Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 94-112 REPRESENTASI NILAI SOSIAL PADA NOVEL SISI TERGELAP SURGA KARYA BRIAN KHRISNA MENGGUNAKAN PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA Ninis Nur Mufidatul Khamdiyah1. Indah Puspitasari2 Universitas Hasyim AsyAoari Jombang1 Universitas Hasyim AsyAoari Jombang2 Jl. Irian Jaya No. Tebuireng. Cukir. Kec. Diwek. Jombang. Jawa Timur 61471 Email: ninismufidah1112@gmail. com1, indahpuspitasariunhasy@gmail. Abstract This research aims to explain and describe the social values contained in the novel The Darkest Side of Heaven by Brian Khrisna. This research uses a qualitative descriptive method, namely the results of the analysis are descriptive, not numerical. The technique used in collecting data in this research is by reading it repeatedly carefully and classifying the social values contained in the novel The Darkest Side of Heaven by Brian Khrisna. This research focuses on the social values contained in the novel The Darkest Side of Heaven by Brian Khrisna. The results of research on the novel The Darkest Side of Heaven by Brian Khrisna contain social values, namely: family values, the value of helping, and the value of struggle. Keywords: Sociology of Literature. Novel. Social Values Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan nilai-nilai sosial yang terkandung pada novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu hasil analisisnya berupa deskriptif bukan berupa angka. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini dengan cara membaca berulang kali secara cermat dan mengklasifikasikan nilai-nilai sosial yang terdapat pada novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna. Penelitian ini berfokus pada nilai-nilai sosial yang terkandung pada novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna. Hasil penelitian pada novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna terkandung nilai-niali sosial, yaitu: nilai kekeluargaan, nilai tolong menolong, dan nilai perjuangan. Kata Kunci: Sosiologi Sastra. Novel. Nilai Sosial Pendahuluan Nilai-nilai sosial bagaikan pilar utama yang menompang kehidupan bermasyarakat agar dapat membangun masyarakat yang harmonis dan juga Nilai-nilai sosial juga mengarahkan individu dan kelompok untuk senantiasa bertindak dengan kebaikan. Nilai nilai sosial dapat menjadi sumber inspirasi atau sebagai dorongan bagi individu untuk senantiasa menjujung tinggi moralitas dan berperilaku baik dalam berinteraksi sosial. Menurut Zubaedi . menjelaskan bahwa nilai sosial terdiri dari beberapa nilai, diantaranya. Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 adalah . nilai kasih sayang, . nilai tanggung jawab, dan . nilai keserasian Menurut Aish . 5: . nilai sosial merupakan tolak ukur kesopanan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai sosial yang tertanam pada masyarakat itu mencerminkan realitas kehidupan bersama, dan aturan yang disepakati bersama menjadi pilar terwujudnya keteraturan sosial. Seperti yang dijelaskan oleh Abdusyani . , bahwa nilai itu berperan sebagai tolak ukur untuk sikap individu atau kelompok yang dianggap sebagai bentuk. Nilai sosial dan karya sastra juga memiliki hubungan yang sangat berkaitan, karena karya sastra tidak jauh-jauh dari kehidupan nyata. Karya sastra juga tidak bisa terpisahkan oleh nilai sosial dan faktor sosial. Menurut Sumardjo . 5: . menjelaskan bahwa karya sastra merupakan pengalaman manusia yang diungkapkan dengan bahasa yang memukau. Karya sastra juga bisa dianggap sebagai cerminan budaya masyarakat, di mana masyarakat itu sendiri yang menciptakan dan melestarikannya. Maka tidak heran jika karya sastra tercipta dari perpaduan imajinasi dengan pengalaman sang sastrawan itus sendiri. Karya sastra terbagi menjadi berbagai hal, salah satunya yaitu novel. Nurgiyantoro . 9: . , novel merupakan karya sastra yang menampilkan aspek kemanusiaan secara mendalam dengan penyajian yang halus dan penuh dengan Novel juga merupakan karangan prosa yang menceritakan kehidupan manusia dan hubungan mereka dengan orang-orang di sekitarnya (Depdikbud, 2005: . Sedangkan menurut Tarigan . 