Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat p-ISSN: 2797-9407, e-ISSN: 2797-9423 Volume 5, nomor 4, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/bajpm. Pengaruh Program VIKSI (Video Edukasi Pencegahan Pernikahan Din. terhadap Pengetahuan Remaja Desa Embalut di SMK Negeri 1 Tenggarong Seberang Putri Fauziah Wulandari*. Achmad Sabrani Fahmi. Ribka Adelina Sinaga. Yunda Yuardani. Fazira Shinaia Ramadhantya. Eggi Monica Sihombing. Masithah Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Mulawarman. Samarinda. Indonesia *Coresponding Author: putriifauzziah@gmail. Dikirim: 13-08-2025. Direvisi: 30-09-2025. Diterima: 02-10-2025 Abstrak: Program VIKSI (Video Edukasi Pencegahan Pernikahan Din. merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan pemahaman remaja mengenai bahaya dan risiko menikah di usia muda. Kegiatan ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Tenggarong Seberang dengan melibatkan 89 siswa kelas X, melalui tahapan persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Media utama yang digunakan adalah video edukasi hasil kolaborasi dengan remaja Desa Embalut, berisi materi mengenai definisi, faktor penyebab, serta dampak kesehatan, sosial, dan ekonomi dari pernikahan dini. Rangkaian intervensi dimulai dengan pelaksanaan pre-test, dilanjutkan pemutaran video disertai penyuluhan singkat, dan diakhiri post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan peserta. Hasil analisis menunjukkan adanya kenaikan rata-rata skor dari 76,85 menjadi 86,18, dengan uji Wilcoxon menghasilkan nilai p=0,000 yang menunjukkan perbedaan signifikan. Peserta menanggapi kegiatan ini dengan antusias melalui diskusi interaktif dan refleksi kritis. Program ini terbukti efektif dalam menyampaikan pesan pencegahan pernikahan dini serta menghasilkan media edukasi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam kampanye di masyarakat. Kata Kunci: Pencegahan Pernikahan Dini. Edukasi Remaja. Media Audio-Visual. Desa Embalut. Intervensi Sekolah Abstract: The VIKSI Program (Educational Video on Early Marriage Preventio. is a community service initiative designed to enhance adolescentsAo understanding of the dangers and risks associated with marrying at a young age. This activity was implemented at SMK Negeri 1 Tenggarong Seberang, engaging 89 tenth-grade students through preparation, implementation, and evaluation phases. The primary medium was an educational video coproduced with youths from Embalut Village, featuring content on the definition, contributing factors, and health, social, and economic consequences of early marriage. The intervention began with a pre-test, followed by the video screening accompanied by a brief counseling session, and concluded with a post-test to assess knowledge gains. Findings revealed an increase in the average score from 76. 85 to 86. 18, with the Wilcoxon test yielding p=0. indicating a statistically significant improvement. Participants showed strong engagement through interactive discussions and critical reflections. The program proved effective in delivering early marriage prevention messages and produced educational media that can be sustainably utilized for ongoing community campaigns. Keywords: Early Marriage Prevention. Youth Education. Audio-Visual Media. Embalut Village. School-Based Intervention @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wulandari dkk. Pengaruh Program VIKSI (Video Edukasi Pencegahan Pernikahan Din. A PENDAHULUAN Pernikahan dini merupakan kondisi ketika seseorang melangsungkan perkawinan sebelum mencapai usia dewasa secara hukum maupun biologis, yaitu di bawah 18 tahun. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 di Indonesia, usia minimal untuk melangsungkan pernikahan adalah 19 tahun bagi lakilaki maupun perempuan. Meskipun demikian, praktik pernikahan pada usia yang lebih muda masih sering terjadi, terutama di wilayah pedesaan (Judiasih et al. , 2. Fenomena tersebut dipengaruhi oleh kuatnya pengaruh budaya, adat istiadat, dan norma sosial yang memandang pernikahan sebagai solusi atas berbagai permasalahan, termasuk sebagai upaya pencegahan pergaulan bebas serta penjagaan kehormatan keluarga (Sukri et al. , 2024. Manuputty et al. , 2. Meskipun secara hukum dianggap belum matang, sebagian besar masyarakat masih mempercayai bahwa usia biologis seperti menstruasi pertama pada anak perempuan sudah menjadi indikator kesiapan untuk menikah. Hal ini tentu saja bertentangan dengan prinsip kesehatan dan perkembangan psikologis anak, karena pada usia tersebut mereka belum siap secara emosional, sosial, maupun fisik untuk menghadapi kehidupan pernikahan yang kompleks dan penuh tanggung jawab (Anwar et al. , 2. Pernikahan dini disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, baik dari dalam diri individu maupun dari lingkungan sekitarnya. Salah satu penyebab utama adalah rendahnya tingkat pendidikan, baik pendidikan anak maupun orang tuanya (Hardianti & Nurwati, 2020. Tampubolon, 2. Anak-anak yang tidak memiliki akses pendidikan yang memadai cenderung memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai kesehatan reproduksi, perencanaan hidup, dan hak-haknya sebagai Selain itu, orang tua yang juga memiliki tingkat pendidikan rendah sering kali tidak memahami risiko dari pernikahan usia dini dan cenderung mendorong anak untuk menikah lebih cepat demi menghindari hal-hal yang dianggap memalukan atau menyimpang dari norma (Lubis & Nurwati, 2020. Tampubolon, 2. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya pernikahan usia dini pada remaja antara lain meliputi karakteristik orang tua, remaja, lingkungan, dan budaya (Tampubolon, 2021. Kurniawati & SaAoadah, 2. Dari sisi orang tua, kekhawatiran akan timbulnya aib misalnya ketika anak perempuan menjalin hubungan yang sangat dekat dengan seorang pria dapat mendorong mereka untuk segera menikahkan anaknya. Dari sisi remaja, keputusan menikah seringkali dilandasi pemikiran emosional, seperti keyakinan bahwa rasa cinta dan kesiapan yang dirasakan sudah cukup untuk membangun rumah tangga. Faktor lingkungan dan pergaulan juga turut berperan, misalnya ketika kehamilan terjadi selama masa pacaran. Selain itu, nilai budaya tertentu memandang keterlambatan menikah pada anak perempuan sebagai suatu aib bagi keluarga. Seluruh faktor tersebut saling berhubungan dan pada akhirnya memicu terjadinya pernikahan dini pada remaja (Puspasari & Pawitaningtyas, 2020. Yanti et al. , 2018. Kurniawati & Sari, 2. Faktor ekonomi juga memegang peranan penting. Banyak keluarga dari latar belakang ekonomi rendah menikahkan anaknya di usia muda karena berharap beban ekonomi keluarga berkurang. Dalam banyak kasus, anak perempuan dianggap sebagai beban, dan dengan menikahkannya, orang tua tidak lagi bertanggung jawab atas kehidupan anak tersebut. Selain itu, kehamilan di luar nikah . arried by acciden. sering menjadi alasan utama yang memaksa pernikahan dilakukan segera, demi menjaga kehormatan keluarga (Sari & Desiningrum, 2017. Fadilah, 2. Faktor @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wulandari dkk. Pengaruh Program VIKSI (Video Edukasi Pencegahan Pernikahan Din. A budaya dan tekanan lingkungan sekitar juga memperkuat praktik pernikahan dini, di mana adat tertentu justru mendorong atau menganggap wajar pernikahan usia muda sebagai bentuk transisi menuju kedewasaan. Pernikahan dini memiliki dampak serius terhadap kesehatan reproduksi, terutama bagi remaja perempuan. Tubuh yang belum matang secara biologis menyebabkan mereka berisiko tinggi mengalami komplikasi saat kehamilan dan Menurut penelitian, remaja perempuan usia 15Ae19 tahun memiliki dua kali lipat risiko meninggal saat melahirkan dibandingkan perempuan berusia 20Ae25 tahun. Risiko tersebut meningkat drastis bagi anak perempuan yang hamil di bawah usia 15 tahun (Tampubolon, 2. Selain risiko kematian, pernikahan dini juga meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran, persalinan prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah, dan gangguan kesehatan reproduksi lainnya seperti kanker serviks dan infeksi saluran reproduksi (Sekarayu & Nurwati, 2021. Indriani et al. Kirani et al. , 2. Pernikahan pada usia muda dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan Pada negara-negara berkembang, masalah kesehatan yang muncul selama kehamilan maupun persalinan menjadi salah satu faktor utama penyebab kematian pada remaja perempuan berusia 15Ae19 tahun. Setiap tahun, terdapat sekitar 16 juta kelahiran dari kelompok usia ini, dan diperkirakan 9 dari 10 di antaranya telah terikat Dari jumlah tersebut, sekitar 50 ribu jiwa kehilangan nyawa. Dibandingkan dengan kehamilan pada usia 20 tahun ke atas, kehamilan dari ibu di bawah 20 tahun memiliki risiko kematian ibu dan bayi baru lahir sekitar 1,5 kali lebih Kondisi ini juga membuat mereka lebih mudah mengalami gangguan kesehatan seperti anemia, preeklamsia, dan keguguran. Selain itu, peluang terjadinya perdarahan hebat dan persalinan lama meningkat, sementara pada periode nifas, risiko terkena infeksi postpartum maupun perdarahan pasca melahirkan juga jauh lebih besar (Maya et al. , 2. Di Indonesia, praktik pernikahan usia dini telah berlangsung sejak lama dan dianggap wajar oleh masyarakat pada masa lalu. Dalam pandangan tradisional, terdapat stigma negatif terhadap perempuan yang menikah pada usia yang lebih Saat ini, angka prevalensi pernikahan dini di Indonesia mencapai 16,36 Dari total tersebut, sebanyak 46,61 persen perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun tidak menyelesaikan pendidikan dasar sembilan tahun, sementara 52,35 persen lainnya tidak memiliki kepemilikan kartu asuransi kesehatan (Rahayu & Wahyuni, 2. Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2020 mencatat bahwa di Indonesia terdapat sekitar 50. 000 anak perempuan yang menikah sebelum mencapai usia 15 tahun. Temuan ini menunjukkan masih tingginya angka pernikahan pada usia yang sangat muda di Indonesia. Secara keseluruhan, jumlah pengantin anak di Indonesia mencapai kurang lebih 23 juta orang, atau setara dengan 27% dari total anak di tanah air. Khusus di Kalimantan Timur, angka pernikahan usia dini terus menunjukkan tren kenaikan. Berdasarkan catatan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, pada tahun yang sama tercatat 13,9% atau sekitar 953 kasus pernikahan melibatkan anak di bawah umur. Berdasarkan laporan KUA Tenggarong Seberang . Pada Kabupaten Kutai Kartanegara mencatat jumlah pernikahan usia dini tertinggi dengan total 268 kasus, diikuti oleh Kota Samarinda sebanyak 194 kasus, dan Kota Balikpapan dengan 179 @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wulandari dkk. Pengaruh Program VIKSI (Video Edukasi Pencegahan Pernikahan Din. A Pada wilayah kerja Puskesmas Teluk Dalam, persentase pernikahan dini mencapai 64%, setara dengan 171 kasus. Di samping aspek fisik, dampak psikologis pernikahan dini juga sangat Banyak anak yang dipaksa menikah belum memiliki kesiapan mental untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh tanggung