Jurnal Riset Media Keperawatan ISSN: 2527-368X (Prin. 2621-4385 (Onlin. Hubungan Konsep Diri dengan Kesehatan Jiwa Remaja Di SMP Insan Kamil Islamic School Susilawati1,*. Aldiana Penantian2. Lussyefrida Yanti 3. Juli Andri 4 1,2,3, 4 Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Jalan Adam Malik KM 9 Kelurahan Sidomulyo Kecematan Gading Cempaka Kota Bengkulu 38216. Indonesia *susilawati@umb. *corresponding author Abstrak Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan kepribadian dan keseimbangan emosional Kesehatan jiwa di usia ini sangat menentukan kemampuan individu untuk menyesuaikan diri, mengelola perasaan, serta menjalin hubungan sosial secara sehat. Konsep diri merupakan salah satu faktir yang mendukungn kesejahteraan mental remaja. Studi ini dilakukan untuk mengidentifikasi adanyang ketehubungan antara variable konsep diri dengan variabel kesehatan jiwa pada remaja yang bersekolah di SMP Insan Kamil Islamic School. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan korelasional. Sampel diambil secara total sampling sebanyak 38 siswa kelas Vi. Alat ukur yang dipakai dalam proses pengumpulan data pada studi ini adalah kuesioner konsep diri serta kuesioner kesehatan jiwa juga sudah melewati tahapan uji validitas dan reliabilitas. Uji Spearman Rank digunakan untuk menganalisis data karena data tidak terdistribusi normal dan data memliki skala ordinal. Analisis ini mengindikasikan adanya keterkaitan positif yang berkorelasi antara konsep diri dan kesehatan jiwa remaja dengan nilai p = 0,. Remaja dengan konsep diri positif biasanya menunjukkan kestabilan mental yang lebih baik, mampu beradaptasi dengan baik, serta memiliki keseimbangan emosi yang lebih baik. Terdapat korelasi yang signifikan Ada korelasi yang bermakna dari konsep diri terhadap kesehatan jiwa remaja di SMP Insan Kamil Islamic School. Diperlukan dukungan sekolah melalui pembinaan karakter dan program konseling Islami untuk memperkuat konsep diri positif peserta didik sehingga kesehatan jiwanya dapat meningkat. Kata kunci: konsep diri, kesehatan jiwa, remaja, sekolah Islam The Relationship Between Self-Concept and Mental Health of Adolescents at Insan Kamil Islamic School Junior High School Abstract Adolescence is a vital stage in forming an individualAos personality as well as emotional stability. Mental health during this period determines a personAos ability to adapt, manage emotions, and build healthy social One of the key factors influencing adolescent mental well-being is self-concept. The present the study was conducted to to identify how self-concept is related to the mental well-being of students at SMP Insan Kamil Islamic School. A quantitative correlational approach was employed in this research. The study involved all 34 eighth-grade students using the total sampling technique Data for this study were collected using of validated, reliable research instruments on self-concept as well as mental health. The SpearmanAos Rank The data were analyzed using correlation, as the data were ordinal as well as not normally distributed. The he The study found a meaningful positive correlation with self-concept as well as mental health . = 0. Students who had a positive self-concept were likely to exhibit better emotional balance, stronger adaptability, and healthier psychological conditions. There was found to be a significant association between self-concept and mental health among adolescents at SMP Insan Kamil Islamic School. School-based interventions through character education and Islamic counseling programs are recommended to strengthen positive self-concept and enhance studentsAo mental well-being. Keywords: self-concept, mental health, adolescence. Islamic school PENDAHULUAN Tahap perkembangan pada masa remaja sangat urgensi karena melibatkan fisik yang mengalami perubahan, kognitif, emosional, dan sosial yang pesat (Sarfika et al. , 2. Pada fase ini, individu mulai membangun identitas diri dan persepsi terhadap dirinya sendiri, yang dikenal sebagai konsep diri. Konsep diri mencerminkan keyakinan dan pemikiran individu terhadap kemampuan serta identitas dirinya melihat atau memberikan pandangan tentang kemampuan, nilai, dan peran sosialnya, yang membentuk cara mereka menghadapi tantangan hidup sehari-hari serta interaksi sosial (Yeo et al. , 2. Secara psikologis, konsep diri berperan sebagai fondasi utama bagi kesejahteraan mental remaja (Fauziah & Rofiqoh, 2. Teori Rosenberg menekankan bahwa konsep diri mencerminkan penilaian atau refleksi pribadi terhadap kelebihan dan kekurangan diri, baik secara global ataupun dalam aspek tertentu, yang memengaruhi motivasi, emosi, dan perilaku sehari-hari. Persepsi remaja terhadap penerimaan diri dari teman sebaya dan orang tua berperan penting dalam membentuk konsep diri yang sehat (Lukoevisit-Barauskien et al. , 2. Penelitian empiris menandakan bahwa remaja dengan positifnya konsep diri seseorang berkorelasi dengan kecenderungan untuk memiliki kemampuan yang lebih tinggi dalam menghadapi berbagai situasi dalam mengatasi stres akademik, memiliki kepercayaan diri tinggi, dan stabilitas psikologis yang lebih baik (Fauziah & Rofiqoh, 2. Sebaliknya, remaja dengan konsep diri yang rendah berisiko mengalami gangguan psikologis seperti depresi dan kecemasan. Penelitian (Utami & Astuti, 2. menunjukkan bahwa rendahnya harga diri pada remaja dapat meningkatkan kerentanan terhadap depresi, terutama pada mereka yang mengalami tekanan sosial atau cyberbullying. Data penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa remaja menghadapi berbagai tekanan, baik dari sekolah maupun lingkungan sosial (Fauziah & Rofiqoh, 2. Misalnya, (Sarfika et al. , 2. menemukan bahwa sebagian remaja di daerah pesisir mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan tuntutan akademik dan sosial, yang berdampak pada kesehatan mental mereka. Faktor sosial, termasuk dukungan keluarga dan hubungan dengan teman sebaya, terbukti berperan signifikan dalam memperkuat konsep diri (Purnama & Fitriana, 2. Sekolah yang menyediakan lingkungan belajar suportif, interaksi sosial yang positif, dan dukungan guru dapat meningkatkan penerimaan diri remaja dan mengurangi risiko gangguan psikologis (Hilman et al. , 2. Di sekolah berbasis agama seperti SMP Insan Kamil Islamic School, penanaman nilai spiritual dan karakter moral dianggap sebagai faktor tambahan yang dapat memperkuat konsep diri Nilai-nilai agama yang diterapkan melalui kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler dapat membantu siswa mengembangkan rasa percaya diri, kontrol diri, dan ketahanan emosional (Hedo & Katmini, 2. Selain itu, intervensi berbasis konseling dan pendidikan karakter terbukti efektif dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis dan mengurangi gejala stres atau cemas pada remaja (Handayani et al. , 2. Meskipun demikian, beberapa remaja emosional dan kesulitan menyesuaikan diri dengan tuntutan akademik serta Penelitian Purnama & Fitriana penggunaan media sosial yang dapat terpengaruhnya persepsi diri pada remaja dan berpotensi menimbulkan stres, sehingga berdampak pada kesehatan mental mereka jika tidak dikelola dengan baik (Purnama & Fitriana, 2. Fenomena ini menegaskan pentingnya penelitian yang menelaah hubungan antara konsep diri dan kesehatan jiwa remaja, agar hasilnya dapat menjadi dasar intervensi yang sesuai dengan konteks sekolah Islam. Vol. 8 No. 2 December 2025 | 160 Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini diarahkan untuk mengeksplorasi hubungan atau korelasi antara konsep diri dan kesehatan jiwa siswa kelas Vi di SMP Insan Kamil Islamic School. Temuan penelitian diharapkan dapat memberikan rekomendasi praktis untuk mendukung pembentukan konsep diri positif dan peningkatan kesejahteraan psikologis remaja di sekolah berbasis nilai Islam. BAHAN DAN METODE Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan rancangan cross-sectional guna mengevaluasi hubungan antara konsep diri dan kesehatan jiwa remaja (Fauziah & Rofiqoh, 2. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas Vi di SMP Insan Kamil Islamic School. Karena jumlah siswa terbatas, digunakan total sampling, sehingga seluruh 34 siswa dijadikan sampel penelitian (Hossan et al. , 2. Data kuesioner terstruktur. Variabel konsep diri diukur dengan instrumen yang telah divalidasi untuk konteks remaja Indonesia (Harter, 2. , sedangkan kesehatan jiwa diukur melalui skala standar yang mencakup dimensi kecemasan, depresi, dan stres (Fauziah & Rofiqoh, 2. Instrumen penelitian melalui proses uji validitas dan reliabilitas sebelum digunakan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh bersifat akurat dan konsisten (Suprayitno et al. , 2. Variabel yang digunakan berskala ordinal dan jumlah sampel kecil (<. , analisis menggunakan korelasi SpearmanAos rho, yang lebih sesuai dibandingkan Chi-square untuk data non-parametrik atau ordinal (Lohr, 2. Analisis dilakukan menggunakan SPSS versi 25, termasuk perhitungan koefisien korelasi dan nilai signifikansi. Seluruh prosedur penelitian telah mendapat persetujuan etika dari pihak sekolah, dan partisipasi siswa bersifat sukarela dengan jaminan kerahasiaan data (Abdussamad et al. , 2. 161 | Pages 159-165 HASIL PENELITIAN Analisis Bivariat Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Variabel Frekuensi Persentasa 13 tahun 14 tahun 15 tahun Berdasarkan Tabel 1, diketahui bahwa usia responden terbanyak adalah 14 tahun dengan persentase sebesar 84,2%. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Variabel Frekuensi Persentasa Perempuain Laiki-Laiki Totail Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa responden perempuan lebih banyak . ,3%) dibandingkan laki-laki . ,7% Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Konsep Diri Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Konsep Diri Vairiaibel Frekuensi Persentaise (%) Negaitif Positif Totail Dairi Taibel 3 diketaihui baihwai frekuensi konsep diri kaitegori positif berjumlaih 32 responden . ,2%), negaitif 6 responden . ,8%). Karakteristik Responden Berdasarkan Kondisi Kesehatan Jiwa Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Kondisi Kesehatan Jiwa Vairiaibel Negaitif Positif Totail Frekuensi Persentaise (%) Berdasarkan hasil distribusi pada Tabel 4, mayoritas responden tergolong memiliki kesehatan jiwa positif sebesar 78,9%, sementara sisanya 21,1% berada pada kategori Analisis Bivariat Tabel 5. Hubungan Konsep Diri Serta Kesehatan Jiwa Remaja Variabel Konsep diri Kesehatan jiwa 0,000 Correlaition Coefficient. 0,817 Uji korelasi Spearman Rank dengan pvalue 0,000 (< 0,. , hasilnya menunjukkan bahwa dapat disimpulkan terdapat hubungan positif yang bermakna antara konsep diri serta kesehatan jiwa remaja di SMP Insan Kamil Islamic School. PEMBAHASAN Usia Responden Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas responden berada di usia 14 tahun . ,2%), sementara usia 13 dan 15 tahun hanya masing-masing 7,9%. Hal ini memperlihatkan mayoritas siswa kelas Vi di SMP Insan Kamil berada pada tahap awal remaja, yang secara psikologis ditandai dengan perubahan signifikan dalam aspek kognitif, emosional, dan sosial. Pada usia ini, remaja mulai mengembangkan persepsi terhadap diri sendiri, yang berperan penting dalam membentuk konsep diri (Santre, 2. Secara teoritis, menurut Erikson tahap usia 12Ae18 tahun termasuk fase Identity vs Role Confusion, di mana remaja mencoba memahami diri, nilai-nilai pribadi, dan peran Remaja yang dapat menavigasi fase ini berpengaruh terhadap terbentuknya konsep diri yang positif dan mempunyai stabilitas emosional yang lebih tinggi (Yang. Wang, et , 2. Kondisi usia mayoritas 14 tahun ini juga mengindikasikan bahwa sebagian besar responden sedang berada pada periode penyesuaian dengan tuntutan akademik dan sosial yang lebih kompleks, sehingga konsepsi diri dan kesehatan mental menjadi aspek yang saling Jenis Kelamin Responden Mayoritas perempuan . ,3%), sedangkan laki-laki 44,7%. Distribusi gender siswa kelas Vi relatif seimbang, meskipun sedikit lebih dominan Perbedaan gender pada usia perkembangan konsep diri dan kesehatan jiwa karena remaja responden laki-laki dan perempuan menghadapi tantangan psikososial yang tidak sama (Ferro et al. Secara menunjukkan bahwa remaja perempuan cenderung lebih peka terhadap evaluasi sosial dan pengalaman emosional, sehingga konsep diri mereka dapat dipengaruhi oleh interaksi dengan teman sebaya dan keluarga. Sebaliknya, remaja laki-laki biasanya lebih fokus pada prestasi dan kemandirian, yang juga dapat memengaruhi persepsi diri dan kesejahteraan mental (Maravilla et al. Konsep Diri Responden Mayoritas responden mempunyai konsep diri yang positif . ,2%), sedangkan responden yang memiliki konsep diri yang negatif hanya dimiliki oleh 15,8% responden. Hasil ini memperlihatkan mayoritas remaja kelas Vi di SMP Insan Kamil memiliki persepsi diri yang sehat dan mampu menilai kemampuan serta nilai dirinya secara positif. Secara teoritis, konsep diri positif merupakan fondasi penting bagi kesehatan psikologis remaja. dengan konsep diri positif biasanya lebih mampu memiliki kemampuan lebih pada aspek mengelola stres, menghadapi tantangan akademik, dan berinteraksi sosial secara efektif (Yang. Wang, et al. Konsep diri yang baik juga berkaitan dengan kepercayaan diri, rasa harga diri, dan kesejahteraan emosional yang lebih tinggi (Ferro et al. , 2. Walaupun Vol. 8 No. 2 December 2025 | 162 D. mempunyai konsep diri yang positif, adanya 15,8% siswa dengan konsep diri negatif menunjukkan bahwa masih ada kelompok yang berisiko mengalami gangguan kesehatan mental ringan, seperti kecemasan atau perasaan kurang berharga. Oleh karena itu, intervensi berbasis sekolah, seperti program konseling, pembinaan karakter, dan kegiatan ekstrakurikuler yang membangun rasa percaya diri, sangat diperlukan untuk meningkatkan konsep diri seluruh siswa (Santre, 2. Kesehatan Mental Responden Dari 38 responden, 30 remaja . ,9 %) memiliki kesehatan jiwa positif, sedangkan 8 remaja . ,1 %) tergolong negatif. Mayoritas remaja menunjukkan kesehatan jiwa yang baik, namun sekitar satu dari lima memerlukan perhatian lebih. Faktor yang memengaruhi antara lain dukungan sosial, adaptasi lingkungan, dan tekanan akademik. Temuan ini selaras dengan hasil-hasil dari penelitian sebelumnya untuk menekankan pentingnya bantuan sosial dan kondisi lingkungan terhadap kesehatan mental remaja (Gintari et al. , 2. Hubungan konsep Diri dengan Kesehatan Uji statistik dari Rank-Spearman memperlihatkan nilai korelasi Spearman dengan nilai r = 0,817 dan nilai p = 0,000. Angka ini mengindikasikan korelasi yang signifikan dan sangat kuat secara positif antara konsep diri dengan kesehatan jiwa remaja di SMP Insan Kamil Islamic School. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin positif cara remaja memandang dan menilai dirinya, maka semakin baik pula kondisi kesehatan mental yang dimilikinya. Korelasi yang tinggi ini juga mencerminkan bahwa konsep diri memiliki peranann penting untuk menjaga keseimbangan emosi, perasaan berharga, dan stabilitas psikologis individu. Hasil Temuan atau riset ini selaras dengan studi yang telah dilaksanakan oleh (Carlyn et al. , 2. di Swedia, yang menjelaskan bahwa remaja dengan tingkat kesejahteraan mental yang lebih baik dalam Penelitian memperlihatkan bahwa self-esteem pada usia kesehatan psikologis pada masa remaja akhir. Hasil serupa juga disampaikan dalam tinjauan oleh (Hapsari et al. , 2. , yang menekankan 163 | Pages 159-165 bahwa konsep diri merupakan aspek psikologis yang berkaitan erat dengan kesejahteraan mental. Penelitian tersebut juga menyoroti pentingnya penggunaan alat ukur yang valid dan reliabel agar hubungan antara konsep diri dan kesehatan jiwa dapat dijelaskan secara Selain itu, (Hu et al. , 2. melaporkan bahwa konsep diri berperan sebagai mediator antara pengalaman traumatik masa kecil dan tingkat depresi pada remaja. Artinya, remaja yang mempunyai persepsi positif terhadap dirinya sendiri lebih mampu mengelola dampak negatif dari pengalaman buruk masa lalu. Hal ini menunjukkan bahwa konsep diri dapat berfungsi sebagai pelindung . aktor protekti. terhadap gangguan kesehatan mental. Sejalan dengan itu, penelitian (Feng et al. , 2. self-esteem menengahi korelasi antara aktivitas fisik dengan kesehatan mental remaja pascapandemi COVID-19. Dengan kata lain, aktivitas fisik dapat meningkatkan kepercayaan diri yang pada akhirnya memperbaiki kesejahteraan psikologis Penelitian terbaru oleh (Yang. Zhan, et al. , 2. juga menemukan bahwa self-esteem memiliki peran mediasi penting dalam hubungan antara identitas nasional dan kesejahteraan Remaja dengan konsep diri positif cenderung memiliki perasaan sosialnya, sehingga berdampak positif pada kesehatan mental mereka. Temuantemuan tersebut selaras dengan teori Rosenberg tentang konsep diri, yang menyatakan bahwa evaluasi seseorang memengaruhi perilaku, emosi, serta kesejahteraan psikologisnya. Selain itu, teori perkembangan psikososial Erikson menjelaskan bahwa remaja yang berhasil membentuk identitas diri yang jelas akan lebih stabil secara emosional dan lebih sedikit mengalami gangguan psikologis. Berdasarkan hasil penelitian dan teori yang relevan, dapat diasumsikan bahwa konsep diri yang positif berkontribusi besar terhadap kesehatan jiwa remaja. Remaja yang memiliki kepercayaan diri tinggi, penerimaan diri yang baik, dan pandangan positif terhadap kemampuan pribadinya cenderung lebih mampu mengatasi tekanan psikologis, stres akademik, maupun konflik sosial. Oleh karena itu, sekolah dan lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam menumbuhkan konsep diri positif, misalnya melalui bimbingan konseling, pembelajaran sosialemosional, serta kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pengembangan potensi diri. Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat kesehatan jiwa remaja secara SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar atau mayoritas responden dari hasil distribusi frekuensi menunjukkan hasil menunjukkan bahwa kebanyakan responden memiliki konsep diri ada 32 orang . ,2%). ), sementara itu yang mempunyi konsep diri negatif sebanyak 6 orang . ,8%). Selain itu, sebanyak 30 responden . ,9%) menunjukkan kesehatan jiwa yang positif, dan 8 responden . ,2%) memiliki kesehatan jiwa yang Uji Rank Spearman yang digunakan untuk analisis bivariat memperlihatkan adanya hubungan atau korelasi yang signifikan dan sangat kuat secara positif antara konsep diri dan kesehatan jiwa remaja di SMP Insan Kamil Islamic School, hasil uji korelasi menunjukkan nilai p = 0,000 (< 0,. dan r = 0,817, yang mengindikasikan hubungan positif yang signifikan antara konsep diri terhadap kesehatan jiwa remaja. Positifnya konsep diri remaja berkontribusi pada kesehatan mental yang lebih baik. Hal ini menekankan pentingnya penguatan konsep diri dalam meningkatkan kesejahteraan mental remaja DAFTAR PUSTAKA