1: . , novel merupakan cerita yang memiliki alur yang cukup panjang yang mengisi seluruh isi buku dan bersifat Penelitian karya sastra ini menggunakan novel sebagai objeknya. Novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna ini sangat menggambarkan atau mencerminkan kehidupan nyata, karena penulisnya yaitu Brian Khrisna tidak hanya menuangkan imajinasinya saja tetapi juga menuangkan pengalamannya dengan orang-orang dijalanan. Brian Khrisna juga melakukan wawancara dan mengumpulkan kepingan-kepingan cerita dari semua teman jalanan, yang beberapa juga merupakan pengalaman yang terjadi kepadanya. Novel Sisi Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 Tergelap Surga karya Brian Khrisna ini menceritakan perjuangan hidup orangorang dipinggiran kota Jakarta. Para tokoh dalam novel ini penuh dengan permasalahan hidup yang mana membuat mereka mengerti perasaan satu sama Perjuangan para tokoh untuk menyambung hidup di pinggiran kota Jakarta ini penuh dengan permasalahan. Novel ini menceritakan perjuangan seorang Badut ayam yang berjuang untuk menafkahi ketiga anaknya, seorang pengamen, pemulung dan manusia silver yang berjuang untuk bertahan hidup di Jakarta, seorang pencuri yang terpaksa mencuri untuk membiayai pengobatan ibunya, seorang wanita penghibur atau PSK yang terpaksa bekerja sebagai PSK demi menghidupi anaknya, dan seorang waria yang terpaksa menjadi waria demi menafkahi dan demi pendidikan adiknya di kampung. Para tokoh dalam novel itu menjelaskan alasan di balik pekerjaan yang mereka lakukan. Para tokoh juga tau apa yang mereka lakukan itu salah tetapi keadaan yang membuat mereka melakukan itu. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengungkap makna atau nilai-nilai sosial yang terkandung pada novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna, juga penelitih ingin membuka pandangan masyarakat tentang para pengamen, manusia silver, badut, pemulung, dan yang lainnya. Penelitian ini juga dirasa sangat penting melihat bagaimana perjuangan para tokoh dalam novel Sisi tergelap Surga karya Brian Khrisna. penelitian sebelumnya yang menjadi rujukan yaitu penelitian yang dilakukan oleh Nabila Shiba dan Prima Gusti Yanti, dengan judul AuNILAI-NILAI SOSIAL DALAM NOVEL JANJI KARYA TERE LIYE KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA. Ay Penelitian terdahulu itu meneliti nilai-nilai sosial, diantaranya yaitu : Nilai kasih sayang, nilai tanggung jawab, dan nilai keserasian Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini, yaitu: penelitian ini tidak hanya mengangkat nilai-nilai sosial tetapi juga mengangkat kondisi manusia dalam novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna. Metode Penelitian Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang pengumpulan data deskriptif dengan cara pengamatan (Moleong, 2005: . Metode deskriptif kualitatif merupakan pendekatan yang hasil analisisnya berupa deskriptif, bukan berupa angka atau rumus statistik tentang hubungan antar variable (Aminuddin, 1990: . Analisis pada novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna dikatakan menggunakan penelitian deskriptif kualitatif karena data yang dikumpulkan berupa teks, kata, dan kalimat bukan berupa angka. Objek penelitian ini yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna. Pengumpulan Data pada penelitian ini dengan membaca novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna berulang kali secara cermat. Hal ini dilakukan untuk mengumpulkan data yang nantinya dianalisis untuk mengklasifikasikan nilainilai sosial yang terdapat pada novel. Kemudian teknik analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan analisis secara menyeluruh untuk menemukan nilai-nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Peneliti meneliti bagaimana nilainilai sosial tersebut digambarkan melalui alur cerita. Langkah-langkah pengumpulan datanya sebagai berikut: Membaca novel Sisi tergelap Surga karya Brian Khrisna. Mengklasifikasikan data. Melakukan pengkodean data sesuai dengan klasifikasi data. Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil Penelitian Novel "Sisi Tergelap Surga" karya Brian Khrisna mengangkat berbagai nilai sosial yang dapat dianalisis menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Cerita dalam novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna menggambarkan atau mengilustrasikan berbagai aspek sosial yang sesuai dengan kehidupan nyata Brian Khrisna pengalaman teman-temannya di jalanan dengan imajinasinya untuk menciptakan Pembahasan ini akan menjabarkan beberapa nilai sosial yang diangkat dalam novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna, diantaranya yaitu: Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 . Nilai tolong menolong Saling tolong menolong merupakan nilai yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Tolong menolong itu berupa tindakan saling membantu satu sama lain untuk meringankan beban satu sama lain atau untuk meringankan beban orang lain. Tolong menolong juga merupakan sikap peduli yang dapat memperkuat persatuan dan dapat menciptakan lingkungan yang positif. Novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna juga diantaranya, yaitu: Aujang! Sakedap,Ay potong Nunung. Wanita paruh baya itu masuk ke kamar, membuka bekas kaleng kue dan mengambil uang dari situ, hasil berjualan tahu jablay yang ia tabung sedikit demi sedikit. Nunung dengan cepat melipat selembar uang hingga sangat kecil lalu memasukkannya ke saku celana seragam ujang. Au Tong bebeja ka Mama nyak?Ay Ujang mengangguk dengan senyum mukhlis. Au Makasih. Bu. Ay AuJangA. Ay Sobirin tiba-tiba memanggil, membuat Ujang dan Nunung kompak menatapnya. Au Besok kalau mama kamu nggak ada, emam didieu weh nya sareng ibu. Ujang bantuan Ibu ngadamel tahu jablayAy STS . Kutipan di atas menggambarkan nilai tolong menolong yang dilakukan oleh tokoh Nunung kepada tokoh Ujang. Tokoh Nunung yang memberikan selembar uang kepada Ujang, seorang anak kecil yang hanya memiliki seorang ibu yang sibuk bekerja hingga malam. Ujang yang selalu ke rumah Nunung saat ibunya bekerja menjadi akrab dengan keluarga Nunung dan keluarga Nunung sudah sangat mengerti bagaiman kehidupan Ujang. Bu Nunung dan keluarganya yang sudah mengerti bagaiman kehidupan Ujang sering kali memberikan uang kepada Ujang buat uang jajan Ujang dan sang suami Nunung yang bernama Sobirin juga menyuruh Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 Ujang ke Rumahnya saja kalau ibu Ujang tidak di rumah dan Sobirin juga menyuruh Ujang makan di rumahnya saja. Nilai tolong menolong yang dilakukan oleh Sobirin itu ditunjukkan oleh dialog Au Besok kalau mama kamu nggak ada, emam didieu weh nya sareng ibu. Ujang bantuan Ibu ngadamel tahu jablayAy yang artinya AuMakan di sini aja bersama Ibu. Ujang bantuin Ibu membuat tahu jablay. Ay Sobirin berusaha menjelaskan, anaknya kritis dan butuh uang untuk Tomi bergeming. Ia masuk ke rumah, menutup pintu, membiarkan Sobirin menangis. Tak lama, pintu itu terbuka lagi. Lima ratus diletakkan Tomi di hadapan Sobirin. AuAku Cuma ada segitu. Ambil. Sobirin melonjak dan mencium kaki tomi berkali-kali, tapi tomi justru AuOrangtua tolol, buat apa kau cium kakiku? Buangbuang waktu saja! Cepat sana bawa anakmu ke rumah sakit!Ay STS 3: . Kutipan di atas menggambarkan nilai tolong menolong yang digambarkan oleh tokoh Tomi yang menolong Sobirin. Tomi yang terkenal dengan sifat buruknya dan juga dia merupakan preman di terminal. Tomi juga sangat ditakuti di kampung itu. Sobirin yang pada saat itu butuh uang karena anaknya sedang kritis mencari pinjaman uang kesaudara-saudara dan waga kampung dan tidak ada yang membukakan pintu untuknya hingga akhirnya Sobirin memberanikan diri meminjam uang ke Tomi walau Sobirin juga takut dengan Tomi, tapi, demi anaknya Sobirin memberanikan Tomi Demi menyelamatkan nyawa anaknya, seorang bapak bahkan rela untuk berhadapan dengan sang iblis sekalipun, itu yang dilakukan oleh Sobirin saat ini demi sang anak Sobirin berani meminta pinjaman pada Tomi. Pintu rumah Tomi diketuk-ketuk hingga Tomi keluar dari rumah dengan mata yang melotot. Sobirin memoh on-mohon Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 untuk meminjamkan uang dan menjelaskan keadaan anaknya sambil Tomi masuk ke dalam rumahnya lagi tanpa mengucapkan apapun, dan kemudian keluar lagi dan memberikan uang lima ratus ribu untuk Sobirin. Sobirin merasa bersyukur Tomi mau menolongnya walau lima ratus ribu tidak cukup untuk membawa anaknya ke rumah sakit tapi Sobirin bersyukur masih ada orang yang menolongnya. Tomi yang terkenal dengan sifat buruknya yang suka marah-marah tetapi Tomilah yang menolongnya disaat yang lain tidak mau membukakan pintu untuknya. Tawuran malam hari. Satu orang terimpit itu dikpukuli. Syamsuar yang baru saja beres membuat kwetiau goreng untuk pelanggan lainnya langsung bangkit, ia mengeluarkan wajan yang biasa ia pakai untuk membuat nasi goreng lalu dengan gegas mengibas-ngibaskannya hingga menghajar beberapa wajah remaja tanggung itu. Panas menyengat di dasar wajan menjadi nilai tambah yang cukup ampuh untuk membuat teman-temannya yang lain lari kocar-kacir memacu motornya pergi. STS . 