jawab, sehingga rentan mengalami stres berat, depresi, bahkan kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini juga berdampak buruk terhadap anak-anak yang lahir dari pernikahan tersebut, karena mereka tumbuh dalam keluarga yang tidak stabil secara emosional maupun ekonomi. Tidak sedikit kasus pernikahan dini yang berujung pada perceraian dalam usia muda, menyebabkan anak terlantar dan hubungan kekeluargaan menjadi renggang atau bahkan putus sekolah. Pasca menikah, terjadi perubahan dalam hubungan sosial individu dengan lingkungan sekitarnya. Sebagian orang mungkin merasa malu atau memilih menarik diri dari pergaulan dengan teman-temannya, sementara yang lain merasa kurang nyaman atau canggung ketika harus mengurus anak saat berada dalam lingkungan pertemanan (Widyadhara & Putri, 2. Oleh karena itu, edukasi mengenai bahaya pernikahan dini sangat penting, tidak hanya bagi remaja tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat luas. METODE PELAKSANAAN KEGIATAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Desa Embalut. Kecamatan Tenggarong Seberang. Kabupaten Kutai Kartanegara. Provinsi Kalimantan Timur. Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama dua minggu, dimulai dari tanggal 2 hingga 16 Juli 2025. Rangkaian kegiatan diawali dengan proses penjaringan talent untuk video edukasi sebanyak 8 orang pada tanggal 2Ae4 Juli 2025. Selanjutnya, proses pengambilan gambar . ake vide. dilaksanakan pada tanggal 5Ae6 Juli 2025. Proses penyuntingan . dilakukan pada tanggal 7Ae15 Juli 2025. Kegiatan inti pengabdian masyarakat berupa pemutaran video edukatif kepada peserta didik kelas X SMK Negeri 1 Tenggarong Seberang dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 2025, pukul 12. 00Ae13. 00 WITA. Kegiatan ini memfokuskan sasaran kepada seluruh siswa kelas X dari SMK Negeri 1 Tenggarong Seberang, dengan total kehadiran sebanyak 89 siswa. Hanya siswa yang hadir pada saat kegiatan berlangsung yang akan berpartisipasi sepenuhnya. Kegiatan ini terdiri dari tiga tahap utama, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Tahapan ini mencakup penyusunan dan perencanaan teknis kegiatan. Edukasi tentang pencegahan pernikahan dini kepada remaja dikemas dalam bentuk media audio-visual . ideo edukati. guna meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa secara interaktif. Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini antara lain seleksi dan perekrutan talent sebagai pemeran dalam video edukatif, pelaksanaan briefing dan koordinasi teknis dengan talent terkait alur cerita, naskah, dan jadwal pengambilan gambar, pengambilan gambar . ake vide. dan proses penyuntingan video, pengurusan perizinan kepada pihak sekolah, termasuk penjadwalan, konfirmasi sarana prasarana, serta komunikasi teknis pelaksanaan kegiatan. Tahapan ini merupakan pelaksanaan langsung kegiatan pengabdian, yang diawali dengan sesi pembukaan berupa perkenalan tim pelaksana dan penyampaian maksud serta tujuan kegiatan. Sebelum pemutaran video, dilakukan pengisian pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta mengenai isu pernikahan dini. Setelah itu, @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wulandari dkk. Pengaruh Program VIKSI (Video Edukasi Pencegahan Pernikahan Din. A video edukatif ditayangkan, diikuti dengan diskusi interaktif dan sesi tanya jawab. Materi yang disampaikan dalam video mencakup pengertian, faktor risiko, dan dampak negatif dari pernikahan dini, khususnya yang terjadi tanpa persiapan yang Evaluasi kegiatan dilakukan dengan pengisian post-test oleh seluruh peserta yang mengikuti sesi penyuluhan. Post-test ini berbentuk kuesioner untuk menilai peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Hasil evaluasi ini menjadi indikator efektivitas media edukatif dalam menyampaikan pesan pencegahan pernikahan dini kepada remaja. IMPLEMENTASI KEGIATAN DAN PEMBAHASAN Program VIKSI (Video Edukasi Pencegahan Pernikahan Din. dilaksanakan di Desa Embalut. Kecamatan Tenggarong Seberang. Kabupaten Kutai Kartanegara. Provinsi Kalimantan Timur, selama dua minggu dari tanggal 2 hingga 16 Juli 2025. Sasaran dari kegiatan ini adalah 89 siswa dari kelas X di SMK Negeri 1 Tenggarong Seberang. Tujuan dari program ini adalah untuk menyampaikan edukasi mengenai pencegahan pernikahan dini melalui media audio-visual yang menarik, relevan, dan mudah dipahami oleh para remaja. Proses pelaksanaan mengikuti langkah-langkah yang telah ditetapkan di dalam metode, mencakup tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi, yang dilaksanakan secara sistematis untuk memastikan tujuan program dapat tercapai. Pada tahap persiapan, aktivitas dimulai dengan pemilihan delapan orang talent remaja dari Desa Embalut antara tanggal 2 hingga 4 Juli 2025 untuk berpartisipasi dalam video edukasi. Tim pelaksana menyiapkan naskah, memilih lokasi pengambilan gambar yang relevan dengan kehidupan remaja, serta memberikan briefing kepada talent mengenai alur cerita dan pesan yang ingin disampaikan. Pengambilan gambar dilakukan pada tanggal 5 hingga 6 Juli 2025, diikuti dengan proses penyuntingan yang berlangsung dari 7 hingga 15 Juli 2025 yang meliputi pengaturan urutan adegan, penambahan teks, ilustrasi, dan musik latar agar pesan edukasi lebih menarik. Pada tahap ini, tim juga mengurus izin kepada pihak sekolah, menyusun jadwal pelaksanaan, dan memastikan bahwa semua fasilitas dan perlengkapan yang dibutuhkan telah tersedia. Tahap pelaksanaan berlangsung pada 16 Juli 2025 dari 00 hingga 13. 00 WITA di SMK Negeri 1 Tenggarong Seberang. Acara dibuka dengan sambutan dan perkenalan tim pelaksana, kemudian dilanjutkan dengan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal siswa tentang pernikahan dini. Selanjutnya, pemutaran video edukasi dengan durasi sekitar 10 menit, lalu menyajikan informasi mengenai definisi, faktor risiko, dan dampak negatif pernikahan dini dari perspektif kesehatan, sosial, dan ekonomi. Setelah pemutaran video, tim menyampaikan penyuluhan singkat yang merangkum poin-poin utama materi, dilanjutkan dengan diskusi interaktif dan sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk memperjelas pemahaman serta berbagi pendapat. Tahap evaluasi dilakukan dengan pengisian post-test oleh semua peserta yang hadir setelah sesi edukasi. Instrumen evaluasi berupa kuesioner yang sama dengan pre-test, sehingga memungkinkan perbandingan hasil. Data dari pre-test dan post-test dianalisis untuk mengidentifikasi peningkatan pengetahuan peserta, di mana perbedaan nilai sebelum dan sesudah intervensi menjadi indikator keberhasilan program serta bukti efektivitas media video dalam menyampaikan pesan pencegahan pernikahan dini. @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wulandari dkk. Pengaruh Program VIKSI (Video Edukasi Pencegahan Pernikahan Din. A Melalui analisis sederhana terhadap hasil tes, terlihat adanya peningkatan ratarata skor pengetahuan peserta dari pre-test ke post-test, yang menunjukkan bahwa pesan edukasi telah disampaikan dengan baik. Peserta menunjukkan semangat tinggi selama kegiatan, terlihat dari antusiasme mereka dalam bertanya, berdiskusi, dan merespons materi. Selain peningkatan pengetahuan, program ini juga menghasilkan produk berupa video edukasi yang dapat dimanfaatkan kembali oleh sekolah atau komunitas remaja untuk kegiatan serupa di masa mendatang. Adanya media ini