Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. No. 1, 2026 : 86 Ae 103 Terakreditasi Sinta Peringkat 4 (S. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Profil Emisi Gas Rumah Kaca di Kabupaten Sambas Iqbal Halim1*. Dian Rahayu Jati1, dan Aini Sulastri1 1Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Tanjungpura *E-mail: hanshalimiqbal10@student. Submitted : 25-06-2025 Revised : 06-01-2026 Accepted : 07-01-2026 Abstract Climate change is the phenomenon of increasing concentrations of greenhouse gases (GHG) in the Earth's Sambas Regency, the extreme coastal area of West Kalimantan, has a population of 647,800. contributes to greenhouse gas emissions from various activities, such as transportation, waste management, agriculture, plantation, and animal husbandry. This research aims to calculate greenhouse gas emissions across multiple sectors, create an emissions map, and identify mitigation efforts. The study's results are expected to inform the Sambas Regency Government in designing mitigation actions that are easy to implement in the field. The method used to conduct this greenhouse gas emission inventory follows Tier-1 IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Chang. 2006 guidelines, with emission factors set to the IPCC standard. Activity data used in the emission inventory is sourced from secondary data. Meanwhile, mitigation options were generated from literature studies. The results showed that the total GHG emissions in the Agriculture sector in Sambas Regency reached 277. 25 Gg CO2-eq, in the Plantation sector the total GHG emissions in the Palm Oil Plantation sector in Sambas Regency reached 13. 40 Gg CO2-eq, the total GHG emissions in the transportation sector in Sambas Regency reached 228. 20 Gg CO2-eq, the total GHG emissions in the Livestock sector in Sambas Regency reached 0. 684 Gg CO2-eq. The total GHG emissions in the waste sector in Sambas Regency reached 0. 0901 Gg CO2-eq. Keywords: Emissions. Greenhouse gases. Sectors. Abstrak Perubahan iklim adalah fenomena meningkatnya konsentrasi Gas RumaKaca (GRK) di atmosfer bumi. Kabupaten Sambas yang merupakan daerah pesisir paling ujung Kalimantan Barat dan memiliki jumlah penduduk sebanyak 800 jiwa. Berkontribusi dalam menghasilkan emisi gas rumah kaca dari berbagai aktivitas yang ada didalamnya seperti kegiatan penggunaan trasportasi, persampahan, pertanian, perkebunan, dan pertenakan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung jumlah emisi gas rumah kaca dari berbagai sektor, membuat peta emisi, dan upaya mitigasi. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Kabupaten Sambas dalam merancang aksi mitigasi yang mudah diterapkan di lapangan. Metode yang digunakan untuk melakukan inventarisasi emisi gas rumah kaca ini adalah Tier-1 IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Chang. Tahun 2006, dimana faktor emisi yang digunakan adalah standard IPCC. Data aktivitas yang digunakan dalam inventarisasi emisi bersumber dari data sekunder. Sedangkan opsi mitigasi dihasilkan dari studi literatur. Hasil penelitian menunjukan bahwa total emisi GRK sektor Pertanian di Kabupaten Sambas mencapai 277,25 Gg CO2-eq, pada sektor Perkebunan total emisi GRK sektor Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Sambas mencapai 13,40 Gg CO2-eq, total emisi GRK pada sektor transportasi di Kabupaten Sambas mencapai 228,20 Gg CO2-eq, total emisi GRK pada sektor Peternakan di Kabupaten Sambas mencapai 0,684 Gg CO2-eq, dan total emisi GRK pada sektor persampahan di Kabupaten Sambas mencapai 0,0901 Gg CO2-eq. Kata Kunci: Emisi. Gas rumah kaca. Sektor. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. No. 1, 2026 : 86 Ae 103 PENDAHULUAN Indonesia saat ini telah merasakan secara nyata berbagai konsekuensi perubahan iklim, mulai dari kecenderungan peningkatan suhu udara, kenaikan muka air laut, hingga semakin seringnya kejadian bencana hidrometeorologi. Dalam kerangka United Nations Framework Convention on Climate Change (UNF. , gas rumah kaca (GRK) diklasifikasikan ke dalam enam golongan utama, yaitu karbon dioksida (COCC) (Alwin, 2. , metana (CHCE), dinitro oksida (NCCO), sulfur heksafluorida (SFCI), perflorokarbon (PFC. , dan hidroflorokarbon (HFC. Meningkatnya konsentrasi gas-gas tersebut di atmosfer terutama didorong oleh berbagai aktivitas antropogenik, seperti pembakaran bahan bakar fosil, perubahan tata guna lahan dan deforestasi, serta kegiatan di sektor pertanian dan peternakan yang menghasilkan emisi GRK (Anggraeni. Rangkaian aktivitas manusia inilah yang pada akhirnya memicu fenomena yang disebut perubahan iklim, yang