Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Vol. No. Oktober 2025: 209-219 PERAN INTERAKSIONISME SIMBOLIK MEAD DALAM MEMAHAMI DINAMIKA KEYAKINAN KESEHATAN INDIVIDU DAN PERILAKU SEHAT KOLEKTIF DI JATINANGOR Setiawan Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran. Jatinangor. Sumedang E-mail: setiawan17@unpad. ABSTRAK. Perilaku sehat merupakan pilar utama dalam mewujudkan Indonesia Sehat 2030, di mana perilaku tersebut perlu di internalisasi baik secara individu maupun kolektif. Upaya ini didukung oleh berbagai fasilitas kesehatan, dari layanan primer hingga tersier, guna memfasilitasi pencegahan, pengobatan, dan deteksi dini Penelitian ini bertujuan mengkaji dan menelaah aspek keyakinan kesehatan dalam membentuk perilaku sehat pada masyarakat Jatinangor, menggunakan lensa Teori Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead. Perspektif ini menyoroti bagaimana makna perilaku sehat dibangun melalui interaksi sosial, bagaimana individu menginterpretasikan peran 'The Generalized Other' . dalam membentuk perilaku sehat kolektif, dan bagaimana proses simbolik . eperti komunikasi dan interpretasi isyara. memengaruhi keyakinan kesehatan Penelitian kualitatif ini menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan Focus Group Discussion (FGD) untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas informan memiliki keyakinan perilaku sehat yang kuat, tercermin dari persepsi kerentanan terhadap penyakit . erceived susceptibilit. yang tinggi dan keyakinan manfaat tindakan pencegahan . erceived benefit. yang kuat. Temuan kunci lainnya adalah peran signifikan komunitas yang saling mendukung, promosi gaya hidup sehat, dan rasa hormat terhadap orang lain dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis, yang semuanya merupakan manifestasi dari proses interaksi Kesimpulannya, kepercayaan, pengaturan diri, motivasi, dukungan sosial, dan pola pikir individu yang terbentuk dan diperkuat melalui interaksi simbolik berperan krusial dalam mencapai kesejahteraan fisik dan Berdasarkan temuan ini, disarankan agar program kesehatan di Kabupaten Kecamatan Jatinangor lebih difokuskan pada penguatan peran komunitas dan kelompok dukungan sebaya, mengingat pengaruh signifikan dukungan sosial dalam mengkonstruksi makna dan perilaku sehat kolektif. Kata Kunci: Interaksionisme Simbolik. George Herbert Mead. Keyakinan Kesehatan. Perilaku Sehat Kolektif. Dinamika Sosial. Jatinangor THE ROLE OF MEAD'S SYMBOLIC INTERACTIONISM IN UNDERSTANDING THE DYNAMICS OF INDIVIDUAL HEALTH BELIEFS AND COLLECTIVE HEALTHY BEHAVIOR IN JATINANGOR ABSTRACT. Healthy behavior is a main pillar in realizing Healthy Indonesia 2030, where the behavior needs to be internalized both individually and collectively. This effort is supported by various health facilities, from primary to tertiary services, to facilitate prevention, treatment, and early detection of disease. This study aims to examine and examine aspects of health beliefs in shaping healthy behavior in the Jatinangor community, using the lens of George Herbert Mead's Symbolic Interactionism Theory. This perspective highlights how the meaning of healthy behavior is constructed through social interaction, how individuals interpret the role of 'The Generalized Other' . in shaping collective healthy behavior, and how symbolic processes . uch as communication and interpretation of cue. influence individual health beliefs. This qualitative study used in-depth interviews, observations, and Focus Group Discussions (FGD) to collect data. The results showed that the majority of informants had strong healthy behavior beliefs, reflected by high perceived susceptibility and strong perceived benefits of preventive measures. Another key finding was the significant role of supportive communities, healthy lifestyle promotion, and respect for others in improving psychological well-being, all of which are manifestations of symbolic interaction processes. In conclusion, individual beliefs, self-regulation, motivation, social support, and mindsets which are formed and strengthened through symbolic interaction play a crucial role in achieving physical and emotional well-being. Based on these findings, it is recommended that health programs in Jatinangor District focus more on strengthening the role of communities and peer support groups, given the significant influence of social support in constructing collective healthy meanings and behaviors. Keywords: Symbolic Interactionism. George Herbert Mead. Health Beliefs. Collective Healthy Behavior. Social Dynamics. Jatinangor PENDAHULUAN Perwujudan