JI-KES (JurnalIlmu Kesehata. Volume 9. No. Agustus 2025 Hal. 10Ae16 ISSN: 2579-7913 PREVALENSI DAN HUBUNGAN GLUKOKORTIKOID DENGAN KEJADIAN EFEK SAMPING HIPERGLIKEMIA PADA PASIEN SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS Ulfa Filliana1*. Cindy Aurelia Vernanda2. Achmad Quraisy Aljufri1 Departemen Farmakologi dan Farmasi Klinik. Fakultas Farmasi. Universitas Wahid Hasyim. Semarang. Indonesia Program Studi Sarjana Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Wahid Hasyim. Semarang. Indonesia email: ulfafilliana@unwahas. Abstrak Systemic lupus erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun yang memerlukan pengelolaan terapi jangka panjang dan berkelanjutan terutama keamanan terapi. Glukokortikoid merupakan terapi lini pertama dan memiliki potensi efek samping hiperglikemia paling tinggi. Dampak perburukan penyakit dan rendahnya kesadaran tenaga medis untuk monitoring efek samping obat merupakan tantangan paling besar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi efek samping hiperglikemia akibat penggunaan glukokortikoid dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode menggunakan penelitian observasional yang dilakukan dengan rancangan retrospektif cross sectional study pada periode 2024 di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Hasil penelitian ini yaitu prevalensi kejadian efek samping hiperglikemia akibat penggunaan glukokortikoid sebesar 12. 7% pada periode tahun 2024. Data subjek penelitian yaitu 72 pasien, sebanyak 32 pasien mengalami ESO hiperglikemia dan 40 pasien tidak mengalami ESO hiperglikemia. Faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi kejadian ESO hiperglikemia yaitu jenis kortikosteroid metilprednisolon . -value=0,. dan rute pemberian intravena . -value=0,. Kesimpulan penelitian ini yaitu jenis kortikosteroid metilprednisolon menunjukkan faktor yang paling berhubungan dengan kejadian efek samping hiperglikemia akibat glukokortikoid (OR 6. 95% CI 2. Kata kunci: glukokortikoid. efek samping obat. SLE Abstract Systemic Lupus Erythematosus (SLE) is an autoimmune disorder requiring prolonged and ongoing therapeutic management, particularly for the safety of the treatment. Glucocorticoids are the first-line therapy and have shown the highest potential for adverse effects on hyperglycemia. The impact of worsening disease and low awareness among medical personnel to monitor adverse drug reactions is the biggest challenges. This study aimed to determine the prevalence of adverse effects associated with hyperglycaemia resulting from glucocorticoid treatment and the factors that influence this condition. Method used was observational research conducted with a retrospective cross-sectional study design in 2024 at Dr. Kariadi Central Public Hospital Semarang. This study found that the prevalence of hyperglycaemia adverse effects due to glucocorticoid used was 12. 7% in 2024. The total subjects of this study were 72 patients. 32 patients experienced hyperglycaemia while 40 others did not. Significant factors influencing the incidence of hyperglycaemia, adverse effect, were the type of corticosteroid methylprednisolone . -value=0. and the intravenous route of administration . value=0. In conclusion, the type of corticosteroid methylprednisolone is the factor most associated with adverse effects of hyperglycaemia due to glucocorticoids (OR 6. 