secara substantif dapat dipahami sebagai kondisi meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer bumi dari waktu ke waktu (Wardani et al. , 2. Penyusunan Profil Emisi GRK Kabupaten Sambas dilakukan karena wilayah ini, yang terletak di kawasan pesisir paling ujung Kalimantan Barat dengan jumlah penduduk sekitar 800 jiwa, menjadi salah satu sumber emisi gas rumah kaca yang bersumber dari beragam aktivitas manusia, antara lain penggunaan sarana transportasi, pengelolaan persampahan, kegiatan pertanian, serta usaha peternakan. Profil emisi tersebut dibutuhkan untuk mengetahui tingkat, status, dan kecenderungan emisi GRK di daerah ini secara lebih sistematis sehingga dapat disusun langkah inventarisasi dan strategi mitigasi penurunan emisi yang tepat sasaran. Atas dasar pertimbangan tersebut, dilaksanakan kegiatan Koordinasi. Sinkronisasi, dan Pelaksanaan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca (Chaerul et al. , 2. Mitigasi, dan Adaptasi Perubahan Iklim yang diarahkan untuk menghasilkan dokumen Profil Emisi GRK Kabupaten Sambas sebagai acuan dalam perencanaan kebijakan pengendalian emisi di masa mendatang. Dalam konteks tersebut, penelitian ini disusun untuk merespons tiga rumusan pertanyaan utama, yaitu: . berapakah besaran emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan dari berbagai aktivitas di Kabupaten Sambas, khususnya yang berasal dari sektor pertanian, peternakan, transportasi, serta pengelolaan persampahan? . bagaimana visualisasi dan karakteristik sebaran spasial emisi gas rumah kaca tersebut apabila dituangkan dalam bentuk peta emisi di wilayah Kabupaten Sambas? dan . upaya-upaya mitigasi apa saja yang dapat dirumuskan dan diterapkan guna menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca yang muncul dari aktivitas pertanian, perkebunan, peternakan, transportasi, dan persampahan di Kabupaten Sambas?. Kajian inventarisasi GRK sektor pertanian dalam lima tahun terakhir semakin banyak memanfaatkan pendekatan spasial . enginderaan jauh dan pemodela. untuk memetakan emisi metana sawah secara detail, sehingga estimasi emisi dapat diturunkan ke unit wilayah yang lebih kecil dan lebih relevan untuk perencanaan mitigasi (Rahmi & others, 2. Bukti empiris terkini menunjukkan bahwa praktik pengelolaan air sawah seperti alternate wetting and drying berpotensi menurunkan CHCE, tetapi dampaknya sangat dipengaruhi oleh konteks agroekologi dan praktik budidaya setempat sehingga perlu dipadankan dengan data lapangan lokal (Dahlgreen & Parr. Di Indonesia, variasi komposisi pupuk dan varietas padi terbukti dapat mengubah pola emisi CHCE dan NCCO sekaligus mempengaruhi hasil panen, yang mengindikasikan bahwa strategi mitigasi pertanian perlu dirancang berbasis kombinasi AuproduktivitasAeemisiAy . ukan hanya salah satuny. (Slameto & others, 2. Pada sektor peternakan, penguatan inventaris juga bergerak menuju pendekatan prediktif berbasis data termasuk pemodelan emisi metana pada sistem sapi perah skala kecilAiyang menekankan pentingnya ketersediaan data manajemen ternak dan produksi untuk meningkatkan akurasi estimasi pada skala lokal (Choo & Raghavan, 2. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. No. 1, 2026 : 86 Ae 103 Di sektor persampahan dan transportasi, studi inventarisasi subnasional di Indonesia menunjukkan penggunaan pedoman IPCC (Tier 1 dan Tier . , proyeksi BAU, serta perancangan strategi mitigasi berbasis analisis keputusan . isalnya SWOT dan QSPM), sehingga inventaris tidak berhenti pada angka emisi tetapi diarahkan menjadi dasar paket intervensi yang operasional (Hardyanti et al. , 2. Literatur terbaru juga memperlihatkan bahwa opsi refuse and derived fuel (RDF) dapat menurunkan emisi dengan mengalihkan fraksi sampah dari landfill sekaligus memulihkan energi, sehingga relevan sebagai skema mitigasi yang dapat diintegrasikan dengan skenario pengelolaan persampahan daerah. (Sari & others, 2. Pada sektor transportasi, instrumen ekonomi seperti carbon tax dibahas sebagai pendorong perubahan perilaku dan teknologi menuju mobilitas rendah karbon, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada ketepatan inventaris emisi dan ketelusuran data aktivitas sektor transportasi (Pranita & others, 2. Sejalan dengan itu, analisis transisi energi transportasi Indonesia dengan pendekatan multi level menegaskan bahwa kebijakan, inovasi, dan dinamika pasar harus dibaca sebagai satu sistem, sehingga inventaris GRK sektoral dibutuhkan sebagai tolok ukur untuk menilai apakah transisi benar-benar menurunkan emisi . ukan sekadar berganti teknolog. (Fathoni & others, 2. Untuk konteks