Jurnal Keislaman p-ISSN : 2089-7413 and e-ISSN : 2722-7804AU Published by Sekolah Tinggi Agama Islam Taruna Surabaya Jl. Kalirungkut Mejoyo I No. Kec. Rungkut. Kota Surabaya. Jawa Timur 60293AU Email: jurnalkeislaman@staitaruna. Komparasi Hasil Belajar Materi Al-Kulliyatu Al-Khamsah : Quasi-Eksperimen Penerapan Model Jigsaw Dengan Point Counter Point di Kelas X SMAN 3 Sidoarjo Fathur Rohman1 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Indonesia1 fathurrohman@uinsa. Retno Aqimnad Dinana2 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Indonesia2 retnoaqimnad@gmail. Bayu Wira Pratama3 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Indonesia3 bayuwira@gmail. Iis Rodiyah Agustiningsih4 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Indonesia4 iisrodiyah002@gmail. Muhammad Aziz5 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Indonesia5 muhammadazizspdi@gmail. Amrullah. Ag6 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Indonesia6 Amrullahaziz@uinsa. Mila Mahmudah7 Sekolah Tinggi Agama Islam Taruna Surabaya7 Milamahmudah1202@gmail. https://doi. org/10. 54298/jk. Abstract This field research study compares student learning outcomes on the subject of Al-Kulliyatu Al-Khamsah using two methods that prioritize active learning: Jigsaw and Point-Counter-Point, in grade 10 of SMAN 3 Sidoarjo. This study analyzes the significant differences between the two models in improving student understanding through a comparative quantitative approach and experimental methods. The results indicate that both models are effective learning models, encouraging students to be active in class. However, the Point-Counter-Point learning model is superior in developing students' critical thinking Komparasi Hasil Belajar Materi Al-Kulliyatu Al-Khamsah : Quasi-Eksperimen Penerapan Model Jigsaw Dengan Point Counter Point di Kelas X SMAN 3 Sidoarjo - Fathur Rahman. Bayu Wira Pratama. Iis Rodiyah Agustiningsih. Muhammad Aziz. Abdul Manan. Mila Mahmudah This creates an interactive learning environment that impacts learning outcomes. Keywords: Jigsaw Model. Islamic Religious Learning. Point-Counter-Point Abstrak Penelitian ini merupakan jenis field reseach untuk membandingkan hasil belajar peserta didik pada materi Al-Kulliyatu Al-Khamsah menggunakan dua metode yang mengutamakan unsur active-learning. Jigsaw dan Point Counter Point pada kelas X SMAN 3 Sidoarjo. Penelitian ini menganalisis perbedaan signifikansi antara kedua model dalam meningkatkan pemahaman peserta didik melalui pedekatan kuantitatif komparatif dengan metode eksperimen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasanya kedua model merupakan model pembelajaran yang efektif, sehingga peserta didik terpacu untuk aktif di dalam kelas, namun pembelajaran Point Counter Point lebih unggul dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Sehingga terbentuk suasana belajar yang interaktif dan berdampak pada peningkatan hasil belajar. Kata Kunci: Model Jigsaw. Pembelajaran Agama Islam. Point Counter Point. Pendahuluan Dunia pendidikan adalah salah satu dari banyaknya hal yang terus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan kemajuan teknologi. Sehingga pada setiap komponen pembelajaran tidak luput dari adanya perubahan. Hal ini karena adanya penyesuaian terhadap tnatangan dan kebutuhan pada zaman ini. Pada tahun ajaran 2023/2024 ini. Kementrian Pendidikan Indonesia telah mengerahkan seluruh instansi pendidikan untuk menggunakan kurikulum terbaru. Kurikulum Merdeka. Sebelumnya, sekolah-sekolah telah menggunakan Kurikulum tahun 2013 atau yang kerap disebut K-13. Namun, sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, disusun dan dibuat Kurikulum Merdeka. Berdasarkan peraturan Mendikbudristek No. 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada jenjang PAUD, pendidikan dasar serta menengah menyatakan bahwasanya Kurikulum Merdeka telah ditetapkan secara resmi menjadi kerangka dasar kurikulum Indonesia. Kurikulum Merdeka mengedepankan kepercayaan terhadap pendidik dari masing-masing satuan pendidikan untuk dapat merancang pembelajaran di dalam kelas. Hal ini diharapkan agar pembelajaran yang dilakukan dapat sesuai dengan konteks, latar belakang, serta kebutuhan peserta didik di masing-masing daerah di Indonesia. Seiring dengan implementasi Kurikulum Merdeka, model pembelajaran yang berasaskan active-learning pun semakin banyak diterapkan di sekolah. Setiap model pembelajaran pun memiliki karakteristiknya tersendiri. Diantara model pembelajaran yang berbasis kooperatif yaitu model pembelajaran Jigsaw. Model pembelajaran AuKarakorum Merdeka. AoPeraturan Mendikbudristek No. 12 Tahun 2024 Tentang Kurikulum Pada Jenjang PAUD. Pendidikan Dasar. Serta MenengahAo,Ay n. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 kooperatif tipe Jigsaw menitikberatkan pada diskusi di kelompok kecil, setiap anggota berperan aktif dalam memahami materi yang disampaikan oleh anggota lainnya dan memberikan informasi kepada anggota lainnya. 2 Informasi yang disampaikan diperoleh dari diskusi kelompok besar. Kelompok besar bertujuan untuk mencari dan mendiskusikan materi sedangkan kelompok kecil untuk presentasi atau menyampaikan informasi. Sederhananya, setiap peserta didik memiliki 2 kelompok, kelompok besar dan kelompok kecil. Setelah mencari suatu informasi di kelompok besar kemudian berpindah ke kelompok kecil untuk menyampaikan informasi yang telah didapat dari kelompok besar. Tujuan utama dalam menerapkan model pembelajaran Jigsaw agar peserta didik dapat interaktif satu sama lain. Dengan cara ini antar peserta didik belajar menyampaikan gagasan, mendengarkan pendapat orang lain, memperoleh pemahaman mendalam, meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Tentunya keterampilan ini tidak hanya penting dalam dunia Pendidikan, tetapi juga berharga dalam menghadapi tantangan di dunia nyata. Kemudian, model pembelajaran Jigsaw mengedepankan kolaborasi. Disamping model pembelajaran Jigsaw, terdapat model pembelajaran Point Counter Point. Model pembelajaran Point Counter Point sejatinya adalah model pembelajaran yang telah lama digunakan, hanya saja masih berorientasi kepada guru . eacher centere. Kini, model pembelajaran ini kembali populer karena orientasi pembelajaran kekinian lebih condong kepada peserta didik . tudent centere. Model pembelajaran Point Counter Point adalah model pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk mendapatkan kesempatan aktif berargumen, menyampaikan ide dan gagasan dalam sebuah diskusi, kemudian akan didiskusikan antar kelompok. Beradu argumen dan bertukar pandangan akan terjadi antar kelompok dengan perspektif yang logis sesuai pemahaman masing-masing terhadap suatu topik yang diangkat. Perbedaan model pembelajaran Point Counter Point dengan Active Debate terletak dalam cakupan dan suasana belajarnya, dimana model pembelajaran Point Counter Point cenderung lebih bebas dan tidak terlalu formal, sehingga terjadi pembelajaran dengan diskusi yang aktif dan interaktif. Berdasarkan beberapa hal di atas, baik model pembelajaran Jigsaw maupun Point Diki Heriwan and Taufina Taufina. AuAoPengaruh Model Pembelajaran Jigsaw Terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Sekolah Dasar,Ao : ,Ay Jurnal Basicedu Vol . 673Ae680, https://doi. org/https://doi. org/10. 31004/basicedu. Riri Syafitri Lubis. AuAoPENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIFTIPE JIGSAW TERHADAP HASIL BELAJAR MAHAPESERTA DIDIK,AoAy AXIOM: Jurnal Pendidikan Dan Matematika 9, no. https://doi. org/https://doi. org/10. 52434/jpif. Aqodiah and Baiq Ida Astini. AuMODEL PEMBELAJARAN JIGSAW TERHADAP KEAKTIFAN BELAJAR PESERTA DIDIK DI MI AN-NAJAH SESELAAy 5, no. , https://doi. org/https://doi. org/10. Moh Anang Abidin and Muhimmatul Ulya. AuEfektifitas Metode Point Counterpoint Untuk Menumbuhkan Kemampuan Berfikir Kritis Peserta Didik Kelas VI Pada Mata Pelajaran Fikih Di Madrasah Ibtidaiyah Riyadlul Ulum Sidoarjo,Ay,Ay Jurnal Madrasah Ibtidaiyah (JMI) 1, no. Komparasi Hasil Belajar Materi Al-Kulliyatu Al-Khamsah : Quasi-Eksperimen Penerapan Model Jigsaw Dengan Point Counter Point di Kelas X SMAN 3 Sidoarjo - Fathur Rahman. Bayu Wira Pratama. Iis Rodiyah Agustiningsih. Muhammad Aziz. Abdul Manan. Mila Mahmudah Counter Point, menitikberatkan kepada interaksi antar peserta didik dan mengurangi peran pendidik sebagai pusat informasi, melainkan sebagai fasilitator. Meski telah banyak penelitian yang mengekplorasi terkait kedua model pembelajaran ini, belum ada penelitian terdahulu yang telah mengupas perbandingan antara model pembelajaran Jigsaw dengan Point Counter Point dalam konteks materi Al-Kulliyatu Al-Khamsah. Materi Al-Kulliyatu Al-Khamsah sendiri merupakan salah satu materi PAI yang membutuhkan pemahaman yang mendalam sehingga selama proses belajar mengajar berlangsung, dibutuhkan keterlibatan aktif peserta didik. Maka dari itu, agar peserta didik di SMAN 3 Sidoarjo dapat mengusai materi ini secara utuh, pemilihan model pembelajaran menjadi faktor yang penting. Pengalaman pendidik selama mengajar di SMAN 3 Sidoarjo menunjukkan bahwasanya setiap kelas memiliki karakter yang berbeda. Oleh karena itu, model pembelajaran yang digunakan tidak dapat disamaratakan kepada setiap kelas. Maka perlu adanya penelitian untuk membandingkan efektivitas model pembelajaran Jigsaw dan Point Counter Point dalam meningkatkan hasil belajar peerta didik, khususnya pada materi Al-Kulliyatu Al- Khamsah. Berdasarkan hal yang telah dipaparkan sebelumnya, penelitian ini dilakuan dengan tujuan untuk menjawab, model pembelajaran manakah yang lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam materi Al-Kulliyatu Al-Khamsah di SMAN 3 Sidoarjo. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan rekomendasi praktis bagi pendidik dalam pemilihan model pembelajaran yang tepat. Hingga pada akhirnya, penelitian ini dapat berkontribusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui ketepatan dalam memilih model pembelajaran. Metode Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dengan mengumpulkan data yang dapat diukur dengan teknik statistik Penelitian pendekatan kuantitatif yaitu sebuah proses menemukan pengetahuan dengan menggunakan data berupa angka sebagai sarana menganalisis keterangan tentang apa yang hendak diketahui. Pendekatan ini menerjemahkan data menjadi angka untuk menganalisis hasil temuannya. Pendekatan kuantitatif dalam penelitian ini bercorak eksperimen, yaitu membandingkan dua perlakuan atau lebih dari suatu variabel, dengan tujuan melihat perbedaan dua atau lebih situasi, peristiwa, kegiatan, atau program. Perbandingan yang diperhatikan adalah keterkaitan satu sama lain seluruh unsur dalam komponen penelitian. Desain dari penelitian ini menggunakan pretest-posttest control group design, dimana sampel yang diambil sebagai bahan penelitian adalah dua kelas secara acak. Arimuddin Abdullah. Metodologi Penelitian Kuantitatif (Aceh: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini, 2. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 Satu kelas digunakan sebagai kelompok eksperimen 1 dengan menggunakan model pembelajaran Point Counter Point. Sedangkan satu kelas lainnya sebagai kelompok eksperimen 2 dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas X di SMAN 3 Sidoarjo pada tahun ajaran 2023/2024. Sampel yang dijadikan penelitian dipilih dengan teknik cluster random sampling. Dimana dua kelas dipilih secara acak, dengan masing-masing kelompok berjumlah 30 peserta didik. Prosedur penelitian yang dilakukan yaitu mengpbservasi kelas dan menentukan materi pembelajatan yang akan disampaikan pada kedua kelas. Kemudian keduanya diberikan pretest, sebagai langkah awal untuk mengetahui tingkat pemahamannya. Pelaksanaan eksperimen dilakukan secara bersamaan kepada kedua kelompok. Kelompok eksperimen 1 diberikan materi Al-Kulliyatu al-Khamsah dengan menggunakan model pembelajaran Point Counter Point. Sedangkan kelompok eksperimen 2 diberikan materi Al- Kulliyatu al-Khamsah dengan model pembelajaran Jigsaw. Eksperimen ini dilakukan kurang lebih empat kali pertemuan dengan jumlah waktu yang sama pada tiap kelas eksperimen. Setelah diberikan perlakuan yang berbeda, peserta didik diberikan posttest sebagai tolak ukur tingkat pemahaman peserta didik selama mendapatkan model pembelajaran yang berbeda. Instrumen penelitian yang digunakan adalah asesmen formatif, dan asesmen Asesmen formatif merupakan penilaian saat kegiatan belajar mengajar Asesmen sumatif merupakan penilaian di akhir kegiatan belajar Penggalian data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawncara dilakukan dengan Guru PAI SMAN 3 Sidoarjo pada jenjang E. observasi di dalam kelas X ketika proses pembelajaran berlangsung. Serta mengumpulkan dokumen hasil asesmen formatif dan sumatif. Teknik analisis kuantitatif yang digunakan adalah Independet Sample T Test, yaitu dengan membandingkan rata-rata dua sampel. Peneliti melakukan penelitian ini untuk mengetahui model pembelajaran yang lebih efektif di antara Jigsaw dan Point Counter Point dalam materi Al Kulliyatu Al Khamsah kelas X di SMAN 3 Sidoarjo. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan penelitian yang dilakukan kepada kelas X E1 dan X E3 . ang selanjutnya disebut sebagai Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen . , peneliti mengolah data hasil post test atau hasil dari assessment sumatif dengan menguji tingkat validitas data. Diketahui bahwa total keseluruhan peserta didik yang diteliti yaitu 74 anak dengan tingkat validitas sebesar 100%. Angka ini menunjukkan bahwa data yang dimiliki oleh peneliti adalah valid. Setelah mendapatkan data yang valid, peneliti melakukan uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Uji Kolmogorov-Smirnov merupakan uji yang dilakukan untuk mengetahui sebaran data acak suatu sampel yang besar yaitu diatas Komparasi Hasil Belajar Materi Al-Kulliyatu Al-Khamsah : Quasi-Eksperimen Penerapan Model Jigsaw Dengan Point Counter Point di Kelas X SMAN 3 Sidoarjo - Fathur Rahman. Bayu Wira Pratama. Iis Rodiyah Agustiningsih. Muhammad Aziz. Abdul Manan. Mila Mahmudah Pengujian Hipotesis dan Deskripsi Data Uji normalitas ini perlu dilakukan untuk mengetahui data yang ada memiliki distribusi normal atau tidak. Dalam table di bawah ini diketahui bahwa signifikansi hasil Pretest Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen 2 sebesar 0,115 dan 0,051. Sedangkan hasil Posttest Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen 2 memiliki nilai signifikansi sebesar 0,142 dan 0,152. Batas minimum dari uji Kolmogorov-Smirnov itu sendiri yakni 0,05. Dengan ketentuan apabila p value dibawah 0,05 maka data tersebut memiliki distribusi tidak Akan tetapi apabila p value diatas 0,05 maka data tersebut memiliki distribusi Gambar 1. Uji Normalitas antara pretest-posttest yang telah dilakukan pada Kelas Eksperimen 1 dan 2 Maka Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa data yang dimiliki oleh peneliti memiliki distribusi normal. Data yang memiliki distribusi normal di uji dengan menggunakan uji statistic Parametric. Dalam hal ini, penulis menggunakan dua tahapan, yaitu mengukur homogenitas data kelas eksperimen 1 dengan kelas eksperimen 2 menggunakan uji LeveneAos. Uji Levene dilakukan untuk menguji sample dalam masing-masing kelas, apakah memiliki variansi yang sama. Dibawah ini merupakan uji LeveneAos pada data Pretest dalam kelas eksperimen 1 dan eksperimen 2. Dimana terlihat bahwasanya keduanya telah homogen. Data dikategorikan sebagai data yang homogeny apabila Signifikansi uji LeveneAos nya lebih dari 0,05. Berdasarkan data yang telah di uji homogenitas dengan acuan nilai rata-rata, hasil uji LeveneAos Pretest Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen 2 sebagai berikut. W Efendi. , & Wardani. AuKomparasi Model Pembelajaran Problem Based Learning Dan Inquiry Learning Ditinjau Dari Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Di Sekolah Dasar. , . ,Ay Jurnal Basicedu 5 No 3 . 1277Ae1285, https://doi. org/https://doi. org/10. 31004/basicedu. ulia Rusyida. Asikin. , & Soedjoko. AuKOMPARASI MODEL PEMBELAJARAN CTL DANMEA TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHANMASALAHMATERI LINGKARAN. ,Ay http://journal. id/sju/index. php/ujme. Usmadi. Pengujian Persyaratan Analisis (Uji Homogenitas Dan Uji Normalita. (Inovasi Pendidikan, 2. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 Gambar. 2 Uji Homogenitas dengan Uji LeveneAos pada aspek pretest Pada tahap berikutnya, peneliti melakukan uji homogenitas pada nilai Posttest Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen 2 dengan uji LeveneAos, sebagai berikut. Gambar. 4 Uji Linieritas dengan ANOVA Berdasarkan tabel hasil uji linieritas dari Gambar 4, diketahui bahwasanya antara Pretest kelas Eksperimen 1 dan 2 dengan Posttest Kelas Eksperimen 1 dan 2 memiliki tingkat linieritas yang tinggi yakni seesar 0,732. Maka dapat dikatakan bahwa data nilai Pretest dan Posttestmemiliki hubungan yang linier atau sama. Selanjutnya peneliti melakukan uji Independent Sample T-Test untuk mengambil keputusan akhir, yakni dengan membandingkan rata-rata 10dari nilai Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen 1 dan Eksperimen 2, sebagai berikut . Yanti. Suardana. , & Selamet. KOMPARASI MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DAN FREE DISCOVERY TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPA, n. Komparasi Hasil Belajar Materi Al-Kulliyatu Al-Khamsah : Quasi-Eksperimen Penerapan Model Jigsaw Dengan Point Counter Point di Kelas X SMAN 3 Sidoarjo - Fathur Rahman. Bayu Wira Pratama. Iis Rodiyah Agustiningsih. Muhammad Aziz. Abdul Manan. Mila Mahmudah Gambar 5. Uji Independent Sample Bersumber pada hasil analisis Gambar 5. Signifikansi Pretest sebesar 0,406 dan Signifikansi Posttest sebesar 0,559. Maka dapat diambil keputusan bahwasanya HCe diterima dan HCa ditolak. Hal ini dikarenakan dalam uji Independent Simple T-Test sig. 0,05 adalah bukti bahwa data tersebut menolak HCe. Sehingga dalam materi Al-Kulliyatu Al-Khamsah, pemberian model pembelajaran Jigsaw dengan Point Counter Point tidak memiliki perbedaan yang mencolok. Analisis Hasil Uji Independent Sample T-Test Berdasarkan hasil Uji Inddependent Simple T test yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwasanya tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap dua model pembelajaran. Jigsaw dan Point Counter Point, dalam pembelajaran PAI materi Al-Kulliyatu Al-Khamsah. Hal ini dikarenakan, hasil nilai signifikasi lebih besar dari 0,05. Artinya hasil belajar peserta didik pada kedua kelas eksperimen tidak menunjukkan perbedaan yang intens. Hal ini menunjukkan bahwasanya meskipun kedua kelas diberikan model pembelajaran yang berbeda, hasil yang diberikan dalam mempengaruhi tingkat pemahaman peserta didik hampir seimbang. Analisis lanjutan terkait hasil pengujian ini yakni efektivitas dari kedua model pembelajaran dalam hal meningkatkan pemahaman peserta didik, kemungkinan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar daripada model pembelajaran itu sendiri. Seperti halnya, kemampuan dasar dari peserta didik yang relatif sama, tingkat motivasi belajar, serta peran pendidik selama proses pembelajaran di kelas. Beberapa hal tersebut bisa menjadi variabel yang berperan penting dalam kesetaraan hasil belajar di kedua kelas eksperimen. Selain itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwasanya satu model pembelajaran tidak selalu lebih unggul dibandingkan dengan model pembelajaran lainnya. Persamaan dan Perbedaan Hasil Belajar Hasil belajar peserta didik dengan membandingkan nilai rata-rata Pretest sebesar 74,5% dan Posttest sebesar 87,9% yang artinya menunjukkan terdapat Akan tetapi, berdasarkan pada uji analisis yang telah dilakukan oleh peneliti di atas, antara Kelas Eksperimen 1 yang diberikan perlakuan model pembelajaran Point Counter Point dengan Kelas Eksperimen 2 yang diberikan perlakuan model pembelajaran Jigsaw tidak menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian lainnya, sebab peneliti belum medapati adanya penelitian lain yang melakukan penelitian komparasi antara model pembelajaran Jigsaw dengan Point Counter Point ini. Kebanyakan peneliti telah melakukan komparasi Jigsaw dengan model pembelajaran lainnya. Dimana banyak diantara penelitian tersebut menghasilkan perbedaan yang signifikan. Kedua model yang digunakan oleh peneliti, memanglah memiliki kesamaan Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 yaitu corak pembelajaran yang memungkinkan peserta didik terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran melalui pembagian kelompok. Sehingga peserta didik dapat mempelajari materi dengan lebih mendalam, utamanya dalam Materi Al-Kulliyatu Al-Khamsah. Dimana materi ini mecakup lima prinsip dasar hukum Islam yang penting sekali untuk diketahui oleh peserta didik sebagai pedoman dalam hubungan dengan Tuhan maupun dengan sesame manusia. Kesamaan inilah yang memicu kurang adanya perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar peserta didik di SMAN 3 Sidoarjo. Namun, kedua model ini juga memiliki perbedaan dalam implementasinya. Dimana model pembelajaran Point Counter Point, guru memberikan stimulus awal kemudian peserta diminta mencari informasi tentang topic tersebut. Setelah itu, guru memberikan sebuah mosi atau tema dan menentukan kelompok pro dan kontra. Dilanjutkan dengan penyampaian point atau pendapat dari masing-masing kelompok secara bergiliran. Setelah mendapatkan banyak point dari masin-masing kelompok, guru memberikan kesimpulan kembali tentang tema yang diberikan. Hal ini sangat berbeda dengan model pembelajaran Jigsaw, dimana guru memberikan stimulus dan langsung mengarahkan peserta didik untuk membuat kelompok besar. Setelah mendapatkan sub-topik yang diberikan oleh guru, peserta didik berdiskusi dengan teman satu kelompoknya. Setelah diskusi selesai, guru membagi kelompok menjadi lebih kecil berisi -5 orang saja. Kemudian setiap orang dari kelompok yang berbeda wajib mempresentasikan hasil diskusi yang telah ia peroleh sebelumnya. Dan diakhiri dengan kesimpulan yang diarahkan oleh guru. Implikasi Hasil Penelitian Berdasarkan persamaan dan perbedaan tersebut, dapat dideskripsikan bahwasanya implikasi kedua model pembelajaran tersebut: . membiasakan peserta didik belajar dengan proses discovery learning, dimana peserta didik diarahkan untuk mencari, menggali, hingga memahami konsep pembelajaran melalui eksplorasi, observasi, maupun pemecahan masalah. penggunaan model pembelajaran lebih mengarahkan dan menuntun peserta yang kurang aktif untuk bisa berpartisipasi aktif. Hal ini ditujukan agar peserta didik dapat aktif belajar meski tidak diberikan informasi secara langsung dari pendidik. mendapatkan pertanyaan dari teman sebaya yang mampu meningkatkan pemikiran kritis. Salah satu aspek yang menjadi fokus pemerintah dalam hal meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia adalah dengan melatih kemampuan berpikir kritis peserta didik. Dengan penggunaan kedua model ini, peserta didik dapat dilatih untuk kolaboratif dan memutuskan dengan cepat, sehingga kemampuan berpikir kritisnya ikut terpacu. model ini cocok digunakan untuk waktu Dahar. Anwar. , & Murpri. AuPENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR. AKSIOMA,Ay Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika 9 n0 2 . , https://doi. org/https://doi. org/10. 24127/ajpm. Zaenal. Darsan. , & Intyas. AuTHE EFFECT OF THE IMPLEMENTATION OF THE JIGSAW MODEL ON STUDENTSAo MOTIVATION AND LEARNING OUTCOMES IN THE SUBJECT OF ENTREPRENEURSHIP AT HIDAYATUL MUBTADIIN VOCATIONAL SCHOOL. ,Ay Journal of Education Technology and Inovation, 6 no 1 . : 1Ae9, https://doi. org/https://doi. org/10. 31537/jeti. Komparasi Hasil Belajar Materi Al-Kulliyatu Al-Khamsah : Quasi-Eksperimen Penerapan Model Jigsaw Dengan Point Counter Point di Kelas X SMAN 3 Sidoarjo - Fathur Rahman. Bayu Wira Pratama. Iis Rodiyah Agustiningsih. Muhammad Aziz. Abdul Manan. Mila Mahmudah pembelajaran yang relative lama. Hal ini dikarenakan perlu adanya pemahaman kepada peserta didik untuk mengerti alur pembelajaran. Kesimpulan Mengacu pada tujuan penelitian, temuan serta diskusi dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar peserta didik pada materi Al-Kulliyatu Al-Khamsah antara peserta didik yang diberikan model pembelajaran Jigsaw dengan model pembelajaran Point Counter Point. Kedua, aktivitas belajar pada kelas yang diberikan model pembelajaran Jigsaw maupun Point Counter Point tergolong aktif. Hal ini dikarenakan pembelajaran telah terpusat pada peserta didik itu sendiri. Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat diajukan saran sebagai berikut. Bagi guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, walau kedua model pembelajaran ini tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Akan tetapi, sebelum dengan sesudah diberikan model pembelajaran ini terdapat perbedaan nilai yang cukup baik. Sehingga guru dapat memilih untuk mengimplementasikan salah satu model pembelajaran ini dalam mengajarkan materi Al-Kulliyatu Al-Khamsah. Peneliti sangat berterima kasih kepada pihak SMAN 3 Sidoarjo yang telah berkenan menjadi lokasi penelitian dan mampu kooperatif dalam pelaksanaan Sehingga penelitian yang kami lakukan dapat berjalan dengan lancer. Peneliti menyatakan bahwasanya tidak terjadi konflik kepentingan apapun dalam penelitian ini kecuali untuk mencari kepemahaman baru mengenai model pembelajaran Jigsaw dengan Point Counter Point. Daftar Pustaka