Indonesia Sehat 2030 sangat bergantung pada adopsi perilaku sehat oleh masyarakat secara luas. Berbagai upaya promo- tif, preventif, dan kuratif yang terintegrasi, didukung oleh pelayanan kesehatan prima dari Posyandu hingga rumah sakit, telah menjadi fondasi penting untuk mencapai tujuan ini. Namun, keberhasilan program kesehatan tidak Peran Interaksionisme Simbolik Mead dalam Memahami Dinamika Keyakinan Kesehatan Individu Dan Perilaku Sehat Kolektif di Jatinangor (Setiawa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 hanya ditentukan oleh ketersediaan fasilitas, melainkan juga oleh kesadaran dan inisiatif individu serta kelompok masyarakat dalam menjaga kesehatan mereka. Membangun budaya hidup sehat haruslah muncul dari dalam diri, didorong oleh pemahaman dan keyakinan yang kuat. Perilaku sehat tidak hanya dibentuk oleh keyakinan individu semata, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan konteks masyarakat tempat individu tersebut Teori Mind. Self, and Society dari George Herbert Mead . menawarkan perspektif komprehensif tentang bagaimana pikiran . , diri . , dan masyarakat . saling membentuk dalam proses sosial. Menurut Mead, "mind" adalah kemampuan berpikir simbolik yang muncul dari interaksi sosial. "self" adalah identitas yang berkembang melalui pengambilan peran . ole-takin. dan internalisasi sikap orang lain . eneralized othe. sementara "society" adalah jaringan interaksi sosial yang memberikan makna dan struktur. Dalam konteks kesehatan, teori Mead menunjukkan bahwa persepsi dan keyakinan individu tentang kesehatan . eperti yang diuraikan dalam HBM) tidak muncul dalam ruang hampa, melainkan dikonstruksi dan diperkuat melalui komunikasi simbolik, norma kelompok, dan identifikasi dengan peran-peran sosial dalam komunitas. Misalnya, persepsi kerentanan terhadap penyakit bisa saja dibentuk atau diperkuat melalui diskusi dan berbagi pengalaman dalam kelompok masyarakat, atau "generalized other" . arapan atau norma sosial yang diinternalisas. yang memengaruhi keputusan seseorang untuk berpartisipasi dalam program kesehatan. Kabupaten Sumedang, khususnya Kecamatan Jatinangor, menjadi lokasi yang menarik untuk mengintegrasikan dinamika sosial dan identitas kelompok (Mea. akan memberikan gambaran yang lebih holistik mengenai pembentukan perilaku sehat. Data angka kesakitan di Kabupaten Sumedang, khususnya Kecamatan Jatinangor, menguatkan urgensi kajian ini. Berdasarkan sistem pencatatan dan pelaporan Puskesmas tahun 2024, sepuluh besar penyakit di wilayah ini sebagian besar terkait dengan gaya hidup, seperti myalgia . ,10%), hipertensi primer . %), dan infeksi saluran pernapasan atas akut tidak spesifik . %-10%). Hal ini mengindikasikan bahwa perilaku gaya hidup belum sepenuhnya mendukung kesehatan optimal di masyarakat Jatinangor. Observasi lapangan pada tahun 2024 juga menunjukkan adanya perilaku hidup tidak sehat yang dominan, terutama di kalangan kelompok masyarakat desa yang bekerja sebagai K3L di kampus UNPAD Jatinangor (A 400 orang dari 12 Kebiasaan seperti jarang sarapan, kurangnya konsumsi makanan bergizi, preferensi terhadap makanan gorengan dengan minyak bekas, serta minimnya konsumsi sayur dan buahbuahan, menjadi gambaran umum. Selain itu, kebiasaan berbagi makanan tanpa memperhatikan kebersihan dan ketidaklengkapan penggunaan alat pelindung diri (APD) saat bekerja menyapu jalan, semakin memperburuk kondisi kesehatan mereka. Hasil pemeriksaan kesehatan dini pada anggota K3L UNPAD mengungkapkan temuan seperti nyeri otot, sakit kepala, maag, darah tinggi, asam urat, dan kolesterol, yang secara langsung mencerminkan rendahnya kualitas kesehatan akibat gaya hidup. Kecenderungan masyarakat untuk mengutamakan pengobatan . setelah sakit parah, seringkali dengan mengandalkan obat warung tanpa resep dokter, daripada melakukan pemeriksaan kesehatan dini atau tindakan pencegahan, menunjukkan adanya persepsi bahwa Puskesmas lebih berfokus pada pelayanan pengobatan dibandingkan pencegahan. Realitas subjektif ini, di mana layanan kuratif lebih diterima daripada preventif, mencerminkan adanya hambatan dalam perubahan paradigma perilaku kesehatan masyarakat. Fenomena ini dapat dipahami melalui Teori Mead, di mana "makna" tentang pelayanan kesehatan dan "peran" individu dalam menjaga kesehatan mereka dikonstruksi secara sosial dan memengaruhi pilihan perilaku. Perubahan perilaku masyarakat di bidang kesehatan merupakan proses mental aktif dan kreatif yang melibatkan internalisasi norma dan nilai-nilai sosial (Talcott Parsons dalam Sarwono, 1993:. Dalam konteks ini, dukungan sosialAibaik berupa informasi verbal atau nonverbal, nasihat, bantuan praktis, maupun dukungan emosionalAimemainkan peran krusial (Khan dan Antonucci dari Orford, 1992. Lemme. Dimatteo, 1991. Sarason & Pierce dalam Baron & Byrne, 2000. Sarafino, 2. Dukungan dari keluarga, kerabat, dan teman dekat menjadi sumber dukungan yang paling Dukungan kelompok, di mana individu merasa menjadi bagian dari suatu kelompok dan dapat saling berbagi, juga merupakan bentuk dukungan sosial yang kuat. Aspek dukungan sosial ini, yang membentuk "generalized other" dan memengaruhi "self" individu, sangat relevan dalam kerangka Interaksionisme Simbolik Mead. Kajian mengenai perilaku hidup sehat masyarakat dalam mencegah penyakit telah banyak dilakukan sebelumnya. Penelitian- Peran Interaksionisme Simbolik Mead dalam Memahami Dinamika Keyakinan Kesehatan Individu Dan Perilaku Sehat Kolektif di Jatinangor (Setiawa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 penelitian seperti Krieger . dan Trevino & Jacobs . menyoroti peran patogen sosial dan faktor penentu status kesehatan. Pengamatan Callon . Pollock . Bullard & Wright . Mascarenhas . Pellow . , serta Pulido, et al. 6a, 2000, 2015, 2. mengaitkan model perilaku gaya hidup sehat dan teori motivasi dengan konteks lingkungan. Sigerist . Zuniga . , dan Altman et al. alam Rao, 2. menekankan pentingnya pendidikan kesehatan dini. Wahuningrum . menggunakan konsep Precede-Procede untuk menganalisis program promosi kesehatan, menunjukkan kesesuaian model yang fokus pada aspek preventif dan peran penting model keyakinan perilaku sehat serta dukungan sosial. Berangkat dari urgensi masalah kesehatan berbasis perilaku sehat dan kurangnya fokus pada aspek preventif, serta melihat peran penting model keyakinan individu terhadap perilaku sehat dengan dukungan sosial, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendalami keyakinan kesehatan dalam perilaku sehat kelompok individu masyarakat di Kecamatan Jatinangor. Sumedang. Kajian ini tidak hanya akan menggunakan secara fundamental mempertimbangkan bagaimana "mind," "self," dan "society" (Mea. membentuk dan memperkuat keyakinan serta perilaku tersebut. Dengan menelaah aspek perilaku sehat yang memengaruhi keyakinan kesehatan, mengidentifikasi faktorfaktor yang memengaruhi keyakinan perilaku sehat, dan pada akhirnya menyusun model keyakinan kesehatan dalam perilaku kelompok individu masyarakat yang terintegrasi, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih , dengan dimensi sosial Mead, serta penambahan faktor-faktor spesifik yang relevan dengan konteks Jatinangor, sehingga dapat menjadi panduan strategis yang lebih efektif dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat menuju Indonesia Sehat 2030. METODE Metodologi Penelitian: Pendekatan Kualitatif dengan Lensa Interaksionisme Simbolik Mead Desain dan Partisipan Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif untuk memahami secara mendalam dinamika keyakinan kesehatan individu dan perilaku sehat kolektif di Jatinangor. Pemilihan metode kualitatif didasarkan pada pertimbangan bahwa perilaku sehat adalah fenomena kompleks yang tidak dapat dilepaskan dari makna subjektif . ubjective meanin. yang tertanam pada diri individu dan kelompok masyarakat. Untuk mengungkap makna dan pengalaman sebagai basis tindakan, peneliti harus terlibat dalam pengamatan dan wawancara mendalam, sesuai dengan esensi penelitian kualitatif (Lester, 1. Pendekatan ini berfokus pada usaha memahami arti peristiwa dan kaitannya dengan tindakan individu dalam situasi-situasi tertentu, yang sangat relevan untuk menggali bagaimana interaksi simbolik membentuk realitas kesehatan. Melalui lensa Teori Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead, penelitian ini secara spesifik bertujuan untuk: Menganalisis bagaimana makna perilaku sehat dikonstruksi secara sosial di antara individu dan kelompok di Jatinangor. Ini mencakup bagaimana mereka menafsirkan informasi kesehatan, gejala penyakit, dan efektivitas intervensi preventif melalui komunikasi dan interaksi sehari-hari. Memahami bagaimana diri . individu berkembang dan memengaruhi pilihan perilaku sehat melalui proses pengambilan peran . dan internalisasi sikap 'The Generalized Other' . Ini berarti menelaah bagaimana ekspektasi dan norma komunitas tentang "orang sehat" di Jatinangor membentuk identitas dan tindakan kesehatan individu. Mengidentifikasi pola-pola interaksi sosial . yang mendukung atau menghambat adopsi perilaku sehat kolektif, seperti kebiasaan bersama, norma kelompok, dan praktik komunal terkait kesehatan. Posisi peneliti dalam penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana anggota kelompok individu masyarakat di Jatinangor memproduksi atau mereproduksi kehidupan kesehatan mereka. Sesuai dengan pandangan Denzin & Lincoln . , manusia bukan hanya produk masyarakat tetapi sekaligus agen yang mampu menciptakan masyarakat melalui aktivitas keseharian mereka. Ini sejalan dengan prinsip Interaksionisme Simbolik yang menekankan agensi individu dalam menciptakan makna dan realitas sosial. Oleh karena itu, fokus penelitian adalah pada individu sebagai agen yang mampu mengubah paradigma perilaku sehat demi pencapaian derajat kesehatan tertinggi, dengan memahami bagaimana tindakan mereka dibentuk oleh interaksi dan interpretasi simbolik. Prosedur Pengumpulan Data Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria penetapan informan didasarkan pada Peran Interaksionisme Simbolik Mead dalam Memahami Dinamika Keyakinan Kesehatan Individu Dan Perilaku Sehat Kolektif di Jatinangor (Setiawa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 kemampuan mereka untuk memberikan informasi mendalam terkait objek penelitian dan relevan untuk menjawab masalah penelitian. Informan adalah pihak atau orang yang memahami proses perubahan kesehatan di kelompok individu masyarakat Kabupaten Sumedang, khususnya Kecamatan Jatinangor, baik yang terlibat dalam pengambilan kebijakan maupun masyarakat yang memahami kondisi kelompok individu masyarakat setempat. Secara spesifik, informan kunci adalah anggota kelompok individu masyarakat pekerja K3L di kampus UNPAD Jatinangor, yang berdasarkan observasi awal (Agustus 2. menunjukkan adanya perilaku hidup tidak sehat dan memiliki dinamika interaksi yang kaya dalam konteks kesehatan. Kelompok ini terdiri dari sekitar 400 orang dengan 14 mandor, berasal dari berbagai desa di Kabupaten SumedangJatinangor, termasuk Desa Cileles. Cikuda, dan Cikeruh (Gunawan, et al. , 2. Pemilihan ini memungkinkan peneliti untuk mengkaji secara Keyakinan kesehatan perilaku kelompok individu masyarakat dari berbagai aspek internal dan eksternal, mengintegrasikannya dengan pengetahuan kesehatan dan kelembagaan Faktor-faktor krusial dalam penerapan keyakinan kesehatan dalam perilaku sehat, seperti kebiasaan jarang sarapan, pola makan tidak seimbang . referensi gorengan minyak bekas, minim sayur/bua. , kebiasaan berbagi makanan tanpa memperhatikan kebersihan, serta minimnya penggunaan alat pelindung diri (APD) saat bekerja. Setiap kebiasaan ini akan dianalisis sebagai hasil dari proses interaksi simbolik. Proses pengumpulan data dilakukan melalui: Wawancara mendalam . eep intervie. Untuk menggali pengalaman, persepsi, dan interpretasi subjektif informan mengenai kesehatan, penyakit, dan perilaku sehat mereka. Wawancara akan berfokus pada bagaimana makna-makna ini dibangun dan dibagikan dalam interaksi sosial mereka. Observasi partisipatif: Untuk mengamati langsung aktivitas keseharian informan terkait kesehatan, interaksi sosial mereka dalam konteks kesehatan . isalnya, saat makan bersama atau bekerj. , dan bagaimana praktik-praktik ini merefleksikan norma-norma kolektif atau 'Generalized Other' yang diinternalisasi. Focus Group Discussion (FGD): Untuk memfasilitasi diskusi kelompok, memungkinkan peneliti mengamati bagaimana makna-makna kesehatan dinegosiasikan, diperdebatkan, atau diperkuat dalam interaksi kelompok, serta bagaimana 'Generalized Other' termanifestasi dalam dinamika sosial mereka. Analisis Data dan Validitas Untuk menjaga validitas data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Pertama, triangulasi sumber akan dilakukan dengan membandingkan data dari berbagai informan untuk memastikan konsistensi dan kedalaman Kedua, triangulasi metodologi akan diterapkan dengan membandingkan data yang diperoleh dari wawancara, observasi, dan FGD. Pendekatan ini memastikan bahwa temuan yang diperoleh memiliki kesamaan dan konsistensi lintas metode, sehingga menghasilkan pemahaman yang paling valid dan komprehensif mengenai tindakan individu sebagai agen yang menciptakan kembali realitas kehidupan kesehatan sosial mereka, dengan memahami secara mendalam berbagai peristiwa dalam konteks waktu, ruang, situasi, relasi, interaksi, pengalaman, kebiasaan, makna, sejarah, serta aktivitas yang dilakukan oleh anggota kelompok individu masyarakat di Jatinangor. Variabel Independen: Pengukuran dan Interaksionisme Simbolik Mead Dalam penelitian ini, variabel independen adalah "Peran Interaksionisme Simbolik Mead dalam Memahami Dinamika Keyakinan Kesehatan Individu dan Perilaku Sehat Kolektif". Pengukuran variabel ini, khususnya dalam konteks