekonnen et al. , 2. , yang mengukur perbedaan sikap terhadap penyakit reproduksi pada mahasiswi Kesehatan dan non Kesehatan didaptkan bahwa, mahasiswi Kesehatan mendapatkan skor rata-rata 60,3 dan 52,1 pada mahasiswi non Kesehatan dengan penilaian sikap rentang nilai 1-75. Selain itu, hal ini tidak terlepas dari aspek sikap, yang merupakan aspek kognitif, yang merupakan pengetahuan dan pendapat seseorang tentang suatu hal atau keadaan tertentu. Mahasiswi non kesehatan yang memiliki skor sikap lebih rendah dapat disebabkan oleh keterbatasan akses terhadap informasi medis yang akurat atau kurangnya pengalaman belajar mengenai kesehatan reproduksi, yang pada akhirnya berdampak pada sikap yang kurang mendukung atau netral terhadap PCOS. Perbandingan pengetahuan mahasiswi fakultas kesehatan dan non kesehatan Pada penelitian ini menggunakan uji independent-sample t-test yang bertujuan untuk membandingkan pengetahuan mahasiswi fakultas kesehatan dan non kesehatan Tentang Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS). Ditunjukkan dalam hasil uji statistik deskriptif bahwa mean mahasiswi kesehatan memiliki mean 70,59. Sedangkan mean mahasiswi non kesehatan 58,24. Dari nilai mean tersebut diketahui bahwa pengetahuan mahasiswi kesehatan lebih baik dibanding mahasiswi non kesehatan. Berdasarkan hasil analisis uji independent-sample t-test menunjukkan bahwa nilai . - taile. sebesar 0,000<0,05 yang menyatakan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan kata lain, hasil ini menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan antara pengetahuan mahasiswi fakultas kesehatan dan non kesehatan tentang PCOS. Berdasarkan teori bahwa seseorang yang memiliki pemahaman yang baik mengenai kesehatan cenderung akan berperilaku dengan caraa yang sehat. Penyampaian informasi akan meningkatkan pengetahuan dan wawasan seseorang, pengetahuan menjadi landasan bagi individu untuk menyadari pentingnya tindakan kesehatan dan mengambil keputusan yang tepat, termasuk dalam mengenali dan merespons gejala atau risiko PCOS (Notoadmodjo, 2. dalam (Juniar et al. , 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan (Rizvi et , 2. menunjukkan bahwa mahasiswa kesehatan memiliki skor pengetahuan rata-rata . ,02 A 4,. , lebih tinggi dibanding mahasiswa non-kesehatan . ,36 A 5,. dengan selisih rata-rata skor 2,66. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa kesehatan memiliki pemahaman yang lebih baik, hal ini didudkung karena kurikulum pendidikan yang memang secara langsung mencakup aspek-aspek reproduksi dan penyakit terkait. Penelitian (Alshdaifat et al. , 2. yang dilakukan di dua universitas di Yordania menemukan bahwa mahasiswa kesehatan memiliki rata-rata nilai pengetahuan 12,85 sedangkan mahasiswi non kesehatan 9,31 hal ini menunjukkan pengetahuan dan kesadaran mengenai PCOS pada mahasiswi kesehatan lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswi non kesehatan. Penelitian (Zahra et al. , 2. Sebanyak 88,5% mahasiswi kedokteran memiliki pengetahuan tentang PCOS, sedangkan pada mahasiswi non-kedokteran hanya sebesar 66,66%. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswi kedokteran terhadap PCOS lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswi non-kedokteran. Hasil penelitian (Malin & Surekha, 2. dengan 550 responden mahasiswi kesehatan juga menjelaskan bahwa, mahasiswi kesehatan memiliki pengetahuan yang baik mengenai penyebab dan faktor resiko tentang PCOS, tetapi pemahaman mereka tentang komplikasi dari PCOS masih tergolong rendah. Pada penelitian (BangaruM & MaiyaG, 2. yang dilakukan pada mahasiswi kesehatan didapatkan hasil bahwa 57,8% responden berpengetahuan baik. Penelitian ini serupa dengan (Hati & Goalbertus, 2. Myang menunjukkan adanya perbedaan tingkat pengetahuan suatu penyakit antara mahasiswi kesehatan dan non kesehatan. Pengetahuan mahasiswi kesehatan pada penelitian ini lebih baik dibandingkan dengan mahasiswi non kesehatan. Hal ini dapat disebabkan karena mahasiswi kesehatan A 2024. This work is licensed under a CC BY-SA 4. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. 2024 secara langsung memperoleh kurikulum yang berfokus pada ilmu kesehatan anatomi, fisiologi, penyakit, pencegahan, dan promosi kesehatan. Selain itu mahasiswi kesehatan lebih sering mengakses informasi seperti membaca jurnal medis, literatur ilmiah, mengikuti seminar kesehatan, serta berdiskusi dengan dosen dan praktisi kesehatan yang secara tidak langsung dapat meningkatkan pengetahuan mereka tentang hal tersebut. Hal ini tentu membuat mereka lebih paham, sadar, dan peduli terhadap kejadian PCOS. Sedangkan mahasiswi non kesehatan, terdapat perbedaan latar belakang pendidikan dan paparan terhadap informasi medis. mahasiswi non-kesehatan tidak memiliki akses langsung terhadap sumber pembelajaran yang membahas PCOS secara khusus, sehingga pengetahuan mereka biasanya terbatas pada informasi umum yang diperoleh dari media sosial atau lingkungan sekitar. Kurangnya pemahaman ini dapat menyebabkan rendahnya kesadaran terhadap gejala, faktor risiko, komplikasi serta pentingnya deteksi dini dan penanganan PCOS di kalangan mahasiswi non-kesehatan. Hal ini mencerminkan bahwa latar belakang pendidikan di bidang kesehatan berkontribusi terhadap tingkat paparan dan pengetahuan awal tentang isu-isu kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, upaya promosi kesehatan dan edukasi mengenai PCOS tidak seharusnya hanya difokuskan pada mahasiswa kesehatan, melainkan perlu diperluas ke seluruh lapisan mahasiswa lintas jurusan, agar kesadaran dan pengetahuan mengenai kondisi ini merata dan mampu mendorong deteksi dini serta tindakan preventif yang tepat. Perbandingan pengetahuan mahasiswi fakultas kesehatan dan non kesehatan Perbandingan variabel sikap pada studi penelitian ini analisis menggunakan uji ManWhitney yang bertujuan untuk membandingkan sikap mahasiswi fakultas kesehatan dan non kesehatan tentang Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS). Ditunjukkan dalam hasil uji statistik deskriptif bahwa mahasiswi kesehatan memiliki median 70,83. Sedangkan median mahasiswi non kesehatan 62,50 dari nilai median tersebut diketahui terdapat perbedaan yang signifikan dimana sikap mahasiswi kesehatan lebih baik dibanding mahasiswi non Berdasarkan hasil analisis uji Man-Whitney menunjukkan bahwa nilai sig. -taile. sebesar 0,000<0,05 yang menyatakan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan kata lain, hasil ini menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan antara sikap mahasiswi kesehatan dan non kesehatan tentang PCOS. Hasil penelitian ini dapat terjadi karena pengetahuan mahasiswa fakultas kesehatan yang lebih baik. Selain itu, pengetahuan ini membantu mereka mengembangkan perspektif yang lebih positif terhadap berbagai aspek penyakit (Pourjam et al. , 2. Sikap merupakan suatu kecenderungan yang dipelajari untuk merespons objek, orang, atau konsep dengan cara tertentu, baik secara positif maupun negatif. Dalam konteks kesehatan, sikap terhadap suatu penyakit sangat penting karena dapat memengaruhi perilaku pencegahan, kepatuhan terhadap pengobatan, serta keputusan individu dalam mencari bantuan medis. Sikap ini terbentuk dari tiga komponen utama, yaitu kognitif . eyakinan dan pengetahua. , afektif . erasaan dan emos. , serta konatif . iat dan Dalam kalangan mahasiswa, pembentukan sikap sangat dipengaruhi oleh pendidikan formal, pengalaman pribadi, serta lingkungan sosial tempat mereka berada. Hasil sikap pada penelitian ini serupa dengan penelitian (Adhikari & Bhattarai, 2. , 234 mahasiswi kesehatan menunjukkan bahwa sebagian besar responden mendapatkan rata-rata nilai yang baik sehingga memilki sikap yang mendukung dan positif terhadap individu dengan PCOS. Namun, terdapat kekhawatiran mengenai stigma dan kurangnya dukungan dari rekan kerja. Selain itu ada penelitian (Daniel, 2. , tentang suatu penyakit pada mahasiswa kesehatan dan non kesehatan, dimana mahasiswa kesehatan memiliki sikap lebih baik terhadap suatu penyakit dibandingkan dengan mahasiswi non kesehatan, kedua kelompok ini memiliki perbedaan rata-rata 0,96. Penelitian juga sejalan dengan Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. 2024 (Mekonnen et al. , 2. yang menunjukkan adanya perbedaan sikap terhadap penyakit reproduksi pada mahasiswi Kesehatan dan non Kesehatan dengan p-value<0,05. Pengetahuan yang lebih komprehensif pada mahasiswi kesehatan membentuk sikap yang cenderung lebih positif dan realistis terhadap kondisi kesehatan tertentu. Mereka lebih memahami risiko, gejala, dan pentingnya pengelolaan penyakit secara tepat (Rosyid and Magfiroh, 2. Oleh karena itu, mahasiswa kesehatan sering menunjukkan perilaku kesehatan yang lebih baik dibandingkan mahasiswa non-kesehatan. SIMPULAN Keterbatasan dan Penelitian Lanjut Penelitian ini masih memiliki keterbatasan yang dapat dijadikan acuan atau saran guna memperbaiki penelitian berikutnya yaitu, tidak melakukan analisis bivariat pada variabel karakteristik dan adanya keterbatasan waktu saat penelitian di fakultas non kesehatan dikarenakan bersamaan dengan jadwal mahasiswi ujian semester ganjil. Saran Bagi mahasiswi kesehatan dan non kesehatan diharapkan dapat meningkatkan literasi kesehatan reproduksi, mengikuti edukasi atau seminar kesehatan, terutama mengenai PCOS mengingat sindrom ini dapat memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan jangka panjang perempuan. DAFTAR PUSTAKA