PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 13 NOMOR 4 . , 486 - 500 PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT. UNIVERSITAS TADULAKO ISSN (P) 2088-3536 ISSN (E) 2528-3375 http://jurnal. id/index. php/preventif Hubungan antara Karakteristik. Intensitas Penggunaan Smartphone dan Niat dengan Kecenderungan Nomophobia pada Remaja SMA di Surabaya Nisrina Auliyah Laras Karindra*1. Ira Nurmala1 Departemen Epidemiologi. Biostatistika Kependudukan dan Promosi Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Airlangga Author's Email Correspondence (*): nisrina. laras-2017@fkm. ABSTRAK Indonesia menjadi salah satu negara yang menempati posisi 4 sebagai negara dengan jumlah pengguna smartphone terbanyak didunia yakni sebesar 240 juta pengguna. Fenomena yang terjadi saat ini adalah adanya kecenderunngan masyarakat dan remaja dalam menggunakan smartphone sehingga menyebabkan Kebijakan pembelajaran jarak jauh yang diterapkan pada siswa SMA negeri di Kota Surabaya diketahui menjadikan siswa cenderung memanfaatkan keberadaan smarthphone untuk mengakses kegiatan belajar mengajar, sehingga menyumbang tingginya intensitas penggunaan Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik, intensitas dan niat menggunakan smartphone dengan nomophobia. Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan rancang bangun cross-sectional. Sampel pada penelitian ini adalah remaja di 5 SMA Negeri Surabaya sebanyak 414 siswa. Data dikumpulkan melalui metode pengambilan data primer dan sekunder. Temuan penelitian menunjukkan bahwa usia tidak berhubungan dengan nomophobia, sementara jenis kelamin . = 0,. , hubungan intensitas penggunaan smartphone . = 0,. dan niat . = 0,. berhubungan signifikan dengan nomophobia. Kata Kunci: Intensitas. Niat. Smartphone. Nomophobia Published by: Article history : Tadulako University Received : 19 10 2021 Address: Received in revised form : 28 10 2021 Jl. Soekarno Hatta KM 9. Kota Palu. Sulawesi Tengah. Accepted : 30 10 2021 Indonesia. Available online : 31 12 2022 Phone: 628114120202 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Email: Preventif. fkmuntad@gmail. ABSTRACT Indonesia is one of the countries that occupy the 4th position as the country with the largest number of smartphone users in the world, amounting to 240 million users. The current phenomenon is the tendency of people and teenagers to use smartphones, causing nomophobia. The distance learningAo policy which applied to public high school in Surabaya is known to make students tend to take advantage of the presence smartphones to access teaching and learning activities, thus contributes to the high intensity of smartphone use. This study aims to determine a relationship between characteristics, intensity of smartphone use and the intention to use a smartphone with The type of research is analytic observational and the research design used is a crosectional study. The sample in this study were teenagers in 5 High School Student in Surabaya as many as 414 students. The data collected carried out through primary and secondary data methods. Based on data analysis, there is no relationship between age and nomophobia, but there is a relationship between age . = 0,. , intensity of smartphone use . = 0,. and intention to use smartphones . = 0,. Keywords: Intensity. Intention. Smartphone. Nomophobia PENDAHULUAN Peningkatan perkembangan teknologi informasi diketahui berimplikasi dalam membantu kemudahan seseorang untuk beraktivitas. Masifnya perkembangan sarana teknologi informasi dapat diketahui dengan hadirnya sejumlah perangkat lunak maupun perangkat keras yang dapat dipergunakan oleh masyarakat dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, termasuk bekerja, belajar maupun kegiatan yang bersifat personal seperti menjalin komunikasi berbasis teknologi informasi. Smartphone atau telpon pintar diketahui sebagai salah satu wujud nyata dari perkembangan teknologi informasi yang dapat mengakomodasi manusia dalam satu genggaman. Hal ini menjadikan manusia dapat memanfaatkan keberadaan smartphone sebagai sarana berkomunikasi, bekerja hingga belajar dengan mudah dan praktis melalui sejumlah keunggulan yang ditawarkan, sehingga manusia dan smartphone seolah menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Berdasarkan laporan Newzoo menyatakan bahwa penggunaan smartphone di akhir 2020 sudah mencapai 3,6 milliar pengguna. Jumlah tersebut sudah meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yakni sebesar 3,4 milliar pengguna . Indonesia berada di posisi ke empat sebagai negara pengguna smartphone terbanyak didunia setelah China. India dan Amerika Serikat. Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil survei Kominfo pada tahun 2017 menunjukkan bahwa lebih dari setengah masyarakat Indonesia sudah memiliki telepon pintar atau smartphone dengan jumlah yang sudah beredar di Indonesia telah mencapai 240 juta smartphone . Artinya hal ini sudah melampaui jumlah penduduk Indonesia yakni sebesar 237 juta jiwa berdasarkan sensus penduduk tahun 2010. Fenomena yang mudah diamati saat ini adalah kecenderungan masyarakat khusunya remaja yang selalu memprioritaskan smartphone baik saat makan, belajar maupun jalan bersama teman sehingga bisa dipastikan smartphone berada dalam genggaman . Pembelajaran pada era pandemi saat ini merujuk pada ketentuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dipersyaratkan untuk dilaksanakan secara daring atau online. Hal ini menyebabkan adanya penggunaan internet yang berlebihan pada anak-anak dan remaja selama COVID-19 . Dilanjutkan oleh penelitian Mahni pada tahun 2020 didapatkan data bahwa adanya pengaruh negatif dari penggunaan smartphone dan internet pada masa Hal ini dikarenakan pembelajaran anak menjadi kurang efektif dan dapat menimbulkan sifat kecanduan bermain media sosial sehingga muncul ketergantungan untuk tidak bisa jauh dari smartphone . Dalam perkembangannya klasifikasi gangguan penggunaan smartphone ini timbul gejala baru yang dinamakan nomophobia. Nomophobia (No Mobile Phone Phobi. adalah kecemasan dan ketidakmampuan terhadap smartphone yang mereka miliki jika tidak berada di dekatnya . Nomophobia bisa terjadi karena beberapa faktor diantaranya adalah adanya perasaan takut atau gugup karena tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain, takut tidak dapat mengakses informasi dan takut tidak nyaman apabila tidak ada smartphone . Menurut Diah. L, 2019 kecenderungan nomophobia pada usia 12-15 tahun termasuk dalam kategori sedang, sedangkan kecenderungan nomophobia berdasarkan jenis kelamin remaja perempuan memiliki kecenderungan lebih tinggi dibandingkan dengan remaja lakilaki . Berdasakan penelitian yang dilakukan oleh Pavithra. Madhukumar & Mahadeva dengan subjek penelitian 200 siswa yang terdiri dari 47,5% perempuan dan 52,5% laki-laki. Sekitar 23% siswa merasa kehilangan konsentrasi dan menjadi stres apabila mereka jauh dari smartphone, 79 siswa . ,5%) mengidap nomophobia di penelitian ini dan 27% berada pada risiko mengembangkan nomophobia . Berdasarkan penelitian Vanita V. Myakal. Vinod L. Vedpathak, 2019 pada mahasiswa kedokteran prevalensi nomophobia adalah 71,39%. Gangguan tidur sebanyak 41,33% adalah gejala yang paling umum dialami karena ketergantungan smartphone . Berdasarkan hasil penelitian Fitri Verawat Fajri. Usmi Karyani dapat disimpulkan bahwa intensitas penggunaan media sosial dan kontrol diri berkorelasi dengan nomophobia pada mahasiswa. Diketahui bahwa intensitas penggunaan smartphone berhubungan positif dengan nomophobia dan memiliki peranan yang lebih besar. Artinya semakin lama intensitas menggunakan smartphone akan semakin besar kecenderungan nomophobia yang dimiliki . Fenomena yang terjadi pada lokasi penelitian, yakni SMA negeri di Kota Surabaya tidak lepas dari adanya kebijakan pembelajaran jarak jauh yang mewajibkan siswa untuk selalu memperbaharui informasi terkait kegiatan pembelajaran, termasuk mengakses dan mengirim tugas serta berdiskusi dengan guru dan teman sebaya dengan menggunakan Pemilihan smartphone didasarkan pada kepraktisan yang kemudahan daripada penggunaan laptop yang memakan tempat cukup besar dan relatif kurang praktis jika dibandingkan smartphone. Fenomena pada lokasi penelitian tersebut dapat menyumbang intensitas penggunaan smartphone yang lebih tinggi, karena pelajar akan menggunakan smartphone dalam waktu yang lebih lama untuk mengikuti kegiatan pembelajaran, di samping penggunaan untuk kepentingan pribadi. Studi menyatakan bahwa penggunaan smartphone dengan intensitas yang tinggi hingga lebih dari 8 jam per hari diketahui dapat berdampak negatif pada gangguan sosial, seperti timbulnya kecemasan, menarik diri dari lingkungan, meningkatkan kecemasan . dan berdampak pada penurunan prestasi . Berdasarkan pemaparan yang berkaitan dengan penggunaan smartphone dalam kehidupan sehari-hari oleh pelajar, diketahui bahwa kecenderungan nomophobia dapat disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah intensitas penggunaan smartphone. Oleh karena itu, tujuan yang ingin dicapai dalam artikel ini adalah mengetahui Hubungan antara Karakteristik. Intensitas Penggunaan Smartphone dan Niat dengan Kecenderungan Nomophobia pada Remaja SMA di Surabaya. METODE Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik yaitu penelitian yang menjelaskan adanya hubungan antara variabel melalui pengujian hipotesa. Rancang bangun penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional yaitu penelitian dengan faktor resiko dan penyakit diamati dalam satu waktu bersamaan. Sampel pada penelitian ini adalah remaja di 5 SMA Negeri Surabaya sebanyak 414 siswa. Data dikumpulkan oleh peneliti dilakukan melalui metode pengambilan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui kuesioner untuk mengetahui karakteristik responden, tingkat leisure boredom, tingkat kesepian, intensitas penggunaan smartphone, niat responden dalam penggunaan smartphone secara berlebihan, dukungan sosial dan Nomophobia yang akan disebar kepada remaja SMA Negeri di Surabaya melaui media google form secara online. Data sekunder didapatkan dari web untuk mendapatkan informasi terkait jumlah siswa pada SMA Negeri yang terpilih dan web masing masing sekolah untuk mendapatkan informasi terkait profil sekolah. HASIL Hubungan antara Karakteristik Responden dengan Nomophobia Distribusi Usia Pada penelitian ini usia responden berada dalam rentang 12 hingga 25 tahun sehingga dibagi ke dalam 2 kategori yaitu Remaja Awal dengan rentang usia 12 hingga 16 tahun dan Remaja Akhir dengan rentang usia 17 hingga 25 tahun. Tabel 1 Distribusi Frekuensi Usia Responden Usia Frekuensi Presentase (%) Remaja Awal . -16 tahu. Remaja Akhir. -25 tahu. 100,0% Total Sumber : Data Primer,2021 Berdasarkan tabel 1 mengenai distribusi frekuensi usia responden, didapatkan hasil usia untuk remaja awal . tahun berjumlah 240 responden yakni sebesar 49,6%. Sedangkan distribusi usia remaja akhir . tahun berjumlah 244 responden yakni sebesar 50,4%. Hal ini menunjukkan distribusi frekuensi usia responden pada penelitian ini seimbang, artinya distribusi antara usia remaja awal dengan usia remaja akhir berada pada distribusi yang sama ataupun hampir sama. Mayoritas pada distribusi usia pada penelitian ini adalah usia remaja akhir yakni 17-25 tahun selisih sedikit dengan responden usia remaja awal. Tabulasi silang antara Usia dengan Nomophobia Setelah dilakukan analisis data menggunakan uji Chi-square didapatkan hasil dari hubungan variabel usia dengan Nomophobia sebagai berikut : Tabel 2 Hubungan usia dengan Nomophobia Nomophobia Usia Berat Jumlah Sedang Ringan Remaja Awal Remaja Akhir Total Sig. Sumber : Data Primer,2021 Berdasarkan tabel 2 mengenai hubungan usia dengan nomophobia, melalui analisis data menggunakan uji Chi-square didapatkan hasil dari hubungan variabel usia dengan Nomophobia memiliki nilai pvalue sebesar 0,552, karena besar nilai pvalue yang didapat lebih besar dari 0,0005 hal ini menunjukkan tidak adanya hubungan antara usia dengan nomophobia yang dialami remaja baik remaja awal maupun remaja akhir. Kedua variabel usia remaja yakni remaja awal dan remaja akhir pada penelitian ini berada pada kondisi nomophobia sedang dengan jumlah persentase remaja awal 53,7% dan remaja akhir 50,0 %. Mayoritas pada tabulasi silang antara usia dengan nomophobia pada penelitian ini mayoritas usia remaja awal yakni 12-16 tahun selisih sedikit dengan responden usia remaja akhir. Distribusi Jenis Kelamin Tabel 3 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden Jenis Kelamin Frekuensi Presentase (%) Laki laki Perempuan Total 100,0% Sumber : Data Primer,2021 Berdasarkan tabel 3 mengenai distribusi frekuensi jenis kelamin responden, didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa distribusi frekuensi jenis kelamin laki-laki berjumlah 118 responden atau sebesar 24,4% sedangkan distribusi fekuensi jenis kelamin responden perempuan berjumlah 366 atau sebesar 75,6%. Hal ini menunjukkan jumlah distribusi frekuensi jenis kelamin kurang seimbang, mayoritas responden adalah responden Hal ini dikarenakan jumlah siswa perempuan pada sekolah yang diteliti memiliki jumlah siswa yang lebih banyak dibandingkan jumlah siswa laki-laki. Tabulasi Silang antara Jenis Kelamin dan Nomophobia Setelah dilakukan analisis data menggunakan uji Chi-square didapatkan hasil dari hubungan variabel jenis kelamin dengan Nomophobia sebagai berikut: Tabel 4 Hubungan Jenis Kelamin dengan Nomophobia Nomophobia Jenis Kelamin Berat Sedang Jumlah Sig. Ringan Laki Laki 23,7 77 Perempuan 40,7 174 Total 36,6 251 Sumber : Data Primer,2021 Berdasarkan tabel 4 mengenai hubungan jenis kelamin dengan nomophobia melalui analisis data menggunakan uji Chi-square didapatkan hasil dari hubungan variabel hubungan jenis kelamin denan nomophobia memiliki nilai pvalue sebesar 0,002. Karena besar nilai pvalue yang didapat lebih kecil dari 0,0005 hal ini menunjukkan adanya hubungan antara usia dengan nomophobia yang dialami responden berdasarkan jenis kelamin. Hasil dari penelitian ini menunjukkan 36,6% dari keseluruhan responden mengalami nomophobia berat. Mayoritas responden yang menglami nomophobia berat dalam penelitian ini adalah perempun dengan besar persentase 40,7% sedangkan 23,7% terjadi nomophobia berat terjadi pada laki-laki. Distribusi Intensitas Penggunaan Smartphone Intensitas penggunaan smartphone pada penelitian ini termasuk dalam dimensi Personal Autonomy. Intensitas penggunaan smartphone yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seringnya responden yakni remaja menggunakan smartphone yang dimilikinya baik untuk berkomunikasi dengan orang lain mengunakan smartphone sebagai perantara, mencari informasi, main game dll. Yang mana dalam penelitian ini remaja memiliki kewenangan responden untuk menggunakan smartphonenya. Distribusi frekuensi Intensitas Penggunaan Smartphone pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel sebagai berikut : Tabel 5 Distribusi Frekuensi Intensitas Penggunaan Smartphone pada Remaja SMA Negeri di Surabaya Intensitas Frekuensi Presentase (%) Tinggi 51,4% Rendah 48,6% Total 100,0% Sumber : Data Primer,2021 Berdasarkan tabel 5 mengenai distribusi frekuensi intensitas penggunaan smartphone pada remaja SMA negeri di Surabaya didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa distribusi frekuensi intensitas tinggi penggunaan smartphone pada remaja berjumlah 249 responden atau sebesar 51,4% sedangkan distribusi frekuensi intensitas rendah penggunaan smartphone pada remaja berjumlah 235 atau sebesar 48,6%. Mayoritas responden dalam penelitian ini cukup intens atau sering dalam menggunakan smartphone yang dimilikinya Distribusi Niat Niat dalam penelitian ini adalah niat responden dalam menggunakan Smartphone secara Distribusi frekuensi niat dijelaskan didalam tabel sebagai berikut : Tabel 6 Distribusi Frekuensi Niat pada Remaja SMA Negeri di Surabaya Niat Frekuensi Presentase (%) Tinggi 47,9% Rendah 52,1% Total 100,0% Sumber : Data Primer,2021 Berdasarkan tabel 6 mengenai distribusi frekuensi niat pada remaja SMA Negeri di Surabaya didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa distribusi frekuensi tinggi kategori niat dalam menggunakan smartphone pada remaja berjumlah 232 responden atau sebesar 47,9% sedangkan distribusi frekuensi rendah kategori niat dalam menggunakan smartphone pada remaja berjumlah 252 responden atau sebesar 52,1%. Mayoritas responden dalam penelitian ini sebenarnya memiliki niat yang rendah untuk menggunakan smartphone yang dimilikinya. Hubungan Intensitas Penggunaan Smartphone dengan Nomophobia Setelah dilakukan analisis data menggunakan uji Chi-square didapatkan hasil dari hubungan variabel intensitas penggunaan smartphone dengan Nomophobia sebagai berikut: Tabel 7 Hubungan Intensitas Penggunaan Smartphone dengan Nomophobia Sig. Intensitas Nomophobia Jumlah Penggunaan Berat Sedang Ringan Smartphone Tinggi 113 45,4 114 45,8 22 Rendah 14,5 235 100 0,000 Total 177 36,6 251 51,9 56 27,2 137 58,3 34 11,6 484 100 Sumber : Data Primer,2021 Berdasarkan tabel 7 mengenai hubungan intensitas penggunaan smartphone dengan nomophobia melalui analisis data menggunakan uji Chi-square didapatkan hasil dari hubungan variabel hubungan intensitas penggunaan smartphone dengan nomophobia memiliki nilai pvalue sebesar 0,000. Karena besar nilai pvalue yang didapat lebih kecil dari 0,0005 hal ini menunjukkan adanya hubungan antara intensitas penggunaan smartphone dengan nomophobia yang dialami responden. Hasil dari penelitian ini menunjukkan 36,6% dari keseluruhan responden mengalami nomophobia berat. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa responden dengan intensitas penggunaan smartphone yang tinggi sebanyak 45,4% mengalami nomophobia berat dan hanya 8,8% yang mengalami nomophobia Sedangkan sebaliknya responden dengan intensitas penggunaan smartphone yang rendah hanya 27,2% yang mengalami nomophobia berat. Hubungan Niat dengan Nomophobia Setelah dilakukan analisis data menggunakan uji Chi-square didapatkan hasil dari hubungan variabel niat dengan nomophobia sebagai berikut : Tabel 8 Hubungan Niat dengan Nomophobia Nomophobia Jumlah Niat Berat Sig. Sedang Ringan Tinggi 119 51,3 102 44,0 11 Rendah 17,9 252 100 0,000 Total 177 36,6 251 51,9 56 23,0 149 59,1 45 11,6 484 100 Sumber : Data Primer,2021 Berdasarkan tabel 8 mengenai niat dengan nomophobia melalui analisis data menggunakan uji Chi-square didapatkan hasil dari hubungan variabel niat dalam menggunakan smartphone dengan nomophobia memiliki nilai pvalue sebesar 0,000. Karena besar nilai pvalue yang didapat lebih kecil dari 0,0005 hal ini menunjukkan adanya hubungan antara niat dalam menggunakan smartphone dengan nomophobia yang dialami responden. Hasil dari penelitian ini menunjukkan 36,6% dari keseluruhan responden mengalami nomophobia berat. Berdasarkan tabel peneliti mendapatkan data yang menunjukkan bahwa sebesar 51,3% responden yang memiliki niat tinggi untuk menggunakan smartphone secara berlebihan mengalami nomophobia berat dan 44,0 mengalami Nomophobia Sedang. Sedangkan yang mengalami Nomophobia ringan hanya sebesar 4,7% PEMBAHASAN Hubungan antara Karakteristik Responden dengan Nomophobia Beberapa upaya telah dilakukan oleh banyak pihak dalam menyelesaikan kasus nomophobia di Indonesia, salah satunya adalah melalui Promosi Kesehatan. Promosi kesehatan ini dilakukan oleh Dinas Kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan pengentahuan masyarakat serta mengupayakan perubahan perilaku menuju perilaku hidup sehat termasuk pada mengurangi kebiasaan menggunakan smartphone yang berlebihan. Beberapa upaya pun telah dilakukan seperti meningkatkan literasi kesehatan, adanya upaya diagnosis dini dan pengobatan segera . Usaha yang dilakukan oleh dinas terkait maupun masing-masing pribadi memang harus diupayakan sejak dini sehingga angka nomophobia di Indonesia bisa ditekan. Hubungan nomophobia dengan karakteristik pada penelitian diklasifikasikan berdasarkan usia dan jenis kelamin. Hubungan antara usia remaja dengan nomophobia diinterpretasikan dengan asumsi bahwa diusia remaja, baik remaja awal . dan remaja akhir . sering menggunakan smartphone dalam kehidupan sehari-hari maka sehingga terjadi kecemasan atau nomophobia yang dialami oleh responden usia remaja ketika mereka tidak memiliki akses terhadap smartphonenya. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan temuan bahwasanya tidak ada hubungan antara usia dengan terjadinya nomophobia. Hal ini menunjukkan bahwa kecemasan berpisah dengan smartphone tidak bergantung pada usia seseorang. Kecemasan dapat terjadi pada siapa saja dan dalam rentang usia yang tidak terbatas. Kecemasan berpisah dengan smartphone salah satunya disebabkan karena reponden selalu ingin mengakses internet, berhubungan dengan media sosial. Hal ini dikarenakan smartphone tidak lagi dijadikan sebagai alat komunikasi semata. Lebih dari itu menjadi alat yang begitu penting yang tidak bisa ditinggalkan dalam setiap aktivitas seharihari. Hal inilah yang menyebabkan ketergantungan ini terus meningkat dan menimbulkan efek negatif bagi kesehatan baik secara psikologis maupun sosial. Karakteristik berikutnya yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah hubungan antara jenis kelamin responden dengan nomophobia. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data yang menyatakan bahwa adanya hubungan antara jenis kelamin dengan terjadinya nomophobia pada remaja. Mayoritas perempuan mudah mengalami nomophobia . ,7%) dibandingkan dengan laki-laki . ,7%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nina Fitriyana pada tahun 2019 yang menunjukkan bahwa perempuan lebih memiliki ketergantungan terhadap smartphone dibandingkan dengan laki-laki. Berdasarkan penelitian tersebut nilai persentase mahasiswa dengan jenis kelamin perempuan mengalami nomophobia yang lebih tinggi yakni sebesar 66,5% lebih tinggi dari nilai persentase mahasiswa dengan jenis kelamin perempuan mengalami nomophobia sebesar 65,8% meskipun hanya terdapat sedikit selisih diantaranya . Tingginya tingkat nomophobia pada perempuan dapat dipengaruhi faktor hormonal yang membedakan perempuan dengan lakilaki, dimana faktor hormonal berperan dalam menentukan suasana hati serta perilaku. Hubungan Intensitas Penggunaan Smartphone dengan Nomophobia Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya nomophobia pada remaja diantaranya adalah kebosanan di waktu luang . eisure boredo. , kesepian, intensitas penggunaan smartphone yang berlebihan, dukungan sosial serta adanya niat. Berdasarkan kelima faktor yang ada, peneliti menganalisis dua faktor yang memiliki hubungan positif dengan nomophobia. Faktor yang dimaksud adalah adanya hubungan antara intensitas penggunaan smartphone dengan nomophobia dan adanya hubungan antara intensitas penggunaan smartphone dengan niat. Hubungan antara intensitas penggunaan dengan nomophobia diinterpretasikan dengan semakin sering smartphone mendampingi penggunanya dalam kehidupan sehari-hari, maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dialami ketika mereka tidak memiliki akses terhadap smartphone. Hal ini sesuai dengan fakta yang menunjukkan bahwasannya di era pandemi Covid-19 saat ini penggunaan media sosial seperti Instagram meningkat sangat pesat. Tercatat hingga saat ini pengguna Instagram sudah mencapai 9,2 juta pengguna. Tujuan dari penggunaan media sosial yang berlebihan ini sebenarnya adalah untuk mengelola kesan, pengungkapan diri, perilaku narsistik, citra diri dan harga diri yang pada gilirannya akan berdampak pada penurunan kesehatan mental remaja jika tidak dikelola. dengan baik . Hal ini sesai dengan hasil penelitian yakni responden dengan intensitas penggunaan smartphone yang tinggi sebanyak 45,4% mengalami nomophobia berat dan hanya 8,8% yang mengalami nomophobia ringan. Era globalisasi seperti saat ini, smartphone dapat memberikan dampak yang sangat besar pada perkembangan sosial dan emosi remaja. Hal ini dikarenakan kecanduan smartphone dapat meningkatkan stress dan menurunkan kinerja akademik dan kecemasan . Temuan pada penelitian ini sesuai dengan penelitian Roseliyani 2019 yang menghasilkan nilai p-value kurang dari 0. 005 yang menyatakan bahwa semakin tinggi intensitas penggunaan smarphone dan kesepian yang dimiliki, maka semakin tinggi kecenderungan nomophobia pada mahasiswa . Kecemasan dapat timbul karena beberapa hal diantaranya adalah mereka tidak bisa melakukan panggilan, mengirim pesan, browsing, atau melakukan kontak apapun dengan orang lain . eluarga dan tema. lewat ponselnya bila tidak ada sinyal. Hal ini menyebabkan penggunaan smartphone menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat nomophobia . Tidak bisa dipungkiri, jika smartphone memiliki posisi yang penting dalam kehidupan Smartphone dengan kemampuannya yang banyak dapat memfasilitasi serta memberi kemudahan berkomunikasi, membantu seseorang tetap terhubung dimana saja, kapan saja, dan memberikan seseorang kemudahan dalam mengakses informasi. Ditambah dengan adanya kebijakan sekolah daring atau online, smartphone menjadi salah satu kebutuhan bagi siswa. Hal ini menjadikan siswa telah menjadi bergantung pada smartphone lebih dari sebelumnya, yang pada akhirnya akan memperburuk kecemasan yang disebabkan oleh smartphone itu sendiri . Hubungan Niat dengan Nomophobia Selain intensitas penggunaan smartphone yang menjadi salah satu faktor terjadinya nomophobia pada remaja, niat menjadi salah satu faktor lain yang berpengaruh. Hubungan niat menggunakan smartphone secara berlebihan dengan nomophobia diinterpretasikan dengan semakin sering smartphone mendampingi penggunanya dalam kehidupan sehari-hari maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dialami ketika mereka tidak memiliki akses terhadap smartphonenya. Hasil penelitian menjelaskan bahwa responden dengan niat tinggi untuk menggunakan smartphone secara berlebihan cenderung mengalami nomophobi yang berat sebesar 51,3%, 44,0% mengalami nomophobia sedang dan hanya 4,7% responden dengan nomophobia ringan. Melihat dampak negatif yang diakibatkan penggunaan smartphone yang berlebihan, penempatan niat dalam hal ini memegang peranan penting dalam mengendalikan penggunaan smartphone agar sesuai dengan kebutuhan. Niat yang baik akan menjauhkan seseorang dari kecanduan smartphone, dan tentunya akan terhindar dari kecemasan apabila berada jauh dari smartphone atau nomophobia. Niat yang baik akan membuat individu mengatur penggunaan smartphonenya agar sesuai dengan kebutuhan dan tidak berlebihan. Hal ini menyebabkan niat menggunakan smartphone menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat nomophobia pada remaja . Upaya yang bisa dilakukan remaja dalam mengurangi dampak negatif yang timbul dari penggunaan smartphone yang berlebihan salah satunya adalah melalui interaksi yang dilakukan dengan teman sebaya. Teman sebaya memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan remaja. Hal ini dikarenakan remaja sering menjadikan teman sebaya sebagai salah satu panutan selain keluarga. Konseling atau diskusi dan bimbingan kelompok oleh teman sebaya merupakan strategi penting untuk mencegah dan mengurangi penggunaan Berdasarkan hasil program pendidikan sebaya yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Surabaya tahun 2012-2016 didapatkan data yang menunjukkan bahwa pendidikan sebaya tentang pilihan gaya hidup remaja lebih efektif untuk menanggulangi masalah remaja dibanding ceramah yang disampaikan oleh guru atau instruktur di sekolah . Melalui interaksi teman sebaya ini diharapkan penggunaan smartphone yang berlebih pada remaja bias berkurang sehingga angka Nomophobia di Indonesia bisa mengalami penurunan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan karakteristik tidak terdapat hubungan antara usia dengan nomophobia yang terjadi pada remaja, tetapi berdasarkan jenis kelamin diketahui bahwa perempuan mendominasi terjadinya nomophobia. Penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan smartphone dengan nomophobia serta hubungan yang signifikan antara niat menggunakan smartphone dengan nomophobia. Semakin tinggi intensitas penggunaan smartphone maka semakin tinggi tingkat nomophobia remaja. Sejalan dengan hal tersebut, semakin tinggi niat menggunakan smartphone maka semakin tinggi pula tingkat nomophobia pada remaja. Rekomendasi yang dapat diberikan berdasarkan temuan dalam penelitian kepada siswa dan orangtua adalah pentingnya mempelajari tentang cara serta manfaat dari penggunaan smartphone tersebut sehingga penggunaannya bisa lebih bermanfaat dan tidak menimbulkan ketergantungan ataupun nomophobia. DAFTAR PUSTAKA