kualitatif, bukan dilakukan melalui instrumen kuantitatif melainkan melalui penggalian mendalam terhadap bagaimana konsepkonsep inti George Herbert Mead bermanifestasi dalam kehidupan nyata informan di Jatinangor. Pengukuran variabel independen ini difokuskan pada: Dinamika Proses Simbolik dalam Keyakinan Kesehatan (Mead: Min. Menggali bagaimana individu di Jatinangor mengkonstruksi makna tentang kesehatan dan penyakit melalui interaksi sehari-hari. Ini mencakup bagaimana mereka menafsirkan gejala, penyebab penyakit, dan efektivitas tindakan pencegahan. Menganalisis penggunaan simbol-simbol . isalnya, bahasa, gestur, ekspresi wajah, praktik ritual kesehata. dalam komunikasi antarindividu dan antar-kelompok terkait kesehatan. Misalnya, bagaimana frasa tertentu atau cerita yang dibagikan dalam komunitas membentuk persepsi mereka tentang kerentanan . erceived susceptibilit. atau manfaat . erceived benefit. dari perilaku sehat. Peran Interaksionisme Simbolik Mead dalam Memahami Dinamika Keyakinan Kesehatan Individu Dan Perilaku Sehat Kolektif di Jatinangor (Setiawa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Melihat bagaimana dialog internal . nner conversatio. individu mengenai kesehatan mereka dipengaruhi oleh "suara-suara" dari interaksi sosial sebelumnya. Pembentukan Diri (Sel. dan Peran dalam Perilaku Sehat Kolektif (Mead: Self dan Role-Takin. : Memahami bagaimana identitas individu . terkait dengan perilaku sehat dan sakit dibentuk melalui pengambilan peran . ole-takin. dalam komunitas. Contohnya, bagaimana pekerja K3L melihat diri mereka dalam konteks kesehatan kolektif, dan bagaimana peran "pekerja keras" mungkin bertabrakan dengan peran "individu sehat" jika tidak sarapan atau tidak menggunakan APD. Menganalisis pengaruh 'The Generalized Other' (Masyarakat Umum yang Diinternalisas. terhadap keputusan dan tindakan kesehatan Bagaimana norma dan ekspektasi dari komunitas, keluarga, atau kelompok kerja . issalnya, kebiasaan berbagi makanan, minimnya penggunaan APD yang dianggap "biasa") diinternalisasi dan memengaruhi pilihan perilaku Ini termasuk bagaimana individu menyesuaikan perilaku mereka agar selaras dengan apa yang mereka persepsikan sebagai harapan atau kebiasaan umum di Jatinangor. Menjelajahi bagaimana dukungan sosial, baik dari keluarga, kerabat, teman dekat, maupun kelompok kerja, memengaruhi pengembangan self-efficacy individu dan motivasi untuk mengadopsi perilaku sehat. Ini dilihat sebagai manifestasi dari proses di mana "diri" individu diperkuat melalui interaksi positif. Struktur Interaksi Sosial dan Pengaruhnya pada Kesehatan (Mead: Societ. Mengkaji pola interaksi sosial dalam kelompok individu masyarakat di Jatinangor . hususnya pekerja K3L) yang memfasilitasi atau menghambat adopsi perilaku sehat. Misalnya, kebiasaan makan bersama dengan makanan tidak sehat atau minimnya diskusi tentang pentingnya gizi seimbang. Mengidentifikasi norma-norma kolektif dan kebiasaan yang berlaku di antara informan yang memengaruhi keyakinan dan perilaku kesehatan mereka. Ini termasuk mengapa kebiasaan seperti jarang sarapan atau tidak menggunakan APD lengkap menjadi umum. Menganalisis bagaimana lembaga dan program kesehatan (Posyandu. Puskesma. diinterpretasikan dan digunakan oleh masyarakat. Apakah Puskesmas dilihat sebagai tempat pencegahan atau hanya pengobatan, dan bagaimana interpretasi ini . ebagai bagian dari 'Generalized Other') memengaruhi perilaku pencarian layanan kesehatan mereka. Pemilihan informan dilakukan melalui purposive sampling, memastikan bahwa individu dan kelompok yang dipilih . erutama kelompok individu masyarakat di Kabupaten SumedangKecamatan Jatinangor yang memerlukan perhatian khusus kesehatan fisik maupun nonfisik, seperti pekerja K3L UNPAD) memiliki pengalaman kaya dan pemahaman mendalam mengenai proses perubahan kesehatan dalam konteks sosial mereka. Ini memungkinkan peneliti untuk menggali detail interaksi simbolik yang membentuk keyakinan dan perilaku kesehatan mereka. Data yang terkumpul melalui wawancara mendalam, observasi, dan FGD, serta validitasnya yang dijaga melalui triangulasi sumber dan metode, akan memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana mind, self, dan society Mead secara intrinsik memengaruhi keyakinan kesehatan . ang juga terangkum dalam HBM) dan pada akhirnya, perilaku sehat individu maupun kolektif di Jatinangor. HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini menyajikan temuan penelitian mengenai keyakinan kesehatan individu dan perilaku sehat kolektif di Jatinangor, yang kemudian dibahas melalui lensa Teori Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead. Pendekatan ini membantu kita memahami bagaimana makna-makna seputar kesehatan dibangun dan diperankan dalam interaksi sosial, serta bagaimana proses-proses simbolik memengaruhi keyakinan dan tindakan kesehatan. Temuan Penelitian Penelitian ini menemukan bahwa mayoritas informan di Jatinangor menunjukkan keyakinan perilaku sehat yang baik. Indikator utamanya adalah tingginya persepsi kerentanan terhadap penyakit . erceived susceptibilit. dan kuatnya keyakinan akan manfaat tindakan pencegahan . erceived benefit. Informan secara umum menyadari bahwa mereka rentan terhadap berbagai penyakit gaya hidup yang umum di Jatinangor, seperti myalgia, hipertensi, dan ISPA, yang juga didukung oleh data angka kesakitan Puskesmas setempat. Kesadaran ini mendorong mereka untuk melihat pentingnya tindakan preventif dan promotif. Selain itu, ditemukan bahwa keberadaan komunitas yang saling mendukung, adanya promosi gaya hidup sehat, dan rasa hormat terhadap orang lain secara signifikan meningkatkan kesejahteraan psikologis individu. Aspek- Peran Interaksionisme Simbolik Mead dalam Memahami Dinamika Keyakinan Kesehatan Individu Dan Perilaku Sehat Kolektif di Jatinangor (Setiawa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 aspek ini tidak hanya memengaruhi individu secara personal, tetapi juga menciptakan lingkungan sosial yang kondusif bagi adopsi perilaku sehat. Kepercayaan, pengaturan diri, motivasi, dukungan sosial, dan pola pikir individu merupakan elemen krusial dalam mencapai kesejahteraan fisik dan emosional secara keseluruhan. Pembahasan dalam Lensa Interaksionisme Simbolik Mead Temuan diinterpretasikan secara mendalam melalui kerangka Teori Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead, khususnya konsep Mind. Self, dan Society, serta peran The Generalized Other. Pertama, persepsi kerentanan . erceived susceptibilit. dan keyakinan manfaat . erceived benefit. tidak terbentuk dalam ruang hampa kognitif individu, melainkan merupakan hasil dari proses interaksi simbolik. Ketika individu berinteraksi dalam komunitasnya, mereka saling berbagi informasi, pengalaman, dan interpretasi tentang kesehatan dan penyakit. Diskusi tentang bahaya kebiasaan makan gorengan, testimoni tentang manfaat senam pagi bersama, atau cerita tentang anggota komunitas yang jatuh sakit karena gaya hidup tidak sehat, menjadi "simbol" yang membentuk dan memperkuat mind Melalui komunikasi verbal dan nonverbal ini, individu mulai menginternalisasi makna-makna kolektif tentang kerentanan dan Ini sejalan dengan pandangan Mead bahwa mind atau kemampuan berpikir kita, termasuk tentang kesehatan, adalah produk sosial yang muncul dari interaksi simbolik. Kedua, fenomena komunitas yang saling mendukung, promosi gaya hidup sehat, dan rasa hormat terhadap orang lain merupakan manifestasi nyata dari bagaimana 'Society' (Masyaraka. membentuk dan memengaruhi 'Self' (Dir. individu dalam konteks kesehatan. Ketika individu melihat anggota komunitas lain aktif dalam perilaku sehat . isalnya, berpartisipasi dalam Posyandu, menjaga kebersihan lingkunga. , atau ketika ada upaya promosi kesehatan yang intensif dari tokoh masyarakat atau penyuluh, ini menciptakan sebuah 'Generalized Other' yaitu sikap dan harapan masyarakat secara umum yang diinternalisasi oleh individu. 'The Generalized Other' ini bertindak sebagai suara kolektif yang memberikan panduan normatif tentang bagaimana "orang yang sehat" seharusnya berperilaku. Ketika individu menginternalisasi harapan ini, mereka cenderung mengadopsi perilaku yang selaras dengan norma komunitas untuk menjaga "diri" mereka di mata orang lain. Rasa hormat terhadap orang lain juga mendorong individu untuk tidak menjadi beban bagi komunitas karena sakit, atau sebaliknya, merasa bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan demi keberlangsungan interaksi sosial. Ketiga, elemen-elemen seperti kepercayaan, pengaturan diri, motivasi, dukungan sosial, dan pola pikir individu yang ditemukan krusial dalam mencapai kesejahteraan, terbentuk dan diperkuat melalui interaksi simbolik. Misalnya, kepercayaan terhadap manfaat Posyandu atau Puskesmas bisa dibangun melalui reputasi yang baik dari petugas kesehatan yang berinteraksi dengan ramah . imbol keramaha. atau melalui keberhasilan nyata program yang diceritakan dari mulut ke mulut. Motivasi untuk berubah mungkin dipicu oleh "isyarat untuk bertindak" . ues to actio. yang bersifat sosial, seperti ajakan dari tetangga untuk senam bersama atau peringatan dari tokoh agama tentang pentingnya menjaga tubuh. Dukungan sosial, seperti