risiko iklim yang melatarbelakangi urgensi pengendalian emisi, evaluasi kinerja produk satelit curah hujan untuk Indonesia dan analisis kejadian ekstrem menunjukkan perlunya deret data hidroklimat yang kuat karena kejadian hidrometeorologi berkaitan erat dengan dinamika curah hujan ekstrem dan variabilitas musiman (Ramadhan & others, 2. Di wilayah pesisir Indonesia, kenaikan muka air laut yang berinteraksi dengan penurunan tanah terbukti meningkatkan kerentanan banjir, sehingga pendekatan spasial . menjadi penting untuk menyandingkan paparan wilayah dengan prioritas intervensi (Lumban-Gaol & others, 2. Kajian kerentanan rob di pesisir Indonesia juga menunjukkan bahwa parameter geomorfologi, tren muka air laut, perubahan garis pantai, serta kondisi mangrove berperan dalam membentuk tingkat kerentanan, yang relevan bagi kabupaten pesisir dalam merancang respons mitigasiAeadaptasi yang berbasis lokasi (Putiamini et al. , 2. Sementara itu, pemodelan perubahan suhu permukaan berbasis Landsat dan pemodelan spasial dinamis di wilayah perkotaan Indonesia menegaskan bahwa perubahan tutupan lahan dapat mempercepat pemanasan lokal, sehingga informasi spasial perlu dipertimbangkan bersama inventaris emisi untuk membaca tekanan iklim di tingkat daerah (Wijaya & others, 2. Bukti tren jangka panjang di wilayah metropolitan Indonesia juga menunjukkan pergeseran pola suhu dan hujan yang konsisten dengan tekanan urbanisasi dan variabilitas iklim, memperkuat kebutuhan kebijakan daerah yang berbasis data dan indikator terukur (Maheng & others, 2. Dari sisi mitigasi berbasis tata ruang, pemetaan dan pemantauan ruang terbuka hijau melalui platform penginderaan jauh dan komputasi awan menunjukkan jalur intervensi yang dapat ditautkan langsung dengan strategi penurunan emisi dan peningkatan serapan karbon pada skala kota/kabupaten (Agustiyara & others, 2. Dataset emisi global beresolusi tinggi telah berkembang pesat dan menyediakan gambaran spasial yang berguna sebagai pembanding, namun praktik terbaik tetap menekankan perlunya penguatan inventaris berbasis data aktivitas lokal agar hasilnya representatif untuk pengambilan keputusan daerah (Crippa & others, 2. Literatur terbaru juga menegaskan bahwa tantangan krusial inventaris spasial adalah penetapan AuextentAy spasial dan konsistensi activity data, karena perbedaan batas dan definisi kategori dapat mengubah hasil emisi atau serapan secara signifikan (Choi & others, 2. Kebaruan riset Anda diposisikan pada integrasi inventarisasi multi sektor tingkat kabupaten . ertanian, peternakan, transportasi, persampaha. dengan pemetaan spasial emisi yang operasional untuk perencanaan daerah, selaras dengan dorongan pengembangan inventaris subnasional yang lebih otomatis, konsisten, dan dapat diturunkan menjadi strategi aksi (Glen & others, 2. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. No. 1, 2026 : 86 Ae 103 Kontribusi penting lainnya adalah orientasi output menjadi dokumen acuan kebijakan . rofil dan aks. , sejalan dengan praktik bahwa inventaris GRK merupakan langkah awal yang diperlukan untuk menyusun rencana aksi iklim dan pemantauan penurunan emisi (Davutluoglu & others. Justifikasi orisinalitas diperkuat oleh temuan bahwa peningkatan akurasi inventaris . elalui emission factor dan tier yang lebih baik pada ekosistem kunci Indonesi. berdampak langsung pada kredibilitas kebijakan mitigasi dan skema pembiayaan iklim, sehingga pendekatan inventaris daerah yang sistematis menjadi semakin strategis (Murdiyarso & others, 2. METODE PENELITIAN Lokasi penelitian untuk pengambilan data dilakukan pada Kabupaten Sambas. Berikut Peta administrasi Kecamatan Sambas Kabupaten Sambas. Gambar 1 Peta Lokasi Kabupaten Sambas Sumber : BPS Kab. Sambas Rangkuman jenis data yang dimanfaatkan dalam penelitian ini beserta sumber perolehannya. Secara umum, seluruh informasi yang digunakan berasal dari data sekunder yang merepresentasikan aktivitas pada objek kajian untuk tahun 2022 serta faktor emisi yang relevan. Data aktivitas tersebut mencakup antara lain luasan lahan tanaman padi, umur atau fase tanam padi, luas lahan tanaman pangan dan perkebunan beserta komoditas yang diusahakan, jenis dan populasi hewan ternak, jumlah kendaraan yang beroperasi, serta sistem pengelolaan sampah yang diterapkan di wilayah studi (Azizah et al. , 2. Tabel 1. Jenis data dan sumber Jenis Data Sumber Luas Lahan Pertanian dan Perkebunan Jumlah Hewan Ternak Jumlah Kendaraan Jumlah Timbunan Sampah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Sambas (Badan Pusat Statistik Kecamatan Sambas, 2. Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsa. Kab. Sambas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kab. Sambas Dalam pelaksanaan penelitian, peneliti melalui serangkaian prosedur yang saling berkaitan mulai dari tahap konseptual hingga tahap pelaporan akhir. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi studi literatur sebagai dasar penyusunan kerangka teori, dilanjutkan dengan pengumpulan data primer dan sekunder, kemudian pengolahan serta analisis data untuk memperoleh temuan yang dapat dipertanggungjawabkan, yang selanjutnya diuraikan dalam bagian hasil dan pembahasan, dan diakhiri dengan perumusan kesimpulan serta saran. Susunan aktivitas tersebut secara keseluruhan membentuk tahapan penelitian yang menjadi panduan sistematis selama proses kajian Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. No. 1, 2026 : 86 Ae 103 HASIL DAN PEMBAHASAN Perhitungan Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Pertanian dan Perkebunan Total luas lahan pertanian di Kabupaten Sambas mencapai 78. 881,33 Ha dimana Kecamatan Tebas memiliki lahan terluas yakni sebesar 12. 555,29 Ha dan Kabupaten Subah memiliki lahan paling kecil dengan hanya sekitar 360,71 Ha. Sedangkan untuk lahan Perkebunan Kelapa Sawit Kabupaten Subah memiliki areal terluas yakni mencapai 51. 627 Ha dengan total produksi sebesar 178. 906 ton pada tahun 2023. Tabel 2 Perhitungan Emisi Sektor Pertanian Padi Emisi CO2 Emisi CH4 Emisi N2O Total Emisi Perse GRK (Gg Kecamatan (Gg CO2 (Gg CO2 (Gg CO2(%) CO2 e. Selakau Selakau Timur Pemangkat Semparuk Salatiga Tebas Tekarang Sambas Subah Sebawi Sajad Jawai Jawai Selatan Teluk Keramat Galing Tangaran Sejangkung Sajingan Besar Paloh Total Persentase Sumber : Hasil Analisis, 2025 0,24 0,20 0,18 0,25 0,12 0,50 0,18 0,05 0,01 0,05 0,02 0,25 0,22 0,29 0,13 0,15 0,13 0,03 0,16 3,16 19,92 16,29 14,94 20,43 10,07 41,13 14,48 3,88 1,18 4,03 1,75 20,23 17,87 23,38 10,63 12,09 10,55 2,64 12,93 258,42 1,21 0,99 0,91 1,24 0,61 2,50 0,88 0,24 0,07 0,24 0,11 1,23 1,08 1,42 0,65 0,73 0,64 0,16 0,78 15,68 21,37 17,48 16,03 21,92 10,81 44,13 15,53 4,17 1,27 4,33 1,87 21,70 19,18 25,09 11,41 12,97 11,32 2,83 13,87 277,25 Kontribusi terbesar emisi GRK pada sektor pertanian padi di Kabupaten Sambas berasal dari gas metana (CHCE) yang dilepaskan selama proses budidaya padi, dengan nilai emisi mencapai 258,42 Gg COCC-eq atau sekitar 93% dari total emisi sektor pertanian. Dominasi emisi CHCE tersebut secara keseluruhan berkontribusi pada total emisi GRK sektor Pertanian Padi di Kabupaten Sambas yang tercatat sebesar 277,25 Gg COCC-eq. Secara proses biogeokimia, dominasi emisi metana pada sawah tergenang umumnya berkaitan dengan kondisi anaerob yang mendorong aktivitas metanogen, sementara besarnya fluks CHCE sangat dipengaruhi oleh rezim air dan karakter pengelolaan budidaya yang mengatur ketersediaan substrat organik serta jalur pelepasan gas ke atmosfer (Chen & others, 2. Selain faktor hidrologi, bukti empiris menunjukkan bahwa alokasi karbon tanaman ke bawah permukaan . elalui eksudat akar dan biomassa aka. dapat menjadi penggerak utama pembentukan dan pelepasan CHCE pada lahan basah yang dikelola, sehingga dinamika emisi dapat berubah signifikan meskipun luasan lahan relatif tetap (Demyan & others, 2. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. No. 1, 2026 : 86 Ae 103 Tabel 3. Perhitungan Emisi Sektor Perkebunan Kelapa Sawit Total Emisi Emisi CO2 Emisi CH4 Emisi N2O Persentase Kecamatan (Gg CO2(Gg CO2(Gg CO2- GRK (Gg CO2(%) Selakau Selakau Timur 3 Pemangkat 4 Semparuk 5 Salatiga 6 Tebas 7 Tekarang 8 Sambas 9 Subah 10 Sebawi 11 Sajad 12 Jawai 13 Jawai Selatan Teluk Keramat 15 Galing 16 Tangaran 17 Sejangkung Sajingan Besar 19 Paloh Total Persentase Sumber : Hasil Analisis, 2025 0,05 0,01 0,07 0,13 0,96 0,13 0,01 0,17 0,31 2,35 0,00 0,00 0,00 0,89 0,00 0,02 2,07 0,09 0,06 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 0,32 0,00 0,00 0,51 0,01 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,22 0,00 0,03 2,84 0,12 0,08 0,01 0,01 0,00 0,00 0,00 2,43 0,00 0,05 5,42 0,22 0,14 0,02 0,02 0,01 0,03 0,00 18,16 0,04 0,35 40,46 1,63 1,06 0,16 0,14 0,03 0,00 0,04 0,06 0,47 0,09 0,00 1,31 0,01 0,00 0,17 0,13 0,00 1,80 0,23 0,00 3,29 1,72 0,02 24,53 0,33 0,02 0,45 0,80 5,97 0,11 5,18 0,01 1,08 0,15 7,13 0,26 13,40 1,95 Berdasarkan hasil perhitungan, kegiatan pada sektor Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Sambas menghasilkan total emisi GRK sebesar 13,40 Gg COCC-eq. Komponen emisi terbesar berasal dari gas dinitro oksida (NCCO) dengan nilai 7,13 Gg COCC-eq atau sekitar 53% dari keseluruhan emisi sektor perkebunan sawit. Sebaliknya, kontribusi terendah disumbangkan oleh emisi metana (CHCE) yang hanya mencapai 1,08 Gg COCC-eq atau kurang lebih 8% dari total emisi pada sektor ini. Besaran emisi tersebut tidak terlepas dari luas areal perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Sambas yang mencapai 129. 539 ha, yang menjadi sumber utama pembentukan emisi GRK, termasuk CHCE, dari aktivitas budidaya kelapa sawit. Secara ilmiah, proporsi NCCO yang tinggi pada sistem perkebunan intensif sering terkait dengan interaksi antara masukan nitrogen, kelembapan tanah, serta proses nitrifikasi dan denitrifikasi pada tanah tropis terlapuk, sehingga perubahan praktik pemupukan dapat berdampak pada emisi namun tidak selalu segera terlihat karena adanya efek AulegacyAy pengelolaan sebelumnya (Chen & others, 2. 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 0,00 Selakau Selakau Timur Pemangkat Semparuk Salatiga Tebas Tekarang Sambas Subah Sebawi Sajad Jawai Jawai Selatan Teluk Keramat Galing Tangaran Sejangkung Sajingan Besar Paloh Emisi GRK GG CO2 eq Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. No. 1, 2026 : 86 Ae 103 Kecamatan Paloh Sejangkung Sajingan Besar Galing Tangaran Jawai Selatan Teluk Keramat Sajad Jawai Subah Kecamatan Sebawi Sambas Tekarang Tebas Salatiga Semparuk Pemangkat Selakau 45,00% 40,00% 35,00% 30,00% 25,00% 20,00% 15,00% 10,00% 5,00% 0,00% Selakau Timur Persentase Emisi GRK GG CO2 eq Gambar 2. Sebaran Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Pertanian setiap Kecamatan di Kabupaten Sambas Gambar 3. Sebaran Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Perkebunan Sawit setiap Kecamatan di Kabupaten Sambas Sumber : Hasil Analisis, 2025 Gambar 4. Peta Emisi Gas Rumah Kaca sektor Pertanian Setiap Kecamatan di Kabupaten Sambas Gambar 5. Peta Emisi Gas Rumah Kaca sektor Perkebunan setiap Kecamatan di Kabupaten Sambas Sumber : Hasil Analisis, 2025 Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. No. 1, 2026 : 86 Ae 103 Sektor Transportasi Jenis sarana transportasi yang mendominasi di Kabupaten Sambas adalah sepeda motor dengan jumlah mencapai 271. 139 unit. Secara keseluruhan, total kendaraan bermotor yang terdaftar di wilayah ini sebanyak 286. 955 unit, yang setara dengan kurang lebih 8,57% dari populasi kendaraan di seluruh Provinsi Kalimantan Barat. Tabel 4. Jumlah Data Kendaraan di Kabupaten Sambas Jenis Kendaraan Total Mobil Penumpang Bus Mobil Besar Sepeda Motor Kendaraan Khusus Sumber: Korlantas Polri, 2024 Tabel 5. Perhitungan Emisi Sektor Transportasi Jenis Kendaraan Emisi CO2 (Gg CO2-e. Persentase (%) Mobil Penumpang Mobil Besar Kendaraan Khusus Bus Sepeda motor Total Sumber : Hasil Analisis, 2025 26,34 18,68 0,20 4,02 178,95 228,20 11,54 8,19 0,09 1,76 78,42 100,00 Berdasarkan hasil perhitungan inventarisasi, besaran total emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan dari sektor transportasi di Kabupaten Sambas tercatat mencapai 228,20 Gg COCCeq sebagaimana terdapat pada Tabel 5. Kontribusi emisi terbesar berasal dari kelompok kendaraan bermotor roda dua . epeda moto. , dengan nilai emisi mencapai 178,95 Gg COCC-eq atau sekitar 78,42% dari keseluruhan emisi sektor transportasi. Gambar 6. Sebaran Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Transportasi di Kabupaten Sambas Sumber : Hasil Analisis, 2025 Dalam konteks negara berkembang, strategi mitigasi emisi transportasi jalan umumnya paling efektif ketika menggabungkan elektrifikasi, perbaikan efisiensi sistem, dan kebijakan pendukung . nfrastruktur, regulasi, insenti. karena laju motorisasi yang cepat cenderung mendorong kenaikan emisi bila hanya mengandalkan perbaikan teknis kendaraan secara parsial (Basmantra & others, 2. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. No. 1, 2026 : 86 Ae 103 Dengan demikian, dominasi kontribusi sepeda motor pada inventaris emisi Sambas dapat diposisikan sebagai dasar untuk merumuskan paket mitigasi yang menargetkan perubahan teknologi . otor listri. , perubahan perilaku perjalanan, serta penguatan tata kelola energi agar penurunan emisi tidak bersifat semu. Sektor Peternakan Sektor peternakan di Kabupaten Sambas merupakan sumber emisi gas rumah kaca yang berasal terutama dari gas metana (CHCE) yang dilepaskan melalui dua proses utama, yaitu fermentasi enterik di dalam saluran pencernaan ternak serta pengelolaan kotoran hewan yang belum optimal. Emisi tersebut muncul dari berbagai komoditas ternak yang dibudidayakan masyarakat, antara lain sapi, kambing, babi, dan ayam, yang selama ini menjadi basis usaha peternakan sekaligus salah satu mata pencaharian utama bagi sebagian besar penduduk