IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. UPAYA PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP RANGKAIAN LISTRIK SEDERHANA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN EXPERIENTIAL LEARNING DI KELAS VI SDN PLOSOKEREP 2 KOTA BLITAR Hetty ImroAoah SDN Plosokerep 2 Kota Blitar. Indonesia *Corresponding Email: hetty_imroah@gmail. Diterima: 03 Mei 2022 | Direvisi: 20 juli 2022 | Disetujui: 20 Oktober 2022 Abstract. Natural Sciences is a subject in elementary school which is intended so that students have organized knowledge, ideas and concepts about the natural surroundings, which are obtained from experience through a series of scientific processes including investigation, compilation and presentation of ideas. In science learning about Electrical Circuits in class VI SDN Plosokerep 2. Sananwetan District. Blitar City, it can show poor learning outcomes. Learning outcomes can be seen from 17 students who achieved completeness only 7 students or 41% with a classical average value of 51. This value is due to a lack of learning by doing separate experiences and only using conventional learning methods. In this case, the sixth grade teacher conducts classroom action research with qualitative descriptive research, with a learning method that seeks to increase students' conceptual understanding. Experience-Based Learning Method (Experiential Learnin. is a model of the teaching and learning process that activates learners to build knowledge and skills through direct experience. Keywords: Understanding of Science Concepts. Simple Electrical Circuit. Experiential Learning Method Abstrak. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan mata pelajaran di SD yang dimaksudkan agar siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan. Pada pembelajaran IPA tentang Rangkaian Listrik di kelas VI SDN Plosokerep 2 Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, dapat menunjukkan hasil belajar yang kurang baik. Hasil belajar dapat diketahui dari 17 siswa yang mencapai ketuntasan hanya 7 siswa atau sebesar 41% dengan nilai rata-rata klasikal 51. Nilai demikian disebabkan kurangnya pembelajaran dengan cara melakukan pengalaman tersendiri dan hanya menggunakan metode pembelajaran yang Dalam hal ini guru kelas VI melakukan penelitian tindakan kelas dengan penelitian Deskriptif kualitatif, dengan sebuah metode pembelajaran yang diupayakan untuk meningkatkan peningkatan pemahaman konsep siswa. Metode Pembelajaran Berbasis Pengalaman (Eksperiential Learnin. merupakan suatu model proses belajar mengajar yang mengaktifkan pembelajar untuk membangun pengetahuan dan keterampilan melalui pengalamannya secara langsung. Kata Kunci: Pemahaman Konsep IPA. Rangkaian Listrik Sederhana. Metode Eksperiential Learning Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. PENDAHULUAN Sekolah dasar (SD) menurut Waini Rasyidi . pada hakikatnya merupakan satuan atau unit lembaga sosial . ocial institutio. yang diberi amanah atau tugas khusus . pecific tas. oleh masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan dasar secara Dengan demikian, sebutan sekolah dasar merujuk pada satuan lembaga sosial yang diberi amanah spesifik oleh masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan dasar penggalan pertama selama enam tahun untuk dilanjutkan pada penggalan pendidikan dasar kedua selama 3 tahun di SMP atau satuan pendidikan yang sederajat. Atas dasar pemahaman tentang beberapa definisi pendidikan maka dapat didefinisikan Pendidikan Sekolah Dasar sebagai suatu proses yang bukan hanya memberi bekal kemampuan intelektual dasar dalam membaca, menulis dan berhitung saja melainkan juga sebagai proses mengembangkan kemampuan dasar peserta didik secara optimal dalam aspek intelektual, sosial, dan personal, untuk dapat melanjutkan pendidikan di SMP atau yang Secara teknis pendidikan SD dapat pula didefinisikan sebagai proses membimbing, mengajar dan melatih peserta didik yang berusia antara 6-13 tahun untuk memiliki kemampuan dasar dalam aspek intelektual, sosial dan personal yang terintegrasi dan sesuai dengan karakteristik perkembangannya. Pembelajaran merupakan persiapan di masa depan, dalam hal ini masa depan kehidupan anak yang