95% CI 2. Keywords: glucocorticoids. adverse drug reaction. SLE PENDAHULUAN Syndrome Lupus Erythematosus (SLE) merupakan salah satu penyakit autoimun yang mengalami peningkatan angka kejadian setiap tahunnya. Berdasarkan laporan rumah sakit di Indonesia, peningkatan pasien SLE tahun 2015 yaitu 17,9-27,2%, tahun 2016 meningkat menjadi 18,7-31,5%, dan tahun 2017 mencapai 30,3-58% (Perhimpunan Reumatologi Indonesia, 2. Secara Penerbit: LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan -10- Ulfa Filliana, et. Prevalensi dan Hubungan Glukokortikoid dengan Kejadian Efek Samping Hiperglikemia pada Pasien Systemic Lupus Erythematosus global angka kejadian SLE di negara Asia berkisar antara 2,8 hingga 8,6 per 100. 000 penduduk/tahun, dan prevalensinya berkisar antara 26,5 hingga 103 per 100. 000 penduduk (Barber dkk. , 2. Tingginya angka kejadian pada SLE memerlukan pengelolaan terapi jangka panjang dan berkelanjutan terutama keamanan terapi. Pada pasien SLE, pengobatan lini pertama yaitu menggunakan glukokortikoid. Pemberian glukokortikoid bertujuan untuk tercapainya remisi dan pencegahan kekambuhan pada pasien (Perhimpunan Reumatologi Indonesia, 2. Pengobatan yang diberikan dalam jangka panjang ini diketahui dapat meningkatkan resiko efek samping (Kasturi and Sammaritano, 2. Hiperglikemia merupakan efek samping obat (ESO) yang paling banyak terjadi pada pasien dengan pengobatan Sebanyak 35% ESO hiperglikemia terjadi pada pasien akibat penggunaan obat golongan kortikosteroid (Noetzlin dkk. , 2022. Rahmawati dkk. , 2. Dampak ESO hiperglikemia pada penyakit autoimun ini dapat meningkatkan inflamasi dan keparahan penyakit, prognosis memburuk, memperpanjang lama rawat inap . ength of sta. , serta menurunkan kualitas hidup pasien (Lin et al. , 2022. Tian et al. , 2. Monitoring efek samping hiperglikemia yang terjadi pada pasien sangat diperlukan untuk mengetahui keamanan penggunaan glukokortikoid pada pasien SLE. Hal ini menjadi pertimbangan peneliti dalam melakukan penelitian untuk mengetahui prevalensi efek samping hiperglikemia akibat pemberian glukokortikoid dan mengetahui hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian efek samping hiperglikemia pada pasien SLE. Gap analisis pada penelitian ini adalah masih terbatas penelitian di Indonesia mengenai evaluasi efek samping obat hiperglikemia akibat penggunaan glukokortikoid pada pasien SLE. Selain itu minimnya pencatatan ESO oleh tenaga medis sehingga kejadian tersebut tidak terpantau dan tidak terlaporkan sehingga dibutuhkan informasi yang lengkap dan tepat terkait pola penggunaan glukokortikoid yang menyebabkan ESO hiperglikemia. Tujuan penelitian ini mempelajari prevalensi kejadian efek samping hiperglikemia, faktor-faktor yang mempengaruhi efek samping hiperglikemia dan hubungan penggunaan kortikosteroid terhadap efek samping hiperglikemia. METODE PENELITIAN Desain penelitian yang dilakukan merupakan penelitian observasional dengan rancangan retrospektif cross sectional study. Instrumen penelitian ini menggunakan data rekam medis pasien SLE di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Populasi pada penelitian ini yaitu data seluruh pasien yang didiagnosis SLE dan mendapatkan terapi glukokortikoid pada periode Januari-Desember 2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian ini telah melalui persetujuan Komisi Etik Penelitian Kesehatan RSUP Dr. Kariadi Semarang No. 16349/EC/KEPK-RSDK/2025. Kriteria Kelayakan yaitu subjek penelitian harus memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Kriteria inklusi meliputi e-rekam medis yang lengkap terdiri dari umur subjek >18 tahun, tercantum jenis glukokortikoid yang digunakan, lama pemberian glukokortikoid, rute pemberian dan pemeriksaan gula darah . ula darah sewaktu, gula darah puasa, dan HbA1C). Kriteria eksklusi yaitu subjek dengan riwayat penyakit diabetes mellitus dan ibu hamil. Analisis data pada penelitian ini meliputi analisis deskriptif untuk mengetahui prevalensi kejadian efek samping hiperglikemia yang disebabkan karena penggunaan glukokortikoid pada pasien SLE, analisis bivariat menggunakan uji Chi-square untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi efek samping hiperglikemia, analisis multivariat untuk mengetahui hubungan faktorfaktor penggunaan glukokortikoid dengan kejadian efek samping hiperglikemia. Analisis data menggunakan perangkat lunak Statistical Package for the Social Sciences (SPSS). HASIL DAN PEMBAHASAN Data pasien SLE yang dianalisa sebanyak 251 pasien dan sebanyak 32 pasien mengalami efek samping hiperglikemia yang selanjutnya dianalisis untuk mengetahui prevalensi dan hubungan glukokortikoid dengan kejadian efek samping hiperglikemia. Prevalensi Kejadian Efek Samping Hiperglikemia Akibat Penggunaan Glukokortikoid Sebanyak 32 pasien SLE mengalami hiperglikemia sebagai efek samping dari terapi glukokortikoid dengan analisis menggunakan lembar MESO algoritma naranjo . kor lebih dari 6 Penerbit: LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan -11- Ulfa Filliana, et. Prevalensi dan Hubungan Glukokortikoid dengan Kejadian Efek Samping Hiperglikemia pada Pasien Systemic Lupus Erythematosus Sehingga prevalensi kejadian ESO hiperglikemi mencapai 12,7% pada periode tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa prevalensi efek samping obat hiperglikemia pada penelitian ini cukup tinggi jika dibandingkan penelitian sebelumnya. Gambar 1. Diagram Prevalensi Efek Samping Hiperglikemia Akibat Penggunaan Glukokortikoid Pada penelitian Pramana dkk . menyatakan bahwa prevalensi kejadian GIDM pada penderita SLE rawat inap adalah sebesar 7,5%. Penelitian terbaru yang dilakukan di RS Dr Soetomo Surabaya menyebutkan dari 150 pasien SLE rawat jalan 2,67 mengalami hiperglikemia setelah terapi steroid (Widyanrika et al. , 2. Penelitian retrospektif pada pasien dengan malignansi hematologi yang menerima kortikosteroid sistemik melaporkan prevalensi hiperglikemia sebesar 39%. Hiperglikemia ini lebih sering terjadi pada pasien yang menerima dosis steroid tinggi . etara >12 mg dexamethason. dan steroid dengan waktu kerja panjang (Healy et al. , 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Efek Samping Hiperglikemia Pada penelitian ini data faktor-faktor yang mempengaruhi efek samping hiperglikemia meliputi usia, jenis kelamin, jenis kortikosteroid, dosis, rute pemberian, disajikan pada Tabel 1. Data diambil dari 72 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, sebanyak 32 pasien mengalami ESO hiperglikemia dan 40 pasien tidak mengalami ESO hiperglikemia. Faktor yang tidak signifikan ditunjukkan pada usia dengan p-value =0,636, jenis kelamin dengan p-value = 0,273 dan dosis dengan p-value = 0,920. Faktor usia pada hasil penelitian ini, paling tinggi sebanyak 41% subjek di rentang usia 36-59 tahun mengalami ESO hiperglikemia namun secara statistik tidak ada perbedaan signifikan pada faktor usia . -value= 0. Hal ini sejalan dengan laporan Amin & Puspitasari . menyatakan bahwa efek samping hiperglikemia pada penggunaan steroid sering terjadi pada lansia dengan kisaran usia > 65 tahun. Hal ini disebabkan lansia mengalami beberapa perubahan fisik pada sistem endokrin yaitu terjadinya penuruan sensitivitas insulin. Faktor jenis kelamin pada hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 87,5% subjek memiliki jenis kelamin perempuan yang mengalami ESO hiperglikemia namun tidak ada perbedaan signifikan . -value = 0,. Hal ini selaras bahwa prevalensi hiperglikemia yang diinduksi steroid secara keseluruhan tidak berbeda secara signifikan berdasarkan jenis kelamin yang menunjukkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki risiko yang sama (Nakamura et al. , 2. Faktor dosis pemberian glukokortikoid pada hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 56% subjek menggunakan dosis sedang dan mengalami ESO hiperglikemia, namun tidak ada perbedaan signifikan . -value = 0,. Hal ini sejalan dengan penelitian Widyanrika et al . melaporkan pasien yang menerima steroid tinggi tidak mengalami perbedaan hiperglikemia yang signifikan sebelum dan sesudah mengkonsumsi steroid. Faktor jenis glukokortikoid dan rute pemberian pada penelitian ini menunjukkan hasil analisis yang signifikan mempengaruhi kejadian efek samping hiperglikemia akibat penggunaan Pada penelitian ini sebanyak 100% subjek menggunakan jenis glukokortikoid metilprednisolon dengan nilai signifikansi . -value = 0,. Penelitian ini sejalan dengan penelitian dari Timur dkk. , 2023 secara observasional analitik di Apotek Kanigoro. Kabupaten Malang, bahwa penggunaan metilprednisolon sebagai kortikosteroid oral berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa darah. Sebanyak 10% responden mengalami hiperglikemia setelah 24 jam, meningkat menjadi Penerbit: LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan -12- Ulfa Filliana, et. Prevalensi dan Hubungan Glukokortikoid dengan Kejadian Efek Samping Hiperglikemia pada Pasien Systemic Lupus Erythematosus 40% setelah 1 minggu, dan 38% setelah 2 minggu penggunaan kortikosteroid, menunjukkan efek hiperglikemia yang signifikan (Sari et al. , 2021. Timur et al. , 2. Glukokortikoid seperti metilprednisolon dapat menyebabkan hiperglikemia dengan beberapa mekanisme molekuler diantaranya pada sel beta pankreas terjadi penghambatan sel beta terhadap glukosa sehingga dapat meningkatkan resiko resistensi insulin, meningkatkan produksi glukosa . di hati (Cho & Suh, 2. , pada otot rangka terjadi peningkatan produksi asam lemak yang dapat mempengaruhi reseptor insulin (Sari et al. , 2. Tabel 1. Karakteristik Pasien Karakteristik Jumlah . Kelompok Hiperglikemia . Tidak . P- value Usia 17-25 Tahun 26-35 Tahun 23,61 36-59 Tahun 41,67 Ou 60 Tahun 9,72 Jenis Kelamin Perempuan 81,94 Laki-laki 18,06 Jenis Glukokortikoid Metilprednisolon Prednison Dosis Rendah Sedang 54,17 Tinggi 20,83 Rute Pemberian Intravena Keterangan: *signifikansi <0,05 terdapat pengaruh yang signifikan menggunakan analisis Chi-square 0,636 0,273 0,000* 0,920 0,000* Faktor rute pemberian pada penelitian ini menunjukkan hasil sebanyak 94% subjek menggunakan glukokortikoid melalui intravena dengan nilai signifikansi . -value = 0,. Hal ini sejalan dengan penelitian Limbachia et al. , . yang menyatakan peningkatan ESO hiperglikemia meningkat secara signifikan pada pasien rawat inap yang menerima kortikosteroid oral maupun intravena setelah satu minggu pemakaian. Penelitian lain menyatakan bahwa pemberian obat steroid secara intravena lebih cenderung menyebabkan ESO hiperglikemia yang signifikan. Pemberian metilprednisolon secara intravena meningkatkan terjadinya hiperglikemia akibat penggunaan kortikosteroid (Prasetya dkk, 2. Pemberian secara intravena yang cepat dan dosis tinggi dapat meningkatkan risiko onset hiperglikemia yang lebih cepat dan lebih berat karena kadar obat dalam darah yang tinggi langsung beredar dalam sirkulasi tanpa proses absorpsi lambat seperti pada pemberian oral (Affinati et al. , 2. Data profil farmakokinetika pada pemberian metilprednisolon secara intravena menghasilkan nilai Cmax . onsentrasi puncak obat dalam plasm. yang lebih tinggi dibandingkan dengan rute pemberian lain seperti oral (Diamant et al. , 2. Hal tersebut karena obat langsung masuk ke dalam sirkulasi darah tanpa melalui proses absorpsi lambat di saluran pencernaan, sehingga mencapai konsentrasi puncak dengan lebih cepat dan lebih tinggi (Pratiwi et al. , 2. Hubungan antara Penggunaan Glukokortikoid dengan Kejadian Efek Samping Hiperglikemia Pada penelitian ini data faktor-faktor yang mempengaruhi efek samping hiperglikemia secara signifikan meliputi jenis kortikosteroid dan rute pemberian dilakukan analisis multivariat menggunakan analisis logistik berganda, disajikan pada Tabel 2. Hasil analisis menyatakan bahwa Penerbit: LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan -13- Ulfa Filliana, et. Prevalensi dan Hubungan Glukokortikoid dengan Kejadian Efek Samping Hiperglikemia pada Pasien Systemic Lupus Erythematosus jenis kortikosteroid merupakan faktor yang paling erat memiliki hubungan terhadap kejadian efek samping hiperglikemia (OR 6. 95% CI 2. Tabel 2. Hubungan Glukokortikoid dengan Kejadian ESO Hiperglikemia Faktor p-value . % CI) Lower Upper Jenis Kortikosteroid 0,000* 6,500 2,185 19,333 Rute Pemberian 0,999 0,108 0,000 0,095 Keterangan : *signifikansi <0,05 terdapat pengaruh yang signifikan menggunakan analisis logistik berganda Faktor jenis glukokortikoid metilprednisolon memiliki risiko menyebabkan ESO hiperglikemia sebesar 6,5 kali lebih tinggi dibanding glukokortikoid lain . Hal ini didukung penelitian dari (Presetya dkk. , 2. pada pasien anak yang menerima terapi kortikosteroid sistemik di RSUP Dr. Sardjito. Yogyakarta yang menemukan odds rasio (OR) sebesar 7,43 untuk hiperglikemia akibat steroid pada pemberian metilprednisolon intravena dosis tinggi (Prasetya dkk, 2. Metilprednisolon memiliki potensi yang lebih tinggi dibanding beberapa glukokortikoid lain karena struktur kimianya yang memungkinkan afinitas ikatan yang lebih kuat terhadap reseptor glukokortikoid intraseluler (Yadav et al. , 2. Hal ini mengoptimalkan aktivasi reseptor tersebut sehingga menekan transkripsi protein proinflamasi secara lebih efektif dan meningkatkan ekspresi sinyal anti inflamasi dan mengurangi aktivitas mineralokortikoid. Hal ini menjelaskan bahwa metilprednisolon memiliki potensi anti inflamasi yang lebih tinggi namun resiko efek samping yang lebih tinggi dibandingkan dengan glukokortikoid lain (Williams, 2. Penelitian retrospektif menyatakan penggunaan metilprednisolon lebih beresiko menyebabkan hiperglikemia dibandingkan dengan prednisolon atau hidrokortison dengan selisih rata-rata kadar gula darah 52 mg/dL . % CI, 2,0Ae3,7. p-value<0,0. (Limbachia et al. , 2. Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena potensi dan waktu paruh Glukokortikoid yang kurang kuat, seperti prednison memiliki waktu paruh lebih pendek 3-4 jam, dibandingkan dengan metilprednisolon . Ae26 ja. (Myhlmann et al. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini mendukung data prevalensi kejadian efek samping hiperglikemia akibat penggunaan glukokortikoid. Prevalensi tersebut sebesar 12. 7% pada periode tahun 2024 di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi kejadian ESO hiperglikemia yaitu jenis kortikosteroid metilprednisolon . -value = 0,. dan rute pemberian intravena . -value = 0,. Jenis kortikosteroid metilprednisolon menunjukkan faktor yang paling berhubungan dengan kejadian efek samping hiperglikemia (OR 6. 95% CI 2. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi apoteker, dokter dan tenaga medis lain untuk melakukan monitoring efek samping hiperglikemia yang terjadi pada pasien guna menjamin keamanan penggunaan glukokortikoid pada pasien SLE, dan menginspirasi para peneliti untuk melakukan penelitian prospektif dengan kontrol dosis dan tambahan variabel seperti BMI dan komorbid DM yang dilakukan secara multicenter. UCAPAN TERIMA KASIH Tim peneliti mengucapkan terima kasih atas kontribusi dan dedikasi seluruh anggota dalam penelitian ini, serta seluruh tim menyampaikan ucapan terima kasih kepada LP2M Universitas Wahid Hasyim atas Hibah Penelitian Pemula 2025. REFERENSI