di Kabupaten Sambas. Dari perspektif fisiologi pencernaan ruminansia, pembentukan CHCE berkaitan dengan keseimbangan hidrogen di rumen dan komposisi ransum, sehingga opsi mitigasi yang berbasis pakan umumnya diarahkan untuk menekan jalur metanogenesis tanpa menurunkan produktivitas ternak (Palangi & Lackner, 2. Kerangka ini relevan untuk menafsirkan variasi beban emisi antarkecamatan karena perbedaan struktur komoditas ternak, pola pemberian pakan, dan intensitas pemeliharaan berpotensi menghasilkan profil emisi yang tidak selalu linear terhadap jumlah ternak semata. Tabel 6. Data Aktivitas sektor Peternakan Kabupaten Sambas Jumlah ternak . kor/uni. Kecamatan Sapi Kambing Babi Ayam Selakau Selakau Timur Pemangkat Semparuk Salatiga Tebas Tekarang Sambas Subah Sebawi Sajad Jawai Jawai Selatan Teluk Keramat Galing Tangaran Sejangkung Sajingan Besar Paloh Total Sumber: Badan Pusat Statistik, 2024 Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. No. 1, 2026 : 86 Ae 103 Pada sektor peternakan di Kabupaten Sambas menggunakan data jumlah ternak dari sapi, kambing, babi, dan ayam. Peternakan ayam merupakan jenis peternakan yang paling banyak di Kabupaten Sambas yakni mencapai 3. 887 ekor pada tahun 2023. Dimana Kecamatan Galing memiliki jumlah ternak terbanyak yakni 668. 071 ekor dari seluruh ternak . api, kambing, babi, dan aya. yang ada di Kabupaten Sambas. Tabel 7 Perhitungan Emisi Sektor Peternakan Kecamatan Total emisi GRK (Gg CO2 e. Persentase (%) 0,029 0,005 0,043 0,028 0,018 0,061 0,017 0,056 0,063 0,006 0,002 0,018 0,017 0,077 0,043 0,112 0,025 0,021 0,042 0,684 Selakau Selakau Timur Pemangkat Semparuk Salatiga Tebas Tekarang Sambas Subah Sebawi Sajad Jawai Jawai Selatan Teluk Keramat Galing Tangaran Sejangkung Sajingan Besar Paloh Total Sumber : Hasil Analisis, 2025 Kecamatan Berdasarkan hasil perhitungan beban emisi metana (CHCE) di seluruh kecamatan di Kabupaten Sambas, total emisi GRK dari sektor peternakan tercatat mencapai 0,684 Gg COCCeq. Nilai tersebut diperoleh melalui estimasi emisi CHCE yang dihasilkan pada tingkat kecamatan, yang kemudian diagregasi untuk menggambarkan kontribusi sektor peternakan terhadap total emisi gas rumah kaca di wilayah ini. Perhitungan tersebut penting dilakukan mengingat pada ternak ruminansia, sebagian besar gas yang berpotensi menimbulkan efek rumah kaca berasal dari metana (CHCE) yang dihasilkan melalui proses fermentasi enterik dalam sistem pencernaannya (Suprihatin et al. , 2. Paloh Tangaran Jawai Selatan Sebawi Tekarang Semparuk Selakau 0,000 0,020 0,040 0,060 0,080 0,100 0,120 Emisi GRK GG CO2 eq Gambar 7. Sebaran Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Peternakan setiap Kecamatan di Kabupaten Sambas Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. No. 1, 2026 : 86 Ae 103 Untuk mengidentifikasi wilayah yang memberikan kontribusi paling besar maupun paling kecil terhadap emisi gas metana (CHCE) dari sektor peternakan, dilakukan analisis komparatif terhadap hasil perhitungan beban emisi CHCE pada seluruh kecamatan di Kabupaten Sambas, sehingga dapat diketahui kecamatan mana yang berperan sebagai penyumbang utama dan kecamatan mana yang memiliki kontribusi paling rendah. Gambar 8. Peta Emisi Gas Rumah Kaca sektor Peternakan setiap Kecamatan di Kabupaten Sambas Sumber : Hasil Analisis, 2025 Sektor Persampahan Sektor persampahan merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca yang tidak dapat diabaikan, dan kondisi ini juga terjadi di Kabupaten Sambas. Pengelolaan pembuangan akhir timbulan sampah menjadi isu lingkungan yang semakin kompleks, karena volume sampah cenderung meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi daerah serta perubahan perilaku konsumsi masyarakat yang makin bersifat konsumtif. Aktivitas sehari-hari masyarakat pada akhirnya menghasilkan kuantitas sampah dalam jumlah besar dalam waktu relatif singkat, sehingga menambah beban pada sistem pengelolaan persampahan yang ada dan sekaligus memperbesar potensi emisi GRK dari sektor ini. Tabel 8. Data Aktivitas Sektor Persampahan Kabupaten Sambas Kecamatan Selakau Selakau Timur Pemangkat Semparuk Salatiga Tebas Tekarang Sambas Subah Sebawi Sajad Jawai Jawai Selatan Teluk Keramat Galing Tangaran Sejangkung Jumlah Timbulan sampah . on/tahu. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. No. 1, 2026 : 86 Ae 103 Kecamatan Jumlah Sajingan Besar Paloh Total Timbulan sampah . on/tahu. Sumber: Dinas Pekerjaan Umum, 2024 Tabel 9. Perhitungan Emisi Sektor Persampahan Kecamatan Emisi CH4 (Gg Co2-e. Selakau Selakau Timur Pemangkat Semparuk Salatiga Tebas Tekarang Sambas Subah Sebawi Sajad Jawai Jawai Selatan Teluk Keramat Galing Tangaran Sejangkung Sajingan Besar Paloh Total Sumber : Hasil Analisis, 2025 0,0070 0,0000 0,0134 0,0062 0,0022 0,0120 0,0000 0,0186 0,0000 0,0068 0,0000 0,0044 0,0027 0,0056 0,0013 0,0025 0,0000 0,0016 0,0058 0,0901 Persentase (%) 7,72 0,00 14,90 6,92 2,44 13,29 0,00 20,63 0,00 7,55 0,00 4,83 3,04 6,25 1,39 2,78 0,00 1,83 6,44 100,00 Total emisi GRK yang berasal dari sektor persampahan di Kabupaten Sambas dihitung mencapai 0,0901 Gg COCC-eq. Besaran ini terutama ditimbulkan oleh proses yang berlangsung di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), di mana timbulan sampah organik yang bersifat biodegradable mengalami penguraian secara anaerobik. Dalam kondisi tanpa oksigen tersebut, bahan organik terdekomposisi dan menghasilkan berbagai jenis gas, dengan komponen utama berupa gas metana (CHCE) yang dikenal sebagai salah satu gas rumah kaca berpotensi tinggi terhadap pemanasan global. Pengurangan emisi sektor persampahan umumnya paling kuat ketika fraksi organik dikelola melalui jalur yang meminimalkan kondisi anaerob tidak terkendali . isalnya komposting/bioproses terara. , karena pendekatan ini dapat menekan pembentukan CHCE sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya dari sampah (Manea et al. , 2. Implikasinya, pemetaan spasial emisi persampahan di Sambas dapat langsung ditautkan ke prioritas intervensi berbasis sumber . emilahan di hul. dan berbasis fasilitas . ptimalisasi pengolahan organi. pada kecamatan penyumbang utama. Emisi GRK GG CO2 eq Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. No. 1, 2026 : 86 Ae 103 0,02 0,018 0,016 0,014 0,012 0,01 0,008 0,006 0,004 0,002 Kecamatan Gambar 9 Sebaran Emisi Gas Rumah Kaca sektor Persampahan setiap Kecamatan di Kabupaten Sambas Sumber : Hasil Analisis, 2025 Jika dianalisis berdasarkan distribusi spasialnya, kontribusi emisi gas rumah kaca dari sektor persampahan di Kabupaten Sambas didominasi oleh tiga kecamatan utama. Kecamatan Pemangkat tercatat menghasilkan emisi sebesar 0,0134 Gg COCC-eq, disusul Kecamatan Tebas dengan total emisi 0,012 Gg COCC-eq. Di antara seluruh kecamatan tersebut. Kecamatan Sambas menjadi penyumbang emisi terbesar dengan nilai 0,0186 Gg COCC-eq, yang setara dengan sekitar 20,63% dari total emisi sektor persampahan di Kabupaten Sambas (Yuwono, 2. Gambar 10 Peta Emisi Gas Rumah Kaca sektor Persampahan setiap Kecamatan di Kabupaten Sambas Sumber : Hasil Analisis, 2025 Upaya Mitigasi Penurunan emisi GRK pada sektor pertanian, khususnya pada budidaya padi, sangat dipengaruhi oleh karakteristik tanaman dan pengelolaan air di lahan sawah. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa varietas padi dengan emisi metana yang rendah umumnya dicirikan oleh biomassa yang relatif sedikit, rongga aerenkima pada akar yang sempit, serta ketegaran morfologi batang dan daun yang cenderung lemah (Arisandi et al. , 2. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa pemilihan varietas dengan sifat-sifat tersebut, yang dikombinasikan dengan pengelolaan irigasi yang lebih efisien dan terkontrol, merupakan salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk menekan emisi GRK dari budidaya padi di tingkat lahan. Pada sektor Perkebunan sawit, upaya mitigasi yang dapat dilakukan diantaranya adalah menghindari deforestasi dengan tidak membuka hutan primer atau gambut tetapi dengan mengembangkan sawit hanya di lahan terdegradasi, membangun instalasi biogas untuk menangkap dan mengubah CH4 menjadi energi dan meminimalkan produksi CH4 dengan pengolahan POME secara aerobik. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. No. 1, 2026 : 86 Ae 103 Pada sektor transportasi, upaya mitigasi sangat penting untuk dilakukan mengingat transportasi adalah salah satu penyumbang emisi CO2 terbesar. Upaya yang dapat dilakukan diantaranya adalah melakukan peralihan kendaraan ke rendah emisi seperti elektrifikasi transportasi dengan penggunaan mobil, motor, dan bus listrik. Melakukan efisiensi energi transportasi dengan menggunakan kendaraan yang lebih hemat bahan bakar . ngine downsizing, aerodynamic desig. , perawatan kendaraan rutin untuk menjaga efisiensi konsumsi bahan bakar. Pada sektor peternakan, pemanfaatan pakan ternak yang bersumber dari limbah biomassa pertanian menjadi salah satu pendekatan mitigasi emisi gas rumah kaca yang mendorong keterpaduan antara usaha tani dan usaha ternak. Sisa panen, seperti jerami, tidak hanya berpotensi menjadi limbah, tetapi dapat diolah terlebih dahulu melalui proses pengomposan dan kemudian dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak pada periode musim kemarau ketika ketersediaan hijauan segar terbatas (Yuliana, 2. Dengan demikian, pengelolaan pakan ternak berbasis limbah biomassa pertanian sekaligus memperkuat integrasi sistem pertanianAepeternakan dan berkontribusi pada penurunan emisi GRK dari sektor peternakan. Pada sektor persampahan banyak menghasilkan CHCE dimana pengelolaan sampah yang lebih bersih, terpisah, dan termanfaatkan adalah kunci mitigasi GRK di sektor ini. Perlu adanya pengembangan program 3R (Reduce. Reuse. Recycl. , pengurangan sampah organik dan plastik, serta dengan menerapkan zero waste lifestyle. Pada budidaya padi, literatur menunjukkan bahwa praktik Alternate Wetting and Drying (AWD) dan pendekatan intensifikasi tertentu dapat menurunkan emisi CHCE secara konsisten, namun desain penerapannya perlu memperhitungkan potensi trade-off terhadap NCCO serta capaian hasil panen (Dahlgreen & Parr, 2. Bukti studi lapangan juga menegaskan bahwa kombinasi praktik budidaya dan pengelolaan air dapat memperbaiki kinerja emisi tanpa selalu mengorbankan produktivitas, sehingga relevan untuk diuji adaptasinya pada karakter sawah setempat (EchegarayCabrera & others, 2. Selain manajemen air, pemilihan varietas dan karakter perakaran berpengaruh pada jalur transport CHCE dan total emisi musiman, sehingga intervensi varietas dapat dipertimbangkan sebagai opsi mitigasi berbasis Aulow-regretAy bila selaras dengan target produktivitas (Qi & others, 2. Pada rantai nilai kelapa sawit, analisis jejak karbon siklus hidup menunjukkan bahwa tahap pengolahan limbah cair/wastewater dan perubahan penggunaan lahan dapat menjadi kontributor dominan emisi, sehingga penangkapan CHCE dari pengolahan limbah . ermasuk POME) dan pencegahan pembukaan lahan berkarbon tinggi merupakan titik ungkit mitigasi yang sangat strategis (Wang & others, 2. Untuk sektor transportasi, pengurangan emisi melalui elektrifikasi akan lebih maksimal ketika diselaraskan dengan skenario transisi energi ketenagalistrikan, karena intensitas emisi listrik menentukan besarnya pengurangan emisi bersih dari kendaraan listrik (Jolodoro & others, 2. Di Indonesia, percepatan adopsi EV juga banyak ditentukan oleh dimensi regulasi, ekonomi, dan kesiapan teknologiAeinfrastruktur, sehingga mitigasi transportasi sebaiknya ditempatkan sebagai paket kebijakan lintas-sektor, bukan semata proyek kendaraan (Lazuardy & others, 2. Secara evaluasi daur hidup, kendaraan listrik rata-rata berpotensi menurunkan emisi dibanding kendaraan berbahan bakar fosil, tetapi besarnya keuntungan sangat kontekstual terhadap bauran listrik, pola operasi, dan desain sistem transportasi setempat (Zajemska & others, 2. Pada peternakan, pengelolaan kotoran berbasis teknologi . isalnya pemisahan fraksi, pengolahan terarah, dan/atau anaerobic digestio. dipandang sebagai salah satu instrumen mitigasi yang dapat menekan emisi sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya, sehingga layak dipertimbangkan untuk wilayah dengan konsentrasi ternak tertentu (Symeon & others, 2. Di sektor persampahan, kerangka ekonomi sirkular menekankan bahwa pengurangan emisi bukan hanya isu AuTPAAy, tetapi juga transformasi sistem 3R dan optimalisasi jalur pengolahan agar emisi berkurang bersamaan dengan peningkatan recovery material/energi (McKnight & others. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. No. 1, 2026 : 86 Ae 103 KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan emisi GRK sektor Pertanian Padi di Kabupaten Sambas mencapai 277,25 Gg CO2-eq, pada sektor Perkebunan total emisi GRK sektor Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Sambas mencapai 13,40 Gg CO2-eq, total emisi GRK sektor transportasi di Kabupaten Sambas mencapai 228,20 Gg CO2-eq, total emisi GRK sektor Peternakan di Kabupaten Sambas mencapai 0,684 Gg CO2-eq, dan total emisi GRK sektor persampahan di Kabupaten Sambas mencapai 0,0901 Gg CO2-eq. Upaya pada sektor pertanian, untuk menurunkan emisi GRK pada budidaya padi, maka harus irigasi yang digunakan. Hasil penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa padi yang menghasilkan emisi metana rendah memiliki karakteristik penciri biomassa sedikit, luas rongga aerenkima akar sempit dan ketegaran morfologi batang dan daun lemah. Pada sektor perkebunan sawit, upaya mitigasi yang dapat dilakukan diantaranya adalah menghindari deforestasi dengan tidak membuka hutan primer atau gambut tetapi dengan mengembangkan sawit hanya di lahan terdegradasi, membangun instalasi biogas untuk menangkap dan mengubah CH4 menjadi energi dan meminimalkan produksi CH4 dengan pengolahan POME secara aerobik. DAFTAR PUSTAKA