3: . Kutipan di atas menggambarkan nilai tolong menolong yang digambarkan oleh tokoh Syamsuar yang menolong seorang pemudah yang sedang dipukuli oleh sekelompok anak muda lainnya. Syamsuar tidak peduli jika bisa saja dia juga dipukuli oleh sekelompok remaja tersebut, dia pun menolong remaja yang sudah tergeletak, kemudian mengobatinya. AuUdah makan?Ay Pulung menatap anak remaja dengan cat silver di seluruh tubuhnya yang saat itu sedang berlindung di halte pinggir jalan ketika hujan besar mengguyur kota. Pulung yang duduk di lantai halte menawarkan nasi kotak yang ia miliki. AuMau makan? Gue nggak habis kalau makan ini Ay Saat itu pulung lapar luar biasa, tetapi ia tahu manusia silver di depannya juga kelaparan. Bocah perak itu mengambil beberapa lembar uang dari Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 kardus yang ia selalu bawa untuk mengemis. Au Aku ganti,Ay katanya, menyodorkan empat ribu rupiah. Pulung mengangguk. STS . 3: . Kutipan di atas menggambarkan nilai tolong menolong yang digambarkan oleh tokoh Pulung yang sedang berteduh di sebuah halte dan melihat ada seorang manusia silver yang juga berteduh di sana, pulung melihat manusia silver itu dan Pulung tahu kalau manusia silver itu kelaparan. Pulungpun membagikan nasi kotaknya dengan manusia silver itu dengan dalih bahwa ia tidak bisa menghabiskan nasi kotak itu sendiri walau kenyataannya Pulung juga sedang Nilai tolong menolong yang digambarkan oleh tokoh Pulung , merupakan sikap peduli sesama walau pulung tidak mengenal manusia silver tersebut tetapi Pulung tetap peduli dan menolongnya, walau tidak seberapa tapi itu sangat berarti. Nilai Solidaritas Novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna selain menggambarkan nilai saling tolong menolong dalam novel ini juga menggambarkan Nilai solidaritas yang tinggi. Para tokoh dalam novel ini saling mendukung dalam menghadapi permasalahan atau kesulitan yang mereka hadapi di kota Jakarta ini, yang mana kota Jakarta terkenal dengan kota metropolitan yang memiliki kehidupan yang keras. Persahabatan yang kuat antar tokoh menggambarkan pentingnya kebersamaan dan dukungan sosial dalam menghadapi tantangan hidup yang mereka alami. Nilai solidaritas dalam novel ini, antara lain: Mereka tak terpisahkan. Tiga orang terlahir suci di dunia yang keji sekarang saling menjaga. Meski kerap kali melempar sumpah serapah, begitulah mereka menghangatkan bara yang menerangi keluarga kecil itu. Kita sudah sering menemukan orang-orang yang berteman Karena mempunyai tujuan hidup yang sama. Namun, bukankah persahabatan paling awet biasanya lahir dari mereka yang mempunyai penderitaan dan kesepian yang serupa? Mereka bertiga tahu rasanya dibuang dan tak memiliki siapa-siapa. Itu sebabnya mereka selalu saling menjaga. Meski Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 pada akhirnya nanti mereka akan mati sendiri-sendiri, setidaknya mereka tidak hidup sendirian. Pulung tak pernah menghabiskan sendirian putung rokok yang ia dapatkan di jalan, selalu ia bawa untuk teman-temannya. Jawa selalu menyisihkan uang hasil mengamennya untuk membeli intisari atau Extra Joss buat kedua yang lain. Sedangkan Karyo selalu menyiapkan uang untuk makan malam bersama. Di hidup yang sudah sangat-sangat kekurangan, mereka tak pernah lupa untuk saling berbagi. STS . 3: . Kutipan di atas sangat menggambarkan nilai solidaritas yang sangat kuat antara tokoh Pulung. Karyo dan Jawa. Persahabat yang terjalin antar tokoh tersebut dikarenakan nasib yang sama, yang mana mereka mengalami penderitaan dan kesepian. Rasa solidaritas yang mereka rasakan itu membentuk mereka untuk saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Mereka rela makan satu bungkus nasi untuk bertiga, walau itu tidak cukup dan tidak dapat membuat mereka kenyang tetapi mereka merasa bahagia. Mereka juga rela menyisihkan uang yang mereka dapatkan dari mulung, ngamen, dan menjadi manusia silver, walau tak seberapa tapi mereka bahagia dengan apa yang mereka lakukan karena mereka bisa merasakan apa itu arti keluarga yang mana susah senang mereka rasakan bersama tidak mementingkan diri sendiri. Jawa kebagian mengurus batu nisan dan menghubungi tukang gali kubur. Pulung mengatur prosesi penyalatan jenazah, sementara Karyo memnaggil Danang untuk memimpin salat itu. Warga sempat terkejut dengan keputusan Tomi itu, tapi tidak ada yang berani mengganggu gugat apabila Tomi sudah bertita. Meski keadaan lukanya belum cukup baik. Danang hadir dengan pakaian yang bersih. Ia mengenakan baju koko, lengkap dengan celana hitam dan peci. Di tangannya ada buku yasin. STS 3: . Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 Tomi. Danang, tiga remaja pos ronda, serta teman-teman waria Danang yang sekarang sudah berpakaian seperti lelaki biasa meski makeup masih terpampang nyata di beberapa wajah, bertugas mengangkat keranda Juleha menuju permakaman. Sebelum tanah itu menutupi tubuh Juleha sepenuhnya. Danang sekali lagi melantunkan azan. STS . 3: . Kutipan di atas menggambarkan nilai solidaritas yang kuat antar tokoh. Para tokoh membagi tugas untuk mengurus pemakaman Juleha. Tomi. Danang, tiga remaja pos ronda, dan juga teman-teman waria Danang yang sebelumnya mereka dihujat dan dihina oleh warga tetapi merekalah yang menyipkan segala hal untuk pemakaman Juleha. Juleha yang bekerja sebagai PSK juga sering dihina oleh warga sekampung, jadi yang membantu dan mengurus pemakaman Juleha yaitu orang-orang yang juga sering direndahkan, dihina, hingga di kucilkan oleh warga. Orang-orang yang mereka anggap pendosa tetapi orang-orang itu juga yang datang pertama kali untuk membantu jika ada warga yang sedang membutuhkan, seperti halnya jika ada rumah warga yang kebakaran maka mereka yang dengan sigap membantu. Nilai solidaritas mereka sangat kuat dalam membantu sesama. Nilai Kekeluargaan Menurut Supriyono et al. , . keluarga merupakan benteng kokoh yang dilandasi oleh nilai-nilai sosial. Harmonisasi yang tercipta dalam kehidupan bersama berkat nilai-nilai luhur ini. Kekeluargaan menjadi jembatan untuk menjalin persahabatan yang erat dan memperkuat rasa kekeluargaan. Maknanya tidak hanya sebatas hubungan darah saja, tetapi juga kesadaran moral yang menuntun untuk berperilaku sesuai dengan norma dalam keluarga. Novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna juga mengangkat niali kekeluargaan yang sangat kuat. Novel ini menggambarkan bagaimana perjuangan seseorang demi keluarganya hingga ia rela melakukan apapun demi keluarganya. Penggambaran nilai kekeluargaan dalam novel ini, diantara lain: AuAssalamualaikum. Ay Gofar membuka pintu rumahnya. Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 Hari ini terpaksa pulang saja dulu untuk merawat ibu yang tak bisa beranjak dari tempat tidur karena strok. Gofar memasuki rumahnya yang sempit, yang atapnya bocor di segala sisi, yang ruangruangnya melompong karena perabotnya sudah banyak dijual untuk biaya berobat Ibu. Gofar membuka pelan pintu kamar ibunnya. sana berbaring orang yang paling ia sayang, satu-satunya keluarga yang ia punya. Dengan telaten. Gofar mengurus ibunya. Dari mengganti baju, memandikan, membersihkan kotoran dan menceboki, lalu menyuapi Setidaknya, penyakit ibu tak membuat mulut beliau tidak bisa makan. Masih bisa bertahan. Entah berapa lama. Tergantung izin tuhan. STS . 3: . Kutipan di atas sangat menggabarkan nilai kekeluargaan yang digambarkan oleh tokoh Gofar yang sangat menyayangi ibunya. Gofar tidak pernah mengeluh saat merawat ibunya yang sedang sakit, ia dengan sabar dan ikhlas merawat ibu yang paling dia sayangi, satu-satunya keluarga yang Gofar miliki. AuBang Gofar itu orang baik. Dulu waktu rumah kami mati lampu karena belum bayar listrik, bang Gofar rela bolak-balik dari rumahnya ke rumah kami buat ngurus ibunya sekaligus bikinin kami makanan, masakin kami telur orak-arik. Malamnya, bang Gofar ngedongeng di ruang tamu sambil nunggu bapak pulang. Kalau lagi ada bang Gofar, kami tidak pernah kelaparan. Selalu ada jajanan yang bang Gofar bawa,Ay jelas di anak tengah. STS . 3: . Kutipan di atas menggambarkan nilai kekeluargaan yang di gambarkan oleh tokoh Gofar. Gofar selalu membantu dan menemani tiga bersaudara jika sedang sendirian di rumah, ayah dari tiga bersaudara itu bekerja sebagai badut ayam keliling yang mana pulangnya tidak pasti. Selain menemani, gofar juga sering memberikan uang dan membawa makanan untuk tiga bersaudara itu. Tiga Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 bersaudara itu sangat senang dan sangat beruntung ada Gofar tetangga yang sangat peduli pada mereka, yang rela bolak balik ke rumahnya dan rumah mereka demi menemani mereka yang rumahn ya sedang mati lampu karena belum membayar listrik. Kasih sayang Gofar kepada mereka menunjukkan bahwa nilai kekeluargaan tidak hanya untuk orang yang sedarah, tetapi, nilai kekeluargaan juga bisa untuk siapa saja. Motor yang Gofar curi mala mini terlalu tua untuk dibawa melaju kencang, ditambah lagi beban paket yang menggelantung di belakang membuat motornya hanya tinggal menunggu waktu sebelum orang-orang berhasil menyusul. Berkali-kali Gofar menengok ke belakang, mencoba mencari tahu sudah seberapa dekat mereka. Kali ini kepiawaiannyamenggocek motor tidak bisa dilakukan dengan sempurna lantaran paket-paket yang berat itu membuat motornya mudah limbung. AuJangan mati. Gofar! Jangan mati!Ay Gofar bertahan sekuat tenaga. Au IbuAbesok kita makan opor ayam. BuAKesukaan Ibu. Ay STS . AuTuhan, aku hanya coba mencari uang. Maafkan aku. Kalaupun aku harus masuk neraka nanti, tidak apa. Aku sudah siap. Tapi tolong izinkan Ibu masuk surga. Dan biarkan aku melihat Ibu untuk terakhir kalinya sebelum menghabiskan waktu yang kekal dihujani apiAAy AuDI SINI!Ay Tiba-tiba suara lantang membuat Gofar meloncat. Orangorang berhasil menemukannya. Terlambat bagi Gofar untuk menjalankan motor. Bogem mentah menghajar pelipisnya. Gofar tersungkur. Lalu dalam waktu kurang dari lima detik, seluruh warga memukulinya. Semakin banyak, semakin keras, tidak berhenti. Tidak peduli sudah berapa banyak kata ampun yang Gofar teriakkan. Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 Mulutnya memuntahkan darah. Kakinya dihantam batu besar oleh Gofar menjerit. Pukulan bertubi-tubi terus menghujaninya serupa bayonet. Aku belum sempat pamitan sama Ibu! STS . 3: . Kutipan di atas menggambarkan nilai kekeluargaan yang Gofar lakukan. Gofar terpaksa jadi pencuri untuk mengobatan ibunya. Gofar tahu itu salah dan tidak bisa dibenarkan, tetapi Gofar tidak punya pilihan lain. Uang penggobatan untuk ibunya mahal dan Gofar sudah berusaha mencari pekerjaan yang baik tetapi itu tidak bisa menutup uang pengobatan ibunya. Segala sesuatu akan Gofar lakukan untuk ibunya walau Gofar tahu resiko dari apa yang dilakukan, tapi yang Gofar pikirkan hanya ibunya dapat pengobatan dan ibunya dapat bertahan. Dari sini juga kita dapat mengambil pelajaran untuk tidak main hakim sendiri, jika ada kejahatan yang terjadi seperti pencurian atau sebagainya, jangan main hakim sendiri dengan memukulinya sampai kehilangan nyawa tapi laporkan ke pihak yang berwajib. Karena kita tidak tahu alasan dibaliknya dia melakukan itu dan kita tidak tahu bahwa ada keluarga yang menunggunya. Butuh beberapa jam hingga akhirnya Pak Badut sampai di depan Tiga anak perempuannya masih terjaga, sengaja menunggu. Dengan cepat si bungsu keluar dan memeluk tubuh bapaknya yang masih mengenakan kostum, disusul oleh kedua kakaknya. Tiga gadis itu memeluk erat bapaknya tanpa risi, tak peduli bila harus mencium bau apak Dari sela lubang kecil di topeng badut yang belum sempat dilepas itu. Pak Badut bisa melihat binary tulus mata anak-anak yang menyambutnya. Seketika itu juga. Tuhan seperti melepas segala lelah yang menggelayuti tubuh Pak badut. Dengan telaten. Ratih membantu bapak membuka ritsleting di Sementara Erlin pergi ke dapur dan memasak air hangat untuk bapak mandi. Setelah mandi. Bapak duduk di ruang Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 tengah, membuka bungkus lumpia basah yang sudah anyep. Namun hanya sesuap yang ia makan, sisanya ia berikan kepada anaknya yang masih lapar. Meski lapar. Bapak selalu lebih memilih anaknya kenyang ketimbang perutnya sendiri. STS . 3: . Kutipan di atas menggambarkan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya dan kasih sayang anak kepada ayahnya. Ketiga anak Pak Badut sangat menyayangi ayahnya karena mereka hanya punya ayahnya disaat ibunya pergi dari rumah karena tidak tahan dengan keadaan ekonomi Pak Badut yang serba Ketiga anak Pak Badut selalu menyambut kepulangan Pak Badut dengan wajah berbinar-binar. Ketiga anak pak badut juga tidak pernah malu, rishi, ataupun mengeluh dengan keadaan mereka sekarang. Ina berteriak, membuat Ratih dan Erlin terkejut, lalu berkumpul di tengah Sambal menari. Ina terus mengacungkan botol Pororonyang dibawa Pak Badut. Ia peluk erat botol itu sambal terus berterima kasih pada Ina yang polos tak henti-hentinya mengajak botol itu berbicara, membuat Ratih dan Erlin tersenyum. Mereka tidak pernah merasa iri satu sama lain. Sekarang kedua kakak itu malah ikut menemani ina berbicara dengan botol Pororo-nya. Membuat mata adiknya semakin berbinar AuMaaf. Bapak belum bisa beliin boneka ya,Ay ucap bapak, berjongkok di sebelah Ina. AuGapapa. Pak, ini juga udah bagus banget,Ay Ina menjawab seraya mencium pipi Bapak. STS . 3: . Kutipan di atas menggambarkan keluarga yang penuh dengan rasa kasih sayang yang erat walau penuh dengan kekurangan. Kasih sayang antar saudara yang saling mendukung dan saling menyayangi tanpa adanya rasa iri satu sama Rasa sayang mereka kepada satu sama lain dan kepada sang Ayah yang telah bekerja keras demi mereka, juga dapat membangun rasa empati dan rasa kesederhanaan mereka. Hanya dengan hal yang sederhana mereka sudah merasa bahagia. Mereka tidak pernah menuntut sang Ayah untuk memenuhi Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 keinginan mereka, mereka mengerti bagaimana susahnya dan bagaimana lelahnya sang Ayah dalam mencari uang demi mereka. Nilai Perjuangan Nilai perjuangan merupakan landasan moral dan sumber semangat yang menggerakkan individu dan masyarakat untuk bahu membahu mewujudkan citacita Perjuangan perjuangannya seorang ayah untuk menafkahi anak-anaknya, bagaimana seorang anak melakukan segala hal untuk ibunya, dan juga bagaimana seorang kakak yang berjuang mencari nafkah untuk membiayai saudara-saudaranya yang di Novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna menggambarkan setiap perjuangan tokoh dalam menjalani kehidupan yang keras di kota Jakarta ini. Setiap masing-masing keluargannya atau hanya demi menyambung hidup. Brian Khrisna juga menunjukkan bahwa meskipun menghadapi banyak tantangan, harapan, dan usaha untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Nilai perjuangan dalam novel ini, diantaranya, yaitu: Jika tak kunjung mendapatkan uang, biasanya Pak Badut berjalan menyambangi warung-warung tenda. Jam makan malam adalah saat yang tepat untuk mengais rezeki, berharap Tuhan mengulurkan tangan melalui orang-orang baik. Perut keroncongan belum makan dari siang tak jadi masalah. Namun, tak jarang juga justru perlakuan kasar yang Pak Badut dapatkan dari para pelanggan karena kostum ayamnya yang basah terkena hujan sering menguarkan bau apak. Tiba-tiba, langit memuntahkan hujan lagi. Bagi beberapa orang, hujan adalah Tapi bagi pak Badut, ini berarti nestapa. Jika terkena air, kostum badutnya akan menjadi sangat berat. Lima belas kilometer ditempuh setapak demi setapak bukan hal yang mudah lagi di umur yang kadung senja. Terpaksa. Pak Badut menepi di halte. Karena melewati jalanan becek, sepatu badutnya mulai terasa basah dan dingin. Oh, padahal kutu air lamanya belum sepenuhnya sembuh. STS 3: . Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 Kutipan di atas menggambarkan perjuang Pak Badut dalam mencari rezeki untuk menafkahi ketiga anak perempuannya. Pak Badut rela berjalan berkilokilometer di usia yang sudah tidak muda lagi dengan kostum badutnya hanya untuk mencari rezeki, walau tak seberapa Pak Badut tak pernah mengeluh lelah dengan apa yang ia lakukan. Pak Badut juga tidak peduli tentang tuku kaki yang belum sembuh tapi sudah melewati jalanan becek dengan sepatu badutnya yang sudah basah dan sudah terasa dingin. Ina selalu bangun subuh dan pergi ke warung eceran di ujung kampung. mengambil satu termos es lilin yang berukuran hampir setengah tubuhnya. Lalu dengan cekatan anak itu akan menitipkan es lilin tersebut di warung-warung dan di tukang sayur. Untungnya tidak banyak, hanya 200 rupiah per biji. Sebuah recehan yang kadang dibuang oleh orang-orang berkecukupan. STS . 3: . Kutipan di atas menggambarkan perjuangan yang dilakukan seorang anak untuk membantu meringankan beban ayahnya. Tokoh Ina merupakan anak bungsu dari Pak Badut. Ina merupakan anak kecil yang tangguh, ia bangun pagi untuk mengambil es lilin dari warung dan menjualnya di waarung-warung dan tukang sayur. Ina tidak pernah malu dengan keadaannya, ia mengerti jika sang ayah sudah bekerja keras demi mereka, jadi Ina membantu dengan berjualan es lilin walau upahnya tidak seberapa. Puncaknya, selang beberapa bulan. Juleha sepenuhnya melepaskan profesinya dan memilih berjualan gorengan di pinggir jalan raya. Ia bersebelahan dengan para penjual starling, ayam krispi, dan gerobak kebab. Selain gorengan. Juleha juga menjual rokok ketengan. Apa saja, asal bisa jadi duit. Bahkan di beberapa malam pernah ada pedagang lain yang minta kerokan. Asal ada upahnya. Juleha bersedia melakukannya. Yang penting halal. Pekerjaannya yang sekarang terasa jauh lebih melelahkan dari pada pekerjaannya dulu, betul. Pemasukannya juga berkurang drastis. Tapi ini lebih baik ketimbang harus membaca kata-kata itu lagi dari anaknya. STS. 3: 253-. Kutipan di atas merupakan perjuangan seorang ibu. Juleha berani melepaskan pekerjaannya yang dulu, yaitu sebagai seorang PSK demi anaknya. Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 Juleha ingin keluar dari pekerjaannya yang dulu setelah membaca tulisan dari anaknya, yaitu Ujang. Juleha merasa malu dan merasa kasian jika Ujang di hina teman-temannya Juleha pekerjaan yang halal walau itu lebih melelahkan dari pada pekerjaannya dulu. Juleha berusaha bersabar dengan pekerjaannya yang sekarang yaitu berjualan gorengan dan rokok ketengan walau penghasilannya sangat sedikit. Juleha juga melakukan semua pekerjaan yang menghasilkan uang seperti jika ada orang yang meminta dikeroki olehnya. Juleha akan melakukan segala hal yang penting pekerjaan itu halal. Nilai Balas Budi Nilai balas budi termasuk nilai sosial yang sangat penting dalam kehidupan. Nilai balas budi ini memiliki peran penting dalam membangun dan memelihara hubungan yang harmonis antar individu maupun kelompok dalam masyarakat. Nilai balas budi juga dapat memperkuat rasa saling menghargai, menjaga keseimbangan dan keadilan, dan memperkuat hubungan antar individu dan kelompok dalam masyarakat. Novel Sisi Tergelap Surga juga menggambarkan nilai balas budi, yaitu: Ibu Gofar meninggal, tapi tempt peristirahatan terakhirnya dibuat dengan apik menggunakan batu pualam yang indah. Dari mana uangnya? Dibiayai anak-anak Pak Badut yang dulu sering ia beri makan. Rumah Gofar sudah diperbaiki. Tidak ada lagi bata yang bopeng, tidak ada lagi genting bocor. Apa yang Gofar tanam dulu pada ketiga anak-anak itu, sekarang kembali dalam bentuk yang luar biasa. STS . 3: . Kutipan di atas menggambarkan nilai balas budi yang dilakukan oleh ketiga anak Pak Badut. Ketiga anak Pak Badut membalas kebaikkan yang dilakukan Gofar kepada mereka dengan membuat pemakaman ibu Gofar seindah mungkin, mereka juga merenovasi rumah Gofar. Ketiga anak Pak Badut sangat menyayangi Gofar karena Gofar selalu memberi mereka makanan dan juga selalu menemani mereka, jadi dengan kesuksesan mereka sekarang, mereka ingin membalas Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 semua kebaikkan yang Gobar berikan, walau Gofar tidak pernah meminta untuk mereka membalas semua kebaikkannya. Kutipan di atas juga mengajarkan kita untuk tidak melupakan kebaikkan orang yang telah menolong mereka. Kutipan itu juga mengajarkan arti bahwa jika kita melakukan kebaikkan maka kebaikkan itu akan kembali kepada kita. Simpulan Berdasarkan hasil analisis yang peneliti lakukan pada novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna dapat disimpulkan bahwa Novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna mengandung banyak nilai sosial di dalamnya. Nilai sosial yang terkandung, diantara lain: nilai kekeluargaan, nilai tolong menolong, nilai perjuangan, nilai solidaritas, dan juga nilai balas budi. Novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna mengajarkan berapa penting Nilai sosial dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam hal berperilaku. Novel Sisi Tergelap Surga merupakan novel yang ditulis oleh Brian Khrisna dengan memadukan imajinasinya dan pengalaman yang ia alami. Brian Khrisna juga mewawancari dan mengumpulkan cerita-cerita dari orang-orang jalanan di pinggiran kota Jakarta untuk menjadi sumbernya. Jadi, sebagian besar cerita dalam novel Sisi Tergelap Surga merupakan Cerita dari pengalaman orang. Penelitian ini juga membantu para pembaca untuk memahami nilai-nilai sosial, serta memberikan gambaran mengenai realita sosial dalam bermasyarakat. Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 20-38 Daftar Pustaka