ditentukan orang tua. Oleh karenanya, sekolah mempersiapkan mereka untuk hidup dalam masyarakat yang akan datang. Pembelajaran merupakan suatu proses penyampaian pengetahuan, yang dilaksanakan dengan menuangkan pengetahuan kepada siswa (Oemar Hamalik, 2008:. Bila pembelajaran dipandang sebagai suatu proses, maka pembelajaran merupakan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar. Proses tersebut dimulai dari merencanakan progam pengajaran tahunan, semester dan penyusunan persiapan mengajar . esson pla. berikut persiapan perangkat kelengkapannya antara lain berupa alat peraga dan alat-alat evaluasinya (Hisyam Zaini, 2004: . Berdasarkan beberapa pendapat diatas maka disimpulkan pembelajaran adalah suatu proses dan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar, pembelajaran juga merupakan persiapan di masa depan dan sekolah mempersiapkan mereka untuk hidup dalam masyarakat yang akan datang. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan mata pelajaran di SD yang dimaksudkan agar siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan. IPA adalah pengetahuan khusus yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain (Abdullah, 1998: . IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan sistematis dan IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (Sri Sulistyorini, 2007: . Ilmu Pengetahuan Alam merupakan mata pelajaran di SD yang dimaksudkan agar siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan. Pada prinsipnya, mempelajari IPA sebagai cara mencari tahu dan cara mengerjakan atau melakukan dan membantu siswa untuk memahami alam sekitar secara lebih mendalam (Depdiknas dalam Suyitno, 2002: . Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan pembelajaran IPA adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori agar siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan. Pembelajaran IPA secara khusus sebagaimana tujuan pendidikan secara umum sebagaimana termaktub dalam taksonomi bloom bahwa: diharapkan dapat memberikan pengetahuan . , yang merupakan tujuan utama pembelajaran. Jenis pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan dasar dari prinsip dan konsep yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Berdasarkan uraian tersebut, maka hakikat dan tujuan pembelajaran IPA diharapkan dapat memberikan antara lain sebagai berikut: . kesadaran akan keindahan dan keteraturan alam untuk meningkatkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. pengetahuan, yaitu pengetahuan tentang dasar dari prinsip dan konsep, fakta yang ada di alam, hubungan saling ketergantungan, dan hubungan antara sains dan teknologi. keterampilan dan kemampuan untuk menangani peralatan, memecahkan masalah dan melakukan observasi. sikap ilmiah, atara lain skeptis, kritis. Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. sensitive, obyektif, jujur terbuka, benar, dan dapat bekerja sama. kebiasaan mengembangkan kemampuan berfikir induktif dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip sains untuk menjelaskan berbagai peristiwa alam. apresiatif terhadap sains dengan menikmati dan menyadari keindahan keteraturanperilaku alam serta penerapannya dalam teknologi. Kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Kelas VI UPT Satuan Pendidikan SDN Plosokerep 2 Kecamatan Sanawetan Kota Blitar, dapat diketahui pembelajaran di kelas kurang adanya kegiatan yang bisa menumbuhkan pengalaman bagi Kegiatan belajar guru hanya memberikan materi pembelajaran berdasarkan video pembelajaran ataupun berdasarkan buku, kemudian pemberian tugas. Hasil yang diperoleh dari pembelajaran tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hasil kegiatan kelompok dari 8 kelompok yang mencapai ketuntasan sebanyak 3 kelompok atau 38%, sedangkan dalam hasil kegiatan individu dari 17 siswa yang mencapai nilai ketuntasan hanya 7 siswa atau sebesar 41%, dan nilai rata-rata klaskal sebesar 51. Nilai tersebut masih belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan yaitu nilai Sesuai dengan hal tersebut guru melakukan penelitian terhadap kegiatan pembelajaran, guru bertindak juga sebagai peneliti/observer dalam penelitian tidakan Pada penelitian ini menggunakan sebuah metode atau model pembelajaran, agar memperoleh hasil yang baik. Model pembelajaran yang digunakan peneliti adalah Model Experiential Learning adalah suatu model proses belajar mengajar yang mengaktifkan pembelajar untuk membangun pengetahuan dan keterampilan melalui pengalamannya secara langsung. Dalam hal ini. Experiential Learning menggunakan pengalaman sebagai katalisator untuk menolong pembelajar mengembangkan kapasitas dan kemampuannya dalam proses pembelajaran. Experiential Learning atau pembelajaran berbasis pengalaman dapat didefinisikan sebagai tindakan untuk mencapai sesuatu berdasarkan pengalaman yang secara terus menerus mengalami perubahan guna meningkatkan keefektifan dari hasil belajar itu sendiri. David Kolb . alam Fathurrohman 2015: . mendefinisikan Aubelajar sebagai Auproses bagaimana pengetahuan diciptakan melalui perubahan bentuk pengalamanAy. Pengetahuan diakibatkan oleh kombinasi pemahaman dan mentrasnformasikan pengalaman. Fathurrohman . 5: . menyatakan bahwa AuExperiential Learning adalah proses belajar, proses perubahan yang Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. menggunakan pengalaman sebagai media belajar atau pembelajaran bukan hanya materi yang bersumber dari buku atau pendidikAy. Experiential Learning merupakan sebuah model holistik dari proses pembelajaran di mana manusia belajar, tumbuh dan berkembang. Penyebutan istilah Experiential Learning dilakukan untuk menekankan bahwa experience pengalaman berperan penting dalam proses pembelajaran dan membedakannya dari teori pembelajaran lainnya seperti teori pembelajaran kognitif ataupun behaviorisme Kolb, 1984. Pfeiffer Jones 1979, dalam Supratiknya, 2011 mengatakan bahwa model pembelajaran yang lazim diterapkan dalam life-skills training adalah structured experience. Model structured experience diartikan bahwa pengalaman terstruktur merupakan situasi pembelajaran yang didasarkan pada model pembelajaran eksperiensial. Model ini lebih bersifat induktif daripada deduktif, memberikan pengalaman belajar langsung daripada lewat pengalaman orang lain, dan para partisipan diberi kesempatan menemukan sendiri makna hasil belajarnya serta menguji sendiri kesahihan pengalamannya itu. Menurut Silberman 2014 Experiential Learning mengacu pada keterlibatan peserta didik dalam kegiatan kongkret yang membuat mereka mampu untuk mengalami apa yang tengah mereka pelajari. Experiential Learning didasarkan pada pengalaman hidup yang nyata dan pengalaman terstruktur serta mensimulasikan pengalaman nyata. Kemudian pengalaman ini memberikan kesempatan untuk merefleksikan kegiatan tersebut. Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa Experiential Learning adalah suatu pendekatan yang dipusatkan pada pengalaman belajar. Individu yang telah mengalami proses pembelajaran, diberikan kesempatan untuk dapat memaknai hasil belajarnya Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas peneliti akan melakukan penelitian pembelajaran IPA tentang Rangkaian Listrik Sederhana pada Tema 3 Semester 1 Tahun Pelajaran 2022/2023 dengan menggunakan model pembelajaran Experiential Learning di kelas VI. Adapun Kompetensi Dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah Mengidentifikasi menghasilkan, menyalurkan, dan menghemat energi listrik. 5 Menyajikan karya tentang berbagai cara melakukan penghematan energi dan usulan sumber alternatif energi listrik. Berdasarkan paparan diatas, maka peneliti melakukan penelitian dengan judulAy Upaya Peningkatan Pemahaman Konsep Rangkaian Listrik Sederhana dengan Model Pembelajaran Experiential Learning di Kelas VI SDN Plosokerep 2 Kota BlitarAy. Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif Deskriptif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dan makna . erspektif subje. lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Penelitian kualitatif menurut Sugiyono . adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivism, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, sebagai lawannya adalah eksperimen dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan triangulasi . , analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasilnya lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Data dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI UPT Satuan Pendidikan SDN Plosokerep 2 Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. Jumlah siswa adalah 17 siswa yang terdiri dari 12 siswa putra dan 9 siswa putri. Pelaksanaan kegiatan pada pertengahan bulan Agustus 2021, pada semester 1 Tahun Pelajaran 2021/2022. Peneliti adalah Hetty ImroAoah. Pd yang merupakan guru kelas VI. Muatan pelajaran adalah IPA, dengan materi pembelajaran adalah Rangkaian Listrik Sederhana, pada Kompetensi Dasar 5. Mengidentifikasi komponen listrik dan fungsinya serta menjelaskan cara menghasilkan, menyalurkan, dan menghemat energi listrik. 5 Menyajikan karya tentang berbagai cara melakukan penghematan energi dan usulan sumber alternatif energi listrik. Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Researc. yaitu tindakan reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki proses Sudarsono . memberikan batasan tentang penelitian tindakan kelas yaitu suatu bentuk penelitian yang bersifat refleksif dengan melakukan tindakantindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktek pembelajaran di kelas secara profesional. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada kelas yang langsung peneliti terlibat di dalamnya atau kelas yang diajar, bertujuan bukan hanya Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. sebagai solusi untuk mengatasi masalah, tetapi juga melibatkan pengajar sendiri secara aktif dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: . Teknik tes, . Teknik observasi, dan . Teknik dokumentasi. Langkah-langkah analisis data yang digunakan sesuai dengan pendapat Riel . yang membagi proses penelitian tindakan menjadi tahap-tahap: . studi dan perencanaan. pengambilan tindakan. pengumpulan dan analisis kejadian. Riel . mengemukakan bahwa untuk mengatasi masalah, diperlukan studi dan perencanaan. Masalah ditemukan berdasarkan pengalaman empiris yang ditemukan sehari-hari. Setelah masalah teridentifikasi, kemudian direncanakan tindakan yang sesuai untuk mengatasi permasalahan dan mampu dilaksanakan oleh peneliti. Perangkat yang mendukung tindakan . RPP) disiapkan pada tahap perencanaan. Setelah rencana selesai disusun dan disiapkan, tahap berikutnya adalah pelaksanaan tindakan. Setelah dilakukan tindakan, peneliti kemudian mengumpulkan semua data/informasi/kejadian yang ditemui dan menganalisisnya. Hasil analisis tersebut kemudian dipelajari, dievaluasi, dan ditanggapi dengan rencana tindak lanjut untuk menyelesaikan masalah yang masih ada. Putaran tindakan ini berlangsung terus, sampai masalah dapat diatasi. Acuan nilai ketuntasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kiteria Ketuntasan Mininimal (KKM). Adapun KKM dari mata pelajaran IPA adalah 72, sehingga siswa yang mendapatkan nilai kurang dari KKM dinyatakan tidak tuntas, serta apabila nilai rata-rata kelas di bawah KKM juga perlu pembelajaran perbaikan dengan melanjutkan ke siklus berikutnya hingga mencapai ketuntasan. Apabila siswa memenuhi KKM yang ditentukan maka siswa tersebut dikatakan tuntas tetapi tetap mengikuti pembelajaran siklus berikutnya sampai siswa yang lain tuntas, agar dapat memperoleh ketuntasan secara klasikal. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kegiatan wawancara yang dilaksanakan pada tiap siklus serta pemberian angket setelah kegiatan pembelajaran selesai. Jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kuantitatif dideskripsikan menjadi data kualitatif. Data kuantitatif dalam penelitian deskriptif dapat dianalisis dengan teknik persentase. Data yang sudah dipersentase dikualifikasikan menjadi data kualitatif. Sementara itu data kualitatif merupakan data yang ditampilkan dalam bentuk deskripsi-deskripsi. Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Abdul . mengemukakan bahwa model pembelajaran experiential adalah suatu model proses belajar belajar mengajar yang mengaktifkan pembelajaran untuk membangun pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman secara langsung. Pengalaman tersebut sebagai katalisator untuk menolong pembelajar mengembangkan Kolb Kolb . membangun enam proposisi dalam experiential learning, yaitu: . pembelajaran yang terbaik dimaknai sebagai proses, bukan dalam istilah hasil. semua pembelajaran adalah pembelajaran yang berulang. pembelajaran menyediakan resolusi konflik mode yang berlawanan secara dialektis dari adaptasi pada dunia. pembelajaran adalah proses holistik dari adaptasi pada dunia dan tidak hanya hasil dari . pembelajaran menghasilkan transaksi yang sinergis antara individu dan dan . pembelajaran adalah proses mengkreasi pengetahuan. Kolb . alam Muhammad, 2015:. mengemukakan bahwa model pembelajaran experiential adalah belajar sebagai proses mengkontruksi pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Belajar dari pengalaman mencakup keterkaitan antara berbuat dan berpikir. Jika seseorang berbuat aktif maka orang itu akan belajar jauh lebih baik. Hal ini disebabkan dalam proses belajar tersebut pembelajar secara aktif berpikir tentang apa yang dipelajari dan kemudian bagaimana menerapkan apa yang telah dipelajari dalam situasi nyata. Pada pembelajaran IPA sangatlah sesuai dengan pengertian dan manfaat pembelajaran Experiential Learning, karena siswa dapat belajar tidak hanya fokus pada buku ajar tetapi juga bisa belajar dari lingkungan sehingga mendapatkan pengalaman tersendiri dari belajarnya. Pada kegiatan penelitian pembelajaran siklus 1 yang digunakan sebagai pembelajaran perbaikan pada pra tindakan, peneliti menggunakan model pembelajaran Experiential Learning dalam pembelajaran Rangkaian Listrik Sederhana. Pembelajaran siklus 1 dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 21 September 2022 dengan berpedoman perbaikan pembelajaran pra tindakan. Perbaikan pembelajaran meliputi: . Perbaikan dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, . Memasukkan model pembelajaran Experiential Learning dalam kegiatannya, . Menggunakan media Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. pembelajaran berupa Alat Peraga rangkain listrik seri dan paralel, . Penilaian dari segi hasil pengalaman dalam pengamatan tentang Menyusun Rangkaian Listrik Sederhana dan dari pengerjaan soal evaluasi. Kegiatan pembelajaran siklus 1 melalui tahap kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Pada kegiatan awal guru selalu memberikan ucapan salam, presensi, dan apersepsi tentang tanya jawab alat-alat listrik yang ada di rumah siswa seperti: lampu, saklar, steker, stop kontak, dll. Pada pembelajaran tentang Rangkaian Listrik Sederhana ini, guru memfokuskan pada penjelasan tentang rangkain listrik seri dan parallel dan melakukan praktikum. Pada kegiatannya yang menerapkan model pembelajaran Experiential Learning, siswa diberi kesempatan untuk melakukan praktik dengan kelompoknya dengan Menyusun rangkaian listrik secara seri dan paralel. Pada kegiatan ini peneliti memberikan kesempatan siswa untuk mengolah sendiri agar menunjukkan hasilnya lampu pada alat peraga dari sekolah dapat menyala atau tidak. Setelah kegiatan tersebut selesai, peneliti memberi kesempatan untuk bergantian menyusun rangkaian listrik seri dan paralel, agar semua siswa dapat melakukannya sendiri dan siswa yang lain yang sudah bisa membantu siswa yang lain yang kesulitan. Dilanjutkan kegiatan penilaian oleh peneliti dari hasil yang dikerjakan siswa, kemudian siswa diberi tugas kelompok yang berbentuk soal yang dikerjakan secara kelompok, dan dilanjutkan dengan pemberian soal evaluasi yang dikerjakan secara individu. Hasil observasi pada kegiatan pembelajaran siklus 1 ini dapat diketahui, proses pembelajaran secara berjalan lancar siswa menjadi aktif sekali dalam kegiatan kelompok. Siswa melakukan kegiatan sendiri dan mendapatkan pengalaman tersendiri dalam memperagakan alat peraga tersebut. Hasil Refleksi siklus 1 ini bahwa pembelajaran sudah keprofesionalannya sebagai pendidik. Hal yang perlu diperbaiki adalah adanya pengembangan dalam pembelajaran Rangkain Listrik Sederhana dan peningkatan hasil Dapat diketahui hasil belajar siswa dalam siklus 1 ini dalam kegiatan kelompok dari 8 kelompok yang mencapai ketuntasan sebanyak 5 kelompok atau sebesar 53%, sedangkan dalam hasil individu dari 17 siswa yang mencapai ketuntasan sebanyak 12 siswa atau sebesar 71% dengan nilai rata-rata klasikal 70. Nilai tersebut sudah bagus tetapi belum mencapai ketuntasan yang diharapkan sehingga diperlukan pembelajaran perbaikan selanjutnya. Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. Pembelajaran perbaikan siklus 2 dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 22 September 2022, dengan pembelajaran mengacu terhadap hasil refleksi siklus 1. Kegiatan perbaikan pembelajaran pada siklus 2 ini hanya difokuskan pada pengembangan materi tentang Rangkaian Listrik Sederhana dengan siswa membawa alat listrik sederhana dari rumah, seperti: lampu senter, batrai, kabel, isolasi, dll. Pada kegiatan pembelajarannya Kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Pada kegiatan awal pelaksanaannya memberikan ucapan salam, presensi, dan motivasi belajar. Pada kegiatan inti sebagai penerapan model pembelajaran Experiential Learning, siswa diberi kegiatan untuk mengamati rangkaian listrik yang ada di lingkungan sekolah dan menuliskan termasuk rangkaian seri atau paralel. Kegiatan Kelompok meliputi penyusunan rangkaian seri dan parallel dengan menggunakan alat yang dibawa dari rumah, siswa dalam kelompok diberi kesepatan Menyusun hingga menyala dan dilanjutkan kegiatan memulai lagi dari nol dan dilakukan secara bergantian dengan siswa yang lain. Setelah kegiatan selesai dilanjutkan dengan pemberian Latihan soal evaluasi yang harus dikerjakan secara Hasil observasi dalam pembelajaran siklus 2 ini adalah siswa lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran dan siswa lebih termotivasi dengan hal baru yang dapat meningkatkan semangatnya mencoba rangkaian listrik yang dibuatnya hingga menyala. Hasil refleksi pada siklus 2 ini, bahwa kegiatan semakin bagus dan aktif dalam mencari pengalaman baru siswa, yang semula siswa tidak tahu tentang rangkaian listrik di sekitar siswa menjadi lebih tahu. Pada hasil penilaian kelompok dari 8 kelompok yang mencapai ketuntasan sebanyak 8 kelompok atau 100%, sedangkan dalam pengerjaan soal evaluasi dari 17 siswa yang mencapai ketuntasan sebanyak 15 siswa atau sebesar 88% dengan nilai rata-rata klasikal mencapai nilai 90. Nilai tersebut sudah meningkat mencapai ketuntasan yang ditentukan sehingga tidak memerlukan pembelajaran perbaikan selanjutnya. Pembahasan Model Pembelajaran Experiential Learning menurut Hamalik . mengungkapkan beberapa langkah-langkah pembelajaran experiential learning, yaitu: . Tahap Persiapan . egiatan pendahulua. , meliputi: . Guru merumuskan secara seksama suatu rencana pengalaman belajar yang bersifat terbuka . pen minde. yang memiliki hasil-hasil tertentu. Guru memberikan rangsangan dan motivasi kepada siswa. Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. Tahap Inti . egiatan inti pada eksplorasi dan elaboras. , meliputi: . Siswa dapat bekerja secara individual atau kelompok, dalam kelompok-kelompok kecil/keseluruhan kelompok di dalam belajar berdasarkan pengalaman. Para siswa di tempatkan pada situasi-situasi nyata, maksudnya siswa mampu memecahkan masalah dan bukan dalam situasi pengganti. Siswa aktif berpartisipasi di dalam pengalaman yang tersedia, membuat keputusan sendiri, menerima konsekuen berdasarkan keputusan tersebut. Tahap Akhir (Kegiatan penutu. , meliputi: keseluruhan siswa menceritakan kembali tentang apa yang dialami sehubung dengan mata pelajaran tersebut untuk memperluas pengalaman belajar dan pemahaman siswa dalam melaksanakan pertemuan yang nantinya akan membahas bermacam-macam pengalaman tersebut. Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa model Experiential Learning lebih menekankan kepada siswa untuk aktif dalam pembelajaran dan berdampak pada hasil belajar siswa. Pembelajaran berlangsung dengan cara siswa berperan langsung dengan melihat pengalaman siswa. Siswa bebas untuk menyampaikan pendapat selama pembelajaran berlangsung, dan guru berperan sebagai fasilitator lalu siswa yang menjalankan perintah dari guru. Model Experiential Learning tidak hanya berpusat pada hasil belajar, namun juga memperhatikan proses belajar tersebut karena gaya belajar siswa yang berbeda-beda sehingga mengakibatkan aktivitas siswa di dalam kelas berbeda-beda juga. Pelaksanaan pembelajaran IPA menggunakan Model Experiential Learning dapat meningkatkan kemampuan guru dalam berbagai hal. Peningkatan tersebut antara lain: . Peningkatan keterampilan mengajar, . Peningkatan dalam kemampuan menyusun RPP, . Peningkatan dalam memberdayakan mata pelajaran dengan lingkungan, . Menggali kemampuan untuk berfikir siswa dan menambah pengalaman siswa, dan . Meningkatkan kualitas pembelajarannya. Pada hasil observasi pembelajaran yang dilaksanakan tiap siklus pembelajaran dapat diketahui semakin meningkat dalam hasil belajar dan nilai rata-rata siswa. Kegiatan siswa dalam menemukan konsep dan memperoleh pengalaman sendiri sangat bagus dalam kegiatan pembelajaran IPA. Adapun perubahan yang dialami siswa dengan materi pembelajaran Rangkaian Listrik Sederhana dengan model pembelajaran Experiential Learning adalah: . Siswa lebih aktif dalam pembelajaran, . Siswa dapat belajar secara langsung dalam mencari pengetahuan, . Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. Siswa memperoleh pengalaman sendiri dan tidak hanya melihat saja, . Hasil belajar siswa semakin meningkat. Pada pembelajaran perbaikan siklus 1 difokuskan pada kegiatan praktikum penyusunan rangkaian listrik secara seri dan paralel. Peneliti menggunakan alat peraga rangkaian listrik sederhana yang ada di sekolah, dan siswa hanya membawa batrai dan lampu senter kecil-kecil dari rumah. Kegiatan dilakukan secara kelompok dan didampingi peneliti, siswa terlihat antusias dalam melakukan praktik ini. Pada pembelajaran siklus 2 kegiatan difokuskan pengembangan materi dengan cara membawa alat-alat listrik sederhana dari rumah, yaitu: batrai, kabel, lampu senter, dsb. Siswa secara berkelompok menyusun rangkaian listrik secara seri dan paralel, secara bekerja sama hingga manyala dengan baik. Kegiatan tersebut dilanjutkan secara bergantian antar siswa dalam kelompok, saling membantu hingga manyala dengan baik. Sebelum pembelajaran diakhiri siswa mengerjaka soal evaluasi yang dikerjakan secara individu, dan menuliskan perbedaan rangkaian seri dan paralel. Adapun hasil belajar siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan Model Experiential Learning dalam pembelajaran materi rangkaian listrik sederhana dapat digambarkan dalam grafik berikut ini: Pra Tindakan Siklus 1 Kelompok Individu Rata-rata Grafik peningkatan pemahaman konsep Rangkain Listrik Sederhana dengan Metode Experiental Learning pada pra Tindakan, siklus 1, dan siklus 3 Copyright . Author IJOIS: Indonesian Journal of Islamic Studies Ae Vol. No. 02, . , pp. Grafik di atas dapat ditunjukkan bahwa hasil belajar siswa secara kelompok dan individu mengalami peningkatan pada tiap siklusnya. Hasil peningkatan kegiatan kelompok terdapat 8 kelompok, pada pra tindakan mencapai 38%, siklus 1 mencapai 42%, dan siklus 2 mencapai 100%. Pada hasil kegiatan mengerjakan soal evaluasi secara individu, pada pra tindakan mencapai 42%, siklus 1 mencapai 71%, dan siklus 2 mencapai Peningkatan nilai rata-rata secara klasikal juga mengalami peningkatan, yaitu pra tindakan mencapai 51%, siklus 1 mencapai 70%, dan siklus 2 mencapai 90%. Peningkatan hasil pembelajaran tersebut mengalami peningkatan dan mencapai ketuntasan karena menggunakan model Experiential Learning dan dapat dikatakan guru mencapai keberhasilan dalam melaksanakan pembelajaran. KESIMPULAN Pembelajaran Experiential Learning merupakan pembelajaran yang dapat menambah pengalaman siswa secara langsung. Terutama dalam pembelajaran online, siswa dapat memanfaatkan pengalamannya dengan lingkungan sekitar. Pada pembelajarnnya guru harus lebih kreatif dalam memberdayakan materi pembelajaran, lingkungan siswa, dan hasil berupa nilai dan pengalaman bagi siswa. Model pembelajaran ini sangat berpengaruh sekali terhadap pemanfaatan hasil belajar dan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran IPA dengan menggunakan model pembelajaran Experiential Learning menunjukkan kemajuan dalam kemampuan berfikir siswa, menemukan suatu konsep dan menambah pengalaman siswa. Hasil peningkatan kegiatan kelompok terdapat 8 kelompok, pada pra tindakan mencapai 38%, siklus 1 mencapai 42%, dan siklus 2 mencapai 100%. Pada hasil kegiatan mengerjakan soal evaluasi secara individu, pada pra tindakan mencapai 42%, siklus 1 mencapai 71%, dan siklus 2 mencapai 88%. Peningkatan nilai rata-rata secara klasikal juga mengalami peningkatan, yaitu pra tindakan mencapai 51%, siklus 1 mencapai 70%, dan siklus 2 mencapai 90%. REFERENSI