menjadi salah satu bentuk keberlanjutan program, karena pesan pencegahan pernikahan dini dapat terus disebarluaskan meskipun aktivitas lapangan telah selesai. Gambar 1. Pengambilan Video Bersama Remaja Embalut Gambar 2. Proses Pengeditan Video Gambar 3. Penayangan Video di SMK Negeri 1 Tenggarong Seberang Keberhasilan program VIKSI dalam menyampaikan pesan edukatif mengenai dampak negatif pernikahan usia dini terlihat dari peningkatan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah intervensi. Untuk mengukur perubahan tersebut, dilakukan pretest dan post-test terhadap 89 peserta kegiatan. Pre-test dilaksanakan sebelum pemutaran video edukatif, sedangkan post-test dilakukan sesudah kegiatan berakhir. Rata-rata skor pre-test adalah sebesar 76,85, sedangkan rata-rata skor post-test meningkat menjadi 86,18. Peningkatan skor ini menunjukkan bahwa peserta memperoleh tambahan pemahaman setelah mengikuti kegiatan penyuluhan. Tabel 1. Rata-rata nilai Pre-test dan Post-Test Program VIKSI Variabel Pretest Posttest Rata-rata (Mea. 76,85 86,18 @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wulandari dkk. Pengaruh Program VIKSI (Video Edukasi Pencegahan Pernikahan Din. A Untuk menguji perbedaan tersebut secara statistik, dilakukan uji normalitas terlebih dahulu. Hasil dari pengujian menunjukkan nilai signifikansi < 0,05, yang menandakan bahwa data tidak berdistribusi normal. Oleh sebab itu, digunakan uji nonparametrik Wilcoxon guna menguji hipotesis yang diajukan. Dari hasil pengujian Wilcoxon, didapat nilai p sebesar 0,000, sehingga hipotesis nol ditolak. Ini berarti ada perbedaan signifikan antara nilai pre-test dan post-test peserta. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penyuluhan melalui media video edukatif terbukti efektif dalam meningkatkan wawasan remaja tentang pernikahan di usia dini. Hasil ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Maya. Andriani, dan Priyanti . serta Sekarayu dan Nurwati . yang menunjukkan bahwa edukasi kesehatan yang memanfaatkan media visual dapat meningkatkan pemahaman remaja sekaligus mengurangi kecenderungan untuk melakukan pernikahan pada usia muda. Selain bertambahnya skor, keberhasilan dari intervensi ini juga terlihat dari munculnya diskusi yang aktif serta refleksi kritis dari peserta terhadap konten video yang ditayangkan. Tabel 2. Hasil Uji Wilcoxon Variabel Posttest-Pretest -4,051 p-value 0,000 KESIMPULAN Program VIKSI (Video Edukasi Pencegahan Pernikahan Din. terbukti efektif meningkatkan pengetahuan remaja mengenai risiko dan dampak negatif pernikahan usia muda. Peningkatan rata-rata skor dari 76,85 menjadi 86,18 dengan hasil uji Wilcoxon p=0,000 menunjukkan adanya perbedaan signifikan sebelum dan sesudah Selain memberikan pemahaman yang lebih baik, kegiatan ini juga mendorong diskusi aktif dan refleksi kritis peserta, serta menghasilkan media edukasi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh sekolah dan komunitas. Program ini berkontribusi nyata dalam upaya pencegahan pernikahan dini melalui pendekatan edukasi berbasis audio-visual yang menarik dan relevan bagi remaja. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Desa Embalut yang telah memberikan dukungan penuh selama pelaksanaan Program VIKSI. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada SMK Negeri 1 Tenggarong Seberang beserta jajaran guru dan siswa yang telah menjadi mitra sekaligus partisipan aktif dalam kegiatan ini. Apresiasi yang tinggi diberikan kepada PT Mahakam Coal Terminal. PT Tekno Putra Prakarsa. PT KITADIN, dan PT Hirmalita Kutai Makmur yang telah memberikan dukungan pendanaan sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. DAFTAR PUSTAKA