yang dijelaskan dalam latar belakang, adalah bentuk interaksi simbolik paling langsung yang memperkuat "self" individu dalam menghadapi tantangan kesehatan. Berbagi informasi, nasihat, atau bantuan praktis, semuanya adalah pertukaran simbol yang memberikan makna dan kekuatan pada individu untuk mempertahankan perilaku Pola pikir individu pun berkembang seiring dengan bagaimana mereka menafsirkan reaksi dan ekspektasi dari orang-orang di sekitar Jika perilaku sehat dihargai dan difasilitasi dalam interaksi sosial, maka pola pikir pro-kesehatan akan semakin mengakar. Perilaku sebagian masyarakat Jatinangor yang masih mengutamakan kuratif dan bergantung pada obat warung, meskipun menyadari penyakit gaya hidup, juga dapat dijelaskan melalui Mead. Realitas subjektif ini terbentuk karena "makna" pengobatan kuratif dan aksesibilitas obat warung lebih dominan dalam interaksi mereka sehari-hari dibandingkan dengan makna pencegahan yang seringkali membutuhkan inisiatif lebih. Puskesmas yang dianggap lebih fokus pada pengobatan menciptakan "Generalized Other" yang memposisikan Puskesmas sebagai tempat berobat, bukan tempat preventif. Dengan demikian, temuan penelitian ini tidak hanya mengkonfirmasi relevansi Model Keyakinan Kesehatan dalam memahami dimensi kognitif individu, tetapi juga secara signifikan memper-kaya pemahaman tersebut dengan menyoroti peran sentral interaksi sosial dan konstruksi makna simbolik dalam Peran Interaksionisme Simbolik Mead dalam Memahami Dinamika Keyakinan Kesehatan Individu Dan Perilaku Sehat Kolektif di Jatinangor (Setiawa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 membentuk keyakinan kesehatan individu dan mendorong perilaku sehat kolektif. Kesehatan, dalam perspektif Mead, adalah produk dari dialog berkelanjutan antara mind, self, dan SIMPULAN Penelitian ini, dengan total 60 informan di Kabupaten Sumedang. Kecamatan Jatinangor, memberikan pemahaman mendalam tentang dinamika keyakinan kesehatan individu dan perilaku sehat kolektif melalui lensa Teori Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead. Setiap individu memiliki keyakinan kesehatan yang beragam, proses interaksi simbolik memainkan peran fundamental dalam membentuk dan memperkuat keyakinan tersebut. Mayoritas informan menunjukkan keyakinan perilaku sehat yang baik, didorong oleh persepsi kerentanan terhadap penyakit dan keyakinan kuat akan manfaat tindakan pencegahan. Hal ini sejalan dengan pandangan Mead bahwa 'mind' . individu tidak terisolasi, melainkan terbentuk melalui internalisasi simbol dan makna yang dibagikan dalam interaksi sosial. Diskusi, pengalaman, dan narasi yang tersebar di komunitas menciptakan pemahaman kolektif tentang kesehatan dan risiko. Menciptakan komunitas yang saling mendukung, promosi gaya hidup sehat, dan rasa hormat terhadap orang lain secara signifikan meningkatkan kesejahteraan psikologis dan fisik. Aspek-aspek ini adalah manifestasi konkret dari bagaimana 'society' . memengaruhi 'self' . 'The Generalized Other', yaitu ekspektasi dan norma yang diinternalisasi dari masyarakat, mendorong individu untuk mengadopsi perilaku yang dianggap sehat dan bertanggung jawab secara sosial. Dukungan sosial, baik dari keluarga, kerabat, maupun kelompok sebaya, terbukti krusial. Dukungan ini bukan sekadar bantuan fisik, melainkan pertukaran simbolik . asihat, motivasi, berbagi pengalama. yang memperkuat rasa percaya diri individu dan kapasitas mereka untuk bertindak sesuai dengan tujuan kesehatan. Kolaborasi dan dukungan timbal balik dalam kelompok menciptakan lingkungan di mana makna-makna kesehatan positif terus direproduksi. Penelitian ini menegaskan bahwa keyakinan, pengalaman, dan informasi menjadi dasar tindakan. Motivasi, keselarasan tujuan, dan pengaturan diri berperan sentral, dan semua ini secara fundamental dibentuk dan diperkuat melalui interaksi simbolik. Keyakinan kuat pada konsep perilaku sehat, pencegahan penyakit, dan prioritas pada pencegahan adalah hasil dari internalisasi makna-makna ini dari lingkungan sosial mereka. Singkatnya, kesehatan dan perilaku sehat di Jatinangor adalah produk yang dikonstruksi secara sosial, di mana pikiran, diri, dan masyarakat saling membentuk dalam sebuah tarian interaksi simbolik yang berkelanjutan. Saran Berdasarkan temuan yang diperkaya dengan perspektif Interaksionisme Simbolik Mead, berikut adalah beberapa saran strategis: Penguatan Peran Komunitas sebagai 'The Generalized Other' yang Positif: Fokus pada Penguatan Kelompok Dukungan Sebaya: Daripada hanya berfokus pada individu, program kesehatan di Jatinangor sebaiknya lebih memprioritaskan