ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN RUAM POPOK PADA BAYI DAN BALITA DI KELURAHAN TANJUNG BUNTUNG Sudarsono1. Nopri Esmiralda2. Eshan Ratu Azzahra3 Fakultas Kedokteran Universitas Batam, sudarsono@univbatam. Fakultas Kedokteran Universitas Batam, nopriesmiralda@univbatam. Fakultas Kedokteran Universitas Batam, ratuazzahra1602@gmail. ABSTRACT Background: Diaper rash . iaper dermatiti. is an inflammatory eruption in the area covered by The usual initial symptoms of diaper rash are mild redness in the area around the use of diapers that is limited in nature accompanied by abrasions or minor wounds on the skin, shiny, sometimes similar to burns and wetness, red spots and swelling in the area most exposed to diapers. Method: This study is an observational analytic study using a cross sectional approach conducted in Tanjung Buntung Subdistrict, the work area of the Tanjung Buntung Health Center. Batam City in December 2023. The sampling technique was accidental sampling technique with a total sample size of 60 respondents. The data analysis used was univariate analysis and bivariate analysis with the Chi-Square test Result: From the results of the study, it was found that the type of diaper, frequency of changing diapers, and diarrhea had an association with the incidence of diaper rash. The results of the ChiSquare statistical test obtained a p value for the type of diaper with the incidence of diaper rash 0. (<0. , the p value for the frequency of changing diapers with the incidence of diaper rash 0. (<0. , and the p value for diarrhea with the incidence of diaper rash 0. 000 (<0. Conclusion: Based on this study, there is a relationship between diaper type, frequency of diaper changing, and diarrhea with the incidence of diaper rash in infants and toddlers in Tanjung Buntung Subdistrict. Keywords: Diapers. Diarrhea. Diaper Rash ABSTRAK Latar Belakang: Ruam popok . iaper rash atau diaper dermatiti. merupakan erupsi inflamasi di daerah yang tertutupi oleh popok. Gejala awal ruam popok yang biasa terjadi seperti kemerahan ringan di daerah sekitar penggunaan popok yang bersifat terbatas disertai dengan lecet atau luka ringan pada kulit, berkilat, terkadang mirip luka bakar dan basah, timbul bintik-bintik merah dan bengkak pada daerah yang paling lama terkena popok. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional yang dilakukan di Kelurahan Tanjung Buntung, wilayah kerja Puskesmas Tanjung Buntung Kota Batam pada Desember 2023. Teknik pengambilan sampel yaitu menggunakan teknik accidental sampling dengan jumlah sampel sebanyak 60 responden. Analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil: Dari hasil penelitian didapatkan bahwa jenis popok, frekuensi mengganti popok, dan diare memiliki hubungan dengan kejadian ruam popok. Hasil uji statistik Chi-Square didapatkan nilai p untuk jenis popok dengan kejadian ruam popok 0. 036 (< 0,. , nilai p untuk frekuensi mengganti popok dengan kejadian ruam popok 0. 042 (< 0,. , dan nilai p untuk diare dengan kejadian ruam 000 (< 0,. Simpulan: Berdasarkan penelitian ini bahwa terdapat hubungan antara jenis popok, frekuensi mengganti popok, dan diare dengan kejadian ruam popok pada bayi dan balita di Kelurahan Tanjung Buntung. Kata Kunci: Popok. Diare. Ruam Popok Universitas Batam Batam Batam Page 171 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 PENDAHULUAN Ruam popok . iaper rash atau diaper dermatiti. merupakan erupsi inflamasi di daerah yang tertutupi oleh popok. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit kulit yang sering dijumpai pada bayi dan balita (Rakhma et al. , 2. Penelitian Philip yang dipublikasikan dalam The Avon Longitudinal Study of Pregnancy & Childhood (ALSPAC) survey team British Journal of General Practice pada bulan Agustus 2009, menunjukan bahwa ruam popok dapat terjadi pada bayi setidaknya 1 kali selama masa tumbuh kembangnya (Rani et al. , 2. Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) pada tahun 2012 prevalensi ruam popok pada balita cukup tinggi yaitu 25% dari 6. 000 bayi yang lahir di dunia. Tingkat kejadian ruam popok pada bayi usia 9-12 bulan berkisar antara 50% hingga 60% (Peytavi et al. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia kejadian ruam popok di Indonesia mencapai 7-35% pada tahun 2017, ruam popok biasanya terjadi pada usia kurang dari 3 tahun dengan insiden terbanyak pada usia 9-12 bulan. Bahkan pada bulan April 2023 Direktur Promosi Kesehatan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menyatakan bahwa kejadian ruam popok di Indonesia meningkat sekitar 65%. Kasus ruam popok yang terjadi di Kota Batam berdasarkan Dinas Kesehatan Kota Batam pada tahun 2016 dari bulan Januari sampai Oktober terdapat 210 orang (Rima, 2. Ruam peradangan pada kulit di daerah perineum dan perianal yang sering terlihat pada bayi dan balita. Biasanya, ruam popok muncul terutama antara usia 9 hingga 12 bulan. Kondisi ini lebih umum terjadi pada anakanak dan tidak ada perbedaan signifikan berdasarkan kelompok etnis atau jenis kelamin (Anthonella et al. , 2. Gejala Universitas Batam Batam Batam awal yang biasa terjadi seperti kemerahan ringan di daerah sekitar penggunaan popok yang bersifat terbatas disertai dengan lecet atau luka ringan pada kulit, berkilat, terkadang mirip luka bakar dan basah, timbul bintik-bintik merah dan bengkak pada daerah yang paling lama terkena popok seperti paha (Anggraini, 2. Ruam popok terutama disebabkan oleh pemakaian popok yang terlalu basah yang jarang diganti, sehingga meningkatkan tingkat kelembaban di sekitar area popok. Ini juga dapat terjadi pada pasien yang mengalami inkontinensia dan memerlukan menampung urin atau tinja. Namun, ada penyebab lain seperti dermatitis atopik dan dermatitis kontak iritan yang dapat muncul dalam bentuk ruam popok (Ullya. Widyawati & Desy, 2. Penyebab umum lain adalah infeksi Candida albicans, yang dapat terjadi sebagai penyebab utama atau akibat. Dermatitis popok umumnya termasuk masalah kulit yang tidak serius dan bisa sembuh dengan sendirinya, sehingga dapat diatasi dengan perawatan sederhana yang dapat dilakukan di rumah (Maja et al, 2. Ada beberapa faktor risiko yang diidentifikasi dan berperan meningkatkan terjadinya ruam popok diantaranya jenis penggantian popok, pemberian bedak bayi, dan diare (Katya et al, 2. Prevalensi ruam popok menurun secara signifikan dengan penggantian popok Ou 6 kali/hari dibandingkan dengan frekuensi penggantian popok yang lebih sedikit, hal ini mendukung pendapat bahwa popok harus diganti setidaknya setiap 3 Ae 4 jam. Oleh karena itu, seringnya mengganti popok penting untuk meminimalkan efek negatif dari kelembapan, dengan menjaga kekeringan kulit dan dengan memisahkan urin dan feses dari kulit. Popok harus diganti sesegera mungkin setelah basah atau kotor (Jin-seon et al, 2. Diare mungkin merupakan faktor Page 172 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 risiko penting terjadinya ruam popok. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dipublikasikan oleh CH Li et al . yang melaporkan efek negatif diare pada ruam popok. Cara penularan diare pada umumnya melalui cara fecal-oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen , atau kontak langsung dengan tangan penderita atau barangbarang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat . elalui 4F= finger, flies, fluid, fiel. (Isramilda, 2. Ketika anak-anak mengalami diare, produksi feses cair yang lebih sering dikaitkan dengan waktu transit usus yang lebih singkat, yang berarti bahwa feses mengandung lebih banyak sisa enzim pencernaan yang dapat menyebabkan iritasi kulit. Buang air besar yang encer mengiritasi kulit sensitif anakanak dan dapat menyebabkan ruam pada bokong (Fadillah & Nelva, 2. Dalam kebanyakan kasus, masalah ruam popok dapat sepenuhnya teratasi dengan upaya bersama orang tua dalam menjaga kebersihan area popok. Waktu penyembuhan biasanya beberapa hari untuk dermatitis iritan yang tidak rumit, intertrigo, dan miliaria. Sementara itu, infeksi kandida dapat memakan waktu beberapa minggu setelah pengobatan dimulai (Rania, 2. Diaper dermatitis dapat menghasilkan komplikasi seperti ulkus berbentuk lubang atau erosi dengan tepi yang terangkat, yang dikenal sebagai "Jacquet erosive diaper dermatitis. " Selain papula/nodul yang menyerupai kondisi veruka palsu, serta plak dan nodul berwarna abu-abu yang dikenal sebagai "granuloma gluteale infantum. " Jacquet erosive diaper dermatitis adalah bentuk yang parah dari diaper dermatitis dengan tanda-tanda klinis yang mencakup ulserasi berat atau erosi dengan tepi yang terangkat (Rakhma et al, 2. Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ruam popok pada bayi dan balita di Kelurahan Tanjung Buntung. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling dengan jumlah sampel 60 responden. Penenlitian ini dilakukan dengan menggunakan lembar checklist. Analisis data menggunakan dengan uji Chi-Square. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Popok Pada Bayi Dan Balita Di Kelurahan Tanjung Buntung Tabel 1. Jenis Popok Jenis Popok Popok Kain Popok Sekali Pakai Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan tabel 1 diperoleh hasil bahwa responden yang menggunakan popok kain didapatkan sebanyak 11 . didapatkan sebanyak 49 responden . 7%). Distribusi Frekuensi Berdasarkan Frekuensi Mengganti Popok Pada Bayi Dan Balita Di Kelurahan Tanjung Buntung Tabel 2. Frekuensi Mengganti Popok Frekuensi Mengganti Popok Ou6 Kali Sehari <6 Kali Sehari Total Frekuensi . Persentase (%) METODE PENELITIAN Berdasarkan tabel 2 diperoleh hasil Universitas Batam Batam Batam Page 173 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 bahwa responden yang mengganti popok Ou6 kali sehari didapatkan sebanyak 18 responden . 0%) dan yang mengganti popok <6 kali sehari didapatkan sebanyak 42 responden . 0%). Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pemberian Bedak Bayi Ketika Ruam Popok Pada Bayi Dan Balita Di Kelurahan Tanjung Buntung Tabel 3. Pemberian Bedak Bayi Ketika Ruam Popok Bedak Bayi Diberi Bedak Bayi Tidak Diberi Bedak Bayi Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan tabel 3 diperoleh hasil bahwa responden yang diberi bedak bayi ketika ruam popok didapatkan sebanyak 9 responden . 0%) dan yang tidak diberi bedak bayi ketika ruam popok didapatkan sebanyak 51 responden . 0%). Distribusi Frekuensi Berdasarkan Diare Pada Bayi Dan Balita Di Kelurahan Tanjung Buntung Tabel 4. Diare Diare Diare Tidak Diare Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan tabel 4 diperoleh hasil bahwa responden yang mengalami diare didapatkan sebanyak 23 responden . 3%) dan yang tidak mengalami diare didapatkan sebanyak 37 responden . 7%). Universitas Batam Batam Batam Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Ruam Popok Pada Bayi Dan Balita Di Kelurahan Tanjung Buntung Tabel 5. Ruam Popok Kejadian Ruam Popok Ruam Popok Frekuensi . Persentase (%) Tidak Ruam Popok Total Berdasarkan tabel 5 diperoleh hasil bahwa responden yang mengalami ruam popok didapatkan sebanyak 32 responden . 3%) dan yang tidak mengalami ruam popok didapatkan sebanyak 28 responden . 7%). Analisis Bivariat Hubungan Jenis Popok dengan Kejadian Ruam Popok Pada Bayi Dan Balita Di Kelurahan Tanjung Buntung Tabel 6. Hubungan Jenis Popok dengan Kejadian Ruam Popok Pada Bayi dan Balita Ruam Popok Jenis Popok Tidak Total Popok Kain 8% 18. 2% 100% Popok Sekali Pakai Total PValue . 9% 53. 1% 100% Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 6 tentang distribusi frekuensi jenis popok dengan kejadian ruam popok pada bayi dan balita di Kelurahan Tanjung Buntung Page 174 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 menunjukkan bahwa dari 60 responden sebanyak 9 . 8%) anak menggunakan popok kain mengalami ruam popok dan sebanyak 2 . 2%) anak menggunakan popok kain tidak mengalami ruam popok, sedangkan sebanyak 23 . 9%) anak mengalami ruam popok dan sebanyak 26 . 1%) anak menggunakan popok sekali pakai tidak mengalami ruam popok. Hasil analisis statistik menunjukan dengan keputusan uji adalah H0 ditolak . <0,. ), disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara jenis popok dengan kejadian ruam popok pada bayi dan balita di Kelurahan Tanjung Buntung dan didapatkan nilai OR sebesar 5. 087 bahwa penggunaan popok kain memiliki resiko 5 kali lebih terjadi ruam popok dibandingkan dengan penggunaan popok sekali pakai. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh NgAoangAoa Ann Wanjiku . memperlihatkan bahwa terdapat peningkatan kejadian yang signifikan pada dermatitis popok di antara anak-anak yang menggunakan popok kain 0%, pada penelitian ini menunjukan kejadian ruam popok beresiko 5 kali lipat [AOR = 6,15. 95% CI: 1,4226,71. P = 0,. dibandingkan dengan yang menggunakan popok sekali pakai. Penelitian lain yang dilakukan oleh Katya. Amy dan Patricia . memperlihatkan bahwa terdapat 4 kasus yang diteliti terdapat keterkaitan antara popok kain dengan kejadian ruam popok. Beberapa merekomendasikan popok kain untuk digunakan pada bayi dikarenakan dapat memicu pertumbuhan bakteri lebih tinggi dan cepat untuk mengalami ruam popok (Lisa, 2. Popok sekali pakai memiliki Universitas Batam Batam Batam gel superabsorbent, lapisan luar yang dapat bernapas, dan desain secara keseluruhan yang lebih tipis dapat menyesuaikan dengan tubuh anak, semua ini telah menyebabkan penurunan kejadian ruam popok di negara-negara maju. Saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa signifikan dibandingkan dengan popok sekali pakai dalam perlindungan kulit, lingkungan (Lauren dan Heather, 2. Hubungan Frekuensi Mengganti Popok dengan Kejadian Ruam Popok Pada Bayi Dan Balita Di Kelurahan Tanjung Buntung Tabel Hubungan Frekuensi Mengganti Popok dengan Kejadian Ruam Popok Pada Bayi dan Balita Frekuensi Mengganti Popok Ou6 Kali Sehari <6 Kali Sehari Total Ruam Popok Tidak Total POR Value 3% 66. 7% 100% 1% 100% Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 7 menunjukan bahwa jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 60 responden. Sebanyak 6 . 3%) anak dengan frekuensi mengganti popok Ou6 kali sehari mengalami ruam popok dan sebanyak 12 . 7%) anak dengan frekuensi mengganti popok Ou6 kali sehari tidak mengalami ruam popok, sedangkan sebanyak 26 . 9%) anak dengan frekuensi mengganti popok <6 kali sehari mengalami ruam popok dan sebanyak 16 . 1%) anak Page 175 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 dengan frekuensi mengganti popok <6 kali sehari tidak mengalami ruam popok. Hasil analisis statistik menunjukan dengan keputusan uji adalah H0 ditolak . <0,. ), disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi mengganti popok dengan kejadian ruam popok pada bayi dan balita di Kelurahan Tanjung Buntung dan didapatkan nilai OR sebesar 923 bahwa frekuensi mengganti popok <6 kali sehari memiliki resiko 2 kali lebih besar terjadi ruam popok dibandingkan dengan frekuensi mengganti popok Ou6 kali Penelitian ini juga didukung dengan Mohammad Alghamdi menunjukkan bahwa terdapat responden yang mengganti popok <6 kali sehari dan mengalami ruam popok mencapai . ,12%). Kontak yang berkepanjangan dengan peningkatan gesekan, merusak kulit dengan abrasi yang lebih besar, meningkatkan permeabilitas transepiderma dan meningkatkan jumlah mikroba. Dengan demikian, kulit yang sehat menjadi kurang resisten terhadap potensi iritan (Asyaul Wasiah et al, 2. Prevalensi ruam popok menurun secara signifikan dengan penggantian popok Ou 6 kali/hari dibandingkan dengan frekuensi penggantian popok yang lebih sedikit, hal ini mendukung pendapat bahwa popok harus diganti setidaknya setiap 3 Ae 4 jam (CH Li et al, 2. Universitas Batam Batam Batam Hubungan Penggunaan Bedak Bayi Ketika Ruam Popok Kejadian Ruam Popok Pada Bayi Dan Balita Di Kelurahan Tanjung Buntung Tabel 8. Hubungan Penggunaan Bedak Bayi Ketika Ruam Popok Kejadian Ruam Popok Pada Bayi Dan Balita Ruam Popok Bedak Bayi Tidak Total Bedak Bayi 3% 66. 7% 100% Tidak Diberi Bedak Bayi 0% 49. 0% 100% Total PValue . Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat dilihat pada tabel 8 diperoleh hasil bahwa sebanyak 6 . anak diberikan bedak bayi ketika ruam popok mengalami ruam popok dan sebanyak 3 . 7%) anak diberikan bedak bayi ketika ruam popok tidak mengalami ruam popok, sedangkan sebanyak 26 . 0%) anak tidak diberikan bedak bayi ketika ruam popok mengalami ruam popok dan sebanyak 25 . 0%) tidak diberi bedak bayi ketika ruam popok tidak mengalami ruam popok. Hasil analisis statistik menunjukan dengan keputusan uji adalah H0 diterima . -value 0. >0,. ), sehingga disimpulkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian bedak bayi ketika ruam popok dengan kejadian ruam popok pada bayi dan balita di Kelurahan Tanjung Buntung. Pada hasil penelitian Page 176 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 yang dilakukan di Kelurahan Tanjung Buntung, sebagian besar responden tidak memberikan bedak bayi ketika ruam Sebagian besar responden telah memberikan bedak bayi akan sangat berdampak pada peningkatan ruam popok yang terjadi pada anaknya, sedangkan langkah yang dilakukan para responden untuk mengurangi terjadinya ruam popok dengan memberikan lotion/salep pelembab Berbeda halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Khairoh . di Desa Bulukagung Madura, diperoleh hasil penggunaan beda bayi pada area genetalia bayi usia 0-9 bulan terhadap kejadian diaper rash. Penelitian tersebut didapat bahwa terdapat bayi yang mengalami ruam popok berat dan diberikan bedak bayi pada area genetalia mencapai 80%. Hasil analisa statistik dengan uji chi square, diperoleh hasil A=0,000 <0,05. Hubungan Diare dengan Kejadian Ruam Popok Pada Bayi Dan Balita Di Kelurahan Tanjung Buntung Tabel 9. Hubungan Diare dengan Kejadian Ruam Popok Pada Bayi Dan Balita Ruam Popok Tidak Total Tidak Diare Total Diare Diare Universitas Batam Batam Batam PValue . Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat dilihat pada tabel 9 diperoleh hasil bahwa sebanyak 19 . 6%) anak sedang mengalami diare terjadi ruam popok dan sebanyak 4 . 4%) anak sedang mengalami diare tidak terjadi ruam popok, sedangkan sebanyak 13 . 1%) anak tidak sedang mengalami diare terjadi ruam popok dan sebanyak 24 . 9%) anak tidak sedang mengalami diare tidak terjadi ruam popok. Hasil analisis statistik menunjukan dengan keputusan uji adalah H0 ditolak . <0,. ), disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara mengalami diare dengan kejadian ruam popok pada bayi dan balita di Kelurahan Tanjung Buntung dan didapatkan nilai OR sebesar 8. 769 bahwa bayi yang mengalami diare memiliki resiko 9 kali lebih besar terjadi ruam popok dibandingkan dengan bayi yang tidak mengalami diare. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Porntipa Suebsarakam et al . bahwasannya terdapat 16 kasus diare yang terdokumentasi dalam populasi penelitian. Pada 15 kasus, anakanak mengalami ruam popok bersamaan dengan diare. Hanya ada 1 kasus yang menunjukan anak tidak mengalami ruam popok pada saat diare terjadi. Terdapat korelasi yang signifikan secara statistik antara diare dan dermatitis popok (OR = 190, 95% CI = 22. P <. Komplikasi yang sering terjadi pada anak yang mengalami diare adalah masalah kulit, di antaranya dapat ditandai dengan kemerahan yang disebut ruam popok atau diaper dermatitis. Tingginya produksi feses dapat menyebabkan kelembaban di sekitar daerah genital, yang Page 177 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 kemudian dapat menghasilkan ruam karena pemakaian popok yang berlangsung Diaper dermatitis umumnya muncul di area pantat, lipatan paha, dan sekitar organ genital (Maryunani, 2. Feses yang memiliki konsistensi cair pada anak yang mengalami diare dapat menyebabkan cedera pada kulit karena adanya kontak yang sering, yang pada akhirnya dapat merusak jaringan perianal jika tidak diberikan perlindungan (Cooper, 2011. Nazarko, 2007 dalam Bianchi, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah diteliti oleh peneliti dengan jumlah sampel sebanyak 60 responden dengan judul AuAnalisis Faktor-Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Ruam Popok Pada Bayi Dan Balita Di Kelurahan Tanjung Buntung Tahun 2023Ay dapat disimpulkan sebagai berikut : Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 11 anak . 3%) yang menggunakan popok kain dan sebanyak 49 anak . 7%) yang menggunakan popok sekali pakai. Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 18 anak . 0%) yang mengganti popok Ou6 kali sehari dan sebanyak 42 anak . 0%) yang mengganti popok <6 kali Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 9 anak . 0%) yang diberikan bedak bayi ketika ruam popok dan sebanyak 51 anak . 0%) yang tidak diberikan bedak bayi ketika ruam popok. Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 23 anak . 3%) yang mengalami diare dan sebanyak 37 anak . 7%) yang tidak mengalami diare. Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 32 anak . 3%) yang mengalami ruam Universitas Batam Batam Batam popok dan sebanyak 28 anak . yang tidak mengalami ruam popok. Terdapat hubungan yang bermakna antara jenis popok dengan kejadian ruam popok pada bayi dan balita di Kelurahan Tanjung Buntung dengan memperlihatkan bahwa penggunaan popok kain memiliki resiko 5 kali lebih besar (OR= 5. terjadi ruam popok popok sekali pakai. Terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi mengganti popok dengan kejadian ruam popok pada bayi dan balita di Kelurahan Tanjung Buntung dengan memperlihatkan bahwa frekuensi mengganti popok <6 kali sehari memiliki resiko 2 kali lebih besar (OR= 1. terjadi ruam popok mengganti popok Ou6 kali sehari. Tidak bermakna antara pemberian bedak bayi ketika ruam popok dengan kejadian ruam popok pada bayi dan balita di Kelurahan Tanjung Buntung. Terdapat hubungan yang bermakna antara mengalami diare dengan kejadian ruam popok pada bayi dan balita di Kelurahan Tanjung Buntung dengan memperlihatkan bahwa bayi yang mengalami diare memiliki resiko 9 kali lebih besar (OR= 8. terjadi ruam popok dibandingkan dengan bayi yang tidak mengalami diare SARAN Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat khususnya ibu yang memiliki bayi dan balita mengenai faktor risiko yang berhubungan dengan ruam popok seperti jenis popok yang dipilih. Page 178 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 2 MEI 2024 frekuensi penggantian popok dan kejadian UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Pra Reda Gusti. SKM selaku Kepala UPT. Puskesmas Tanjung Buntung Kota Batam yang telah memberikan izin dan membantu selama penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA