E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2020: 233-248 PENGARUH KARAKTERISTIK LINGKUNGAN TERHADAP MAKROZOOBENTOS DI KAWASAN REBOISASI MANGROVE KEPULAUAN SERIBU. INDONESIA Syahrial1. Rika Anggraini2. Agus Putra Abdul Samad3. Nur Ikhsan4. Dandi Saleky5,La Ode Abdul Fajar Hasidu6 Program Studi Ilmu Kelautan. Universitas Malikussaleh. Aceh. Indonesia Jurusan Ilmu Kelautan. Universitas Maritim Raja Ali Haji. Kepulauan Riau. Indonesia Program Studi Budidaya Perairan. Universitas Samudra. Aceh. Indonesia Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan Wakatobi. Sulawesi Tenggara. Indonesia Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. Universitas Musamus. Papua. Indonesia Program Studi Ilmu Kelautan. Universitas Sembilanbelas November Kolaka. Sulawesi Tenggara. Indonesia E-mail: syahrial. marine@unimal. Received June 2020. Accepted September 2020 ABSTRAK Fauna bentik . telah dianggap sebagai salah satu kriteria untuk menilai keberhasilan program restorasi mangrove. Kajian korelasi karakteristik lingkungan terhadap makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu telah dilakukan pada bulan Maret 2014. Hal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang diakibatkan oleh karakteristik lingkungan . arameter fisika kimia peraira. terhadap kepadatan makrozoobentosnya. Data biota makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan seribu dikumpulkan dengan membuat transek garis dan plot yang ditarik dari titik acuan . egakan mangrove terlua. dan tegak lurus garis pantai sampai ke daratan, dimana pengamatan dilakukan di tiga stasiun . Sebanyak 6 famili dan 6 spesies makrozoobentos telah ditemukan di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu. Komposisi dan kepadatan spesies tertingginya adalah Littoraria scabra. Karakteristik lingkungan yang diukur tidak begitu berbeda antar stasiun serta juga tidak melebihi ambang batas baku mutu. Semakin rendah konsentrasi salinitas dan DO, maka kepadatan makrozoobentosnya semakin tinggi, sedangkan semakin tinggi konsentrasi pH perairan, maka kepadatan makrozoobentosnya semakin Kemudian parameter suhu dengan kepadatan makrozoobentos tidak memiliki pengaruh. Kata Kunci : Pengaruh. Karakteristik Lingkungan. Makrozoobentos. Mangrove. Reboisasi. Kepulauan Seribu DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2020: 233-248 ABSTRACT THE EFFECT OF ENVIRONMENTAL CHARACTERISTICS OF MAKROZOOBENTOS IN MANGROVE REFORESTATION AREA OF SERIBU ISLANDS. INDONESIA. Benthic fauna . has been considered as one of the criteria for assessing the success of a mangrove restoration program. A correlation study of environmental characteristics of macrozoobenthos in the Seribu Islands mangrove reforestation area was carried out in March 2014. It aims to determine the effect caused by environmental characteristics . ater physical-chemical parameter. on its macrozoobenthos density. Data of macrozoobenthos biota in the Seribu Islands mangrove reforestation area were collected by making line transects and plots drawn from the reference point . utermost mangrove stand. and perpendicular to the coastline to the mainland, where observations were made at three stations . Six families and six macrozoobenthos species have been found in the Seribu Islands mangrove reforestation area. The composition and density of the highest species were Littoraria scabra. The measured environmental characteristics were not very different between stations and also did not exceed the quality standard threshold. The lower the salinity and DO concentration, the higher the density of macrozoobenthos, while the higher the concentration of water pH, the lower the density of macrozoobenthos. Then the temperature parameters with macrozoobenthos density had no Keywords : Influence. Environmental Characteristics. Macrozoobenthos. Mangrove. Reforestation. Seribu Islands PENDAHULUAN FAO . menyatakan bahwa kerusakan mangrove bukanlah masalah baru dan sudah mulai terjadi dari 0. 7% hingga 2. pertahunnya, kemudian Mayaux et al. , . menyatakan bahwa kehilangan hutan mangrove global selama periode 1980 Ae 2005 diperkirakan > 3 juta ha10 dan tingkat degradasinya mencapai 1% per tahun dari 1990 Ae 2000 . ua kali lipat dari hutan hujan terestria. Selanjutnya Wolanski et al. , . menyatakan bahwa selama 20 tahun terakhir, beberapa negara Asia telah mengalami kerusakan mangrove 50 Ae 80%. Hal ini akibat dari konversi mangrove menjadi lahan pertanian (Giri et al. , 2. , kemudian juga disebabkan oleh akuakultur/budidaya dan penggunaan lahan perkotaan (Friess dan Webb, 2. , urbanisasi maupun industrialisasi (Bosire et al. , 2. Sementara aktivitas alami yang juga sebagai penggerak rusaknya hutan mangrove adalah suksesi hutan, dinamika hidrologi serta cuaca ekstrim, baik itu disebabkan oleh angin topan maupun kenaikan permukaan air laut (Alongi, 2008. Suzuki et , 2. Aboudha dan Kairo . menyatakan bahwa kehilangan/kerusakan mangrove yang terus berlanjut akan menyebabkan penurunan sektor DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2020: 233-248 perikanan maupun barang dan jasa lainnya, kemudian Donato et al. menambahkan bahwa deforestasi mangrove dapat menyumbang sekitar 10% dari emisi global. Sementara Siikamaki et al. , . menyatakan bahwa deforestasi akan mengurangi penyimpanan biomassa karbon maupun keanekaragaman hayati mangrove, sehingga akan berdampak terhadap kepunahan 16% spesies mangrove global (Polidoro et al. , 2. Selain itu, berkurangnya kawasan mangrove di wilayah pesisir juga akan membuat warga sekitarnya menderita saat terjadi air pasang karena banjir (Zainuri et al. , 2. dan akan menambah tingkat kematian per desa yang berada pada jarak 10 km dari pantai jikalau mangrovenya telah tiada (Das dan Vincent, 2. Chong . menyatakan bahwa hutan mangrove berfungsi sebagai tempat penghasil spesies nekton yang komersial. nutrien (Alongi, 2. penyedia bahan bakar, makanan maupun bahan bangunan (Bandaranayake, 1. melindungi dari badai (Sheng dan Zou, penyimpan karbon (Donato et al. , 2011. Kelleway et al. , 2016, Yando et al. , 2. perangkap sedimen (Kamal et al. , 2. layanan untuk perikanan (Benzeev et al. , 2017. Goecke dan Carstenn, 2. hingga bermanfaat bagi pertumbuhan lamun dan terumbu karang sekitarnya (Gillis et al. , 2. Mengingat ancaman terhadap kelangsungan hidup mangrove yang terus menerus terjadi, sedangkan peran mangrove juga begitu produktif di wilayah pesisir, maka menjadi alasan yang kuat untuk memulihkannya kembali (Pagliosa et al. , 2. Menurut Field . restorasi mangrove telah dilakukan di seluruh dunia, dengan tujuan untuk memulihkan struktur ekologi dan fungsi hutan mangrovenya (Field, 1999. Barbier, 2. dan kajian-kajian yang berkaitan dengan rehabilitasi mangrove juga telah banyak dilakukan (Elliott et al. , 2016. Kodikara et al. , 2. Begitu juga dengan kajian biota asosiasinya (Macintosh et al. , 2002. Ellison, 2008. Salmo et al. , 2. , sehingga diperoleh suatu kesimpulan bahwa komunitas biota asosiasi atau makrozoobentos dapat digunakan sebagai bioindikator dalam mengukur keberhasilan program rehabilitasi mangrove (Macintosh et al. , 2002. Bosire et al. , 2008. Ellison, 2008. Pagliosa et al. Namun, informasi tentang pengaruh karakteristik lingkungan terhadap fauna makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove di Kepulauan Seribu masih sangat terbatas, sehingga diperlukan suatu kajian tentang hal tersebut dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh yang diakibatkan oleh karakteristik lingkungan . arameter fisika kimia peraira. terhadap kepadatan makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu. MATERI DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Kajian dilaksanakan pada bulan Maret 2014 di kawasan reboisasi mangrove Kabupaten Kepulauan Seribu Provinsi Daerah Khusus Ibukota DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2020: 233-248 (DKI) Jakarta. Stasiun 1 berada di Pulau Pramuka. Stasiun 2 di Pulau Panggang dan Stasiun 3 di Pulau Karya (Gambar . Gambar 1. Peta lokasi penelitian Pengumpulan Data Karakteristik Lingkungan Pengukuran karakteristik lingkungan dilakukan dengan cara in-situ yaitu mengambil contoh air pada masing-masing stasiun pengamatan, dimana parameter karakteristik lingkungan yang diukur meliputi suhu perairan, pH dan salinitas dengan menggunakan water quality meter. Sementara parameter oksigen terlarut (DO) menggunakan data sekunder. Pengumpulan Data Makrozoobentos Data makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan seribu dikumpulkan dengan membuat transek garis dan plot yang ditarik dari titik acuan . egakan mangrove terlua. dan tegak lurus garis pantai sampai ke daratan, kemudian transek garis tersebut dibuat petak-petak contoh . dengan ukuran 10 x 10 m dan di dalam ukuran 10 x 10 m tersebut dibuat plot-plot kecil . ub plo. yang berukuran 1 x 1 m (Ernanto et al. , 2. sebanyak 5 plot, sehingga jumlah sub plot keseluruhannya DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2020: 233-248 Analisis Kepadatan Makrozoobentos Analisis kepadatan makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu dilakukan berdasarkan Odum . Southwood . Brower dan Zar . serta Krebs . Analisis Pengaruh Makrozoobentos Karakteristik Lingkungan Terhadap Untuk mengevaluasi pengaruh karakteristik lingkungan terhadap makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu dilakukan menggunakan analisis regresi linier sederhana (Hasby et al. Mushthofa et al. , 2014. Pamuji et al. , 2015. Wahyuningrum et al. Mustofa, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Distribusi dan Komposisi Makrozoobentos Sebanyak 6 famili yang terdiri dari 6 spesies makrozoobentos berhasil diidentifikasi dari tiga stasiun pengamatan, dimana secara keseluruhannya, makrozoobentos yang dominan dijumpai di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu adalah gastropoda Littoraria scabra, brachyura Cardisoma carnifex dan bivalva Saccostrea cucullata (Tabel . Selain itu, gastropoda Atilia (Columbell. scripta dijumpai di Stasiun 2 dan 3, sedangkan brachyura Metopograpsus latifrons hanya ditemukan pada Stasiun 2. Begitu juga dengan gastropoda Nerita albicilla yang hanya dijumpai pada Stasiun 3. Hal ini mengindikasi bahwa brachyura M. latifrons dan gastropoda N. albicilla memiliki toleransi yang sangat sempit di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu. Tabel 1. Distribusi makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu Stasiun Plot Jenis Makrozoobentos Menurut Sasekumar Wells . makroinvertebrata yang biasanya mendominasi di daerah intertidal, baik DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2020: 233-248 itu dalam jumlah maupun biomassanya adalah kepiting brachyura dan Selanjutnya Ellison . menyatakan bahwa kekayaan spesies kepiting brachyura dan gastropoda sangat paralel dengan kekayaan spesies mangrove dan kawasan hutannya, sehingga telah terbukti menjadi faktor kunci penjagaan fungsi dan layanan ekosistem mangrove (Cannicci et al. , 2008. Lee, 2. Mujiono . menyatakan bahwa gastropoda yang dominan terdapat pada ekosistem mangrove terdiri dari Famili Littorinidae . isalnya L. Potamididae . isalnya Terebralia palustris. Telescopium telescopiu. Muricidae. Onchinidae. Cerithiidae dan Ellobiidae. Selain itu. Macnae . menambahkan bahwa komposisi spesies gastropoda juga tergantung pada posisi mangrove dalam hubungannya dengan pantai laut, misalnya di vegetasi mangrove zona daratan, gastropoda yang paling umum dijumpai adalah famili Ellobiidae. Assimineidae dan Neritidae, sementara hutan mangrove di pinggir laut, gastropoda yang sering dijumpai adalah famili Potamididae. Chen et al. , . menambahkan bahwa gastropoda dari keluarga Neritidae dan Ellobiidae lebih melimpah di hutan mangrove dewasa bila dibandingkan dengan hutan mangrove yang lebih muda . Untuk komposisi makrozoobentos yang ditemukan di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu, ditemukan bervariasi (Tabel . Hal ini diduga karena karakteristik lingkungannya yang berbeda-beda. Gastropoda L. scabra merupakan makrozoobentos yang tertinggi komposisinya . 23%), kemudian diikuti oleh brachyura C. 07%), bivalva S. 04%), gastropoda A. dan N. 20%). Chen et al. , . menyatakan bahwa spesies dari famili Littoriinidae. Assimineidae dan Potamidae lebih representatif di hutan mangrove muda yang direhabilitasi. Selanjutnya Zvonareva et al. menyatakan bahwa komposisi spesies, keanekaragaman, biomassa serta kelimpahan invertebrata dapat mencerminkan status ekosistem mangrove dan dapat digunakan sebagai indikator perubahan, baik itu pada hutan mangrove alami maupun yang baru ditanam . , kemudian Macintosh et al. , . menyatakan bahwa perbandingan fauna invertebrata dari berbagai jenis tegakan mangrove mengungkapkan bahwa keragaman vegetasi mangrove berkorelasi positif terhadap keragaman fauna yang terkait, dimana dalam indeks tegakan mangrove yang dewasa terdapat keanekaragaman fauna invertebrata yang lebih tinggi, sedangkan tegakan mangrove yang baru ditanam . asil reboisas. terdapat kelimpahan dan biomassa fauna invertebrata yang lebih rendah. Tabel 2. Komposisi makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu Jenis Gastropoda 1 Atilia (Columbell. Genus Famili Komposisi (%) Atilia (Columbell. Buccinidae DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2020: 233-248 Littoraria Nerita Littorinidae Neritidae Komposisi (%) Cardisoma Gecarcinidae Metopograpsus Grapsidae Saccostrea Ostreidae Jenis 2 Littoraria scabra 3 Nerita albicilla Brachyura 4 Cardisoma 5 Metopograpsus Bivalva 6 Saccostrea Genus Famili Kepadatan Makrozoobentos Kepadatan makrozoobentos tiap stasiun di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu tidak jauh berbeda (Tabel . Secara keseluruhan, kepadatan tertingginya adalah gastropoda L. scabra, baik itu di Stasiun 1, 2 maupun 3. Reid . menyatakan bahwa sekelompok siput Littorinidae di pantai tropis secara khas ditemukan di pohon mangrove, dimana siput tersebut adalah Littorina scabra (Linn. dan L. angulifera (Lamarc. yang berasal dari Indo-Pasifik dan Atlantik. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Alfaro . dan Mujiono . yaitu salah satu gastropoda yang dominan terdapat pada ekosistem mangrove adalah famili Littorinidae yakni L. scabra, kemudian di dalam tutupan mangrove, biasanya siput famili Littorinidae ditemukan di akar, batang maupun di dedaunan mangrove (Reid, 1985. Alvarez-Leon dan GarciaHansen, 2. Karakteristik Lingkungan Karakteristik lingkungan yang diukur di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu tidak begitu berbeda antar stasiunnya (Tabel . Hal ini karena letak geografis pulau . tasiun pengamata. yang tidak terlalu jauh Selain itu. Tabel 4 juga memperlihatkan bahwa parameterparameter yang diukur tidak melebihi ambang batas baku mutu untuk biota laut, sehingga baik itu mangrove maupun makrozoobentosnya dapat mentolerir untuk tumbuh dan berkembang. Nobi et al. , . menyatakan bahwa kualitas air dan sedimen sangat penting untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan keanekaragaman hayati, terutama di daerah pesisir dan muara. Hal ini karena lingkungan intertidal mangrove merupakan lingkungan yang dinamis, baik itu secara fisik maupun geologis (Alongi, 2. , sehingga ekosistem mangrove menjadi rentan terhadap pengaruh lingkungan (Ghosh, 2. DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2020: 233-248 Tabel 3. Kepadatan makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu Stasiun Lokasi (Pula. Pramuka Panggang Karya Jenis Makrozoobentos Littoraria scabra Saccostrea cucullata Cardisoma carnifex Rata-Rata Littoraria scabra Atilia (Columbell. scripta Cardisoma carnifex Saccostrea cucullata Metopograpsus latifrons Rata-Rata Littoraria scabra Cardisoma carnifex Atilia (Columbell. scripta Saccostrea cucullata Nerita albicilla Rata-Rata Kepadatan . nd/m. Tabel 4. Karakteristik lingkungan di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu Kualitas Air Suhu (AC) Salinitas (A) Baku mutu 28 Ae 32 s/d 34 7 Ae 8. *Data sekunder. aMNLH . bFaiqoh et al. , . cRiani et al. , . Stasiun Saintilan et al. , . menyatakan bahwa suhu merupakan faktor pembatas utama bagi mangrove yang menempati kisaran garis lintang, dimana suhu memberikan penjelasan secara korelatif terhadap penyebaran mangrove (Osland et al. , 2. Selanjutnya Nguyen et al. menyatakan bahwa salinitas adalah salah satu ciri lingkungan yang mendefinisikan habitat mangrove, apakah berkisar antara air tawar ataupun hypersaline. Sementara Rukminasari et al. , . menyatakan bahwa pH air laut permukaan Indonesia pada umumnya berkisar antara 6 Ae 8. Pengaruh Karakteristik Lingkungan Terhadap Makrozoobentos Gambar 2 memperlihatkan bahwa semakin rendah konsentrasi salinitas dan DO, maka kepadatan makrozoobentos di kawasan reboisasi DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2020: 233-248 mangrove Kepulauan seribu semakin tinggi, kemudian untuk parameter pH memperlihatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi pH, maka kepadatan makrozoobentosnya akan semakin menurun. Menurut Rukminasari et al. , . berubahnya nilai pH akan menimbulkan perubahan dan ketidakseimbangan kadar CO2 dan dapat membahayakan kehidupan biota laut. Selanjutnya. Hamzah dan Setiawan . menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi rendahnya nilai pH di suatu kawasan adalah proses reaksi reduksi dan oksidasi yang terjadi pada sedimen, dimana organisme pengurai melepaskan asam saat melakukan akumulasi dekomposisi bahan organik (Gopinath et al. , 2. kemudian Supriyantini et al. , . menyatakan bahwa rendahnya konsentrasi oksigen terlarut (DO) disebabkan karena adanya proses oksidasi yang menggunakan sejumlah besar oksigen yang menghasilkan nitrogen ammonia (NAeNH. Gambar 2. Pengaruh karakteristik lingkungan terhadap makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu Selain itu. Gambar 2 juga memperlihatkan bahwa koefisien determinasi yang diperoleh dari korelasi karakteristik lingkungan dengan kepadatan makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu sangat bervariasi. Hal ini terlihat dari nilai koefisien korelasi antara kepadatan makrozoobentos dengan suhu sebesar 0. 000, kepadatan makrozoobentos dengan pH sebesar 0. 767, kepadatan makrozoobentos dengan salinitas sebesar 0. 940 dan kepadatan makrozoobentos dengan DO sebesar 0. 742, sehingga pengaruh karakteristik lingkungan dengan DOI: https://doi. org/10. 31186/jenggano. E-ISSN: 2527-5186. P-ISSN: 2615-5958 Jurnal Enggano Vol. No. September 2020: 233-248 kepadatan makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu mengindikasikan tingginya kepadatan makrozoobentos dapat dijelaskan oleh faktor suhu sebesar 00. 00%, pH 58. 90%, salinitas 88. serta DO 55. 00% dan sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor lain . uhu 100%, pH 41. 10%, salinitas 11. 70% dan DO 45. 00%). KESIMPULAN Kajian ini mengindentifikasi 6 famili dan 6 spesies makrozoobentos di kawasan reboisasi mangrove Kepulauan Seribu. Komposisi dan kepadatan spesies tertingginya adalah L. scabra, kemudian karakteristik lingkungan yang diukur tidak begitu berbeda antar stasiun dan juga tidak melebihi ambang batas baku mutu. Selanjutnya pengaruh karakteristik lingkungan terhadap makrozoobentos memperlihatkan semakin rendah konsentrasi salinitas dan DO, maka kepadatan makrozoobentosnya semakin tinggi, sedangkan pengaruh pH kebalikannya yaitu semakin tinggi konsentrasi pH perairan, maka kepadatan makrozoobentosnya semakin menurun, kemudian parameter suhu dengan kepadatan makrozoobentos tidak memiliki pengaruh antara keduanya. UCAPAN TERIMA KASIH