pembentukan dan penguatan kelompok-kelompok dukungan sebaya . isalnya, di antara pekerja K3L atau kelompok ibu-ib. Kelompok ini dapat menjadi wadah bagi pertukaran simbol dan makna tentang kesehatan, yang pada gilirannya akan memperkuat 'Generalized Other' yang mendukung perilaku sehat. Fasilitasi Interaksi Sosial Positif: Mendorong kegiatan komunal yang berorientasi pada kesehatan . enam bersama, program kebun gizi komunitas, diskusi kesehatan ruti. agar individu dapat secara aktif menginternalisasi norma dan harapan kesehatan yang positif dari Ini akan membantu menciptakan 'mind' yang lebih pro-kesehatan. Meningkatkan 'Self' Individu melalui Pengambilan Peran dalam Promosi Kesehatan: Edukasi Berbasis Cerita dan Pengalaman: Alih-alih hanya memberikan informasi faktual, promosi kesehatan harus menggunakan narasi dan testimoni dari anggota komunitas yang telah berhasil mengubah perilaku sehat mereka. Ceritacerita ini berfungsi sebagai simbol yang menginspirasi, memungkinkan individu lain untuk melakukan 'role-taking' dan membayangkan diri mereka dalam peran sebagai agen perubahan kesehatan. Pelibatan Tokoh Komunitas sebagai Agen Perubahan Simbolik: Mengidentifikasi dan melatih individu berpengaruh di Jatinangor . isalnya, mandor K3L, tokoh agama, ketua RT/RW) sebagai "duta kesehatan". Mereka dapat menjadi representasi 'Generalized Other' yang kuat, memberikan isyarat . ues to actio. dan motivasi yang efektif melalui interaksi seharihari mereka. Mengintegrasikan Makna Pencegahan dalam Layanan Kesehatan Primer: Peran Interaksionisme Simbolik Mead dalam Memahami Dinamika Keyakinan Kesehatan Individu Dan Perilaku Sehat Kolektif di Jatinangor (Setiawa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Pergeseran Narasi Puskesmas: Puskesmas perlu aktif dalam mengkonstruksi ulang makna mereka di mata masyarakat, dari sekadar tempat pengobatan menjadi pusat pencegahan dan promosi kesehatan. Ini bisa dilakukan melalui kampanye komunikasi yang menekankan layanan preventif, penyuluhan interaktif, dan menciptakan lingkungan yang lebih ramah untuk konsultasi kesehatan dini. Edukasi Simbolik tentang Pentingnya Gizi dan APD: Mengembangkan program edukasi yang bukan hanya informatif, tetapi juga mengubah makna kebiasaan tidak sehat. Misalnya, menggunakan simbol visual yang kuat untuk menunjukkan dampak minyak goreng berulang atau pentingnya APD. Edukasi harus bersifat interaktif dan memungkinkan individu untuk menginterpretasikan dan menginternalisasi makna baru tentang gizi seimbang dan keselamatan kerja. Dengan mengadopsi pendekatan yang berpusat pada interaksi simbolik ini, program kesehatan di Jatinangor dapat lebih efektif dalam mengubah keyakinan dan perilaku, serta mendorong tercapainya Indonesia Sehat 2030 secara berkelanjutan. Baron. Robert A. dan Donn Byrne. Psikologi Sosial Edisi Kesepuluh Jilid 1. Terjemahan: Ratna Djuwita. Jakarta: Erlang-ga. DAFTAR PUSTAKA Bimo Walgito. Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: Andi Offset, 1. , hlm. Amiruddin. Ridwan. Epidemiologi DM dan Isu Mutakhirnya. http://ridwanamiruddin. com/2007/12/10/epidemiologi-dm-danisumutakhirnya/ Akil. Luwu Dimensi Sejarah. Budaya dan Kepercayaan. Makassar. Refleksi. Adam. Barlin. Analisis Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Suku Bajo di Kabupaten Kolaka. Sulawesi Tenggara. Volume 1 . ttp://isjd. diakses pada tanggal 10 Maret 2012. ----------. Psikologi Sosial Edisi Kesepuluh Jilid 2. Terjemahan: Ratna Djuwita. Jakarta: Erlangga. Skinner, . Science and Human Behavior (New York: Free Press, 1. Butler. , & Gheorghiu. Exploring the failure to protect the rights of the Roma child in Romania. Public Administration and Development, 30, 235Ae Born. and Purcell. , . Avoiding the local trap: scale and food systems in planning research. Journal of Planning Education & Research, 26 . , 195Ae 207. Barling. Lang. , and Caraher. , . Joined-up food policy? The trials of governance, public policy and the food Social Policy & Administration, 36 . , 556Ae574. Bandura A. Social Foundations of Thought and Action: A Social Cognitive Theory. Englewood Cliffs: Prentice-Hall. _________ . Health promotion by social cognitive means. Health Educ Behav. :143Ae164 Azwar. Asrul. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Mutiara,4 Jakarta. Bayat. Shojaeezadeh. Baikpour. Heshmat. Baikpour. , & Hosseini. The Effect of Education on Extended Health Belief Model in Type 2 Diabetic Patients: a randomized controlled Journal of diabetes & metabolic disorder, 1-6. _____. Sikap Manusia teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka