HUBUNGAN POLAASUH ORANG TUA DENGAN KEMAMPUAN SOSIALISASI PADAANAK USIA 4-6 TAHUN DI TK NUSA INDAH NGEMPON Alifta Dyah Ayu Prameswari*1 Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Sarjana Keperawatan aliftadap@gmail. Kurnia Wijayanti*2 Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Sarjana Keperawatan kurnia@unissula. *Corresponding author ABSTRAK Latar Belakang: Kemampuan sosialisasi merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh anak prasekolah agar mereka dapat mengolah emosi, mampu bergaul, menumbuhkan rasa percaya diri, serta siap beradaptasi ketika sudah mulai memasuki usia sekolah. Pola asuh orang tua sangat penting untuk membantu anak melakukan kemampuan sosialisasi di Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dengan kemampuan sosialisasi pada anak usia 4-6 tahun di TK Nusa Indah Ngempon. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan 64 responden yaitu ibu yang memiliki anak usia 4-6 tahun di TK Nusa Indah Ngempon. Variabel dalam penelitian ini menggunakan uji rank spearman untuk menentukan hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan sosialisasi pada anak usia 4-6 tahun di TK Nusa Indah Ngempon. Hasil: Hasil analisis dengan uji rank spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan sosialisasi pada anak usia 4-6 tahun di TK Nusa Indah Ngempon dimana p value 0,000 . value<0,. dengan nilai korelasi 0,602 yang berarti korelasi antar variabel kuat dan arah hubungan positif. Artinya, semakin baik pola asuh orang tua, semakin tinggi kemampuan sosialisasi yang dimiliki oleh anak. Kesimpulan: Terdapat hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan sosialisasi pada anak usia 4-6 tahun di TK Nusa Indah Ngempon. Kata Kunci:Pola Asuh Orang Tua. Kemampuan Sosialisasi pada Anak ABSTRACT Background: Socialization skills are one of the important aspects that preschool aged chilldren need to develop in order to manage emotions, interact with others, build selfconfidence, and adapt when they begin attending school. Parenting patterns play a significant role in supporting children's socialization abilities in their environment. The purpose of this study is to analyze the relationship between parenting style and socialization skills in children aged 4-6 years at TK Nusa Indah Ngempon. Methods: This study used a cross-sectional design with 64 respondents, mothers of children aged 4-6 years at TK Nusa Indah Ngempon. The variables in this study were analyzed using Spearman's rank correlation test to determine the relationship between parenting patterns and socialization skills in children aged 4-6 years at TK Nusa Indah Ngempon. Results: The analysis using ISSN : 2502-1524 Page | 161 Alifta Dyah Ayu dkk: Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kemampuan Sosialisasi pada Anak Usia 4-6 Tahun di Tk Nusa Indah Ngempon Spearman's rank correlation test revealed a significant relationship between parenting patterns and socialization skills in children aged 4-6 years at TK Nusa Indah Ngempon, with a p-value of 0. -value < 0. and a correlation coefficient of 0. 602, indicating a strong positive correlation between the variables. This means that the better the parenting patterns, the higher the socialization skills in children. Conclusion: There is a relationship between parenting patterns and socialization skills in children aged 4-6 years at TK Nusa Indah Ngempon. Keywords: Parenting Patterns. Socialization Skills in Childrem PENDAHULUAN Usia perkembangan yang sangat pesat dan menentukan bagi kehidupan anak selanjutnya (Marques et al. , 2. Pada masa ini, anak mengalami pertumbuhan fisik, kognitif, emosional, dan sosial secara signifikan. Indonesia, diperkirakan 5Ae25% anak usia prasekolah mengalami gangguan perkembangan, dengan 62,2% di antaranya mengalami gangguan dalam aspek sosialisasi (Depkes RI, dalam Farasari, 2. Kemampuan sosialisasi menjadi aspek penting yang harus dikembangkan pada anak prasekolah agar mereka mampu mengolah emosi, menjalin hubungan sosial, dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah (Mukharis A, 2. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua yang diterapkan dalam keseharian (Suharsono et al. , 2. Kurangnya kemampuan sosialisasi dapat menyebabkan anak merasa cemas dan lebih memilih untuk menyendiri atau bermain sendiri (Izzaty, 2. Orang tua memiliki peran penting dalam pendidikan anak di rumah, dengan memberikan perhatian yang cukup untuk melatih kemampuan sosialisasi anak (Mursalim et al. , 2. Pola asuh yang tepat membantu perkembangan sosial anak, sedangkan pola asuh negatif dapat menghambatnya (Farasari, 2. Anak dengan kesulitan sosialisasi cenderung menarik diri atau bersikap agresif (Mursalim et al. , 2. Penelitian menunjukkan hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan sosialisasi anak prasekolah, dengan pola asuh demokratis mendominasi (Zubaidi A. , 2020. Erna & Mira, 2. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 31 Agustus 2024 di TK Nusa Indah Ngempon, diperoleh data yang menunjukkan total populasi sebanyak 76 anak dengan usia 4-6 tahun. Hasil mengungkapkan bahwa 13 anak cenderung tidak mau bermain bersama teman-temannya, 9 anak yang tidak mau ditinggal ibu nya saat pelajaran berlangsung. Hal ini mengindikasikan potensi masalah kemampuan sosialisasi pada anak. Pola asuh yang diterapkan oleh ISSN : 2502-1524 orang tua dapat membantu membentuk perkembangan kemampuan sosialisasi pada anak. Berdasarkan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan sosialisasi pada anak usia 4-6 tahun di TK Nusa Indah Ngempon. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasi dan rancangan cross-sectional, bertujuan untuk menguji hubungan antara pola asuh orang tua dan kemampuan sosialisasi anak usia 4Ae6 tahun di TK Nusa Indah Ngempon. Populasi penelitian mencakup 76 ibu yang memiliki anak dalam rentang usia tersebut, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling, sehingga seluruh populasi dijadikan sampel Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner yang dirancang untuk mengukur dua variabel utama, yaitu pola asuh orang tua yang diklasifikasikan ke dalam tiga tipe: otoriter, demokratis, dan permisif serta kemampuan sosialisasi anak usia prasekolah. Untuk memastikan kualitas data yang dikumpulkan, dilakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap instrumen kuesioner sebelum pengumpulan data utama. Uji validitas dilakukan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment, dengan kriteria validitas jika nilai korelasi item lebih dari 0,30 (Sugiyono, 2. Hasil pengujian menunjukkan bahwa instrumen pola asuh orang tua yang diadaptasi dari Adelia . memiliki nilai validitas minimum 0,30, sedangkan instrumen kemampuan sosialisasi anak berdasarkan Sari . memperoleh nilai validitas 0,920, yang menunjukkan instrumen tersebut valid dan mampu mengukur aspek yang dituju secara tepat. Selanjutnya, uji reliabilitas dilakukan menggunakan rumus Alpha Cronbach untuk menguji konsistensi internal antaritem dalam instrumen. Hasil perhitungan menunjukkan nilai reliabilitas sebesar CACA = 0,765 untuk variabel pola asuh orang tua dan CACA = 0,640 untuk kemampuan sosialisasi anak. Karena Page | 162 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :161 - 169 keduanya melebihi batas minimum reliabilitas sebesar 0,60 (Arikunto, 2. , maka instrumen dinyatakan reliabel dan dapat diandalkan. Dengan demikian, berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas yang telah dilakukan, kuisioner dalam penelitian ini dapat dikatakan layak dan mampu menilai secara tepat serta konsisten hubungan antara pola asuh orang tua dan kemampuan sosialisasi anak. Selanjutnya, hubungan antara kedua variabel dianalisis menggunakan uji Rank Spearman, dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan dan arah hubungan antara pola asuh yang diterapkan orang tua dengan tingkat kemampuan sosialisasi anak Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah dan praktis terkait pentingnya pendekatan pola asuh yang sesuai dalam mendukung perkembangan sosial anak sejak usia dini. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik responden bertujuan untuk dapat mendeskripsikan responden yang sedang diteliti dan dalam penelitian ini adalah usia ibu, usia anak, jenis kelamin anak, pendidikan terakhir ibu, pekerjaan ibu Usia Ibu Tabel 4. 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Ibu . Usia Ibu Frekuensi Presentase (%) 20-30 tahun >30 tahun Total Pada tabel 4. 1 menunjukkan responden terbanyak usia >30 tahun dengan 54 responden . ,4%). Usia Anak Tabel 4. 2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Anak . Usia Anak Frekuensi Presentase (%) 4 tahun 5 tahun 6 tahun Total Pada tabel 4. 2 menunjukkan responden terbanyak memiliki anak usia 5 tahun, yaitu sebanyak 55 orang . ,9%). Jenis Kelamin Anak Tabel 4. 3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Anak . Jenis Kelamin Frekuensi Presentase (%) Anak Laki-laki ISSN : 2502-1524 Perempuan Total Pada tabel 4. 3 menunjukkan responden terbanyak memiliki anak berjenis kelamin perempuan dengan 33 responden . ,6%). Pendidikan Terakhir Ibu Tabel 4. 4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Ibu . Pendidikan Frekuensi Presentase (%) Terakhir Ibu SMP SMA Total Pada tabel 4. 4 menunjukkan pendidikan terakhir responden terbanyak adalah tingkat SMA dengan jumlah responden 43 . ,2%). Pekerjaan Ibu Tabel 4. 5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Ibu . Pekerjaan Ibu Frekuensi Presentase (%) Tidak bekerja Bekerja Total Pada tabel 4. 5 menunjukkan responden terbanyak yaitu bekerja dengan 38 responden . ,4%). ANALISIS UNIVARIAT Dalam penelitian ini, pola asuh orang tua diukur menggunakan kuesioner yang terdiri dari 20 pertanyaan pilihan ganda, yang dirancang untuk mengidentifikasi tipe pola asuh yang diterapkan oleh orang tua, yaitu otoriter, demokratis, dan Kuesioner ini mengelompokkan respon berdasarkan dominasi jawaban, dimana jika jawaban tipe A mencapai atau melebihi 33,3%, orang tua dikategorikan memiliki pola asuh jika tipe B dominan, maka pola asuhnya dan jika tipe C yang mendominasi, maka pola asuhnya permisif. Skala pengukuran pola asuh bersifat nominal berdasarkan kategori Sedangkan kemampuan sosialisasi anak diukur melalui kuesioner yang berisi 15 pertanyaan Page | 163 Alifta Dyah Ayu dkk: Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kemampuan Sosialisasi pada Anak Usia 4-6 Tahun di Tk Nusa Indah Ngempon yang menilai kemampuan anak untuk menjalin hubungan sosial dan beradaptasi dalam lingkungan Setiap pertanyaan menggunakan skala likert dengan empat tingkat jawaban, yang dibedakan antara pertanyaan dengan muatan positif . dan negatif . Skor total dari kuesioner ini kemudian dikategorikan ke dalam tiga tingkat kemampuan sosialisasi, yakni baik . , cukup . , dan kurang . , dengan skala pengukuran bersifat ordinal. Pendekatan pengukuran ini diharapkan dapat komprehensif mengenai hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan sosialisasi anak usia 4-6 tahun di TK Nusa Indah Ngempon. Pola Asuh Orang Tua Tabel 4. 6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pola Asuh Orang Tua . Pola Asuh Frekuensi Presentase (%) Demokratis Permisif Total Hasil penelitian di atas pada tabel 4. 6 diketahui bahwa responden terbanyak menggunakan pola asuh orang tua kategori demokratis, yaitu sebanyak 53 responden . ,8%). Kemampuan Sosialisasi Pada Anak Usia 4-6 Tahun Tabel 4. 7 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kemampuan Sosialisasi Pada Anak Usia 4-6 Tahun . Kemampuan Frekuensi Presentase (%) Sosialisasi Cukup Kurang Total Hasil penelitian di atas pada tabel 4. 7 diketahui bahwa kemampuan sosialisasi pada anak yaitu cukup sebanyak 54 responden . ,4%). Analisis Bivariat Tabel 4. 8 Analisis Bivariat Pola Asuh Orang Tua Dengan Kemampuan Sosialisasi Pada Anak Hasil penelitian menunjukkan bahwa 53 responden . ,8%) dengan pola asuh demokratis memiliki ISSN : 2502-1524 kemampuan sosialisasi anak yang cukup . ,1%) dan 3 responden . ,7%) yang kurang. Sedangkan 11 responden . ,2%) dengan pola asuh permisif, hanya 4 responden . ,3%) yang menunjukkan kemampuan sosialisasi cukup, dan 7 responden . ,6%) menunjukkan kemampuan sosialisasi Nilai signifikan 0,000 dan korelasi Spearman 0,602 menunjukkan hubungan positif yang kuat antara pola asuh orang tua dan kemampuan sosialisasi anak usia 4-6 tahun di TK Nusa Indah Ngempon. Pola asuh yang baik kemampuan sosialisasi anak. PEMBAHASAN Karakteristik Responden Usia Ibu Usia ibu merupakan rentang waktu yang dihitung sejak kelahiran seorang ibu hingga waktu tertentu. Dalam konteks kesehatan dan penelitian, usia ibu sering dikaitkan dengan berbagai aspek penting, seperti tingkat kedewasaan, pengalaman, kesiapan emosional, serta kondisi fisik yang dapat memengaruhi pola asuh, kesehatan kehamilan, dan perkembangan anak (Lestari, 2. Mayoritas ibu berusia >30 tahun . ,4%), yang cenderung menggunakan pola asuh demokratis . ,9%). Ibu yang lebih tua memiliki pengalaman dan kedewasaan lebih tinggi, yang mendukung perkembangan sosialisasi anak. Usia Anak Usia anak merupakan rentang waktu yang dihitung sejak kelahiran seorang anak hingga waktu tertentu. Dalam konteks perkembangan, usia anak sering digunakan untuk memahami tahapan pertumbuhan fisik, kognitif, emosional, dan sosial yang terjadi pada setiap periode kehidupan anak (Suharsono et al. , 2. Mayoritas anak berusia 5 tahun . ,9%) dengan pola asuh demokratis . ,8%). Anak usia 4-6 tahun berada dalam tahap inisiatif dan mulai mengembangkan keterampilan sosial seperti komunikasi dan kerja sama. Jenis Kelamin Anak Jenis kelamin merupakan konsep Kemampuan Total Sosialisasi Cukup Kurang Pola Demokratis 0,602 Asuh Permisif Total 10 Page 64 | 164 0,000 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :161 - 169 analisis yang digunakan untuk memahami dan mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak hanya dari aspek biologis, tetapi juga dari perspektif non biologis, seperti aspek sosial, budaya, dan psikologis. Hal ini mencakup cara masyarakat membentuk peran, tanggung jawab, serta perilaku yang dianggap sesuai untuk laki-laki dan perempuan dalam berbagai konteks kehidupan (Rikandi. Sebagian besar anak perempuan . ,6%) diasuh dengan pola demokratis . ,8%). Anak perempuan cenderung lebih baik dalam sosialisasi, namun pola asuh perkembangan sosial anak laki-laki. Pendidikan Terakhir Ibu Pendidikan terakhir ibu merujuk pada tingkat pendidikan formal tertinggi yang berhasil diselesaikan oleh seorang ibu. Tingkatan ini mencerminkan latar belakang pendidikan ibu, mulai dari tidak bersekolah, pendidikan dasar (SD), pendidikan menengah (SMP dan SMA), hingga pendidikan tinggi. Mayoritas ibu berpendidikan SMA . ,2%), yang cenderung mengaplikasikan pola asuh demokratis . ,8%). Pendidikan ibu berpengaruh terhadap cara anak bersosialisasi dengan orang lain. Pekerjaan Ibu Pekerjaan ibu merupakan aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh seorang ibu untuk mendapatkan penghasilan, baik dalam bentuk pekerjaan formal maupun Pekerjaan ibu dapat mencakup berbagai bidang, kantoran, wirausaha, pekerjaan lepas, atau pekerjaan rumah tangga (Suharsono et al. Sebagian ibu bekerja . ,4%) dengan pola asuh demokratis . ,4%). Meskipun waktu bersama anak terbatas, ibu yang bekerja bisa mengajarkan keterampilan sosial anak melalui interaksi dengan orang lain. Pola Asuh Pola asuh orang tua merupakan metode atau pendekatan yang digunakan dalam mendidik dan membimbing anak sehari-hari serta membentuk karakter, perilaku, dan nilainilai moral anak. Pola asuh mencerminkan interaksi yang melibatkan kasih sayang, disiplin, komunikasi, dan aturan yang konsisten, yang ISSN : 2502-1524 secara bersama-sama mendukung tumbuh kembang anak secara fisik, emosional, sosial, dan intelektual (Kurniasari et al. , 2. Menurut Baumrind . , pola asuh demokratis dianggap sebagai pendekatan yang paling efektif dan sesuai untuk anak usia prasekolah karena menggabungkan kasih sayang dengan batasan yang jelas dan komunikasi dua arah. Pola asuh ini mendorong anak untuk mengembangkan kemandirian sekaligus memahami konsekuensi perilaku mereka, sehingga meningkatkan kemampuan sosialisasi dan kontrol diri. Studi oleh Darling dan Steinberg . juga menegaskan bahwa pola asuh demokratis berkorelasi positif dengan perkembangan keterampilan sosial dan emosional anak, yang sangat krusial di masa Dalam penelitian ini, mayoritas responden . ,8%) menggunakan pola asuh demokratis, yang ditandai dengan komunikasi terbuka, penghargaan terhadap pendapat anak, serta konsistensi dalam memberikan bimbingan. Pola asuh ini memungkinkan anak untuk merasa dihargai dan didukung, yang sangat penting untuk membangun rasa percaya diri lingkungan sosial. Sebaliknya, pola asuh permisif . ,2%) yang memberikan kebebasan tanpa aturan yang jelas cenderung menghambat perkembangan sosial anak karena kurangnya batasan yang diperlukan untuk mengajarkan disiplin dan tanggung jawab (Maccoby & Martin, 1. Dengan demikian, pola asuh demokratis bukan hanya dominan dalam sampel penelitian ini, tetapi juga secara ilmiah terbukti menjadi pola asuh yang paling tepat untuk mendukung perkembangan sosialisasi anak usia prasekolah. Kemampuan Sosialisasi Anak Kemampuan sosialisasi pada anak merupakan kemampuan anak untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, baik dalam konteks sosial yang lebih luas seperti keluarga, teman sebaya, atau masyarakat. Kemampuan keterampilan sosial yang dibutuhkan agar anak dapat berinteraksi dengan efektif di lingkungan sosialnya (Ristianti & Kisworo, 2. Sebagian kemampuan sosialisasi yang cukup . ,4%), yang dipengaruhi oleh pola asuh demokratis. Anak dengan pola asuh permisif cenderung memiliki kemampuan sosialisasi yang kurang. Page | 165 Alifta Dyah Ayu dkk: Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kemampuan Sosialisasi pada Anak Usia 4-6 Tahun di Tk Nusa Indah Ngempon Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Kemampuan Sosialisasi Pada Anak Usia 4-6 Tahun di TK Nusa Indah Ngempon Hasil uji spearman menunjukkan bahwa korelasi antara pola asuh orang tua dengan kemampuan sosialisasi pada anak adalah Nilai korelasi spearman sebesar 0,602 menunjukkan bahwa arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi kuat. Sehingga peneliti dapat menunjukkan pola asuh orang tua sosialisasi pada anak kurang. Faktor budaya lokal memegang peranan penting dalam membentuk pola asuh orang tua dan kemampuan sosialisasi anak. Budaya setempat memberikan kerangka nilai, norma, dan tradisi yang mempengaruhi cara orang tua mendidik anak serta cara anak berinteraksi dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, di Indonesia, penghormatan terhadap orang tua menjadi pijakan utama dalam pengasuhan. Oleh karena itu, pola asuh yang diterapkan oleh orang tua sering kali mencerminkan nilai-nilai budaya tersebut, yang selanjutnya berdampak pada kemampuan sosialisasi anak di lingkungan sekitar mereka. Budaya lokal juga menentukan bentuk komunikasi, sikap hormat, serta normanorma sosial yang harus dipelajari dan dijalankan anak dalam proses sosialisasi, sehingga pola asuh yang sesuai dengan konteks budaya akan memudahkan anak beradaptasi dan berkembang secara optimal. Berdasarkan hasil analisis hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan sosialisasi pada anak usia 4-6 tahun di TK Nusa Indah Ngempon, ditemukan bahwa sebagian besar anak yang memiliki kemampuan sosialisasi cukup berasal dari keluarga yang menerapkan pola asuh demokratis. Sebaliknya, anak yang menunjukkan kemampuan sosialisasi kurang mayoritas berasal dari pola asuh Temuan ini sesuai dengan penelitian Farasari . yang menyatakan bahwa 81,8% responden menerapkan pola asuh demokratis, serta penelitian Suharsono et al. yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pola asuh orang tua dan kemampuan sosialisasi anak, dengan 44,7% responden menggunakan pola asuh demokratis dan 85,2% anak memiliki kemampuan sosialisasi yang Pola penghargaan terhadap pendapat anak, dan ISSN : 2502-1524 konsistensi disiplin, sejalan dengan kebutuhan perkembangan sosial anak yang membutuhkan ruang untuk belajar berinteraksi secara efektif dengan lingkungannya. Orang tua memegang berbagai peran penting dalam keluarga, terutama dalam memberikan pola asuh yang berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Mereka memiliki hak dan kewajiban sebagai pihak utama yang bertanggung jawab mendidik dan membimbing anak-anak mereka. Peneliti berpendapat bahwa semakin baik pola asuh yang diterapkan orang tua, terutama yang mengedepankan komunikasi terbuka, penghargaan terhadap anak, dan disiplin yang konsisten seperti pola asuh demokratis, maka semakin kecil kemungkinan terjadi kesalahan gaya pengasuhan yang bisa menghambat kemampuan sosialisasi anak. Selain itu, pola asuh yang selaras dengan budaya lokal membantu anak memahami norma dan nilai yang berlaku di masyarakatnya sehingga sosialisasi menjadi lebih efektif. Dengan mempertimbangkan pengaruh budaya lokal, pola asuh yang selaras dengan nilai-nilai budaya setempat akan lebih efektif dalam mendukung perkembangan sosial anak. Sebaliknya, pola asuh yang tidak sesuai dengan konteks budaya dan lingkungan sosial anak berpotensi menimbulkan hambatan dalam proses sosialisasi, seperti kesulitan anak dalam memahami norma atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengadaptasi gaya pengasuhan mereka sesuai dengan nilai-nilai budaya sekaligus memperhatikan kebutuhan perkembangan anak secara individual agar kemampuan sosialisasi dapat berkembang Pendekatan ini tidak hanya menguatkan ikatan keluarga, tetapi juga masyarakat yang mampu berinteraksi dengan baik dan menjalankan peran sosialnya secara SIMPULAN Simpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan kemampuan sosialisasi pada anak usia 4-6 tahun di TK Nusa Indah Ngempon. Pola asuh demokratis terbukti lebih mendukung perkembangan kemampuan sosialisasi anak, dengan sebagian besar anak yang memiliki kemampuan sosialisasi cukup berasal dari orang tua yang menerapkan pola asuh ini. Sebaliknya, pola asuh permisif cenderung menghambat perkembangan kemampuan sosialisasi Page | 166 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :161 - 169 Penelitian ini menunjukkan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan sosial anak melalui gaya pengasuhan yang diterapkan. Oleh karena itu, penerapan pola asuh yang tepat, khususnya pola asuh demokratis, dapat memfasilitasi anak untuk berkembang dengan baik dalam interaksi sosial dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. SARAN Saran yang dapat diberikan berdasarkan temuan penelitian ini adalah agar orang tua lebih memperhatikan penerapan pola asuh yang sosialisasi anak, terutama pola asuh demokratis. Dengan demikian, orang tua diharapkan dapat memahami pentingnya gaya pengasuhan yang baik untuk perkembangan sosial anak. Dalam implikasi ilmu keperawatan, temuan penelitian ini juga sangat relevan dalam konteks pendidikan anak usia dini di sekolah. Guru dan tenaga pendidik dapat memanfaatkan hasil ini sebagai dasar untuk mengembangkan program pembelajaran dan intervensi yang sosialisasi anak, terutama dengan memperhatikan latar belakang pola asuh yang diterapkan di rumah. Dengan memahami pola asuh demokratis yang berkontribusi positif pada kemampuan sosialisasi anak, pendidik dapat menciptakan lingkungan belajar yang mengakomodasi kebutuhan sosial emosional anak, serta berkolaborasi dengan orang tua untuk memperkuat pola asuh yang sesuai. Hasil penelitian ini menjadi landasan penting bagi perawat untuk memberikan edukasi dan konseling kepada orang tua mengenai pola asuh yang dapat mendukung kemampuan sosialisasi anak. Perawat juga dapat berperan aktif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat melalui seminar, penyuluhan, dan penyediaan materi informasi yang mudah diakses terkait pentingnya pola asuh yang baik bagi perkembangan sosial anak. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan kemampuan sosialisasi anak, baik di dalam keluarga maupun di masyarakat luas. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ns. Kurnia Wiyanti. Kep. Kep. , selaku Pembimbing 1, atas bimbingan, arahan, dan dukungan yang luar biasa selama proses penelitian ini berlangsung. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada orang tua ISSN : 2502-1524 murid yang telah memberikan dukungan baik secara moril maupun materiil sehingga penelitian ini dapat berjalan lancar. Tidak lupa, peneliti menyampaikan apresiasi yang tulus kepada para murid TK Nusa Indah Ngempon yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini, serta kepada seluruh guru dan staf TK Nusa Indah yang dengan penuh kesabaran dan kerjasama memfasilitasi proses pengumpulan data. Tanpa dukungan dan kerjasama dari semua pihak tersebut, penelitian ini tidak akan terselesaikan dengan baik. Terima kasih juga disampaikan kepada teman-teman dan semua pihak yang telah memberikan semangat dan bantuan berharga selama penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA